16 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fenomena Sopir Ngebut di Nusa Penida, Sejumlah Alasan dan Solusi

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
February 9, 2022
in Opini
Fenomena Sopir Ngebut di Nusa Penida, Sejumlah Alasan dan Solusi

Jalanan di Nusa Penida [Foto Youtube]

Perilaku sejumlah sopir di Nusa Penida (NP) sudah lama mendapat sorotan miring baik oleh masyarakat nyata maupun dari para nitizen. Sorotan ini terutama dialamatkan kepada beberapa sopir pariwisata (tentu saja tidak semuanya) yang terlibat “lomba ngebut “ di jalanan. Konon, aksi ngebut ini dilatarbelakangi oleh satu alasan klasik yaitu “mengejar waktu”. Sopir itu takut jika waktu pemberangkatan fast boat (yang di-booking tamu) melewati ambang batas.  

Karena itu, dalam hal ini, ngebut dianggap sebagai solusi. Beberapa sopir pariwisata tancap gas, melaju secepat mungkin—melewati kelok demi kelokan jalan yang cukup sempit di NP. Di atas jalan yang cukup mulus, mereka memacu kendaraannya dan sering melupakan pengguna jalan yang lain.

Kasus penyerempetan bahkan berujung kecelakaan pada pengguna jalan lain, tidak ampuh mengingatkan  beberapa sopir untuk meminalisasikan perilaku ngebutnya. Entah kenapa, ketika membawa tamu, pikiran sopir kembali ke pola semula. Ngebut dan tidak ingin ketinggalan waktu.

Sopir yang suka ngebut itu sepertinya tak mampu melawan egonya. Mereka tunduk dengan kepentingan pribadinya. Sementara, kepentingan orang lain tak sempat mereka pikirkan. Karena itu, jalanan menjadi rasa kavling. Ketika mengantar (balik) tamu ke pelabuhan, jalanan sepertinya menjadi kuasa sejumlah sopir pariwisata. Mereka melaju, menyalip paksa dan bahkan tak jarang mengambil badan jalan jalur lawan arah (keluar lintasan).

Sopir Masa Lalu

Citra “sopir ngebut” di NP bukan muncul ketika pariwisata melejit seperti sekarang. Dari dulu, predikat ini sudah melekat pada sopir di NP (tentu saja tak semuanya). Image ini tidak hanya dilontarkan oleh masyarakat lokal, tetapi justru lebih kuat dihembuskan oleh masyarakat Bali daratan.

Ketika berbicara tentang sopir di NP, mereka pasti teringat satu kata yaitu “ngebut”. Seolah-olah sudah menjadi ikonik. Imbasnya, semua sopir di NP dianggap memiliki perilaku yang sama yakni sukangebut. Padahal, sejatinya tidak demikian.

Klaim “sopir ngebut” ini bermula dari pengalaman langsung. Banyak masyarakat luar (Bali seberang), yang menjadi penumpang, mengalami langsung ketika melakukan perjalanan di NP zaman dulu. Kebanyakan yang merasakan adalah penumpang yang pernah melakukan tirta yatra ke NP. Zaman itu, transportasi darat (angkutan umum) dikuasai oleh mobil colt semi terbuka—mirip angkutan umum pedesaan era 1980-an di Bali pada umumnya.

Bagian atasnya, tertutup oleh atap yang menjulur sepanjang bodi mobil. Kiri-kanannya juga tertutup rapat. Di sela-selanya, terdapat beberapa kaca jendela kecil yang tansparan. Dari kaca inilah, penumpang dapat melihat view sepanjang perjalanan.

Sementara, di belakangnya terbuka tanpa pintu. Hanya ada penghalang kiri-kanan pada bagian bawah tegak lurus dengan jok penumpang—sebagai penghalang bodi penumpang atau barang terutama ketika berada di tanjakan. Tidak ada AC. Namun, angin dapat leluasa masuk dari belakang atau sela-sela kaca jendela yang dibuka pada pinggir kiri-kanan mobil.

