15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seni Melepaskan dan Memaafkan

Emi Suy by Emi Suy
September 4, 2024
in Esai
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi

Emi Suy

NILAI budaya dan agama tidak hanya mengajarkan kewajiban hubungan manusia dengan Tuhan, namun antar manusia dan juga alam. Bagaimana budi pekerti yang luhur mendukung kita untuk bisa saling memaafkan dan saling tolong menolong membangun peradaban. Menurut antropolog Margaret Mead, tanda pertama peradaban dalam budaya kuno adalah tulang paha (femur) yang telah patah dan kemudian sembuh (mengutip status Hamid Basyaib di Facebook). Artinya, tolong menolong adalah titik awal sebuah peradaban.

Semua agama pasti mengajarkan kebaikan. Agama membimbing manusia agar menjadi insan yang berguna. Manusia yang beragama diharapkan dapat turut menciptakan kedamaian dan keseimbangan di bumi. Tidak ada ruang bernama kesalahan, kalau toh ada, saya lebih suka menyebutnya sebagai “ruang pembelajaran” atau ruang untuk instropeksi diri agar menjadi lebih baik. Hidup adalah perjalanan menjadi manusia yang dapat memanusiakan manusia.

Tugas manusia yang utama adalah berbuat baik di muka bumi, minta maaf, memaafkan, dan tidak lupa mengucapkan terima kasih (bersyukur). Selebihnya kita diharuskan mengalirkan doa-doa baik agar semesta juga meresponnya dengan kebaikan-kebaikan. Usaha dan berdoa, dua kaki yang mesti berjalan beriringan. Ketika semua itu sudah dilakukan, maka kewajiban kita sudah tinggal pasrah, mengembalikan semuanya kepada Tuhan, pada semesta alam. Dan biarkan alam Tuhan melalui semesta yang akan menjawabnya.

Merawat kesadaran itu penting, memaklumi dan minta maaf serta memaafkan juga tak kalah penting. Upaya-upaya untuk memerdekakan diri dari terperangkap di peta luka – membebaskan diri dari kebencian dapat menyelamatkan hati dari perasaan-perasaan yang dapat membuat kita tidak nyaman.

Perkara-perkara mengenai kehidupan sehari-hari yang dekat dengan kita baik yang terasa pahit, manis, getir, asin, asem, bahkan pedas – rasa-rasa yang tidak hanya dijumpai di rumah makan atau di warung Tegal, tapi di perasaan kita sendiri – harus kita terima dan lampaui. Perasaan seperti itu tidak perlu kita jauh-jauh mencarinya atau harus menjauhinya sama sekali. Justru hal-hal yang ada di dalam perasaan yang diperkuat dengan emosi dan mindset tersebut perlu semacam manajemen hati untuk mengatur agar tidak berlebihan meluap. Tak jarang sebagian kita lebih suka bersikap reaktif atas realita sehari-hari sehingga membuat kita tidak bisa mengatur emosi dengan baik, saya pun terkadang begitu.

Alangkah lebih indah jika tak ada semacam rekayasa atau kepura-puraan. Namun, perlu dipertimbangkan jangan sampai kamu seperti sedang membuka bajumu satu per satu kepada orang lain.  Ada hal-hal yang memang perlu tetap kita simpan sendiri. Apakah kita sedang berada dalam situasi di mana bicara apa adanya memuntahkan isi kepala itu lebih mulia daripada bersembunyi menahan diri? Sebaiknya memang kita tidak kebablasan sampai tidak punya kendali diri.

Kiranya hanya hati yang jernih dan pikiran yang bersih yang mampu mengubah paradigma dan perspektif kita. Sebuah upaya yang berkaitan erat dengan kesadaran yang penuh dan hati yang utuh untuk memperbaiki kembali sebuah keaadan atau situasi hubungan antar manusia yang sebelumnya mengalami berbagai konflik.

Dalam ilmu manajemen konflik ada istilah “rekonsiliasi”, yang sering digunakan masyarakat dalam menyelesaikan perselisihan dan kesalahpahaman dalam perbedaan perspektif. Dan hal tersebut salah satu dari serangkaian langkah yang bisa ditempuh untuk menyelesaikan perselisihan yang sedang berlangsung.

Konflik apa pun bisa saja terjadi baik antar individu, keluarga, komunitas, kelompok masyarakat, maupun skala yang lebih luas, yaitu konflik negara. Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, maka tidak bisa dipungkiri bahwa kita saling bahu membahu, saling membantu, dan saling membutuhkan satu sama lain.

Tidak ada hidup yang selalu mulus dan baik-baik saja. Bahkan kita hidup dalam kehidupan yang terbuat dari potongan-potongan puzzle yang harus disusun ulang secara runut agar membentuk peta jalan menuju pulang kepada diri sendiri. Di saat nanti kita selesai dengan diri sendiri, maka akan selesai pula urusan dengan orang-orang di sekeliling kita.

