23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Madura dan Koreografi Pinggirannya yang Menggugat

Arif Wibowo by Arif Wibowo
December 27, 2024
in Ulas Pentas
Madura dan Koreografi Pinggirannya yang Menggugat

Pertunjukan "Meksiko, Meksiko, Meksiko". Koreografer: Shohifur Ridho’i. Foto: Amrita Dharma.

“Kita semua adalah kuli…”

Adalah kata-kata yang melekat di benak kepala saya yang ketika pernyataan ini disampaikan oleh Shohifur Ridho’i melalui speaker megaphone yang dibawanya. Menjelang akhir pertunjukan, Ridho membawakan narasi sejarah panjang tentang sejarah migrasi orang-orang Madura sejak zaman Kolonial, khususnya di Pulau Jawa. Melalui pertujunjukan Meksiko, Meksiko, Meksiko, Ridho berupaya membongkar ulang fenomena koreografi Jamet Kuproy yang berkembang di kalangan anak muda Madura Kontemporer. Di balik tarian Jamet Kuproy tersimpan relik-relik arsip tentang gugatan atas kelas dan identitas yang selama ini dianggap liyan. “Kita semua adalah kuli”, memantik kesadaran para penonton melihat kembali ke-kulian-nya di tengah ketakberdayaanya atas, ketimpangan kelas, hegemoni dan kekuasaan suprastruktur dan kapitalisme akut yang membelenggu.

***

APA yang Anda bayangkan dengan tarian Jamet Kuproy dari Madura yang cukup viral beberapa waktu lalu itu? Tarian ini cukup viral di platform media sosial itu, salah satunya Boger Bajinov dengan follower mencapai 35 ribu. Sambil menonton pertunjukan ini dalam hati saya bergumam, akhirnya orang-orang kota ini juga bisa larut dalam tarian ini  melalui pertunjukkan bertajuk Meksiko, Meksiko, Meksiko yang tampil pada B-PART ((Bali Performing Arts Meeting)  2024 pada Sabtu (30/11/2024). Betapa tidak, yang saya tahu tarian Jamet Kuproy ini begitu banyak mengundang cibiran negatif dengan citra ndeso-nya oleh komentar netizen.

Pertunjukan Meksiko, Meksiko, Meksiko digagas oleh Shohifur Ridho’i, seniman asal Madura yang menempa kesenimanan-nya di Yogyakarta.  Karya ini berangkat dari fenomena tarian Jamet Kuproy yang berkembang di kalangan anak muda Madura belakangan ini. Fenomena koreografi ini berkembang secara vernakular di tengah kehidupan anak muda yang dianggap pinggiran. Melalui penyelidikan artistik menggunakan modus salin-tinampil (reenactment), Ridho mencoba mengembangkan tarian ini menyentuh dimensi politis dari kolektifitas Jamet Kuproy.

Karya ini lahir dari proses pengembangan artistik melalui program PAIRING (Performing Arts Incubation Trajectory) salah satu dari rangkaian program Jakarta International Contemporary Dance Festival (JICON) 2024. Ridho mengembangkan pertunjukan ini berkoloborasi bersama Agus Wiratama (Bali) sebagai produser dan Raymizard Alifian Firmansyah sebagai periset. Sedangkan pada pemanggungan pada BPART 2024, ia berkolaborasi  bersama seniman Bali,  Adi Gunawan dan Oka Pratama.

Jamet Kuproy dan Fenomena Kontemporer anak muda Madura

Beberapa waktu lalu, beranda media sosial kita melalui platform TikTok dan Instagram diramaikan oleh video tarian Jamet Kuproy, Pemuda dari Madura bernama Boger Bajinov sapaan populernya. Ia merupakan salah satu sosok yang viral di membawakan tarian ini. Secara rutin, ia dan kawan-kawannya membagikan konten video tarian Jamet di akun pribadanya. Followers dan konten kreator lain pun berdatangan, berkolaborasi membuat konten video sehingga membawanya berada di puncak popularitas. Di tengah popularitasnya itu, juga banyak netizen yang berkomentar miring dengan aksi Boger. Komentar miring itu dilontarkan netizen dengan mengaitkan citra penampilannya yang dinilai pinggiran dalam kacamata standar anak muda perkotaan. Bahkan, komentar stereotype identitas Madura yang dianggap bertolak belakang dengan standar nilai-nilai kejawaan dan perkotaan juga kerap kali hadir mewarnai.

