14 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tantangan Pariwisata Indonesia: Daya Saing Global dan Keberlanjutan Lokal

Muhammad Yamin by Muhammad Yamin
November 13, 2024
in Esai
Tantangan Pariwisata Indonesia: Daya Saing Global dan Keberlanjutan Lokal

Muhammad Yamin

DINAMIKA ekonomi politik global telah membawa pariwisata Indonesia ke persimpangan yang krusial. Di satu sisi, integrasi ekonomi global membuka peluang besar bagi pertumbuhan sektor pariwisata nasional. Namun di sisi lain, tekanan kompetisi global dan standarisasi industri pariwisata internasional mengancam keberlanjutan basis sosial-ekonomi masyarakat lokal yang selama ini menjadi tulang punggung pariwisata Indonesia.

Fenomena ini terlihat jelas dalam kasus sentra industri kerajinan di Kabupaten Gianyar, Bali. Sebelum tahun 2002, kawasan ini menjadi contoh ideal bagaimana pariwisata dapat mendorong pemberdayaan ekonomi lokal melalui industri kreatif. Namun, implementasi perjanjian perdagangan bebas dan transformasi teknologi global telah mengubah lanskap industri pariwisata secara fundamental.

 Pengrajin tradisional yang mengandalkan keterampilan tangan kini tergerus oleh produksi massal berbasis teknologi. Pasar seni tradisional yang dahulu menjadi hub interaksi langsung antara wisatawan dan pengrajin lokal, kini kalah bersaing dengan pusat perbelanjaan modern yang dikelola pemodal besar.

Paradoks Pembangunan Pariwisata

Data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menunjukkan tren yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Sepanjang 2009-2019, meski jumlah kunjungan wisatawan mancanegara tumbuh rata-rata 10,7% per tahun dan penerimaan devisa meningkat signifikan, distribusi manfaat ekonomi justru semakin terkonsentrasi pada pelaku usaha berskala besar. Fenomena ini mencerminkan apa yang dalam kajian ekonomi politik internasional disebut sebagai “paradoks pertumbuhan tanpa pemerataan” – di mana integrasi ke dalam sistem ekonomi global justru memperlebar kesenjangan ekonomi domestik.

Kasus Gianyar memberikan ilustrasi yang jelas tentang paradoks ini. Sebelum tahun 2002, Desa Celuk tercatat sebagai salah satu desa terkaya di Indonesia berkat industri kerajinan peraknya. Namun kini, dari 180 pengrajin di Banjar Seseh, hanya tersisa kurang dari 50 yang masih aktif.

Ironisnya, volume produksi dan perdagangan kerajinan perak tidak mengalami penurunan signifikan – yang berubah adalah struktur kepemilikan dan model produksinya. Pemodal besar dengan teknologi modern telah mengambil alih dominasi pasar yang dulunya dikuasai pengrajin tradisional.

Paradoks serupa terlihat dalam pola perkembangan akomodasi wisata. Data BPS menunjukkan pertumbuhan jumlah kamar hotel berbintang yang pesat, namun pada saat yang sama banyak homestay dan penginapan lokal yang gulung tikar karena tidak mampu bersaing. Fenomena “tourist bubble”, di mana wisatawan terkonsentrasi di kawasan-kawasan eksklusif yang terputus dari kehidupan masyarakat lokal semakin menguat.

Urgensi Reorientasi Kebijakan

Situasi paradoksal dalam pembangunan pariwisata Indonesia membutuhkan reorientasi fundamental dalam pendekatan kebijakan. Paradigma yang semata mengejar pertumbuhan kuantitatif perlu diimbangi dengan perhatian lebih besar pada aspek keberlanjutan sosial-ekonomi masyarakat lokal. Kondisi ini menuntut serangkaian langkah strategis yang komprehensif dan terkoordinasi.

Langkah pertama yang krusial adalah penguatan kapasitas adaptif pelaku usaha lokal. Alih-alih membiarkan mereka berkompetisi secara head-to-head dengan pemain global, diperlukan kebijakan yang membantu mereka menemukan ceruk pasar yang unik berbasis keunggulan lokal.