Model mobil inilah yang digunakan untuk mengantar para pemedek berkeliling di NP zaman dulu. Para sopir membawa penumpang—melaju dengan kecepatan tinggi di atas jalan aspal yang kasar, sempit dan bergelombang (tidak rata). Dengan genjotan yang kurang elastis, maka penumpang tidak hanya merasakan sensasi kecepatan tetapi sensasi lompat-lompat dan rasa mirip terbang (lepas landas).

Wajar saja, para penumpang merasakan “ngeri-ngeri sedap”. Pasalnya, adonan sensasi itu dianggap sangat berisiko—meskipun dikendalikan oleh sopir yang cakap. Sayangnya,  sopir itu agaknya kurang memahami adonan sensasi ngeri-ngeri sedap tersebut.

Atau jangan-jangan sopir itu sebetulnya menyadari persoalan ini. Namun, mereka menyimpan dengan rapi dalam balutan kepentingan pribadi. Jika sejumlah sopir pariwisata (sekarang) berdalih dikejar waktu (jadwal) pemberangkatan fast boat, lalu apa dalih para sopir dulu untuk melakukan tindakan ngebut?

Pertanyaan ini penting diajukan mengingat rombongan pemedek (dulu) tidak bisa one day trip. Mereka harus menginap (mekemit) di pura, minimal satu malam. Keesokan paginya, baru mereka bisa menyeberang dengan jukung (perahu tradisional). Lalu, mengapa sopir harus ngebut? Ingin diajum (dipuji) sebagai sopir andal dan cakap?

Ah, tentu tidak sebanding dengan risiko dari tindakan ngebut tersebut. Untuk menguak misteri ini, kebetulan saya pernah mengajak rombongan satu kantor melakukan tirta yatra di seputaran NP tahun 2000-an. Trayek Pura yang kami sasar yaitu Pura Puncak Mundi, Goa Giri Putri dan Dalem Ped.

Pura pertama yang kami sasar ialah Pura Puncak Mundi. Turun dari pelabuhan, mobil yang kami tumpangi langsung melaju kencang menuju Puncak Mundi. Sesekali diwarnai dengan teriak-teriakan ekspresi ketakutan pada lintasan medan tertentu. Syukurnya, kami selamat sampai tempat tujuan. Seperti biasa, kami melakukan persembahyangan dan berpikir sopir kami menunggu dengan sabar di area parkir.

Karena itu, ketika selesai sembahyang, kami bergegas menuju parkir-an. Berharap mobil carteran kami parkir di situ. Ternyata tidak ada. Kami mencoba memfokuskan pandangan di antara kerumunan sopir di area parkir. Pun tidak ada. Kondisi ini berlangsung kurang lebih setengah jam lebih. Namun, kami tetap bersabar.

Sekitar hampir 50 menitan, muncullah mobil yang kami tumpangi. Kami langsung naik ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan menuju Pura kedua yaitu Pura Goa Giri Putri. Pura yang letaknya di dalam goa raksasa. Untuk mencapai Pura ini, kami harus menaiki beberapa anak tangga, melewati mulut goa yang sempit—kemudian disambut kelebat sayap kelelewar dan formasi lampu-lampu yang estetik.

Kami melakukan persembahan dengan khusuk dari satu pelinggih ke pelinggih yang lainnya hingga ujung goa yakni pelinggih Dewi Kwan Im. Persembahyang usai. Kami bergegas menuruni tangga keluar, hendak melanjutkan ke pura Dalem Ped. Namun, apa daya. Kami harus mencari-cari hingga berjam-jam mobil yang kami tumpangi—tetapi tidak ada di area parkir.

Akhirnya, kami arahkan pandangan ke arah laut luas. Kami tetap sabar menunggu sambil membeli minuman dan jajan di sekitar area parkir. Semula pikiran kami positif saja, walaupun kami merasa ditelantarkan. Namun, obrolan segelintir sopir yang lainnya, membangunkan pikiran negatif kami.

