22 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rempah Paling Cong!

Stebby Julionatan by Stebby Julionatan
September 5, 2024
in Esai
Rempah Paling Cong!
  • Artikel ini adalah hasil dari seminar “Khazanah Rempah dalam Lontar”, program khusus Singaraja Literary Festival 2024, yang didukung Direktorat PPK (Pengembangan & Pemanfaatan Kebudayaan), Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia, 23-25 Agustus 2024.

SEJAK Komunitas Mahima dan Dirjen Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengundangku berpartisipasi pada kegiaatan Khazanah Rempah dalam Lontar Bali (yang dilaksanakan di Singaraja pada 23-25 Agustus 2024) serta berkewajiban untuk menuliskan pengalaman mengikuti seminar tersebut, maka yang langsung terpikir olehku adalah: “Rempah apa sih yang paling Cong di dunia?” Ada ga sih jenis rempah asli Indonesia yang dalam penggunaannya teropresi dan mengalami penderitaan layaknya kehidupan kelompok gay atau transpuan?

Kalau bisa sih rempah yang paling teropresi itu asalnya dari Pobolinggo, kota kelahiranku. Biar membanggakan, kan? Atau, kalau seluruh prasyarat di atas tersebut sulit untuk dipenuhi, mungkin yang paling sederhana adalah: Ada ga sih rempah yang identik dengan gay?, rempah yang dulunya kerap digunakan kelompok homoseksual untuk saling bertukar kode rahasia atau malah rempah tertentu yang digunakan oleh kelompok queer untuk meretas akses semacam guna-guna dan mantra yang digunakan oleh Ni Limbur untuk menyabotase cinta Raden Ambaramadia pada Putri Ambarasari?

Tapi rupanya, tak mudah untuk menjawab pertanyaan yang bermunculan di benakku tersebut. Bahkan, hingga seminar tersebut berakhir—dan aku sudah kembali pada kegiatan keseharianku di Jakarta—rasa penasaranku belum juga terjawab.

Oia, seminar tersebut dibuka oleh Adi Wicaksono, Kurator Budaya Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024 dan diisi tiga pemateri. Ada IGA Darma Putra yang membagikan pengetahuannya seputar rempah sebagai ushada (obat), Ari Dwijayanthi dengan materi rempah sebagai ganda (parfum), dan Putu Eka Guna Yasa yang menyampaikan kegunaan rempah sebagai boga (makanan).

Beberapa hal menjadi asumsiku. Mengapa hal tersebut tak mudah terkuak meski kerap kali—baik di  dalam maupun di luar seminar—kutanyakan? Pertama, sebagaimana kisah-kisah queer lainnya yang berhamburan  pada banyak teks atau naskah—bahkan yang tertulis di dalam Kitab Suci, sepertinya kisah-kisah tersebut tersamar. Mereka tersembunyi di dalam kabut tebal hetero-performatifitas.

Kedua, karena penggalian terhadap lontar terhitung masih baru, aku berasumsi bahwa belum ada peneliti yang memfokuskan diri untuk melakukan penelitian ke arah sana. Apalagi para peneliti yang saat ini meneliti lontar adalah para peneliti heteroseksual yang (bisa jadi) tidak memiliki tujuan atau kepentingan pada naskah-naskah dengan isu homoseksual.

Ketiga, adalah soal pertanyaanku. Entah pertanyaanku terlalu ‘receh’, atau justru sebaliknya, terlalu ‘mengada-ada’. Ngapain sih Stebby ini bertanya soal ini? Rempah itu nir-gender! Ga ada hubungannya dengan itu!

Sebelum lanjut, sebelum melanjutkan ulasan mengenai rempah yang paling queer, aku akan membuat semacam disclaimer terlebih dahulu kepada kawan-kawan pembaca. Pertama, meski aku penyuka rempah, aku pengguna rempah, dan kehidupanku tak dapat terelakkan dari rempah, aku bukan ahli rempah. Aku hanya seorang lulusan Kajian Gender-Universitas Indonesia yang terobsesi pada kayu manis sebab bau kulit kayu tersebut mengembalikan ingatanku pada Oma, nenekku.