Lantaran kita tidak mungkin hidup abadi dan entah sisa berapa lama lagi usia kita, tidak mungkin kita hidup tanpa orang lain, tidak mungkin hidup tanpa kesalahan, entah salah paham, salah perasaan, salah pemikiran, salah prasangka, dan lain sebagainya. Namun, di atas semua hal itu, yang paling utama adalah bagaimana kita mempraktikkan seni mengatasi pertikaian –sebuah upaya dalam mengatasi permusuhan. Seni memaafkan dan seni menghancurkan egoisme dengan melakukan penerimaan dan membuka diri seluas-luasnya untuk bersikap legowo adalah cara yang bisa kita lakukan untuk membuka pintu-pintu kehidupan yang lebih baik.

Menurut Ekawarna, dalam buku Manajemen Konflik dan Stres, banyak cara dalam serangkaian manajemen dan resolusi konflik yang bisa ditempuh untuk mengatasi konflik, yaitu berupa; negosiasi, mediasi, fasilitasi, dan terakhir rekonsiliasi.

“Sebuah kemarahan, akan menghilangkan akal sehat.”

Mari kita istirahat, rileks memaafkan hal-hal kecil ataupun besar yang terjadi di sekeliling kita, dan berterima kasih pada anggota tubuh yang telah melakukan kebaikan… sekecil apa pun itu, misalkan berkata baik, mengucapkan salam, mendoakan, menolong, memberikan informasi yang berguna, dan sebagianya.

Kemarahan yang berlarut tentu sangat berbahaya, hal itu bisa mengganggu Kesehatan, maka kita perlu menjaga kesehatan, baik kesehatan hati maupun pikiran. Terkadang kekuatan hadir, keberanian tumbuh ketika kita pernah mengalami situasi yang tidak mengenakkan hati dan merasa tidak baik-baik saja, misalnya di-bully beramai-ramai atau situasi tidak mengenakan lainnya. Namun, tangguh itu tumbuh dengan sendirinya. Seperti pepatah; hanya pelautlah yang bisa membedakan mana riak mana ombak. 

Setiap orang pernah punya masa “tidak baik-baik saja”, setiap orang pernah “terluka pada masanya”, setiap kita pernah punya “kecewa pada waktu yang lewat”, setiap orang pernah “menghormati kesedihan”, setiap orang pernah berjuang “memaafkan keadaan”, setiap orang pernah memperjuangkan berdamai dengan siapa pun yang telah “membuat kecewa”, bahkan “memberi luka” pada hati kita. Mari tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik demi masa depan yang bahagia.

Menciptakan sugesti diri, bahwa kita mampu menghadapi semua kenyataan-kenyataan, melewati setiap jengkalnya untuk proses tumbuh menjadi kuat mental, dan selanjutkan lebih wise dalam menyikapi berbagai hal. Katakan, “Ya saya bisa, saya kuat, saya pasti bisa lebih baik dari sebelumnya.”

Agaknya saya teringat sepenggal puisi yang secara tidak langsung jadi mantra sugesti, “perempuan mesti bisa menjahit, setidaknya menjahit lukanya sendiri”.

Semua yang kita jalani dipengaruhi oleh Frame of Mind – bingkai berpikir kita sendiri. Tergantung pada cara kita melihat dunia, menghadapi kenyataan yang terjadi di depan mata. Dan setiap orang mempunyai bingkai yang berbeda, yang membentuk cara berpikirnya dalam menyelesaikan permasalahan dan melihat kehidupan ini.

Selamat membingkai kehidupan dan menjadi pribadi yang tangguh, selamat menempuh jalan kehidupan, mengalirlah kehidupan yang positif dalam setiap langkah kaki, nadi dan darah, juga udara yang terhirup mengisi paru-paru, dan mari kita hembuskan segala keburukan. Mari bersugesti baik kepada diri, maka semesta akan bahu membahu membantu kita.

Hari-hari setiap orang merayakan hidup, menyalakan hidupnya yang redup supaya murup dari pagi hingga malam kelam. Ada yang mendendangkan keriangan dari pasar ke pasar dengan pengeras suara.

Dari waktu ke waktu orang-orang bertahan tetap waras,
membunuh was-was, menikam cemas di dadanya masing-masing.

Mereka menghibur diri di tengah hiruk pikuk bising knalpot motor di jalan lurus, namun hidup berkelok-kelok dan tidak pernah mulus.

Betapa esensi kehidupan bukan hanya kata-kata
yang diperdebatkan dan diperankan para pemain drama
di atas panggung, mari termenung dan merenung.

Sebuah meditasi diri menjadi penting. Seharusnya setiap orang punya kemampuan untuk melakukannya. Agar tidak terlalu lama luka mengendap di dada. Agar segalanya baik-baik saja, dan bisa menjadi pribadi yang tumbuh dan tangguh, kuat mengejar cita-cita untuk memuliakan hidup dan berani memaafkan serta meminta maaf kepada orang lain.

