22 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ritus Tari Seblang Bakungan dan Imaji Kontemporer Masyarakat Pedesaan di Masa Lalu

Arif Wibowo by Arif Wibowo
September 4, 2024
in Esai
Ritus Tari Seblang Bakungan dan Imaji Kontemporer Masyarakat Pedesaan di Masa Lalu

Ritus Tari Seblang Bakungan naik di atas Sanggar Pamujen, menari dengan memagang dua bilah keris di akhir pertunjukan saat mengalami ekstase puncak dengan diiring Lagu Erang-Erang. Foto: Akbar Wiyana (2024)

SORE berselimut mendung tak menghalangi seluruh warga Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi untuk mengadakan selametan kampung. Ritual tahunan yang sudah berlangsung turun temurun itu telah menjadi ritus kolektif untuk memohon berkah kepada Tuhan YME dan leluhurnya. Menjelang matahari terbenam, setiap keluarga sibuk menggelar tikar dan menyiapkan hidangan khas Nasi Tumpeng dan Pecel Pitik di halaman rumahnya.

Selain itu, sebagian warga yang terlibat langsung pada ritual adat Tari Seblang juga mengadakan selamatan di panggung utama pertunjukan. Panggung itu terletak di tengah kampung, menutup jalan utama. Panggung pertunjukan beralaskan karpet hitam dan sebuah balai terbuka berhias janur dan bunga-bunga segar menghadap ke timur sebagai elemen sakral untuk menempatkan berbagai macam sesaji. Balai ini disebut sebagai Sanggar Pamujen berfungsi seperti altar meletakkan berbagai sesaji dan hasil bumi.

Usai sholat maghrib berjama’ah, acara selamat pun dimulai serentak oleh seluruh warga. Lampu-lampu dipadamkan, digantikan oleh ajug-ajug, lampu minyak yang diletakkan pada sebatang bambu. Do’a secara Islam dipimpin oleh ulama setempat yang berpusat di panggung pertunjukan. Usai selamatan, para santri dari anak-anak hingga remaja dipimpin oleh tokoh agama melakukan pawai obor keliling kampung dengan mengumandangkan adzan di beberapa situs-situs penting desa.

Minggu (23/06/24) lalu menjadi malam sakral yang dipilih oleh pelaku adat Bakungan untuk menyelenggarakan ritual adat Seblang. Selain ritual bersih desa dengan acara inti selamatan dan ritual Tari Seblang, beberapa hari sebelumnya panitia yang diinisiasi oleh Karangtaruna setempat menyelenggarakan berbagai pentas seni dan bazar untuk memeriahkan ritual tahunan ini.

Setelah sholat Isya’, warga mulai berdatangan memenuhi panggung pertunjukan tari Seblang. Ritual ini juga dihadiri oleh pejabat setempat untuk membukanya secara seremonial. Serangkaian acara sempat terhenti oleh hujan yang sudah tak bisa dikendalikan. Walau demikian, tak seberapa lama hujan pun berhenti.

Iring-iringan penari seblang datang dari arah timur, membelah kerumunan penonton yang cukup padat. Seorang penari wanita paruh baya bernama Isni, 52 tahun dalam keadan tak sadarkan diri memegang dua bilah keris di kedua tangannya. Memasuki kalangan pertunjukan, penari Seblang itu didamping oleh Lurah Bakungan, Dukun dan Pengudang serta diiringi oleh dua orang pemuda membawa obor api pada barisan terdepannya. Gending Giro khas Banyuwangian dari Gemelan Gedhe menyambut rombongan Seblang dengan bertalu-talu menyemarakkan malam yang sakral.

