22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Bee Dances” : Menembus Batas, Melebur Identitas

Arif Wibowo by Arif Wibowo
May 3, 2024
in Ulas Pentas
“Bee Dances” : Menembus Batas, Melebur Identitas

Bee Dances : Ninus menari secara tunggal di Halaman Puri Agung Kaleran, Tabanan. Foto : Amrita Dharma

SOROT layar menghadirkan sang penari, Ninus dan Karreth Schaffer, yang menarasikan gagasan koreografinya bertajuk “Bee Dances”. Masih berada dalam satu layar, pertunjukan pun dimulai dengan menghadirkan dua penari yang melakukan gerak koreografi tak beraturan. Koreografi yang ditampilkan dengan iringan musik petikan dawai doublebass yang sangat sederhana, seakan mengikuti ritme gerak para penari. Alih-alih penari bergerak mengikuti iringan musik.

Format pertunjukan yang tampil dalam rangkaian kuratorial “The (Famous) Squatting Dance : Merayakan Marya” di halaman Puri Agung Kaleran, Tabanan (Sabtu, 27/4/2024), ini cukup ekperimental. Mengingat keterbatasan dengan berbagai alasan seperti ketidak-mungikinan para penari hadir secara bersama karena alasan terbatasnya jarak dan waktu.

Pada kondisi itu rupanya Ninus dan kurator pertunjukan Wayan Sumahardika cukup jeli merajut sebuah jalinan tari dan film documenter yang disambung secara runtut dan bergantian antara rekaman audio visual pada layar yang menghadirkan enam penari dengan koreografi tunggal dalam sebuah panggung. Ninus hadir bersama para penabuh gamelan di tengah panggung yang disaksikan langsung oleh penonton.

Hingga di bagian akhir pertunjukan, audience dibawa untuk mengingat kembali Tari Oleg Tamulilingan melalui sebuah video yang menampilkan proses sang penari berhias sambil bermonolog menceritakan tarian itu. Kemudian hadirlah tari Oleg Tamulilingan yang romantis itu oleh sepasang penari laki-laki dan perempuan dari Komunitas Seni Arjuna Production.

Ekperimen ini cukup menjembatani karakter seni pertunjukan yang bersifat tak kekal (ephemeral). Melalui silang media, keterbatasan bukan lagi menjadi halangan untuk menghadirkan repertoar koreografi beserta gagasannya secara utuh.

Lahir dari keragaman latar belakang identitas budaya, bahasa, geografi dan karakter individu, Bee Dance hadir selaras dengan gagasan kuratorial “Membaca Marya”. Gagasan masa lalu laku koreografi Marya yang cukup monumental di zamannya itu dibaca ulang dalam konteks masa kini. Ketika, realitas Bali dihadapkan pada kenyataan yang tak mungkin terhindar dari pertemuan arus kebudayaan dari berbagai lokus global.

Bee Dances : Ninus dan Karreth Schaffer menyampaikan narasi dan gagasannya dalam sebuah video yang tampil pada layar pertunjukan | Foto : Amrita Dharma

Ninus berkolaborasi dengan Karreth Schaffer, koreografer yang berbasis di Berlin, Jerman. Pertemuan keduanya menggagas garapan koreografi yang berusaha mempertemukan bentuk koreografi Barat dengan Timur yaitu tari tradisi Bali. Karreth Schaffer yang memiliki basis pengalaman tubuh barat itu mempelajari tari tradisional selama di Bali. Pengalaman itulah yang kemudian mendorongnya bersama Ninus untuk mencoba kemungkinan mempertemukan bahasa koreografi dari ragam pengalaman tubuh melalui enam penari.

Tiga penari dari luar negeri di antaranya Karreth Schaffer, Tatiana Mejia dan Vilja Mihalovsky. Sedangkan dari Indonesia: Ninus, K.S Gitaswari Prabhawita dan I Putu Wibi Wicakasana. Ketiga penari Indonesia pun juga tak berasal dari identitas yang homogen.