Program literasi digital yang disesuaikan dengan karakteristik lokal, akses pembiayaan inklusif yang mempertimbangkan siklus bisnis pariwisata, serta pendampingan pengembangan produk yang memadukan kearifan tradisional dengan tuntutan pasar kontemporer menjadi kunci keberhasilan adaptasi ini. Fasilitasi sertifikasi dan standardisasi juga diperlukan namun dengan pendekatan yang tidak memberatkan sembari tetap menjamin kualitas.

Selanjutnya, reformulasi regulasi investasi pariwisata menjadi keniscayaan untuk lebih memperhatikan kepentingan lokal. Revisi ketentuan tentang porsi kepemilikan lokal dalam usaha pariwisata perlu dibarengi dengan penerapan kewajiban kemitraan substantif dengan UMKM setempat.

Pembatasan skala usaha di kawasan-kawasan strategis juga diperlukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem pariwisata. Insentif khusus bagi investor yang membuktikan komitmen pada pemberdayaan ekonomi lokal dapat menjadi instrumen penyeimbang, didukung dengan penguatan peran pemerintah daerah dalam pengawasan investasi pariwisata.

Pengembangan model pariwisata alternatif yang lebih berkelanjutan juga menjadi prioritas yang tidak bisa ditunda. Community-based tourism, creative tourism, eco-tourism, cultural tourism, dan rural tourism perlu didorong sebagai alternatif dari mass tourism konvensional. Model-model ini terbukti lebih efektif dalam menciptakan nilai tambah yang terdistribusi lebih merata ke masyarakat lokal, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan autentisitas budaya.

Reformasi tata kelola destinasi yang lebih partisipatif dan inklusif menjadi fondasi penting dalam reorientasi kebijakan ini. Pembentukan Destination Management Organization (DMO) yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, penguatan peran lembaga adat dan komunitas lokal dalam pengambilan keputusan, serta pengembangan sistem monitoring dampak pariwisata yang komprehensif menjadi bagian integral dari reformasi ini.

Implementasi reorientasi kebijakan ini membutuhkan perubahan mindset di semua level. Di tingkat pusat, koordinasi lebih erat antar kementerian menjadi prasyarat keberhasilan. Sementara di tingkat daerah, penguatan kapasitas pemerintah lokal dalam perencanaan dan pengelolaan pariwisata perlu menjadi prioritas. Pembiayaan inovatif melalui tourism development fund yang dikelola secara profesional bisa menjadi solusi untuk mendukung inisiatif pembangunan pariwisata berkelanjutan.

Meskipun akan menghadapi resistensi dari pihak-pihak yang diuntungkan status quo, pengalaman berbagai negara seperti New Zealand dan Costa Rica membuktikan bahwa pariwisata berkelanjutan yang berpihak pada kepentingan lokal justru menciptakan daya saing yang lebih kuat di pasar global. Keberhasilan reorientasi ini akan menentukan tidak hanya masa depan pariwisata Indonesia, tetapi juga keberlanjutan pembangunan ekonomi nasional secara keseluruhan.

Tantangan Implementasi

Tekanan dari mitra dagang internasional dan investor global yang menginginkan liberalisasi lebih lanjut menjadi kendala signifikan yang tidak bisa diabaikan. Perjanjian perdagangan internasional yang telah ditandatangani Indonesia, seperti ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) dan berbagai perjanjian bilateral, seringkali membatasi ruang gerak pemerintah dalam menerapkan kebijakan protektif untuk pelaku usaha lokal.

Resistensi dari pelaku usaha besar yang telah mapan juga membentuk lapisan tantangan tersendiri. Kelompok ini, yang telah menikmati keuntungan dari struktur industri pariwisata yang ada, cenderung memiliki pengaruh politik dan ekonomi yang kuat untuk mempertahankan status quo. Mereka seringkali berargumen bahwa standardisasi dan konsolidasi industri adalah keniscayaan untuk meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia di pasar global. Narasi ini mendapatkan dukungan dari lembaga-lembaga internasional yang mempromosikan agenda liberalisasi sektor jasa.

Di level birokrasi, ego sektoral dan tumpang tindih kewenangan antara pusat dan daerah menciptakan kompleksitas tersendiri. Desentralisasi yang tidak dibarengi dengan penguatan kapasitas pemerintah daerah seringkali menghasilkan kebijakan yang tidak koheren dan kadang kontraproduktif. Sebagai contoh, semangat daerah untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terkadang mendorong kebijakan yang lebih berpihak pada investor besar dibanding pelaku usaha lokal.