Ritus Tarian Masyarakat Pedesaaan

Suasana Panggung Pertunjukan Seblang Bakungan | Foto: Akbar Wiyana (2024)

Menilisik tari Seblang adalah usaha penulis menelusuri jejak praktik koreografi yang mangakar dan membumi pada masyarakat ujung timur Jawa, Banyuwangi. Catatan ini setidaknya menjadi pijakan awal untuk mencari bentuk akar seni pertunjukan tari yang berkembang di masyarakat tradisi Using sebelum menarik lebih jauh kepada praktik kesenian di masa moderen dan kontemporer. Paul Wolbers dalam Maintaining Using Identity Through Musical Performance: Seblang and Gandrung of Banyuwangi memperkirakan Seblang merupakan tradisi yang paling tua di Banyuwangi. Lebih jauh, Wolbers menyebut tradisi ini memiliki hubungan paralel dengan tradisi Nini Thowong yang berkembang di masyarakat Jawa dan tradisi Sanghyang di Bali. Tradisi-tradisi itu sama-sama menggunakan pendekatan spiritual dan kepercayaan akan kekuatan alam semesta di luar kedirian manusia. Begitu juga dengan gendhing-gendhing yang digunakan juga memiliki pola dan kemiripan bahasa satu sama lain yaitu berarakar pada bahasa Jawa Kuna.

Tari Seblang menjadi representasi seni tari yang cukup arkaik dimana praktik ritus tari ini masih dijalankan oleh masyarakat pendukungnya hingga hari ini. Tidak ada catatan pasti kapan tradisi tari ini pertama kali diadakan. Seperti sejarah lisan pada umumnya, masyarakat setempat percaya munculnya tradisi seblang bersamaan dengan babat alas berdirinya kampung Bakungan. Untuk mendirikan kampung, para tetua saat itu harus menebang pohon beringin yang cukup besar. Beringin itu dipercaya menjadi tempat bersemayam paraDanyang. Melalui pendekatan spiritual, Danyang yang mendiami pohon beringin itu dipindah ke tempat lain dengan syarat masyarakat harus mengadakan ritual Tari Seblang. Jika tidak, maka penduduk desa akan mengalami bencana. Sehingga, ritual Tari Seblang menjadi ritus tolak bala untuk keselamatan kampung sekaligus menjadi penanda berdirinya kampung Bakungan.

Asumsi sejarah yang berkembang, kehadiran tradisi Seblang di Bakungan sezaman dengan perkembangan pembangunan Kota Banyuwangi atau sekitar abad 18 sebagai ibukota kabupaten semenjak kolonialime menguasainya. Pasca pemindahan ibu kota dari Ulu Pangpang ke Toyo Arum atau kini dikenal Banyuwangi.

Tari telah menjadi bagian yang sangat penting dalam nafas tradisi masyarakat di Nusantara. Tak terkecuali di Banyuwangi, seni tari tumbuh dari aktivitas tradisi yang bersifat sakral. Dalam bingkai pengetahuan tradisi yang sakral itulah tersimpan pengetahuan relasi manusia dengan kekuatan kosmologi di sekitarnya. Baik yang bersifat materi yang direpresentasikan relasinya dengan sumber daya alam di sekitarnya maupun imateri yang bersifat magis spiritual dalam hubungannya dengan kekuatan di luar kediriannya telah menjadi pengetahuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Maka menyaksikan ritual Tari Seblang Bakungan, saya merasa diajak kembali membaca tanda alam dan arsip keseherian masyarakat Banyuwangi yang hidup diantara budaya agraris dan maritim sebagai penopang kehidupannya yang dibalut dengan laku spiritual yang tumbuh dari spirit komunalitas kerakyatan. Lebih dari itu, Seblang juga mengekspresikan situasi serpihan sejarah kolonialisme dan realitas keberagaman identitas hibrid masyarakat Banyuwangi.

Estetika Keseharian pada Ritus yang Dipanggungkan

Penari Seblang menggendong boneka bayi, didampingi oleh Pengudang diiring gending Uga-uga | Foto: Akbar Wiyana (2024)

Seblang di Bakungan berbeda dengan Seblang di Olehsari. Di Bakungan, penari seblang adalah seorang wanita tua yang sudah menopause. Ritual dilakasnakan pada bulan Dzulhijjah tepatnya selepas perayaan hari raya Idul Adha. Pementasannya diadakan pada malam hari yang berlangsung hanya semalam, dimulai sekitar pukul delapan hingga sebelas malam.

