17 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tantangan Pariwisata Indonesia: Daya Saing Global dan Keberlanjutan Lokal

Muhammad Yamin by Muhammad Yamin
November 13, 2024
in Esai
Tantangan Pariwisata Indonesia: Daya Saing Global dan Keberlanjutan Lokal

Muhammad Yamin

DINAMIKA ekonomi politik global telah membawa pariwisata Indonesia ke persimpangan yang krusial. Di satu sisi, integrasi ekonomi global membuka peluang besar bagi pertumbuhan sektor pariwisata nasional. Namun di sisi lain, tekanan kompetisi global dan standarisasi industri pariwisata internasional mengancam keberlanjutan basis sosial-ekonomi masyarakat lokal yang selama ini menjadi tulang punggung pariwisata Indonesia.

Fenomena ini terlihat jelas dalam kasus sentra industri kerajinan di Kabupaten Gianyar, Bali. Sebelum tahun 2002, kawasan ini menjadi contoh ideal bagaimana pariwisata dapat mendorong pemberdayaan ekonomi lokal melalui industri kreatif. Namun, implementasi perjanjian perdagangan bebas dan transformasi teknologi global telah mengubah lanskap industri pariwisata secara fundamental.

 Pengrajin tradisional yang mengandalkan keterampilan tangan kini tergerus oleh produksi massal berbasis teknologi. Pasar seni tradisional yang dahulu menjadi hub interaksi langsung antara wisatawan dan pengrajin lokal, kini kalah bersaing dengan pusat perbelanjaan modern yang dikelola pemodal besar.

Paradoks Pembangunan Pariwisata

Data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menunjukkan tren yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Sepanjang 2009-2019, meski jumlah kunjungan wisatawan mancanegara tumbuh rata-rata 10,7% per tahun dan penerimaan devisa meningkat signifikan, distribusi manfaat ekonomi justru semakin terkonsentrasi pada pelaku usaha berskala besar. Fenomena ini mencerminkan apa yang dalam kajian ekonomi politik internasional disebut sebagai “paradoks pertumbuhan tanpa pemerataan” – di mana integrasi ke dalam sistem ekonomi global justru memperlebar kesenjangan ekonomi domestik.

Kasus Gianyar memberikan ilustrasi yang jelas tentang paradoks ini. Sebelum tahun 2002, Desa Celuk tercatat sebagai salah satu desa terkaya di Indonesia berkat industri kerajinan peraknya. Namun kini, dari 180 pengrajin di Banjar Seseh, hanya tersisa kurang dari 50 yang masih aktif.

Ironisnya, volume produksi dan perdagangan kerajinan perak tidak mengalami penurunan signifikan – yang berubah adalah struktur kepemilikan dan model produksinya. Pemodal besar dengan teknologi modern telah mengambil alih dominasi pasar yang dulunya dikuasai pengrajin tradisional.

Paradoks serupa terlihat dalam pola perkembangan akomodasi wisata. Data BPS menunjukkan pertumbuhan jumlah kamar hotel berbintang yang pesat, namun pada saat yang sama banyak homestay dan penginapan lokal yang gulung tikar karena tidak mampu bersaing. Fenomena “tourist bubble”, di mana wisatawan terkonsentrasi di kawasan-kawasan eksklusif yang terputus dari kehidupan masyarakat lokal semakin menguat.

Urgensi Reorientasi Kebijakan

Situasi paradoksal dalam pembangunan pariwisata Indonesia membutuhkan reorientasi fundamental dalam pendekatan kebijakan. Paradigma yang semata mengejar pertumbuhan kuantitatif perlu diimbangi dengan perhatian lebih besar pada aspek keberlanjutan sosial-ekonomi masyarakat lokal. Kondisi ini menuntut serangkaian langkah strategis yang komprehensif dan terkoordinasi.

Langkah pertama yang krusial adalah penguatan kapasitas adaptif pelaku usaha lokal. Alih-alih membiarkan mereka berkompetisi secara head-to-head dengan pemain global, diperlukan kebijakan yang membantu mereka menemukan ceruk pasar yang unik berbasis keunggulan lokal.

Program literasi digital yang disesuaikan dengan karakteristik lokal, akses pembiayaan inklusif yang mempertimbangkan siklus bisnis pariwisata, serta pendampingan pengembangan produk yang memadukan kearifan tradisional dengan tuntutan pasar kontemporer menjadi kunci keberhasilan adaptasi ini. Fasilitasi sertifikasi dan standardisasi juga diperlukan namun dengan pendekatan yang tidak memberatkan sembari tetap menjamin kualitas.

