3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Optimalisasi “Nation Branding” Melalui Pariwisata dalam Dinamika Kepentingan Nasional dan Interdependensi Global

Muhammad Yamin by Muhammad Yamin
November 22, 2024
in Esai
Tantangan Pariwisata Indonesia: Daya Saing Global dan Keberlanjutan Lokal

Muhammad Yamin

DI tengah konstelasi global yang semakin kompetitif, nation branding menjadi instrumen strategis bagi negara-negara dalam membangun dan mempertahankan posisi mereka di kancah internasional. Melalui pariwisata sebagai salah satu kanal utamanya, nation branding tidak lagi sekadar upaya pencitraan sederhana, melainkan telah bertransformasi menjadi perangkat vital dalam mewujudkan kepentingan nasional di tengah realitas interdependensi global.

Fenomena ini menjadi semakin menarik ketika kita menyaksikan bagaimana negara-negara seperti Selandia Baru, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab berhasil membangun citra global yang kuat melalui strategi nation branding yang terintegrasi dengan sektor pariwisata mereka. Selandia Baru, misalnya, dengan kampanye “100% Pure New Zealand”-nya, tidak hanya berhasil meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga memperkuat posisi diplomatik dan daya tawar ekonominya di kawasan Asia-Pasifik.

Korea Selatan, melalui gelombang Hallyu atau Korean Wave, telah memadukan unsur budaya pop dengan pariwisata untuk menciptakan fenomena global yang memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian nasional. Sementara Dubai, sebagai bagian dari UEA, telah mentransformasi dirinya dari sekadar kota gurun menjadi destinasi wisata luxury global yang menjadi benchmark bagi kota-kota modern di kawasan Timur Tengah.

Kesuksesan ini menunjukkan bahwa nation branding bukan sekadar exercise dalam pemasaran destinasi wisata, melainkan sebuah strategi kompleks yang melibatkan berbagai dimensi kepentingan nasional. Dalam konteks ekonomi politik internasional, nation branding melalui pariwisata menjadi arena dimana soft power dan hard power berinteraksi, menciptakan dinamika yang menarik antara upaya membangun pengaruh kultural dengan pencapaian target-target ekonomi yang terukur.

Namun, tidak semua upaya nation branding melalui pariwisata berakhir dengan kesuksesan. Beberapa negara terjebak dalam pendekatan yang terlalu simplisistik, menganggap bahwa serangkaian kampanye iklan dan tagline yang catchy sudah cukup untuk membangun reputasi global yang kuat.

Kegagalan ini sering kali berakar dari ketidakmampuan untuk memahami bahwa nation branding adalah proses jangka panjang yang membutuhkan koordinasi kompleks antara berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat hingga pelaku industri di tingkat akar rumput.

Di sinilah urgensi untuk memahami dan mengoptimalkan hubungan antara nation branding dan pariwisata menjadi semakin relevan. Dalam lanskap global yang semakin terhubung dan kompetitif, keberhasilan sebuah negara dalam memproyeksikan citranya ke dunia internasional akan sangat bergantung pada kemampuannya untuk mengintegrasikan berbagai elemen nation branding – termasuk pariwisata – ke dalam sebuah narasi yang koheren dan kredibel.

Pariwisata sebagai Katalis Nation Branding

Sektor pariwisata memiliki karakteristik unik yang membuatnya menjadi instrumen ideal dalam nation branding. Pertama, ia mampu menciptakan pengalaman langsung bagi pengunjung internasional, memberikan kesempatan bagi sebuah negara untuk mendemonstrasikan nilai-nilai dan keunggulannya secara nyata.

Kedua, multiplier effect yang dihasilkan oleh sektor pariwisata mencakup tidak hanya dimensi ekonomi, tetapi juga sosial dan kultural. Singapura memberikan contoh yang menarik tentang bagaimana pariwisata dapat menjadi katalis yang efektif dalam nation branding.

