2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Ketika Memberi”, Bagaimana Memadankannya ke Bahasa Bali?

Komang Berata by Komang Berata
November 25, 2024
in Bahasa
“Ketika Memberi”, Bagaimana Memadankannya ke Bahasa Bali?

Ilustrasi tatkala.co | Wira

TERCANTUMNYA kosakata bahasa Indonesia beri dan kata turunannya menjadi predikat kalimat, lumayan menyita pemikiran ketika berkomunikasi dalam bahasa Bali. Tidak cukup dengan menyematkan label kruna degag, kruna natya ka sor, dan kruna natya ka singgih.


Ketika aku dan kamu berkomunikasi dalam bahasa Bali ragam degag, tidak ada yang rumit. Ci maang cang (kamu memberi aku) atau cang maang ci (aku memberi kamu), tidak ada masalah.


Kemudian, cang maang ci, laut ci maang iya (aku memberi kamu, lalu kamu memberi dia), tidak ada masalah juga. Atau, cang maang iya, laut iya maang ci (aku memberi dia, lalu dia memberi kamu), tetap tidak ada masalah. Iya maang cang, laut cang maang ci (dia memberi aku, lalu aku memberi kamu), tetap juga tidak ada masalah.


Entah aku, kamu, atau dia menjadi subjek memberi, entah berusia lebih muda atau lebih tua, tidak ada masalah ketika berkomunikasi dalam bahasa Bali ragam degag.


Aku dalam posisi bahasa berada di sor, kamu dan dia berada di posisi singgih, tidak yang rumit. Tityang ngaturin ratu. Tityang ngaturin ida. Ratu ngicen tityang. Ida ngicen tityang. Tityang ngaturin ratu, raris ratu ngaturin ida. Tityang ngaturin ratu, raris ratu ngicen ida. Tityang ngaturin ida, raris ida ngaturin ratu. Tityang ngaturin ida, raris ida ngicen ratu. Etika berbahasa hanya itu.

Ketika baang, aturin, dan icen menjadi predikat kalimat, tidak ada masalah berkomunikasi dalam bahasa Bali. Masalah mulai tampak ketika wehin (baca: wèhin) dan suken (baca: sukèn) menyelinap menjadi predikat kalimat.

Sebelum wehin dan suken menjadi predikat kalimat, terlebih dahulu saya menyusun tokoh kalimat yaitu Tityang (aku), Ratu (kamu), Ida Agung (dia dengan usia lebih tua dari Ratu), Ida Alit (dia dengan usia lebih muda dari Ratu), Ipun Kelih (dia dengan usia lebih tua dari Tityang), dan Ipun Cenik (dia dengan umur lebih muda dari Tityang).

Dengan tokoh kalimat di atas, Ratu, Ida Agung, dan Ida Alit adalah orang yang kasinggihang oleh Tityang, Ipun Kelih, dan Ipun Cenik. Tityang, Ipun Kelih, dan Ipun Cenik adalah orang yang kasorang oleh Ratu, Ida Agung, dan Ida Alit. Tityang dan Ipun Kelih adalah orang yang kasinggihang oleh Ipun Cenik. Tityang dan Ipun Cenik kasorang oleh ipun Kelih.

Yang menjadi pedoman ketika berkomunikasi dalam bahasa Bali ragam natya, aturin ditujukan kepada orang yang kasinggihang, icen ditujukan kepada orang yang kasorang, suken ditujukan kepada orang yang kasinggihang oleh orang yang kasorang, dan wehin ditujukan kepada orang yang kasorang oleh orang yang kasorang.

Tityang, Ipun Kelih, dan Ipun Cenik memberi sesuatu kepada Ratu, Ida Agung, dan Ida Alit, tinggal mengganti memberi dengan ngaturin. Tityang ngaturin Ratu, Ipun Kelih ngaturin Ida Agung, Ipun Cenik ngaturin Ida Alit. Sebaliknya ketika Ratu, Ida Agung, dan Ida Alit memberi sesuatu kepada Tityang, Ipun Kelih, dan Ipun Cenik, tinggal mengganti memberi dengan ngicen.