Selanjutnya, reformulasi regulasi investasi pariwisata menjadi keniscayaan untuk lebih memperhatikan kepentingan lokal. Revisi ketentuan tentang porsi kepemilikan lokal dalam usaha pariwisata perlu dibarengi dengan penerapan kewajiban kemitraan substantif dengan UMKM setempat.

Pembatasan skala usaha di kawasan-kawasan strategis juga diperlukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem pariwisata. Insentif khusus bagi investor yang membuktikan komitmen pada pemberdayaan ekonomi lokal dapat menjadi instrumen penyeimbang, didukung dengan penguatan peran pemerintah daerah dalam pengawasan investasi pariwisata.

Pengembangan model pariwisata alternatif yang lebih berkelanjutan juga menjadi prioritas yang tidak bisa ditunda. Community-based tourism, creative tourism, eco-tourism, cultural tourism, dan rural tourism perlu didorong sebagai alternatif dari mass tourism konvensional. Model-model ini terbukti lebih efektif dalam menciptakan nilai tambah yang terdistribusi lebih merata ke masyarakat lokal, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan autentisitas budaya.

Reformasi tata kelola destinasi yang lebih partisipatif dan inklusif menjadi fondasi penting dalam reorientasi kebijakan ini. Pembentukan Destination Management Organization (DMO) yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, penguatan peran lembaga adat dan komunitas lokal dalam pengambilan keputusan, serta pengembangan sistem monitoring dampak pariwisata yang komprehensif menjadi bagian integral dari reformasi ini.

Implementasi reorientasi kebijakan ini membutuhkan perubahan mindset di semua level. Di tingkat pusat, koordinasi lebih erat antar kementerian menjadi prasyarat keberhasilan. Sementara di tingkat daerah, penguatan kapasitas pemerintah lokal dalam perencanaan dan pengelolaan pariwisata perlu menjadi prioritas. Pembiayaan inovatif melalui tourism development fund yang dikelola secara profesional bisa menjadi solusi untuk mendukung inisiatif pembangunan pariwisata berkelanjutan.

Meskipun akan menghadapi resistensi dari pihak-pihak yang diuntungkan status quo, pengalaman berbagai negara seperti New Zealand dan Costa Rica membuktikan bahwa pariwisata berkelanjutan yang berpihak pada kepentingan lokal justru menciptakan daya saing yang lebih kuat di pasar global. Keberhasilan reorientasi ini akan menentukan tidak hanya masa depan pariwisata Indonesia, tetapi juga keberlanjutan pembangunan ekonomi nasional secara keseluruhan.

Tantangan Implementasi

Tekanan dari mitra dagang internasional dan investor global yang menginginkan liberalisasi lebih lanjut menjadi kendala signifikan yang tidak bisa diabaikan. Perjanjian perdagangan internasional yang telah ditandatangani Indonesia, seperti ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) dan berbagai perjanjian bilateral, seringkali membatasi ruang gerak pemerintah dalam menerapkan kebijakan protektif untuk pelaku usaha lokal.

Resistensi dari pelaku usaha besar yang telah mapan juga membentuk lapisan tantangan tersendiri. Kelompok ini, yang telah menikmati keuntungan dari struktur industri pariwisata yang ada, cenderung memiliki pengaruh politik dan ekonomi yang kuat untuk mempertahankan status quo. Mereka seringkali berargumen bahwa standardisasi dan konsolidasi industri adalah keniscayaan untuk meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia di pasar global. Narasi ini mendapatkan dukungan dari lembaga-lembaga internasional yang mempromosikan agenda liberalisasi sektor jasa.

Di level birokrasi, ego sektoral dan tumpang tindih kewenangan antara pusat dan daerah menciptakan kompleksitas tersendiri. Desentralisasi yang tidak dibarengi dengan penguatan kapasitas pemerintah daerah seringkali menghasilkan kebijakan yang tidak koheren dan kadang kontraproduktif. Sebagai contoh, semangat daerah untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terkadang mendorong kebijakan yang lebih berpihak pada investor besar dibanding pelaku usaha lokal.

Tantangan teknis juga muncul dalam bentuk kesenjangan infrastruktur digital dan keterbatasan akses terhadap pembiayaan. Meski digitalisasi dipromosikan sebagai solusi untuk memberdayakan pelaku usaha lokal, realitasnya banyak daerah masih menghadapi kendala konektivitas internet dan literasi digital yang rendah. Sementara itu, sistem perbankan konvensional seringkali kesulitan mengakomodasi karakteristik unik usaha pariwisata skala kecil yang memiliki arus kas musiman dan aset tidak berwujud.

