3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Community-Based Tourism” Sebagai Salah Satu Upaya Pemulihan Pariwisata Bali

AA Ayu Arun Suwi Arianty by AA Ayu Arun Suwi Arianty
April 5, 2022
in Opini
“Community-Based Tourism” Sebagai Salah Satu Upaya Pemulihan Pariwisata Bali

Salah satu sudut pantai Desa Pemuteran, Buleleng, Bali | Foto: Mursal Buyung

Wujud Community-Based Tourism  (CBT) di Bali

Tahun 2020 diawali dengan merebaknya pandemic Covid19. Industri pariwisata merupakan salah satu sektor yang mengalami penurunan sangat signifikan. UNWTO menggambarkan keadaan pariwisata internasional seperti kembali ke level pariwisata pada saat 30 tahun yang lalu. Penurunan secara drastis jumlah kunjungan wisatawan baik domestic maupun mancanegara menyebabkan melambatnya bahkan nyaris terhentinya kegiatan pariwisata. Selanjutnya, hal tersebut memberikan efek berganda (multiplier effect) terhadap sektor industri lainnya.

Pada KTT G20 tahun 2020, UNWTO berkerjasama dengan kelompok kerja pariwisata G20 mengeluarkan Framework for Inclusive Community Development Through Tourism sebagai upaya pemulihan sektor pariwisata. Kerangka ini mendorong kerjasama dan kolaborasi antara masyarakat dan pemangku kepentingan pariwisata guna menjadikan pariwisata sebagai alat pembangunan inklusif yang dapat secara adil mendistribusikan manfaat dari pariwisata itu sendiri di wilayahnya (UNWTO, 2020). Dimana sebelumnya UNWTO pada tanggal 16 September 2020, di Tbilisi, Georgia, mengeluarkan Deklarasi Tbilisi sebagai sebuah komitmen pemulihan pariwisata secara berkelanjutan (UNWTO, 2020).

Berdasarkan kedua peristiwa tersebut, dapat disimpulkan bahwa masyarakat bersama dengan terjalinnya kerjasama dan koordinasi merupakan kunci penting dalam usaha pemulihan pariwisata berkelanjutan pada masa pandemic maupun pasca pandemic Covid19 nanti.

Pengembangan pariwisata yang menekankan pada masyarakat sudah terlihat pada tahun 1990-an melalui konsep pro-poor tourism (pariwisata pro-orang miskin), rural tourism (pariwisata pedesaan), Community-Based Tourism (CBT), dan istilah lain yang dimaksudkan untuk membantu pembangunan bagi masyarakat tertinggal secara ekonomi (Putra, 2015).

Dalam buku pegangan yang diterbitkan REST (1997), dimuat hal-hal konseptual dan praktis dari CBT. Menurut REST, secara terminologis, pelibatan partisipasi masyarakat dalam proyek pengembangan pariwisata mempunyai banyak nama, yakni Community-Based Tourism (CBT), Community-Based Ecotourism (CBET), Agrotourism, dan Eco and Adventure Tourism. Dikalangan akademik, belum ada konsensus terhadap istilah-istilah dari beragam tipe pariwisata ini.

Glamping, Staycation, Instagrammable, Babymoon: Leksikon Baru Dalam Geliat Pariwisata Ekonomi Kreatif

Dalam perkembangannya konsep Community-Based Tourism  (CBT)  lebih mendapatkan perhatian dan sering digunakan oleh badan atau kelompok pemerintah karena diyakini dapat membantu masyarakat lokal untuk menggali pendapatan, melakukan diversifikasi ekonomi lokal, pelestarian budaya dan lingkungan, serta menyediakan peluang pendidikan (Putra, 2015). Community-Based Tourism  (CBT)  digunakan sebagai alat pengembangan pariwisata berkaitan erat dengan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism).

Kedua konsep ini menekankan pada manfaat pembangunan bagi masyarakat, khususnya manfaat ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan (Richard dan Hall, 2000). Dalam kata lain, jika masyarakat secara langsung dapat menikmati manfaat dari pariwisata, mereka akan mendukung pembangunan pariwisata serta menjaga keberlanjutannya. Kegiatan pariwisata tidak akan dapat terjadi tanpa dukungan masyarakat sebagai salah satu aktor pariwisata itu sendiri.

Bali merupakan salah satu destinasi pariwisata internasional yang memiliki keistimewaan tersendiri dengan ciri khas yang dapat dilihat dari keunikan tatanan sosial, budaya, dan alamnya. Pengembangan pariwisata di Bali sebaiknya bisa lebih diintensifkan. Sentuhan ekonomi pada sektor pariwisata hendaknya dapat dirasakan secara merata oleh rakyat.  Pengembangan pariwisata yang paling sesuai dengan iklim globalisasi tanpa mengesampingkan potensi lokal, adalah pariwisata kerakyatan yang berhubungan dengan kearifan lokal (local wisdom) dan berkaitan dengan aspek kelestarian alam (ekowisata).

