4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyoman Sukerta, Petani Cengkih dari Tajun, Juga Bertani Madu Agar Bali Tetap Manis

Son Lomri by Son Lomri
November 25, 2024
in Persona
Nyoman Sukerta, Petani Cengkih dari Tajun, Juga Bertani Madu Agar Bali Tetap Manis

Nyoman Sukerta memanen madu di Desa Tajun | Foto: tatkala.co/Son

MEMBELAH kebun-hutan menuju Desa Tajun di Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, adalah niat yang tak bisa berbelok, meski jalan berbelok-belok. Pohon-pohon yang tinggi, dan tebing-jurang  sepanjang jalan arah Kintamani, adalah kenikmatan berjalan, mesti haruslah hati-hati.

Pada Juni, lihatlah di kiri-kanan, pohon-pohon cengkih berbunga. Lihat sekali lagi, seksama, di sejumlah batang cengkih terpasanglah rumah lebah. Kungkungan. Itu bukanlah hiasan. Itu berkah lain dari cengkih.

Pada Oktober, lihatlah petani masuk kebun. Oktober adalah waktu untuk panen cengkih. Pula tanda untuk panen madu. Ada banyak petani cengkih dan madu lebah di Desa Tajun pada Oktober atau bulan-bulan sekitar Oktober. Datanglah jika luang.

Kungkungan atau sarang madu di batang pohon cengkih | Foto: tatkala.co/Son

Jika bertemu Nyoman Sukerta (66) di Desa Tajun yang rindang itu, berilah salam. Ia akan tersenyum dengan ramah. Ia adalah petani cengkih sekaligus petani lebah madu. Ia telah banyak mengilhami orang-orang untuk pula menjadi petani madu, selain cengkih sejak beberapa tahun terakhir.

***

Di Desa Tajun, kreatifitas petani adalah hiburan sekaligus asal dari berkah. Sebelum musim panen cengkih, orang-orang memasang kungkungan—atau sarang lebah—dan memanennya beberapa bulan kemudian. Cengkih panen, madu pun panen.

Mereka menjual madu melalui botol. Dan, Nyoman Sukerta telah lebih dulu melakukannya—dan sendiri mengembala lebah-lebah itu agar menyecap sari bunga cengkih di kebun miliknya, sebelum orang-orang kemudian mengikutinya.

Tangan Nyoman Sukerta, petani cengkih sekaligus madu itu, sudah liat kulitnya. Beberapa lebah yang hinggap di tangannya dan lelaki paruh baya itu membiarkan lebah itu menyengat ramai-ramai..

“Sudah biasa,” kata Nyoman Sukerta, suatu hari di bulan Oktober 2024.

Ia berkata sambil tersenyum—tak terjadi apa-apa. Sudah putih atau kebal, dan beberapa lebah itu kemudian terbang. Memang, kebun cengkih di sekitar rumahnya adalah teman. Termasuk lebah-lebah itu barangkali.

Nyoman Sukerta, petani cengkih, juga petani madu | Foto: tatkala.co/Son

Lelaki dengan topi biru di kepalanya itu lahir di Tajun, 31 Desember 1958. Dan ia berperengai halus. Mudah tersenyum. Sorot matanya, seperti memintalkan ketulusan yang bening ketika sedang menggendong cucunya paling kecil, Made.

“Itu cengkih sudah beberapa hari dipanen, dan sekarang waktunya memanen madu di pohon cengkih. Kita akan memanen madu,” lanjut lelaki paruh baya itu sambil gendong cucu.

Pagi. Bau cengkih yang sudah kering di rumah Sukerta memang menguar sangat pekat. Pula udara di Tajun pagi hari membuat suasana menjadi sangat dingin dan aroma cengkih membuatnya terasa hangat—memeluk. Di sana, ada banyak lebah hingga di mana saja seperti lalat di musim lalat.

Sementara dua orang perempuan paruh baya, masih terus mengayak sekarung cengkih; memisahkan ranting kering dan daun kering—sebagai  proses terakhir cengkih siap angkut, setelah sekali lagi dijemur di beranda rumah Sukerta. Rempah itu—semakin menguar baunya. O, hangat-hangat terhirup.

***

Pagi di bulan Oktober itu, matahari memang sedikit telat datang karena tertutup pepohonan besar dari bukit yang agak tinggi. Dan dua orang itu mengayak terus-terus, sembari menunggu matahari datang menimpa beberapa karung cengkih yang digelar sebentar lagi.

Mereka adalah pekerja buruh—pemetik cengkih sekaligus penjemur, dan Nyoman Sukerta adalah petani cengkih—yang juga, nyambi menjadi petani madu asal Tajun yang memberi upah pada mereka.

“Saya suka sekali dengan hutan, dan berkebun. Sejak kecil, dulu, ya, sering saya kalau sedang main ke hutan, ceritanya petualang, kalau lapar, itu nyari madu. Dulu masih banyak madu di sekitar sini. Liar,” katanya.

Sekitar satu hektar pohon cengkih ditanam di kebunnya—yang tak jauh dari rumah tuanya itu, dan sekitar tiga puluh kungkungan (rumah lebah) ditebar di setiap pohon. Sejak Juni lalu di tahun ini, rumah lebah itu telah disimpan, dan Oktober adalah waktu yang gemuh untuk dipanen. Tentu, setelah semua cengkih dipanen lebih dulu atau tak ada lagi ada bunga apapun di kebun.

