12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tantangan Pariwisata Indonesia: Daya Saing Global dan Keberlanjutan Lokal

Muhammad Yamin by Muhammad Yamin
November 13, 2024
in Esai
Tantangan Pariwisata Indonesia: Daya Saing Global dan Keberlanjutan Lokal

Muhammad Yamin

DINAMIKA ekonomi politik global telah membawa pariwisata Indonesia ke persimpangan yang krusial. Di satu sisi, integrasi ekonomi global membuka peluang besar bagi pertumbuhan sektor pariwisata nasional. Namun di sisi lain, tekanan kompetisi global dan standarisasi industri pariwisata internasional mengancam keberlanjutan basis sosial-ekonomi masyarakat lokal yang selama ini menjadi tulang punggung pariwisata Indonesia.

Fenomena ini terlihat jelas dalam kasus sentra industri kerajinan di Kabupaten Gianyar, Bali. Sebelum tahun 2002, kawasan ini menjadi contoh ideal bagaimana pariwisata dapat mendorong pemberdayaan ekonomi lokal melalui industri kreatif. Namun, implementasi perjanjian perdagangan bebas dan transformasi teknologi global telah mengubah lanskap industri pariwisata secara fundamental.

 Pengrajin tradisional yang mengandalkan keterampilan tangan kini tergerus oleh produksi massal berbasis teknologi. Pasar seni tradisional yang dahulu menjadi hub interaksi langsung antara wisatawan dan pengrajin lokal, kini kalah bersaing dengan pusat perbelanjaan modern yang dikelola pemodal besar.

Paradoks Pembangunan Pariwisata

Data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menunjukkan tren yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Sepanjang 2009-2019, meski jumlah kunjungan wisatawan mancanegara tumbuh rata-rata 10,7% per tahun dan penerimaan devisa meningkat signifikan, distribusi manfaat ekonomi justru semakin terkonsentrasi pada pelaku usaha berskala besar. Fenomena ini mencerminkan apa yang dalam kajian ekonomi politik internasional disebut sebagai “paradoks pertumbuhan tanpa pemerataan” – di mana integrasi ke dalam sistem ekonomi global justru memperlebar kesenjangan ekonomi domestik.

Kasus Gianyar memberikan ilustrasi yang jelas tentang paradoks ini. Sebelum tahun 2002, Desa Celuk tercatat sebagai salah satu desa terkaya di Indonesia berkat industri kerajinan peraknya. Namun kini, dari 180 pengrajin di Banjar Seseh, hanya tersisa kurang dari 50 yang masih aktif.

Ironisnya, volume produksi dan perdagangan kerajinan perak tidak mengalami penurunan signifikan – yang berubah adalah struktur kepemilikan dan model produksinya. Pemodal besar dengan teknologi modern telah mengambil alih dominasi pasar yang dulunya dikuasai pengrajin tradisional.

Paradoks serupa terlihat dalam pola perkembangan akomodasi wisata. Data BPS menunjukkan pertumbuhan jumlah kamar hotel berbintang yang pesat, namun pada saat yang sama banyak homestay dan penginapan lokal yang gulung tikar karena tidak mampu bersaing. Fenomena “tourist bubble”, di mana wisatawan terkonsentrasi di kawasan-kawasan eksklusif yang terputus dari kehidupan masyarakat lokal semakin menguat.

Urgensi Reorientasi Kebijakan

Situasi paradoksal dalam pembangunan pariwisata Indonesia membutuhkan reorientasi fundamental dalam pendekatan kebijakan. Paradigma yang semata mengejar pertumbuhan kuantitatif perlu diimbangi dengan perhatian lebih besar pada aspek keberlanjutan sosial-ekonomi masyarakat lokal. Kondisi ini menuntut serangkaian langkah strategis yang komprehensif dan terkoordinasi.

Langkah pertama yang krusial adalah penguatan kapasitas adaptif pelaku usaha lokal. Alih-alih membiarkan mereka berkompetisi secara head-to-head dengan pemain global, diperlukan kebijakan yang membantu mereka menemukan ceruk pasar yang unik berbasis keunggulan lokal.

Program literasi digital yang disesuaikan dengan karakteristik lokal, akses pembiayaan inklusif yang mempertimbangkan siklus bisnis pariwisata, serta pendampingan pengembangan produk yang memadukan kearifan tradisional dengan tuntutan pasar kontemporer menjadi kunci keberhasilan adaptasi ini. Fasilitasi sertifikasi dan standardisasi juga diperlukan namun dengan pendekatan yang tidak memberatkan sembari tetap menjamin kualitas.