Pementasan ritual tari seblang terdiri dari 17 repertoar tarian yang diiringi gending atau lagu. Seblang Lukinto, Tajen, Padha Nonton, Adol Kembang, Nglemar-nglemir, Uga-uga, Ratu Sabrang, Liya-liyu, Donsrok, Kembang Gadung, Sukma Ilang, Emping-emping, Surung Dayung, Mancing-Mancing, Pari O’ing, Erang-erang. Ketujuh-belas repertoar itu dibawakan secara berurutan dari awal hingga akhir. Dalam keadaan trance, penari seblang larut dalam gending-gending yang dibawakan dua sinden perempuan dengan diiringi gamelan.

Bahasa koreografi Seblang sebenarnya sangat sederhana, bahkan terkesan menari sangat bebas mengikuti alunan gamelan. Namun, ia memiliki dasar gerakan sebagaimana tarian seblang di Olehsari yaitu gerakan sapon. Umumnya gerakan sapon muncul pada saat iringan gamelan memasuki ritme tempo yang rendah. Gerakan sapon memainkan sampur atau selendang ke kanan dan kekiri dengan tubuh membungkuk ke depan. Gerakan ini mengekspresikan aktivitas membersihkan, menyapu dan menyingkirkan berbagai halangan yang ada di depan mata. Gerakan ini juga ditemui pada tari Saghyang Dedari. Pada gending pertama Seblang Lukinto, gerakan sapon ini dominan dilakukan.

Dari ketujubelas repertoar, saya menarik sebuah kesimpulan sederhana bahwa bahasa koreografi yang dipanggungkan dalam bingkai ritus tari Bakungan ini mencerminkan ekspresi kerakyatan sangat kental. Narasi-narasi yang dihadirkan tidak jauh dari keseharian masyarakat pedesaan Using yang lekat dengan budaya agraris. Begitu juga budaya pesisir juga tak luput menjadi bagian dari ekspresi ritus ini.

Dalam pementasan, ekspresi gerak koreografi pada ritus Seblang sangat tergantung dengan syair yang dibawakan oleh sinden. Dari tujuh belas deretan lagu yang ada, dari judulnya sudah bisa mendeskripsikan pesan dan gagasan repertoar yang disampaikan. Tak hanya itu, alat peraga berupa objek keseharian yang dekat dengan kehidupan agraris dan maritim seperti bajak, jala dan pancing dihadirkan untuk memperkuat gagasan adegan yang disampaikan. Tanpa metafora dan stilisasi adegan serta koreografi yang rumit, ritus tarian ini tampil begitu apa adanya.

Pada lagu Ratu Sebrang misalnya, penari Seblang menuju ke arah penonton yang duduk mengelilingi panggung pertunjukan dengan membawa selendang. Penari Seblang akan menncari dua penonton anak-anak. Selendang itu kemudian dikalungkan kepada penoton menuju ke tengah panggung untuk berperan sebagai sapi dengan bajaknya. Kedua anak yang berberpan sebagai sapi tersebut merangkak berjalan selayaknya sapi yang sedang membajak sawah. Adegan ini memotret aktivitas sepasang suami istri petani yang beraktivitas mengolah lahan sawah, menanam padi, hingga memanennya dengan ani-ani. 

Bagian lagu Mancing-mancing juga mengekspresikan adengan aktivitas mencari ikan di pesisir yang menggambarkan kehidupan nelayan. Sama seperti adegan sebelumnya, partisipasi beberapa penonton dibutuhkan untuk melengkapi adegan ini. Maka penari Seblang menunjuk beberapa anak di sekitar panggung untuk berperan menjadi ikan-ikan yang siap ditangkap. Adegan ini juga menjadi salah satu yang menarik perhatian penonton karena selalu menampilkan gelak tawa dari ekspresi humor penari seblang dan pengudang-nya.

Selain adegan yang mengekspresikan budaya agraris dan maritim itu, ritus tari Seblang ini juga tak luput memotret keragaman identitas yang saling berinteraksi di sekitarnya. Adegan Tajen atau sabung ayam ditampilkan pada bagian awal pertunjukan setelah lagu Seblang Lukinto. Repertoar ini menampilkan adegan sabung ayam antara masyarakat Banyuwangi dan masyarakat Bali yang diperankan oleh pemuda setempat. Masing-masing pemilik ayam memakai pakain identitas budaya masing-masing dengan membawa seekor ayam jago yang kemudian diadu di kalangan. Diiring gamelan yang rancak menambah keseruan sabung ayam yang telah menjadi potret kehidupan masyarakat Banyuwangi dan Bali kala itu.

