23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Peraturan Pentas Adalah Tantangan | Catatan Sutradara Teater Rai Srimben SMPN 4 Singaraja

Dewi Yudiarmika by Dewi Yudiarmika
April 5, 2022
in Esai
Peraturan Pentas Adalah Tantangan | Catatan Sutradara Teater Rai Srimben SMPN 4 Singaraja

Pentas teater Rai Srimben SMPN 4 Singaraja

“Kemuliaan Ibu Nyoman Rai Srimben” adalah naskah pertama yang saya sutradarai. Berat? Sangat. Selain nilai budaya yang kental didalamnya, juga terdapat nilai-nilai sejarah yang harus diketahui dan tak boleh dilupakan. Kalau saya, tidak akan pernah melupakannya. Alasannya mungkin nanti akan saya jelaskan kalau ingat.

Dulu, waktu zaman suka wara-wiri pentas dengan beberapa komunitas di Buleleng, Komunitas Mahima  pernah memberikan saya kesempatan untuk turut andil dalam pementasan perempuan bersejarah ini, Ibu Nyoman Rai Srimben. Meskipun bukan sebagai pemeran utama, tetapi bukankah tukang angkat properti saja sudah sangat memiliki peran penting dalam sebuah pementasan?

Jadi tak perlu disesali sebab yang saya dapatkan saat itu bisa membawa saya ke titik ini, mencoba menyutradarai siswa SMP Negeri 4 Singaraja, tempat saya mengais rezeki dalam ajang lomba teater sebuleleng dengan naskah Kemuliaan Ibu Nyoman Rai Srimben karya Kadek Sonia Piscayanti serangkaian peresmian RTH Bung Karno sekaligus perayaan HUT Kota Singaraja ke 418

Sebagai sutradara pemula, detak jantung sudah mulai berdebar saat pertemuan pertama dengan panitia dilaksanakan. Di dalam hati selalu bertanya, “Bisa tidak ya? Yakin nih?” juga pertanyaan lainnya. Bermodal pengalaman dan dukungan dari kepala sekolah, guru-guru lain juga MGMP Bahasa Indonesia, jadilah pelatuk korek api ini bergerak untuk menyalakan api hingga membakar segala ruang yang hampa.

Pementasan teater SMPN 4 Singaraja di RTH Bung Karno Singaraja

Setiap hari merasa kurang tenang selama konsep belum bisa terselesaikan. Membaca, menonton, dan berkoordinasi dilakukan bergantian. Jangan lupa dengan mengingat pengalaman terdahulu ketika beberapa kali ikut pementasan. Paling tidak sedikit teori sudah dipegang, tinggal teori lainnya yang harus digali dari berbagai sumber.

Hari pertama pencarian aktor sangat gampang. Banyak siswa yang semangat ketika saya mengakatan, “Sekolah kita, untuk pertama kalinya ingin ikut lomba teater. Apakah di antara kalian juga ingin? Sebab jika tidak, mungkin kesempatan sekolah menjadi penyabet prestasi di segala bidang akan mundur satu langkah.”

Teater Pakeliran : Konsep Populer Dalam Garap Karya Pewayangan

Di luar dugaan, untuk sekelas siswa yang belum pernah berakting di atas panggung menyatakan INGIN. Mereka SEMANGAT. Mengapa saya sebut di luar dugaan, karena generasi terus berganti sejak Sanggar Poleng didirikan tahun 2016 dan belum pernah mencoba hal ini kecuali lomba puisi dan mendongeng. Sempat juga beberapa kali mengisi acara di luar sekolah dengan membawakan teaterikal puisi dan musikalisasi puisi. Itu pun sekitar tahun 2016 atau 2017.

