22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Harapan atau Kecemasan? | Geliat Pariwisata di Wilayah Kaldera, Kintamani

I Gede Eka Putra Adnyana by I Gede Eka Putra Adnyana
December 29, 2021
in Esai
Harapan atau Kecemasan? | Geliat Pariwisata di Wilayah Kaldera, Kintamani

Pesona kaldera Batur, Kintamani | Foto Jro Penyarikan Duuran Batur

Kintamani dengan kaldera Gunung Baturnya merupakan suatu kawasan yang istimewa di atas bumi yang dilindungi dan dijaga kelestariannya. Bumi tanpa laut yang memiliki nilai ekologi dan warisan budaya yang berfungsi sebagai daerah konservasi, riset, ilmu pengetahuan, dan pelestarian budaya.

Kaldera Gunung Batur yang digadang-gadang memiliki pengaruh terhadap sendi-sendi kehidupan masyarakat sekitarnya,  di sektor pariwisata. Para peneliti dan ribuan wisata asing, sudah, sedang, dan akan berduyun-duyun mengunjunginya, begitu pula dengan wisata lokal pun tertarik, kemudian ingin tahu apa keistimewaan tempat itu. Bahkan, seorang musisi kawakan, Ebit G. Ade, dalam lirik lagunya “Sejuk Lembut Angin di Bukit Kintamani” mendeskripsikan bahwa tempat ini memang menyimpan keindahan yang menarik untuk dikunjungi, dipelajari, dan dikenang sepanjang peradaban.

Panorama Gunung Batur yang dikombinasikan dengan danaunya yang berbentuk bulan sabit sebagai pelengkap keindahan bumi tanpa laut ini. Berbagai aktivitas bisa dilakukan, mulai dari menikmati keindahan Gunung Batur, memandang kaldera danau Batur yang dinilai sebagai kaldera terindah di dunia. Para wisatwan juga  bisa mendatangi musium Gunung Api Batur, sembari menikmati alam, tidak lupa juga mencicipi kuliner khas Kintamani yaitu mujair nyat-nyat.

Kintamani, Bangli memang satu satunya daerah di Bali yang tidak memiliki kawasan laut. Namun, melihat segala potensi yang dimiliki, Kaldera, Kintamani bisa bersaing dengan daerah-daerah lain. Karena Kintamani memiliki sumber daya alam yang tidak dimiliki oleh daerah lain, menjadi daerah yang di akui oleh UNESCO menjadi tujuan utama destinasi wisata dunia, sehingga ini akan mempengaruhi perekonomian masyarakat sekitarnya.

Melihat segala potensi yang dimiliki, tentu hal ini seyogyanga menjadi sebuah kelebihan tersendiri. Namun, sampai kini memang masih banyak probelem yang ada. Dengan modal alam yang cantik memesona, tidak serta-merta membuat kawasan Kintamani dengan kalderanya menjadi daerah tujuan pertama dan utama destinasi wisata itu. Bahkan Kintamani dengan kawasan kalderanya yang memeosa hanya menjadi tempat persinggahan sementara bagi wisatawan lokal maupun asing. Kondisi ini menjadi catatan penting.        

Berbekal sumber daya alam yang mendukung dan memesona itu seharusnya mampu menopang kesejahteraan masyarakat, tetapi kondisi itu belum bahkan tidak menjadi jaminan. Realitanya, masih banyak yang harus dikerjakan dalam upaya penataan lingkungan pariwisata, mulai dari sampah, abrasi lingkungan saat musim penghujan, pencemaran dan yang lainnya. Begitu pula dengan pengelolaan pariwisata yang baik.

Lantas hal apa yang membuat Kaldera, Kintamani tidak menjadi tujuan utama destinasi wiasata? Tentu ini dipengaruhi oleh banyak hal, diantaranya sampai saat ini pariwisata hanya berbasis alam, tidak adanya kolaborasi antara budaya dan pariwisata alam yang memesona sehingga ini menjadikan faktor lemahnya pariwisata Kaldera, Kintamani. Kondisi ini yang menyebakan turisme datang ke Kintamani hanya sekadar lancong, makan, minum, dan kencing. Karena tujuan wisatawan datang hanya untuk menikmati pesona alam.

Jadi, memperkenalkan kebudayan lokal yang menarik minat wisatawan sehingga Kintamani menjadi tujuan utama destinasi wisata nyaris tidak ada. Misalnya, memperkenalkan lebih dalam dan lebih luas tarian barong berutuk yang berasal dari Desa Trunyan melalui festival-festival yang bernunsa budaya, selain itu juga di daerah Kaldera tentu memiliki seniman yang luar biasa yang bakat dan kemampuan tidak terlihat karena kurang diekspos atau didak diorbitkan untuk menjadi daya tarik pariwisata.

Kintamani dengan kalderanya pernah mencapai puncak kejayaan pariwisata pada era 80-an, saat itu pariwisata yang dipadukan dengan budaya yang digagas oleh Sutan takdir Alisjahbana (STA). Ketika itu Pariwisata di Kaldera menjadi hal yang luar biasa dan menjadi puncak keemasan. Namun, seiring diseretnya oleh waktu, membuat budaya mulai di tenggelamkan. Kini pariwisata yang lebih didominasi oleh tujuan tunggal, material. Kondisi ini juga membuat perkembangan pariwisata tidak memenuhi target yang diinginkan oleh semua pihak. Bahkan tidak menutup kemunngkinan akan stagnan atau antiklimaks.