Tak kalah menarik ketika penari Seblang membawakan adegan Donsrok. Menurut cerita yang berkembang, adegan ini menceritakan sosok pejabat Belanda di Banyuwangi kala itu. Tanpa diiringi syair lagu, gamelan dibunyikan dengan tempo mars yang mirip drumband. Penari Seblang memperagakan bahasa tubuh yang menceriminkan kepongahan seorang Belanda. Dada dibusungkan dan tangan berada dipinggang. Sesekali ia memelintir kumisnya. Adegan penari Seblang ini telah memotret situasi kolonialisme saat itu.

Beragam tema lain yang tampil pada repertoar Seblang banyak memotret pengalama hidup sehari-hari serta objek-objek alam sekitar. Seperti, kehidupan seorang ibu yang sedang menimang anaknya maka diiringi dengan lagu Uga-uga. Permainan Manjer Kiling dengan adegan adegan anak kecil bermain Kiling (Baling-baling tradisional) maka diiringi lagu Emping-emping. Sedangkan lagu Adol Kembang mengiringi adegan sang penari menjual bunga kepada penoton.

Jika Seblang Bakungan dilihat sebagai fenomena seni, ritus ini sejalan dengan kecenderungan paradigma seni yang dicetuskan oleh beberpa filsuf abad ke-20 di dunia Barat. Seperti John Dewey, Heidegger, Gadamer, Scharfstein, Berleant dan Katya Mandoki.

John Dewey melihat keterkaitan era antara seni dan pengalaman sehari-hari. Baginya seni berakar pada pengalaman-pengalaman yang intens dan koheren. Karya seni membantu memformulasikan dan mengartikulasikan pengalaman manusia, menghajar kita bagaimana sebaiknya melihat dan merasa karena pengalaman estetik itu bersifat paradigmatik. Heideger melihat seni sebagai siasat untuk memantapkan dan mengubah perspesi sehari-hari, membukakan kemungkinan-kemungkinan baru yntuk menafsir kenyataan dan dengan itu setiap kali menciptakan kembali dunia manusia yang khas dan baru.

Begitu juga Gadamer melihat seni sebagai pengalaman keterleburan intens antara subjek (masyarakat) dengan dunia diluarnya, dan pengalaman semacam itu sebenarnya terjadi dalam kehidupan sehari hari. Schrafstein, melihat seni dari sisi fungsional, bahwa seni memungkinkan manusia menyatu (fusion) dengan realitas lebih besar di luar dirinya, dengan manusia lain dan masyarakatnya, dan akhirnya dengan realiras transendental.

Sedangkan Berleant mempromosikan estetika yang bersifat partisipatoris dan dengan begitu mendukung bahwa seni adalah bagian dari pengalaman sehari-hari yang bersifat kontekstual-kultural. Sejalan dengan itu, Katya Mandoki melihat bahwa dalam kerangka bio estetika yang lebih luas, estetika pada dasarnya adalah soal penajaman sensibilitas dalam kiprah pencerapan sehari-hari yang merupakan kebutuhan natural hidup. Secara lebih spesifik, konteks luas ini ia sebut sebagai “the prosaic”, yakni medan percaturan praktik sosio-kultural sehari-hari dimana gaya, retorika dan dramaturgi digunakan untuk memikat, menangkap serta mengelola minat dan hasrat manusia.

Seblang Bakungan sebagai Representasi Budaya di Ruang Antara

Penari Seblang saat menarikan adegan menjual bunga kepada penonton diiring lagu Adol Kembang. Bunga-bunga segar itu dipercaya memiliki berkah mendatangkan kebaikan | Foto: Akbar Wiyana (2024)

Berbicara tentang kesenian Banyuwangi memang tak bisa dilepaskan dengan spirit kerakayatan. Nafas kebudayaannya dibentuk dari residu historis yang memposisikan kawasan tapal kuda Jawa ini sebagai ruang geografi yang selalu berada pada posisi subordinat dari politik kuasa pusat, baca keraton. Sejak era Majapahit hingga Mataram Islam, wilayah yang berada jauh dari pusat kuasa ini memungkinkan tumbuhnya budaya egaliter.

