23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pariwisata Nusa Penida, Menunggu Bangkit dari Korona dan Sihir Konor

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
April 15, 2020
in Opini
Pariwisata Nusa Penida, Menunggu Bangkit dari Korona dan Sihir Konor

Teletubbies Hill. Sumber foto: Image credit: @fransiscanatalie

Ibarat menanam palawija, pariwisata Nusa Penida (NP) baru “mentik” (melejit), tetapi langsung diserang hama pandemi virus korona (covid-19). Gugurlah ekspektasi ekonomi yang diimajikan oleh masyarakat NP. Bukannya bergelimang uang (dollar), masyarakat NP justru bergelimang utang sekarang. Jangankan untuk mencicil pokok pinjaman, membayar bunga saja sudah tak sanggup—karena memang tak ada kunjungan. Untuk sementara, pariwisata NP seolah-olah terkena sihir “Salam Konor” dan menunggu momen bangkit. Entah sampai kapan?

Tak ada yang bisa memprediksi secara akurat. Semua orang hanya bisa berdoa dan melakukan anjuran pemerintah (tinggal di rumah) untuk memutus rantai penyebaran virus korona. Situasi yang tak menentu ini membuat masyarakat NP (terutama pelaku pariwisata) semakin cemas. Cemas yang luar biasa. Pasalnya, banyak masyarakat NP berada pada garis “merintis bisnis”. Mereka baru saja menyelesaikan pembangunan akomodasi pariwisata. Konon modalnya tidak sedikit. Dari ratusan juta hingga mencapai milliaran rupiah. Apa nggak pusing pala bebi?

Ya, begitulah bisnis pariwisata. Bisnis yang menurut para pakar tergolong bisnis yang rapuh. Saya juga kurang mengerti maksudnya. Apa mungkin karena mudah gonjang-ganjing? Diseruduk isu fluktuasi keamanan dan politik saja, pariwisata bisa nyungsep. Benar, nggak? Apalagi terkena isu grubug global (covid-19) seperti sekarang. Pariwisata NP langsung terjun bebas ke bawah. Dalam bahasa Konor, “Bangka, Eda!” (Mampus, Kau!) Artinya, pariwisata NP menemui titik nadir.

Meskipun rapuh, bisnis pariwisata tetap menggiurkan di Bali (daratan). Bahkan, sudah dijadikan basis hidup (nyawa ekonomi) oleh masyarakat Bali. Hampir semua sendi kehidupan di Bali sudah tunduk dengan syahwat pariwisata. Segala aspek kehidupan (termasuk hal yang sakral awalnya) dikemas dan diseting agar dapat dikomersialkan untuk dewa pariwisata.

Bagi Bali, pariwisata merupakan sektor yang paling menjanjikan. Pariwisata Bali tidak hanya menjadi tulang punggung PAD Bali, termasuk andalan bagi Indonesia. Menurut data BPS Provinsi Bali, Per tahun 2019, kunjungan wisatawan asing ke Bali mencapai 6.275.210 (lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun 2018 yakni 6.070.473).

Karena itu, Direktur Eksekutif Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Ida Bagus Purwa Sidemen, M.Si, menyatakan bahwa Provinsi Bali mampu menyumbang 40 persen atau sekitar 8 Miliar USD devisa negara per total kunjungan wisatawan mancanegara hingga bulan Oktober 2018 4,1 Juta dari target kunjungan wisman 6,5 juta di Pulau Dewata (http://koranjuri.com).

Tak hanya di Bali daratan, kunjungan wisatawan ke NP juga sangat signifikan. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Klungkung mencatat bahwa NP dikunjungi 133.848 wisatawan pada 2018. Artinya, NP sangat potensial dikembangan menjadi industri pariwisata.

Bercermin dari data kunjungan tersebut, tampaknya masyarakat NP juga sangat tergiur menjadi pelaku pariwisata. Sinyal untuk terjun total ke pariwisata begitu kuat. Belakangan, masyarakat NP sudah tak ragu lagi untuk menggantungkan hidup sepenuhnya pada pariwisata.

Karena itu, segala kemampuan daya ekonomi mereka kerahkan demi aktif mencicipi kue pariwisata NP. Dari menjual aset yang bernilai ekonomi tinggi, menggadaikan SK (PNS), menggadaikan tanah dan lain sebagainya. Pokoknya, mereka bertaruh total untuk berkompetisi merebut peluang di arena pariwisata.