Adegan Raden Soekemi dan Nyoman Rai Srimben

Kita kembali ke topik awal. Mulai saat itu juga perekrutan pun dimulai, mungkin bisa disebut casting (tetapi jika salah, mohon dimaafkan. Maklum sutradara pemula :D). Karena peserta terlalu banyak, pertemuan pertama, saya hanya membagikan naskah dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk membaca keseluruhan naskah sambil memilih tokoh yang diinginkan. Pertemuan kedua lanjut dengan acting sesuai dengan karakter tokoh yang telah mereka pilih. Kegiatan tersebut berlangsung beberapa kali sampai akhirnya keseluruhan aktor saya pilih dan mengajak mereka untuk latihan pingpong membaca naskah. Perlu diketahui bahwa 14 sekolah mementaskan naskah ini. Naskah yang sama.

Selama latihan, saya tidak luput dari pertanyaan-pertanyaan siswa terkait pementasan ini; “ Apa boleh mengubah dan menambahkan dialog? “Bagaimana dengan durasinya? Dan lain sebagainya.

Nah, inilah yang haus saya luruskan ke siswa sesuai dengan yang saya ketahui. Jika pentas sebagai pengisi acara, mungkin boleh jika diperlukan, tetapi jika dilombakan kita harus berusaha mengikuti aturannya. Seperti yang disampaikan oleh salah satu juri sekaligus penulis naskah, Kadek Sonia Piscayanti. Beliau menyatakan bahwa naskah ini sudah diperhitungkan dari berbagai segi. Baik itu dari segi nilai sejarah dan durasinya.

Teater SMPN 4 Singaraja di RTH Bung Karno

Kalau sampai kita sebagai peserta dari berbagai sekolah terlalu mengembangkan naskah (yang tak semestinya dikembangkan) sampai durasinya melebihi batas (lebih satu atau dua menit mungkin tidak akan jadi masalah), bagaimana dengan peserta lain yang antri menunggu giliran? Bisa jadi bedak dan jenggot (-jenggotan) si Pekak Mangku luntur seiring semangat pemain lainnya.

Jadi, inilah tantangan-tantangan yang saya rasakan. Bagaimana membuat konsep yang berbeda karena naskah sama, mengemas gagasan dengan apik agar tidak melunturkan nilai-nilai yang ada didalamnya, dan menjadikan siswa-siswi juga mengenal sosok yang dilakoni selain harus paham dengan alur ceritanya.

Mengenai konsep, saya terinspirasi dengan pertunjukan Wayang Lemah. Kenapa memilih konsep Wayang Lemah? Tentu untuk mengefisienkan waktu ketika pergantian babak dan membuat batasan panggung karena panggung TBK (Taman Bung Karno) sangat luas. Selain itu ada kayon yang dapat membantu peralihan adegan tanpa harus menambahkan dialog atau mematikan dan menghidupkan lampu.

Sisi lain juga saya ingin mengolaborasikan kegiatan ekstra di sekolah, diantaranya gong, musik keyboard, dan tari. Karena mengambil konsep wayang, maka segala musik yang dipilih pun harus bernuansa tradisional meskipun menggunakan alat musik keyboard. Misal saat adegan romantis Nyoman dan Raden. Yang tidak menggunakan musik tradisonal adalah ketika mengumandangkan lagu Indonesia Raya. Selebihnya gong dan suling menjadi andalan di beberapa adegan.

Selain tentang konsep atau printilan-printilan naskah, latihan tidak selalu berjalan dengan mulus. Apalagi kita bergerak saat pandemi covid-19 masih ada, bahkan sampai sekarang. Baru sempat latihan beberapa kali, ada himbauan bahwa kegiatan sekolah ditiadakan karena covid di buleleng meningkat bahkan beberapa hari sebelumnya beberapa sekolah sudah ditutup karena guru dan siswanya terpapar. Jadilah saya mengambil jalan agar siswa menghafal naskah di rumah dan berjaga seandainya sudah diperbolehkan sekolah kembali.

Tepat awal bulan Maret panitia memberikan pengumuman bahwa lomba jadi dilaksanakan dan berlangsung selama empat hari di akhir bulan Maret ini. Bagaimana, kaget? Tentu. Tapi karena keinginan begitu besar maka kami siap.