Boger hadir di media sosial tampil apa adanya seperti kebanyakan anak muda di pedesaan Madura. Tampilan dengan kaos over size dan rambut panjang menjadi ciri khasnya yang menonjol. Musik remix DJ dengan beat yang dinamis ala klub malam menjadi pengiring koreografinya yang heroik itu. Penampilan dan cara berpakaian Boger diidentikkan seperti kuli proyek alias “kuproy”.

Ia memanfaatkan ruang-ruang di sekitar tempat tinggalnya untuk menari. Rumah sederhana berdinding batu putih kerap kali mencuri perhatian saya. Batu bata putih itu memang menjadi material bangunan yang umum digunakan oleh masyarakat di Pulau Madura. Bentang alam berkapur menghasilkan material batu bata putih yang melimpah, sehingga masyarakat mudah mendapatkannya. Suasana lansekap pedesaan Madura mewarnai setting pertunjukannya.

Apa hubungan Jamet Kuproy, Madura dan Meksiko?

Tarian Jamet Kuproy merupakan fenomena kontemporer anak muda Madura. Kemudahan akses teknologi informasi dalam genggaman tangan mengakibatkan arus pertukaran informasi begitu cepat melalui media sosial. Latar belakang inilah yang membuat siapa saja bisa menyebarkan ide, gagasan, maupun ekspresi termasuk Boger Bajinov dkk lewat tarian Jamet Kuproy-nya. Julukan Kuproy telah melekat kepada para pegiat koreografi ini. Namun julukan itu sungguh sangat dilematis. Kuproy merujuk stereotyping citra kuli atau pekerja kasar yang merujuk pada pengkategorian kelas sosial sebagai warga kelas dua.

Sejalan dengan itu, Identitas etnis Madura juga kerap kali diidentikkan dengan tatapan negatif baik melalui candaan hingga stigma negatif yang serius. Penggambaran negatif kelompok etnis Madura kerap kali diidentikan dengan karakter yang keras, sulit diatur, udik hingga sering kali menjadi bahan candaan. Fenomena ini terus menerus direproduksi melalui berbagai kanal media dengan beragam medium konten.

Di Surabaya misalnya, stereotyping Madura yang negatif begitu terasa. Surabaya bagian utara yang berhadapan langsung dengan Pulau Madura yang banyak dihuni oleh masyarakat etnis Madura. Surabaya Utara sering disebut sebagai Meksiko-nya Surabaya, atau kadang disebut sebagai blok M yang merujuk pada Madura dan Meksiko. Ada beberapa kesamaan mengapa sebutan Madura ini dikaitkan dengan Meksiko. Antara lain, keberadaan Jembatan Suramadu yang disamakan dengan Golden Gate Bridge di Amerika dimana kawasan ini banyak dihuni warga keturunan Meksiko. Selain itu, Meksiko disamakan dengan Surabaya Utara dengan kondisi kota yang semrawut dipenuhi dengan kendaraan truk yang lalu Lalang[1].

Madura dan Meksiko keduanya sebagai kelompok sosial masyarakat yang memiliki kesamaan latar belakangan sejarah di masa lalu. Di masa kolonial, warga Madura banyak melakukan migrasi ke Jawa tepatnya pada abad 19. Pemerintah Kolonial Belanda memperkerjakan orang-orang Madura sebagai buruh pada industri perkebunan di beberapa wilayah di Jawa Timur[2]. Kehadiran masyarakat etnis Madura di Jawa Timur ini akhirnya juga membentuk formasi etnis Pendhalungan yang muncul atas interaksi sosial dan budaya antara masyarakat Jawa dan Madura[3].

Fenomena rasisme dan diskriminasi juga banyak terjadi di Amerika. Masyarakat Amerika keturunan Meksiko kerap kali menjadi sasaran rasisme dan diskriminasi di negara ini. Gelombang migrasi besar-besaran masyarakat Meksiko ke Amerika terjadi dalam beberapa dekade belakangan. Bahkan, kelompok masyarakat Meksiko menduduki peringkat migran terbesar menduduki angka 23 persen dari total kelompok migran lain[4]. Kedatangan orang-orang Meksiko ke negara adi daya ini juga dilatarbelakangi oleh kepentingan ekonomi untuk kehidupan yang lebih baik daripada di negara asalnya.  Kehadiran orang-orang Meksiko yang kemudian mengalami integrasi sosial melalui perkawinan dengan masyarakat kulit putih menghasilkan generasi campuran.

