3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menebak Aroma Sihir Janda Jirah

Royyan Julian by Royyan Julian
September 4, 2024
in Esai
Menebak Aroma Sihir Janda Jirah
  • Artikel ini adalah hasil dari seminar “Khazanah Rempah dalam Lontar”, program khusus Singaraja Literary Festival 2024, yang didukung Direktorat PPK (Pengembangan & Pemanfaatan Kebudayaan), Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia, 23-25 Agustus 2024.

AKU curiga, ketika menulis sejarah rempah, Jack Turner ditemani segelas susu kambing bertabur bubuk kayu manis di atas meja kerjanya. Jangan-jangan eksotisme rempah tidak semata-mata menyebabkan lidah terbuai. Bahkan, mengkhayalkan komoditas panas itu saja sudah mampu menghanyutkan pikiran sehingga ia lupa menyelipkan bab khusus “Rempah dan Sihir” ke dalam karyanya.

Tentu, keteledoran tersebut hanya disadari pembaca-ada-maunya sepertiku. Mestinya, melalui babon Turner tentang rempah, aku bakal mudah mendapatkan seluruh ‘barang’ di ‘daftar belanjaanku’ dalam sekejap. Faktanya, dengan ufuk pengetahuan amat terbatas, aku cuma bisa menebak-nebak, kira-kira ramuan apa saja yang dipakai Calon Arang ketika menunaikan aktivitas magi.

Sebenarnya, kurangnya informasi tersebut bukan salah Turner. Bukan pula kesilapan para penulis kisah Janda Jirah yang karyanya dialihbahasakan I Made Suastika. Dalam Calon Arang tradisi Bali yang kubaca, kuyakin komposisi rempah bukan masalah prioritas. Naskah-naskah tersebut barangkali dianggit dengan tujuan memberi petuah bahwa kebenaran akan digdaya melawan kebatilan. Atau malah dengan motif lebih ‘receh’ seperti yang didaku Gora Pratoda di akhir geguritan bahwa ia berlaga sastrawan untuk menghibur hati yang pilu.

Hanya saja, dengan etos keisengan yang rendah hati lantaran jemu bertani, sebenarnya Gora punya waktu senggang dengan memberi sentuhan detail sebagaimana Raja Solomon yang pasti sibuk mengurusi imperium Israel, tapi tak lupa menyebut rempah untuk menyanjung sang mempelai dalam kidungnya nan agung:

Taman tertutup engkau, Saudariku, Pengantinku, kebun terkunci, mata air termeterai. Tunas-tunasmu adalah kebun delima dengan buah-buah lezat, pacar dengan narwastu; narwastu dan kuma-kuma, buluh wangi dan kayu manis, bersama segala jenis pohon menyan; mur dan gaharu, dengan segala rempah terbaik.

Tapi, buat apa kepoin perkara yang tak memiliki faedah praktis di zaman pragmatis seperti saat ini? Untuk apa, misalnya, menerka-nerka bumbu hidangan yang tersaji di meja makan Calon Arang? Masalahnya, Janda Jirah itu telanjur jadi ikon ibu setan. Padahal, ketika dianggap sakti, bisa jadi kesaktiannya bersumber dari faktor eksternal macam herbal. Walhasil, kita perlu bersyak wasangka, predikat ‘sihir’ yang dilekatkan pada Calon Arang atau kosakata sihir di seluruh dunia telah mengalami degradasi semantis yang amoral.

Katakanlah witch, ternyata secara harfiah berarti perempuan petani sekaligus tabib dan dukun beranak. Makna kata itu menjadi peyoratif akibat perburuan penyihir di Eropa masa transisi antara zaman Kegelapan dengan era kapitalisme awal. Kau bisa membaca risalah Silvia Federici ihwal perburuan penyihir di Benua Biru abad 14 hingga 16 dan akan mendapati bahwa tragedi itu lebih banyak mendera perempuan ketimbang lelaki.

Sistem ekonomi yang berubah dan pemagaran lahan komunal oleh tuan tanah menyebabkan perempuan tua yang berstatus janda kehilangan nafkah sebagai petani. Tapi, potensi subversif kaum tersebut merupakan efek sosial yang menempatkan mereka pada kedudukan terhormat sebagai dukun dan bidan. Itulah mengapa pencemaran nama baik mereka dilancarkan dengan membelokkan arti ‘sihir’ itu sendiri.

Hampir mirip sengketa tanah pada peristiwa perburuan penyihir di Eropa, prosa lirik Toety Herati menafsir konflik antara Janda Jirah dengan Airlangga dipicu persoalan teritori meski naskah Calon Arang sendiri tak secara blak-blakan (untuk tidak berkata tidak sama sekali) menyinggung hal itu. Naskah Calon Arang cuma menyebut bahwa wilayah kekuasaan sang janda adalah daerah pinggiran bernama Dusun Jirah. Toety membacanya sebagai gesekan pusat dan pinggir, antara yang ingin menguasai dengan yang hendak ditaklukkan.

Sayang, baik Toety Herati, Pramoedya Ananta Toer, maupun Cok Sawitri tidak mengeksplorasi peran Calon Arang sebagai dokter dalam karya mereka. Andaikata memang seorang ahli pengobatan, barangkali tenaga kita akan banyak dialokasikan untuk menjelajah khazanah herbal dan rempah dalam kepustakan medis Calon Arang.