Selanjutnya, reformulasi regulasi investasi pariwisata menjadi keniscayaan untuk lebih memperhatikan kepentingan lokal. Revisi ketentuan tentang porsi kepemilikan lokal dalam usaha pariwisata perlu dibarengi dengan penerapan kewajiban kemitraan substantif dengan UMKM setempat.

Pembatasan skala usaha di kawasan-kawasan strategis juga diperlukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem pariwisata. Insentif khusus bagi investor yang membuktikan komitmen pada pemberdayaan ekonomi lokal dapat menjadi instrumen penyeimbang, didukung dengan penguatan peran pemerintah daerah dalam pengawasan investasi pariwisata.

Pengembangan model pariwisata alternatif yang lebih berkelanjutan juga menjadi prioritas yang tidak bisa ditunda. Community-based tourism, creative tourism, eco-tourism, cultural tourism, dan rural tourism perlu didorong sebagai alternatif dari mass tourism konvensional. Model-model ini terbukti lebih efektif dalam menciptakan nilai tambah yang terdistribusi lebih merata ke masyarakat lokal, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan autentisitas budaya.

Reformasi tata kelola destinasi yang lebih partisipatif dan inklusif menjadi fondasi penting dalam reorientasi kebijakan ini. Pembentukan Destination Management Organization (DMO) yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, penguatan peran lembaga adat dan komunitas lokal dalam pengambilan keputusan, serta pengembangan sistem monitoring dampak pariwisata yang komprehensif menjadi bagian integral dari reformasi ini.

Implementasi reorientasi kebijakan ini membutuhkan perubahan mindset di semua level. Di tingkat pusat, koordinasi lebih erat antar kementerian menjadi prasyarat keberhasilan. Sementara di tingkat daerah, penguatan kapasitas pemerintah lokal dalam perencanaan dan pengelolaan pariwisata perlu menjadi prioritas. Pembiayaan inovatif melalui tourism development fund yang dikelola secara profesional bisa menjadi solusi untuk mendukung inisiatif pembangunan pariwisata berkelanjutan.

Meskipun akan menghadapi resistensi dari pihak-pihak yang diuntungkan status quo, pengalaman berbagai negara seperti New Zealand dan Costa Rica membuktikan bahwa pariwisata berkelanjutan yang berpihak pada kepentingan lokal justru menciptakan daya saing yang lebih kuat di pasar global. Keberhasilan reorientasi ini akan menentukan tidak hanya masa depan pariwisata Indonesia, tetapi juga keberlanjutan pembangunan ekonomi nasional secara keseluruhan.

Tantangan Implementasi

Tekanan dari mitra dagang internasional dan investor global yang menginginkan liberalisasi lebih lanjut menjadi kendala signifikan yang tidak bisa diabaikan. Perjanjian perdagangan internasional yang telah ditandatangani Indonesia, seperti ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) dan berbagai perjanjian bilateral, seringkali membatasi ruang gerak pemerintah dalam menerapkan kebijakan protektif untuk pelaku usaha lokal.

Resistensi dari pelaku usaha besar yang telah mapan juga membentuk lapisan tantangan tersendiri. Kelompok ini, yang telah menikmati keuntungan dari struktur industri pariwisata yang ada, cenderung memiliki pengaruh politik dan ekonomi yang kuat untuk mempertahankan status quo. Mereka seringkali berargumen bahwa standardisasi dan konsolidasi industri adalah keniscayaan untuk meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia di pasar global. Narasi ini mendapatkan dukungan dari lembaga-lembaga internasional yang mempromosikan agenda liberalisasi sektor jasa.

Di level birokrasi, ego sektoral dan tumpang tindih kewenangan antara pusat dan daerah menciptakan kompleksitas tersendiri. Desentralisasi yang tidak dibarengi dengan penguatan kapasitas pemerintah daerah seringkali menghasilkan kebijakan yang tidak koheren dan kadang kontraproduktif. Sebagai contoh, semangat daerah untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terkadang mendorong kebijakan yang lebih berpihak pada investor besar dibanding pelaku usaha lokal.

Tantangan teknis juga muncul dalam bentuk kesenjangan infrastruktur digital dan keterbatasan akses terhadap pembiayaan. Meski digitalisasi dipromosikan sebagai solusi untuk memberdayakan pelaku usaha lokal, realitasnya banyak daerah masih menghadapi kendala konektivitas internet dan literasi digital yang rendah. Sementara itu, sistem perbankan konvensional seringkali kesulitan mengakomodasi karakteristik unik usaha pariwisata skala kecil yang memiliki arus kas musiman dan aset tidak berwujud.

