2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Harapan atau Kecemasan? | Geliat Pariwisata di Wilayah Kaldera, Kintamani

I Gede Eka Putra Adnyana by I Gede Eka Putra Adnyana
December 29, 2021
in Esai
Harapan atau Kecemasan? | Geliat Pariwisata di Wilayah Kaldera, Kintamani

Pesona kaldera Batur, Kintamani | Foto Jro Penyarikan Duuran Batur

Kintamani dengan kaldera Gunung Baturnya merupakan suatu kawasan yang istimewa di atas bumi yang dilindungi dan dijaga kelestariannya. Bumi tanpa laut yang memiliki nilai ekologi dan warisan budaya yang berfungsi sebagai daerah konservasi, riset, ilmu pengetahuan, dan pelestarian budaya.

Kaldera Gunung Batur yang digadang-gadang memiliki pengaruh terhadap sendi-sendi kehidupan masyarakat sekitarnya,  di sektor pariwisata. Para peneliti dan ribuan wisata asing, sudah, sedang, dan akan berduyun-duyun mengunjunginya, begitu pula dengan wisata lokal pun tertarik, kemudian ingin tahu apa keistimewaan tempat itu. Bahkan, seorang musisi kawakan, Ebit G. Ade, dalam lirik lagunya “Sejuk Lembut Angin di Bukit Kintamani” mendeskripsikan bahwa tempat ini memang menyimpan keindahan yang menarik untuk dikunjungi, dipelajari, dan dikenang sepanjang peradaban.

Panorama Gunung Batur yang dikombinasikan dengan danaunya yang berbentuk bulan sabit sebagai pelengkap keindahan bumi tanpa laut ini. Berbagai aktivitas bisa dilakukan, mulai dari menikmati keindahan Gunung Batur, memandang kaldera danau Batur yang dinilai sebagai kaldera terindah di dunia. Para wisatwan juga  bisa mendatangi musium Gunung Api Batur, sembari menikmati alam, tidak lupa juga mencicipi kuliner khas Kintamani yaitu mujair nyat-nyat.

Kintamani, Bangli memang satu satunya daerah di Bali yang tidak memiliki kawasan laut. Namun, melihat segala potensi yang dimiliki, Kaldera, Kintamani bisa bersaing dengan daerah-daerah lain. Karena Kintamani memiliki sumber daya alam yang tidak dimiliki oleh daerah lain, menjadi daerah yang di akui oleh UNESCO menjadi tujuan utama destinasi wisata dunia, sehingga ini akan mempengaruhi perekonomian masyarakat sekitarnya.

Melihat segala potensi yang dimiliki, tentu hal ini seyogyanga menjadi sebuah kelebihan tersendiri. Namun, sampai kini memang masih banyak probelem yang ada. Dengan modal alam yang cantik memesona, tidak serta-merta membuat kawasan Kintamani dengan kalderanya menjadi daerah tujuan pertama dan utama destinasi wisata itu. Bahkan Kintamani dengan kawasan kalderanya yang memeosa hanya menjadi tempat persinggahan sementara bagi wisatawan lokal maupun asing. Kondisi ini menjadi catatan penting.        

Berbekal sumber daya alam yang mendukung dan memesona itu seharusnya mampu menopang kesejahteraan masyarakat, tetapi kondisi itu belum bahkan tidak menjadi jaminan. Realitanya, masih banyak yang harus dikerjakan dalam upaya penataan lingkungan pariwisata, mulai dari sampah, abrasi lingkungan saat musim penghujan, pencemaran dan yang lainnya. Begitu pula dengan pengelolaan pariwisata yang baik.

Lantas hal apa yang membuat Kaldera, Kintamani tidak menjadi tujuan utama destinasi wiasata? Tentu ini dipengaruhi oleh banyak hal, diantaranya sampai saat ini pariwisata hanya berbasis alam, tidak adanya kolaborasi antara budaya dan pariwisata alam yang memesona sehingga ini menjadikan faktor lemahnya pariwisata Kaldera, Kintamani. Kondisi ini yang menyebakan turisme datang ke Kintamani hanya sekadar lancong, makan, minum, dan kencing. Karena tujuan wisatawan datang hanya untuk menikmati pesona alam.

Jadi, memperkenalkan kebudayan lokal yang menarik minat wisatawan sehingga Kintamani menjadi tujuan utama destinasi wisata nyaris tidak ada. Misalnya, memperkenalkan lebih dalam dan lebih luas tarian barong berutuk yang berasal dari Desa Trunyan melalui festival-festival yang bernunsa budaya, selain itu juga di daerah Kaldera tentu memiliki seniman yang luar biasa yang bakat dan kemampuan tidak terlihat karena kurang diekspos atau didak diorbitkan untuk menjadi daya tarik pariwisata.

Kintamani dengan kalderanya pernah mencapai puncak kejayaan pariwisata pada era 80-an, saat itu pariwisata yang dipadukan dengan budaya yang digagas oleh Sutan takdir Alisjahbana (STA). Ketika itu Pariwisata di Kaldera menjadi hal yang luar biasa dan menjadi puncak keemasan. Namun, seiring diseretnya oleh waktu, membuat budaya mulai di tenggelamkan. Kini pariwisata yang lebih didominasi oleh tujuan tunggal, material. Kondisi ini juga membuat perkembangan pariwisata tidak memenuhi target yang diinginkan oleh semua pihak. Bahkan tidak menutup kemunngkinan akan stagnan atau antiklimaks.