Pak Koster, Teater dan Pendidikan Karakter di RTH Taman Bung Karno

Kendala tidak hanya itu. Ada dua aktor yang harus saya ganti karena alasan yang tidak bisa saya jelaskan di sini. Beruntung segala kendala selalu ada jalannya. Saya mencari dan meminta siswa lain untuk segera bergabung dan menghafal naskah sampai akhirnya latihan kembali berjalan normal. Selama latihan saya selalu menegaskan bahwa saat ini aturan juga harus diutamakan. Kita berusaha meminimalisir kekurangan. Jadi, yang kami tahu, kami ganti.

Salah satunya durasi. Mungkin sekali dua kali melakukan improvisasi saat mendapati diri gugup tidak masalah demi kelancaran adegan selanjutnya. Yang penting tidak mengubah alur atau makna yang disampaikan di setiap dialog tokoh. Sebelumnya saya selalu menekankan kepada siswa, waktu pentas mereka akan berubah sesuai dengan durasi ketika adegan Nyoman mepamit; Nyoman dan Raden memadu kasih; Nyoman, Raden, dan Soekarno bermain. Sebab selain dialog, durasi pergantian babak yang dibantu kayon telah saya perhitungkan sampai beberapa kali mengubah tabuh dan gerakan.

Hari terus berganti, pertunjukkan segera dimulai. Minggu, 27 Maret 2022 Pk. 18.45 WITA adalah jadwal kami pentas. Tidak ada harapan lain selain kelancaran pentas dan menyakini nomor undi 9 (sembilan) membawa keberuntungan bagi pertunjukkan kami. Tidak disangka pukul 15.00 WITA datang  gerimis berangsur hujan lebat. Panik, takut, dan apalah lagi namanya itu, sudah bergabung jadi satu. Namun, jika Yang Kuasa telah memberi restu, tak ada yang mampu menghalau. Kami berangkat pukul 17.00 WITA hingga kami bersiap mempertunjukkan proses kami selama satu setengah bulan ini.

Adegan Bung Karno membaca naskah Proklamasi

Ketika itu, saya melihat kursi-kursi penonton ramai. Entah apa yang dipikirkan, saya hanya bisa melihat mereka diam memerhatikan hingga akhirnya tepuk tangan riuh berkumandang ketika gebyar terakhir dari pementasan kami. Alhasil gebyar itu mengantarkan kami menjadi juara I. Tidak ada yang bisa saya sampaikan selain terima kasih dan selamat untuk kami.

Rasa bangga masih membekas karena perjuangan dan kemampuan siswa-siswi saya dalam berproses, dukungan dari seluruh keluarga besar SMP Negeri 4 Singaraja juga orang tua siswa. Saya berharap kesempatan selanjutnya bisa menampilkan yang lebih baik lagi meskipun generasi tak lagi sama. Ini awal sanggar kami kembali bangkit. Bangkit dengan upaya pertunjukkan seni lebih diperluas lagi. Tidak hanya dibidang puisi dan mendongeng, tetapi juga teater. Mungkin akan ada sesi menulis karya yang nantinya bisa dipertunjukkan. Semoga semesta selalu memberi restu. [T]

Tags: Bung KarnoLomba Teater Kisah Ibunda Bung KarnoRai SrimbenSMPN 4 SingarajaTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tari Sanghyang Dedari dari Banjar Prapat, Nusa Penida, “Mesolah” di Rumah Warga

Next Post

“Community-Based Tourism” Sebagai Salah Satu Upaya Pemulihan Pariwisata Bali

Dewi Yudiarmika

Dewi Yudiarmika

Pernah bergiat di Komunitas Mahima dan kini menjadi guru di SMPN 4 Singaraja sekaligus sebagai sutradara teater sekolah

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
“Community-Based Tourism” Sebagai Salah Satu Upaya Pemulihan Pariwisata Bali

"Community-Based Tourism" Sebagai Salah Satu Upaya Pemulihan Pariwisata Bali

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co