Transformasi negara kota ini dari “garden city” menjadi “city in a garden” bukan sekadar perubahan slogan, melainkan manifestasi dari visi strategis yang mengintegrasikan pembangunan urban dengan daya tarik wisata. Gardens by the Bay, misalnya, bukan hanya menjadi ikon pariwisata tetapi juga simbol komitmen Singapura terhadap pembangunan berkelanjutan dan inovasi teknologi.

Jepang juga mendemonstrasikan bagaimana pariwisata dapat memperkuat positioning sebuah negara di kancah global. Melalui inisiatif “Cool Japan”, negeri sakura ini berhasil memadukan elemen tradisional dengan modernitas, menciptakan narasi yang menarik bagi wisatawan internasional. Program ini tidak hanya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga memperkuat soft power Jepang melalui ekspor budaya pop dan kuliner.

Namun, efektivitas pariwisata dalam nation branding sangat bergantung pada koherensi antara citra yang diproyeksikan dengan realitas di lapangan. Kasus Yunani pasca krisis ekonomi 2008 menunjukkan bagaimana ketidaksesuaian antara ekspektasi yang dibangkitkan melalui kampanye pemasaran dengan pengalaman aktual wisatawan dapat berakibat fatal bagi kredibilitas nation brand secara keseluruhan. Negara ini harus bekerja ekstra keras untuk memulihkan citranya sebagai destinasi wisata premium Mediterania.

Lebih jauh lagi, peran pariwisata sebagai katalis nation branding semakin diperkuat oleh fenomena media sosial dan user-generated content. Setiap wisatawan kini berpotensi menjadi “brand ambassador” informal yang dapat memperkuat atau justru melemahkan nation brand sebuah negara. Vietnam, misalnya, mengalami lonjakan popularitas yang signifikan sebagai destinasi wisata kuliner setelah Anthony Bourdain dan Barack Obama menikmati Phở di sebuah warung sederhana di Hanoi – sebuah momen yang viral di media sosial dan mengubah persepsi global tentang Vietnam.

Di sisi lain, tantangan baru muncul ketika pariwisata massal mulai mengancam autentisitas dan keberlanjutan destinasi. Venesia, Barcelona, dan Bali adalah contoh-contoh destinasi yang menghadapi dilema antara manfaat ekonomi pariwisata dengan kebutuhan untuk menjaga keseimbangan sosial dan lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa peran pariwisata sebagai katalis nation branding harus dikelola dengan hati-hati untuk menghindari dampak kontraproduktif jangka panjang.

Dalam konteks ini, konsep “smart tourism” menjadi semakin relevan. Pendekatan ini mengintegrasikan teknologi digital, keberlanjutan lingkungan, dan pelestarian budaya untuk menciptakan pengalaman wisata yang lebih bermakna. Estonia, misalnya, berhasil memposisikan diri sebagai “e-nation” melalui integrasi teknologi digital dalam layanan publik dan pariwisata, menciptakan diferensiasi yang unik dalam persaingan nation brand global.

Lebih lanjut, pandemi COVID-19 telah memaksa banyak negara untuk me-reimajinasi peran pariwisata dalam nation branding mereka. Selandia Baru, misalnya, berhasil memperkuat citranya sebagai negara yang mengutamakan kesehatan dan keselamatan publik melalui penanganan pandemi yang efektif, sekaligus mempertahankan daya tarik wisatanya melalui kampanye virtual yang inovatif.

Pengalaman berbagai negara ini menunjukkan bahwa pariwisata, ketika dikelola dengan tepat, dapat menjadi katalis yang powerful dalam nation branding. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada kemampuan untuk menciptakan sinergi antara berbagai pemangku kepentingan, memastikan autentisitas pengalaman wisata, dan mengadaptasi strategi sesuai dengan perubahan dinamika global.

