2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pariwisata Nusa Penida, Menunggu Bangkit dari Korona dan Sihir Konor

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
April 15, 2020
in Opini
Pariwisata Nusa Penida, Menunggu Bangkit dari Korona dan Sihir Konor

Teletubbies Hill. Sumber foto: Image credit: @fransiscanatalie

Ibarat menanam palawija, pariwisata Nusa Penida (NP) baru “mentik” (melejit), tetapi langsung diserang hama pandemi virus korona (covid-19). Gugurlah ekspektasi ekonomi yang diimajikan oleh masyarakat NP. Bukannya bergelimang uang (dollar), masyarakat NP justru bergelimang utang sekarang. Jangankan untuk mencicil pokok pinjaman, membayar bunga saja sudah tak sanggup—karena memang tak ada kunjungan. Untuk sementara, pariwisata NP seolah-olah terkena sihir “Salam Konor” dan menunggu momen bangkit. Entah sampai kapan?

Tak ada yang bisa memprediksi secara akurat. Semua orang hanya bisa berdoa dan melakukan anjuran pemerintah (tinggal di rumah) untuk memutus rantai penyebaran virus korona. Situasi yang tak menentu ini membuat masyarakat NP (terutama pelaku pariwisata) semakin cemas. Cemas yang luar biasa. Pasalnya, banyak masyarakat NP berada pada garis “merintis bisnis”. Mereka baru saja menyelesaikan pembangunan akomodasi pariwisata. Konon modalnya tidak sedikit. Dari ratusan juta hingga mencapai milliaran rupiah. Apa nggak pusing pala bebi?

Ya, begitulah bisnis pariwisata. Bisnis yang menurut para pakar tergolong bisnis yang rapuh. Saya juga kurang mengerti maksudnya. Apa mungkin karena mudah gonjang-ganjing? Diseruduk isu fluktuasi keamanan dan politik saja, pariwisata bisa nyungsep. Benar, nggak? Apalagi terkena isu grubug global (covid-19) seperti sekarang. Pariwisata NP langsung terjun bebas ke bawah. Dalam bahasa Konor, “Bangka, Eda!” (Mampus, Kau!) Artinya, pariwisata NP menemui titik nadir.

Meskipun rapuh, bisnis pariwisata tetap menggiurkan di Bali (daratan). Bahkan, sudah dijadikan basis hidup (nyawa ekonomi) oleh masyarakat Bali. Hampir semua sendi kehidupan di Bali sudah tunduk dengan syahwat pariwisata. Segala aspek kehidupan (termasuk hal yang sakral awalnya) dikemas dan diseting agar dapat dikomersialkan untuk dewa pariwisata.

Bagi Bali, pariwisata merupakan sektor yang paling menjanjikan. Pariwisata Bali tidak hanya menjadi tulang punggung PAD Bali, termasuk andalan bagi Indonesia. Menurut data BPS Provinsi Bali, Per tahun 2019, kunjungan wisatawan asing ke Bali mencapai 6.275.210 (lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun 2018 yakni 6.070.473).

Karena itu, Direktur Eksekutif Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Ida Bagus Purwa Sidemen, M.Si, menyatakan bahwa Provinsi Bali mampu menyumbang 40 persen atau sekitar 8 Miliar USD devisa negara per total kunjungan wisatawan mancanegara hingga bulan Oktober 2018 4,1 Juta dari target kunjungan wisman 6,5 juta di Pulau Dewata (http://koranjuri.com).

Tak hanya di Bali daratan, kunjungan wisatawan ke NP juga sangat signifikan. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Klungkung mencatat bahwa NP dikunjungi 133.848 wisatawan pada 2018. Artinya, NP sangat potensial dikembangan menjadi industri pariwisata.

Bercermin dari data kunjungan tersebut, tampaknya masyarakat NP juga sangat tergiur menjadi pelaku pariwisata. Sinyal untuk terjun total ke pariwisata begitu kuat. Belakangan, masyarakat NP sudah tak ragu lagi untuk menggantungkan hidup sepenuhnya pada pariwisata.

Karena itu, segala kemampuan daya ekonomi mereka kerahkan demi aktif mencicipi kue pariwisata NP. Dari menjual aset yang bernilai ekonomi tinggi, menggadaikan SK (PNS), menggadaikan tanah dan lain sebagainya. Pokoknya, mereka bertaruh total untuk berkompetisi merebut peluang di arena pariwisata.

