14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teater Pakeliran : Konsep Populer Dalam Garap Karya Pewayangan

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
February 27, 2022
in Esai
Teater Pakeliran : Konsep Populer Dalam Garap Karya Pewayangan

Salah satu adegan dalam pementasan “Darma Luas” karya I Gusti Made Darma Putra dok : Nanda

Wacana tentang pertunjukan wayang masa kini terus bergulir dari pembahasan bahwa seni pewayangan mengalami penurunan karena fenomena yang terjadi saat ini ketika pertunjukan wayang sebagai bali-balihan atau hiburan tergerus oleh berbagai jenis hiburan khas modern, baik kehadiran televisi yang menampilkan banyak hiburan, begitu pula smart phone yang mampu menarik perhatian masyarakat secara personal.

Seni pewayangan di sisi lain juga mengalami perkembangan, terlihat dari hadirnya dalang-dalang muda dan juga dalang wanita yang mampu menyaingi keterampilan memainkan wayang, layaknya seperti para dalang pria, serta dapat dilihat dari perkembangan jumlah siswa maupun mahasiswa yang mengambil jurusan seni pedalangan disekolah dan perguruan tinggi seni di Bali yang memiliki jurusan pedalangan. Selain itu, munculnya karya-karya eksperimental juga mewakili atas perkembangan wayang tersebut.

Perkembangan yang pesat dalam seni pewayangan saat ini menyebabkan munculnya konsep-konsep baru yang ditawarkan dari para pengkaryanya, salah satu konsep yang hampir selalu digunakan oleh para pencipta karya pewayangan adalah konsep Teater Pakeliran yang merupakan sebuah konsep pertunjukan dengan memadukan seni teater dan seni pakeliran.

Teater Pakeliran sebagai konsep garap

Teater Pakeliran dapat dibagi menjadi dua suku kata yaitu teater dan pakeliran. Teater berasal dari kata Yunani yaitu theatron yang berarti tempat pertunjukan. Dalam perkembangannya kata teater memiliki arti lebih luas dan diartikan sebagai sesuatu yang dipertunjukan di depan orang banyak (Bandem, 1996, hlm. 9).

Di Indonesia, kebaradaan teater lebih dikenal dengan sebutan teater daerah karena pertunjukannya yang bersifat tradisional. Salah satu kesenian yang juga dapat dikategorikan sebagai bagian dari teater daerah adalah pertunjukan wayang kulit walaupun dalam arti harfiah dari wayang adalah bayangan, namun dalam kaitannya dengan teater tradisional wayang juga dikaitkan sebagai seni teater yaitu pertunjukan boneka yang terproyeksi melalui bayangan di panggung/layar dan sutradara ikut bermain di dalamnya berbeda dengan sandiwara atau film. Sutradara dalam pertunjukan wayang sebutan dengan dalang.

Pakeliran adalah istilah yang ditujukan untuk sebuah pertunjukan kesenian wayang yang menggunakan kelir/layar sebagai salah satu medium utamanya. Dalam pertunjukan pakeliran menggunakan pencahayaan untuk menyinari wayang agar mampu menghasilkan bayangan dari wayang tersebut. Dalang sebagai tokoh utama dalam kemajuan kesenian pewayangan saat ini mengalami puncak kreativitasnya sehingga keberadaan pakeliran saat ini mengalami perkembangan yang melahirkan jenis-jenis pakeliran baru seperti Kelir berkembang; Kelir yang tersusun tiga; Kelir lebar; Kelir bulat; Kelir segi tiga; Kelir dinamis; dan lain sebagainya.

Maka, Teater Pakeliran dapat didefinisikan sebagai sebuah pertunjukan pewayangan dengan memadukan teater (aktor manusia) dan wayang di dalamnya yang bertujuan untuk mempertegas suasana dan menambah kesan “baru” dalam seni pertunjukan pewayangan.

Awal mula penyebutan Teater Pakeliran sebagai sebuah konsep belum dapat dipastikan dengan jelas, namun penulis meyakini bahwa penyebutan Teater Pakeliran muncul karena seniman pengkarya terdahulu tidak ingin meninggalkan unsur tradisi yang diwarisi oleh lehururnya yaitu kelir/layar/pakeliran, maka medium apparatus tersebut dimasukkan kedalam penyebutan konsep ini dan munculah identitas baru yaitu Teater Pakeliran.

