11 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rempah Paling Cong!

Stebby Julionatan by Stebby Julionatan
September 5, 2024
in Esai
Rempah Paling Cong!
  • Artikel ini adalah hasil dari seminar “Khazanah Rempah dalam Lontar”, program khusus Singaraja Literary Festival 2024, yang didukung Direktorat PPK (Pengembangan & Pemanfaatan Kebudayaan), Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia, 23-25 Agustus 2024.

SEJAK Komunitas Mahima dan Dirjen Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengundangku berpartisipasi pada kegiaatan Khazanah Rempah dalam Lontar Bali (yang dilaksanakan di Singaraja pada 23-25 Agustus 2024) serta berkewajiban untuk menuliskan pengalaman mengikuti seminar tersebut, maka yang langsung terpikir olehku adalah: “Rempah apa sih yang paling Cong di dunia?” Ada ga sih jenis rempah asli Indonesia yang dalam penggunaannya teropresi dan mengalami penderitaan layaknya kehidupan kelompok gay atau transpuan?

Kalau bisa sih rempah yang paling teropresi itu asalnya dari Pobolinggo, kota kelahiranku. Biar membanggakan, kan? Atau, kalau seluruh prasyarat di atas tersebut sulit untuk dipenuhi, mungkin yang paling sederhana adalah: Ada ga sih rempah yang identik dengan gay?, rempah yang dulunya kerap digunakan kelompok homoseksual untuk saling bertukar kode rahasia atau malah rempah tertentu yang digunakan oleh kelompok queer untuk meretas akses semacam guna-guna dan mantra yang digunakan oleh Ni Limbur untuk menyabotase cinta Raden Ambaramadia pada Putri Ambarasari?

Tapi rupanya, tak mudah untuk menjawab pertanyaan yang bermunculan di benakku tersebut. Bahkan, hingga seminar tersebut berakhir—dan aku sudah kembali pada kegiatan keseharianku di Jakarta—rasa penasaranku belum juga terjawab.

Oia, seminar tersebut dibuka oleh Adi Wicaksono, Kurator Budaya Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024 dan diisi tiga pemateri. Ada IGA Darma Putra yang membagikan pengetahuannya seputar rempah sebagai ushada (obat), Ari Dwijayanthi dengan materi rempah sebagai ganda (parfum), dan Putu Eka Guna Yasa yang menyampaikan kegunaan rempah sebagai boga (makanan).

Beberapa hal menjadi asumsiku. Mengapa hal tersebut tak mudah terkuak meski kerap kali—baik di  dalam maupun di luar seminar—kutanyakan? Pertama, sebagaimana kisah-kisah queer lainnya yang berhamburan  pada banyak teks atau naskah—bahkan yang tertulis di dalam Kitab Suci, sepertinya kisah-kisah tersebut tersamar. Mereka tersembunyi di dalam kabut tebal hetero-performatifitas.

Kedua, karena penggalian terhadap lontar terhitung masih baru, aku berasumsi bahwa belum ada peneliti yang memfokuskan diri untuk melakukan penelitian ke arah sana. Apalagi para peneliti yang saat ini meneliti lontar adalah para peneliti heteroseksual yang (bisa jadi) tidak memiliki tujuan atau kepentingan pada naskah-naskah dengan isu homoseksual.

Ketiga, adalah soal pertanyaanku. Entah pertanyaanku terlalu ‘receh’, atau justru sebaliknya, terlalu ‘mengada-ada’. Ngapain sih Stebby ini bertanya soal ini? Rempah itu nir-gender! Ga ada hubungannya dengan itu!

Sebelum lanjut, sebelum melanjutkan ulasan mengenai rempah yang paling queer, aku akan membuat semacam disclaimer terlebih dahulu kepada kawan-kawan pembaca. Pertama, meski aku penyuka rempah, aku pengguna rempah, dan kehidupanku tak dapat terelakkan dari rempah, aku bukan ahli rempah. Aku hanya seorang lulusan Kajian Gender-Universitas Indonesia yang terobsesi pada kayu manis sebab bau kulit kayu tersebut mengembalikan ingatanku pada Oma, nenekku.

Kedua, aku bukan filolog atau ahli lontar. Aku tidak bisa mengeja caraka apalagi membaca tulisan-tulisan di dalam naskah lontar Bali kuno yang didiskusikan di dalam kegiatan seminar. Sehingga, mungkin nantinya paparan yang aku sampaikan kebanyakan hanyalah berasal dari hasil diskusi formal maupun informal seminar. Belum didasarkan pada data yang akurat.

