2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kencing “Sepii”, Kesambi dan Memori Anak 90-an di Nusa Penida

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
February 27, 2022
in Esai
Kencing “Sepii”, Kesambi dan Memori Anak 90-an di Nusa Penida

Sepii Dewasa. Foto: Ketut Serawan

Pernah dikencingi sepii? Jika ditanyakan kepada anak 90-an di Nusa Penida, rasanya mereka akan menjawab dengan kata “pernah”. Sepii  bukan puisi. Bukan pula referensi kondisi sunyi, seperti gambaran masa pandemi Covid-19 sekarang ini. Namun, sepii merupakan sejenis kumbang oranye kecoklatan yang nyaman hidup pada pohon sambi (kesambi).

Sepii memiliki senjata cairan yang khas dan berbau. Cairan ini dikeluarkan jika merasa terancam. Siapa yang menganggu atau mengancamnya, maka kumbang ini tak segan-segan untuk menyemburkan cairannya. Warga di kampung saya menyebutnya dengan air kencing sepii.

Sejatinya, kencing sepii tidak terlalu berbahaya. Namun, jika mengenai mata, perihnya luar biasa. Cukup menganggu penglihatan dalam waktu beberapa menit. Untuk mengurangi efek perih bertahan lama, orang biasanya mencuci muka berkali-kali dengan air bersih.

Apabila menggenai organ tubuh lainnya, maka relatif aman. Hanya saja, bekas cairan itu akan menimbulkan perubahan warna. Misalnya, mengenai kulit kita—maka kulit akan berubah menjadi agak kekuning-kuningan. Namun, dalam hitungan harian, warna kulit akan menjadi normal kembali.

BACA JUGA:

  • Di Nusa Penida, Ada Pohon Berbuah Lem
  • Istimewanya Pohon Bunut di Nusa Penida: Jadi Benteng Pakan Sapi, Peneduh, Lumbung Hidup, juga Ruang Sosial

Sepii termasuk Tessaratoma papillosa. Spesies serangga dalam keluarga Tessaratomidae. Perilaku spesies ini tergolong jinak. Ia akan terbang jika betul-betul merasa terancam. Terbangnya juga tidak terlalu jauh. Ia akan hinggap pada daun pohon terdekat. Akan tetapi, bukan untuk selamanya. Dalam hitungan jam atau harian, sepii akan kembali merindukan habitatnya yakni pohon kesambi.

Sepii paling nyaman bertengger pada daun muda kesambi. Daun muda ini dicirikan dengan warna merah. Entah apa penyebabnya. Mulai dari anak-anak hingga dewasa, semuanya nyaman memilih bertengger pada daun muda kesambi. Bisa jadi daun muda inilah yang menjadi sumber makanannya.

Sepii dan Titik Nadir Sepi

Tahun 90-an ke bawah, sepii bukan hanya menjadi penghuni utama pohon kesambi, tetapi dijadikan alternatif untuk disantap. Beberapa sepii yang sudah tertangkap, ditusuk berjejer dengan lidi, lalu di panggang di atas bara api.

Sepii yang matang sangat lezat disantap baik dengan maupun tanpa nasi. Apalagi dibumbui dengan sambel, lezatnya lebih terasa. Sepii juga enak diolah dengan cara digoreng. Semuanya tergantung kondisi dan selera. Namun, diolah dengan cara mana pun, bagi lidah anak-anak tahun 90-an (ke bawah), sepii termasuk santapan nikmat.

Anak Sepii di Pohon Kesambi. Foto: Ketut Serawan

Di samping lezat, cara menangkapnya juga tergolong mudah. Biasanya, anak-anak di kampung saya cukup bermodalkan senjata engket (getah) nangka, lidi dan sebatang bambu galah. Mula-mula, getah nangka dikumpulkan dengan cara meletakkan ujung lidi pada getah nangka, lalu dikilit-kilit atau diputar-putar.

