24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mereka Tidak Benar-benar Pergi

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 26, 2024
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

“Kamu mencintai kekasihmu?”

“Ya, cinta, Pak”

“Kalau begitu, nanti kita lamar dia. Kalian menikah!”

Percakapan di atas berlangsung dalam mimpi saya, beberapa hari lalu. Untuk kali kedua, mendiang Umbu Landu Paranggi datang menemui saya dalam mimpi. Kejadian dalam mimpi tersebut terasa begitu nyata. Sepulang dari sebuah acara budaya, saya berjalan kaki. Tiba-tiba ada lelaki tua yang sedang berada di sebuah warung—memakai baju kemeja yang lengannya dilipat, lengkap dengan topi di kepala, melambaikan tangannya dan menyuruh saya untuk mendekat. Beliau, Pak Umbu, yang dikenal sebagai “mahaguru” dari banyak seniman di Bali, mengajak saya berbincang lalu berkata-kata seperti percakapan pada  awal tulisan ini.

Dalam mimpi itu, Pak Umbu juga “menunjukkan” teman perempuan yang berpotensi menjadi “penggoda” dan bisa “merusak” hubungan saya dengan tunangan saya. Beliau menyarankan saya untuk menjauhi teman itu. Di akhir mimpi, beliau menggosok-gosok gigi bagian bawah saya, seperti gerakan pada upacara potong gigi di Bali. Katanya, ada “masalah” saat saya mengikuti upacara tersebut saat saya remaja dulu, sehingga saya mengalami “sakit” karena “ada yang menganggu”. Pak Umbu seperti “mengobati” saya melalui mimpi tersebut.

Mimpi yang berlangsung—jika dihitung dalam waktu di dunia nyata—hanya 10 menit tersebut, rasanya lama sekali, jernih, terasa benar-benar terjadi. Saat bangun, saya merasa perlu sebentar “diam” dan “hening” untuk bisa “mencerna” isi mimpi tersebut. “Pak Umbu datang lagi,” gumam saya ketika duduk di tepi ranjang. Mimpi yang benar-benar punya arti mendalam bagi saya. Bagi yang hanya menganggap mimpi sebagai “bunga tidur” belaka, tentu cerita ini terdengar tidak punya makna. Berbeda dengan halnya mereka yang mengerti dunia “kebatinan”/spiritualitas, hal itu tentunya memiliki arti, makna, dan hikmah tersendiri.

Meskipun saya bukan “murid” yang dekat secara personal dengan Pak Umbu saat beliau masih hidup, seperti kawan-kawan penulis dan seniman lainnya, “kedekatan” kami hanya melalui satu kali perjumpaan saat ada kegiatan baca puisi di Jatijagat Kehidupan Puisi (JKP) di Renon, Denpasar, Bali, beberapa bulan sebelum beliau wafat pada 2021.

Kala itu, beliau mengomentari puisi karya saya yang saya bacakan. Puisi itu berjudul “Suara Sunyi”, termuat dalam buku kumpulan puisi “Tidur di Hari Minggu”, terbit pada Januari 2020 oleh Penerbit Mahima Institute Indonesia yang digawangi Made Adnyana Ole dan Kadek Sonia Piscayanti, pasangan sastrawan di Singaraja, Bali. Mereka adalah pegiat dan penggerak sastra yang tekun dan juga amat gigih.

Pak Umbu dan saya layaknya seperti dua orang sahabat yang lama sekali tidak berjumpa, pada malam hari tersebut. Kata beliau, beliau mendapat cerita tentang saya dari percakapan beliau dengan IDK Raka Kusuma, sastrawan di Karangasem, Bali bagian timur, dalam sebuah kesempatan. Pada 2015, puisi-puisi saya dimuat di Bali Post untuk kali pertama dan terakhir oleh Pak Umbu Landu Paranggi. Senang sekali bagi kami, penulis di Bali dan juga di luar Bali, jika puisi-puisi kami dimuat di media cetak tempat beliau menjadi redaktur sastra selama puluhan tahun itu.

Saya menjadi percaya, ada kekuatan yang terus “membimbing” saya dalam menulis. Keyakinan ini “muncul” karena saat saya menulis “seperti ada yang menyuruh”, ada “kekuatan lain” yang menggerakan jari-jari saya di komputer. Tulisan, baik itu puisi maupun esai, begitu cepat saya bisa selesaikan. Alhasil, saya menjadi penulis yang sangat produktif dalam berkarya. Telah tiga belas buku saya tulis dalam enam tahun, sejak 2018, ketika buku puisi pertama saya terbit.

Metode menulis dengan kekuatan “lain” sering disebut sebagai automatic writing atau psychography, yaknikemampuan untuk menulis dan mengekspresikan ide-ide tanpa sepengetahuan pikiran sadar (tidak disadari), baik dalam hal tindakan menulis atau ide-ide yang diekspresikan dalam bentuk tulisan.