***

Rempah adalah bagian dari tumbuhan yang digunakan secara terbatas sebagai bumbu, penguat cita rasa, pengharum dan pengawet makanan. Sebagai orang Indonesia aku dapat meyakini bahwa kita semua dekat dengan rempah sebab sebagaimana informasi yang  disampaikan di dalam seminar, dari sekitar 400-500 spesies rempah, 275 di antaranya ada di Asia Tenggara yang di dominasi oleh Indonesia. Maka tak heran jika Indonesia mendapat julukan sebagai “Mother of Spices”.

Nah, dengan kriteria yang  telah aku sampaikan di atas, berikut adalah beberapa rempah yang kunilai adalah rempah paling queer yang ada di Indonesia:

Ganja

Ganja mendapat tempat pertama sebagai rempah paling Cong di Indonesia versi saya karena opresi yang ia terima. Sebagaimana kriminal, tanaman psikotropika ini paling menimbulkan ketakutan ketika ia disebut. Ia dibasmi, dibumihanguskan, bahkan tidak boleh ditanam. Padahal, yang salah kan manusianya. Manusia yang melaukan penyalahgunaan eh malah ganjanya yang disalahkan.

Di Indonesia, ganja digolongkan narkotika golongan satu menurut perundang-undangan yang berlaku sejak tahun 1976. Seseorang pun akan dihukum pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun dan pidana denda maksimum Rp8 miliar apabila menanam lebih dari 5 batang ganja.

Padahal kita ketahui, terutama bagi pecinta masakan Aceh, apalah arti kuah beulangong dan kari sie itek tanpa campuran biji ganja. Tak hanya di dalam makanan, di Aceh zaman lampau pun biji ganja digunakan sebagai campuran kopi.

Seperti halnya GAYa NUSANTARA yang aktif mengadvokasi hak-hak kelompok queer, gerakan untuk melegalkan ganja di Indonesia mulai didorong oleh Lingkar Ganja Nusantara sejak 2013.

Lingkar Ganja Nusantara mengedukasi masyarakat bahwa ganja tidak seburuk dan semenakutkan yang sering dianggap dengan cara mengadakan pertemuan, melakukan sosialisasi di berbagai media, menerbitkan bacaan, dan juga memprosuksi film dokumenter.

Dari informasi yang kubaca, ternyata daun ganja juga dapat menghasilkan serat yang lebih baik untuk membuat pakaian dibandingkan kapas.

Betapa kasihan ya nasib ganja!

Andaliman

Andaliman muncul dan menguat sebagai rempah paling Cong berikutnya di dalam benak saya karena ia merupakan rempah yang berasal Indonesia namun rupanya ia hanya dikenal oleh orang-orang Batak saja. Ya, hanya orang Batak yang menggunakan andaliman sebagai bahan campuran masakannya.

Tak seperti teman-teman Batak-ku yang langganan beasiswa LPDP Luar Negeri, andaliman seolah ogah merantau. Tak mudah menemukan andaliman di luar (Danau) Toba. Menurut catatan, wilayah peserbarannya hanya meliputi tujuh kabupaten di Toba, yakni: Karo, Simalungun, Toba Samosir, Samosir, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, dan Dairi.

Mengapa demikian? Mengapa dia menjadi tanaman endemik Toba?  Prediksiku karena jenis batangnya yang berkayu dan berduri sehingga membuat andaliman tidak menarik dan cenderung dianggap gulma.

Sebuah artikel ilmiah menyebut saat ini populasi andaliman terancam, hanya terdapat sekitar 1000-2000 pohon, dan hal tersebut diakibatkan pembabatan tanaman secara liar. Selain itu, rupanya struktur dan senyawa aromatik pada biji andaliman rupanya mampu menghambat imbisi air dan perkecambahan dengan kuat. Ulala, emang rupanya andaliman sudah Cong sejak benih!

Aku sendiri baru mengenal andaliman ketika menghadiri kegiatan Balige Writer Festival 2024 di akhir Juli lalu. Andaliman disebut di dalam puisi salah seorang  peserta lokakarnya. Andaliman juga menjadi moto salah satu calon kepala daerah yang akan bertarung pada pilkada mendatang, Andal dan Iman.

