3 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengintip Pembuatan Slerek Pengambengan, Kapal Kayu Warisan Maritim Nusantara

Jaswanto by Jaswanto
December 26, 2024
in Khas
Mengintip Pembuatan Slerek Pengambengan, Kapal Kayu Warisan Maritim Nusantara

Pembuatan Slerek Pengambengan, Kapal Kayu Warisan Maritim Nusantara | Foto: tatkala.co

DI sebuah kebun tak terawat, di antara belukar katang-katang—atau kerap pula disebut tumbuhan tapak kuda, di pinggir Pantai Ketapang Muara, Desa Pengambengan, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali, beberapa lelaki sedang sibuk mengolah mahoni menjadi sebuah kapal nelayan yang dikenal dengan nama kapal slerek, Rabu (25/12/2024) yang terik. Bahtera ini pesanan seorang tajir setempat, juragan kapal yang namanya beken seantero kawasan tersebut.

Para lelaki yang sedari pagi sibuk memotong, membelah, dan menyerut balok-papan kayu itu—pun  memasah dan menyusunnya menjadi lantai dan dinding kapal—datang dari pulau seberang, jauh dari Pengambengan. Mereka dari sebuah pulau kecil di kawasan Sumenep, Madura, tepatnya dari Pulau Poteran—pulau kecil yang berbentuk seperti kepala ayam tanpa paruh itu.

Dengan menyeberangi Selat Madura ke Pelabuhan Kalianget, orang-orang itu mencapai wilayah yang menjorok di pinggiran pesisir Samudra Hindia, Bali bagian barat ini, setelah sebelumnya menempuh perjalanan nyaris 12 jam melewati jalur Pantura. Nyaris tak ada orang Pengambengan sendiri yang bisa membuat kapal Slerek. Mungkin bisa membuat bentuknya, tapi belum tentu dapat berlayar sempurna sebagaimana bikinan orang-orang pulau seberang itu.

“Mereka sengaja kami datangkan ke sini. Karena kalau membeli kapal langsung dari sana, ongkosnya lebih mahal,” ujar Ketut Sumajaya, pengurus Kapal Bintang Grup milik H. Ali Nuri, juragan kapal yang namanya beken di kawasan itu.

Alat untuk melengkungkan papan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Tahun ini Bintang Grup membuat tiga slerek sekaligus. Satu sudah berlayar, satu lagi baru kelihatan bentuknya, dan satu lagi lantainya saja belum tampak, masih sekadar dasaran. Ketiga kapal tersebut dikerjakan pihak yang berbeda, meski semua artigianonya berasal dari Sumenep. Satu kapal yang sudah kelihatan bentuknya, dikerjakan kelompok Haulu, seorang seniman perahu-kapal yang terkenal di Pengambengan—dan langganan H. Ali, khususnya.

Haulu, atau akrab dipanggil Ulu, dibantu kedua karibnya, Ersan dan Saduki. Mereka bertiga seumuran, 50 tahunan, dan berasal dari tanah yang sama, Talango. Hanya saja, Saduki lahir di desa yang berbeda dari Ulu dan Ersan. Saduki lahir di Sang; sedangkan Ulu dan Ersan tumbuh dan berkembang di Kombang. Namun, sekali lagi, kedua desa tersebut sama-sama terletak di Kecamatan Talango, Pulau Poteran, Sumenep.

“Kami sering meminta Pak Ulu untuk membuat kapal,” terang Sumajaya sembari melemparkan senyum kepada Ulu yang masih sibuk menyerut dinding slerek menggunakan pasah elektrik. “Garapannya bagus,” sambung pria paruh baya berkacamata itu saat ditanya alasannya meminta Ulu,dkk, membuat kapal-kapal Bintang Grup.

Hari makin terik. Tapi para tukang masih saja lanjut bekerja. Sementara Ersan bertugas melengkungkan papan dengan memanggangnya dan menggantungkan batu pemberat di ujung atas kayu, Saduki sibuk membuat pasak yang panjangnya sejengkal orang dewasa. Ulu sendiri, sebagai kepala tukang, masih fokus meratakan pelipis dinding kapal. Serbuk kayu keluar dari lubang mesin bersuara bising itu secara bertubi-tubi. Tapi lelaki bersuara lembut bak Puntadewa itu—tapi barangkali versi Madura-nya—tanpa menggunakan masker atau penutup mulut dan hidung semacamnya. “Sudah biasa,” katanya, enteng saja.

Di sekitar galangan perahu teronggok kayu camplung gelondongan yang tampak sangat  keras dan kuat. Jumlahnya cukup banyak. Dan kayu-kayu tersebut didatangkan dari Pulau Lombok. “Di Bali tidak ada,” kata Sumajaya. “Dan kayu ini, selain jati dan ulin, memang cocok sebagai galangan perahu,” Ulu menimpali pria yang ia panggil “bos” itu. Saat memesan kayu, sebagai tukang, Ulu dilibatkan. Ia ikut ke Lombok, ikut serta memilih dan memotong camplung di sana. “Kemarin sampai delapan hari di sana,” akunya. Dan slerek dengan kayu berkualitas, dapat bertahan selama lima belas sampai dua puluh tahunan.