Di hadapan hujan dan kabut malam aku berbincang dengan sunyi, dengan diriku sendiri. Hidup terdiri logika dan perasaan. Terbuat dari situs masa lalu dan masa sekarang – di mana peristiwa sedang berlangsung. Tuhan menyediakan berbagai macam rasa di dalamnya.

Penggalan cerita terbuat dari repetisi, kejadian yang berulang-ulang terjadi. Yang disengaja maupun yang tidak. Hidup terbuat dari ritual, doa, mandi, makan, tidur, bekerja, menangis, tertawa, yang terus berulang-ulang. Ritual yang mengandung kesedihan, rasa lapar dan sesekali bergembira melupakan kelelahan. Tidak ada lebay meski sesekali ada elegi. Semua kujalani dan kuterima apa adanya.

Kehidupan adalah lautan, lautan adalah kehidupan. Kita mendayung sampan membelah waktu dan jarak untuk sebuah harapan. Dari waktu ke waktu kita melayari hidup untuk bertahan dan melaju menuju ke masa depan.

Kenangan tidak selalu yang indah-indah, namun berterima kasih pada luka itu perlu, karena lukalah yang menjadikan kita perkasa. Aku pernah merasakan kekuatan hadir, keberanian tumbuh ketika pernah mengalami situasi yang sangat tidak mengenakkan hati dan sedang merasa tidak baik-baik saja. Tangguh itu tumbuh dengan sendirinya, tapi perlu kita pupuk dengan hal-hal baik dan positif agar semakin rindang dan sejuk untuk bernaung mengadapi badai yang akan tiba nanti.

Aku ingin bilang pada diriku, pada tembok, langit-langit kamar dan pada langit biru itu, puisi yang selalu kuulang-ulang;

percayalah
setiap perih luka
punya peta
untuk menemukan jalan pulang
bagi kesembuhannya

Mari tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Mari saling memaafkan.

Saya pernah membaca tulisan menarik kurang lebihnya seperti ini;

Lebah itu seperti hati, ketika diganggu hewan itu akan menyengat musuhnya dengan risiko kehilangan nyawa, karena dengan menyengat musuhnya itu dia akan membuka racun yang ada di dalam tubuhnya, ketika jarum yang lebah gunakan itu tertinggal di musuhnya, racun di dalam tubuhnya terbuka dan menyebar ke dalam tubuhnya, meracuni diri sendiri, lalu mati.

Hati kita pun sama, ketika kita terganggu, diejek ataupun hal-hal buruk lainnya yang membuat kita marah, jengkel, bahkan sampai dendam, sadarilah bahwa itu adalah racun yang ada pada diri kita. Jika kita membiarkan perasaan itu terus menerus tumbuh, maka racun itu akan menggerogoti diri kita, menyebar dalam hati kita dan membuat hati kita mati.

Maafkanlah lukamu, sesungguhnya memaafkan itu mudah. Maaf akan mendamaikan hati kita. Jangan sampai racun menggerogoti hati kita, apalagi sampai mematikan hati kita. Sesungguhnya, apabila hati kita telah mati, berarti telah datang kematian sebelum berpisahnya jiwa/ruh dengan raga. Kematian yang tentu saja pahit bagi diri kita. Sekelumit… semoga memberi manfaat.

Ketika kita sulit memaafkan orang lain, bahkan kita sulit untuk menerima orang lain sebagai partner kerja, maka belajarlah pada semut yang berbaris di dinding, di mana meraka selalu berjabat tangan dan menjaga kebersamaan serta gotong royong untuk membangun kehidupan.

Orang mudah mencari dan menemukan kesalahan – aib itu jumlahnya banyak sekali. Namun, orang yang mampu memberbaiki situasi, ikhlas memaafkan dan tidak gengsi meminta maaf, tulus berbuat sesuatu untuk menutupi aib saudaranya amatlah jarang, amatlah langka. Begitulah kondisi kita dewasa ini. Teramat banyak yang mahir mengkritisi dan mencela, tapi tak satu pun yang datang menawarkan solusi. Semoga kita selalu dapat menjadi manusia yang pemaaf dan mudah menolong sesama. Wassalam. [T]

BACA artikel lain dari penulis EMI SUY

Sunyi Sebagai Sumber Penciptaan Puisi
Puisi-puisi Emi Suy | Kepada Capres
Apakah “Puisi Mesin” Adalah Puisi?
Himne Seorang Gadis di Wapress Bulungan Sastra Reboan
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi
Tags: Emi Suygaya hidupkehidupan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sentimen Politik Jelang Pilkada dalam Media Sosial

Next Post

Menebak Aroma Sihir Janda Jirah

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Menebak Aroma Sihir Janda Jirah

Menebak Aroma Sihir Janda Jirah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co