Inilah sebuah kecemasan pariwisata untuk masa depan Kintamani. Mengapa hal ini tidak pernah dilihat sebagai sebuah keseriusan yang perlu dianalisis kelemahannya untuk dimaksimalkan kekuatan yang ada. Ini tentu bukan saja disebabkan oleh kebijakan pemerintah daerah, melainkan semua lapisan masyarakat. Karena semua pelaku ekonomi pariwisata hanya mementingkan nilai ekonomi tanpa memperhatikan perkembangan dan kemajuan pariwisata ke depaanya.

Kini di tengah dan pasca pandemi, bagimana dengan geliat infrastuktur yang digenjot di wilayah kaldera? Pembangunan vila, tempat-tempat camp yang menjamur, cotage, dan viw-viw panorama yang diintegrasikan dengan tempat ngopi sambil refresing, dan selfi di wilayah kaldera? Apakah ini mengindikasikan harapan baru pariwisata atau sebuah harapan pasca pandemi. Sampai saat ini, kondisi ini nampaknya sebagai langkah awal untuk mengembalikan kejayaan pariwisata di Kaldera, Kintamani, dan Bangli pada umumnya.

Maka, akan lebih lengkap dan komplit jika strategi pembangunan kepariwisataan ini dipadukan dengan kegiatan-kegiatan budaya lokal yang ada di daerah itu sendiri, misalnya mengembangkan pariwisata yang diimbangi dengan pengenalan budaya yang menarik minat wisatawan, seperti mengenalkan wisatawan lokal maupun dunia tentang  budaya desa-desa Bintang Danu, seperti ekowisatanya Songan, Brutuknya Trunyan, kuliner nayat-nyatnya, kopi arabikanya Kintamani, anjing Kintamani yang mulai langka, dan yang lainnya. Bisa juga dengan festival yang berkala yang melibatkan orang banyak, seperti tarian, gambelan, drama panggung  yang mengandung nilai budaya dan sejarah yang penting.

Kegiatan kegiatan seperti itu yang dapat dikemas dalam bentuk pesta kesenian berbasis desa (PKD) untuk edukasi generasi muda desa untuk terus memanuver wisata budaya untuk terus dikembangkan. Karena ini akan membuat minat wisatawan datang ke Kaldera, Kintamani, bukan hanya sekadar untuk singgah, tetapi menjadi tujuan utama. para wisatawan bisa datang, kemudian mau belajar tentang budaya kita, pemerintah daerah perlu mendukung, dan memfasilitasi untuk potensi daya tarik wisata  berbasis budaya yang berada di kintamani.

Terkait masalah pembangun pariwisata yang belum selesai, perlu dilihat kelemahan yang perlu diperbaiki, mulai dari edukasi masyarakat, investasi pariwisata, memadukan budaya dan pariwisata tersebut, dan yang paling penting adalah fasilitas, dan daya dukung pariwisata. Memfungsikan bangunan atau fasilitas yang mendukung akselerasi pariwisata yang tepat guna dan sesuai kebutuhan saat ini sudah selayaknya dilakukan agar tidak menjadi bagunan mati. Seperti pemanfaatan kembali pasar seni geopark, dengan mengembangkan pasar yang bebasis budaya, seperti menjual sompernir yang menjadi ciri khas di Kintamani, seperti hiasan yang menyerupai pemandangan Gunung Batur, menjual patung atau kerajinan yang membentuk anjing Kintamani, dan yang lainnya.

Untuk menyempurnakan tempat yang memiliki ikon pariwisata dengan brand Geopark ini, memang menjadi pekerjaan tidak mudah. Akan tetapi, apabila semua elemen mampu berkeja sama dengan baik, manajemen yang rapi, kalaborasi yang manis, dan memilki komitmen tinggi untuk memajukan pariwisata Kintamani, maka semua proses yang telah dikerjakan selama lama ini hanyalah tinggal menunggu waktu untuk memetik hasilnya. Kintamani dengan kalderanya akan “landing” dan akan bersaing dengan daerah daerah lain, yang sudah lebih dulu hebat.

Tentunya wilayah Kaldera tidak akan lagi menjadi tempat persinggahan sementara wisatawan, tidak akan menjadi kecemasan, tetapi akan menjadi tujuan utama wisatawan. Kintamani dengan kalderanya akan kian mendunia, akan memberikan dampak juga bagi kemakmuran rakyat, pendidikan anak-anak yang kian meningkat, serta yang paling penting adalah Kintamani bisa menjadi andalan untuk bersaing di kancah dunia pariwisata. [T]

Tags: BangliBaturGunung Baturkaldera kintamaniKintamaniPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melindungi Lahan Pertanian, Menyelamatkan Perekonomian

Next Post

Catatan Ekonomi Akhir Tahun | Rezeki Nomplok Komoditas, Tuntutan Ekonomi Berkeadilan

I Gede Eka Putra Adnyana

I Gede Eka Putra Adnyana

Ceo_Kumunitas Tanpa Laut,Pengajar, Penulis, Pekerja freelance

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Kawasan Wisata Mandalika, Kawasan “Beyond” Bali

Catatan Ekonomi Akhir Tahun | Rezeki Nomplok Komoditas, Tuntutan Ekonomi Berkeadilan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co