30 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fenomena Sopir Ngebut di Nusa Penida, Sejumlah Alasan dan Solusi

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
February 9, 2022
in Opini
Fenomena Sopir Ngebut di Nusa Penida, Sejumlah Alasan dan Solusi

Jalanan di Nusa Penida [Foto Youtube]

Perilaku sejumlah sopir di Nusa Penida (NP) sudah lama mendapat sorotan miring baik oleh masyarakat nyata maupun dari para nitizen. Sorotan ini terutama dialamatkan kepada beberapa sopir pariwisata (tentu saja tidak semuanya) yang terlibat “lomba ngebut “ di jalanan. Konon, aksi ngebut ini dilatarbelakangi oleh satu alasan klasik yaitu “mengejar waktu”. Sopir itu takut jika waktu pemberangkatan fast boat (yang di-booking tamu) melewati ambang batas.  

Karena itu, dalam hal ini, ngebut dianggap sebagai solusi. Beberapa sopir pariwisata tancap gas, melaju secepat mungkin—melewati kelok demi kelokan jalan yang cukup sempit di NP. Di atas jalan yang cukup mulus, mereka memacu kendaraannya dan sering melupakan pengguna jalan yang lain.

Kasus penyerempetan bahkan berujung kecelakaan pada pengguna jalan lain, tidak ampuh mengingatkan  beberapa sopir untuk meminalisasikan perilaku ngebutnya. Entah kenapa, ketika membawa tamu, pikiran sopir kembali ke pola semula. Ngebut dan tidak ingin ketinggalan waktu.

Sopir yang suka ngebut itu sepertinya tak mampu melawan egonya. Mereka tunduk dengan kepentingan pribadinya. Sementara, kepentingan orang lain tak sempat mereka pikirkan. Karena itu, jalanan menjadi rasa kavling. Ketika mengantar (balik) tamu ke pelabuhan, jalanan sepertinya menjadi kuasa sejumlah sopir pariwisata. Mereka melaju, menyalip paksa dan bahkan tak jarang mengambil badan jalan jalur lawan arah (keluar lintasan).

Sopir Masa Lalu

Citra “sopir ngebut” di NP bukan muncul ketika pariwisata melejit seperti sekarang. Dari dulu, predikat ini sudah melekat pada sopir di NP (tentu saja tak semuanya). Image ini tidak hanya dilontarkan oleh masyarakat lokal, tetapi justru lebih kuat dihembuskan oleh masyarakat Bali daratan.

Ketika berbicara tentang sopir di NP, mereka pasti teringat satu kata yaitu “ngebut”. Seolah-olah sudah menjadi ikonik. Imbasnya, semua sopir di NP dianggap memiliki perilaku yang sama yakni sukangebut. Padahal, sejatinya tidak demikian.

Klaim “sopir ngebut” ini bermula dari pengalaman langsung. Banyak masyarakat luar (Bali seberang), yang menjadi penumpang, mengalami langsung ketika melakukan perjalanan di NP zaman dulu. Kebanyakan yang merasakan adalah penumpang yang pernah melakukan tirta yatra ke NP. Zaman itu, transportasi darat (angkutan umum) dikuasai oleh mobil colt semi terbuka—mirip angkutan umum pedesaan era 1980-an di Bali pada umumnya.

Bagian atasnya, tertutup oleh atap yang menjulur sepanjang bodi mobil. Kiri-kanannya juga tertutup rapat. Di sela-selanya, terdapat beberapa kaca jendela kecil yang tansparan. Dari kaca inilah, penumpang dapat melihat view sepanjang perjalanan.

Sementara, di belakangnya terbuka tanpa pintu. Hanya ada penghalang kiri-kanan pada bagian bawah tegak lurus dengan jok penumpang—sebagai penghalang bodi penumpang atau barang terutama ketika berada di tanjakan. Tidak ada AC. Namun, angin dapat leluasa masuk dari belakang atau sela-sela kaca jendela yang dibuka pada pinggir kiri-kanan mobil.

