25 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengintip Pembuatan Slerek Pengambengan, Kapal Kayu Warisan Maritim Nusantara

Jaswanto by Jaswanto
December 26, 2024
in Khas
Mengintip Pembuatan Slerek Pengambengan, Kapal Kayu Warisan Maritim Nusantara

Pembuatan Slerek Pengambengan, Kapal Kayu Warisan Maritim Nusantara | Foto: tatkala.co

DI sebuah kebun tak terawat, di antara belukar katang-katang—atau kerap pula disebut tumbuhan tapak kuda, di pinggir Pantai Ketapang Muara, Desa Pengambengan, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali, beberapa lelaki sedang sibuk mengolah mahoni menjadi sebuah kapal nelayan yang dikenal dengan nama kapal slerek, Rabu (25/12/2024) yang terik. Bahtera ini pesanan seorang tajir setempat, juragan kapal yang namanya beken seantero kawasan tersebut.

Para lelaki yang sedari pagi sibuk memotong, membelah, dan menyerut balok-papan kayu itu—pun  memasah dan menyusunnya menjadi lantai dan dinding kapal—datang dari pulau seberang, jauh dari Pengambengan. Mereka dari sebuah pulau kecil di kawasan Sumenep, Madura, tepatnya dari Pulau Poteran—pulau kecil yang berbentuk seperti kepala ayam tanpa paruh itu.

Dengan menyeberangi Selat Madura ke Pelabuhan Kalianget, orang-orang itu mencapai wilayah yang menjorok di pinggiran pesisir Samudra Hindia, Bali bagian barat ini, setelah sebelumnya menempuh perjalanan nyaris 12 jam melewati jalur Pantura. Nyaris tak ada orang Pengambengan sendiri yang bisa membuat kapal Slerek. Mungkin bisa membuat bentuknya, tapi belum tentu dapat berlayar sempurna sebagaimana bikinan orang-orang pulau seberang itu.

“Mereka sengaja kami datangkan ke sini. Karena kalau membeli kapal langsung dari sana, ongkosnya lebih mahal,” ujar Ketut Sumajaya, pengurus Kapal Bintang Grup milik H. Ali Nuri, juragan kapal yang namanya beken di kawasan itu.

Alat untuk melengkungkan papan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Tahun ini Bintang Grup membuat tiga slerek sekaligus. Satu sudah berlayar, satu lagi baru kelihatan bentuknya, dan satu lagi lantainya saja belum tampak, masih sekadar dasaran. Ketiga kapal tersebut dikerjakan pihak yang berbeda, meski semua artigianonya berasal dari Sumenep. Satu kapal yang sudah kelihatan bentuknya, dikerjakan kelompok Haulu, seorang seniman perahu-kapal yang terkenal di Pengambengan—dan langganan H. Ali, khususnya.

Haulu, atau akrab dipanggil Ulu, dibantu kedua karibnya, Ersan dan Saduki. Mereka bertiga seumuran, 50 tahunan, dan berasal dari tanah yang sama, Talango. Hanya saja, Saduki lahir di desa yang berbeda dari Ulu dan Ersan. Saduki lahir di Sang; sedangkan Ulu dan Ersan tumbuh dan berkembang di Kombang. Namun, sekali lagi, kedua desa tersebut sama-sama terletak di Kecamatan Talango, Pulau Poteran, Sumenep.

“Kami sering meminta Pak Ulu untuk membuat kapal,” terang Sumajaya sembari melemparkan senyum kepada Ulu yang masih sibuk menyerut dinding slerek menggunakan pasah elektrik. “Garapannya bagus,” sambung pria paruh baya berkacamata itu saat ditanya alasannya meminta Ulu,dkk, membuat kapal-kapal Bintang Grup.

Hari makin terik. Tapi para tukang masih saja lanjut bekerja. Sementara Ersan bertugas melengkungkan papan dengan memanggangnya dan menggantungkan batu pemberat di ujung atas kayu, Saduki sibuk membuat pasak yang panjangnya sejengkal orang dewasa. Ulu sendiri, sebagai kepala tukang, masih fokus meratakan pelipis dinding kapal. Serbuk kayu keluar dari lubang mesin bersuara bising itu secara bertubi-tubi. Tapi lelaki bersuara lembut bak Puntadewa itu—tapi barangkali versi Madura-nya—tanpa menggunakan masker atau penutup mulut dan hidung semacamnya. “Sudah biasa,” katanya, enteng saja.

Di sekitar galangan perahu teronggok kayu camplung gelondongan yang tampak sangat  keras dan kuat. Jumlahnya cukup banyak. Dan kayu-kayu tersebut didatangkan dari Pulau Lombok. “Di Bali tidak ada,” kata Sumajaya. “Dan kayu ini, selain jati dan ulin, memang cocok sebagai galangan perahu,” Ulu menimpali pria yang ia panggil “bos” itu. Saat memesan kayu, sebagai tukang, Ulu dilibatkan. Ia ikut ke Lombok, ikut serta memilih dan memotong camplung di sana. “Kemarin sampai delapan hari di sana,” akunya. Dan slerek dengan kayu berkualitas, dapat bertahan selama lima belas sampai dua puluh tahunan.

