3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Glamping, Staycation, Instagrammable, Babymoon: Leksikon Baru Dalam Geliat Pariwisata Ekonomi Kreatif

Luh Eka Susanti by Luh Eka Susanti
March 28, 2022
in Opini
Glamping, Staycation, Instagrammable, Babymoon: Leksikon Baru Dalam Geliat Pariwisata Ekonomi Kreatif

Foto/ilustrasi tatkala.co | Mursal Buyung

Salam Pariwisata

Salam Hangat dari Bali!

Glamping. Van-Camper. Staycation. Instagrammable. Babymoon.

Istilah-istilah tersebut sudah tidak asing lagi bagi pelaku pariwisata di Indonesia khususnya di Bali. Istilah yang sebelumnya asing terdengar, kini sudah merajalela bahkan sudah menjadi hal yang lumrah dan biasa untuk diungkapkan. Leksikon tersebut muncul sebagai dampak dari perkembangan pariwisata modern.

Jika sebelumnya masyarakat sudah familiar dengan istilah back-packer, kini berbagai macam istilah yang berkorelasi dengan industri pariwisata pun mulai merebak dan digunakan secara luas. Bagi insan pariwisata muda, khususnya kaum milenial dimana travelling merupakan lifestyle, penggunaaan leksikon tersebut sangat mudah dipahami. Bermula dari membaca/mendengar/melihat sampai menggunakan dalam komunikasi sehari-hari.

Masyarakat di era revolusi 4.0 yang dikenal dengan “milenial” adalah masyarakat informasi yang menciptakan suatu nilai tambah yang dinamis dengan upaya menghubungkan asset – asset yang tak kasat mata misalnya melalui jejaring informasi (information networks). Inilah hasil dari perkembangan globalisasi ekonomi, sebab salah satu fenomena penting proses globalisasi adalah lahirnya generasi gadget, istilah yang digunakan untuk menandai munculnya generasi millennial. Selain dalam hal penguasaan teknologi  dibandingkan generasi sebelumnya, salah satu karakteristik generasi milenial ini ditandai dengan gemarnya berwisata dan mengabadikan momen lalu diunggah ke media sosial. Hal ini yang terus berulang dan kemudian diikuti oleh kaum milenial lainnya menjadi  lifestyle dimana di setiap kesempatan berwisata, hal ini tidak boleh luput atau tertinggal.

Tatkala Bali Mencari Keseimbangan Pariwisata

Berwisata tidak harus dilakukan secara berkelompok, baik dengan teman, pasangan, ataupun keluarga, namun hal ini juga dapat dilakukan secara individu (perseorangan). Berwisata bersama teman, pasangan, ataupun keluarga memang memberikanmanfaat tersendiri, tapi memang lebih banyak porsi untuk berbagi dalam beberapa hal seperti finansial, akomodasi, transportasi bahkan  berbagi cerita ataupun pengalaman saat berwisata.

Di lain sisi, berwisata secara mandiri (solo traveling) akan  memberikan esensi yang berbeda jika dibandingkan dengan berwisata bersama orang lain. Hal ini diakibatkan karena apapun akan dilakukan secara mandiri dan lebih mengandalkan diri sendiri. Namun di balik itu, rasa ingin tahu dan berbaur dengan lingkungan sekitar akan menjadi lebih besar jika melakukan kegiatan berwisata secara perseorangan.

Pariwisata bersinergi dengan sejumlah aspek, seperti kebudayaan, ekonomi, sosial, serta perkembangan teknologi. Seiring dengan berkembangnya teknologi, pariwisata mampu menunjukkan eksistensinya dengan beradaptasi dengan pola pikir modern sehingga tercipta jenis pariwisata yang makin bervariasi.

