2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pandangan Atas Tanah Dulu dan Kini : Catatan Repertoar Tari “Sejak Padi Mengakar”

Arif Wibowo by Arif Wibowo
May 6, 2024
in Ulas Pentas
Pandangan Atas Tanah Dulu dan Kini : Catatan Repertoar Tari “Sejak Padi Mengakar”

Repertoar Tari Sejak Padi Mengakar. Foto : Amrita Dharma

DELAPAN penari laki-laki memposisikan badannya dalam keadaan duduk bersimpuh di hamparan panggung beralaskan sekam padi. Dalam keadaan duduk itu, pertunjukan dibuka dengan masing-masing empat penari bergerak dari kanan kiri sisi panggung menuju ke tengah berkumpul pada satu titik, kemudian membentuk formasi acak-organik yang menyebar. Satu diantara delapan penari itu bergerak dengan posisi duduk dan merayap dari satu titik ke titik lainnya dengan nanar wajah yang gelisah.

Beberapa sorot lampu yang diposisikan sejar dengan tanah selain memberikan efek dramatis kepada para penampil juga memperjelas efek tekstur pada hamparan sekam yang menjadi alas panggung. Sekam padi itu menjadi representasi kultur agraris yang dibicarakan dalam pertunjukan ini.

Sejak Padi Mengakar, karya koreografer I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra atau akrab dipanggil Gus Bang yang tampil pada program kuratorial pertunjukan The (Famous) Squatting Dance : Membaca Marya (Minggu, 28/04/2024) ini memang berangkat dari kegelisahannya sebagai pemuda Bali. Usai melakukan pengembaraan studi Koreografi selama 7 tahun di Yogyakarta, telah membawa keberjarakan pada tanah kelahirannya. Keadaan berjarak itulah yang membawanya pada sudut pandang yang kritis dan objektif melihat Bali. Koreografi Sejak Padi Mengakar menjadi karya perdana yang menurutnya mewakili idealismenya pasca pulang dari Jogja.

***

Masifnya industri pariwisata di Bali semakin hari menampakkan dampaknya yang cukup serius dewasa ini. Di satu sisi menjadi tumpuan ekonomi, namun di sisi lain telah menimbulkan perubahan lansekap alam dan budaya agraris – komunal menuju masyarakat industri yang individual. Bali Selatan yang menjadi episentrum industri pariwisata sedang menghadapi perubahan tata guna lahan secara signifikan. Data Kementerian Pertanian tahun 2021 mengungkap Bali kehilangan sawah rata-tata 1.568 Hektar setiap tahun. Sawah-sawah subur beralih fungsi menjadi bangunan-bangunan untuk menunjang industri pariwisata seperti hotel, villa dan resort yang mengabaikan peraturan tata ruang kawasan.

Repertoar Tari Sejak Padi Mengakar | Foto : Amrita Dharma

Fenomena tersebut dirasakan oleh Gus Bang Sada yang tinggal di Banjar Mukti, Desa Singapadu, Gianyar.  Sebagai desa yang lekat dengan aktifitas agraris dan kesenian, desa ini telah menjadi jalur perlintasan pariwisata menuju kawasan Ubud. Keadaan ini menyebabkan Singapadu menghadapi dampak perubahan spasial maupun sosial yang cukup signifikan.

Kultur agraris yang telah menubuh pada peradaban Bali selama berabad-abad itu kini mulai bergeser menuju masyarakat industri yang menekankan pada aspek material dan individual. Masyarakat agraris yang mulanya sangat menggantungkan keterhubungannya dengan tanah yang memiliki nilai spiritual sekaligus alat produksi, kini perlahan terputus.

Merespon fenomena ini, Gus Bang menggunakan pendekatan koreografi duduk sebagai pilihan artistic pada repertoar tari Sejak Padi Mengakar. Menurutnya, sikap duduk menyatakan sikap kepemilikan atas lahan sekaligus bentuk adaptasi tubuh atas kondisi ruang yang berubah. Lebih dari itu,  sikap duduk juga memiliki korelasi yang erat dengan bumi sebagai sumber kehidupan kebudayaan agraris. Pada masyarakat agraris di Nusantara dan Bali pada khususnya, memandang bumi atau tanah tak hanya bernilai material semata namun juga spiritual.

Pilihan koreografi duduk itu juga terinspirasi dari koreografi tari Kebyar Duduk yang diciptakan oleh Marya. Di awal proses kreatif penciptaan koreografi Sejak Padi Mengakar ini, Gus Bang melatakkan gerakan Kebyar Duduk sebagai pijakan utama koreografinya. Kemudian ia bersama para penampil mengembangkannya menjadi gerakan yang baru. Kebaruan gerakan koreografi itu lahir dari koreografer maupun penampil. Keduanya memiliki independesi masing-masing dalam merespon koreografi duduk disamping kompromi gerakan-gerakan yang telah disepakati bersama.