Ninus berlatar budaya urban ibu kota, sedangkan kedua penari Gita dan Wibi sama-sama berasal dari Bali, namun Gita selama ini hidup di lingkungan budaya Solo-Jawa. Hanyalah Wibi yang memang merepresentasikan ke-balian-nya, karena tumbuh dan berkarya dengan akar tradisi Bali yang dominan. Keragaman biografi budaya yang membentuk pengalaman tubuh masing-masing individu penari itu menciptakan interpretasi bahasa koreografi yang beragam.

Tari Oleg Tamulilingan merupakan warisan karya I Marya sebagai pengembangan dari koreografi Igel Jongkok menjadi pintu masuk untuk menjelajahi kemungkinan koreografi Bee Dances. Oleg Tamulilingan yang dipesan oleh John Coast pada tahun 1952 itu awalnya terinspirasi tari balet berpasangan. Namun, dengan sentuhan Marya, tari pesanan itu berhasil menjadi koreografi dengan cita rasa Bali ala Marya dengan sentuhan unsur gerakan jongkok dan duduk.

Bee Dances juga terinspirasi gerakan lebah yang dikenal Waggle Dance pada Lebah madu Asia dan Eropa (Apis cerana dan Apis mellifera) ketika melakukan penyerbukan yang diteliti oleh Zoologist Jerman, Karl van Frisch. Maka, lahirlah Bee Dances sebuah interpretasi kelanjutan dari Oleg Tamulilingan yang mengibaratkan pertemuan Eropa – Asia, Timur – Barat menjadi sebuah dialog antar budaya dan geografi.

Bee Dances : Ninus menari dengan gerakan tari Bali | Foto : Amrita Dharma

Transfer Teknik Koreografi Lintas Tubuh yang Beragam

Pada konteks Indonesia, kebaragaman masyarakat kita memang tak bisa terhindarkan dengan dunia tari yang menjadi simbol masing-masing etnis. Bahkan tari telah menjadi simbol kebanggaan yang sangat menonjol bagi masyarakat karena akan mengikat kesadaran identitas kebudayaanya melalui bahasa koreografi.

Sadar atau tidak, individu yang lahir dari etnis tertentu akan merasa “aneh” jika menikmati tarian dari etnisnya ditarikan oleh orang yang tumbuh di luar lingkungan budaya dimana tarian itu berasal. Misalnya, Orang Jawa yang menari Bali, bahasa tubuhnya akan terlihat berbeda, begitu juga sebaliknya. Hingga kadang memunculkan kelakar, “Kurang metaksu..!” atau sebalikanya, “kurang Njawani..!”. Orang Aceh ketika menari tarian dari Papua juga akan menunjukkan bahasa tubuh yang asing bagi orang Papua, begitu juga sebaliknya. Keadaan Ini menunjukkan bahasa tubuh sangat dipengaruhi oleh latar belakang budaya, sosial dan bahkan geografi lingkungan.

Pada saat Ninus tampil melakukan koreografi tunggal ada beberapa hal yang patut menjadi diskusi menarik tertkait tentang keterhubungan bahasa tubuh individu dengan latar belakang kebudayaannya. Ninus menjadi preseden menarik untuk memahami bagaimana cara kerja hubungan tubuh dengan latar belakang sosial budaya yang membentuknya.

Ninus merupakan individu yang tumbuh di kawasan urban sekitar Jakarta dan Bandung yang kosmopolit. Keadaan itu tentu sangat mempengaruhi bahasa tubuhnya dalam melakukan koreografi pada tarian tradisi Bali. Ia, tidak mungkin melakukan agem yang sempurna atau nyeledet secara tajam dan dinamis selayaknya gerakan teknik dasar tari Bali.

Bee Dance melalui Ninus sebagai representasinya bukan berbicara tentang teknik dan pakem sebuah tarian, tapi merupakan eksperimen dan introgasi atas kemungkinan pengetahuan koreografi bisa menyebrang, menjalar dan menyebar dari tubuh satu ke tubuh lainnya, dari etnis budaya satu dengan lainnya.

Di tengah kemajuan teknologi dan informasi yang mudah dijangkau telah mendorong akses pengetahuan yang semakin demokratis. Keadaan ini menumbuhkan kemungkinan baru akan sebuah pengetahuan dan teknik koreografi bisa dipraktikkan oleh siapa pun tanpa mengenal batas budaya dan geografi.

