2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

Ashlikhatul Fuaddah by Ashlikhatul Fuaddah
December 26, 2024
in Esai
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

Ashlikhatul Fuaddah

BERAGAM konten media sosial saat ini sering membangun hegemoni bahwa “laki-laki tidak bercerita” adalah simbol kekuatan. Namun, di balik narasi ini tersimpan kenyataan pahit yang jarang dibahas: angka bunuh diri pada pria jauh lebih tinggi dibandingkan perempuan, baik secara global maupun di Indonesia.

Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pria menyumbang 75% dari total angka bunuh diri dunia setiap tahunnya. Data dari WHO Global Suicide Estimates 2019 mencatat rasio bunuh diri pria di Indonesia mencapai 10,3 per 100.000 penduduk, lebih tinggi daripada perempuan yang berada di angka 3,7 per 100.000. Fakta ini menunjukkan dampak destruktif dari budaya yang membungkam pria untuk berbicara tentang masalah mereka.

Mengapa Pria Memilih Diam?

Norma budaya yang menempatkan pria sebagai sosok kuat, mandiri, dan tidak emosional berakar dalam pada budaya patriarki. Dalam norma ini, berbicara tentang perasaan sering dianggap sebagai kelemahan.

Sebuah penelitian oleh Badan Pusat Statistik (BPS, 2020) menunjukkan bahwa hanya sekitar 20% pria di Indonesia yang bersedia mencari bantuan profesional ketika mengalami tekanan emosional. Sebaliknya, 40% perempuan melaporkan bersedia mencari bantuan psikologis. Stigma sosial yang melekat pada kesehatan mental semakin memperburuk situasi ini, di mana pria yang menunjukkan kerentanan emosional sering dianggap “tidak jantan”.

Kurangnya pendidikan emosional sejak dini juga menjadi penyebab. Banyak anak laki-laki di Indonesia tumbuh tanpa diajarkan bagaimana mengenali, mengelola, dan mengekspresikan emosi mereka secara sehat. Saat menghadapi tekanan berat dalam kehidupan dewasa, mereka menjadi lebih rentan terhadap gangguan mental seperti depresi atau kecemasan, yang sering kali tidak terdeteksi hingga terlambat.

Dampak “Tidak Bercerita” pada Angka Bunuh Diri

Fenomena “tidak bercerita” memiliki hubungan langsung dengan tingginya angka bunuh diri di kalangan pria. Menurut Global Health Data Exchange (2019), pria lebih cenderung menggunakan metode bunuh diri yang fatal seperti gantung diri atau penggunaan senjata tajam, sehingga lebih sering berujung pada kematian.

Laporan Komnas Perlindungan Anak (2021) menunjukkan bahwa angka bunuh diri pada pria muda (usia 15–24 tahun) meningkat selama pandemi COVID-19. Penyebab utama adalah stres ekonomi, isolasi sosial, dan kurangnya dukungan emosional. Banyak dari mereka tidak memiliki akses ke layanan kesehatan mental atau merasa malu untuk mencarinya. Kombinasi faktor ini menciptakan situasi yang mematikan.

Psikologi Komunikasi: Pentingnya Berbicara

Dalam perspektif psikologi komunikasi, berbicara tentang masalah bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah awal menuju pemulihan. Berkomunikasi dengan orang terpercaya dapat membantu mengurangi tekanan emosional dan memberikan perspektif baru dalam menyelesaikan masalah.

 Konsep active listening (mendengarkan secara aktif) sangat relevan di sini. Dengan mendengarkan secara penuh tanpa menghakimi, pendengar menciptakan ruang aman yang mendukung pria untuk berbagi cerita.

Temuan terkini dalam psikologi komunikasi menyoroti pentingnya komunikasi yang empatik. Penelitian oleh Fredrickson & Joiner (2018) tentang efek komunikasi positif menunjukkan bahwa berbicara dengan seseorang yang memberikan dukungan emosional dapat meningkatkan suasana hati dan mengurangi risiko depresi. Ini membuktikan bahwa mendengarkan dengan empati dapat menjadi langkah preventif terhadap gangguan kesehatan mental.