Rasisme dan diskriminasi umumnya terjadi karena adanya sentimen negatif masyarakat kulit putih kepada kelompok diluarnya. Ketidaksetaraan pendidikan juga mempengaruhi masyarakat keturunan Meksiko mendapatkan askes ekonomi dan kesempatannya berpartisipasi pada sektor strategis. Fenomena ini telah melanggengan fenomena diskriminasi dan rasisme terhadap kelompok masyarakat keturunan Meksiko[5].

Sebagai orang Jawa Timur, saya perlu meluruskan tatapan kita tentang Madura. Superioritas Jawa yang selama ini menghegemoni kerap kali menempatkan posisi suborndinat Madura sebagai objek inferior. Walaupun hubungan Jawa – Madura telah terbangun lama, namun pada sebagian masyarakat konservatif masih saja muncul segregasi kebudayaan di antara keduanya. Wacana sejarah yang selama ini diamini juga turut membentuk pandangan inferior terhadap Madura dan para perantaunya. Di kalangan sejarahwan-antropolog seperti Kuntowijoyo misalnya pada karya Madura (2002) yang menulis sejarah Madura dalam bayang-bayang Jawa. Ia menempatkan Jawa pada posisi hirarkis yang lebih tinggi turut membentuk asumsi terhadap sejarah Madura sehingga terjebak dalam kolonialisasi historigrafis. Sebuah problem utama dalam penulisan sejarah di negara pasca-kolonial[6].

Kodifikasi Koreografi Vernakular dan Ruang Negosiasi

Pertunjukan “Meksiko, Meksiko, Meksiko”. Koreografer: Shohifur Ridho’i | Foto: Amrita Dharma

Fenomena tari Jamet Kuproy yang berkembang di kalangan anak muda Madura itu merupakan fenomena tari yang berkembang secara vernakular. Kata vernakular berasal dari bahasa latin “vernaculus” yang berarti lokal, asli atau domestik. Istilah vernakular banyak digunakan di bidang arsitektur, seperti istilah “arsitektur vernakular” yang merujuk pada sistem pengetahuan arsitektur yang diciptakan tanpa tenaga ahli arsitek profesional melainkan tumbuh dari pengetahun masyarakat. Arsitektur vernakular diyakini mamapu beradaptasi pada konteks kesetempatan baik iklim, ekologi maupun nilai ekonomi, sosial dan budaya masyarakat[7].

Meminjam kacamata pengetahuan arsitektur seperti diatas, maka tari Jamet Kuproy merupakan bagian dari produk koreografi vernakular yang tumbuh dari masyarakat yang tidak berlatar belakang pendidikan koreografi secara formal dibawah bimbingan profesional. Namun, justru menjadi fenomena koreografi yang berkembang secara organik di tengah masyarakat.

Ridho sebagai seniman pertunjukan mencoba untuk “meminjam” koreografi ini untuk kemudian dibaca ulang dan direkonstruksi menjadi sebuah pertunjukan yang mampu berbicara secara gamblang hingga menyentuh pada aspek politis-estetis. Jika koreografi Jamet Kuproy yang dibawakan Boger Bajinov tumbuh untuk memenuhi kepentingan praktis kelompok pendukungnya di akar rumput. Maka Koreografi Jamet Kuproy pada pertunjukan Meksiko, Meksiko, Meksiko ini berusaha untuk menegosiasikan kepentingan yang bersifat konstruktif dalam rangka menyusun ulang aspek-aspek yang hadir berkelindan dibalik kemunculan fenomena koreografi Jamet Kuproy. Baik itu pada aspek bentuk dan kosa gerak maupun-aspek “politis-estetis” seperti pesan tentang ketimpangan kelas dan marginalisasi identitas kebudayaan yang selama ini dialami oleh etnis Madura.

