23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kencing “Sepii”, Kesambi dan Memori Anak 90-an di Nusa Penida

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
February 27, 2022
in Esai
Kencing “Sepii”, Kesambi dan Memori Anak 90-an di Nusa Penida

Sepii Dewasa. Foto: Ketut Serawan

Pernah dikencingi sepii? Jika ditanyakan kepada anak 90-an di Nusa Penida, rasanya mereka akan menjawab dengan kata “pernah”. Sepii  bukan puisi. Bukan pula referensi kondisi sunyi, seperti gambaran masa pandemi Covid-19 sekarang ini. Namun, sepii merupakan sejenis kumbang oranye kecoklatan yang nyaman hidup pada pohon sambi (kesambi).

Sepii memiliki senjata cairan yang khas dan berbau. Cairan ini dikeluarkan jika merasa terancam. Siapa yang menganggu atau mengancamnya, maka kumbang ini tak segan-segan untuk menyemburkan cairannya. Warga di kampung saya menyebutnya dengan air kencing sepii.

Sejatinya, kencing sepii tidak terlalu berbahaya. Namun, jika mengenai mata, perihnya luar biasa. Cukup menganggu penglihatan dalam waktu beberapa menit. Untuk mengurangi efek perih bertahan lama, orang biasanya mencuci muka berkali-kali dengan air bersih.

Apabila menggenai organ tubuh lainnya, maka relatif aman. Hanya saja, bekas cairan itu akan menimbulkan perubahan warna. Misalnya, mengenai kulit kita—maka kulit akan berubah menjadi agak kekuning-kuningan. Namun, dalam hitungan harian, warna kulit akan menjadi normal kembali.

BACA JUGA:

  • Di Nusa Penida, Ada Pohon Berbuah Lem
  • Istimewanya Pohon Bunut di Nusa Penida: Jadi Benteng Pakan Sapi, Peneduh, Lumbung Hidup, juga Ruang Sosial

Sepii termasuk Tessaratoma papillosa. Spesies serangga dalam keluarga Tessaratomidae. Perilaku spesies ini tergolong jinak. Ia akan terbang jika betul-betul merasa terancam. Terbangnya juga tidak terlalu jauh. Ia akan hinggap pada daun pohon terdekat. Akan tetapi, bukan untuk selamanya. Dalam hitungan jam atau harian, sepii akan kembali merindukan habitatnya yakni pohon kesambi.

Sepii paling nyaman bertengger pada daun muda kesambi. Daun muda ini dicirikan dengan warna merah. Entah apa penyebabnya. Mulai dari anak-anak hingga dewasa, semuanya nyaman memilih bertengger pada daun muda kesambi. Bisa jadi daun muda inilah yang menjadi sumber makanannya.

Sepii dan Titik Nadir Sepi

Tahun 90-an ke bawah, sepii bukan hanya menjadi penghuni utama pohon kesambi, tetapi dijadikan alternatif untuk disantap. Beberapa sepii yang sudah tertangkap, ditusuk berjejer dengan lidi, lalu di panggang di atas bara api.

Sepii yang matang sangat lezat disantap baik dengan maupun tanpa nasi. Apalagi dibumbui dengan sambel, lezatnya lebih terasa. Sepii juga enak diolah dengan cara digoreng. Semuanya tergantung kondisi dan selera. Namun, diolah dengan cara mana pun, bagi lidah anak-anak tahun 90-an (ke bawah), sepii termasuk santapan nikmat.

Anak Sepii di Pohon Kesambi. Foto: Ketut Serawan

Di samping lezat, cara menangkapnya juga tergolong mudah. Biasanya, anak-anak di kampung saya cukup bermodalkan senjata engket (getah) nangka, lidi dan sebatang bambu galah. Mula-mula, getah nangka dikumpulkan dengan cara meletakkan ujung lidi pada getah nangka, lalu dikilit-kilit atau diputar-putar.