Kedua, aku bukan filolog atau ahli lontar. Aku tidak bisa mengeja caraka apalagi membaca tulisan-tulisan di dalam naskah lontar Bali kuno yang didiskusikan di dalam kegiatan seminar. Sehingga, mungkin nantinya paparan yang aku sampaikan kebanyakan hanyalah berasal dari hasil diskusi formal maupun informal seminar. Belum didasarkan pada data yang akurat.

***

Rempah adalah bagian dari tumbuhan yang digunakan secara terbatas sebagai bumbu, penguat cita rasa, pengharum dan pengawet makanan. Sebagai orang Indonesia aku dapat meyakini bahwa kita semua dekat dengan rempah sebab sebagaimana informasi yang  disampaikan di dalam seminar, dari sekitar 400-500 spesies rempah, 275 di antaranya ada di Asia Tenggara yang di dominasi oleh Indonesia. Maka tak heran jika Indonesia mendapat julukan sebagai “Mother of Spices”.

Nah, dengan kriteria yang  telah aku sampaikan di atas, berikut adalah beberapa rempah yang kunilai adalah rempah paling queer yang ada di Indonesia:

Ganja

Ganja mendapat tempat pertama sebagai rempah paling Cong di Indonesia versi saya karena opresi yang ia terima. Sebagaimana kriminal, tanaman psikotropika ini paling menimbulkan ketakutan ketika ia disebut. Ia dibasmi, dibumihanguskan, bahkan tidak boleh ditanam. Padahal, yang salah kan manusianya. Manusia yang melaukan penyalahgunaan eh malah ganjanya yang disalahkan.

Di Indonesia, ganja digolongkan narkotika golongan satu menurut perundang-undangan yang berlaku sejak tahun 1976. Seseorang pun akan dihukum pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun dan pidana denda maksimum Rp8 miliar apabila menanam lebih dari 5 batang ganja.

Padahal kita ketahui, terutama bagi pecinta masakan Aceh, apalah arti kuah beulangong dan kari sie itek tanpa campuran biji ganja. Tak hanya di dalam makanan, di Aceh zaman lampau pun biji ganja digunakan sebagai campuran kopi.

Seperti halnya GAYa NUSANTARA yang aktif mengadvokasi hak-hak kelompok queer, gerakan untuk melegalkan ganja di Indonesia mulai didorong oleh Lingkar Ganja Nusantara sejak 2013.

Lingkar Ganja Nusantara mengedukasi masyarakat bahwa ganja tidak seburuk dan semenakutkan yang sering dianggap dengan cara mengadakan pertemuan, melakukan sosialisasi di berbagai media, menerbitkan bacaan, dan juga memprosuksi film dokumenter.

Dari informasi yang kubaca, ternyata daun ganja juga dapat menghasilkan serat yang lebih baik untuk membuat pakaian dibandingkan kapas.

Betapa kasihan ya nasib ganja!

Andaliman

Andaliman muncul dan menguat sebagai rempah paling Cong berikutnya di dalam benak saya karena ia merupakan rempah yang berasal Indonesia namun rupanya ia hanya dikenal oleh orang-orang Batak saja. Ya, hanya orang Batak yang menggunakan andaliman sebagai bahan campuran masakannya.

Tak seperti teman-teman Batak-ku yang langganan beasiswa LPDP Luar Negeri, andaliman seolah ogah merantau. Tak mudah menemukan andaliman di luar (Danau) Toba. Menurut catatan, wilayah peserbarannya hanya meliputi tujuh kabupaten di Toba, yakni: Karo, Simalungun, Toba Samosir, Samosir, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, dan Dairi.

Mengapa demikian? Mengapa dia menjadi tanaman endemik Toba?  Prediksiku karena jenis batangnya yang berkayu dan berduri sehingga membuat andaliman tidak menarik dan cenderung dianggap gulma.

Sebuah artikel ilmiah menyebut saat ini populasi andaliman terancam, hanya terdapat sekitar 1000-2000 pohon, dan hal tersebut diakibatkan pembabatan tanaman secara liar. Selain itu, rupanya struktur dan senyawa aromatik pada biji andaliman rupanya mampu menghambat imbisi air dan perkecambahan dengan kuat. Ulala, emang rupanya andaliman sudah Cong sejak benih!