Ketika pariwisata anjlok (terkena sihir Konor) seperti sekarang, wajar masyarakat NP kelimpungan. Lemas, letih, lesu dan tak bertenaga. Mereka hampir tidak memiliki cadangan ekonomi (lumbung ekonomi), karena semua sudah dipertaruhkan dalam bisnis pariwisata. Mungkin sekarang, aset bisnis akomodasi merupakan representasi atas totalitas kekayaan yang dimiliki warga.

Bisa dibayangkan jika aset akomodasi tersebut tidak dapat difungsikan dengan normal. Tidak ada pengunjung. Tak ada yang menggunakan jasa akomodasi pariwisata. Lalu, mereka mendapatkan pemasukan dari mana? Jangankan membayar utang, untuk bertahan makan dan hidup pun cukup berat. Sebab, biaya hidup di NP sangat tinggi. Keberadaan sembako di NP hampir sepenuhnya didatangkan dari Bali daratan. Ya, risikonya harga pasti tinggilah.

Sudah jatuh ditimpa tangga lagi. Beban utang yang tinggi ditambah pula dengan beban bertahan hidup yang tinggi. Maka, semakin tinggilah totalitas beban hidup masyarakat NP sekarang. Karena itu, wajar saja seorang teman saya (yang pelaku pariwisata di NP) mendadak tertarik menjadi peramal. Menurutnya, jika kondisi buruk ini berlangsung hingga beberapa bulan ke depan, dia meramalkan akan terjadi tekanan mental yang serius di kalangan masyarakat NP. Tentu saja, ramalannya ini disampaikan dengan sedikit lelucon–untuk menenangkan dirinya dari kepungan utang.

Bukan kalangan para pelaku bisnis saja, tekanan mental juga merembes ke tenaga kerja (karyawan) yang dirumahkan. Mereka harus kehilangan pekerjaan. Padahal, mereka menjadi sandaran untuk menafkahi keluarga. Selain itu, para sopir, guide, tukang, dan lain-lainnya juga kehilangan pemasukan. Pun masyarakat umum, yang menjadi bagian dari sistem lingkaran pariwisata. Mereka juga merasakan beban hidup yang berat akibat anjloknya pariwisata di NP.

Aktivitas perekonomian mulai tampak lesu di NP. Pengangguran dipastikan akan meningkat. Angka kemiskinan juga akan melonjak. Tak bisa dibayangkan jika kondisi ini berlangsung lama. Bisa jadi menganggu ketahanan mental masyarakat. Selanjutnya, berpengaruh terhadap stabilitas keamanan masyarakat di NP.

Namun, kita berharap bahwa situasi masyarakat akan tetap baik-baik saja. Saya yakin masyarakat NP selalu punya strategi untuk bertahan hidup. Karena, mereka sudah memiliki histori yang panjang untuk bertahan hidup. Kondisi geografis yang tandus, sering dilanda kemarau panjang, krisis air, dan situasi sulit lainnya sudah lumrah mereka lewati. Alam (kondisi geografi) sudah menempa mereka menjadi pribadi yang kuat dan tangguh.

Ketangguhan survive tersebut akan diuji sekarang. Masa sulit corona menuntut kreativitas masyarakat NP untuk menghadapi dan melewati ujian masa sulit itu sekarang. Dibutuhkan kreativitas lebih ekstra, sebab pemulihan pasca korona kemungkinan cukup lama.

Kendati misalnya bulan ini atau bulan depan kita aman dari zona horor korona, tentu ekonomi global yang porak-poranda menunggu waktu untuk pulih seperti semula. Dana-dana cadangan calon wisatawan tentu sudah menipis selama menghadapi pandemi korona. Sebab, mereka tidak bisa bekerja normal. Mereka tidak mendapatkan pemasukan seperti biasanya. Artinya, kunjungan normal ke NP memerlukan waktu cukup panjang.

Kasus pandemi korona memang di luar prediksi. Tak seorang pun menyangka kasus ini membuat ambruk perekonomian masyarakat NP, termasuk dunia. Mungkin kasus ini tergolong dadakan, baru dan tentu saja belum siap untuk diantisipasi oleh masyarakat NP. Walaupun, konon Bali pernah mengalami Gerubug Bah Bedeg 100 tahun silam. Namun, mungkin tidak dapat dijadikan modal dalam menghadapi pandemi korona sekarang. Barangkali, situasi dan kondisinya tidak sama.