Aspek sosial-budaya menambah dimensi kompleksitas tersendiri. Di beberapa destinasi, terjadi ketegangan antara keinginan untuk mempertahankan autentisitas budaya dengan tuntutan modernisasi industri pariwisata. Generasi muda dari komunitas lokal seringkali lebih tertarik bekerja di sektor modern dibanding meneruskan usaha tradisional keluarga, menciptakan ancaman terhadap keberlanjutan warisan budaya yang justru menjadi daya tarik pariwisata.

Namun, pengalaman krisis-krisis sebelumnya – mulai dari krisis finansial Asia 1997, bom Bali, hingga pandemi COVID-19 – telah menunjukkan bahwa ketahanan sektor pariwisata Indonesia sangat bergantung pada keberlanjutan basis sosial-ekonomi lokalnya. Ketika arus wisatawan internasional terhenti, justru pasar domestik dan kreativitas pelaku lokal yang membantu sektor ini bertahan. Pembelajaran ini menegaskan pentingnya membangun ekosistem pariwisata yang lebih seimbang, meski harus menghadapi berbagai tantangan implementasi.

Menghadapi kompleksitas tantangan ini, diperlukan pendekatan bertahap namun konsisten dalam implementasi reorientasi kebijakan. Pembentukan koalisi pemangku kepentingan yang mendukung agenda reformasi, penguatan basis bukti untuk kebijakan melalui riset dan evaluasi dampak, serta komunikasi publik yang efektif untuk membangun dukungan luas menjadi prasyarat keberhasilan. Yang terpenting, harus ada political will yang kuat dari pemerintah untuk mengambil langkah-langkah yang mungkin tidak populer dalam jangka pendek namun krusial untuk keberlanjutan jangka panjang.

Peluang dan Prospek

Di tengah beragam tantangan yang kompleks, perkembangan global kontemporer justru membuka jendela peluang bagi reorientasi pembangunan pariwisata Indonesia yang lebih seimbang. Tren pariwisata global sedang mengalami pergeseran paradigmatik, di mana wisatawan semakin menghargai autentisitas, keberlanjutan lingkungan, dan dampak sosial positif. Pergeseran preferensi ini menciptakan ruang bagi model pariwisata alternatif yang lebih berpihak pada kepentingan lokal.

Pandemi COVID-19, meski membawa dampak destruktif, telah mengakselerasi transformasi digital dalam industri pariwisata global. Kemajuan teknologi digital, jika dimanfaatkan dengan tepat, bisa menjadi enabler bagi pelaku usaha lokal untuk menjangkau pasar lebih luas tanpa harus tergantung pada intermediari konvensional.

Platform digital lokal dan marketplace khusus untuk produk kreatif tradisional kini memiliki peluang untuk berkompetisi dengan platform global, didukung oleh meningkatnya kesadaran konsumen akan pentingnya mendukung ekonomi lokal.

Munculnya konsep ekonomi sirkular dan regeneratif dalam diskursus pembangunan global juga memberikan momentum bagi transformasi pariwisata Indonesia. Model bisnis pariwisata yang mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan tidak lagi sekadar pilihan etis, tetapi menjadi kebutuhan pasar. Investor global semakin mempertimbangkan kriteria Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam keputusan investasi mereka, menciptakan insentif baru bagi pengembangan pariwisata yang lebih berkelanjutan.

Perkembangan regional Asia Pasifik juga menawarkan peluang strategis. Kebangkitan kelas menengah di negara-negara Asia, terutama China dan India, membuka pasar baru yang potensial. Karakteristik wisatawan Asia yang cenderung lebih mengapresiasi nilai-nilai budaya Timur memberikan keunggulan komparatif bagi destinasi Indonesia yang kaya akan warisan budaya. Terlebih, kedekatan geografis memungkinkan pengembangan paket wisata yang lebih terjangkau dan berkelanjutan.

Di level domestik, menguatnya gerakan ekonomi kreatif memberikan fondasi yang kokoh bagi pengembangan pariwisata berbasis komunitas. Kolaborasi antara pelaku industri kreatif lokal dengan sektor pariwisata membuka peluang untuk menciptakan pengalaman wisata yang unik dan bernilai tambah tinggi. Integrasi antara pariwisata, ekonomi kreatif, dan kearifan lokal berpotensi menciptakan model pembangunan yang tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat identitas budaya.