Aku sendiri baru mengenal andaliman ketika menghadiri kegiatan Balige Writer Festival 2024 di akhir Juli lalu. Andaliman disebut di dalam puisi salah seorang  peserta lokakarnya. Andaliman juga menjadi moto salah satu calon kepala daerah yang akan bertarung pada pilkada mendatang, Andal dan Iman.

Selanjutnya, aku pun jatuh cinta pada cita rasa andaliman sejak Dea, salah seorang panitia lokal, mengajakku menikmati Mi Gomak bauatan Mak Renny di Pasar Balige yang rasanya nendang abies itu.

Andaliman masuk sebagai rempah paling Cong karena penggunaan dan perkembangbiakannya yang terbatas.

Biji Kepuh

Aku baru mendengar namanya, biji kepuh. Nama tersebut disebut seorang kawan, Choir, saat aku mengunggah pertanyaan di feed Instagram, adakah rempah teropresi yang berasal dari Probolinggo. Sama sepertiku, Choir juga berasal dari Probolinggo.

Aku memasukkan biji kepuh ke dalam daftar rempah yang paling Cong berikutnya karena alasan yang disampaikan Choir. Menurut Choir—sebagaimana yang ia dengar dari ibunya, dahulu biji kepuh digunakan sebagai “merica”. Sebagai penambah rasa pedas dan hangat di masakan.

Choir pun menyampaikan kalau saat ini pohon kepuh sudah jarang terlihat di Probolinggo. Menurut penuturannya, saat ini pohon kepuh yang pernah ia lihat adalah sebatang pohon wingit yang berdiri tegak di dekat makam tua yang disakralkan di wilayah Srineman, Desa Kedungdalem, Dringu.

Setelah aku googling, rupanya saat kecil aku pernah akrab dengan biji pohon kepuh. Jika orang-orang dulu menyuling bijinya menjadi minyak untuk lampu penerangan, sebagai anak-anak aku menggunakan biji pohon ini untuk bermain sirikan.

Sebuah artikel pun menulis, selain akibat pembalakan liar di tahun 90-an, menurunnya populasi pohon kepuh di Jawa juga diakibatkan oleh kisah-kisah mistis yang melingkupinya. Sebagaimana pohon beringin, ia sering dianggap ‘rumah’ bagi roh-roh halus.

‘O, pantesan Choir bilang kalau mau nyari, adanya di makam Mbah Srinem,” ya begitulah, ingatanku yang lantas kembali pada cerita kawanku tadi.

Rupanya, pohon kepuh menjadi queer karena ke-wingit-annya.

Pegagan

Meski peganggan tidak berasal dari Probolinggo dan dia tidak se-ekstrem ganja yang dianggap sebagai musuh bersama, aku tetap memasukkan pegagan sebagai salah satu rempah paling Cong karena kisahnya yang menarik. Lebih tepatnya, adalah kisah yang dituturkan oleh Bli Guna, salah satu pemateri Jalur Rempah, kepada kami para peserta seminar.

Pada hari terakhir seminar, Bli Guna berbagi cerita tentang tanaman liar yang banyak tumbuh di pematang dan sering disebut sebagai daun kaki kuda. Dalam sebuah lontar diceritakan bahwa pegagan merasa iri melihat tanaman bunga yang begitu disayang oleh sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Pegagan ingin diperlakukan dengan penuh perhatian juga oleh sepasang kekasih tersebut.

Dalam keluh kesahnya, pegagan berkata bahwa meskipun hanya memiliki daun dan tampak kurang menarik, ia sangat bermanfaat, terutama dalam mengobati gangguan saraf dan memperbaiki sirkulasi darah.

Bli Guna bahkan menyebutkan bahwa banyak obat pabrik yang berfungsi untuk meningkatkan kecerdasan anak-anak, jika dianalisis, memiliki kandungan zat yang serupa dengan yang ada pada pegagan. Namun, pegagan lebih sering dianggap sebagai gulma daripada tanaman obat.

