12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Upaya Perempuan Mempercantik Diri: Lontar, Rempah, dan Konstruksi Patriarki

Jaswanto by Jaswanto
October 5, 2023
in Khas
Upaya Perempuan Mempercantik Diri: Lontar, Rempah, dan Konstruksi Patriarki

Ni Made Ari Dwijayanthi, I Gde Agus Darma Putra, dan Rahatri Ningrat | Foto: Dok. Satya

BEBERAPA tahun belakangan, dunia kecantikan seolah menemukan momentumnya. Hal itu dapat dilihat dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 yang mengungkapkan bahwa industri kosmetik mengalami peningkatan sebesar 5,59 persen. Lalu, sepanjang tahun 2021 naik sebesar 7 persen.

Statista memacak data bahwa pada 2022, di seluruh dunia, pendapatan di pasar kecantikan dan perawatan diri mencapai US$7,23 miliar atau Rp111,83 triliun (dengan kurs 1 dollar sebesar Rp15,467.5). Pasar diperkirakan akan tumbuh setiap tahun sebesar 5,81% (CAGR atau tingkat pertumbuhan per tahun dari 2022-2027).

Secara rinci, segmen pasar terbesar adalah segmen perawatan diri dengan volume pasar sebesar US$3,18 miliar pada tahun 2022. Diikuti Skin Care sebesar US$2,05 miliar, kosmetik US$1,61 miliar, dan wewangian US$39 juta. Studi tersebut menyiratkan bahwa tekanan sosial yang dihubungkan dengan penampilan fisik menjadi salah satu sebab peningkatan penggunaan produk tersebut.

Ilusi kecantikan akan selalu ada, kata Harold Lancer dalam buku Younger: The Breakthrough Anti-Aging Method for Radiant Skin. Beragam klaim tentang teknologi anti-aging terbaru, prosedur, serum, dan suplemen, katanya, telah membentuk ekspektasi konsumen.

“Media turut membentuk fantasi dan konsumen meresponsnya dengan permintaan dan perubahan pada penampilan. Perasaan tidak nyaman pada diri sendiri bisa membuat seseorang jadi berlebihan dalam menganalisis penampilan mereka,” lanjut Harold Lancer dalam bukunya.

Sebenarnya, upaya-upaya perempuan mempercantik diri—perawatan tubuh atau melawan penuaan—sudah muncul sejak zaman dulu. Buku Victoria L. Sherrow, For Appearance’ Sake: The Historical Encyclopedia of Good Looks, Beauty, and Grooming, menyebutkan bahwa krim kecantikan berawal dari tahun 150 Masehi.

“Krim pertama berasal dari Yunani, yang formulanya berkembang ke Kerajaan Romawi. Formula tersebut dinamai cold cream karena membuat kulit terasa lebih sejuk. Galen, seorang ahli pengobatan asal Yunani disebut sebagai penemu cold cream,” ujar Victoria.

Di Bali, ada lontar Rukmini Tattwa, yang menyebutkan tata cara merawat rambut sebagai mahkota wanita agar tetap sehat, lebat, hitam, dan berkilau. Selain itu, lontar tersebut juga menjelaskan agar kulit kepala terawat, bebas ketombe, serta tidak berminyak.

Mengenai hal tersebut, pada Sabtu (30/9/2023) sore, dalam diskusi serangkaian acara Singaraja Literary Festival yang pertama di Kawasan Gedong Kirtya Singaraja—tepatnya di Sasana Budaya—Ni Made Ari Dwijayanthi dan I Gde Agus Darma Putra sedikit banyak membahas prasasti kuno yang mencatat tentang rempah dan lontar yang mengabadikan bagaimana pengetahuan merawat tubuh perempuan. Diskusi bertajuk “Rempah dan Kecantikan” itu dipandu oleh Rahatri Ningrat.

Ni Made Ari Dwijayanthi dan I Gde Agus Darma Putra saat memaparkan materi “Rempah dan Kecantikan” serangkaian Singaraja Literary Festival / Foto: Dok. Omen

Dalam presentasinya berjudul Rempah dan Kecantikan (Perawatan Rambut, Wajah, dan Tubuh) dalam Lontar, Ari Dwijayanthi—penerjemah lontar sekaligus dosen STAHN Mpu Kuturan Singaraja—menjelaskan bahwa di dalam tubuh perempuan terdapat 36 dewi (Indrani Sastra), 7 bidadari dan karakteristiknya (Kakawin Arjuna Wiwaha), dan 4 skintone-warna kulit (Rsi Shambina).

“Keempat warna kulit itu terdiri dari: putih atau kuning (Singa Wikranta)-singa, merah (Padma Prasita)-bunga lotus, hijau (Ratha Wahana)-kereta, dan gelap (Sarpa Nuya Pana)-ular,” jelasnya.