Dalam Rencana Strategis Kemenparekraf 2020-2014, wisata alam ditetapkan sebagai salah satu fokus dari produk wisata yang harus dikembangkan. Kabupaten Buleleng, sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Bali yang memiliki garis pantai terpanjang di Bali memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan produk wisata alam, khususnya wisata bahari.

Harapan atau Kecemasan? | Geliat Pariwisata di Wilayah Kaldera, Kintamani

Menurut UU No.10 Tahun 2009, tentang Kepariwisataan, wisata bahari atau wisata tirta adalah usaha penyelenggaraan wisata dan olah raga air, termasuk penyediaan sarana dan prasarana, serta jasa lainnya yang dikelola secara komersial di perairan laut, pantai, sungai, danau, dan waduk. Dimana ekowisata bahari merupakan jenis wisata minat khusus yang memiliki aktivitas di permukaan laut, di bawah laut, dan di pesisir pantai (Yulius, 2018).

Konsep kearifan lokal yang bisa dijadikan landasan pendukung Community-Based Tourism (CBT) atau pariwisata berbasis masyarakat di Bali adalah konsep “Tri Hita Karana”. “Tri Hita Karana” merupakan filosofi hidup masyarakat Bali yang berarti tiga penyebab kebahagiaan yang bersumber pada harmonisnya hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesamanya, dan hubungan manusia dengan lingkungannya. Prinsip pelaksanaan tersebut haruslah seimbang dan selaras, antara hubungan satu dengan lainnya  (Natalia, 2016). Konsep dari Community-Based Tourism  (CBT) yang menekankan pada dampak pariwisata pada masyarakat dan sumber daya lingkungan akan dapat diatasi jika “Tri Hita Karana” diterapkan dengan baik pada kehidupan sehari-hari.

Masyarakat sebagai Faktor Keberhasilan Pengembangan Ekowisata Bahari di Desa Pemuteran

Desa Pemuteran merupakan salah satu desa di Kabupaten Buleleng yang terletak diantara gugusan perbukitan dan hamparan laut. Letak geografis Desa Pemuteran menjadikan desa ini berpotensi sebagai destinasi ekowisata bahari. Salah satu potensi yang dimiliki oleh Desa Pemuteran sebagai destinasi ekowisata bahari adalah potensi berupa terumbu karang yang indah. Pengembangan terumbu karang melalui program konservasi yang dipadukan dengan aktifitas wisata mampu menarik minat wisatawan untuk datang berkunjung dan ikut serta dalam melakukan konservasi terumbu karang.

Keterlibatan masyarakat lokal sudah dimulai dari pembuatan program konservasi terumbu karang. Program konservasi terumbu karang di Desa Pemuteran diprakarsai oleh Yayasan Karang Lestari yang bekerjasama dengan masyarakat lokal Desa Pemuteran. Konservasi terumbu karang mulai dilakukan pada tahun 1990  oleh Yayasan Karang Lestari.

Recovery Pariwisata Pasca Pandemi: Belajar dari Kritik Pemulihan Pariwisata Pasca Bom Bali

Pada awal berdiri Yayasan Karang Lestari yang diketuai oleh I Gusti Agung Prana, menempatkan Bupati Buleleng sebagai pelindung, beberapa tokoh nasional sebagai dewan pembina, dan tokoh-tokoh lokal sebagai dewan pengawas. Pada saat itu pendekatan yang digunakan oleh Yayasan Karang Lestari untuk meyakinkan masyarakat lokal adalah pendekatan adat, budaya, dan keagamaan. Usaha pertama yang dilakukan sebagai upaya pengembangan destinasi ekowisata adalah usaha restorasi terumbu karang yang sebelumnya telah dirusak dan dihancurkan oleh masyarakat lokal itu sendiri.

Dulunya, mayoritas masyarakat Desa Pemuteran yang bermata pencaharian sebagai nelayan, menggunakan bom dan potassium sebagai sarana menangkap ikan (Putri dan Citra,2018). Usaha restorasi ini dirasakan sebagai usaha terberat karena disamping menumbuhkan terumbu karang yang telah hancur dan rusak, para pelopor penyelamat lingkungan ini harus mampu mentransformasikan budaya masyarakat, dari penghancur ekosistem menjadi penyelamat ekosistem (Suwena dan Ariamayanti,2016).