Munculnya suken dan wehin dalam kalimat ketika Tityang berkomunikasi dengan Ratu, Ida Agung, dan Ida Alit dengan melibatkan Ipun Kelih atau Ipun Cenik. Ketika Ratu akan memberikan sesuatu kepada Ipun Kelih, akan tetapi Ipun Kelih sedang tidak berada di tempat, maka Tityang akan berkata kepada Ratu, “Dwaning Ipun Kelih kantun ring jaba, sane mangkin Tityang dumun icen Ratu, sane benjang Tityang nyuken Ipun Kelih.”

Ratu, Ida Agung, dan Ida Alit (saya singkat RIAIA) menitipkan pemberian kepada Tityang untuk disampaikan kepada Ipun Kelih, maka Ratu, Ida Agung, dan Ida Alit ngicen Tityang, kemudian Tityang nyuken Ipun Kelih. RIAIA menitipkan pemberian kepada Tityang untuk disampaikan kepada Ipun Cenik, maka RIAIA ngicen Tityang, kemudian Tityang ngawehin Ipun Cenik.

RIAIA menitipkan pemberian kepada Ipun Kelih untuk disampaikan kepada Tityang, maka RIAIA ngicen Ipun Kelih, kemudian Ipun Kelih ngawehin Tityang. RIAIA menitipkan pemberian kepada Ipun Cenik untuk disampaikan kepada Tityang, maka RIAIA ngicen Ipun Cenik, kemudian Ipun Cenik nyuken Tityang.

Melalui saya dan kerabat saya maka ketika RIAIA menitipkan pemberian kepada saya untuk disampaikan kepada ayah atau ibu saya, maka RIAIA ngicen saya, kemudian saya nyuken ayah atau ibu saya. RIAIA menitipkan pemberian kepada saya untuk disampaikan kepada istri atau anak saya, maka RIAIA ngicen saya, kemudian saya ngawehin istri atau anak saya.

RIAIA menitipkan pemberian kepada ayah atau ibu saya untuk disampaikan kepada saya, maka RIAIA ngicen ayah atau ibu saya, kemudian ayah atau ibu saya ngawehin saya. RIAIA menitipkan pemberian kepada istri atau anak saya untuk disampaikan kepada saya, maka RIAIA ngicen istri atau anak saya, kemudian istri atau anak saya nyuken saya. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis KOMANG BERATA
Sesuatu yang Setengah
Transfer Lisan Bahasa Tutur
Dialek dan Idiolek Bahasa Bali Saya

Tags: BahasaBahasa Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nyoman Sukerta, Petani Cengkih dari Tajun, Juga Bertani Madu Agar Bali Tetap Manis

Next Post

Ni Ketut Ayu Sukma Listyaningsih,   Duta Lingkungan Hijau Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Komang Berata

Komang Berata

Pemerhati Bahasa Bali, tinggal di Karangasem

Related Posts

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

by I Made Sudiana
September 4, 2026
0
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

Read moreDetails

Gol versus Gul

by I Made Sudiana
September 3, 2026
0
Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

Read moreDetails

Perkara Anarkis dan Anarkistis

by I Made Sudiana
August 30, 2026
0
Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

Read moreDetails

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

by I Made Sudiana
August 18, 2026
0
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

Read moreDetails

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

by I Made Sudiana
August 15, 2026
0
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

Read moreDetails

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

by I Made Sudiana
August 13, 2026
0
Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

Read moreDetails

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

by I Made Sudiana
August 11, 2026
0
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

Read moreDetails

Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

by I Made Sudiana
August 9, 2026
0
Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

PERNAHKAH Anda membaca berita lingkungan dan merasa bingung dengan dua istilah yang mirip: timbulan sampah dan timbunan sampah? Sekilas keduanya tampak sama, tetapi...

Read moreDetails

Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

by I Made Sudiana
June 29, 2026
0
Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali...

Read moreDetails

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

by I Made Sudiana
June 25, 2026
0
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

Read moreDetails
Next Post
Ni Ketut Ayu Sukma Listyaningsih,   Duta Lingkungan Hijau Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Ni Ketut Ayu Sukma Listyaningsih,   Duta Lingkungan Hijau Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co