Perpadun aktor dan boneka/wayang sebagai sebuah konsep pertunjukan seni bukan menjadi hal yang baru, hanya saja penyebutan konsep ini sedikit berbeda. Istilah penyebutan Teater Pakeliran karena hanya menambahkan medium layar/kelir didalamnya, sedangkan konsepnya sama yaitu memadukan unsur teater wayang (boneka) dengan teater manusia. pada abad ke-20 konsep ini disebut puppet theatre (teater boneka). Dalam buku form of puppet, menyebutkan :

the appearance of living human being on the puppet stage is a factor that supports the “puppet characteristic” of the subject.  this is nothing new in conteporary puppet theatre. the mutual performance of the puppet and the actor has been around for a verylong time. (Tomanek, 2006:110)

Pernyataan diatas menunjukan bahwa keberadaan konsep ini sudah ada sejak dahulu dan masih eksis hingga saat ini. Eksistensi dari konsep yang memadukan unsur wayang dan aktor manusia ini terlihat dari periodeisasi penciptaan karya pewayangan di Bali.

Pencipta teringat dengan kisah Dalang Buricek yang mencoret wajahnya dengan latu (abu dari lampu wayang) dan mengambil pengutik (pisau belati) untuk merobek kelir serta menjulurkan kepalanya sambil tolah-toleh dan menari menampakkan giginya (ngejengit). melihat gelagat dalang Buricek yang aneh dan lucu tersebut, kontan raja tertawa terbahak-bahak dan dengan bersamaan rakyatpun ikut tertawa. Akhirnya raja memuji dan mengakui dalang Buricek akan kepintaran dan kepiawaiannya.

Kisah diatas menunjukan bahwa spontanitas Dalang Buricek merupakan salah satu ungkapan teatrikal yang dilakukan ketika pertunjukan wayang dalam kelir dengan media wayang dua dimensi yang ia lakukan tidak dapat menarik perhatian penonton maka diperlukan sebuah inovasi agar mampu memikat penontonnya dengan salah cara yaitu sebuah teater. Dalang Buricek dapat dikatagorikan sebagai pemain teater karena dalang yang terlihat secara otomatis dianggap sebagai aktor, yang memiliki dunianya sendiri (Tomatek,2006:110). Dari kisah tersebut sebagian dalang mempercayai mitos bahwa merobek bagian atas kelir/layar merupakan sebagai sebuah pernghormatan kepada dalang buricek dan berkembang hingga saat ini.

Problematika dalam konsep Teater Pakeliran

Namun yang terjadi saat ini, Teater Pakeliran sebagai sebuah konsep yang populer dalam seni pewayangan mulai mengalami keraguan oleh penontonnya, dimana dalam pertunjukannya keberadaan teater akan lebih mendominasi karena teater lebih mudah digarap sedangkan fungsi medium kelir yang digunakan hanya sebagai penunjang dan wayang yang muncul dalam kelir tidak memiliki porsi lebih banyak dibandingkan dengan keberadaan teater (manusia). Tanggapan penulis memiliki persamaan dengan Tomanek (2006:7) yang menyebutkan bahwa :

On a stage that has been designed for puppets of smaller proportions, the live actor seems too dominant and takes on a special relationship with the puppet (Gulliver amidst Lilliputians, Ivan the Great as the power of Russia, Snow White amongst the dwarfs, a Hunter amongst the animals, etc). Another example appears with the actor-puppeteer; the space doesn’t seem to belong to him. The spectator “doesn’t want” to see him; so if the designer doesn’t try to fulfill their wish by using other stronger barriers (the colour of the puppeteer’s costume verses the colour of the puppet, larger movements of the puppeteers, his gestures, small mcvements of the puppet’s abilities, etc), the size of the space serves to the puppets’ advantage, and the puppeteer becomes “invisible”.

Dari penjelasan diatas, Maka perlu adanya suatu rumusan yang tepat untuk mengkomposisikan Teater Pakeliran sebagai sebuah konsep yang popular digunakan dalam kalangan seniman dalang khususnya dalang kontemporer saat ini.