Ersan (kiri) dan Saduki (kanan) sedang mengukur papan kayu yang sudah dilengkungkan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Meski hanya bertiga, kelompok Ulu termasuk tukang perahu yang cepat. Dua bulan ke depan, slerek pesanan H. Ali ini bakal rampung. Dengan dimensi panjang 22 meter, lebar 5 meter, dan tinggi 2 meter, perahu setengah jadi—yang dikerjakan satu setengah bulan sebelumnya—itu tinggal finishing di beberapa bagian.

Begitu rampung, kapal itu akan ditarik ke lautan dengan cara gotong royong oleh ratusan warga. Disertai dengan doa-doa dan selamatan khusus, momentum itu biasanya menjadi atraksi yang menarik banyak warga lokal untuk datang dan melihat.

Berbahan kayu kutat, camplung, dan mahoni, dilengkapi empat buah mesin, kapal nelayan dengan lambung yang besar itu dibanderol mendekati harga satu unit bus double decker baru, yakni nyaris Rp 1 setengah miliar. Harganya jauh di atas perahu biasa yang hanya puluhan hingga ratusan juta. “Tapi untuk tukangnya ini borongan. Kami borong 125 juta,” Sumajaya berkata.

Untuk membuat sebuah perahu berbobot di atas lima ton, biasanya melibatkan delapan orang, terdiri atas empat orang tukang dan sisanya asisten. Tapi kelompok Ulu, sekali lagi, hanya tiga orang termasuk dirinya. “Semua tukang, nggak ada istilah asisten,” ujar Ulu dengan logat Madura-nya yang khas sembari tertawa.

Ya, Ulu, Saduki, dan Ersan, sama-sama belajar membuat perahu sejak kecil, turun-temurun. Sejak dulu, tanah mereka lahir memang terkenal sebagai lumbung perajin perahu. Maka wajar jika tangan-tangan mereka begitu terampil dan cekatan. Papan kayu seperti “tunduk” dan “patuh” di hadapan mereka. Enak saja mereka membuat lengkungan yang nyaris presisi. “Semua ada ukurannya, rumusnya, dan hitungannya sendiri. Hanya tukang yang tahu itu semua,” terang Saduki sambil membuat pasak.

Slerek setengah jadi garapan Ulu, dkk | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Selama mengerjakan slerek di Pengambengan—yang mampu mengarungi lautan, mereka mengaku tak pernah ada kendala berarti. Peralatan yang digunakan pun perpaduan antara alat tradisional dan modern. “Kecuali hujan,” kata Ersan. Beberapa hari ini hujan turun di Pengambengan. Dan mereka memilih meliburkan diri. “Itu sangat berisiko, karena kami menggunakan peralatan listrik. Teman saya meninggal karena kesetrum saat kerja hujan-hujan,” ucap Saduki.

Slerek dan Masa Depannya

Slerek telah menjadi ikon maritim Desa Pengambengan. Lebih dari sekadar alat penangkap ikan, slerek telah menyatu dengan kehidupan masyarakat setempat, membentuk identitas budaya dan ekonomi yang unik—slerek telah menjelmanadi kehidupan warga Madura dan Pengambengan. Kapal ini konon merupakan metamorfosa budaya bahari, keahlian membuat kapal, serta budaya dan seni dari Bugis, Madura, dan Bali.

Nelayan Pengambengan telah menggunakannya selama bergenerasi, turun-temurun. Kapal semacam ini juga dapat ditemukan di daerah Muncar, Banyuwangi, dan sekitarnya. Desainnya yang khas, dengan lambung yang lebar, panjang, dan kokoh, membuatnya sangat cocok untuk berlayar di perairan yang seringkali bergelombang—seperti Selat Bali di Samudra Hindia.

Kapal ini umumnya terbuat dari kayu dan dilengkapi dengan peralatan penangkapan ikan berupa jaring besar. Slerek beroperasi sepasang. Orang Pengambengan menyebutnya kapal “suami-istri”. “Slerek tidak banyak berubah. Hanya hiasannya saja yang berkembang,” terang Sumajaya.

Slerek setengah jadi bikinan Ulu, dkk | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Slerek memiliki peran yang sangat sentral dalam kehidupan masyarakat Pengambengan. Selain sebagai sumber mata pencaharian utama, slerek juga menjadi sarana transportasi, sarana sosial, dan bahkan menjadi bagian dari upacara adat seperti Petik Laut yang diselenggarakan setiap setahun sekali pada bulan Muharram. Nelayan Pengambengan memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus dalam mengoperasikan slerek, yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Namun, di balik keindahan dan keunikannya, kapal slerek juga menyimpan kisah pahit tentang pasang surut nasib para nelayan—dan itu juga berpengaruh terhadap eksistensinya, tentu saja. Dulu, saat tangkapan ikan melimpah, kapal-kapal ini menjadi sumber kehidupan yang menjanjikan. Tetapi, dalam beberapa tahun terakhir, hasil tangkapan terus menurun drastis.