Model mobil inilah yang digunakan untuk mengantar para pemedek berkeliling di NP zaman dulu. Para sopir membawa penumpang—melaju dengan kecepatan tinggi di atas jalan aspal yang kasar, sempit dan bergelombang (tidak rata). Dengan genjotan yang kurang elastis, maka penumpang tidak hanya merasakan sensasi kecepatan tetapi sensasi lompat-lompat dan rasa mirip terbang (lepas landas).

Wajar saja, para penumpang merasakan “ngeri-ngeri sedap”. Pasalnya, adonan sensasi itu dianggap sangat berisiko—meskipun dikendalikan oleh sopir yang cakap. Sayangnya,  sopir itu agaknya kurang memahami adonan sensasi ngeri-ngeri sedap tersebut.

Atau jangan-jangan sopir itu sebetulnya menyadari persoalan ini. Namun, mereka menyimpan dengan rapi dalam balutan kepentingan pribadi. Jika sejumlah sopir pariwisata (sekarang) berdalih dikejar waktu (jadwal) pemberangkatan fast boat, lalu apa dalih para sopir dulu untuk melakukan tindakan ngebut?

Pertanyaan ini penting diajukan mengingat rombongan pemedek (dulu) tidak bisa one day trip. Mereka harus menginap (mekemit) di pura, minimal satu malam. Keesokan paginya, baru mereka bisa menyeberang dengan jukung (perahu tradisional). Lalu, mengapa sopir harus ngebut? Ingin diajum (dipuji) sebagai sopir andal dan cakap?

Ah, tentu tidak sebanding dengan risiko dari tindakan ngebut tersebut. Untuk menguak misteri ini, kebetulan saya pernah mengajak rombongan satu kantor melakukan tirta yatra di seputaran NP tahun 2000-an. Trayek Pura yang kami sasar yaitu Pura Puncak Mundi, Goa Giri Putri dan Dalem Ped.

Pura pertama yang kami sasar ialah Pura Puncak Mundi. Turun dari pelabuhan, mobil yang kami tumpangi langsung melaju kencang menuju Puncak Mundi. Sesekali diwarnai dengan teriak-teriakan ekspresi ketakutan pada lintasan medan tertentu. Syukurnya, kami selamat sampai tempat tujuan. Seperti biasa, kami melakukan persembahyangan dan berpikir sopir kami menunggu dengan sabar di area parkir.

Karena itu, ketika selesai sembahyang, kami bergegas menuju parkir-an. Berharap mobil carteran kami parkir di situ. Ternyata tidak ada. Kami mencoba memfokuskan pandangan di antara kerumunan sopir di area parkir. Pun tidak ada. Kondisi ini berlangsung kurang lebih setengah jam lebih. Namun, kami tetap bersabar.

Sekitar hampir 50 menitan, muncullah mobil yang kami tumpangi. Kami langsung naik ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan menuju Pura kedua yaitu Pura Goa Giri Putri. Pura yang letaknya di dalam goa raksasa. Untuk mencapai Pura ini, kami harus menaiki beberapa anak tangga, melewati mulut goa yang sempit—kemudian disambut kelebat sayap kelelewar dan formasi lampu-lampu yang estetik.

Kami melakukan persembahan dengan khusuk dari satu pelinggih ke pelinggih yang lainnya hingga ujung goa yakni pelinggih Dewi Kwan Im. Persembahyang usai. Kami bergegas menuruni tangga keluar, hendak melanjutkan ke pura Dalem Ped. Namun, apa daya. Kami harus mencari-cari hingga berjam-jam mobil yang kami tumpangi—tetapi tidak ada di area parkir.

Akhirnya, kami arahkan pandangan ke arah laut luas. Kami tetap sabar menunggu sambil membeli minuman dan jajan di sekitar area parkir. Semula pikiran kami positif saja, walaupun kami merasa ditelantarkan. Namun, obrolan segelintir sopir yang lainnya, membangunkan pikiran negatif kami.

Tak sengaja, saya mendengar obrolan sopir dalam dialek Nusa. Mereka membicarakan soal rombongan yang mereka antar. Poinnya, dalam satu hari mereka dapat membawa lebih dari satu rombongan. Dari sinilah, kami baru menyadari bahwa kami termasuk dalam target kasus yang dibicarakan itu.