Hal ini juga dilatarbelakangi dengan jenuhnya wisatawan dengan jenis-jenis pariwisata ataupun destinasi pariwisata yang sifatnya monoton. Dengan berkembangannya teknologi yang berimbas pada kemunculan sejumlah platform media sosial, seperti Facebook, Instagram, Tiktok, dll. Saat berwisata pun, media sosial tersebut tentunya akan dijadikan wadah untuk ajang pamer, atau sekedar untuk sebagai sarana untuk menunjukkan eksistensi diri.

Pariwisata Nusa Penida, Menggeser Perspektif Ternak Kaki Empat Menjadi Roda Empat

Setiap daerah yang secara serius mengembangkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif akan merasakan dampak langsung, seperti peningkatan kesejahteraan dan pengurangan angka pencari kerja. Dari pernyataan tersebut, diperlukan pembangunan dan pengembangan produk unggulan di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di tiap daerah tersebut. Namun, pengembangan sektor pariwisata ini pun terhalang sejumlah kendala atau permasalahan yang harus diatasi untuk meningkatkan kualitas pariwisata dan ekonomi kreatif. 

Permasalahan yang dialami sektor pariwisata antara lain dalam hal infrastruktur, pengembangan destinasi, perluasan pasar wisata di dalam dan luar negeri, kelembagaan, dan sumber daya manusia dan permasalahan yang dialami oleh sektor industri kreatif adalah dalam hal pengembangan industri kreatif, iklim usaha, perluasan pasar produk kreatif, teknologi dan konten, sumber daya baik alam maupun manusia, dan akses pembiayaan bagi pelaku ekonomi kreatif.

Pariwisata kreatif dapat membawa perubahan yang positif dalam sebuah komunitas pada suatu Negara. Meskipun, wisata kreatif seringkali dikaitkan dengan wisata budaya, sebenarnya keduanya sangatlah berbeda. Wisata budaya menitikberatkan pada melihat, merasakan, dan kontemplasi. Sementara fokus wisata kreatif adalah pengalaman otentik yang dialami oleh wisatawan. Dalam memperkenalkan wisata baru dan untuk mengetahui bagaimana daya tarik wisatawan untuk berkunjung maka harus ada strategi dari pengelola untuk mengenalkan dan mempertahankan kepada calon wisatawan.

Pertanian, Pariwisata, Industri Kreatif, Integrasi yang tak Sampai #Kolom Made Metera

Selain faktor budaya hal terpenting lainnya yang bisa menarik wisatawan untuk berkunjung adalah dari tingkat keunikannya. Semakin unik tempat wisata tersebut akan semakin menarik konsumen untuk berkunjung. Hal ini selaras dengan isi Undang-undang no 10 tahun 2009 daya tarik wisata dijelaskan sebagai segala sesuatu yang memiliki keunikan, kemudahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau kunjungan wisatawan. Dalam UU No. 9 tahun 1990 tentang kepariwisataan disebutkan bahwa daya tarik wisata adalah suatu yang menjadi sasaran wisata. Terdapat 3 jenis  daya tarik wisata secara umum, antara lain:

  1. daya tarik wisata alam ciptaan Tuhan (gunung, danau, flora dan fauna)
  2. daya tarik hasil karya manusia yang berwujud museum, peninggalan sejarah, seni dan budaya, wisata agro,wisata buru, taman rekreasi dan kompleks hiburan.
  3. daya tarik wisata minat khusus, seperti berburu, industri dan kerajinan,tempat perbelanjaan, sungai air deras, tempat-tempat ibadah, tempat ziarah dan lain-lain.

Dalam pariwisata ekonomi kreatif, daya tarik wisata minat khusus banyak dilirik dan mulai dikembangkan oleh pemerintah pusat dan daerah. Sebenarnya wisata jenis ini sudah ada sebelumnya, hanya saja semenjak adanya pariwisata modern yang lebih kreatif, pemanfaatan lahan atau tempat-tempat yang berpotensi untuk dijadikan tempat wisata lebih menggeliat untuk dikembangkan. Animo masyarakat dan wisatawan juga menunjukkan pengaruh yang positif sehingga daya Tarik minat khuhus ini dapat berkembang.

