2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Istimewanya Pohon Bunut di Nusa Penida: Jadi Benteng Pakan Sapi, Peneduh, Lumbung Hidup, juga Ruang Sosial

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
September 12, 2021
in Esai
Istimewanya Pohon Bunut di Nusa Penida: Jadi Benteng Pakan Sapi, Peneduh, Lumbung Hidup, juga Ruang Sosial

Pohon bunut di Nusa Penida [Foto: Serawan]

Pohon bunut di Nusa Penida (NP) tergolong tumbuhan istimewa. Tidak hanya menjadi benteng pakan sapi (saat musim kemarau panjang), bunut juga digunakan sebagai peneduh, lumbung hidup hingga tempat aktivitas sosial.

Karena itu, hampir semua peternak sapi di NP memiliki pohon bunut. Bunut dapat digolongkan sebagai tumbuhan spesialis untuk menghadapi situasi paceklik pakan sapi saat musim kemarau panjang.

Tanaman yang tergolong family Ficus ini sangat tangguh menghadapi karakter geografi NP beserta siklus kemarau panjangnya. Ketika pohon-pohon lain meranggas pada musim kemarau, maka bunut tetap tegar, tak gentar sengatan panas, dan tetap rindang.

Sebagai keluarga Ficus, pohon bunut memiliki kemiripan dengan pohon beringin. Salah satunya ialah memiliki akar gantung. Selain memperkokoh bodi pohon, akar gantung juga berfungsi untuk menyerap uap air dan gas CO2 dari udara (sebagai proses dan siklus respirasi). Jika akar tumbuh hingga masuk ke dalam tanah, maka dapat menyerap air maupun garam-garam mineral.

Kelebihan tersebut mungkin menyebabkan pohon bunut dapat menjaga kelembapan, membantu pertukaran udara, propagasi, stabilitas, dan nutrisi—sehingga pohon bunut tetap stabil menjaga kerindangannya.

Kerindangan pohon bunut inilah yang dimanfaatkan oleh para peternak NP dalam menyelamatkan sapi-sapinya dari ancaman krisis pakan pada musim kemarau. Daun bunut yang bergetah dijadikan pakan utama (wajib) sehari-hari meskipun tidak sedap di lidah para sapi. Apabila ketersediaan pakan hijauan melimpah akibat musim hujan, maka daun bunut tidak mau dimakan oleh sapi.

Hingga kini sapi-sapi di NP murni mengandalkan pakanan hijauan. Pakanan hijauan ini berasal dari rumput-rumput liar, daun jagung, daun pisang, gamal, daun singkong, daun jati, bunut dan lain sebagainya. Intinya, pakanan sapi murni sangat bergantung pada ketersediaan di alam. Jarang bahkan tidak pernah para peternak NP memberikan pakanan konsentrat (termasuk pakan tambahan) kepada sapi-sapinya.

Pemberian daun bunut kepada sapi terintegrasi dengan rantingnya. Biasanya, sapi-sapi akan memakan daun beserta lapisan kulit rantingnya. Sisanya ialah kayu ranting yang terkelupas putih bersih. Kondisi ini menyebabkan kayu ranting menjadi cepat kering. Kayu ranting inilah yangi dimanfaatkan sebagai kayu bakar.

Selanjutnya, pohon bunut juga menjadi peneduh untuk ternak babi dan termasuk sapi. Peternak babi atau sapi di NP jarang membuat kandang khusus. Mereka biasanya mengikatkan hewan ternaknya langsung di bawah pohon rindang seperti bunut.

Pohon bunut juga memiliki buah yang menjadi lumbung hidup terutama bagi burung, serangga dan kelelawar. Ketika buah bunut matang, yang dicirikan dengan warna merah kehitaman (merah tua), pohon bunut menjadi sarang burung punan, pleci dan cilalongan.

Burung punan biasanya berpesta buah bunut secara bergerombol. Burung ini datang dalam jumlah puluhan bahkan ratusan. Mereka berpesta secara sosial. Karena itu, kehadiran burung ini ditandai dengan riuh bunyi dari kicau dan kepakan-kepakan sayapnya ketika berpindah atau berebut buah bunut.

Kepakan-kepakan punan semakin riuh terdengar ketika meninggalkan pesta buah bunut. Sebagai tipe burung komunal, punan selalu beraktivitas secara bergerombol. Jika ada satu atau dua ekor pergi meninggalkan pesta, maka yang lainnya otomatis terbang serentak, ikut dalam kesatuan rombongan.

Sedangkan, pleci dan cilalongan memakan buah bunut secara sporadis. Jumlahnya tidak sebanyak burung punan. Kedua burung ini bukan tipe burung komunal (bergerombol). Mereka bisa datang sendirian atau dengan beberapa ekor teman lainnya.