Tantangan teknis juga muncul dalam bentuk kesenjangan infrastruktur digital dan keterbatasan akses terhadap pembiayaan. Meski digitalisasi dipromosikan sebagai solusi untuk memberdayakan pelaku usaha lokal, realitasnya banyak daerah masih menghadapi kendala konektivitas internet dan literasi digital yang rendah. Sementara itu, sistem perbankan konvensional seringkali kesulitan mengakomodasi karakteristik unik usaha pariwisata skala kecil yang memiliki arus kas musiman dan aset tidak berwujud.

Aspek sosial-budaya menambah dimensi kompleksitas tersendiri. Di beberapa destinasi, terjadi ketegangan antara keinginan untuk mempertahankan autentisitas budaya dengan tuntutan modernisasi industri pariwisata. Generasi muda dari komunitas lokal seringkali lebih tertarik bekerja di sektor modern dibanding meneruskan usaha tradisional keluarga, menciptakan ancaman terhadap keberlanjutan warisan budaya yang justru menjadi daya tarik pariwisata.

Namun, pengalaman krisis-krisis sebelumnya – mulai dari krisis finansial Asia 1997, bom Bali, hingga pandemi COVID-19 – telah menunjukkan bahwa ketahanan sektor pariwisata Indonesia sangat bergantung pada keberlanjutan basis sosial-ekonomi lokalnya. Ketika arus wisatawan internasional terhenti, justru pasar domestik dan kreativitas pelaku lokal yang membantu sektor ini bertahan. Pembelajaran ini menegaskan pentingnya membangun ekosistem pariwisata yang lebih seimbang, meski harus menghadapi berbagai tantangan implementasi.

Menghadapi kompleksitas tantangan ini, diperlukan pendekatan bertahap namun konsisten dalam implementasi reorientasi kebijakan. Pembentukan koalisi pemangku kepentingan yang mendukung agenda reformasi, penguatan basis bukti untuk kebijakan melalui riset dan evaluasi dampak, serta komunikasi publik yang efektif untuk membangun dukungan luas menjadi prasyarat keberhasilan. Yang terpenting, harus ada political will yang kuat dari pemerintah untuk mengambil langkah-langkah yang mungkin tidak populer dalam jangka pendek namun krusial untuk keberlanjutan jangka panjang.

Peluang dan Prospek

Di tengah beragam tantangan yang kompleks, perkembangan global kontemporer justru membuka jendela peluang bagi reorientasi pembangunan pariwisata Indonesia yang lebih seimbang. Tren pariwisata global sedang mengalami pergeseran paradigmatik, di mana wisatawan semakin menghargai autentisitas, keberlanjutan lingkungan, dan dampak sosial positif. Pergeseran preferensi ini menciptakan ruang bagi model pariwisata alternatif yang lebih berpihak pada kepentingan lokal.

Pandemi COVID-19, meski membawa dampak destruktif, telah mengakselerasi transformasi digital dalam industri pariwisata global. Kemajuan teknologi digital, jika dimanfaatkan dengan tepat, bisa menjadi enabler bagi pelaku usaha lokal untuk menjangkau pasar lebih luas tanpa harus tergantung pada intermediari konvensional.

Platform digital lokal dan marketplace khusus untuk produk kreatif tradisional kini memiliki peluang untuk berkompetisi dengan platform global, didukung oleh meningkatnya kesadaran konsumen akan pentingnya mendukung ekonomi lokal.

Munculnya konsep ekonomi sirkular dan regeneratif dalam diskursus pembangunan global juga memberikan momentum bagi transformasi pariwisata Indonesia. Model bisnis pariwisata yang mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan tidak lagi sekadar pilihan etis, tetapi menjadi kebutuhan pasar. Investor global semakin mempertimbangkan kriteria Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam keputusan investasi mereka, menciptakan insentif baru bagi pengembangan pariwisata yang lebih berkelanjutan.

Perkembangan regional Asia Pasifik juga menawarkan peluang strategis. Kebangkitan kelas menengah di negara-negara Asia, terutama China dan India, membuka pasar baru yang potensial. Karakteristik wisatawan Asia yang cenderung lebih mengapresiasi nilai-nilai budaya Timur memberikan keunggulan komparatif bagi destinasi Indonesia yang kaya akan warisan budaya. Terlebih, kedekatan geografis memungkinkan pengembangan paket wisata yang lebih terjangkau dan berkelanjutan.