Aspek sosial-budaya menambah dimensi kompleksitas tersendiri. Di beberapa destinasi, terjadi ketegangan antara keinginan untuk mempertahankan autentisitas budaya dengan tuntutan modernisasi industri pariwisata. Generasi muda dari komunitas lokal seringkali lebih tertarik bekerja di sektor modern dibanding meneruskan usaha tradisional keluarga, menciptakan ancaman terhadap keberlanjutan warisan budaya yang justru menjadi daya tarik pariwisata.

Namun, pengalaman krisis-krisis sebelumnya – mulai dari krisis finansial Asia 1997, bom Bali, hingga pandemi COVID-19 – telah menunjukkan bahwa ketahanan sektor pariwisata Indonesia sangat bergantung pada keberlanjutan basis sosial-ekonomi lokalnya. Ketika arus wisatawan internasional terhenti, justru pasar domestik dan kreativitas pelaku lokal yang membantu sektor ini bertahan. Pembelajaran ini menegaskan pentingnya membangun ekosistem pariwisata yang lebih seimbang, meski harus menghadapi berbagai tantangan implementasi.

Menghadapi kompleksitas tantangan ini, diperlukan pendekatan bertahap namun konsisten dalam implementasi reorientasi kebijakan. Pembentukan koalisi pemangku kepentingan yang mendukung agenda reformasi, penguatan basis bukti untuk kebijakan melalui riset dan evaluasi dampak, serta komunikasi publik yang efektif untuk membangun dukungan luas menjadi prasyarat keberhasilan. Yang terpenting, harus ada political will yang kuat dari pemerintah untuk mengambil langkah-langkah yang mungkin tidak populer dalam jangka pendek namun krusial untuk keberlanjutan jangka panjang.

Peluang dan Prospek

Di tengah beragam tantangan yang kompleks, perkembangan global kontemporer justru membuka jendela peluang bagi reorientasi pembangunan pariwisata Indonesia yang lebih seimbang. Tren pariwisata global sedang mengalami pergeseran paradigmatik, di mana wisatawan semakin menghargai autentisitas, keberlanjutan lingkungan, dan dampak sosial positif. Pergeseran preferensi ini menciptakan ruang bagi model pariwisata alternatif yang lebih berpihak pada kepentingan lokal.

Pandemi COVID-19, meski membawa dampak destruktif, telah mengakselerasi transformasi digital dalam industri pariwisata global. Kemajuan teknologi digital, jika dimanfaatkan dengan tepat, bisa menjadi enabler bagi pelaku usaha lokal untuk menjangkau pasar lebih luas tanpa harus tergantung pada intermediari konvensional.

Platform digital lokal dan marketplace khusus untuk produk kreatif tradisional kini memiliki peluang untuk berkompetisi dengan platform global, didukung oleh meningkatnya kesadaran konsumen akan pentingnya mendukung ekonomi lokal.

Munculnya konsep ekonomi sirkular dan regeneratif dalam diskursus pembangunan global juga memberikan momentum bagi transformasi pariwisata Indonesia. Model bisnis pariwisata yang mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan tidak lagi sekadar pilihan etis, tetapi menjadi kebutuhan pasar. Investor global semakin mempertimbangkan kriteria Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam keputusan investasi mereka, menciptakan insentif baru bagi pengembangan pariwisata yang lebih berkelanjutan.

Perkembangan regional Asia Pasifik juga menawarkan peluang strategis. Kebangkitan kelas menengah di negara-negara Asia, terutama China dan India, membuka pasar baru yang potensial. Karakteristik wisatawan Asia yang cenderung lebih mengapresiasi nilai-nilai budaya Timur memberikan keunggulan komparatif bagi destinasi Indonesia yang kaya akan warisan budaya. Terlebih, kedekatan geografis memungkinkan pengembangan paket wisata yang lebih terjangkau dan berkelanjutan.

Di level domestik, menguatnya gerakan ekonomi kreatif memberikan fondasi yang kokoh bagi pengembangan pariwisata berbasis komunitas. Kolaborasi antara pelaku industri kreatif lokal dengan sektor pariwisata membuka peluang untuk menciptakan pengalaman wisata yang unik dan bernilai tambah tinggi. Integrasi antara pariwisata, ekonomi kreatif, dan kearifan lokal berpotensi menciptakan model pembangunan yang tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat identitas budaya.