Begitu juga hubungannya dengan Bali. Blambangan menjadi benteng terakhir kekuatan Hindu di Jawa untuk membendung pengaruh Islam. Bali memberikan pengaruh yang cukup signifikan dalam membentuk wajah kebudayaan Banyuwangi. Sri Margana dalam Perebutan Hegemoni Blambangan, menyebut etnis Using yang konon dikenal sebagai masyarakat asli Blambangan merupakan konfigurasi etnis baru, peranakan Bali yang tidak berkasta (out of caste), terbentuk pada masa periode kolonisasi Bali atas Blambangan lebih dari seratus tahun.

Posisi in-between atau di-antara dua arus kebudayaan besar Jawa dan Bali inilah yang menciptakan hubungan relasi kuasa yang timpang atas kebudayaan pinggiran yang tereksklusi dari masing-masing pusat. Maka jika dibaca dengan teori Hibridatas Homy K. Bhaba, maka posisi kebudayaan Using yang hibrid ini merupakan taktik dan strategi kebudayaan yang senantiasa menegasikan segala macam kategorisasi biner yang pada akhirnya produk budaya hibrid akan ditempatkan dalam apa yang disebut “ruang ketiga” pada setiap kategori biner. Sehingga, Using/Osing mampu merepresentasikan dirinya sabagai identitas tersendiri melalui ekspresi bahasa, kesenian rakyat dan ritual adatnya.

Namun, sebagai budaya pinggiran yang in-between ini sepanjang sejarahnya kerap kali menjadi korban ketimpangan relasi kuasa seperti akses pengetahuan, ekonomi, politik dan kebudayaan. Ketika Using/Osing diteguhkan sebagai representasi identitas kultural, puncaknya terjadi pada tahun 70an seiring dengan kebijakan politik kebudayaan Orde Baru untuk membendung pengaruh westernisasi dan kampanye anti-komunis. Maka wacana revitaliasasi kebudayaan daerah mengemuka menjadikan Using/Osing tampil dan dikenal di ruang publik. Ekspresi kebudayaan Using menjadi identitas kultural Banyuwangi yang dilegitimasi oleh negara.

“Eksotiasasi” kebudayaan Using pun menjadi magnet baru untuk mendukung pembangunan daerah misalnya pengembangan pariwisata. Berbagai ekspresi kebudayaan Using menjadi komoditas yang stategis untuk menjadi objek turisme. Keadaan ini seperti mengulang kembali cara pandang kolonial melihat kebudayaan masyarakat. Yaitu dengan membangun narasi kepada masyarakat tentang seni yang indah-indah serta kehidupan desa yang damai dan tentram semata. Fenomena itu bisa dilihat dari karya-karya seni pertunjukan yang tampil di ajang-ajang seremonial dan festival yang mendukung agenda-agenda pemerintah. Pada konteks Seblang, ritus ini kerap hadir menjadi bagian dari Banyuwangi Festival dengan menggunakan tajuk promosi “The Mystic Dance of Seblang Bakungan”. Narasi praktik mistisme diproduksi berulang-ulang untuk menarik minat kunjungan wisatawan.

Kondisi ini turut mempengaruhi perkembangan wacana dan praktik kesenian di Banyuwangi khususnya pada disiplin seni tari dan pertunjukannya. Tradisi Seblang kaya akan pengetahuan masyarakat Using yang dinamis seakan tersamarkan oleh wacana seni budaya yang meromantiasasi magisme belaka. Padahal membicarakan adat masyarakat tradisi sangat membutuhkan kacamata yang holistik dengan memperhatikan antara sistem kepercayaan, relasinya dengan alam sekitar bahkan dinamika situasi sosial, ekonomi dan politik yang turut membentuk kebudayaannya.