Kemajuan restorasi terumbu karang mulai terlihat pada tahun 1996. Hal ini ditandai dengan beragamnya jenis terumbu karang yang tumbuh di daerah tersebut. Pada tahun 2000an, teknologi biorock mulai diperkenalkan di Desa Pemuteran. Biorock merupakan sebuah teknologi penumbuhan terumbu karang, dimana teknologi biorock dapat mempercepat pertumbuhan terumbu karang tiga hingga enam kali lebih cepat daripada terumbu karang yang tumbuh alami. Disamping itu, biorock juga menghasilkan terumbu karang yang lebih tahan terhadap pengaruh cuaca dan kontaminasi berbagai polusi air  (Arismayanti, 2016).

Setahun setelah dikembangkannya teknologi Biorock, atau pada tahun 2001, kawasan Teluk Pemuteran telah lahir kembali menjadi taman laut dengan terumbu karang yang beragam. Keindahan terumbu karang Desa Pemuteran dibuktikan dengan, diperolehnya penghargaan dari UNWTO sebagai daerah konservasi bawah laut yang menakjubkan pada tahun 2015. Diikuti dengan Pengukuhan Desa Pemuteran sebagai salah satu dari Top 10 Lonely Planet pada tahun 2016 .

Keberhasilan Desa Pemuteran untuk merestorasi terumbu karangnya, bahkan mendapatkan penghargaan tidak terlepas dari peran masyarakat. Keterlibatan masyarakat terlihat pada saat perencanaan, pelaksanaan, dan usaha konservasi terumbu karang di Desa Pemuteran. Keberhasilan tersebut juga didukung dengan adanya keterlibatan dari semua pemangku kepentingan, regulasi, dan tata kelola yang baik dalam pengembangan ekowisata di Desa Pemuteran.

Menteri Pariwisata Ini Jalan-jalan di Desa, Sapa Petani dan Pelukis, Meski Tak Berkantor di Bali

Pulihnya ekosistem terumbu karang, membawa efek positif pada perkembangan pariwisata di Desa Pemuteran. Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Desa Pemuteran. Secara umum, wisatawan yang datang adalah wisatawan dengan minat khusus, yaitu menikmati wisata bahari dengan aktifitas wisata berupa snorkling dan diving.

Dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan menyebabkan meningkatnya pula jumlah permintaan akan fasilitas wisata. Fenomena ini menyebabkan munculnya efek berganda pada kehidupan masyarakat Desa Pemuteran. Keterlibatan masyarakat sebagai penyedia fasilitas wisata, seperti jasa penginapan sederhana (homestay), warung makan, menjadi instruktur selam bagi penyelam amatir, membuka penyewaan alat selam, penyewaan perahu, dan menjadi pemandu wisata lokal. Peran masyarakat sebagai penyedia fasilitas wisata ini berdampak pada peningkatan  kualitas hidup mereka.

Harapan Desa Pemuteran sebagai Ekowisata Bahari Pada Masa Pandemi dan Pasca Pandemi Covid19

 Di Indonesia, Kemenparekraf (Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) berkolaborasi dengan para pihak industry, pelaku, pemerintah, dan akademisi menyusun protocol kesehatan lengkap dengan pedoman dan panduan pelaksanaan CHSE (Clean, Health, Safety, and Environment) sebagai upaya dalam menghadapi pandemi Covid19. Tujuan dari sertifikasi CHSE adalah untuk meningkatkan upaya pencegahan dan pengendalian COVID19. Dukungan pemerintah tidak hanya sampai dikeluarkannya pedoman sertifikasi CHSE tersebut, akan tetapi pemerintah juga memberikan sertifikasi ini secara gratis. Tentunya, pemberian sertifikasi CHSE gratis ini hanya diberikan bagi pelaku usaha yang memenuhi segala persyaratan dan ketentuannya.

Disamping sertifikasi CHSE, dukungan pemerintah untuk masyarakat yang terkena dampak langsung dari Covid19, khususnya yang berhubungan dengan wisata bahari, dilakukan melalui Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Padat Karya melalui Taman Terumbu Karang Indonesia (ICRG). Program ini dicetuskan oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi bersama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kabupaten Buleleng terpilih sebagai salah satu daerah yang menjadi tempat restorasi terumbu karang nasional atau Taman Terumbu Karang Indonesia (ICRG).