Ketika pariwisata anjlok (terkena sihir Konor) seperti sekarang, wajar masyarakat NP kelimpungan. Lemas, letih, lesu dan tak bertenaga. Mereka hampir tidak memiliki cadangan ekonomi (lumbung ekonomi), karena semua sudah dipertaruhkan dalam bisnis pariwisata. Mungkin sekarang, aset bisnis akomodasi merupakan representasi atas totalitas kekayaan yang dimiliki warga.

Bisa dibayangkan jika aset akomodasi tersebut tidak dapat difungsikan dengan normal. Tidak ada pengunjung. Tak ada yang menggunakan jasa akomodasi pariwisata. Lalu, mereka mendapatkan pemasukan dari mana? Jangankan membayar utang, untuk bertahan makan dan hidup pun cukup berat. Sebab, biaya hidup di NP sangat tinggi. Keberadaan sembako di NP hampir sepenuhnya didatangkan dari Bali daratan. Ya, risikonya harga pasti tinggilah.

Sudah jatuh ditimpa tangga lagi. Beban utang yang tinggi ditambah pula dengan beban bertahan hidup yang tinggi. Maka, semakin tinggilah totalitas beban hidup masyarakat NP sekarang. Karena itu, wajar saja seorang teman saya (yang pelaku pariwisata di NP) mendadak tertarik menjadi peramal. Menurutnya, jika kondisi buruk ini berlangsung hingga beberapa bulan ke depan, dia meramalkan akan terjadi tekanan mental yang serius di kalangan masyarakat NP. Tentu saja, ramalannya ini disampaikan dengan sedikit lelucon–untuk menenangkan dirinya dari kepungan utang.

Bukan kalangan para pelaku bisnis saja, tekanan mental juga merembes ke tenaga kerja (karyawan) yang dirumahkan. Mereka harus kehilangan pekerjaan. Padahal, mereka menjadi sandaran untuk menafkahi keluarga. Selain itu, para sopir, guide, tukang, dan lain-lainnya juga kehilangan pemasukan. Pun masyarakat umum, yang menjadi bagian dari sistem lingkaran pariwisata. Mereka juga merasakan beban hidup yang berat akibat anjloknya pariwisata di NP.

Aktivitas perekonomian mulai tampak lesu di NP. Pengangguran dipastikan akan meningkat. Angka kemiskinan juga akan melonjak. Tak bisa dibayangkan jika kondisi ini berlangsung lama. Bisa jadi menganggu ketahanan mental masyarakat. Selanjutnya, berpengaruh terhadap stabilitas keamanan masyarakat di NP.

Namun, kita berharap bahwa situasi masyarakat akan tetap baik-baik saja. Saya yakin masyarakat NP selalu punya strategi untuk bertahan hidup. Karena, mereka sudah memiliki histori yang panjang untuk bertahan hidup. Kondisi geografis yang tandus, sering dilanda kemarau panjang, krisis air, dan situasi sulit lainnya sudah lumrah mereka lewati. Alam (kondisi geografi) sudah menempa mereka menjadi pribadi yang kuat dan tangguh.

Ketangguhan survive tersebut akan diuji sekarang. Masa sulit corona menuntut kreativitas masyarakat NP untuk menghadapi dan melewati ujian masa sulit itu sekarang. Dibutuhkan kreativitas lebih ekstra, sebab pemulihan pasca korona kemungkinan cukup lama.

Kendati misalnya bulan ini atau bulan depan kita aman dari zona horor korona, tentu ekonomi global yang porak-poranda menunggu waktu untuk pulih seperti semula. Dana-dana cadangan calon wisatawan tentu sudah menipis selama menghadapi pandemi korona. Sebab, mereka tidak bisa bekerja normal. Mereka tidak mendapatkan pemasukan seperti biasanya. Artinya, kunjungan normal ke NP memerlukan waktu cukup panjang.

Kasus pandemi korona memang di luar prediksi. Tak seorang pun menyangka kasus ini membuat ambruk perekonomian masyarakat NP, termasuk dunia. Mungkin kasus ini tergolong dadakan, baru dan tentu saja belum siap untuk diantisipasi oleh masyarakat NP. Walaupun, konon Bali pernah mengalami Gerubug Bah Bedeg 100 tahun silam. Namun, mungkin tidak dapat dijadikan modal dalam menghadapi pandemi korona sekarang. Barangkali, situasi dan kondisinya tidak sama.