Yang tidak kalah penting, Indonesia memiliki keunggulan inherent dalam bentuk keragaman budaya dan kekayaan alam yang luar biasa. Dalam era di mana autentisitas dan pengalaman unik menjadi premium, aset ini memberikan basis yang kuat untuk membangun proposisi nilai yang berbeda dari destinasi massal konvensional. Pengembangan wisata berbasis alam (ecotourism) dan budaya (cultural tourism) yang dikelola oleh komunitas lokal memiliki prospek cerah seiring dengan menguatnya kesadaran lingkungan dan pencarian pengalaman otentik di kalangan wisatawan global.

Prospek jangka panjang pariwisata Indonesia akan sangat bergantung pada kemampuan memanfaatkan peluang-peluang ini sembari mengatasi tantangan struktural yang ada. Keberhasilan dalam mengembangkan model pariwisata yang menyeimbangkan daya saing global dengan keberlanjutan lokal tidak hanya akan menentukan masa depan sektor ini, tetapi juga dapat menjadi blueprint bagi transformasi sektor-sektor ekonomi lainnya menuju pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Penutup

Dinamika ekonomi politik global telah membawa sektor pariwisata Indonesia ke titik kritis yang memerlukan reorientasi fundamental. Pengalaman empiris dari berbagai destinasi wisata, terutama kasus Gianyar di Bali, menunjukkan bahwa integrasi ke dalam sistem pariwisata global tanpa penyeimbang kebijakan yang tepat telah menciptakan paradoks pembangunan.

Di satu sisi, sektor ini mencatatkan pertumbuhan agregat yang mengesankan dalam hal kunjungan wisatawan dan penerimaan devisa. Namun di sisi lain, konsentrasi manfaat ekonomi pada segelintir pelaku usaha besar dan tergerusnya basis sosial-ekonomi lokal menimbulkan pertanyaan serius tentang keberlanjutan model pembangunan pariwisata yang ada.

Urgensi untuk melakukan reorientasi kebijakan menjadi semakin mendesak di tengah transformasi lanskap pariwisata global pasca-pandemi. Pengalaman krisis COVID-19 membuktikan bahwa ketahanan sektor pariwisata sangat bergantung pada keberlanjutan ekosistem lokalnya.

Dibutuhkan pendekatan yang lebih nuanced dalam menyikapi globalisasi – tidak semata-mata menerima tekanan liberalisasi atau sebaliknya menutup diri, melainkan mengembangkan strategi cerdas yang memungkinkan pelaku lokal berpartisipasi dalam rantai nilai global dengan posisi yang lebih menguntungkan. Ini mencakup penguatan kapasitas adaptif pelaku usaha lokal, reformulasi regulasi investasi yang lebih protektif, dan pengembangan model pariwisata alternatif yang berkelanjutan.

Keberhasilan dalam menyeimbangkan imperatif daya saing global dengan keberlanjutan basis sosial-ekonomi lokal akan menentukan tidak hanya masa depan sektor pariwisata, tetapi juga relevansinya sebagai instrumen pembangunan ekonomi yang inklusif. Tantangan implementasi yang kompleks, mulai dari resistensi pelaku usaha besar hingga keterbatasan kapasitas institusional, membutuhkan pendekatan bertahap namun konsisten yang didukung komitmen politik kuat.

Momentum perubahan preferensi wisatawan global yang semakin menghargai autentisitas dan keberlanjutan, serta transformasi digital yang membuka peluang baru bagi pelaku lokal, harus dimanfaatkan secara optimal untuk mendorong transisi menuju model pariwisata yang lebih seimbang dan berkelanjutan. [T]

Menyatukan Pajak Turis Dunia: Menggagas Standar Baru bagi Pariwisata Global
Menimbang Dana Abadi Pariwisata
Glamping, Staycation, Instagrammable, Babymoon: Leksikon Baru Dalam Geliat Pariwisata Ekonomi Kreatif
“Community-Based Tourism” Sebagai Salah Satu Upaya Pemulihan Pariwisata Bali
Tags: PariwisataPariwisata Berkelanjutanpariwisata globalpembangunan pariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mahasiswa UPMI Bali Magang di tatkala.co : Mereka Belajar Menceritakan Peristiwa Nyata

Next Post

Belajar Mengenal Wayang dari Eksperimen “Wayang Bercerita”

Muhammad Yamin

Muhammad Yamin

Dosen Jurusan Hubungan Internasional, FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah dan pengamat ekonomi politik internasional dengan fokus pada sektor pariwisata dan pembangunan berkelanjutan.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Belajar Mengenal Wayang dari Eksperimen “Wayang Bercerita”

Belajar Mengenal Wayang dari Eksperimen “Wayang Bercerita”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co