12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Peraturan Pentas Adalah Tantangan | Catatan Sutradara Teater Rai Srimben SMPN 4 Singaraja

Dewi Yudiarmika by Dewi Yudiarmika
April 5, 2022
in Esai
Peraturan Pentas Adalah Tantangan | Catatan Sutradara Teater Rai Srimben SMPN 4 Singaraja

Pentas teater Rai Srimben SMPN 4 Singaraja

“Kemuliaan Ibu Nyoman Rai Srimben” adalah naskah pertama yang saya sutradarai. Berat? Sangat. Selain nilai budaya yang kental didalamnya, juga terdapat nilai-nilai sejarah yang harus diketahui dan tak boleh dilupakan. Kalau saya, tidak akan pernah melupakannya. Alasannya mungkin nanti akan saya jelaskan kalau ingat.

Dulu, waktu zaman suka wara-wiri pentas dengan beberapa komunitas di Buleleng, Komunitas Mahima  pernah memberikan saya kesempatan untuk turut andil dalam pementasan perempuan bersejarah ini, Ibu Nyoman Rai Srimben. Meskipun bukan sebagai pemeran utama, tetapi bukankah tukang angkat properti saja sudah sangat memiliki peran penting dalam sebuah pementasan?

Jadi tak perlu disesali sebab yang saya dapatkan saat itu bisa membawa saya ke titik ini, mencoba menyutradarai siswa SMP Negeri 4 Singaraja, tempat saya mengais rezeki dalam ajang lomba teater sebuleleng dengan naskah Kemuliaan Ibu Nyoman Rai Srimben karya Kadek Sonia Piscayanti serangkaian peresmian RTH Bung Karno sekaligus perayaan HUT Kota Singaraja ke 418

Sebagai sutradara pemula, detak jantung sudah mulai berdebar saat pertemuan pertama dengan panitia dilaksanakan. Di dalam hati selalu bertanya, “Bisa tidak ya? Yakin nih?” juga pertanyaan lainnya. Bermodal pengalaman dan dukungan dari kepala sekolah, guru-guru lain juga MGMP Bahasa Indonesia, jadilah pelatuk korek api ini bergerak untuk menyalakan api hingga membakar segala ruang yang hampa.

Pementasan teater SMPN 4 Singaraja di RTH Bung Karno Singaraja

Setiap hari merasa kurang tenang selama konsep belum bisa terselesaikan. Membaca, menonton, dan berkoordinasi dilakukan bergantian. Jangan lupa dengan mengingat pengalaman terdahulu ketika beberapa kali ikut pementasan. Paling tidak sedikit teori sudah dipegang, tinggal teori lainnya yang harus digali dari berbagai sumber.

Hari pertama pencarian aktor sangat gampang. Banyak siswa yang semangat ketika saya mengakatan, “Sekolah kita, untuk pertama kalinya ingin ikut lomba teater. Apakah di antara kalian juga ingin? Sebab jika tidak, mungkin kesempatan sekolah menjadi penyabet prestasi di segala bidang akan mundur satu langkah.”

Teater Pakeliran : Konsep Populer Dalam Garap Karya Pewayangan

Di luar dugaan, untuk sekelas siswa yang belum pernah berakting di atas panggung menyatakan INGIN. Mereka SEMANGAT. Mengapa saya sebut di luar dugaan, karena generasi terus berganti sejak Sanggar Poleng didirikan tahun 2016 dan belum pernah mencoba hal ini kecuali lomba puisi dan mendongeng. Sempat juga beberapa kali mengisi acara di luar sekolah dengan membawakan teaterikal puisi dan musikalisasi puisi. Itu pun sekitar tahun 2016 atau 2017.