Sementara itu, I Gde Agus Darma Putra menyampaikan nama-nama rempah yang tercatat dalam prasasti kuno. Rempah-rempah seperti  asam, bawang merah, bawang putih, cabai, jahe, kemiri, kasumba, kunyit, pinang, dan sirih sudah dikenal oleh orang-orang di zaman dahulu.

Pemuda yang terlibat aktif dalam Yayasan IBM Dharma Palguna—yayasan yang bergerak di bidang pemeliharaan, penerjemahan, serta penelitian sastra Jawa Kuna, Bali, dan Lombok—itu secara detail menyebutkan nama-nama prasasti, lengkap dengan tahunnya, yang menuliskan nama-nama rempah yang telah disebutkan.

“Asam itu tercatat dalam prasasti Bebetin tahun 818 Saka atau 896 Masehi,” katanya. “Sedangkan cabai dan kemiri terdapat dalam prasasti Sembiran tahun 844 Saka atau 922 Masehi. Kemiri juga dicatat dalam prasasti Ujung tahun 962 Saka atau 1040 Mesehi,” imbuh Darma Putra saat menyampaikan materinya tentang rempah dan kecantikan.

Tak sampai di itu, Dharma Putra melanjutkan, cabai juga tercatat dalam prasasti Bwahan tahun 916 Saka atau 994 Masehi. Untuk jahe, kasumba, dan pinang disebut dalam prasasti Batur Pura Abang tahun 933 Saka atau 1011 Masehi.

Selain itu, kasumba juga terdapat dalam prasasti Bwahan (916 Saka/994 Masehi) dan Sembiran (938 Saka/1016 Masehi). Sedangkan pinang dan sirih tercatat dalam prasasti bernama Batuan tahun 944 Saka atau 1022 Masehi. Dan nama kunyit, disebut dalam prasasti Kintamani tahun 1122 Saka atau 1200 Masehi.

Merawat Kecantikan ala Lontar

Seperti yang sempat disinggung di awal, bahwa kesadaran perempuan dalam merawat kecantikan sudah ada sejak zaman dulu. Tak hanya ada di negeri jauh seperti Eropa atau Cina, tapi juga di Nusantara. Perempuan-perempuan Nusantara di zaman dulu sudah mengenal treatment-treatment kecantikan—yang diabadikan dalam lontar-lontar kuno.

Dalam lontar Indrani Sastra, misalnya, menyebutkan resep penghitam rambut. “Nyan pacameng kesa, sunguning wedus padu, jambu hireng, gedang warangan, tunu ika katiga apisan, wamanuhu hening jeruk, pupurek, wekasan karamasemehan” (lontar Indrani Sastra, hal. 20a)

Yang terjemahannya—sebagaimana disampaikan oleh Ari Dwijayanthi—“Inilah penghitam rambut, tanduk domba, jambu hitam, pisang kekuning-kuningan, panggang ketiganya dan jadikan satu, basahi dengan air jeruk, dilumatkan hingga lembut, kemudian berkeramas”.

Selain belajar merawat diri dari lontar, Ari mengaku memiliki resep merawat rambut menggunakan  bahan-bahan (rempah) alami. “Untuk minyak rambut, aku biasa menggunakan tandusan, klabet, akar wangi, daun nilam, bunga cempaka, kenanga, dan pudak.

“Sedangkan shampoo menggunakan santan, waru, kembang sepatu, dan ratu magelung. Dan sebagai kondisioner, bisa menggunakan kemiri bakar. Masker rambut menggunakan kemiri bakar, tanah liat-tanah lempung, dan santan. Hair tonic, rendam hitungan ganjil biji klabet dengan air,” jelasnya.

Namun, kata Ari, saat ia menggunakan resep ini ketika hamil, mengandung, menyusui, rambutnya malah rontok. “Jadi, mungkin tidak cocok bagi ibu yang sedang menyusui,” ujarnya. Menurut Ari Dwijayanthi, lontar Indrani Sastra tak hanya memuat tentang bagaimana merawat rambut, tapi juga wajah, tubuh, dan vagina.

Dalam  mengembalikan kekenyalan kulit wajah, lontar tersebut menuliskan, “Watutwan mirica, mramangsi, kembang padma, rinuk, husir, jyotismati, mipalimula, witning cabe, jalu kumapang, ciraka, kembang ning cemara, jambu, bunga landep, sama baga kabeh, pipis, panampel muka, byakta kadi wulan purnama denya ikang muka”.

Terjemahan: Biji merica, mangsi, bunga teratai merah, dihancurkan, diaduk, jyotismati, mipalimula, biji cabai, akar jalu mampang, ciraka, bunga cemara, jambu, bunga landep, komposisi seluruhnya sama, dilumat, untuk masker wajah sehingga bercahaya seperti bulan purnama (Dwijayanthi, 2023).

