23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

Ashlikhatul Fuaddah by Ashlikhatul Fuaddah
December 26, 2024
in Esai
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

Ashlikhatul Fuaddah

BERAGAM konten media sosial saat ini sering membangun hegemoni bahwa “laki-laki tidak bercerita” adalah simbol kekuatan. Namun, di balik narasi ini tersimpan kenyataan pahit yang jarang dibahas: angka bunuh diri pada pria jauh lebih tinggi dibandingkan perempuan, baik secara global maupun di Indonesia.

Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pria menyumbang 75% dari total angka bunuh diri dunia setiap tahunnya. Data dari WHO Global Suicide Estimates 2019 mencatat rasio bunuh diri pria di Indonesia mencapai 10,3 per 100.000 penduduk, lebih tinggi daripada perempuan yang berada di angka 3,7 per 100.000. Fakta ini menunjukkan dampak destruktif dari budaya yang membungkam pria untuk berbicara tentang masalah mereka.

Mengapa Pria Memilih Diam?

Norma budaya yang menempatkan pria sebagai sosok kuat, mandiri, dan tidak emosional berakar dalam pada budaya patriarki. Dalam norma ini, berbicara tentang perasaan sering dianggap sebagai kelemahan.

Sebuah penelitian oleh Badan Pusat Statistik (BPS, 2020) menunjukkan bahwa hanya sekitar 20% pria di Indonesia yang bersedia mencari bantuan profesional ketika mengalami tekanan emosional. Sebaliknya, 40% perempuan melaporkan bersedia mencari bantuan psikologis. Stigma sosial yang melekat pada kesehatan mental semakin memperburuk situasi ini, di mana pria yang menunjukkan kerentanan emosional sering dianggap “tidak jantan”.

Kurangnya pendidikan emosional sejak dini juga menjadi penyebab. Banyak anak laki-laki di Indonesia tumbuh tanpa diajarkan bagaimana mengenali, mengelola, dan mengekspresikan emosi mereka secara sehat. Saat menghadapi tekanan berat dalam kehidupan dewasa, mereka menjadi lebih rentan terhadap gangguan mental seperti depresi atau kecemasan, yang sering kali tidak terdeteksi hingga terlambat.

Dampak “Tidak Bercerita” pada Angka Bunuh Diri

Fenomena “tidak bercerita” memiliki hubungan langsung dengan tingginya angka bunuh diri di kalangan pria. Menurut Global Health Data Exchange (2019), pria lebih cenderung menggunakan metode bunuh diri yang fatal seperti gantung diri atau penggunaan senjata tajam, sehingga lebih sering berujung pada kematian.

Laporan Komnas Perlindungan Anak (2021) menunjukkan bahwa angka bunuh diri pada pria muda (usia 15–24 tahun) meningkat selama pandemi COVID-19. Penyebab utama adalah stres ekonomi, isolasi sosial, dan kurangnya dukungan emosional. Banyak dari mereka tidak memiliki akses ke layanan kesehatan mental atau merasa malu untuk mencarinya. Kombinasi faktor ini menciptakan situasi yang mematikan.

Psikologi Komunikasi: Pentingnya Berbicara

Dalam perspektif psikologi komunikasi, berbicara tentang masalah bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah awal menuju pemulihan. Berkomunikasi dengan orang terpercaya dapat membantu mengurangi tekanan emosional dan memberikan perspektif baru dalam menyelesaikan masalah.

 Konsep active listening (mendengarkan secara aktif) sangat relevan di sini. Dengan mendengarkan secara penuh tanpa menghakimi, pendengar menciptakan ruang aman yang mendukung pria untuk berbagi cerita.

Temuan terkini dalam psikologi komunikasi menyoroti pentingnya komunikasi yang empatik. Penelitian oleh Fredrickson & Joiner (2018) tentang efek komunikasi positif menunjukkan bahwa berbicara dengan seseorang yang memberikan dukungan emosional dapat meningkatkan suasana hati dan mengurangi risiko depresi. Ini membuktikan bahwa mendengarkan dengan empati dapat menjadi langkah preventif terhadap gangguan kesehatan mental.