Belum bulat kami menegatifkan pikiran, datanglah sopir kami dengan laju cepat dan tergesa-gesa. Kami enggan bertanya. Kami langsung naik dan meluncur menuju Pura Dalem Ped.

Sambil menahan goncangan dalam mobil, saya berpikir. “Inikah motif di balik kebut-kebutan sopir di NP?” gumamku. Mereka memaksimalkan waktu dengan cara mengambil lebih dari satu rombongan. Cara ini memang terkesan merugikan atau menelantarkan klien (penumpang). Namun, jika hanya mengantar satu rombongan mungkin mereka merasa rugi.

Banyak waktu tersisa jika hanya menunggu dan mengantar dengan taat satu rombongan saja. Menunggu pemedek sembahyang berjam-jam, dapat diisi dengan mengantar rombongan lain. Ya, karena jarak antara Pura satu dengan Pura lainnya tidak begitu jauh. Mungkin begitu hitung-hitungan para sopir.

Sebaliknya, pemedek/ penumpang jelas merasa dirugikan. Pasalnya, mereka merasa men-carter mobil tersebut. Namun, kenyataannya mereka diperlakukan seperti penumpang biasa. Ditaruh di tempat tujuan, kemudian para sopir yang memiliki peluang “mendua” menjemput rombongan lain.

Wajar saja, ada sopir bermain di zona kebut-kebutan. Mereka berusaha meringkas perjalanan sesingkat atau secepat mungkin guna mendapatkan rombongan lain, terutama ketika musim pemedek ramai.

Ngebut Beda Motif

Hingga sekarang, kebiasaan ngebut dari beberapa sopir di NP masih berlanjut. Alasannya sama yaitu “mengejar waktu” atau “meringkas perjalanan” (karena waktu tidak bisa dikejar). Namun, varian motifnya berbeda. Jika sopir pemedek (dulu) melakukan tindakan ngebut untuk meringkas perjalanan agar dapat “mendua”, maka sopir pariwisata (sekarang) berdalih agar para kliennya tidak ketinggalan fast boat yang sudah dipesannya.

Sopir pariwisata tentu tidak bisa mendua, karena mereka dikunci oleh sistem one day trip. Bagaimana caranya dapat mengantar tamu ke objek wisata, lalu balik ke pelabuhan sesuai dengan jadwal keberangkatan fast boat ke Bali seberang dalam waktu sehari.

Itulah tantangan kekinian sopir pariwisata di NP sekarang. Tantangan ini harus disikapi dengan bijak dan mandiri untuk kelancaran perjalanan. Tentu tidak mudah memang, karena ada sejumlah persoalan yang mengganjal di lapangan.

Pertama, akses jalan. Meskipun jalanan sudah divermak menjadi lebih mulus sekarang, tetapi masih terganjal pada persoalan lebar jalan. Dengan lebar jalan rata-rata kurang lebih 4 m, maka papasan dua mobil tidak terjadi dengan mulus. Harus terjadi penurunan gas kecepatan ke titik rendah dengan memanfaatkan pinggir terluar medan jalan.

Kedua, rata-rata medan ke objek wisata curam dan terjal. Diperlukan waktu ekstra untuk menjangkau objek wisata dan balik ke titik parkir mobil. Ini belum terhitung waktu enjoy tamu untuk menikmati panorama di lokasi.

Ketiga, karakter tamu yang kurang konsisten. Ada beberapa tamu yang tidak disiplin dengan waktu yang sudah disepakati dengan sopir. Ya, mungkin karena terlalu keasyikan menikmati objek wisata sehingga lupa dengan waktu yang sudah disepakati dengan sopir.

Keempat, jumlah mobil yang beroperasi cenderung mengalami peningkatan. Jumlah ini tidak hanya menaikkan tensi kompetisi, tetapi berpengaruh terhadap kelancaran arus lalu lintas di jalanan.

Jika kompleksitas kendala lapangan tersebut tidak diminalisasikan, maka sopir pariwisata tetap saja terjebak dalam lingkaran ngebut yang tak berujung. Ngebut akan dianggap sebagai sebuah solusi. Bahkan, satu-satunya solusi nanti.