Yang tidak kalah penting, Indonesia memiliki keunggulan inherent dalam bentuk keragaman budaya dan kekayaan alam yang luar biasa. Dalam era di mana autentisitas dan pengalaman unik menjadi premium, aset ini memberikan basis yang kuat untuk membangun proposisi nilai yang berbeda dari destinasi massal konvensional. Pengembangan wisata berbasis alam (ecotourism) dan budaya (cultural tourism) yang dikelola oleh komunitas lokal memiliki prospek cerah seiring dengan menguatnya kesadaran lingkungan dan pencarian pengalaman otentik di kalangan wisatawan global.

Prospek jangka panjang pariwisata Indonesia akan sangat bergantung pada kemampuan memanfaatkan peluang-peluang ini sembari mengatasi tantangan struktural yang ada. Keberhasilan dalam mengembangkan model pariwisata yang menyeimbangkan daya saing global dengan keberlanjutan lokal tidak hanya akan menentukan masa depan sektor ini, tetapi juga dapat menjadi blueprint bagi transformasi sektor-sektor ekonomi lainnya menuju pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Penutup

Dinamika ekonomi politik global telah membawa sektor pariwisata Indonesia ke titik kritis yang memerlukan reorientasi fundamental. Pengalaman empiris dari berbagai destinasi wisata, terutama kasus Gianyar di Bali, menunjukkan bahwa integrasi ke dalam sistem pariwisata global tanpa penyeimbang kebijakan yang tepat telah menciptakan paradoks pembangunan.

Di satu sisi, sektor ini mencatatkan pertumbuhan agregat yang mengesankan dalam hal kunjungan wisatawan dan penerimaan devisa. Namun di sisi lain, konsentrasi manfaat ekonomi pada segelintir pelaku usaha besar dan tergerusnya basis sosial-ekonomi lokal menimbulkan pertanyaan serius tentang keberlanjutan model pembangunan pariwisata yang ada.

Urgensi untuk melakukan reorientasi kebijakan menjadi semakin mendesak di tengah transformasi lanskap pariwisata global pasca-pandemi. Pengalaman krisis COVID-19 membuktikan bahwa ketahanan sektor pariwisata sangat bergantung pada keberlanjutan ekosistem lokalnya.

Dibutuhkan pendekatan yang lebih nuanced dalam menyikapi globalisasi – tidak semata-mata menerima tekanan liberalisasi atau sebaliknya menutup diri, melainkan mengembangkan strategi cerdas yang memungkinkan pelaku lokal berpartisipasi dalam rantai nilai global dengan posisi yang lebih menguntungkan. Ini mencakup penguatan kapasitas adaptif pelaku usaha lokal, reformulasi regulasi investasi yang lebih protektif, dan pengembangan model pariwisata alternatif yang berkelanjutan.

Keberhasilan dalam menyeimbangkan imperatif daya saing global dengan keberlanjutan basis sosial-ekonomi lokal akan menentukan tidak hanya masa depan sektor pariwisata, tetapi juga relevansinya sebagai instrumen pembangunan ekonomi yang inklusif. Tantangan implementasi yang kompleks, mulai dari resistensi pelaku usaha besar hingga keterbatasan kapasitas institusional, membutuhkan pendekatan bertahap namun konsisten yang didukung komitmen politik kuat.

Momentum perubahan preferensi wisatawan global yang semakin menghargai autentisitas dan keberlanjutan, serta transformasi digital yang membuka peluang baru bagi pelaku lokal, harus dimanfaatkan secara optimal untuk mendorong transisi menuju model pariwisata yang lebih seimbang dan berkelanjutan. [T]

Menyatukan Pajak Turis Dunia: Menggagas Standar Baru bagi Pariwisata Global
Menimbang Dana Abadi Pariwisata
Glamping, Staycation, Instagrammable, Babymoon: Leksikon Baru Dalam Geliat Pariwisata Ekonomi Kreatif
“Community-Based Tourism” Sebagai Salah Satu Upaya Pemulihan Pariwisata Bali
Tags: PariwisataPariwisata Berkelanjutanpariwisata globalpembangunan pariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mahasiswa UPMI Bali Magang di tatkala.co : Mereka Belajar Menceritakan Peristiwa Nyata

Next Post

Belajar Mengenal Wayang dari Eksperimen “Wayang Bercerita”

Muhammad Yamin

Muhammad Yamin

Dosen Jurusan Hubungan Internasional, FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah dan pengamat ekonomi politik internasional dengan fokus pada sektor pariwisata dan pembangunan berkelanjutan.

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Mengenal Wayang dari Eksperimen “Wayang Bercerita”

Belajar Mengenal Wayang dari Eksperimen “Wayang Bercerita”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co