Kepentingan Nasional versus Tuntutan Global

Dinamika yang menarik muncul ketika negara-negara berupaya menyeimbangkan kepentingan nasional mereka dengan tuntutan pasar global dalam konteks nation branding melalui pariwisata. Di satu sisi, setiap negara memiliki agenda spesifik yang ingin dicapai melalui nation branding mereka – mulai dari peningkatan investasi asing hingga penguatan pengaruh diplomatik. Di sisi lain, karakteristik pasar global yang semakin terinterkoneksi menuntut adaptasi dan kompromi terhadap standar-standar internasional.

Kasus Bhutan memberikan contoh menarik tentang bagaimana sebuah negara berupaya mempertahankan kepentingan nasionalnya di tengah tekanan globalisasi. Melalui kebijakan “High Value, Low Impact Tourism”, Bhutan secara sadar membatasi jumlah wisatawan dengan menetapkan tarif kunjungan yang tinggi.

Kebijakan ini, meskipun berpotensi membatasi pendapatan dari sektor pariwisata, sejalan dengan prioritas nasional Bhutan untuk melestarikan budaya dan lingkungannya. Strategi ini justru memperkuat positioning Bhutan sebagai destinasi eksklusif yang menawarkan pengalaman unik.

Sebaliknya, Thailand mengambil pendekatan yang berbeda dengan membuka diri seluas-luasnya terhadap pariwisata massal. Strategi ini berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi yang signifikan, namun juga membawa tantangan dalam hal preservasi budaya dan dampak sosial. “Amazing Thailand” sebagai nation brand harus terus dinegosiasikan antara tuntutan wisatawan global untuk mendapatkan pengalaman autentik dengan kebutuhan untuk mengemas budaya Thai dalam format yang mudah dikonsumsi pasar internasional.

Fenomena ini menciptakan dilema tersendiri dalam konteks ekonomi politik global. Bagaimana sebuah negara dapat mempertahankan keunikan dan otentisitas lokalnya – yang justru menjadi daya tarik utama dalam pariwisata – sambil tetap memenuhi ekspektasi wisatawan global yang semakin sophisticated? Arab Saudi, misalnya, menghadapi tantangan signifikan dalam upayanya membuka sektor pariwisata sambil tetap mempertahankan nilai-nilai konservatif yang menjadi bagian integral dari identitas nasionalnya.

Maldives menawarkan contoh lain tentang kompleksitas menyeimbangkan kepentingan nasional dengan tuntutan global. Sebagai negara yang sangat bergantung pada pariwisata, Maldives harus menghadapi realitas perubahan iklim yang mengancam keberadaan fisik pulau-pulaunya. Nation branding-nya kini harus mengintegrasikan narasi tentang keberlanjutan lingkungan, sambil tetap mempertahankan citranya sebagai destinasi wisata luxury.

Di level yang lebih luas, persaingan antar negara dalam menarik wisatawan global semakin intensif. China, misalnya, berinvestasi besar-besaran dalam infrastruktur pariwisata dan kampanye nation branding untuk menggeser persepsi global dari “workshop of the world” menjadi destinasi budaya dan heritage yang menarik. Namun, upaya ini harus berhadapan dengan realitas politik internasional dan persepsi global tentang China yang tidak selalu positif.

Tantangan serupa dihadapi oleh negara-negara Timur Tengah seperti Qatar dan UEA yang berupaya memposisikan diri sebagai hub pariwisata global. Mereka harus menyeimbangkan ambisi modernisasi dengan ekspektasi wisatawan akan “eksotisme” Timur Tengah, sambil tetap mempertahankan nilai-nilai kultural dan religius yang fundamental bagi identitas nasional mereka.

Dalam konteks ini, teknologi digital memberikan tantangan sekaligus peluang baru. Platform media sosial dan review sites seperti TripAdvisor telah menciptakan transparansi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam industri pariwisata. Setiap negara kini harus lebih berhati-hati dalam menyeimbangkan proyeksi citra yang diinginkan dengan realitas pengalaman wisatawan di lapangan.