Selanjutnya, aku pun jatuh cinta pada cita rasa andaliman sejak Dea, salah seorang panitia lokal, mengajakku menikmati Mi Gomak bauatan Mak Renny di Pasar Balige yang rasanya nendang abies itu.

Andaliman masuk sebagai rempah paling Cong karena penggunaan dan perkembangbiakannya yang terbatas.

Biji Kepuh

Aku baru mendengar namanya, biji kepuh. Nama tersebut disebut seorang kawan, Choir, saat aku mengunggah pertanyaan di feed Instagram, adakah rempah teropresi yang berasal dari Probolinggo. Sama sepertiku, Choir juga berasal dari Probolinggo.

Aku memasukkan biji kepuh ke dalam daftar rempah yang paling Cong berikutnya karena alasan yang disampaikan Choir. Menurut Choir—sebagaimana yang ia dengar dari ibunya, dahulu biji kepuh digunakan sebagai “merica”. Sebagai penambah rasa pedas dan hangat di masakan.

Choir pun menyampaikan kalau saat ini pohon kepuh sudah jarang terlihat di Probolinggo. Menurut penuturannya, saat ini pohon kepuh yang pernah ia lihat adalah sebatang pohon wingit yang berdiri tegak di dekat makam tua yang disakralkan di wilayah Srineman, Desa Kedungdalem, Dringu.

Setelah aku googling, rupanya saat kecil aku pernah akrab dengan biji pohon kepuh. Jika orang-orang dulu menyuling bijinya menjadi minyak untuk lampu penerangan, sebagai anak-anak aku menggunakan biji pohon ini untuk bermain sirikan.

Sebuah artikel pun menulis, selain akibat pembalakan liar di tahun 90-an, menurunnya populasi pohon kepuh di Jawa juga diakibatkan oleh kisah-kisah mistis yang melingkupinya. Sebagaimana pohon beringin, ia sering dianggap ‘rumah’ bagi roh-roh halus.

‘O, pantesan Choir bilang kalau mau nyari, adanya di makam Mbah Srinem,” ya begitulah, ingatanku yang lantas kembali pada cerita kawanku tadi.

Rupanya, pohon kepuh menjadi queer karena ke-wingit-annya.

Pegagan

Meski peganggan tidak berasal dari Probolinggo dan dia tidak se-ekstrem ganja yang dianggap sebagai musuh bersama, aku tetap memasukkan pegagan sebagai salah satu rempah paling Cong karena kisahnya yang menarik. Lebih tepatnya, adalah kisah yang dituturkan oleh Bli Guna, salah satu pemateri Jalur Rempah, kepada kami para peserta seminar.

Pada hari terakhir seminar, Bli Guna berbagi cerita tentang tanaman liar yang banyak tumbuh di pematang dan sering disebut sebagai daun kaki kuda. Dalam sebuah lontar diceritakan bahwa pegagan merasa iri melihat tanaman bunga yang begitu disayang oleh sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Pegagan ingin diperlakukan dengan penuh perhatian juga oleh sepasang kekasih tersebut.

Dalam keluh kesahnya, pegagan berkata bahwa meskipun hanya memiliki daun dan tampak kurang menarik, ia sangat bermanfaat, terutama dalam mengobati gangguan saraf dan memperbaiki sirkulasi darah.

Bli Guna bahkan menyebutkan bahwa banyak obat pabrik yang berfungsi untuk meningkatkan kecerdasan anak-anak, jika dianalisis, memiliki kandungan zat yang serupa dengan yang ada pada pegagan. Namun, pegagan lebih sering dianggap sebagai gulma daripada tanaman obat.

Ya, pegagan dikecilkan karena dia tidak indah dan dianggap penganggu.

***

Pencarian rempah yang bisa dianggap “queer” atau “Cong” bagiku pribadi rupanya masih diliputi oleh banyak pertanyaan yang menggantung. Benarkah kesotoyanku di atas?

Ya, meskipun rempah-rempah seperti ganja, andaliman, biji kepuh, dan pegagan memiliki cerita ataupun konteks yang dapat dikaitkan dengan konsep queer karena mengalami penindasan atau diabaikan, namun aku harus mengakui bahwa “keingintahuanku” pada topik ini belum sepenuhnya mendapatkan jawaban.

Kurangnya fokus penelitian pada isu ini dan dominasi perspektif heteroseksual dalam kajian lontar dan sejarah rempah membuat penelusuran hubungan antara rempah dan identitas queer menjadi tugas yang kompleks dan bagiku masih membutuhkan banyak eksplorasi lebih lanjut.