Ersan (kiri) dan Saduki (kanan) sedang mengukur papan kayu yang sudah dilengkungkan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Meski hanya bertiga, kelompok Ulu termasuk tukang perahu yang cepat. Dua bulan ke depan, slerek pesanan H. Ali ini bakal rampung. Dengan dimensi panjang 22 meter, lebar 5 meter, dan tinggi 2 meter, perahu setengah jadi—yang dikerjakan satu setengah bulan sebelumnya—itu tinggal finishing di beberapa bagian.

Begitu rampung, kapal itu akan ditarik ke lautan dengan cara gotong royong oleh ratusan warga. Disertai dengan doa-doa dan selamatan khusus, momentum itu biasanya menjadi atraksi yang menarik banyak warga lokal untuk datang dan melihat.

Berbahan kayu kutat, camplung, dan mahoni, dilengkapi empat buah mesin, kapal nelayan dengan lambung yang besar itu dibanderol mendekati harga satu unit bus double decker baru, yakni nyaris Rp 1 setengah miliar. Harganya jauh di atas perahu biasa yang hanya puluhan hingga ratusan juta. “Tapi untuk tukangnya ini borongan. Kami borong 125 juta,” Sumajaya berkata.

Untuk membuat sebuah perahu berbobot di atas lima ton, biasanya melibatkan delapan orang, terdiri atas empat orang tukang dan sisanya asisten. Tapi kelompok Ulu, sekali lagi, hanya tiga orang termasuk dirinya. “Semua tukang, nggak ada istilah asisten,” ujar Ulu dengan logat Madura-nya yang khas sembari tertawa.

Ya, Ulu, Saduki, dan Ersan, sama-sama belajar membuat perahu sejak kecil, turun-temurun. Sejak dulu, tanah mereka lahir memang terkenal sebagai lumbung perajin perahu. Maka wajar jika tangan-tangan mereka begitu terampil dan cekatan. Papan kayu seperti “tunduk” dan “patuh” di hadapan mereka. Enak saja mereka membuat lengkungan yang nyaris presisi. “Semua ada ukurannya, rumusnya, dan hitungannya sendiri. Hanya tukang yang tahu itu semua,” terang Saduki sambil membuat pasak.

Slerek setengah jadi garapan Ulu, dkk | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Selama mengerjakan slerek di Pengambengan—yang mampu mengarungi lautan, mereka mengaku tak pernah ada kendala berarti. Peralatan yang digunakan pun perpaduan antara alat tradisional dan modern. “Kecuali hujan,” kata Ersan. Beberapa hari ini hujan turun di Pengambengan. Dan mereka memilih meliburkan diri. “Itu sangat berisiko, karena kami menggunakan peralatan listrik. Teman saya meninggal karena kesetrum saat kerja hujan-hujan,” ucap Saduki.

Slerek dan Masa Depannya

Slerek telah menjadi ikon maritim Desa Pengambengan. Lebih dari sekadar alat penangkap ikan, slerek telah menyatu dengan kehidupan masyarakat setempat, membentuk identitas budaya dan ekonomi yang unik—slerek telah menjelmanadi kehidupan warga Madura dan Pengambengan. Kapal ini konon merupakan metamorfosa budaya bahari, keahlian membuat kapal, serta budaya dan seni dari Bugis, Madura, dan Bali.

Nelayan Pengambengan telah menggunakannya selama bergenerasi, turun-temurun. Kapal semacam ini juga dapat ditemukan di daerah Muncar, Banyuwangi, dan sekitarnya. Desainnya yang khas, dengan lambung yang lebar, panjang, dan kokoh, membuatnya sangat cocok untuk berlayar di perairan yang seringkali bergelombang—seperti Selat Bali di Samudra Hindia.

Kapal ini umumnya terbuat dari kayu dan dilengkapi dengan peralatan penangkapan ikan berupa jaring besar. Slerek beroperasi sepasang. Orang Pengambengan menyebutnya kapal “suami-istri”. “Slerek tidak banyak berubah. Hanya hiasannya saja yang berkembang,” terang Sumajaya.

Slerek setengah jadi bikinan Ulu, dkk | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Slerek memiliki peran yang sangat sentral dalam kehidupan masyarakat Pengambengan. Selain sebagai sumber mata pencaharian utama, slerek juga menjadi sarana transportasi, sarana sosial, dan bahkan menjadi bagian dari upacara adat seperti Petik Laut yang diselenggarakan setiap setahun sekali pada bulan Muharram. Nelayan Pengambengan memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus dalam mengoperasikan slerek, yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Namun, di balik keindahan dan keunikannya, kapal slerek juga menyimpan kisah pahit tentang pasang surut nasib para nelayan—dan itu juga berpengaruh terhadap eksistensinya, tentu saja. Dulu, saat tangkapan ikan melimpah, kapal-kapal ini menjadi sumber kehidupan yang menjanjikan. Tetapi, dalam beberapa tahun terakhir, hasil tangkapan terus menurun drastis.