Duduk Membumi

Jika kita mengamati kekayaan tari di Nusantara, terdapat bahasa tubuh yang cukup mudah kita amati yaitu bentuk-bentuk sikap tubuh yang cenderung mengikuti arah gravitasi bumi alih-alih melawannya. Sehingga banyak dijumpai kosa gerak seperti sikap tubuh yang tidak tegak sempurna. Kosa gerak semacam itu seakan menjadi bahasa universal dalam gerak tari Nusantara.

Repertoar Tari Sejak Padi Mengakar | Foto : Amrita Dharma

Lebih jauh lagi, penulis teringat dengan sebuah obrolan pada lingkar diskusi kecil bersama para performer di Baliseperti Agus Wiratama dkk mengenai metode Suzuki. Metode Suzuki adalah sebuah metode keaktoran yang dikembangkan oleh Tadashi Suzuki dari Jepang dengan prinsip dasar: Energi, pernapasan dan pusat gravitasi. Salah satu prinsip yang cukup menarik perhatian penulis adalah prinsip pusat gravitasi karena memiliki korelasi dengan sikap duduk yang menjadi pilihan artistik yang digunakan Gus Bang pada pertunjukan Sejak Padi Mengakar.

Keterhubungan gravitasi dengan sikap duduk sangat kontras dengan tari barat seperti balet misalnya. Pada tari Balet yang berkembang di Barat gerakannya cenderung melawan arah gravitasi dengan memposisikan sikap tubuh dengan kaki menukik dan mengangkat tubuh keatas seperti melayang diatas lantai. Sedangkan di Nusantara, tari-tarian yang berkembang memiliki kedekatan prinspi dengan metode yang dikembangkan Suzuki. Misalnya, kaki yang menapak sempurna di bumi bahkan sikap duduk seperti yang tarian Kebyar Duduk menjadi bentuk bahasa koreografi yang memposisikan tubuh mendekat dan menyatu dengan bumi atau tanah.

Budaya agraris yang memuliakan tanah sebagai sumber kehidupan direspon melalui sikap duduk sebagai interpretasi kedekatan manusia Bali dengan alamnya. Tanah bukan lagi menjadi entitas atau material diperlakukan seperti halnya benda-benda yang bebas nilai. Sehingga berbagai ekspresi ritus budaya yang berkembang selalu memiliki korelasi yang lekat dengan tanah. Kondisi ini tentu sangat kontradiktif dengan kondisi hari ini, ketika tanah dipandang hanya sebatas entitas material yang tercerabut dari aspek-aspek sejarah dan spiritual yang melekat padanya.

Repertoar Tari Sejak Padi Mengakar | Foto : Amrita Dharma

Pandangan atas tanah yang menjadi ruang hidup manusia dan kebudayaannya beserta ekosistemnya dikikis dengan pandangan materialistik. Akibatnya, tanah hanya sebatas komoditas bernilai ekonomi semata. Keadaan inilah yang menyebabkan perubahan alih fungsi lahan pertanian di Bali masif terjadi. Hegemoni sistem suprastruktur kapitalisme telah menjadi kenyataan yang menjadi tantangan kehidupan masa depan Bali.

Repertoar koreografi Sejak Padi Mengakar ini menjadi bentuk sikap kegelisahan sekaligus protes terhadap keadaan Bali hari ini. Gagasan Gus Bang atas karya ini cukup jelas menyatakan keberpihakannya atas krisis yang dihadapi oleh tanah kelahirannya. Alih-alih terjebak pada romantisme dan kebanggaan semu atas wacana dominan kebudayaan Bali, ia berusaha membangun dan menemukan jalan mengembangkan koreografi Bali dengan pendekatan estetika kontemporer. [T]

BACA artikel ULAS PENTAS atau artikel lain dari ARIF WIBOWO

“Bee Dances” : Menembus Batas, Melebur Identitas
Menyuarakan Isu Lingkungan melalui Tari Kontemporer  “Sambil Menyelam Minum Plastik”
Menjelajahi Laku Jongkok dalam Koreografi “The (Famous) Squatting Dance : Jung Jung te Jung” di Teater Salihara
Tags: Gus BangMulawali Institutepadipertanian baliseni tari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mahalini Tidak Sendiri

Next Post

Bagaimana Siksa Kubur Versi Hindu?

Arif Wibowo

Arif Wibowo

Lulusan Sarjana Arsitektur yang tertarik dengan isu-isu ketimpangan sosial dan lingkungan perkotaan sehingga lebih memilih untuk terlibat pada praktik arsitektur lansekap yang berfokus pada perancangan ruang publik dengan harapan semakin banyak ruang hijau di kawasan kota. Selain itu ia juga gemar menikmati seni tari, pertunjukan dan musik tradisi khususnya di Jawa dan Bali.

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Bagaimana Siksa Kubur Versi Hindu?

Bagaimana Siksa Kubur Versi Hindu?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co