Untuk merawat tubuh, “Sasawi kuning, jirek, cit, ika ta kabeh pipis, ya ta panamba muka, kadi hulun purnama muka denya (lontar Indrani Sastra, hal.14a). Terjemahan: Sesawi kuning, kulit pohon kepundung putih, cit, semua dihaluskan menjadi satu, itulah kemudian di oleskan pada muka, muka akan bercahaya layaknya bulan purnama.

“Bahan pengganti hasil interpretasi: rendaman beras digerus, air cendana, seperempat ibu jari kunyit,” terang Ari, menjelaskan.

Dan berikut resep campuran minyak dan bahan rempah untuk vitalitas dan kekencangan otot vagina yang terdapat dalam teks Indrani Sastra. “Prianggu, inggu, siamaka, watutwan, rodra, jirek, sriwistam kembangining dataki, maduka, kayu manis, tripala, jaha, pala, kapalaka, arjuna, kalpu, udumbara, lwa, ksodra madu, dalima twaca, kuliting dalima, patali, padalisara, dantala ikur huwaya, ika ta kabeh kinela ring lenga”.

Terjemahan: Prihanggu, inggu, siamaka, watutwan, rodra, jirek, sri wistam, bunga sidhawayah, maduka, kayu manis, tripala, jahe, pala, kamaloko, termelia arjuna (pohon Arjuna), kalpu (dewandaru?), udumbara, ara, madu, tunas dalima, cempaka, panggal buaya, semua dicampur dan digoreng dengan minyak.

“Asap (bakar) seibu jari kunyit kering, setengah ibu jari merica bubuk (gerus sendiri), daun nilam kering, bunga kembang tiga kering, daun pandan sedikit basah). Semua bahan dibakar hingga berasap, setengah jongkok di atas tungku asap,” Ari menjelaskan resep uap (asap) ratus vagina.

Ia melanjutkan, asap (rendam) seibu jari kunyit, merica, daun nilam, pandan, bunga kembang tiga. Semua direbus, bila sudah mendidih tuangkan ke wadah, lalu setengah jongkok di atas wadah berasap. “Resep ini bisa tidak diisi merica jika hanya difungsikan sebagai pembasuh vagina,” katanya.

Sementara itu, mengutip tulisan Gunayasa dalam Jelajah Pemanfaatan Rempah dalam Naskah Lontar (tatkala.co, 2021), Darma Putra menyampaikan bahwa dalam Geguritan Megantaka, Pupuh Sinom, terdapat cara meramu wewangian ( parfum) dengan menggunakan rempah.

“Gagandane racik sia, isen jae lawan kunyit, gamongan umbin paspasan, umbin gadung umbin tĕki, kalawan umbin kaladi, biluluk anggon mangratus, sampun ngrangsuk busana, mapasang guna di alis, majujuluk, kĕtog titih jaring bukal”—Geguritan Megantaka, Pupuh Sinom, bait 31.

Terjemahan, sebagaimana ditulis oleh Gunayasa dalam tulisannya dan dikutip Darma Putra dalam materi presentasinya: Wangi-wangian (parfumnya) menggunakan sembilan campuran, lengkuas jahe kunir, lempuyang umbi paspasan, umbi gadung umbi teki, dan umbi keladi, disampur dengan buah enau, setelah selesai berhias, memakai guna-guna di alisnya, yang bernama kĕtog titih jaring bukal.

Sampai di sini, terlepas dari pengetahuan Nusantara, dalam melawan penuaan, di beberapa negara, sebelum krim kecantikan tercipta, ritual menghindarkan diri dari penuaan diproduksi dari material tanaman dan binatang. Satu bab berjudul “Skin” dari buku For Appearance’ Sake: The Historical Encyclopedia of Good Looks, Beauty, and Grooming menyebutkan bahwa warga Roma menggunakan kulit domba beraroma tajam sebagai perawatan wajah di malam hari.

Adapun orang Mesir,  kata Joan Aurelia, menggunakan jus mentimun untuk melepas ketegangan kulit dan memperbaiki rona wajah. Sedangkan orang Amerika Latin memanfaatkan alpukat untuk merawat wajahnya.

Di zaman Ratu Elizabeth (1558-1603), orang mengaplikasikan daging mentah ke wajah untuk meminimalisir kerutan. Pada 1700-an, wanita Prancis mengaplikasikan wine tua ke wajah mereka. Wine dianggap punya khasiat mengelupas kulit—dan karenanya menumbuhkan sel baru—karena mengandung asam. Satu abad kemudian, muncul krim yang dianggap mampu membersihkan dan melembutkan wajah.