Jika dirasakan cukup, ujung lidi yang kosong akan diikatkan pada ujung bambu galah yang sudah disiapkan. Panjang bambu galah menyesesuaikan. Berkisar antara 2-4 meter. Poinnya dapat menjangkau keberadaan sepii pada daun kesambi.

Bambu galah yang terikat getah dijulurkan ke atas. Kemudian, getah yang melilit pada lidi ditempelkan pada tubuh sepii. Dalam kondisi seperti ini, sepii langsung menyemprotkan cairan pertahannya. Sambil meronta-ronta, kedua sayapnya terbuka, hendak berusaha terbang. Akan tetapi, daya lengket getah nangka membuat sepii tak berdaya.

Menangkap anak sepii lebih mudah lagi sebab mereka belum memiki sayap. Bentuk tubuhnya persegi panjang, pipih dan gepeng. Seluruh permukaan tubuhnya lunak, memiliki kaki 6 dan 2 antena menjulur di bagian kepala serta berwarna orange.

Berbeda dengan sepii dewasa. Di samping memiliki sayap, sepii dewasa juga memiliki permukaan tubuh yang lebih keras, terutama pada bagian punggungnya. Keras seperti cangkang.

Selain dikonsumsi, kadang-kadang sepii dewasa dijadikan mainan oleh anak-anak zaman dulu. Ujung kakinya yang bergerigi dilepas, lalu tubuhnya diikatkan dengan sesuatu sebagai penanda. Bisa berupa tali, daun ilalang, dan lain sebagainya. Penanda ini sebagai ciri bahwa sepii tertentu milik seseorang.

Ketika penanda sudah diiikatkan pada tubuh sepii, selanjutnya dilepas. Sementara itu, anak-anak akan berlari-lari mengikuti kemana arah sepii terbang. Tindakan ini sebetulnya tergolong penyiksaan. Sepii memang bisa terbang, tetapi tidak dapat hinggap pada daun/ ranting pohon.

Ujung-ujungnya, sepii akan jatuh ke tanah. Ketika jatuh, anak-anak memungutnya lagi dan diterbangkan ke atas. Sekali lagi, sepii berusaha terbang tinggi ke sana kemari menggapai daun atau pohon tetapi akhirnya jatuh lagi.

Bagi anak-anak zaman dulu, melihat sepii terbang dengan penanda tertentu dianggap mengasyikan. Apalagi mereka dapat terlibat berlari-larian memburu sepii yang sedang terbang. Rasanya memang hanya dipahami oleh anak-anak kala itu.

BACA JUGA:

  • Fenomena Sopir Ngebut di Nusa Penida, Sejumlah Alasan dan Solusi
  • “Teror Dagang Punggalan”, Cerita Pada Suatu Masa di Nusa Penida

Perburuan sepii menjadi lebih asyik lagi jika pohon kesambi berbuah. Penduduk di kampung saya menyebut buahnya dengan nama cacil. Bentuk buahnya menyerupai kelengkeng. Daging buahnya berwarna putih dan memiliki satu biji bulat kehitaman. Buah yang tua rasanya manis dan sedikit kecut. Sedangkan, yang belum matang rasanya kecut sekali.

Biasanya, kesambi berbuah saat memasuki rentang musim kemarau. Musim ketika pakan sapi mengalami paceklik. Segala daun diberdayakan untuk pakan sapi. Salah satunya daun kesambi. Untuk mendapatkan daun kesambi, anak-anak memanjat pohon kesambi dengan cara memotong rantingnya yang kecil-kecil. Pada saat inilah terjadi hujan berkah.

Tidak hanya ranting, tetapi ikut pula jatuh ke tanah yaitu daun kesambi, buahnya dan sepii. Berkah ini seolah-olah menjadi satu paket. Ranting-ranting kecil menyatu dengan daun, buah dan pada ujung daun mudanya bertengger beberapa sepii.  

Sepii Dewasa. Foto: Ketut Serawan

Ketika ada getaran saat memotong ranting kesambi, sebagian besar sepii memilih terbang. Namun, ada beberapa yang ogah terbang. Mungkin mereka merasa terlalu nyaman. Getaran saat memotong bahkan ketika ranting jatuh ke tanah pun tidak dianggap sebagai ancaman. Mereka tetap nyaman bertengger di tempat semula.