Ke depan, tentu berbahaya. Ngebut tidak saja membahayakan penumpang, sopir dan terutama pengguna jalan lain. Karena itu, sistem one day trip mungkin sebaiknya dikurangi. Setidaknya, para tamu dapat menginap minimal semalam agar perjalanan bertamasya tidak uber-uberan (terburu-buru).

Ujung-ujungnya pasti berkaitan dengan biaya. Banyak tamu hendak berkunjung ke NP dengan biaya terbatas. Jika menginap, tentu cost-nya lebih besar. Namun, jika dibandingkan dengan harga keselamatan, sebetulnya tidak menjadi persoalan. Akan tetapi, semua pilihan itu sepenuhnya tergantung kepada pengunjung itu sendiri.

Pengusaha fast boat banyak. Pilihan jadwal trip fast boat banyak. Pengusaha transportasi darat juga merebak di  NP. Kondisi ini menyebabkan pengunjung bebas keluar masuk dari dan ke NP sesuai kemauannya. Kecuali, ada kesepakan (MOU) yang bersifat simbiosis mutualisme antara pengusaha boat, pengusaha transportasi dan pengusaha penginapan.

Itu pun jika pihak yang bersangkutan memiliki visioner yang sama. Visi yang berkaitan dengan kepuasan, kenyamanan, dan keselamatan pengunjung. Modal ini akan menjadi nyawa keberlangsungan pariwisata di NP. Artinya, ngebut dalam jangka panjang akan menurunkan citra pariwisata di NP.

Dalam konteks inilah, isu jalan melingkar di sepanjang pesisir pulau NP menjadi ide visioner. Ide untuk mengurangi kemacetan dan meningkatkan kelancaran arus lalu lintas di NP. Realisasinya sangat didambakan oleh semua masyarakat NP, terutama kalangan sopir pariwisata. Mungkin saja jalan melingkar itu akan mengeluarkan para sopir pariwisata dari lingkaran ngebut di NP. Atau bisa jadi malah memicu sopir bertambah ngebut. Biarkan waktu yang membuktikannya nanti! [T]

Tags: Nusa PenidaPariwisatatransportasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Aliansi Subak sampai Proses Menjaga Kedaulatan Kerajaan Bali: Memandang Batur dari Jendela Sastra

Next Post

Dibuka, Pendaftaran Film Pendek Untuk “Indonesia Raja 2022”

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails

Notaris di Ujung Integritas: Ketika Etika Gagal Menyelamatkan Moral

by I Made Pria Dharsana
April 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Kepercayaan publik terhadap notaris tidak runtuh dalam satu peristiwa besar, ia retak perlahan, dari satu kompromi kecil ke kompromi berikutnya....

Read moreDetails

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

by I Made Pria Dharsana
April 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital telah mengguncang hampir seluruh praktik hukum di Indonesia, termasuk jabatan notaris. Konsep cybernotary kini bukan sekadar wacana akademik,...

Read moreDetails

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

by I Made Pria Dharsana
March 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Ada satu pertanyaan yang jarang disentuh secara jujur dalam praktik perbankan: apakah kreditur selalu berada dalam posisi beritikad baik, bahkan...

Read moreDetails
Next Post
Dibuka, Pendaftaran Film Pendek Untuk “Indonesia Raja 2022”

Dibuka, Pendaftaran Film Pendek Untuk "Indonesia Raja 2022"

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran
Kesehatan

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran

SUASANA pagi pada Kamis, 30 April 2026, di Wantilan Kuari, Jimbaran, terasa berbeda. Bukan sekadar hiruk-pikuk aktivitas yang terdengar sejak...

by Nyoman Budarsana
April 30, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat
Esai

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  
Panggung

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

by Sugi Lanus
April 30, 2026
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik
Tualang

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

by Chusmeru
April 30, 2026
Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia
Bahasa

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

by I Made Sudiana
April 29, 2026
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025
Budaya

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles
Esai

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak
Pop

“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak

PADA banyak lagu tentang perselingkuhan, yang kita dengar biasanya hanya dua suara, mereka yang terlibat, mereka yang saling menyakiti. Jarang...

by Angga Wijaya
April 29, 2026
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro
Panggung

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026
Khas

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co