Di sela-sela pesta para burung, ada beberapa kupu-kupu yang ikut menikmati buah bunut yang matang, hasil robekan paruh burung-burung. Sebab, kupu-kupu tidak bisa menembus daging buah bunut yang cukup tebal.

Tidak hanya pagi, siang dan sore hari, riuh satwa juga berlanjut hingga malam hari. Ketika burung-burung dan kupu-kupu beristirahat, giliran hewan nokturnal kelelawar memulai pestanya. Sebelum berpesta pada malam hari, kelelawar biasanya mulai survei, terbang mondar-mandir mengelilingan pohon bunut menjelang petang hari.

Pohon bunut muda di Nusa Penida [Foto: Serawan]

Dari hasil pesta para burung dan kelelawar mengakibatkan beberapa buah bunut jatuh ke tanah baik dalam keadaan utuh, seperempat utuh, setengah utuh bahkan ada dalam rupa serpihan-serpihan buah kecil. Sisa-sisa pesta buah ini juga menjadi incaran binatang-binatang lain di bawah seperti ulat bulu dan serangga lainnya.

Fungsi lainnya, pohon bunut juga menjadi tempat bersarangnya serangga insekta seperti semut semaluh dan semangah. Berbeda dengan semaluh, sarang semangah lebih mudah diidentifikasikan. Sarangnyaberbentuk mirip bola, gabungan beberapa daun dengan sejenis serat laba-laba, karya cipta sosial para semangah.

Jika pohon bunut menjadi sarang semangah, maka dipastikan ranting dan daunnya dipangkas belakangan. Biasanya, para peternak memangkas ranting pohon bunut yang tidak dihuni oleh bangsa semut. Kalau toh dihuni semaluh, masih dikategorikan aman bagi peternak karena insekta ini tidak menggigit orang.

Jika pohon bunut dihuni oleh semangah, maka peternak sapi harus berpikir dan bertindak serba cepat. Mulai dari memanjat pohon induknya, cabang pohonnya hingga mengekskusi (memotong) ranting pohon bunut. Eksekusi yang cepat ini berguna untuk meminalisasi rasa sakit akibat gigitan semangah.

Sebetulnya, ada cara tradisional dalam meminimalisasikan gigitan semangah. Pemanjat pohon bunut biasanya menggunakan aon (abu dari hasil kayu bakar). Sebelum memanjat, para pemanjat melumuri badannya dengan aon terutama pada bagian kaki dan tangan. Karena bagian organ inilah yang paling mudah diserang, sebelum bagian lainnya.

Karena itu, dibutuhkan konsentrasi penuh ketika memotong ranting pohon bunut yang berisi semangah. Konsentrasi untuk cepat memanjat, cepat memangkas ranting, menahan gigitan semangah, dan konsentrasi bertahan di pohon. Kalau tidak fokus, maka hanya beberapa kali tebasan—pemanjat biasanya segera turun akibat tidak kuat menahan gigitan semangah.

Sakit dan pedasnya terasa jika semangah menggigit secara masif tubuh kita. Dalam kondisi seperti ini, konsentrasi mendadak ambyar. Hanya ada satu pikiran yang terlintas yaitu turun dari atas pohon bunut sesegera mungkin. Ketika sudah mengginjakkan kaki di atas tanah, maka kedua tangan kita spontan mengusap dengan kasar semangah yang menempel pada tubuh untuk mengurangi rasa sakit.

Pohon bunut juga dijadikan sarang bertelur oleh jenis burung tertentu, misalnya becica, burung nagi, cilalongan, perit dan lain sebagainya. Pada beberapa pohon bunut kadang ada yang memiliki rongga. Ada lubang pada bodi pohon. Rongga ini sangat disukai oleh burung becica sebagai tempat untuk bertelur.

Di sela-sela ranting dan rimbun daunnya juga banyak ditemukan sebun (sarang) burung seperti perit, cilalongan, crucuk, tekukur, perkututdan yang paling antik yaitu sebun burung nagi. Sebutan nagi diambil dari kata undagi (sebutan arsitek tradisional Bali). Masyarakat di kampung saya menyebutnya dengan burung nagi, mungkin karena desain sebunnya dianggap unik, menyerupai kantong yang menggantung.

Ruang Aktivitas Sosial

Kerindangan pohon bunut juga diberdayakan sebagai ruang aktivitas sosial di NP. Waktu saya kecil (tahun 80-an), ruang di bawah pohon bunut dijadikan tempat bermain untuk anak-anak. Di bawah rindang pohon bunut, saya dan teman-teman biasa menggelar permainan tradisional seperti gala-gala, metembing, meciklak, gajig-gajigan, main kelereng, petak umpet dan lain sebagainya.