Ya, pegagan dikecilkan karena dia tidak indah dan dianggap penganggu.

***

Pencarian rempah yang bisa dianggap “queer” atau “Cong” bagiku pribadi rupanya masih diliputi oleh banyak pertanyaan yang menggantung. Benarkah kesotoyanku di atas?

Ya, meskipun rempah-rempah seperti ganja, andaliman, biji kepuh, dan pegagan memiliki cerita ataupun konteks yang dapat dikaitkan dengan konsep queer karena mengalami penindasan atau diabaikan, namun aku harus mengakui bahwa “keingintahuanku” pada topik ini belum sepenuhnya mendapatkan jawaban.

Kurangnya fokus penelitian pada isu ini dan dominasi perspektif heteroseksual dalam kajian lontar dan sejarah rempah membuat penelusuran hubungan antara rempah dan identitas queer menjadi tugas yang kompleks dan bagiku masih membutuhkan banyak eksplorasi lebih lanjut.

Entahlah, aku membuka diri bagi teman-teman untuk menambahkan daftar tersebut, atau… justru mungkin koreksi. Ya, jangan-jangan ada yang salah dengan pertanyaanku! Hehehe.[T]

Jakarta, 29 Agustus 2024

BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024

Menebak Aroma Sihir Janda Jirah
Merayakan Khazanah Rempah dalam Lontar Bali, Sesi Khusus Singaraja Literary Festival 2024
Menggali Khazanah Rempah dalam Lontar Bali: Usadha, Gandha, dan Boga
Rempah-Rempah Kita dalam Khazanah Gastronomi Internasional
Khasanah Rempah, Makanan dan Obat Bagi Raga
Pameran “Telu”: Melihat Ragam Ekspresi Budaya di Jalur Rempah Pulau Bali
Upaya Perempuan Mempercantik Diri: Lontar, Rempah, dan Konstruksi Patriarki
Tags: jalur rempahlontarSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menebak Aroma Sihir Janda Jirah

Next Post

Sumbangsih Rempah-Rempah dalam Mengaya Metafora Bahasa Bali

Stebby Julionatan

Stebby Julionatan

Tinggal di Probolinggo, Jawa Timur dan saat ini tengah melanjutkan pendidikannya di Kajian Gender – Universitas Indonesia.

Related Posts

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

by Early NHS
July 20, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

Read moreDetails

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

by Chusmeru
July 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

Read moreDetails

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
0
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

Read moreDetails

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026
0
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan...

Read moreDetails

Langsung ke Intinya: Siapa Juara Piala Dunia?

by Nur Inayah Yushar
July 19, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BAGI kelompok orang yang tidak mengikuti sepak bola, riuh rendah Piala Dunia sering kali terasa seperti latar belakang suara yang...

Read moreDetails

Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

by Agung Sudarsa
July 19, 2026
0
Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

"People will do anything, no matter how absurd, in order to avoid facing their own souls." Manusia rela melakukan apa...

Read moreDetails

Dari Stres Jadi Rileks: Menjadikan Musik Sebagai Pertolongan Pertama Emosi

by Muhammad Syahrul Wafda
July 19, 2026
0
Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

MENGINGAT banyaknya pengguna media sosial saat ini, orang-orang gemar membagikan musik yang mereka dengarkan di platform seperti Instagram, WhatsApp, dan...

Read moreDetails

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

Read moreDetails

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
0
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

Read moreDetails

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

Read moreDetails
Next Post
Sumbangsih Rempah-Rempah dalam Mengaya Metafora Bahasa Bali

Sumbangsih Rempah-Rempah dalam Mengaya Metafora Bahasa Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah
Khas

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila
Panggung

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA
Pemerintahan

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan penting mengenai postur APBD serta fenomena pencatatan...

by tatkala
July 20, 2026
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026
Ulas Pentas

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

by Satria Aditya
July 20, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

by Early NHS
July 20, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Opini

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]
Ulas Rupa

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

by Angga Wijaya
July 20, 2026
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]
Ulas Musik

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

by Chusmeru
July 20, 2026
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026
Esai

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman
Khas

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co