Selain itu, seiring dengan perkembangan teknologi, mulai terciptanya leksikon atau kosa kata baru yang menggambarkan bagaimana wisata tersebut. Leksikon tersebut umumnya berbahasa Inggris yang terdiri dari gabungan beberapa kata yang sudah eksis sebelumnya sehingga mempunyai makna yang baru, ataupun kata yang muncul karena pengaruh media sosial. Bahkan kini, leksikon tersebut sangat lumrah digunakan dan dapat dengan mudah dipahami. Leksikon tersebut pun menggambarkan pariwisata kreatif yang mampu mengilustrasikan kegiatan atau aktifitas dalam berwisata dengan cara yang baru. Beberapa leksikon tersebut antara lain glamping, staycation, instagrammable, van-camper dan lain sebagainya.

“Destination Branding”, Potensi Buleleng Luar Biasa, dan Bla Bla Bla…

Leksikon memainkan peran sentral dalam mendefinisikan bahasa pariwisata sebagai bahasa khusus, juga dalam membentuk teks yang berbeda untuk tujuan promosi. Bahasa promosi melibatkan dua  proses interaksi, komunikasi dan persuasi, yang biasanya ditemukan dalam iklan. Tujuannya tidak hanya untuk memberikan informasi yang berguna, tetapi juga untuk memikat dan membujuk calon wisatawan untuk mengunjungi area yang dijelaskan. Teks yang mempromosikan suatu destinasi atau tujuan wisata pada situs web maupun jejaring sosial kaya akan istilah dan kata-kata asing (umumnya dalam bahasa Inggris) yang mendefinisikan produk atau jasa  tertentu.

Dalam kemunculan leksikon baru dalam perkembangan pariwisata kreatif ini dapat dilihat dari beberapa pembentukan makna, antara lain:

  1. blending (kombinasi antara 2 kata menjadi 1 kata yang memunculkan makna baru), contoh: glamping, staycation.
  2. new word (leksikon yang muncul akibat perkembangan suatu aspek lain yang mempengaruhi  pariwisata itu sendiri), contoh:  instagramable 
  3. new meaning (penyandingan 2 kata terpisah untuk memunculkan arti baru), contoh: babymoon, van-camper.

Kedepannya, konsep pariwisata modern akan terus berkembang yang menyesuaikan dengan kebutuhan wisatawan. Perkembangan inilah yang berpotensi untuk memicu berkembangnya leksikon-leksikon baru yang memperkaya kosakata dalam industri pariwisata. Masyarakat tidak bisa menolak dengan adanya perkembangan tersebut; hal yang bisa dilakukan adalah mengetahui, memahami maksud, menyaring, menggunakannya untuk dapat tetap eksis dalam komunikasi dan industri pariwisata ekonomi kreatif.

Let’s see. [T]

Tags: BahasaBahasa Inggrisleksikon pariwisataPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dinz Handmade dari Bali Utara | Mari Bergaya dengan Perca

Next Post

Peduli Air di Desa Adat Glagalinggah Lewat Program Desa Ramah Air Hujan

Luh Eka Susanti

Luh Eka Susanti

Luh Eka Susanti, S.Pd.,M.Pd lahir di Denpasar, 19 Agustus 1988 silam. Ia memperoleh gelar Magister Pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Pendidikan Ganesha pada tahun 2013. Karirnya menjadi dosen Bahasa Inggris dimulai sejak tahun 2010. Dia juga mengajar Bahasa Inggris untuk caddy golf, hotelier dan spa therapist, serta menekuni Pembelajaran BIPA. Selain itu, ia pernah menjadi salah satu pemenang dalam lomba Menulis Bahan Ajar Membaca Dini oleh Balai Bahasa Bali Tahun 2019 dan Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Sisa SD Kelas Awal

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Peduli Air di Desa Adat Glagalinggah Lewat Program Desa Ramah Air Hujan

Peduli Air di Desa Adat Glagalinggah Lewat Program Desa Ramah Air Hujan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co