2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rempah-Rempah dalam Perdagangan dan Kebudayaan Bali Utara

Dian Suryantini by Dian Suryantini
September 4, 2024
in Esai
Rempah-Rempah dalam Perdagangan dan Kebudayaan Bali Utara
  • Artikel ini adalah hasil dari seminar “Khazanah Rempah dalam Lontar”, program khusus Singaraja Literary Festival 2024, yang didukung Direktorat PPK (Pengembangan & Pemanfaatan Kebudayaan), Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia, 23-25 Agustus 2024.

SEJAK zaman dahulu, perairan, khususnya pantai, telah menjadi jalur perdagangan penting yang menghubungkan berbagai wilayah, baik dalam negeri maupun luar negeri. Salah satu komoditas utama yang diperdagangkan melalui jalur laut ini adalah rempah-rempah, yang menjadi daya tarik utama bagi pedagang dari berbagai belahan dunia. Di Bali Utara, khususnya di Kabupaten Buleleng, jalur perdagangan ini telah memainkan peran penting dalam sejarah kawasan tersebut.

Pantai Bali Utara, dengan pelabuhan-pelabuhannya yang strategis, menjadi saksi bisu aktivitas perdagangan yang berlangsung selama berabad-abad. Beberapa pelabuhan seperti Pelabuhan Julah, Pantai Sembiran, dan Pacung dikenal sebagai tempat penting dalam transaksi jual beli dan bongkar muat barang pada masa lalu. Banyak benda peninggalan sejarah yang ditemukan di dasar perairan ini, yang diduga berasal dari aktivitas perdagangan pada masa lampau. Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa Bali Utara memiliki peran yang sangat strategis dalam jaringan perdagangan internasional, terutama dalam perdagangan rempah-rempah.

Dalam literatur kuno, seperti buku Suma Oriental yang ditulis oleh Tome Pires, Bali disebut sebagai salah satu pusat perdagangan yang penting dalam jaringan perdagangan Asia daratan dan India pada awal abad Masehi. Rempah-rempah seperti cengkih, kayu manis, dan kayu cendana dari Indonesia Timur telah dikenal dalam literatur India seperti Ramayana dan Jataka, serta oleh penulis Romawi dan Yunani. Perdagangan rempah-rempah ini tidak hanya berkontribusi pada perekonomian, tetapi juga pada perkembangan budaya dan peradaban di Bali dan Indonesia secara keseluruhan.

Banyak gerabah India dengan corak rolet ditemukan di situs-situs seperti Sembiran, Julah, dan Pacung. Selain itu, lempengan daun emas penutup mata juga ditemukan di situs Gilimanuk. Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa Bali Utara memiliki hubungan perdagangan yang erat dengan India dan Cina, bahkan hingga daerah Mediterania dan Mesir.

Di situs Sembiran, misalnya, ditemukan gerabah dari Dinasti Han, sementara di situs Pangkungparuk ditemukan dua keping cermin perunggu. Ini menunjukkan bahwa Bali Utara tidak hanya menjadi jalur perdagangan, tetapi juga tempat pertukaran budaya dan teknologi.

Rempah-rempah memiliki peran yang sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam praktik budaya dan spiritual. Dalam naskah kuno seperti lontar Rukmini Tattwa serta Indrani Sastra.

Dalam Indrani Sastra, rempah-rempah disebutkan sebagai bahan utama dalam perawatan tubuh, terutama untuk perawatan rambut. Sementara dalam lontar Rukmini Tattwa rempah-rempah digunakan dalam perawatan di bidang seksualitas baik pria maupun wanita.

Saat ini salah satu jenis rempah yang masih digunakan sebagai perawatan rambut adalah kemiri. Dalam sejarah pertanian di Bali, Buleleng dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kemiri terbesar, bersama dengan Gianyar dan Karangasem.

Kemiri bukan hanya sekadar rempah yang menambah cita rasa masakan, tetapi juga memiliki peran penting dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Bali, baik dari segi kuliner, kesehatan, kecantikan, hingga spiritualitas.

Dengan tekstur berminyak dan rasa lembutnya, kemiri telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masakan tradisional Bali, khususnya dalam Base Genep, campuran bumbu lengkap yang menjadi dasar dari hampir semua hidangan tradisional Bali.

Dalam dunia kesehatan dan kecantikan, minyak kemiri telah lama dikenal sebagai bahan alami yang kaya manfaat, terutama dalam perawatan rambut. Kandungan nutrisi yang tinggi dalam minyak kemiri membuatnya mampu menghitamkan dan menyuburkan rambut, sehingga rambut tampak lebih tebal dan berkilau.

Penggunaan minyak kemiri ini telah menjadi bagian dari tradisi turun-temurun masyarakat Bali, baik oleh perempuan maupun laki-laki. Tradisi ini menunjukkan betapa pentingnya kemiri dalam menjaga penampilan dan kesehatan tubuh, sejalan dengan nilai-nilai budaya Bali yang menghargai keindahan alamiah.