Jika dirasakan cukup, ujung lidi yang kosong akan diikatkan pada ujung bambu galah yang sudah disiapkan. Panjang bambu galah menyesesuaikan. Berkisar antara 2-4 meter. Poinnya dapat menjangkau keberadaan sepii pada daun kesambi.

Bambu galah yang terikat getah dijulurkan ke atas. Kemudian, getah yang melilit pada lidi ditempelkan pada tubuh sepii. Dalam kondisi seperti ini, sepii langsung menyemprotkan cairan pertahannya. Sambil meronta-ronta, kedua sayapnya terbuka, hendak berusaha terbang. Akan tetapi, daya lengket getah nangka membuat sepii tak berdaya.

Menangkap anak sepii lebih mudah lagi sebab mereka belum memiki sayap. Bentuk tubuhnya persegi panjang, pipih dan gepeng. Seluruh permukaan tubuhnya lunak, memiliki kaki 6 dan 2 antena menjulur di bagian kepala serta berwarna orange.

Berbeda dengan sepii dewasa. Di samping memiliki sayap, sepii dewasa juga memiliki permukaan tubuh yang lebih keras, terutama pada bagian punggungnya. Keras seperti cangkang.

Selain dikonsumsi, kadang-kadang sepii dewasa dijadikan mainan oleh anak-anak zaman dulu. Ujung kakinya yang bergerigi dilepas, lalu tubuhnya diikatkan dengan sesuatu sebagai penanda. Bisa berupa tali, daun ilalang, dan lain sebagainya. Penanda ini sebagai ciri bahwa sepii tertentu milik seseorang.

Ketika penanda sudah diiikatkan pada tubuh sepii, selanjutnya dilepas. Sementara itu, anak-anak akan berlari-lari mengikuti kemana arah sepii terbang. Tindakan ini sebetulnya tergolong penyiksaan. Sepii memang bisa terbang, tetapi tidak dapat hinggap pada daun/ ranting pohon.

Ujung-ujungnya, sepii akan jatuh ke tanah. Ketika jatuh, anak-anak memungutnya lagi dan diterbangkan ke atas. Sekali lagi, sepii berusaha terbang tinggi ke sana kemari menggapai daun atau pohon tetapi akhirnya jatuh lagi.

Bagi anak-anak zaman dulu, melihat sepii terbang dengan penanda tertentu dianggap mengasyikan. Apalagi mereka dapat terlibat berlari-larian memburu sepii yang sedang terbang. Rasanya memang hanya dipahami oleh anak-anak kala itu.

BACA JUGA:

  • Fenomena Sopir Ngebut di Nusa Penida, Sejumlah Alasan dan Solusi
  • “Teror Dagang Punggalan”, Cerita Pada Suatu Masa di Nusa Penida

Perburuan sepii menjadi lebih asyik lagi jika pohon kesambi berbuah. Penduduk di kampung saya menyebut buahnya dengan nama cacil. Bentuk buahnya menyerupai kelengkeng. Daging buahnya berwarna putih dan memiliki satu biji bulat kehitaman. Buah yang tua rasanya manis dan sedikit kecut. Sedangkan, yang belum matang rasanya kecut sekali.

Biasanya, kesambi berbuah saat memasuki rentang musim kemarau. Musim ketika pakan sapi mengalami paceklik. Segala daun diberdayakan untuk pakan sapi. Salah satunya daun kesambi. Untuk mendapatkan daun kesambi, anak-anak memanjat pohon kesambi dengan cara memotong rantingnya yang kecil-kecil. Pada saat inilah terjadi hujan berkah.

Tidak hanya ranting, tetapi ikut pula jatuh ke tanah yaitu daun kesambi, buahnya dan sepii. Berkah ini seolah-olah menjadi satu paket. Ranting-ranting kecil menyatu dengan daun, buah dan pada ujung daun mudanya bertengger beberapa sepii.  

Sepii Dewasa. Foto: Ketut Serawan

Ketika ada getaran saat memotong ranting kesambi, sebagian besar sepii memilih terbang. Namun, ada beberapa yang ogah terbang. Mungkin mereka merasa terlalu nyaman. Getaran saat memotong bahkan ketika ranting jatuh ke tanah pun tidak dianggap sebagai ancaman. Mereka tetap nyaman bertengger di tempat semula.