Melihat kecenderungan dinamika wacana seni yang berkembang di tingkat lokal, saya melihat terjadi keterputusan pengetahuan yang berkembang di masyarakat Using. Jalin kelindan Ritus Seblang Bakungan antara pengetahuan yang bersifat spiritual imaterial dan material-keseharian tak begitu banyak dibicarakan. Padahal, wacana itu perlu digali dan dihadirkan untuk melanjutkan estafet pengetahuan tradisi kepada generasi berikutnya. Saya menduga, dominasi wacana yang kebudayaan yang berkembang di daerah seperti di Banyuwangi kerap kali diproduksi tunggal oleh otoritas dan elit kebudayaan setempat. Sehingga masyarakat tak memiliki alternatif pengetahuan. Kondisi ini telah mengakibatkan mandek-nya skena kesenian dan kebudayaan yang berkembang alih-alih kritis dan peka akan situasi kekinian.

Ritus tari Seblang Bakungan, selain melibatkan roh-roh leluhur yang hadir di tengah masyarakat melalui medium tubuh perempuan penari. Ritus ini mengajararkan kita akan kepekaan para leluhur dalam membaca alam, situasi kekinian, keseharian dan bahkan kritik pada kepongahan sosok Belanda pada masa kolonialisme yang menindas masyarakat Banyuwangi kala itu melalui reperetoar Donsrok. Seblang Bakungan menjadi ritus yang bersifat spiritual atas kekuatan alam yang diekspresikan melalui napak tilas pada sumber-sumber mata air sebagai bentuk penghormatan kepada sumber daya alam dan leluhurnya.

Jauh sebelum para pemikir seni kontemporer Barat mewacanakan estetika sehari-hari sebagai salah satu aliran seni yang hari ini cukup populer. Ritus Seblang Bakungan bersama masyarakat pendukungnya telah terlebih dahulu menjalani praktik seni pertunjukkan yang mampu mengikat masyarakatnya melalui dramaturgi pertunjukan ritus yang sangat lengkap.

Esai ini ditulis dibawah program Arts Equator Fellowship 2024.

Sumber Bacaan :

  • Bambang Sugiharto, Seni dan Dunia Manusia dalam buku Untuk Apa Seni, Bandung, 2020
  • Paul Wolbers, Maintaining Using Identity through Musical Performance: Seblang and Gandrung of Banyuwangi East Java (Indonesia), University of Illinois, 1992
  • Wiwin Indiarti, Simpang Jalan Kebudayaan: Identitas, Hibriditas dan Komoditas Budaya di Banyuwangi, Makalah dalam Talkshow Kebudayaan dengan tema “Peran Seni Budaya dalam Pendidikan” yang di selenggarakan oleh Panitia Dies Maulidia UKM Teater Ping gir Kali – Institut Agama Islam Ibrahimy, Genteng – Banyuwangi, 31 Maret 2018.

BACA artikel lain dari ARIF WIBOWO

Menghidupkan Spirit Marya dan Pernik Estetika Festival sebagai Ruang Alternatif Seni Pertunjukan Bali
Tags: Arts Equator Fellowship 2024banyuwangikesenian banyuwangiseni pertunjukanTari Seblang Bakungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rempah-Rempah dalam Perdagangan dan Kebudayaan Bali Utara

Next Post

Tanaman Obat Sekolah (TOS): Usaha Mendekatkan Usadha Kuno kepada Generasi Masa Kini

Arif Wibowo

Arif Wibowo

Lulusan Sarjana Arsitektur yang tertarik dengan isu-isu ketimpangan sosial dan lingkungan perkotaan sehingga lebih memilih untuk terlibat pada praktik arsitektur lansekap yang berfokus pada perancangan ruang publik dengan harapan semakin banyak ruang hijau di kawasan kota. Selain itu ia juga gemar menikmati seni tari, pertunjukan dan musik tradisi khususnya di Jawa dan Bali.

Related Posts

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails

Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

by Angga Wijaya
June 18, 2026
0
Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah...

Read moreDetails
Next Post
Tanaman Obat Sekolah (TOS): Usaha Mendekatkan Usadha Kuno kepada Generasi Masa Kini

Tanaman Obat Sekolah (TOS): Usaha Mendekatkan Usadha Kuno kepada Generasi Masa Kini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
Esai

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

by Made Chandra
June 21, 2026
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total
Panggung

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi
Ulas Musik

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   
Esai

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!
Khas

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital
Esai

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

by Angga Wijaya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co