Kemudian, ruang bawah bunut juga biasa digunakan untuk aktivitas adat seperti nampah, mebat, ngelawar dan nyate. Jika ada upacara adat pernikahan dan tiga bulan bayi misalnya, maka masyarakat akan menggelar pesta dan ritual adat. Pada saat inilah masyarakat melakukan potong babi dan ayam.

Dagingnya dipotong-potong, dibersihkan dan diolah menjadi kuliner khas Bali seperti lawar, sate, jukut ares dan komoh. Semua proses pengolahan kuliner ini biasanya memanfaatkan ruang rindang pohon bunut.

Kerindangan pohon bunut juga menjadi ruang hiburan. Misalnya tempat bermain kartu seperti ceki, spirit, dan dom-an pada hari-hari tertentu. Pun digunakan sebagai tes tarung ayam kurungan (tanpa taji). Seringkali para pemelihara ayam aduan juga memanfaatkan pohon bunut sebagai tempat mekipu ayam peliharaannya. Alas sangkar bawahnya dilepas, kemudian ayam aduannya siap mekipu, seolah-olah merayakan kebebasannya.

Aktivitas menumbuk jagung juga memanfaatkan kerindangan pohon bunut. Beberapa masyarakat NP menaruh lesung dan lu di bawah pohon bunut. Pagi atau sore hari, ibu-ibu atau para gadis menumbuk jagung untuk menghasilkan kelanan yang siap diolah menjadi nasi jagung.

Aktivitas sosial lainnya ialah kegiatan “mekutu”—menangkap kutu di sela-sela rambut kepala. Kegiatan ini hampir setiap hari dijumpai di bawah kerindangan pohon bunut. Pelakunya dari kalangan ibu-ibu. Aktivitas mekutu dilakukan seusai mengemban tugas domestik dan tugas tambahan lainnya. Waktunya bisa ditebak yakni siang hari.

Para ibu menghimpun diri di bawah pohon bunut dengan keluarga sekitar. Mereka duduk berpasangan. Pencari kutu duduk di belakang, menghadap atas kulit kepala dengan posisi duduk lebih tinggi daripada yang dicarikan kutu.  

Tahap persiapan dimulai dengan membuka pusungan atau ikat rambut hingga lepas terburai. Dari sinilah pencarian kutu dimulai. Jari-jari tangan mulai beraksi menyibakkan helai demi helai rambut. Siapa tahu ada kutu atau telurnya yang menempel. Atau bisa saja tiba-tiba ada kutu melintas di sela-sela pangkal helai rambut, di atas kulit kepala.

Dalam mekutu, ketajaman mata dan kecakapan mingseg sangat diperlukan. Begitu kutu ditangkap, maka kedua punggung kuku ibu jari spontan menjepit kutu atau telur kutu hingga hancur.

Aktivitas mekutu berlangsung santai, penuh obrolan ringan. Seringkali obrolan itu kental dengan gosip. Bahkan tanpa gosip, mekutu menjadi kurang asyik. Jadi tidak aneh jika waktu mekutu bisa berlangsung hingga sore hari. Tentu bukan karena tangkapan kutunya yang banyak. Namun, topik gosipnya yang menarik, mengalir dan “genit” seperti rambut  kutuan.

Meskipun memiliki peran istimewa, bukan berarti pohon bunut mendapat perlakuan yang setimpal di NP. Tidak ada upaya sengaja dari masyarakat untuk menanam apalagi merawatnya. Pohon bunut tumbuh liar dari biji buah melalui perantara hewan seperti burung atau kelelawar.

Karena itu, pohon bunut bisa tumbuh di mana saja. Misalnya, pada tanah yang tebal, tipis, di atas bebatuan bahkan di atas pohon sendiri atau pohon tumbuhan lainnya.

Jadi, bukan hanya istimewa karena perannya melainkan juga istimewa dalam bertumbuh—meski tidak pernah mendapat perlakuan istimewa. Sebuah pelajaran istimewa dari pohon bunut yang tak diistimewakan. [T]

___

BACA artikel lain tentang Nusa Penida dari penulis Ketut Serawan

Tags: floraNusa PenidaPariwisatapertanianpeternakan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Diksi Fisika pada Pesan-pesan Cinta | Ulasan Buku Puisi “Pemuda Bertas Selempang”

Next Post

Gede Suryantara dari Desa Les | Menganyam Bambu, Menganyam Hidup, di Pondok Kecil Tepi Hutan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Gede Suryantara dari Desa Les | Menganyam Bambu, Menganyam Hidup, di Pondok Kecil Tepi Hutan

Gede Suryantara dari Desa Les | Menganyam Bambu, Menganyam Hidup, di Pondok Kecil Tepi Hutan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co