Belajar dari Pandemi Korona

Jika pandemi korona merupakan musibah, tentu ada hikmah positif yang dapat kita petik dari peristiwa ini. Pertama, mungkin hendak mempertegas kepada masyarakat NP bahwa bisnis pariwisata memang rapuh. Bisnis pariwisata tidak dapat diandalkan seratus persen sebagai fondasi ekonomi. Karena pariwisata sangat sensitif dengan isu global, regional, nasional maupun daerah. Eksistensi isu-isu itu siap menggoyang kapan sajan kurva pariwisata ke titik bawah.

Artinya, masyarakat NP diharapkan memiliki basis (kantong-kantong) ekonomi lainnya sebagai pertahanan hidup. “Sebab, pariwisata hanyalah bonus”, kata para pakar yang pernah saya dengar. Sebagai bonus, pariwisata memang cenderung memberikan pemasukan ekonomi yang lebih besar dan cepat. Karena itu, wajar sektor pariwisata sangat menggiurkan bagi masyarakat. Ia sering membuat orang menjadi “mabuk”. Mabuk untuk bertaruh total di bisnis pariwisata, tak peduli apa pun kata para ahli.

Kedua, pandemi korona menyadarkan kita agar tetap hidup hemat dan selalu ingat fase kurva kritis. Filosofi “Ingat Sepi Saat Ramai” yang sering dilontarkan beberapa pebisnis akomodasi lokal di NP, pantas dijadikan pedoman hidup. Filosofi ini seolah-olah hendak menyadarkan kita agar selalu siap menghadapi kondisi sepi. Sehingga, kita selalu dituntut berhemat dan berhitung dengan pemasukan (saat kunjungan ramai) untuk menghadapi situasi sepi, yang mungkin lebih panjang waktunya. Bahkan, fase sepi ini dipastikan menjadi bagian kurva pariwisata yang bersifat tahunan.

Ketiga, mengurangi ego bisnis. Tidak sedikit, kalangan pebisnis akomodasi pariwisata di NP konon berasal dari kalangan baperan. Mereka “jengah” dan ikut-ikutan meramaikan persaingan bisnis untuk mendapatkan prestise atau “cap kasta kaya” di lingkungan masyarakat. Demi memuaskan libido prestise itu, mereka melampiaskan ego kapitalisnya walaupun dengan cara berhutang terlalu tinggi. Artinya, ada kecenderungan mereka berspekulasi di luar batas tanpa perhitungan yang matang.

Keempat, pandemi korona lebih mendidik ketahanan mental masyarakat NP dalam menghadapi situasi sulit. Jika mampu melewati situasi krisis sekarang, mungkin menghadapi situasi sepi normal nantinya akan menjadi terbiasa. Bahkan, mungkin dianggap enteng.

Kelima, pelajaran bagi pemerintah untuk memikirkan kebijakan baru guna mempercepat bangkitnya pariwisata di NP. Masyarakat NP pasti menunggu jurus jitu Pemda Klungkung untuk segera menormalkan pariwisata di bumi Dukuh Jumpungan.

Mungkin Pemda Klungkung bisa belajar dari kebijakan pemerintah pusat terkait dampak korona terhadap pemulihan pariwisata di Bali yaitu (1) memberikan tambahan anggaran Rp 298,5 milyar untuk insentif airline dan travel agent dalam rangka mendatangkan wisatawan asing ke dalam negeri, (2) memberikan insentif kepada wisatawan dalam negeri sebesar Rp 443,39 milyar berupa diskon sebesar 30 persen potongan harga untuk 25 persen seat per pesawat yang menuju ke 10 destinasi wisata, (3) sepuluh destinasi pariwisata yang tersebar di 33 Kabupaten/ Kota (termasuk Bali) tidak dipungut pajak hotel dan restoran (sebesar 10%) selama 6 bulan (4) APBN menyediakan Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik Pariwisata sebesar Rp 147 milyar yang akan dikonversi menjadi hibah ke daerah-daerah untuk memacu pariwisatanya (https://radarbali.jawapos.com).

Semoga Pemda Klungkung dapat mengkonversi model kebijakan tersebut dengan baik. Dari konversi ini diharapkan lahir kebijakan-kebijakan ampuh. Ampuh mempercepat pemulihan pariwisata di NP. Ampuh menepis efek korona dan terbebas dari sihir Konor. [T]

____

[] Baca Artikel Tentang Nusa Penida lain dari penulis Ketut Serawan

Tags: balicovid 19Nusa PenidaPariwisata
Share365TweetSendShareSend
Previous Post

Konsumsi Media dan Kecemasan di Masa Pandemi

Next Post

Menikmati Hari Menanti Gerak

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Menikmati Hari Menanti Gerak

Menikmati Hari Menanti Gerak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co