Di luar dunia kasat, diplomasinya dengan jagat supranatural tentu akan menambah perbendaharaan rempah Ni Rangda untuk didokumentasikan. Kesaktian Calon Arang, dengan demikian, bisa kita interpretasi sebagai kolaborasi antara herbal Bali dengan laku liturgis sang janda.

Misal, kita boleh menduga Calon Arang memakai cengkih dalam praktik spiritual untuk menangkal energi negatif yang datang dari utusan Airlangga ketika menyerang pekarangannya. Bunga lawang bisa jadi digunakan pada ritual untuk menambah daya magis saat Ni Rangda mendaras lipyakara di waktu magrib.

Pinang dan jahe dikonsumsi sebagai ‘camilan’ tradisional (karena belum ada Bigbabol) serta bahan penyembuhan. Sementara itu, ia membakar menyan ketika melaksanakan upacara memanggil Batari Bagawati di kuburan untuk memohon anugerah agar penduduk dilanda wabah.

Teluh memang melanda dan penduduk jatuh menderita: demam, bengkak, perut kembung, borok, lumpuh, diare. Mestinya, dengan kunyit, lada, jintan, adas, kapulaga, serai, daun sirih, bawang putih, pala, kencur, dan temulawak, mereka bisa mengatasi penyakit-penyakit tersebut. Namun, waktu itu juga sedang terjadi krisis obat-obatan sehingga penyakit paling remeh pun dapat menggiring orang ke rahang maut.

Tapi, menilik rempah dalam kisah Calon Arang tidak melulu berurusan dengan perkara serius macam ‘reputasi sang janda’ atau ‘kemelut kemanusiaan akibat pagebluk’. Kecuali kau menganggap seks sebagai bisnis serius. Dan mungkin, kenyataannya memang begitu. Sebab, bagi laki-laki, ketahanan di ranjang berelasi kembar dengan harga diri. Jika status keperkasaan suami ditentukan oleh seberapa tahan lama meladeni istri di ranjang, agaknya Baheula memenuhi syarat pria perkasa.

Baheula, lelaki itu, adalah murid Empu Baradah yang menikahi putri tunggal Calon Arang, Ratna Manjali. Tak sama dengan prosa Calon Arang, dalam geguritan, Gora menarasikan cumbu rayu sang pengantin baru dengan penuh gelora, berbunga-bunga, berlarat-larat. Konon, demonstrasi berahi itu berlangsung sembilan hari berturut-turut. Meski diselingi ritual puja Dewa dan praktik yoga, relasi erotis tersebut merupakan versi banal dari empat puluh malam pengantin Serat Centhini yang harus dijalani pasangan Syekh Amongraga dan Tambangraras dalam ‘kuliah filsafat kebatinan’ demi penyatuan mistik melalui senggama.

Itulah mengapa, kita tak perlu sungkan meminta resep keindahan malam pengantin kepada Beheula tentang rempah afrodisiak mustajab yang membuatnya tugur dalam cinta lebih dari satu pekan. Jahe, kayu manis, kapulaga, safron, lada hitam, cengkih, dan vanili merupakan rempah afrodisiak yang lazim diketahui.

Tapi, wewangian yang diruapkan boreh dari bubuk cendana, beras, kunyit, dan temu putih juga turut berperan untuk merangsang pasangan ke balik kelambu. Lulur ini akan dilabur pada tubuh Manjali di hari ketiga pascamenstruasi ketika berahi bangkit pada waktu-waktu ovulasi. Kita juga bayangkan, sebelum hari pernikahan, untuk memperkuat organ kewanitaan, Manjali mengonsumsi manjakani agar suaminya manja.

Demikianlah reka kita atas kemungkinan rempah dalam kisah Calon Arang. Esai ini cuma ‘judul’ dari sebuah topik yang perlu—jika memang perlu—digali. Temuan atas penggalian tersebut pada akhirnya tidak semata-mata akan membawa pada wawasan tentang kekayaan fungsi dan manfaat rempah dalam ragam aktivitas manusia. Penjelajahan tersebut juga akan semakin memperkuat keyakinan tentang relasi erat antara perempuan, alam, dan spiritualitas.[T]

BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024

Merayakan Khazanah Rempah dalam Lontar Bali, Sesi Khusus Singaraja Literary Festival 2024
Rempah Paling Queer: Sebuah Pertanyaan yang Masih Menggantung
Menggali Khazanah Rempah dalam Lontar Bali: Usadha, Gandha, dan Boga
Rempah-Rempah Kita dalam Khazanah Gastronomi Internasional
Khasanah Rempah, Makanan dan Obat Bagi Raga
Pameran “Telu”: Melihat Ragam Ekspresi Budaya di Jalur Rempah Pulau Bali
Upaya Perempuan Mempercantik Diri: Lontar, Rempah, dan Konstruksi Patriarki
Tags: Calonarangjalur rempahseri rempahSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seni Melepaskan dan Memaafkan

Next Post

Rempah Paling Cong!

Royyan Julian

Royyan Julian

Menulis prosa dan puisi.

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Rempah Paling Cong!

Rempah Paling Cong!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co