Perubahan iklim, penangkapan ikan yang berlebihan, dan kerusakan ekosistem laut menjadi beberapa faktor yang mengancam keberlangsungan hidup nelayan yang menggantungkan hidupnya pada kapal slerek. Kemarin, tak sedikit nelayan Pengambengan kembali pulang tanpa seekor tangkapan pun.  “Dulu, sekali melaut bisa dapat berton-ton ikan. Sekarang, dapat beberapa kuintal saja sudah syukur,” ujar Ahmad Zainul Huda, seorang nelayan Pengambengan.

Penurunan hasil tangkapan bukan satu-satunya masalah yang dihadapi oleh nelayan pengguna kapal slerek. Meningkatnya harga bahan bakar minyak, biaya perawatan kapal yang mahal, serta persaingan dengan kapal-kapal nelayan modern juga menjadi tantangan tersendiri. Selain itu, perubahan kebijakan pemerintah terkait perikanan juga turut memengaruhi kehidupan nelayan. Pembatasan wilayah penangkapan dan jenis ikan yang boleh ditangkap membuat nelayan semakin kesulitan mencari nafkah.

Slerek adalah warisan budaya yang sangat berharga. Melalui slerek, kita dapat melihat bagaimana masyarakat nelayan di Pengambengan telah mampu beradaptasi dengan perubahan zaman sambil tetap menjaga tradisi dan identitas budaya mereka.

“Semoga slerek akan selalu dibuat dan tetap digunakan nelayan Pengambengan,” Sumajaya berharap. Harapan itu tampaknya juga diamini Ulu, Saduki, dan Ersan, meski mereka bertiga terlihat tak begitu yakin. “Sebab bahan bakunya semakin sulit,” ujar Ulu.

Haulu sedang persiapan memasak dinding slerek | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Selain langka, bahan baku untuk membuat slerek harganya semakin mahal. Selain jati, galangan perahu slerek biasanya memanfaatkan kayu nyamplong (Calophyllum inophylum) ataupun ulin (Eusideroxylon zwageri). Ulin atau kayu besi yang ada di Kalimantan jumlahnya makin sedikit dan kini masuk apendik II dan dilindungi oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam. Artinya, tidak mudah untuk memanfaatkan kayu-kayu eksotis itu.  

Namun, terlepas dari itu, slerek di jantung Pulau Bali, di mana samudra memeluk pesisir dengan ombak yang berbuih, tetap sebuah legenda maritim Nusantara yang akan tercatat sebagai sejarah. Dari Pelabuhan Pengambengan, Jembrana, kapal-kapal ini telah menjadi saksi bisu dari pergulatan hidup nelayan, dari tarian ikan di kedalaman laut hingga deru mesin yang mengiris keheningan fajar.

Slerek, sekali lagi, bukan sekadar alat penangkap ikan. Ia adalah sebuah rumah terapung, sebuah candi bagi para dewa laut, dan simbol keuletan manusia yang hidup berdampingan dengan alam. Setiap goresan kayu pada lambungnya adalah puisi yang menceritakan kisah panjang perjalanan.

Saat matahari tenggelam, slerek berlayar menuju rahim bahari, meninggalkan jejak buih di permukaan laut. Nelayan-nelayan, khususnya juragan laut, sang nahkoda slerek, dengan mata setajam elang, mengarahkan kapal menuju titik-titik tangkapan yang telah mereka kenal bertahun-tahun. Mereka adalah penjelajah samudra, petualang yang tak kenal lelah dalam mencari rezeki.

Di tengah lautan yang luas, kapal slerek menjadi saksi bisu dari berbagai peristiwa. Ada tawa riang saat ikan-ikan berlomba masuk ke dalam jaring, ada pula keheningan saat badai menerjang. Namun, apapun yang terjadi, para nelayan selalu kembali ke pelabuhan dengan membawa harapan baru.

Ketika hari tiba, slerek kembali ke pelabuhan, membawa hasil tangkapan yang akan menghidupi keluarga mereka. Cahaya lampu pelabuhan menyambut mereka dengan hangat, seolah menyambut para pahlawan yang baru saja pulang dari medan perang.

Kapal slerek, dengan segala kemegahan dan kesederhanaannya, akan terus menjadi bagian dari sejarah maritim Indonesia. Ia adalah simbol dari keuletan, keberanian, dan semangat pantang menyerah—sebagaimana para nelayan itu sendiri.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Kisah dari Geladak Perahu Nelayan Pengambengan di Bali Barat
Ikan Bakar Komel Pengambengan: Kelezatan di Balik Kesederhanaan
“Mejunjungan”, Tradisi Unik Guyup Bugis Melayu Pesisir Pengambengan yang Masih Tersisa
Tags: Desa Pengambenganjembranajukungkapal nelayanmaritimnelayanslerek
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

Next Post

Mereka Tidak Benar-benar Pergi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails
Next Post
Telenovela

Mereka Tidak Benar-benar Pergi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co