Dari sinilah, suasana pesta anak zaman dulu dimulai. Sambil mengumpulkan daun kesambi sebagai pakan sapi, mereka juga menikmati cacil yang matang. Pun mengumpulkan beberapa sepii untuk dipanggang atau digoreng. Sebuah pesta sederhana ala anak pedesaan yang tentu saja bernilai bagi anak-anak zaman dulu di NP.

Selain daun dan buahnya, kayu kesambi juga dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Di kampung saya, kayu kesambi yang tua biasanya digunakan sebagai “lu”. Lu digunakan sebagai penumbuk jagung, beleleng, dan gedebong (batang pisang yang diiris untuk dijadikan pakan babi-dagdag).

Zaman 90-an ke bawah, mesin-mesin pengilesan (peremuk biji jagung) masih sangat langka. Orang-orang di kampung saya mengolah biji-bijian tersebut dengan cara ditumbuk pada sebuah lesung batu yang cukup besar. Dalam rangkaian proses penumbukkan inilah dikenal adanya tradisi “napinan”.

Jagung dan beleleng yang ditumbuk, diangkat dari lesung, lalu ditaruh ke dalam tempeh. Selanjutnya, diayun-ayunkan dengan gerakan berputar-putar terlebih dahulu sehingga ootnya (lapisan kulit luar biji) berkumpul pada satu titik pusat. Kemudian, diayun-ayunkan ke depan untuk memisahkan ootnya pada tempat yang sudah disediakan. Proses “napinan’ ini dilakukan beberapa kali sesuai kebutuhan.

Aktivitas “napinan” membutuhan skil khusus. Biasanya, tradisi “napinan” ini dilakukan oleh kaum perempuan. Anak perempuan zaman dulu, hampir semuanya cekatan dalam melakoni aktivitas “napinan”. Pasalnya, aktivitas ini dilakukan hampir setiap hari, terutama pada musim panen jagung. Dulu, nasi jagung menjadi makanan pokok di NP. Untuk mengolahnya menjadi nasi, harus melewati proses “nebuk (numbuk)” dan “napinan”.

Karena itu, hampir semua warga di kampung saya memiliki lesung dan lu. Salah satu pilihan kayu yang digunakan sebagai lu ialah kayu kesambi. Hal ini disebabkan oleh kayu kesambi memiliki tekstur yang rapat, kuat dan berat. Sangat cocok digunakan untuk meremukkan biji-bijian.

Namun, seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, pemanfatan lesung dan lu semakin kurang optimal. Bahkan, hampir terabaikan. Pemanfaatan kayu kesambi menjadi lu sudah hampir tiada. Pohon-pohon kesambi tumbuh makin liar bersama penghuni setianya yaitu spesies sepii.   

Kesambi dan sepii berjalan dengan kisahnya sendiri. Tak ada lagi yang peduli. Anak-anak kini lebih memilih sunyi bersama gadget-nya sendiri-sendiri. Tidak ditemukan lagi pesta cacil dan sepii di bawah pohon kesambi.  

Pergerakan musim kemarau berlalu penuh gelisah, karena tak lagi mencatat riuh kaki anak-anak berlari mengejar sepii. Pun bara api sudah sekian tahun puasa bakar tubuh sepii. Kini, kisah sepii benar-benar tenggelam ke titik nadir sepi.   [T]

Tags: faunafloraGenerasi 90-anNusa Penida
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BERBAGAI JENIS NYEPI YANG DIRAYAKAN DI BALI— Nyepi Tidak Berhubungan dengan Perayaan Tahun Baru

Next Post

Teater Pakeliran : Konsep Populer Dalam Garap Karya Pewayangan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Teater Pakeliran : Konsep Populer Dalam Garap Karya Pewayangan

Teater Pakeliran : Konsep Populer Dalam Garap Karya Pewayangan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co