Adegan Raden Soekemi dan Nyoman Rai Srimben

Kita kembali ke topik awal. Mulai saat itu juga perekrutan pun dimulai, mungkin bisa disebut casting (tetapi jika salah, mohon dimaafkan. Maklum sutradara pemula :D). Karena peserta terlalu banyak, pertemuan pertama, saya hanya membagikan naskah dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk membaca keseluruhan naskah sambil memilih tokoh yang diinginkan. Pertemuan kedua lanjut dengan acting sesuai dengan karakter tokoh yang telah mereka pilih. Kegiatan tersebut berlangsung beberapa kali sampai akhirnya keseluruhan aktor saya pilih dan mengajak mereka untuk latihan pingpong membaca naskah. Perlu diketahui bahwa 14 sekolah mementaskan naskah ini. Naskah yang sama.

Selama latihan, saya tidak luput dari pertanyaan-pertanyaan siswa terkait pementasan ini; “ Apa boleh mengubah dan menambahkan dialog? “Bagaimana dengan durasinya? Dan lain sebagainya.

Nah, inilah yang haus saya luruskan ke siswa sesuai dengan yang saya ketahui. Jika pentas sebagai pengisi acara, mungkin boleh jika diperlukan, tetapi jika dilombakan kita harus berusaha mengikuti aturannya. Seperti yang disampaikan oleh salah satu juri sekaligus penulis naskah, Kadek Sonia Piscayanti. Beliau menyatakan bahwa naskah ini sudah diperhitungkan dari berbagai segi. Baik itu dari segi nilai sejarah dan durasinya.

Teater SMPN 4 Singaraja di RTH Bung Karno

Kalau sampai kita sebagai peserta dari berbagai sekolah terlalu mengembangkan naskah (yang tak semestinya dikembangkan) sampai durasinya melebihi batas (lebih satu atau dua menit mungkin tidak akan jadi masalah), bagaimana dengan peserta lain yang antri menunggu giliran? Bisa jadi bedak dan jenggot (-jenggotan) si Pekak Mangku luntur seiring semangat pemain lainnya.

Jadi, inilah tantangan-tantangan yang saya rasakan. Bagaimana membuat konsep yang berbeda karena naskah sama, mengemas gagasan dengan apik agar tidak melunturkan nilai-nilai yang ada didalamnya, dan menjadikan siswa-siswi juga mengenal sosok yang dilakoni selain harus paham dengan alur ceritanya.

Mengenai konsep, saya terinspirasi dengan pertunjukan Wayang Lemah. Kenapa memilih konsep Wayang Lemah? Tentu untuk mengefisienkan waktu ketika pergantian babak dan membuat batasan panggung karena panggung TBK (Taman Bung Karno) sangat luas. Selain itu ada kayon yang dapat membantu peralihan adegan tanpa harus menambahkan dialog atau mematikan dan menghidupkan lampu.

Sisi lain juga saya ingin mengolaborasikan kegiatan ekstra di sekolah, diantaranya gong, musik keyboard, dan tari. Karena mengambil konsep wayang, maka segala musik yang dipilih pun harus bernuansa tradisional meskipun menggunakan alat musik keyboard. Misal saat adegan romantis Nyoman dan Raden. Yang tidak menggunakan musik tradisonal adalah ketika mengumandangkan lagu Indonesia Raya. Selebihnya gong dan suling menjadi andalan di beberapa adegan.

Selain tentang konsep atau printilan-printilan naskah, latihan tidak selalu berjalan dengan mulus. Apalagi kita bergerak saat pandemi covid-19 masih ada, bahkan sampai sekarang. Baru sempat latihan beberapa kali, ada himbauan bahwa kegiatan sekolah ditiadakan karena covid di buleleng meningkat bahkan beberapa hari sebelumnya beberapa sekolah sudah ditutup karena guru dan siswanya terpapar. Jadilah saya mengambil jalan agar siswa menghafal naskah di rumah dan berjaga seandainya sudah diperbolehkan sekolah kembali.

Tepat awal bulan Maret panitia memberikan pengumuman bahwa lomba jadi dilaksanakan dan berlangsung selama empat hari di akhir bulan Maret ini. Bagaimana, kaget? Tentu. Tapi karena keinginan begitu besar maka kami siap.