Selain itu, menciptakan ruang aman secara emosional penting untuk menghilangkan stigma yang melekat pada kesehatan mental pria. Komunitas dukungan atau kelompok diskusi yang dirancang khusus untuk pria menjadi solusi efektif dalam membantu mereka mengatasi isolasi emosional. Sebuah studi oleh Kuehn et al. (2020) mengungkapkan bahwa pria lebih cenderung terbuka dalam lingkungan yang tidak menghakimi, terutama jika mereka berada di antara individu yang memiliki pengalaman serupa.

Mengubah Pandangan tentang Maskulinitas

Redefinisi maskulinitas adalah langkah krusial untuk mengatasi stigma ini. Maskulinitas tidak seharusnya diukur dari kemampuan pria menahan emosi, tetapi dari keberanian mereka menghadapi masalah secara terbuka. Kampanye seperti #BeraniBicara yang digagas oleh organisasi kesehatan mental di Indonesia telah membuktikan bahwa berbagi cerita bukan hanya bermanfaat bagi individu, tetapi juga menginspirasi pria lain untuk berbicara.

Pendidikan emosional juga harus dimulai sejak dini. Anak laki-laki perlu diajarkan bahwa emosi adalah bagian alami dari kehidupan manusia dan berbicara tentang perasaan adalah hal yang sehat. Dengan keterampilan komunikasi yang lebih baik, mereka akan lebih mampu mengelola tekanan hidup dan terhindar dari dampak buruk memendam emosi.

Jadi, Perlukah Pria Bercerita?

Jawabannya jelas, ya! Pria perlu bercerita. Berbicara tentang masalah bukan hanya cara untuk melepaskan beban emosional, tetapi juga langkah penting dalam mencari solusi. Fenomena “laki-laki tidak bercerita” adalah hasil dari budaya yang menekan ekspresi emosi, yang memiliki dampak serius pada kesehatan mental pria. Dengan mendukung keterbukaan emosional, mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental, dan mempromosikan maskulinitas yang lebih sehat, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mengurangi angka bunuh diri di Indonesia.

Menyuarakan perasaan bukanlah tanda kelemahan, melainkan keberanian yang mendefinisikan kekuatan sejati. Saat pria berbicara, mereka tidak hanya membebaskan diri dari belenggu emosi, tetapi juga membuka jalan bagi transformasi budaya yang lebih sehat dan inklusif.

 Karena sejatinya, kisah yang dibagikan memiliki daya untuk menyembuhkan, menginspirasi, dan melahirkan perubahan besar bagi diri sendiri, bagi sesama, dan bagi generasi mendatang. Mari kita akhiri hegemoni “diam adalah kekuatan” dengan keberanian untuk berbicara, karena kehidupan terlalu berharga untuk terbungkam. [T]

BACA artikel lain dari penulis Ashlikhatul Fuaddah

Literasi Digital dan Praktik Jahat AIDA sebagai Strategi Penipuan Efektif
Tradisi Bayen di Wonosobo: Komunikasi Antarpersona Mewujudkan Women Support Women
Teknologi Komunikasi: Analisis Trade Policy Marketplace di Indonesia
Media Sosial untuk Revolusi Kesadaran Lingkungan
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

Tags: bunuh dirilaki-lakiPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Madura dan Koreografi Pinggirannya yang Menggugat

Next Post

Mengintip Pembuatan Slerek Pengambengan, Kapal Kayu Warisan Maritim Nusantara

Ashlikhatul Fuaddah

Ashlikhatul Fuaddah

Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Mengintip Pembuatan Slerek Pengambengan, Kapal Kayu Warisan Maritim Nusantara

Mengintip Pembuatan Slerek Pengambengan, Kapal Kayu Warisan Maritim Nusantara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co