Di level domestik, menguatnya gerakan ekonomi kreatif memberikan fondasi yang kokoh bagi pengembangan pariwisata berbasis komunitas. Kolaborasi antara pelaku industri kreatif lokal dengan sektor pariwisata membuka peluang untuk menciptakan pengalaman wisata yang unik dan bernilai tambah tinggi. Integrasi antara pariwisata, ekonomi kreatif, dan kearifan lokal berpotensi menciptakan model pembangunan yang tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat identitas budaya.

Yang tidak kalah penting, Indonesia memiliki keunggulan inherent dalam bentuk keragaman budaya dan kekayaan alam yang luar biasa. Dalam era di mana autentisitas dan pengalaman unik menjadi premium, aset ini memberikan basis yang kuat untuk membangun proposisi nilai yang berbeda dari destinasi massal konvensional. Pengembangan wisata berbasis alam (ecotourism) dan budaya (cultural tourism) yang dikelola oleh komunitas lokal memiliki prospek cerah seiring dengan menguatnya kesadaran lingkungan dan pencarian pengalaman otentik di kalangan wisatawan global.

Prospek jangka panjang pariwisata Indonesia akan sangat bergantung pada kemampuan memanfaatkan peluang-peluang ini sembari mengatasi tantangan struktural yang ada. Keberhasilan dalam mengembangkan model pariwisata yang menyeimbangkan daya saing global dengan keberlanjutan lokal tidak hanya akan menentukan masa depan sektor ini, tetapi juga dapat menjadi blueprint bagi transformasi sektor-sektor ekonomi lainnya menuju pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Penutup

Dinamika ekonomi politik global telah membawa sektor pariwisata Indonesia ke titik kritis yang memerlukan reorientasi fundamental. Pengalaman empiris dari berbagai destinasi wisata, terutama kasus Gianyar di Bali, menunjukkan bahwa integrasi ke dalam sistem pariwisata global tanpa penyeimbang kebijakan yang tepat telah menciptakan paradoks pembangunan.

Di satu sisi, sektor ini mencatatkan pertumbuhan agregat yang mengesankan dalam hal kunjungan wisatawan dan penerimaan devisa. Namun di sisi lain, konsentrasi manfaat ekonomi pada segelintir pelaku usaha besar dan tergerusnya basis sosial-ekonomi lokal menimbulkan pertanyaan serius tentang keberlanjutan model pembangunan pariwisata yang ada.

Urgensi untuk melakukan reorientasi kebijakan menjadi semakin mendesak di tengah transformasi lanskap pariwisata global pasca-pandemi. Pengalaman krisis COVID-19 membuktikan bahwa ketahanan sektor pariwisata sangat bergantung pada keberlanjutan ekosistem lokalnya.

Dibutuhkan pendekatan yang lebih nuanced dalam menyikapi globalisasi – tidak semata-mata menerima tekanan liberalisasi atau sebaliknya menutup diri, melainkan mengembangkan strategi cerdas yang memungkinkan pelaku lokal berpartisipasi dalam rantai nilai global dengan posisi yang lebih menguntungkan. Ini mencakup penguatan kapasitas adaptif pelaku usaha lokal, reformulasi regulasi investasi yang lebih protektif, dan pengembangan model pariwisata alternatif yang berkelanjutan.

Keberhasilan dalam menyeimbangkan imperatif daya saing global dengan keberlanjutan basis sosial-ekonomi lokal akan menentukan tidak hanya masa depan sektor pariwisata, tetapi juga relevansinya sebagai instrumen pembangunan ekonomi yang inklusif. Tantangan implementasi yang kompleks, mulai dari resistensi pelaku usaha besar hingga keterbatasan kapasitas institusional, membutuhkan pendekatan bertahap namun konsisten yang didukung komitmen politik kuat.