Dari sinilah, suasana pesta anak zaman dulu dimulai. Sambil mengumpulkan daun kesambi sebagai pakan sapi, mereka juga menikmati cacil yang matang. Pun mengumpulkan beberapa sepii untuk dipanggang atau digoreng. Sebuah pesta sederhana ala anak pedesaan yang tentu saja bernilai bagi anak-anak zaman dulu di NP.

Selain daun dan buahnya, kayu kesambi juga dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Di kampung saya, kayu kesambi yang tua biasanya digunakan sebagai “lu”. Lu digunakan sebagai penumbuk jagung, beleleng, dan gedebong (batang pisang yang diiris untuk dijadikan pakan babi-dagdag).

Zaman 90-an ke bawah, mesin-mesin pengilesan (peremuk biji jagung) masih sangat langka. Orang-orang di kampung saya mengolah biji-bijian tersebut dengan cara ditumbuk pada sebuah lesung batu yang cukup besar. Dalam rangkaian proses penumbukkan inilah dikenal adanya tradisi “napinan”.

Jagung dan beleleng yang ditumbuk, diangkat dari lesung, lalu ditaruh ke dalam tempeh. Selanjutnya, diayun-ayunkan dengan gerakan berputar-putar terlebih dahulu sehingga ootnya (lapisan kulit luar biji) berkumpul pada satu titik pusat. Kemudian, diayun-ayunkan ke depan untuk memisahkan ootnya pada tempat yang sudah disediakan. Proses “napinan’ ini dilakukan beberapa kali sesuai kebutuhan.

Aktivitas “napinan” membutuhan skil khusus. Biasanya, tradisi “napinan” ini dilakukan oleh kaum perempuan. Anak perempuan zaman dulu, hampir semuanya cekatan dalam melakoni aktivitas “napinan”. Pasalnya, aktivitas ini dilakukan hampir setiap hari, terutama pada musim panen jagung. Dulu, nasi jagung menjadi makanan pokok di NP. Untuk mengolahnya menjadi nasi, harus melewati proses “nebuk (numbuk)” dan “napinan”.

Karena itu, hampir semua warga di kampung saya memiliki lesung dan lu. Salah satu pilihan kayu yang digunakan sebagai lu ialah kayu kesambi. Hal ini disebabkan oleh kayu kesambi memiliki tekstur yang rapat, kuat dan berat. Sangat cocok digunakan untuk meremukkan biji-bijian.

Namun, seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, pemanfatan lesung dan lu semakin kurang optimal. Bahkan, hampir terabaikan. Pemanfaatan kayu kesambi menjadi lu sudah hampir tiada. Pohon-pohon kesambi tumbuh makin liar bersama penghuni setianya yaitu spesies sepii.   

Kesambi dan sepii berjalan dengan kisahnya sendiri. Tak ada lagi yang peduli. Anak-anak kini lebih memilih sunyi bersama gadget-nya sendiri-sendiri. Tidak ditemukan lagi pesta cacil dan sepii di bawah pohon kesambi.  

Pergerakan musim kemarau berlalu penuh gelisah, karena tak lagi mencatat riuh kaki anak-anak berlari mengejar sepii. Pun bara api sudah sekian tahun puasa bakar tubuh sepii. Kini, kisah sepii benar-benar tenggelam ke titik nadir sepi.   [T]

Tags: faunafloraGenerasi 90-anNusa Penida
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BERBAGAI JENIS NYEPI YANG DIRAYAKAN DI BALI— Nyepi Tidak Berhubungan dengan Perayaan Tahun Baru

Next Post

Teater Pakeliran : Konsep Populer Dalam Garap Karya Pewayangan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Teater Pakeliran : Konsep Populer Dalam Garap Karya Pewayangan

Teater Pakeliran : Konsep Populer Dalam Garap Karya Pewayangan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co