Ketika perkembangan Teater Pakeliran sangat eksis sebagai sebuah konsep penciptaan pewayangan, pengkaryanya mulai tidak menghiraukan elemen-elemen kecil yang berpengaruh besar dan dapat berdampak buruk pada pertunjukan Teater Pakeliran tersebut. adapun elemen-elemen tersebut seperti :

  1. Gerak berlebihan yang dihasilkan oleh aktor sehingga gerak wayang yang hanya dapat digerakan secara sederhana akan terlihat lemah dibandingkan tokoh manusianya.
  2. transisi dari pakeliran ke teater. Keluar masuk wayang dan aktor tidak di komposisi dengan dengan baik sehingga ketika aktor masuk dari samping kanan dan berpindah adegan ke layar maka terkadang wayang keluar dari kiri yang seharusnya jika aktor masuk dari kanan maka wayang keluar dari kanan.
  3. warna kostum actor yang terlalu mencolok seperti merah, kuning, hijau, dll. jika pemain teater menggunakan kostum dengan warna yang lebih mencolok dari wayang yang hanya sebuah bayangan dengan warna hitam dan putih, maka wayang akan mengalami penurunan kwalitas dari pada pemain teater. Seperti contoh adegan raja dengan abdinya, tokoh raja pada bagian wayang yang hanya hitam dan putih sedangkan abdinya menggunakan busana yang berwarna bahkan berisi motif emasnya. hal kecil seperti ini akan berdampak besar pada karya wayang dengan konsep Teater Pakeliran.

Selain hal diatas, Pengkarya melihat adanya ketidak pastian tentang keberadaan konsep Teater Pakeliran saat ini, dimana perlu adanya satu komposisi yang jelas dalam konsep tersebut seperti persentase teater dengan penggarapan pakeliran, musik dengan penggarapan naskah, dll, sehingga mampu tercipta suatu karya yang mewakili keberadaan konsep Teater Pakeliran tersebut.

Karya Teater Pakeliran Praba Kanya | Sumber : Prawira Nugraha

Menyikapi problematikan tersebut. maka dapat dikatakan  bahwa  secara kuantitas seni pedalangan mengalami perkembangan namun secara kualitas mengalami penurunan, pernyatan tersebut langsung di konter oleh pandangan bahwa penurunan kualitas yang dimaksud yaitu para pencipta karya pewayangan menciptakan karya dengan menggunakan konsep Teater Pakeliran namun tidak memahami secara mendalam tentang keberadaan konsep tersebut yang menyebabkan muncul bahasa “yang penting misi (yang penting isi saja)” baik dari penambahan teater atau pakelirannya. Sedangkan secara mendasar konsep Teater Pakeliran harus mensinergikan antara teater dan wayang atau pakeliran tersebut.

Perlunya formulasi konsep Teater Pakeliran

Konsep Teater Pakeliran membutuhkan pemetaan konsep secara mendasar. Mengingat salah satu karya wayang yang diciptakan dengan konsep Teater Pakeliran oleh Penulis sendiri dengan judul Wayang Ental dirasakan sangat kompleks dan rumit dalam penggarapannya sebagai pertunjukan wayang yang konsep Teater Pakeliran.

Teater Pakeliran sebagai pondasi dasar dalam penciptaan karya seni wayang yang tegolong baru membutuhkan suatu formulasi yang tepat. Dalam perkembanganya, formulasi yang telah terukur serta terpetakan tersebut akan menjadi gambaran dasar sebuah konsep ‘Teater Pakeliran’ yang dapat mempermudah proses kreatifitas seniman pedalangan dalam menentukan persentase dalam masing-masing aspek pada bagian teater dan pakelirannya. [T]

Tags: Teaterteater pakeliranwayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kencing “Sepii”, Kesambi dan Memori Anak 90-an di Nusa Penida

Next Post

Desa Dinas & 14 Desa Adat di Desa Wisata Taro Hidupkan Spirit Kebersamaan Bulan Bahasa Bali

I Gusti Made Darma Putra

I Gusti Made Darma Putra

Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Desa Dinas & 14 Desa Adat di  Desa Wisata Taro Hidupkan Spirit Kebersamaan Bulan Bahasa Bali

Desa Dinas & 14 Desa Adat di Desa Wisata Taro Hidupkan Spirit Kebersamaan Bulan Bahasa Bali

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co