Momentum perubahan preferensi wisatawan global yang semakin menghargai autentisitas dan keberlanjutan, serta transformasi digital yang membuka peluang baru bagi pelaku lokal, harus dimanfaatkan secara optimal untuk mendorong transisi menuju model pariwisata yang lebih seimbang dan berkelanjutan. [T]

Menyatukan Pajak Turis Dunia: Menggagas Standar Baru bagi Pariwisata Global
Menimbang Dana Abadi Pariwisata
Glamping, Staycation, Instagrammable, Babymoon: Leksikon Baru Dalam Geliat Pariwisata Ekonomi Kreatif
“Community-Based Tourism” Sebagai Salah Satu Upaya Pemulihan Pariwisata Bali
Tags: PariwisataPariwisata Berkelanjutanpariwisata globalpembangunan pariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mahasiswa UPMI Bali Magang di tatkala.co : Mereka Belajar Menceritakan Peristiwa Nyata

Next Post

Belajar Mengenal Wayang dari Eksperimen “Wayang Bercerita”

Muhammad Yamin

Muhammad Yamin

Dosen Jurusan Hubungan Internasional, FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah dan pengamat ekonomi politik internasional dengan fokus pada sektor pariwisata dan pembangunan berkelanjutan.

Related Posts

Bung Karno dalam Puisi   

by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
0
Bung Karno dalam Puisi   

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus...

Read moreDetails

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka...

Read moreDetails

Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

by Angga Wijaya
June 11, 2026
0
Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan...

Read moreDetails

Tempe dan Ekonomi yang Teriris

by Dodik Suprayogi
June 11, 2026
0
Tempe dan Ekonomi yang Teriris

DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan...

Read moreDetails

Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

by Chandra Manikan
June 10, 2026
0
Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

PERBEDAAN pandangan antara pemerintah dan komunitas, terutama komunitas orang muda sering dianggap sebagai persoalan komunikasi. Seolah-olah, jika dialog diperbaiki, maka...

Read moreDetails

‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

by Agung Sudarsa
June 10, 2026
0
‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Dari Puputan Badung Menuju Perjuangan Zaman Kini PADA tanggal 20 September 1906, dunia menyaksikan sebuah peristiwa yang hingga kini masih...

Read moreDetails

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

by Abdul Karim Abraham
June 9, 2026
0
GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

PERJALANAN Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Bali, tidak bisa dilepaskan dari organisasi induknya yakni Nahdlatul Ulama (NU), yang sudah eksis...

Read moreDetails

Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  

by I Nyoman Tingkat
June 9, 2026
0
Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  

JUNIadalah bulan keenam dalam Tarikh Kalender Masehi, semua orang tahu. Juni adalah bulan pertengahan tahun, semua orang juga tahu. Juni...

Read moreDetails

Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

by Dede Putra Wiguna
June 9, 2026
0
Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

 “Kalau menurutmu, apa yang paling menentukan nasib manusia?” tanya Wayan Tulus sambil memeriksa saluran air yang mengaliri sawahnya. Di sampingnya,...

Read moreDetails

Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Mengenal Wayang dari Eksperimen “Wayang Bercerita”

Belajar Mengenal Wayang dari Eksperimen “Wayang Bercerita”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti
Cerpen

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan
Puisi

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

by IRZI
June 13, 2026
Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan
Budaya

Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan

BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita...

by tatkala
June 13, 2026
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word
Ulas Rupa

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi
Bahasa

Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan...

by I Made Sudiana
June 13, 2026
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
Ulas Musik

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
Bung Karno dalam Puisi   
Esai

Bung Karno dalam Puisi   

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus...

by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka...

by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026
Storynomics Tourism Berbasis Kearifan Lokal —Catatan dari PkM Undiksha di Komunitas Wanayana Kayoman dan Sekolah Adat Manik Empul, Desa Pedawa
Pendidikan

Storynomics Tourism Berbasis Kearifan Lokal —Catatan dari PkM Undiksha di Komunitas Wanayana Kayoman dan Sekolah Adat Manik Empul, Desa Pedawa

DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada...

by tatkala
June 12, 2026
OSIS dan MPK SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Gelar Bakti Sosial di Yayasan Bali Baby Home dan Yayasan Sayangi Bali
Pendidikan

OSIS dan MPK SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Gelar Bakti Sosial di Yayasan Bali Baby Home dan Yayasan Sayangi Bali

Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
June 12, 2026
Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?
Bahasa

Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?

DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen...

by Ni Wayan Suwini
June 12, 2026
Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri
Esai

Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan...

by Angga Wijaya
June 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co