Ridho memiliki pengalaman ketubuhan yang melekat sebagai orang Madura (insider) ditengah persinggungannya dengan kehidupan kosmopolitan urban Jogja. Dengan membawa koreografi Jamet Kuproy kepada khalayak yang lebih luas, telah menjembatani koreografi Jamet Kuproy yang selama ini dianggap pinggiran kemudian dapat diterima oleh khalayak urban-terdidik. Tak hanya itu, hadirnya koreografi vernakular yang pinggiran ini ditengah kultur urban ini juga menjadi tamparan atas realitas ketimpangan yang menganga lebar. Karya ini menjadi ruang negosiasi untuk menghadirkan pertunjukan yang menampar dengan mengkompromikan estetika kota-desa, terdidik-tak terdidik, Jawa-Madura, elit-pinggiran.

Sebagai catatan, alangkah menariknya jika pertunjukan juga menghadirkan representasi penari atau penampil yang berakar. Misalnya Boger Bajinov sebagai pelaku utama yang bersuara dalam pertunjukan ini. Selain itu, sebagai upaya kodifikasi, perlu adanya babak yang membongkar anatomi kosa gerak koreografi Jamet Kuproy yang dipresentasikan kepada khalayak untuk memahami dan mengiterpretasi tarian Jamet Kuproy ini secara komprehensif.

Terlepas dari catatan diatas, karya ini memberikan keseriuasan dalam upaya membaca peluang koreografi kontemporer yang dianggap pinggiran atau koreografi vernakular menjadi sebuah rangkaian repertoar yang mampu menegosiasikan posisinya sebagai gagasan artistik yang diterima khalayak lebih luas. Lebih dari itu, penonton diajak lebih dekat memahami Madura ditengah tatapan bias yang selama ini dihadapi oleh komunitasnya. [T]

  • Ulasan pertunjukan ini ditulis dibawah program Arts Equator Fellowship 2024

[1] “Dilema Surabaya Utara : Dijuluki Meksikonya Surabaya dan Identik dengan Hal Negatif” : https://mojok.co/terminal/dilema-kawasan-surabaya-utara/

[2] Muji Hartanto, “Migarsi Orang-Orang Madura di Ujung Timur Jawa Timur: Suatu Kajian Sosial-Ekonomi”, Jurnal ISTORIA, Vol.8 No.1 (2010).

[3] Mochamad Ilham, Orang Pendalungan (Jakarta: Penerbit BRIN, 2024), hlm.35-39.

[4] Mexican Immigrants in the United States : https://www.migrationpolicy.org/article/mexican-immigrants-united-states

[5] Vilma Ortiz dan Edward Telles, “Racial Indentity and Racial Treatment of Mexican Americans”, National Institite of Health, Race Soc Probl. 2012 April ; 4(1): . doi:10.1007/s12552-012-9064-8.

[6] Syaiful Anam, Demaduralogi: Manusia Madura, Kemewaktuan, dan Memori (Malang: Edisi Mori, 2023), hlm. 8.

[7] Ira Mentayani, Ikaputra dan Putri Rahima Muthia, “Menggali Makna Arsitektur Vernakular: Ranah, Unsur, dan Aspek-Aspek Vernakularitas”, Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2017, hlm. 109.

  • BACA artikel lain dari ARIF WIBOWO
Performance “Batu” : Ketika Perempuan Menatap Tubuhnya Sendiri
Ritus Tari Seblang Bakungan dan Imaji Kontemporer Masyarakat Pedesaan di Masa Lalu
Menghidupkan Spirit Marya dan Pernik Estetika Festival sebagai Ruang Alternatif Seni Pertunjukan Bali
Pandangan Atas Tanah Dulu dan Kini : Catatan Repertoar Tari “Sejak Padi Mengakar”

Tags: B-PartMadurapeformance artseni pertunjukanseni tari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Peta Tanpa Arah”, Pameran Seni Rupa Mahasiswa Undiksha dengan Beragam Gagasan Kritis

Next Post

Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

Arif Wibowo

Arif Wibowo

Lulusan Sarjana Arsitektur yang tertarik dengan isu-isu ketimpangan sosial dan lingkungan perkotaan sehingga lebih memilih untuk terlibat pada praktik arsitektur lansekap yang berfokus pada perancangan ruang publik dengan harapan semakin banyak ruang hijau di kawasan kota. Selain itu ia juga gemar menikmati seni tari, pertunjukan dan musik tradisi khususnya di Jawa dan Bali.

Related Posts

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails
Next Post
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co