2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mereka Tidak Benar-benar Pergi

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 26, 2024
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

“Kamu mencintai kekasihmu?”

“Ya, cinta, Pak”

“Kalau begitu, nanti kita lamar dia. Kalian menikah!”

Percakapan di atas berlangsung dalam mimpi saya, beberapa hari lalu. Untuk kali kedua, mendiang Umbu Landu Paranggi datang menemui saya dalam mimpi. Kejadian dalam mimpi tersebut terasa begitu nyata. Sepulang dari sebuah acara budaya, saya berjalan kaki. Tiba-tiba ada lelaki tua yang sedang berada di sebuah warung—memakai baju kemeja yang lengannya dilipat, lengkap dengan topi di kepala, melambaikan tangannya dan menyuruh saya untuk mendekat. Beliau, Pak Umbu, yang dikenal sebagai “mahaguru” dari banyak seniman di Bali, mengajak saya berbincang lalu berkata-kata seperti percakapan pada  awal tulisan ini.

Dalam mimpi itu, Pak Umbu juga “menunjukkan” teman perempuan yang berpotensi menjadi “penggoda” dan bisa “merusak” hubungan saya dengan tunangan saya. Beliau menyarankan saya untuk menjauhi teman itu. Di akhir mimpi, beliau menggosok-gosok gigi bagian bawah saya, seperti gerakan pada upacara potong gigi di Bali. Katanya, ada “masalah” saat saya mengikuti upacara tersebut saat saya remaja dulu, sehingga saya mengalami “sakit” karena “ada yang menganggu”. Pak Umbu seperti “mengobati” saya melalui mimpi tersebut.

Mimpi yang berlangsung—jika dihitung dalam waktu di dunia nyata—hanya 10 menit tersebut, rasanya lama sekali, jernih, terasa benar-benar terjadi. Saat bangun, saya merasa perlu sebentar “diam” dan “hening” untuk bisa “mencerna” isi mimpi tersebut. “Pak Umbu datang lagi,” gumam saya ketika duduk di tepi ranjang. Mimpi yang benar-benar punya arti mendalam bagi saya. Bagi yang hanya menganggap mimpi sebagai “bunga tidur” belaka, tentu cerita ini terdengar tidak punya makna. Berbeda dengan halnya mereka yang mengerti dunia “kebatinan”/spiritualitas, hal itu tentunya memiliki arti, makna, dan hikmah tersendiri.

Meskipun saya bukan “murid” yang dekat secara personal dengan Pak Umbu saat beliau masih hidup, seperti kawan-kawan penulis dan seniman lainnya, “kedekatan” kami hanya melalui satu kali perjumpaan saat ada kegiatan baca puisi di Jatijagat Kehidupan Puisi (JKP) di Renon, Denpasar, Bali, beberapa bulan sebelum beliau wafat pada 2021.

Kala itu, beliau mengomentari puisi karya saya yang saya bacakan. Puisi itu berjudul “Suara Sunyi”, termuat dalam buku kumpulan puisi “Tidur di Hari Minggu”, terbit pada Januari 2020 oleh Penerbit Mahima Institute Indonesia yang digawangi Made Adnyana Ole dan Kadek Sonia Piscayanti, pasangan sastrawan di Singaraja, Bali. Mereka adalah pegiat dan penggerak sastra yang tekun dan juga amat gigih.

Pak Umbu dan saya layaknya seperti dua orang sahabat yang lama sekali tidak berjumpa, pada malam hari tersebut. Kata beliau, beliau mendapat cerita tentang saya dari percakapan beliau dengan IDK Raka Kusuma, sastrawan di Karangasem, Bali bagian timur, dalam sebuah kesempatan. Pada 2015, puisi-puisi saya dimuat di Bali Post untuk kali pertama dan terakhir oleh Pak Umbu Landu Paranggi. Senang sekali bagi kami, penulis di Bali dan juga di luar Bali, jika puisi-puisi kami dimuat di media cetak tempat beliau menjadi redaktur sastra selama puluhan tahun itu.

Saya menjadi percaya, ada kekuatan yang terus “membimbing” saya dalam menulis. Keyakinan ini “muncul” karena saat saya menulis “seperti ada yang menyuruh”, ada “kekuatan lain” yang menggerakan jari-jari saya di komputer. Tulisan, baik itu puisi maupun esai, begitu cepat saya bisa selesaikan. Alhasil, saya menjadi penulis yang sangat produktif dalam berkarya. Telah tiga belas buku saya tulis dalam enam tahun, sejak 2018, ketika buku puisi pertama saya terbit.

Metode menulis dengan kekuatan “lain” sering disebut sebagai automatic writing atau psychography, yaknikemampuan untuk menulis dan mengekspresikan ide-ide tanpa sepengetahuan pikiran sadar (tidak disadari), baik dalam hal tindakan menulis atau ide-ide yang diekspresikan dalam bentuk tulisan.