Pariwisata Nusa Penida, Menunggu Bangkit dari Korona dan Sihir Konor

Pemilihan Kabupaten Buleleng tidak lepas karena sudah terkenalnya konservasi terumbu karang Buleleng. Dimana pada program ini, Buleleng akan menerima bantuan sebesar 10-20 miliar guna mengembangkan terumbu karang yang berbeda, yang unik, sekaligus menjaga kelestarian terumbu karang tersebut. Sejalan dengan itu, Bapak Bupati Buleleng juga menyampaikan permohonan terkait ijin zona hijau bagi tiga kawasan di Buleleng secara virtual kepada Presiden Jokowi saat pelaksanaan vaksinasi masal di Gedung Kesenian Gde Manik Singaraja. Ketiga kawasan tersebut adalah Desa Pemuteran, Desa Gerokgak, dan Desa Kalibukbuk. Harapan dari Bapak Bupati Agus Suradnyana jika permohonannya dikabulkan adalah Buleleng dapat bersiap menerima kunjungan wisata.

Adanya dukungan dari pemerintah tersebut layaknya dijadikan modal oleh masyarakat Desa Pemuteran untuk keluar dari masa paceklik pariwisata. Disamping itu, masa pandemi Covid19 diharapkan sebagai momentum refleksi diri. Dengan demikian, mampu melahirkan pemikiran jernih guna merancang pengembangan ekowisata di Desa Pemuteran kedepannya dan berfikir kritis untuk menemukan potensi-potensi lain yang dapat di kembangkan di Desa Pemuteran.

Konsep Community-Based Tourism (CBT) yang sebelumnya telah berhasil membawa perkembangan pariwisata yang sangat menggembirakan di Desa Pemuteran haruslah dipikirkan kembali pelaksanaannya di masa pandemi Covid19 dan pasca pandemi Covid19. Untuk ke depannya tidaklah cukup hanya menerapkan konsep Community-Based Tourism (CBT) tetap bertahan sebagai destinasi ekowisata yang diminati oleh wisatawan,

Pengembangan ekowisata bahari Desa Pemuteran juga harus memperhatikan aspek-aspek yang diperlukan untuk menangani masalah pandemi Covid19. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk pengembangan ekowisata bahari di Desa Pemuteran dalam masa adaptasi kenormalan baru adalah dengan mengikuti pedoman dan melakukan sertfikasi CHSE. Diharapkan pula, masyarakat Desa Pemuteran dapat lebih berinovasi dalam era digital ini dalam mengemas atraksi wisata di Desa Pemuteran.

DAFTAR PUSTAKA

  • Putra, I Nyoman Darm. 2015. Pariwisata Berbasis Masyarakat Model Bali (1st ed). Denpasar: Program Studi Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana.
  • Natalia, O. 2016. Tri Hita Karana. Diakses pada 16 Oktober 2021, dari
  •  https://www.scribd.com/document/325905645/Tri-Hita-Karana-pdf
  • Putri, Trisna. & Citra, Ananda. 2018. Strategi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir di Desa Pemuteran, Kecamatan Kerokgak Kabupaten Buleleng. Jurnal Pendidikan Geografi Undiksha, Volume 6 (1), 12-21.
  • Richards, Greg. dan Derek Hall. 2000. Tourism and Sustainable Community Development. London: Routledge.
  • Suwena, I Ketut. dan Arismayanti, Ni Ketut. 2016. Pengembangan Pariwisata Hijau sebagai Pemberdayaan Masyarakat di Desa Pemuteran Kabupaten Buleleng Bali. Seminar Nasional Sains dan Teknologi (Senastek).
  • UNWTO. (2020). Tbilisi Declaration: Actions for A Sustainable Recovery Of Tourism. Tbilisi: UNWTO.
  • UNWTO. (2020). Alula Framework for Inclusive Community Development Through Tourism. Riyadh: UNWTO.
  • Yulius, dkk. (2018). Buku Panduan Kriteris Penetapan Zona Ekowisata Bahari (edisi 1). Bogor: PT Penerbit IPB Press.
Tags: bulelengDesa PemuteranPariwisatapariwisata baliterumbu karang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Peraturan Pentas Adalah Tantangan | Catatan Sutradara Teater Rai Srimben SMPN 4 Singaraja

Next Post

Program “Food Forest Design” Untuk Membangun Ketahanan Pangan Indonesia | Buka Tautan Untuk Mendaftar

AA Ayu Arun Suwi Arianty

AA Ayu Arun Suwi Arianty

A.A.Ayu Arun Suwi Arianty, SST.Par.,M.Par. Dosen. Tinggal di Denpasar. Telah menulis berbagai artikel ilmiah berkaitan dengan pariwisata

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Program “Food Forest Design” Untuk Membangun Ketahanan Pangan Indonesia | Buka Tautan Untuk Mendaftar

Program “Food Forest Design” Untuk Membangun Ketahanan Pangan Indonesia | Buka Tautan Untuk Mendaftar

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co