Tak sengaja, saya mendengar obrolan sopir dalam dialek Nusa. Mereka membicarakan soal rombongan yang mereka antar. Poinnya, dalam satu hari mereka dapat membawa lebih dari satu rombongan. Dari sinilah, kami baru menyadari bahwa kami termasuk dalam target kasus yang dibicarakan itu.

Belum bulat kami menegatifkan pikiran, datanglah sopir kami dengan laju cepat dan tergesa-gesa. Kami enggan bertanya. Kami langsung naik dan meluncur menuju Pura Dalem Ped.

Sambil menahan goncangan dalam mobil, saya berpikir. “Inikah motif di balik kebut-kebutan sopir di NP?” gumamku. Mereka memaksimalkan waktu dengan cara mengambil lebih dari satu rombongan. Cara ini memang terkesan merugikan atau menelantarkan klien (penumpang). Namun, jika hanya mengantar satu rombongan mungkin mereka merasa rugi.

Banyak waktu tersisa jika hanya menunggu dan mengantar dengan taat satu rombongan saja. Menunggu pemedek sembahyang berjam-jam, dapat diisi dengan mengantar rombongan lain. Ya, karena jarak antara Pura satu dengan Pura lainnya tidak begitu jauh. Mungkin begitu hitung-hitungan para sopir.

Sebaliknya, pemedek/ penumpang jelas merasa dirugikan. Pasalnya, mereka merasa men-carter mobil tersebut. Namun, kenyataannya mereka diperlakukan seperti penumpang biasa. Ditaruh di tempat tujuan, kemudian para sopir yang memiliki peluang “mendua” menjemput rombongan lain.

Wajar saja, ada sopir bermain di zona kebut-kebutan. Mereka berusaha meringkas perjalanan sesingkat atau secepat mungkin guna mendapatkan rombongan lain, terutama ketika musim pemedek ramai.

Ngebut Beda Motif

Hingga sekarang, kebiasaan ngebut dari beberapa sopir di NP masih berlanjut. Alasannya sama yaitu “mengejar waktu” atau “meringkas perjalanan” (karena waktu tidak bisa dikejar). Namun, varian motifnya berbeda. Jika sopir pemedek (dulu) melakukan tindakan ngebut untuk meringkas perjalanan agar dapat “mendua”, maka sopir pariwisata (sekarang) berdalih agar para kliennya tidak ketinggalan fast boat yang sudah dipesannya.

Sopir pariwisata tentu tidak bisa mendua, karena mereka dikunci oleh sistem one day trip. Bagaimana caranya dapat mengantar tamu ke objek wisata, lalu balik ke pelabuhan sesuai dengan jadwal keberangkatan fast boat ke Bali seberang dalam waktu sehari.

Itulah tantangan kekinian sopir pariwisata di NP sekarang. Tantangan ini harus disikapi dengan bijak dan mandiri untuk kelancaran perjalanan. Tentu tidak mudah memang, karena ada sejumlah persoalan yang mengganjal di lapangan.

Pertama, akses jalan. Meskipun jalanan sudah divermak menjadi lebih mulus sekarang, tetapi masih terganjal pada persoalan lebar jalan. Dengan lebar jalan rata-rata kurang lebih 4 m, maka papasan dua mobil tidak terjadi dengan mulus. Harus terjadi penurunan gas kecepatan ke titik rendah dengan memanfaatkan pinggir terluar medan jalan.

Kedua, rata-rata medan ke objek wisata curam dan terjal. Diperlukan waktu ekstra untuk menjangkau objek wisata dan balik ke titik parkir mobil. Ini belum terhitung waktu enjoy tamu untuk menikmati panorama di lokasi.

Ketiga, karakter tamu yang kurang konsisten. Ada beberapa tamu yang tidak disiplin dengan waktu yang sudah disepakati dengan sopir. Ya, mungkin karena terlalu keasyikan menikmati objek wisata sehingga lupa dengan waktu yang sudah disepakati dengan sopir.