Pengertian ini kurang cocok dengan apa yang saya “alami” dalam menulis, karena setiap huruf dan kata yang saya ketikkan di komputer atau tuliskan di buku tulis atau secarik kertas amat runut, rapi, dan teratur—berbeda dengan pengertian automatic writing yang seakan-akan “menuliskan apa saja yang ada di pikiran”, juga sering dihubungkan dengan “hal-hal supranatural”. Saya lebih percaya bahwa menulis adalah sebuah keterampilan; semakin sering dan biasa seseorang menulis, semakin mudah dan cepat ia bisa menghasilkan tulisan; baik itu puisi, cerita pendek, esai, bahkan juga sebuah novel.

Apa yang alami bisa oleh “kedua-duanya”: kekuatan “lain” dan juga oleh sebab keterampilan yang diasah bertahun-tahun. Menurut keyakinan Hindu yang yang saya anut, mereka yang telah meninggal sebenarnya “tidak benar-benar pergi”. Mereka hanya meninggalkan badan yang oleh sebab tertentu, misalnya karena sakit, telah “rusak”, kemudian jiwa mencari “badan” baru melalui kelahiran kembali, yang oleh Bhagavad-Gita diibaratkan seperti “baju-baju yang berganti”, dimana badan disebut sebagai sebuah “pakaian” bagi atma/jiwa/ruh.


Ada juga yang oleh sebab karma atau kecenderungan batinnya menjadi “pembimbing”, ia akan terus dan tetap menjalankan tugas tersebut. Jiwa-jiwa dan “pribadi” suci inilah yang sering “berkomunikasi” dengan “orang-orang” melalui apa yang disebut sebagai “ilham”, “wahyu”, atau dalam bahasa keseharian: “inspirasi” bagi mereka yang bekerja berdasarkan intuisi seperti penyair, penulis, pemusik, atau penari; para seniman yang biasanya “intuitif”.

Pola hidup yang “intuitif” inilah yang kemudian melahirkan karya-karya yang disebut “jenius/”berbeda” dengan karya-karya biasa yang lahir berdasarkan (hanya) oleh logika tanpa menyertakan apa yang disebut di Bali sebagai taksu atau “daya” hidup. Hasilnya amat berbeda.

Jika ingin karya seniman mempunyai taksu, dalam pengalaman saya, kuncinya sangat sederhana: kemampuan membuka diri, ibarat gelas, membiarkan “gelas” atau “diri” selalu “kosong”. Mengurangi beban pikiran dan perasaan melalui meditasi sangatlah bagus. Berkarya hanya untuk “karya” itu sendiri, atau niat untuk berbagi. Tidak lebih dari itu, misalnya mencari popularitas.

Akan lebih bagus lagi jika menganggap aktivitas seni sebagai sebuah “persembahan” bagi “kekuatan agung”; tuhan, dewa, atau para leluhur, seperti yang masyarakat Bali di masa lalu lakukan. Maka itu, tidak ada istilah “seniman” di Bali, dahulu kala, karena mereka melakukannya sebagai sebuah “pemujaan”. Taksu menjadi bagian keseharian hidup mereka. Termasuk hubungan dengan kekuatan-kekuatan niskala atau unsur-unsur “lain”, tidak kasat mata. Semua terjadi secara alami, dan bukan dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa.

Menulis pada dini hari, saat dunia terasa begitu hening, misalnya, menjadi momen tersendiri bagi penulis. Jari-jari “menari” pada tuts komputer, menghasilkan karya yang ditulis tidak semata-mata untuk materi belaka. Kekuatan “lain” boleh hadir, sebagai “teman” pembimbing. Penulis, sejatinya hanyalah sebagai “mediator”. Itulah sebabnya, para pujangga zaman dahulu sering tidak menulis identitasnya sebagai pencipta karya. Atau, jika pun ingin menulis, menggunakan nama samaran. Mereka sadar dan sangat “tahu diri”, bahwa yang menulis bukan mereka, melainkan “semesta”. Dari “mereka” yang tidak benar-benar pergi. Mereka terus memberi taksu. [T]


BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Ibu Menemaniku Saat Skizofrenia Mendera
Pekerja Anak Dalam Kenangan
“Galbay” di Negeri “Wakanda”: Sebuah Renungan
Setelah Suami Berpulang
Enam Bulan Kerinduan

Tags: sastrasastrawantaksuUmbu Landu Paranggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengintip Pembuatan Slerek Pengambengan, Kapal Kayu Warisan Maritim Nusantara

Next Post

Menerima Tantangan Rasi Bintang: Dari Denfest 2024 Mengenang Aguk

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Menerima Tantangan Rasi Bintang: Dari Denfest 2024 Mengenang Aguk

Menerima Tantangan Rasi Bintang: Dari Denfest 2024 Mengenang Aguk

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co