Madu lebah, lebah madu | Foto: tatkala.co/Son

Menunggu waktu tiba, di sebuah bale bengong—di rumahnya, kopi masih sisa setengah, beberapa lebah sesekali mengitari rambut saya yang kriting. Rokok kretek dari Sampoerna masih saya sedot dalam-dalam, dan menyemburkannya ,mengganggu lebah mau hinggap.  

Menyiasati hari agar tak terlalu siang, Sukerta lalu pergi ke belakang meninggalkan Made, cucunya—di tangan ibunya. Ia mengambil parang dan sebilah bambu. Dirautnya menjadi pisau., yang digunakannya untuk mencolok sarang madu dari kungkungan. Kungkungan itu terbuat dari tubuh lontar yang kering. Tua dan berserat. Sarang lebah itu menempel di sana, di dalam kungkungan .

Memanen Madu, Memanen Hidup: Menjaga Bali tetap Manis

Bila Bali tak lagi memiliki hutan dan kebun, ke mana bapak akan pergi?

“Ndak bisa, Mas. Saya akan terus di sini, saya tidak bisa berpindah. Saya senang merawat kebun saya. Tanah saya. Saya senang,” kata Sukerta.

Seperti menjalani kesunyian, ia meminta hidup—menuakannya bersama kebun dan hutan di sekitar rumah, tentu bersama sang istri, Luh Asih (63). Apalagi saat bermain dengan cucu di setiap hari raya, adalah waktu yang paling ditunggunya. Rumah menjadi ramai. Hidup.

Di lain waktu yang senggang, pula sesekali, katanya, ia juga berburu hama seperti tupai di bukit—atau kebun warga jika dipinta oleh warga. Tetapi itu sudah jarang dilakukan, sebab—penglihatan dan tubuhnya tak lagi sekuat dulu menembak—yang jika pulang itu, bisa empat puluh lebih tupai babak belur.

Bedil masih disimpan, tetapi tidak pensiun. “Yang deket-deket saja sesekali, Mas. Nih, sama anak saya, Komang.”

Nyoman Sukerta menyiapkan peralatan memanen madu | Foto: tatkala.co/Son

Nyoman Sukerta—kembali menyiapkan yang lain setelah pisau bambu itu sudah diraut. Ia mengambil pencokel yang terbuat dari besi—yang panjangnya sekitar 60 centi meter. Sebelum benar-benar akan menaiki pohon—menjumpai sarang lebah, ia telah mempersenjatai dirinya dengan sabut kelapa kering.

Kemudian kain saringan yang ditutupi di atas kepalanya bersama topi, menjadi pelindungnya yang lain lebih penting. Ia berjalan dengan tas terbuat dari jirigen berwarna merah yang dicantelkan di pinggangnya seperti hendak perang. Dengan celana loreng—army, langkahnya agak diperlambat umur dan matanya mendelik ke tanah tajam. Kacamata masih terpasang dengan baik di wajahnya sampai di atas pohon.

“Yang ini dulu!” katanya menunjuk pohon pertama sarang lebah, dan sabut kelapa dibakarnya di atas pohon. Lebah-lebah terbang menjauhi wajahnya. Pintu rumah lebah dicongkelnya pelan, dan madu kuning emas—terpintal cahaya pagi terlihat. O, wangi, katanya. Lebah terbang menyambut ia datang, dan menyengat nakal di tangannya.

Nyoman Sukerta di atas pohon memanen madu | Foto: tatkala.co/Son

Pisau yang terbuat dari bambu itu—digunakannya melepas sarang lebah yang menempel dari kungkungan yang berserat. Sarang lebah berisi madu yang berhasil dilepas itu, disimpannya hati-hati di wadah berwarna merah.

“Ini bisa dijual. Nanti disimpan di botol bir atau marjan setelah proses filtrasi,” kata Sukerta setelah turun. “Cobalah. Ini pasti manis. Kalau dulu sewaktu SD, saya—ketika lapar, nah, yang masih ada bayi lebahnya itu—dicampur dengan madunya, bisa mengganjal perut, Mas. Rasanya enak,” lanjut lelaki paruh baya itu bercerita.

Madu siap diperas untuk dipasarkan lewat kemasan botol bekas | Foto: tatkala.co/Son

Sampai di sini, ia berharap, madu—yang dihasilkan dari desa Tajun, tentu, madu—yang di dalamnya adalah sari bunga cengkih, mendapatkan perhatian lebih sebagai UMKM yang unik, minimal dengan wadah yang layak. Layak diperhatikan. Dibuatkan—sebelum Oktober tahun depan datang.

“Kami tak punya tempat untuk itu. Selain bekas bir dan marjan!” tutup Nyoma Sukerta. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Made Darsana, Kopi, Hutan, dan Ekonomi Berkelanjutan: Inspirasi dari Desa Wanagiri
Ketut Suariani, Peramu Loloh Cemcem dari Desa Aan
Ketut Sweta Swatara, Menjaga Nyala Wayang Wong Tejakula
Tags: bulelengDesa Tajunpertanianpetanipetani cengkehpetani cengkih
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tanamkan Kedisiplinan Siswa, Guru dalam  Bayang-Bayang Hukum

Next Post

“Ketika Memberi”, Bagaimana Memadankannya ke Bahasa Bali?

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails
Next Post
“Ketika Memberi”, Bagaimana Memadankannya ke Bahasa Bali?

“Ketika Memberi”, Bagaimana Memadankannya ke Bahasa Bali?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co