Selain itu, menciptakan ruang aman secara emosional penting untuk menghilangkan stigma yang melekat pada kesehatan mental pria. Komunitas dukungan atau kelompok diskusi yang dirancang khusus untuk pria menjadi solusi efektif dalam membantu mereka mengatasi isolasi emosional. Sebuah studi oleh Kuehn et al. (2020) mengungkapkan bahwa pria lebih cenderung terbuka dalam lingkungan yang tidak menghakimi, terutama jika mereka berada di antara individu yang memiliki pengalaman serupa.

Mengubah Pandangan tentang Maskulinitas

Redefinisi maskulinitas adalah langkah krusial untuk mengatasi stigma ini. Maskulinitas tidak seharusnya diukur dari kemampuan pria menahan emosi, tetapi dari keberanian mereka menghadapi masalah secara terbuka. Kampanye seperti #BeraniBicara yang digagas oleh organisasi kesehatan mental di Indonesia telah membuktikan bahwa berbagi cerita bukan hanya bermanfaat bagi individu, tetapi juga menginspirasi pria lain untuk berbicara.

Pendidikan emosional juga harus dimulai sejak dini. Anak laki-laki perlu diajarkan bahwa emosi adalah bagian alami dari kehidupan manusia dan berbicara tentang perasaan adalah hal yang sehat. Dengan keterampilan komunikasi yang lebih baik, mereka akan lebih mampu mengelola tekanan hidup dan terhindar dari dampak buruk memendam emosi.

Jadi, Perlukah Pria Bercerita?

Jawabannya jelas, ya! Pria perlu bercerita. Berbicara tentang masalah bukan hanya cara untuk melepaskan beban emosional, tetapi juga langkah penting dalam mencari solusi. Fenomena “laki-laki tidak bercerita” adalah hasil dari budaya yang menekan ekspresi emosi, yang memiliki dampak serius pada kesehatan mental pria. Dengan mendukung keterbukaan emosional, mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental, dan mempromosikan maskulinitas yang lebih sehat, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mengurangi angka bunuh diri di Indonesia.

Menyuarakan perasaan bukanlah tanda kelemahan, melainkan keberanian yang mendefinisikan kekuatan sejati. Saat pria berbicara, mereka tidak hanya membebaskan diri dari belenggu emosi, tetapi juga membuka jalan bagi transformasi budaya yang lebih sehat dan inklusif.

 Karena sejatinya, kisah yang dibagikan memiliki daya untuk menyembuhkan, menginspirasi, dan melahirkan perubahan besar bagi diri sendiri, bagi sesama, dan bagi generasi mendatang. Mari kita akhiri hegemoni “diam adalah kekuatan” dengan keberanian untuk berbicara, karena kehidupan terlalu berharga untuk terbungkam. [T]

BACA artikel lain dari penulis Ashlikhatul Fuaddah

Literasi Digital dan Praktik Jahat AIDA sebagai Strategi Penipuan Efektif
Tradisi Bayen di Wonosobo: Komunikasi Antarpersona Mewujudkan Women Support Women
Teknologi Komunikasi: Analisis Trade Policy Marketplace di Indonesia
Media Sosial untuk Revolusi Kesadaran Lingkungan
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

Tags: bunuh dirilaki-lakiPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Madura dan Koreografi Pinggirannya yang Menggugat

Next Post

Mengintip Pembuatan Slerek Pengambengan, Kapal Kayu Warisan Maritim Nusantara

Ashlikhatul Fuaddah

Ashlikhatul Fuaddah

Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Mengintip Pembuatan Slerek Pengambengan, Kapal Kayu Warisan Maritim Nusantara

Mengintip Pembuatan Slerek Pengambengan, Kapal Kayu Warisan Maritim Nusantara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co