Pak Koster, Teater dan Pendidikan Karakter di RTH Taman Bung Karno

Kendala tidak hanya itu. Ada dua aktor yang harus saya ganti karena alasan yang tidak bisa saya jelaskan di sini. Beruntung segala kendala selalu ada jalannya. Saya mencari dan meminta siswa lain untuk segera bergabung dan menghafal naskah sampai akhirnya latihan kembali berjalan normal. Selama latihan saya selalu menegaskan bahwa saat ini aturan juga harus diutamakan. Kita berusaha meminimalisir kekurangan. Jadi, yang kami tahu, kami ganti.

Salah satunya durasi. Mungkin sekali dua kali melakukan improvisasi saat mendapati diri gugup tidak masalah demi kelancaran adegan selanjutnya. Yang penting tidak mengubah alur atau makna yang disampaikan di setiap dialog tokoh. Sebelumnya saya selalu menekankan kepada siswa, waktu pentas mereka akan berubah sesuai dengan durasi ketika adegan Nyoman mepamit; Nyoman dan Raden memadu kasih; Nyoman, Raden, dan Soekarno bermain. Sebab selain dialog, durasi pergantian babak yang dibantu kayon telah saya perhitungkan sampai beberapa kali mengubah tabuh dan gerakan.

Hari terus berganti, pertunjukkan segera dimulai. Minggu, 27 Maret 2022 Pk. 18.45 WITA adalah jadwal kami pentas. Tidak ada harapan lain selain kelancaran pentas dan menyakini nomor undi 9 (sembilan) membawa keberuntungan bagi pertunjukkan kami. Tidak disangka pukul 15.00 WITA datang  gerimis berangsur hujan lebat. Panik, takut, dan apalah lagi namanya itu, sudah bergabung jadi satu. Namun, jika Yang Kuasa telah memberi restu, tak ada yang mampu menghalau. Kami berangkat pukul 17.00 WITA hingga kami bersiap mempertunjukkan proses kami selama satu setengah bulan ini.

Adegan Bung Karno membaca naskah Proklamasi

Ketika itu, saya melihat kursi-kursi penonton ramai. Entah apa yang dipikirkan, saya hanya bisa melihat mereka diam memerhatikan hingga akhirnya tepuk tangan riuh berkumandang ketika gebyar terakhir dari pementasan kami. Alhasil gebyar itu mengantarkan kami menjadi juara I. Tidak ada yang bisa saya sampaikan selain terima kasih dan selamat untuk kami.

Rasa bangga masih membekas karena perjuangan dan kemampuan siswa-siswi saya dalam berproses, dukungan dari seluruh keluarga besar SMP Negeri 4 Singaraja juga orang tua siswa. Saya berharap kesempatan selanjutnya bisa menampilkan yang lebih baik lagi meskipun generasi tak lagi sama. Ini awal sanggar kami kembali bangkit. Bangkit dengan upaya pertunjukkan seni lebih diperluas lagi. Tidak hanya dibidang puisi dan mendongeng, tetapi juga teater. Mungkin akan ada sesi menulis karya yang nantinya bisa dipertunjukkan. Semoga semesta selalu memberi restu. [T]

Tags: Bung KarnoLomba Teater Kisah Ibunda Bung KarnoRai SrimbenSMPN 4 SingarajaTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tari Sanghyang Dedari dari Banjar Prapat, Nusa Penida, “Mesolah” di Rumah Warga

Next Post

“Community-Based Tourism” Sebagai Salah Satu Upaya Pemulihan Pariwisata Bali

Dewi Yudiarmika

Dewi Yudiarmika

Pernah bergiat di Komunitas Mahima dan kini menjadi guru di SMPN 4 Singaraja sekaligus sebagai sutradara teater sekolah

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
“Community-Based Tourism” Sebagai Salah Satu Upaya Pemulihan Pariwisata Bali

"Community-Based Tourism" Sebagai Salah Satu Upaya Pemulihan Pariwisata Bali

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co