Belajar dari Pandemi Korona

Jika pandemi korona merupakan musibah, tentu ada hikmah positif yang dapat kita petik dari peristiwa ini. Pertama, mungkin hendak mempertegas kepada masyarakat NP bahwa bisnis pariwisata memang rapuh. Bisnis pariwisata tidak dapat diandalkan seratus persen sebagai fondasi ekonomi. Karena pariwisata sangat sensitif dengan isu global, regional, nasional maupun daerah. Eksistensi isu-isu itu siap menggoyang kapan sajan kurva pariwisata ke titik bawah.

Artinya, masyarakat NP diharapkan memiliki basis (kantong-kantong) ekonomi lainnya sebagai pertahanan hidup. “Sebab, pariwisata hanyalah bonus”, kata para pakar yang pernah saya dengar. Sebagai bonus, pariwisata memang cenderung memberikan pemasukan ekonomi yang lebih besar dan cepat. Karena itu, wajar sektor pariwisata sangat menggiurkan bagi masyarakat. Ia sering membuat orang menjadi “mabuk”. Mabuk untuk bertaruh total di bisnis pariwisata, tak peduli apa pun kata para ahli.

Kedua, pandemi korona menyadarkan kita agar tetap hidup hemat dan selalu ingat fase kurva kritis. Filosofi “Ingat Sepi Saat Ramai” yang sering dilontarkan beberapa pebisnis akomodasi lokal di NP, pantas dijadikan pedoman hidup. Filosofi ini seolah-olah hendak menyadarkan kita agar selalu siap menghadapi kondisi sepi. Sehingga, kita selalu dituntut berhemat dan berhitung dengan pemasukan (saat kunjungan ramai) untuk menghadapi situasi sepi, yang mungkin lebih panjang waktunya. Bahkan, fase sepi ini dipastikan menjadi bagian kurva pariwisata yang bersifat tahunan.

Ketiga, mengurangi ego bisnis. Tidak sedikit, kalangan pebisnis akomodasi pariwisata di NP konon berasal dari kalangan baperan. Mereka “jengah” dan ikut-ikutan meramaikan persaingan bisnis untuk mendapatkan prestise atau “cap kasta kaya” di lingkungan masyarakat. Demi memuaskan libido prestise itu, mereka melampiaskan ego kapitalisnya walaupun dengan cara berhutang terlalu tinggi. Artinya, ada kecenderungan mereka berspekulasi di luar batas tanpa perhitungan yang matang.

Keempat, pandemi korona lebih mendidik ketahanan mental masyarakat NP dalam menghadapi situasi sulit. Jika mampu melewati situasi krisis sekarang, mungkin menghadapi situasi sepi normal nantinya akan menjadi terbiasa. Bahkan, mungkin dianggap enteng.

Kelima, pelajaran bagi pemerintah untuk memikirkan kebijakan baru guna mempercepat bangkitnya pariwisata di NP. Masyarakat NP pasti menunggu jurus jitu Pemda Klungkung untuk segera menormalkan pariwisata di bumi Dukuh Jumpungan.

Mungkin Pemda Klungkung bisa belajar dari kebijakan pemerintah pusat terkait dampak korona terhadap pemulihan pariwisata di Bali yaitu (1) memberikan tambahan anggaran Rp 298,5 milyar untuk insentif airline dan travel agent dalam rangka mendatangkan wisatawan asing ke dalam negeri, (2) memberikan insentif kepada wisatawan dalam negeri sebesar Rp 443,39 milyar berupa diskon sebesar 30 persen potongan harga untuk 25 persen seat per pesawat yang menuju ke 10 destinasi wisata, (3) sepuluh destinasi pariwisata yang tersebar di 33 Kabupaten/ Kota (termasuk Bali) tidak dipungut pajak hotel dan restoran (sebesar 10%) selama 6 bulan (4) APBN menyediakan Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik Pariwisata sebesar Rp 147 milyar yang akan dikonversi menjadi hibah ke daerah-daerah untuk memacu pariwisatanya (https://radarbali.jawapos.com).

Semoga Pemda Klungkung dapat mengkonversi model kebijakan tersebut dengan baik. Dari konversi ini diharapkan lahir kebijakan-kebijakan ampuh. Ampuh mempercepat pemulihan pariwisata di NP. Ampuh menepis efek korona dan terbebas dari sihir Konor. [T]

____

[] Baca Artikel Tentang Nusa Penida lain dari penulis Ketut Serawan

Tags: balicovid 19Nusa PenidaPariwisata
Share365TweetSendShareSend
Previous Post

Konsumsi Media dan Kecemasan di Masa Pandemi

Next Post

Menikmati Hari Menanti Gerak

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Menikmati Hari Menanti Gerak

Menikmati Hari Menanti Gerak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co