Selain itu, kemiri juga memiliki peran penting dalam dunia literasi tradisional Bali. Dalam proses penulisan di atas daun lontar, kemiri digunakan sebagai penghitam tulisan. Kemiri yang dibakar mampu menghasilkan warna yang pekat, sehingga tulisan di atas lontar menjadi lebih jelas dan tahan lama.

Tulisan lontar yang diolesi kemiri bakar ini bisa bertahan hingga ratusan tahun, menjadi saksi bisu dari perjalanan sejarah dan kebudayaan Bali. Penggunaan kemiri dalam literasi tradisional ini memperkuat posisinya sebagai simbol keberlanjutan tradisi dan warisan budaya.

Kemiri juga memiliki nilai sakral dalam kebudayaan Bali, terbukti dari berbagai prasasti kuno yang menyebutkan kemiri sebagai salah satu pohon keramat. Salah satu prasasti yang mengungkapkan hal ini adalah Prasasti Baturan, yang berangka tahun 941 Saka.

Pohon kemiri dianggap sebagai pohon yang memiliki roh pelindung yang harus dihormati. Penebangan pohon ini tanpa izin dianggap sebagai pelanggaran besar yang bisa berakibat pada hukuman berat. Larangan ini bukan hanya soal menjaga kelestarian alam, tetapi juga mencerminkan keyakinan spiritual masyarakat Bali pada masa itu. Kemiri dianggap memiliki kekuatan mistis yang dapat melindungi desa dan penduduknya dari bencana.

Selain dalam konteks spiritual, kemiri juga memiliki peran penting dalam dunia perdagangan rempah-rempah di masa lampau. Jalur perdagangan rempah di pantai utara Bali menjadi jalur yang sering dilewati para pedagang dari berbagai wilayah, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Beberapa pelabuhan di pantai utara Bali, seperti pelabuhan Julah, menjadi saksi aktivitas jual-beli dan bongkar muat barang pada masa lampau. Temuan gerabah dari India dan Cina di situs Sembiran, Julah, dan Pacung menunjukkan bahwa ada hubungan yang kuat antara Bali dengan India dan Cina melalui jalur perdagangan rempah-rempah.

Rempah-rempah, termasuk kemiri, tidak hanya memiliki nilai ekonomis, tetapi juga simbolik. Dalam catatan-catatan kuno di Jazirah Arab, Romawi, Yunani, India, Mesopotamia, Tiongkok hingga Mesir, rempah-rempah diyakini sebagai obat penyembuh dan digunakan dalam praktek seksualitas serta memiliki sisi mistik. Rempah-rempah dianggap sebagai buah dari surga yang memiliki keajaiban dan energi yang tidak terbayangkan.

Dalam buku “Sejarah Rempah: Dari Erotisme Sampai Imperialisme” karya Jack Turner, rempah-rempah disebutkan sebagai bahan alami yang digunakan untuk meningkatkan gairah, vitalitas, dan menarik perhatian lawan jenis. Pada zaman dahulu, rempah-rempah bahkan setara dengan emas karena khasiatnya yang luar biasa.

Selain itu, rempah-rempah juga digunakan dalam praktik tradisional seperti ratus vagina, yang dilakukan untuk merawat area intim wanita. Ratus vagina adalah perawatan tradisional yang dilakukan dengan pengasapan organ intim menggunakan campuran rempah-rempah seperti kunyit, daun sirih, buah pinang, dan cendana. Perawatan ini dipercaya dapat membersihkan, mengharumkan, dan menjaga kesehatan area intim wanita, sekaligus meningkatkan kepuasan seksual bagi pasangan yang sudah menikah. Penggunaan rempah-rempah dalam praktik ini menunjukkan bahwa rempah-rempah tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memiliki nilai budaya dan spiritual yang tinggi.

Jack Turner menyoroti bahwa rempah-rempah memiliki sisi lain selain sebagai obat penyembuh. Rempah-rempah juga digunakan sebagai bahan alami dalam praktik seksualitas dan dianggap memiliki sisi mistik yang kuat, sehingga dijuluki sebagai “buah dari surga.” Khasiat rempah-rempah dalam meningkatkan gairah, vitalitas, dan merawat area vital perempuan dan laki-laki membuatnya sangat dihargai dan setara dengan emas pada masa lalu.[T]

BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024

Tentang Petani Cengkeh, Berkah dan Masalah,  serta Surga dan Neraka
Sumbangsih Rempah-Rempah dalam Mengaya Metafora Bahasa Bali
Rempah Paling Queer: Sebuah Pertanyaan yang Masih Menggantung
Menebak Aroma Sihir Janda Jirah
Tags: jalur rempahrempahseri rempahSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tentang Petani Cengkeh, Berkah dan Masalah,  serta Surga dan Neraka

Next Post

Ritus Tari Seblang Bakungan dan Imaji Kontemporer Masyarakat Pedesaan di Masa Lalu

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Ritus Tari Seblang Bakungan dan Imaji Kontemporer Masyarakat Pedesaan di Masa Lalu

Ritus Tari Seblang Bakungan dan Imaji Kontemporer Masyarakat Pedesaan di Masa Lalu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co