Berkaca pada bahasa tubuh Ninus dan koreografinya, Bee Dances membawa kita memahami eksperimen teknik dasar tari Bali menyebar dan mengarungi raga di luar batas ruang budaya dan geografi Pulau Bali. Jika Marya berhasil “melokalkan” koreografi balet yang berasal dari tanah Eropa itu menjadi koreografi Bali yang membumi.

Maka, Bee Dances mencoba mengulang metode Marya, dengan cara menukar arah dengan “mengekspor” koreografi Bali keluar dari habitat ruang budayanya. Sehingga, koreografi Bali juga memiliki daya tawar tidak hanya sebagai objek penerima, namun juga sebagai subjek yang bergerak menembus batas dan berdialog dengan ragam tubuh, budaya dan geografi.

Tari Oleg Tamulilingan pada akhir pertunjukan Bee Dance oleh Komunitas Seni Arjuna Production | Foto : Amrita Dharma

Sebagai catatan, sepanjang pertunjukan Bee Dance menghadirkan pengalaman lintas dimensi ruang dan waktu yang unik, antara koreografi dan gamelan tabuh Gong  Kebyar yang hadir di panggung dengan film-tari yang menghadirkan koreografi lengkap enam penari. Gagasan-gagasan karya banyak dihadirkan melalui monolog-monolog pertanyaan, pernyataan dan introgasi yang gamblang dan menajamkan perspektif kita mengenai bagaimana koreografi menjadi medium pertukaran budaya.

Ditengah menariknya gagasan yang ditawarkan koreografi Bee Dances, durasi pertunjukan yang cukup lama perlu menjadi catatan khusus bagi koreografer dan kurator pada saat pertunjukan malam itu. Di tengah keberagaman audience, menampilkan bahasa koreografi yang asing dan berjarak dengan kesehariaan masyarakat akan mengurangi kemampuan audience menangkap pesan dan gagasan utamanya. Alangkah baiknya film-tari dengan bahasa koreografi yang asing pada layar itu  porsinya disesuaikan secara berimbang dengan pertunjukan koreografi di atas panggung yang sesungguhnya.

Sekali lagi, Bee Dance menghadirkan cara pandang baru bagaimana pengetahuan koreografi berbasis tradisi bisa menyebar, menjalar dan memasuki tubuh-tubuh yang memiliki latar belakang yang beragam. Mengulang semangat dan metode kerja Marya yang berhasil melokalkan balet berpasangan dengan bahasa dan kosmologi tarian Bali. Maka, Bee Dance membaliknya dengan menebar dan mendialogkan koreografi Bali hingga menembus batas-batas ruang identitas budaya yang beragam. [T]

BACA artikel ULAS PENTAS atau artikel lain dari ARIF WIBOWO

Menyuarakan Isu Lingkungan melalui Tari Kontemporer  “Sambil Menyelam Minum Plastik”
Menjelajahi Laku Jongkok dalam Koreografi “The (Famous) Squatting Dance : Jung Jung te Jung” di Teater Salihara
Ritus Tari Seblang di Olehsari : Menari Bersama Leluhur dan Merayakan Dialog Antarbudaya Bali-Blambangan
Seni Memahat Diri | Catatan Workshop Gerak “Tubuh Setengah Jadi”
Tags: I Ketut Maryakesenian baliKetut MarioMerayakan MaryaOleg Tamulilinganseni tari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sehat atau Kuat?

Next Post

Hari Buruh Sedunia: Kerja Keras Seorang Juru Parkir

Arif Wibowo

Arif Wibowo

Lulusan Sarjana Arsitektur yang tertarik dengan isu-isu ketimpangan sosial dan lingkungan perkotaan sehingga lebih memilih untuk terlibat pada praktik arsitektur lansekap yang berfokus pada perancangan ruang publik dengan harapan semakin banyak ruang hijau di kawasan kota. Selain itu ia juga gemar menikmati seni tari, pertunjukan dan musik tradisi khususnya di Jawa dan Bali.

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Hari Buruh Sedunia: Kerja Keras Seorang Juru Parkir

Hari Buruh Sedunia: Kerja Keras Seorang Juru Parkir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co