Inilah sebuah kecemasan pariwisata untuk masa depan Kintamani. Mengapa hal ini tidak pernah dilihat sebagai sebuah keseriusan yang perlu dianalisis kelemahannya untuk dimaksimalkan kekuatan yang ada. Ini tentu bukan saja disebabkan oleh kebijakan pemerintah daerah, melainkan semua lapisan masyarakat. Karena semua pelaku ekonomi pariwisata hanya mementingkan nilai ekonomi tanpa memperhatikan perkembangan dan kemajuan pariwisata ke depaanya.

Kini di tengah dan pasca pandemi, bagimana dengan geliat infrastuktur yang digenjot di wilayah kaldera? Pembangunan vila, tempat-tempat camp yang menjamur, cotage, dan viw-viw panorama yang diintegrasikan dengan tempat ngopi sambil refresing, dan selfi di wilayah kaldera? Apakah ini mengindikasikan harapan baru pariwisata atau sebuah harapan pasca pandemi. Sampai saat ini, kondisi ini nampaknya sebagai langkah awal untuk mengembalikan kejayaan pariwisata di Kaldera, Kintamani, dan Bangli pada umumnya.

Maka, akan lebih lengkap dan komplit jika strategi pembangunan kepariwisataan ini dipadukan dengan kegiatan-kegiatan budaya lokal yang ada di daerah itu sendiri, misalnya mengembangkan pariwisata yang diimbangi dengan pengenalan budaya yang menarik minat wisatawan, seperti mengenalkan wisatawan lokal maupun dunia tentang  budaya desa-desa Bintang Danu, seperti ekowisatanya Songan, Brutuknya Trunyan, kuliner nayat-nyatnya, kopi arabikanya Kintamani, anjing Kintamani yang mulai langka, dan yang lainnya. Bisa juga dengan festival yang berkala yang melibatkan orang banyak, seperti tarian, gambelan, drama panggung  yang mengandung nilai budaya dan sejarah yang penting.

Kegiatan kegiatan seperti itu yang dapat dikemas dalam bentuk pesta kesenian berbasis desa (PKD) untuk edukasi generasi muda desa untuk terus memanuver wisata budaya untuk terus dikembangkan. Karena ini akan membuat minat wisatawan datang ke Kaldera, Kintamani, bukan hanya sekadar untuk singgah, tetapi menjadi tujuan utama. para wisatawan bisa datang, kemudian mau belajar tentang budaya kita, pemerintah daerah perlu mendukung, dan memfasilitasi untuk potensi daya tarik wisata  berbasis budaya yang berada di kintamani.

Terkait masalah pembangun pariwisata yang belum selesai, perlu dilihat kelemahan yang perlu diperbaiki, mulai dari edukasi masyarakat, investasi pariwisata, memadukan budaya dan pariwisata tersebut, dan yang paling penting adalah fasilitas, dan daya dukung pariwisata. Memfungsikan bangunan atau fasilitas yang mendukung akselerasi pariwisata yang tepat guna dan sesuai kebutuhan saat ini sudah selayaknya dilakukan agar tidak menjadi bagunan mati. Seperti pemanfaatan kembali pasar seni geopark, dengan mengembangkan pasar yang bebasis budaya, seperti menjual sompernir yang menjadi ciri khas di Kintamani, seperti hiasan yang menyerupai pemandangan Gunung Batur, menjual patung atau kerajinan yang membentuk anjing Kintamani, dan yang lainnya.

Untuk menyempurnakan tempat yang memiliki ikon pariwisata dengan brand Geopark ini, memang menjadi pekerjaan tidak mudah. Akan tetapi, apabila semua elemen mampu berkeja sama dengan baik, manajemen yang rapi, kalaborasi yang manis, dan memilki komitmen tinggi untuk memajukan pariwisata Kintamani, maka semua proses yang telah dikerjakan selama lama ini hanyalah tinggal menunggu waktu untuk memetik hasilnya. Kintamani dengan kalderanya akan “landing” dan akan bersaing dengan daerah daerah lain, yang sudah lebih dulu hebat.

Tentunya wilayah Kaldera tidak akan lagi menjadi tempat persinggahan sementara wisatawan, tidak akan menjadi kecemasan, tetapi akan menjadi tujuan utama wisatawan. Kintamani dengan kalderanya akan kian mendunia, akan memberikan dampak juga bagi kemakmuran rakyat, pendidikan anak-anak yang kian meningkat, serta yang paling penting adalah Kintamani bisa menjadi andalan untuk bersaing di kancah dunia pariwisata. [T]

Tags: BangliBaturGunung Baturkaldera kintamaniKintamaniPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melindungi Lahan Pertanian, Menyelamatkan Perekonomian

Next Post

Catatan Ekonomi Akhir Tahun | Rezeki Nomplok Komoditas, Tuntutan Ekonomi Berkeadilan

I Gede Eka Putra Adnyana

I Gede Eka Putra Adnyana

Ceo_Kumunitas Tanpa Laut,Pengajar, Penulis, Pekerja freelance

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Kawasan Wisata Mandalika, Kawasan “Beyond” Bali

Catatan Ekonomi Akhir Tahun | Rezeki Nomplok Komoditas, Tuntutan Ekonomi Berkeadilan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co