Akhirnya, pandemi COVID-19 telah menambahkan dimensi baru dalam dinamika kepentingan nasional versus tuntutan global. Negara-negara harus menyeimbangkan kebutuhan untuk memulihkan sektor pariwisata dengan imperatif kesehatan publik. New Zealand, misalnya, berhasil memperkuat nation brandnya sebagai negara yang mengutamakan keselamatan warganya, meskipun hal ini berarti menutup perbatasannya dari wisatawan internasional untuk waktu yang cukup lama.

Pengalaman berbagai negara ini menunjukkan bahwa keberhasilan nation branding melalui pariwisata terletak pada kemampuan untuk menciptakan sintesis yang cerdas antara kepentingan nasional dengan tuntutan global. Hal ini membutuhkan pendekatan yang fleksibel namun tetap berpegang pada nilai-nilai inti yang menjadi identitas nasional.

Penutup

Optimalisasi nation branding melalui pariwisata telah menjadi arena kontestasi yang kompleks dalam dinamika ekonomi politik global kontemporer. Di satu sisi, ia menawarkan peluang bagi negara-negara untuk memproyeksikan pengaruh dan membangun daya tawar dalam kancah internasional.

 Di sisi lain, tekanan globalisasi dan interdependensi ekonomi menciptakan dilema antara mempertahankan otentisitas dengan kebutuhan untuk beradaptasi dengan standar global. Fenomena ini menunjukkan bahwa nation branding bukan sekadar instrumen pemasaran, melainkan manifestasi dari pertarungan kepentingan yang lebih luas dalam lanskap geopolitik dan geoekonomi kontemporer.

Pengalaman berbagai negara, dari Bhutan hingga Uni Emirat Arab, dari Selandia Baru hingga Korea Selatan, mendemonstrasikan bahwa keberhasilan nation branding melalui pariwisata terletak pada kemampuan untuk menciptakan narasi yang autentik namun adaptif terhadap perubahan global.

 Namun, lebih dari itu, kesuksesan ini bergantung pada koherensi antara citra yang diproyeksikan dengan realitas di lapangan, serta kemampuan untuk mengintegrasikan berbagai kepentingan stakeholder dalam kerangka strategis yang berkelanjutan. Pandemi COVID-19 telah semakin menggarisbawahi pentingnya fleksibilitas dan resiliensi dalam strategi nation branding.

Menatap ke depan, nation branding melalui pariwisata akan semakin relevan sebagai instrumen soft power dalam persaingan global yang semakin intens. Namun, kesuksesannya akan sangat ditentukan oleh kemampuan negara untuk mengelola tensi antara tuntutan pasar global dengan imperatif pelestarian nilai-nilai lokal.

Dalam konteks ini, diperlukan pendekatan yang lebih sophisticated yang tidak hanya fokus pada pemasaran destinasi, tetapi juga mempertimbangkan implikasi lebih luas terhadap kedaulatan budaya, keberlanjutan lingkungan, dan keadilan sosial. Hanya dengan demikian, nation branding melalui pariwisata dapat menjadi katalis yang efektif bagi pencapaian kepentingan nasional dalam kerangka interdependensi global yang semakin kompleks.[T]

BACA artikel lain dari penulis MUHAMMAD YAMIN

Membedah Keunggulan Komparatif: Kunci Sukses Pariwisata Global di Era Modern
Tantangan Pariwisata Indonesia: Daya Saing Global dan Keberlanjutan Lokal
Menimbang Dana Abadi Pariwisata
Glamping, Staycation, Instagrammable, Babymoon: Leksikon Baru Dalam Geliat Pariwisata Ekonomi Kreatif
Tags: brandingdestination brandingNation BrandingPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bahasa Isyarat yang Humanis dan Bahasa Ekspresif yang Di-off-kan dalam Debat Final Paslon Pilkada Buleleng

Next Post

Guru dan Perubahan

Muhammad Yamin

Muhammad Yamin

Dosen Jurusan Hubungan Internasional, FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah dan pengamat ekonomi politik internasional dengan fokus pada sektor pariwisata dan pembangunan berkelanjutan.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Guru dan Perubahan

Guru dan Perubahan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co