Perubahan iklim, penangkapan ikan yang berlebihan, dan kerusakan ekosistem laut menjadi beberapa faktor yang mengancam keberlangsungan hidup nelayan yang menggantungkan hidupnya pada kapal slerek. Kemarin, tak sedikit nelayan Pengambengan kembali pulang tanpa seekor tangkapan pun.  “Dulu, sekali melaut bisa dapat berton-ton ikan. Sekarang, dapat beberapa kuintal saja sudah syukur,” ujar Ahmad Zainul Huda, seorang nelayan Pengambengan.

Penurunan hasil tangkapan bukan satu-satunya masalah yang dihadapi oleh nelayan pengguna kapal slerek. Meningkatnya harga bahan bakar minyak, biaya perawatan kapal yang mahal, serta persaingan dengan kapal-kapal nelayan modern juga menjadi tantangan tersendiri. Selain itu, perubahan kebijakan pemerintah terkait perikanan juga turut memengaruhi kehidupan nelayan. Pembatasan wilayah penangkapan dan jenis ikan yang boleh ditangkap membuat nelayan semakin kesulitan mencari nafkah.

Slerek adalah warisan budaya yang sangat berharga. Melalui slerek, kita dapat melihat bagaimana masyarakat nelayan di Pengambengan telah mampu beradaptasi dengan perubahan zaman sambil tetap menjaga tradisi dan identitas budaya mereka.

“Semoga slerek akan selalu dibuat dan tetap digunakan nelayan Pengambengan,” Sumajaya berharap. Harapan itu tampaknya juga diamini Ulu, Saduki, dan Ersan, meski mereka bertiga terlihat tak begitu yakin. “Sebab bahan bakunya semakin sulit,” ujar Ulu.

Haulu sedang persiapan memasak dinding slerek | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Selain langka, bahan baku untuk membuat slerek harganya semakin mahal. Selain jati, galangan perahu slerek biasanya memanfaatkan kayu nyamplong (Calophyllum inophylum) ataupun ulin (Eusideroxylon zwageri). Ulin atau kayu besi yang ada di Kalimantan jumlahnya makin sedikit dan kini masuk apendik II dan dilindungi oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam. Artinya, tidak mudah untuk memanfaatkan kayu-kayu eksotis itu.  

Namun, terlepas dari itu, slerek di jantung Pulau Bali, di mana samudra memeluk pesisir dengan ombak yang berbuih, tetap sebuah legenda maritim Nusantara yang akan tercatat sebagai sejarah. Dari Pelabuhan Pengambengan, Jembrana, kapal-kapal ini telah menjadi saksi bisu dari pergulatan hidup nelayan, dari tarian ikan di kedalaman laut hingga deru mesin yang mengiris keheningan fajar.

Slerek, sekali lagi, bukan sekadar alat penangkap ikan. Ia adalah sebuah rumah terapung, sebuah candi bagi para dewa laut, dan simbol keuletan manusia yang hidup berdampingan dengan alam. Setiap goresan kayu pada lambungnya adalah puisi yang menceritakan kisah panjang perjalanan.

Saat matahari tenggelam, slerek berlayar menuju rahim bahari, meninggalkan jejak buih di permukaan laut. Nelayan-nelayan, khususnya juragan laut, sang nahkoda slerek, dengan mata setajam elang, mengarahkan kapal menuju titik-titik tangkapan yang telah mereka kenal bertahun-tahun. Mereka adalah penjelajah samudra, petualang yang tak kenal lelah dalam mencari rezeki.

Di tengah lautan yang luas, kapal slerek menjadi saksi bisu dari berbagai peristiwa. Ada tawa riang saat ikan-ikan berlomba masuk ke dalam jaring, ada pula keheningan saat badai menerjang. Namun, apapun yang terjadi, para nelayan selalu kembali ke pelabuhan dengan membawa harapan baru.

Ketika hari tiba, slerek kembali ke pelabuhan, membawa hasil tangkapan yang akan menghidupi keluarga mereka. Cahaya lampu pelabuhan menyambut mereka dengan hangat, seolah menyambut para pahlawan yang baru saja pulang dari medan perang.

Kapal slerek, dengan segala kemegahan dan kesederhanaannya, akan terus menjadi bagian dari sejarah maritim Indonesia. Ia adalah simbol dari keuletan, keberanian, dan semangat pantang menyerah—sebagaimana para nelayan itu sendiri.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Kisah dari Geladak Perahu Nelayan Pengambengan di Bali Barat
Ikan Bakar Komel Pengambengan: Kelezatan di Balik Kesederhanaan
“Mejunjungan”, Tradisi Unik Guyup Bugis Melayu Pesisir Pengambengan yang Masih Tersisa
Tags: Desa Pengambenganjembranajukungkapal nelayanmaritimnelayanslerek
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

Next Post

Mereka Tidak Benar-benar Pergi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails
Next Post
Telenovela

Mereka Tidak Benar-benar Pergi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

by Sugi Lanus
September 2, 2026
Sepi Tak Berarti Tiada
Esai

Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

by Angga Wijaya
September 2, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co