Pengertian ini kurang cocok dengan apa yang saya “alami” dalam menulis, karena setiap huruf dan kata yang saya ketikkan di komputer atau tuliskan di buku tulis atau secarik kertas amat runut, rapi, dan teratur—berbeda dengan pengertian automatic writing yang seakan-akan “menuliskan apa saja yang ada di pikiran”, juga sering dihubungkan dengan “hal-hal supranatural”. Saya lebih percaya bahwa menulis adalah sebuah keterampilan; semakin sering dan biasa seseorang menulis, semakin mudah dan cepat ia bisa menghasilkan tulisan; baik itu puisi, cerita pendek, esai, bahkan juga sebuah novel.

Apa yang alami bisa oleh “kedua-duanya”: kekuatan “lain” dan juga oleh sebab keterampilan yang diasah bertahun-tahun. Menurut keyakinan Hindu yang yang saya anut, mereka yang telah meninggal sebenarnya “tidak benar-benar pergi”. Mereka hanya meninggalkan badan yang oleh sebab tertentu, misalnya karena sakit, telah “rusak”, kemudian jiwa mencari “badan” baru melalui kelahiran kembali, yang oleh Bhagavad-Gita diibaratkan seperti “baju-baju yang berganti”, dimana badan disebut sebagai sebuah “pakaian” bagi atma/jiwa/ruh.


Ada juga yang oleh sebab karma atau kecenderungan batinnya menjadi “pembimbing”, ia akan terus dan tetap menjalankan tugas tersebut. Jiwa-jiwa dan “pribadi” suci inilah yang sering “berkomunikasi” dengan “orang-orang” melalui apa yang disebut sebagai “ilham”, “wahyu”, atau dalam bahasa keseharian: “inspirasi” bagi mereka yang bekerja berdasarkan intuisi seperti penyair, penulis, pemusik, atau penari; para seniman yang biasanya “intuitif”.

Pola hidup yang “intuitif” inilah yang kemudian melahirkan karya-karya yang disebut “jenius/”berbeda” dengan karya-karya biasa yang lahir berdasarkan (hanya) oleh logika tanpa menyertakan apa yang disebut di Bali sebagai taksu atau “daya” hidup. Hasilnya amat berbeda.

Jika ingin karya seniman mempunyai taksu, dalam pengalaman saya, kuncinya sangat sederhana: kemampuan membuka diri, ibarat gelas, membiarkan “gelas” atau “diri” selalu “kosong”. Mengurangi beban pikiran dan perasaan melalui meditasi sangatlah bagus. Berkarya hanya untuk “karya” itu sendiri, atau niat untuk berbagi. Tidak lebih dari itu, misalnya mencari popularitas.

Akan lebih bagus lagi jika menganggap aktivitas seni sebagai sebuah “persembahan” bagi “kekuatan agung”; tuhan, dewa, atau para leluhur, seperti yang masyarakat Bali di masa lalu lakukan. Maka itu, tidak ada istilah “seniman” di Bali, dahulu kala, karena mereka melakukannya sebagai sebuah “pemujaan”. Taksu menjadi bagian keseharian hidup mereka. Termasuk hubungan dengan kekuatan-kekuatan niskala atau unsur-unsur “lain”, tidak kasat mata. Semua terjadi secara alami, dan bukan dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa.

Menulis pada dini hari, saat dunia terasa begitu hening, misalnya, menjadi momen tersendiri bagi penulis. Jari-jari “menari” pada tuts komputer, menghasilkan karya yang ditulis tidak semata-mata untuk materi belaka. Kekuatan “lain” boleh hadir, sebagai “teman” pembimbing. Penulis, sejatinya hanyalah sebagai “mediator”. Itulah sebabnya, para pujangga zaman dahulu sering tidak menulis identitasnya sebagai pencipta karya. Atau, jika pun ingin menulis, menggunakan nama samaran. Mereka sadar dan sangat “tahu diri”, bahwa yang menulis bukan mereka, melainkan “semesta”. Dari “mereka” yang tidak benar-benar pergi. Mereka terus memberi taksu. [T]


BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Ibu Menemaniku Saat Skizofrenia Mendera
Pekerja Anak Dalam Kenangan
“Galbay” di Negeri “Wakanda”: Sebuah Renungan
Setelah Suami Berpulang
Enam Bulan Kerinduan

Tags: sastrasastrawantaksuUmbu Landu Paranggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengintip Pembuatan Slerek Pengambengan, Kapal Kayu Warisan Maritim Nusantara

Next Post

Menerima Tantangan Rasi Bintang: Dari Denfest 2024 Mengenang Aguk

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Menerima Tantangan Rasi Bintang: Dari Denfest 2024 Mengenang Aguk

Menerima Tantangan Rasi Bintang: Dari Denfest 2024 Mengenang Aguk

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co