Konstruksi Patriarki

Upaya perempuan mempercantik dari barangkali tidak terlepas dari hasil konstruksi dan konsensus peradaban patriarki. Dalam hal ini, I Gusti Made Arya Suta Wirawan dalam esainya Melampaui Domestikasi Perempuan (2017) memberikan uraian menarik.

Tidak bisa dimungkiri, katanya, bahwa sejarah peradaban manusia didominasi oleh peradaban patriarki. Peradaban ini telah menggiring dan menjadikan perempuan tak ubahnya sebuah properti. Sebagai sebuah properti kebudayaan, perempuan “dituntut” agar tumbuh berkembang sesuai kehendak laki-laki. Laki-laki dianggap memiliki otoritas mutlak dalam menentukan spesifikasi terhadap pembentukan fisik dan moral perempuan. Hal tersebut seolah-olah mengisyaratkan perempuan sebagai sosok yang tidak mampu membentuk kebudayaannya sendiri.

Yang lebih mengerikan, lanjutnya, peradaban menganggap bahwa kesadaran perempuan tidak lebih dari kesadaran laki-laki itu sendiri. Sebuah kesadaran yang telah—meminjam istilah Arya Suta—“terkamuflase” baik secara kognitif maupun psikologis.

“Dengan kata lain, ketika perempuan dianggap mampu mendefinisikan dirinya, baik itu sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai seorang gadis anggun yang lihai dan sopa bertutur kata, berbusana tertutup, dan segala hal tentang dirinya, ternyata tidak lebih dari hasil konstruksi dan konsensus peradaban patriarki,” kata Arya dalam esainya.

Kaum feminis mengatakan bahwa sejarah manusia adalah sejarah laki-laki. Semua basis kehidupan dibentuk lewat fondasi maskulinisme. Sebagaimana Aristoteles menyebut perempuan sebagai “laki-laki yang tidak lengkap”. Publik adalah muara laki-laki.

Menurut Arya Suta, segala hal yang publik bisa mengintervensi yang domestik, tetapi tidak sebaliknya, dan prinsip ini menjadi dasar berpikir laki-laki dalam menempatkan perempuan sebagai gender nomor dua—atau yang oleh Simon de Beauvoir disebut dengan istilah The Second Sex.

Konstruksi patriarki semacam itulah yang membuat perempuan terobsesi selalu—untuk tidak mengatakan harus—tampil menawan: cantik, seksi, dan memiliki daya tarik. Meski semua itu sekadar subjektif.

Namun, sebagaimana telah disampaikan Akhmad Muawal Hasan dalam artikel Obsesi Kecantikan yang Memicu Kegalauan, berdasarkan rilis penelitian skala global YouGov tahun 2015, menempatkan Indonesia di urutan pertama sebagai masyarakat dengan penilaian paling bahagia terhadap penampilan fisiknya. Sebaliknya, mereka yang tak bahagia dengan penampilan fisiknya lumayan jauh, lebih dari tiga kali lipat.

“Sebanyak 78 persen responden Indonesia tak bermasalah dengan tubuhnya, sedangkan sisanya bermasalah alias tak bahagia,” kata Muawal Hasan.

Orang Indonesia lebih bisa “menerima” penampilan fisiknya, ketimbang orang Arab Saudi, Qatar, Mesir, Australia, Inggris, Jerman, Amerika Serikat. Persentasenye lebih dari 50 persen tapi masih kalah dengan Indonesia. Sementara Hong Kong paling parah, persentase golongan bahagianya di bawah 50 persen.

Untuk mengakhiri artikel ini, apa yang dikatakan Muawal Hasan barangkali benar, meski terkesan hipokrit, apa yang berusaha disampaikan Cherrybelle dalam lagu Beautiful sesungguhnya mengandung pesan yang bijak: “Berhentilah memuja penampilan fisik untuk menyenangkan dirimu sendiri. Mari gunakan standar baru: kamu bahagia, bahagia, dari hatimu..!”[T]

Baca juga artikel terkait LONTAR atau tulisan menarik lainnya JASWANTO

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Jelajah Pemanfaatan Rempah dalam Naskah Lontar
Dari “Kulit Kera Piduka”, Membaca Cerita Rempah dalam Karya Sastra Indonesia dan Teks Tradisional di Bali
Rempah dan Hasrat Keabadian | Belajar Rempah Bersama Sugi Lanus di Rumah Intaran
Tags: kecantikanlontarrempah-rempah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Humor Adalah Obat | Catatan Pengantar Buku Sehat Ketawa ala Dokter Arya

Next Post

Menumbuhkan Jiwa-Jiwa Sattwika Adalah Kesadaran

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Orang Mau Bayar Mahal Untuk Memalsukan Diri

Menumbuhkan Jiwa-Jiwa Sattwika Adalah Kesadaran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co