Keempat, jumlah mobil yang beroperasi cenderung mengalami peningkatan. Jumlah ini tidak hanya menaikkan tensi kompetisi, tetapi berpengaruh terhadap kelancaran arus lalu lintas di jalanan.

Jika kompleksitas kendala lapangan tersebut tidak diminalisasikan, maka sopir pariwisata tetap saja terjebak dalam lingkaran ngebut yang tak berujung. Ngebut akan dianggap sebagai sebuah solusi. Bahkan, satu-satunya solusi nanti.

Ke depan, tentu berbahaya. Ngebut tidak saja membahayakan penumpang, sopir dan terutama pengguna jalan lain. Karena itu, sistem one day trip mungkin sebaiknya dikurangi. Setidaknya, para tamu dapat menginap minimal semalam agar perjalanan bertamasya tidak uber-uberan (terburu-buru).

Ujung-ujungnya pasti berkaitan dengan biaya. Banyak tamu hendak berkunjung ke NP dengan biaya terbatas. Jika menginap, tentu cost-nya lebih besar. Namun, jika dibandingkan dengan harga keselamatan, sebetulnya tidak menjadi persoalan. Akan tetapi, semua pilihan itu sepenuhnya tergantung kepada pengunjung itu sendiri.

Pengusaha fast boat banyak. Pilihan jadwal trip fast boat banyak. Pengusaha transportasi darat juga merebak di  NP. Kondisi ini menyebabkan pengunjung bebas keluar masuk dari dan ke NP sesuai kemauannya. Kecuali, ada kesepakan (MOU) yang bersifat simbiosis mutualisme antara pengusaha boat, pengusaha transportasi dan pengusaha penginapan.

Itu pun jika pihak yang bersangkutan memiliki visioner yang sama. Visi yang berkaitan dengan kepuasan, kenyamanan, dan keselamatan pengunjung. Modal ini akan menjadi nyawa keberlangsungan pariwisata di NP. Artinya, ngebut dalam jangka panjang akan menurunkan citra pariwisata di NP.

Dalam konteks inilah, isu jalan melingkar di sepanjang pesisir pulau NP menjadi ide visioner. Ide untuk mengurangi kemacetan dan meningkatkan kelancaran arus lalu lintas di NP. Realisasinya sangat didambakan oleh semua masyarakat NP, terutama kalangan sopir pariwisata. Mungkin saja jalan melingkar itu akan mengeluarkan para sopir pariwisata dari lingkaran ngebut di NP. Atau bisa jadi malah memicu sopir bertambah ngebut. Biarkan waktu yang membuktikannya nanti! [T]

Tags: Nusa PenidaPariwisatatransportasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Aliansi Subak sampai Proses Menjaga Kedaulatan Kerajaan Bali: Memandang Batur dari Jendela Sastra

Next Post

Dibuka, Pendaftaran Film Pendek Untuk “Indonesia Raja 2022”

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails
Next Post
Dibuka, Pendaftaran Film Pendek Untuk “Indonesia Raja 2022”

Dibuka, Pendaftaran Film Pendek Untuk "Indonesia Raja 2022"

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian
Panggung

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

by Asmaran Dani
August 16, 2026
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan
Ulas Rupa

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu
Ulas Musik

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

by I Made Kartawan
August 16, 2026
Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar
Pendidikan

Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Udayana tahun 2026 melaksanakan serangkaian program kerja di Desa Sanding, Kecamatan...

by tatkala
August 16, 2026
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang
Khas

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara
Tualang

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital
Pendidikan

Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital

KESEHATAN mental remaja tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan atau sekolah. Keluarga memiliki peran penting dalam mengenali perubahan yang...

by tatkala
August 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah
Khas

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan
Bahasa

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

by I Made Sudiana
August 15, 2026
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz
Esai

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

by Angga Wijaya
August 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co