Entahlah, aku membuka diri bagi teman-teman untuk menambahkan daftar tersebut, atau… justru mungkin koreksi. Ya, jangan-jangan ada yang salah dengan pertanyaanku! Hehehe.[T]

Jakarta, 29 Agustus 2024

BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024

Menebak Aroma Sihir Janda Jirah
Merayakan Khazanah Rempah dalam Lontar Bali, Sesi Khusus Singaraja Literary Festival 2024
Menggali Khazanah Rempah dalam Lontar Bali: Usadha, Gandha, dan Boga
Rempah-Rempah Kita dalam Khazanah Gastronomi Internasional
Khasanah Rempah, Makanan dan Obat Bagi Raga
Pameran “Telu”: Melihat Ragam Ekspresi Budaya di Jalur Rempah Pulau Bali
Upaya Perempuan Mempercantik Diri: Lontar, Rempah, dan Konstruksi Patriarki
Tags: jalur rempahlontarSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menebak Aroma Sihir Janda Jirah

Next Post

Sumbangsih Rempah-Rempah dalam Mengaya Metafora Bahasa Bali

Stebby Julionatan

Stebby Julionatan

Tinggal di Probolinggo, Jawa Timur dan saat ini tengah melanjutkan pendidikannya di Kajian Gender – Universitas Indonesia.

Related Posts

Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka

by Agung Sudarsa
August 11, 2026
0
Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka

"Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai...

Read moreDetails

Manusia Bukan Unggahan Terakhirnya

by Angga Wijaya
August 11, 2026
0
Telenovela

SETIAP kali saya mengunggah tulisan yang agak muram di media sosial, ada saja saudara atau kerabat yang kemudian mengirim pesan...

Read moreDetails

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

Read moreDetails

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
0
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

Read moreDetails

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
0
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

Read moreDetails

Indonesia dalam Secangkir Kopi

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
0
Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

Read moreDetails

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

Read moreDetails

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

by Arief Rahzen
August 6, 2026
0
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

Read moreDetails

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

by Angga Wijaya
August 6, 2026
0
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

Read moreDetails
Next Post
Sumbangsih Rempah-Rempah dalam Mengaya Metafora Bahasa Bali

Sumbangsih Rempah-Rempah dalam Mengaya Metafora Bahasa Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ALIRAN Sungai Wos turut mengiringi LaDju ketika memainkan musiknya di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF), Jumat, 7...

by Dede Putra Wiguna
August 11, 2026
Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka
Esai

Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka

"Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai...

by Agung Sudarsa
August 11, 2026
Telenovela
Esai

Manusia Bukan Unggahan Terakhirnya

SETIAP kali saya mengunggah tulisan yang agak muram di media sosial, ada saja saudara atau kerabat yang kemudian mengirim pesan...

by Angga Wijaya
August 11, 2026
‘Bajang Care Adine’, Debut Rejuna Koplo di Belantika Musik Bali
Pop

‘Bajang Care Adine’, Debut Rejuna Koplo di Belantika Musik Bali

Sube tawang, bajang care adine Mepayas seksi, ngalih bapak medasi Dini ditu setate ngaku perawan Nanging mare cobak, hey… jeg...

by Dede Putra Wiguna
August 11, 2026
Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli
Panggung

Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli

GERAKANNYA ritmis dan begitu indah. Ekspresinya hidup karena setiap gerakan ditarikan dengan penuh penjiwaan. Musik seolah menyatu dalam gerak, menghadirkan...

by Nyoman Budarsana
August 11, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ORANG-orang masih berdiri di depan panggung ketika Salamander Big Band memainkan bagian-bagian terakhir musik jazz-nya pada Sabtu malam, 8 Agustus...

by Rusdy Ulu
August 10, 2026
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan
Tualang

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”
Budaya

MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”

KEMENTERIAN Kebudayaan RI melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya berkolaborasi dengan Buruan.co menggelar program bertajuk “MTN Presentasi: Buruan.co...

by tatkala
August 10, 2026
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital
Esai

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan
Bahasa

Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

PERNAHKAH Anda membaca berita lingkungan dan merasa bingung dengan dua istilah yang mirip: timbulan sampah dan timbunan sampah? Sekilas keduanya tampak sama, tetapi...

by I Made Sudiana
August 9, 2026
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman
Khas

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

by Rusdy Ulu
August 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co