3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seni Memahat Diri | Catatan Workshop Gerak “Tubuh Setengah Jadi”

Arif Wibowo by Arif Wibowo
April 12, 2023
in Esai
Seni Memahat Diri | Catatan Workshop Gerak “Tubuh Setengah Jadi”

Workshop Gerak Mulawali Institute | Foto: Amrita Dharma Darsanam

Jumat, 7 April 2023, Mulalawali Institute dengan programnya Studi Klub Pragina, mengadakan workshop gerak bertajuk “Tubuh Setengah Jadi”,diadakan di sanggar seni Penggak Men Mersi, Kota Denpasar. Ini menjadi pengalaman saya pertama kali mengikuti workshop gerak tubuh yang bersinggungan dengan dunia seni tari dan pertunjukan. Karena selama ini saya hanya menjadi penikmat, walupun kadang juga sedikit menjadi pengamat amatir dengan secuil pengetahuan.

Workshop ini dimentori oleh Razan Wirosandjoyo, seorang seniman tari dan filmmaker berbasis di Solo. Razan sapaan akrabnya, berlatar belakang sarjana seni tari dari ISI Surakarta dan sudah menjalankan praktik keseniannya sejak 2010. Disamping itu, ia juga mengembara untuk nyantrik dari berbagai seniman lintas disiplin. Melalui pengalaman dari proses dirinya menjadi seorang koreagrafer, ia mencoba berbagi melalui workshop ini untuk belajar bersama proses kreatif penciptaan tari dan pertujukan melalui laku pemahatan diri bagi seorang koreografer maupun pragina (performer atau seniman panggung).

Saya tiba di workshop ini sedikit terlambat bahkan hampir pesimis tidak bisa menghadirinya karena ada daedline pekerjaan. Untungnya kendala itu masih bisa diatasi. Memasuki kori sanggar, saya melihat peserta duduk melingkar dengan perhatian peserta yang fokus pada sang mentor. Panitiapun menyambut dan mengarahkan saya untuk langsung bergabung dalam lingkaran peserta. Seperti biasanya, forum ini diawali dengan perkenalan dan pengantar dari Razan dan juga panitia tentunya. Peserta banyak diikuti oleh anak-anak muda yang terlihat sangat antusias.

Olah Tubuh : dari mencari titik pusat hingga menapak bumi

Babak mula workshop diawali dengan olah tubuh dasar. Peserta diajak untuk duduk sambil menyelonjorkan kaki. Sebagai tumpuan, kaki memiliki peran penting menjaga keseimbangan tubuh terlebih dalam proses gerak dan olah tubuh seorang pragina. Olah tubuh dasar ini berlanjut pada titik-titik penting tubuh lain seperti pinggul, perut dan bagian tulang belakang.

Gerakan ini merupakan bentuk pencarian titik pusat tubuh yang diikuti pola nafas teratur sebagai upaya menciptakan fokus dan kesadaran dalam memahami ketubuhan masing-masing individu. Razan menggunakan metafor benang yang tersambung diatas ubun-ubun kepala yang menarik ke atas untuk mengarahkan posisi titik tubuh dan fokus dalam satu garis imajiner. Begitu juga fokus pada bagian tubuh yang lain, ia selalu menggunakan metafor-metafor tertentu untuk memudahkan peserta memvisualkan proses pengenalan tubuh. Proses ini  mengingatkan saya pada aktivitas yoga dan pelatihan kesadaran yang jamak dilakukan untuk kesehatan mental.

Workshop Gerak Mulawali Institute | Foto: Amrita Dharma Darsanam

Setelah memahami dan mengenali bagian tubuh masing-masing individu dengan penuh kesadaran, Razan mengajak peserta untuk membangun relasi tubuh dengan bumi. Gerakan ini diawali dengan merebahkan tubuh di lantai dengan posisi terlentang. Kemudian ia mengibaratkan sebuah benda yang jatuh menimpa perut masing-masing dan membuat tubuh spontan terbangun. Kemudian menjatuhkan tubuh kembali ke lantai. Proses jatuhnya tubuh ke lantai dilakukan secara pasrah namun tetap dengan kesadaran penuh. Memasrahkan tubuh jatuh ke lantai sebagai bentuk laku untuk memberi kepercayaan tubuh ini kepada bumi. Dengan kata lain, melatih sensori tubuh untuk peka terhadap bumi sebagai pusat gravitasi dan juga sumber kehidupan pada makna yang lebih luas.

Membangun kesadaran tubuh dengan bumi juga menumbuhkan memori kita akan menyatunya kembali tubuh pada bumi pada masa yang akan tiba. Pada konteks tari dan pertunjukan, proses membangun relasi dengan bumi melalui gerakan sensorik ini juga melatih kesadaran spasial tubuh dalam memahami lingkungan sekitar melalui panca indra.

Memahat Tubuh

Bagaimana menjadi seorang koreografer sekaligus pragina? Pada sesi ini peserta dibebaskan mencari teman secara berpasangan. Masing-masing pasangan ada yang berperan sebagai pematung, sedangkan lawannya menjadi objek yang dipatung. Pematung bebas membentuk dan memahat tubuh pasangan sesuai dengan imajinasinya. Sesi ini diibaratkan sebagai proses seorang koreografer menuangkan gagasan kreatifnya melalui tubuh seorang pragina. Ide dan gagasan koreografer menciptakan olah tubuh hingga tercipta gerakan koreografi harus bisa ditangkap oleh sang pragina. Interaksi dan komunikasi yang intensif sangat diperlukan dalam proses transfer gagasan melalui olah dan gerak tubuh diantara keduanya.

Aktivitas ini juga bisa dimaknai dengan proses nyantrik yang menciptakan hubungan guru dan murid. Selama perjalanan nyantriknya, Razan menggagas ulang proses hubungan guru-murid ini melalui proses transfer pengetahuan yang konvensional. Ia merasa perlu melihat kembali metode pengajaran olah tubuh yang dilakukan oleh para maestro tari tradisi. Seperti umumnya proses nyantrik, aktifitas belajar memerlukan laku yang begitu ketat. Tak jarang seorang guru perlu “memahat tubuh” sang murid dengan proses yang cukup berat hingga “mengintervensi” tubuh sang penari demi menciptakan pendalaman karakter baik secara ragawi maupun tan-ragawi. Pada konteks tertentu pola transfer pengetahuan konvesional perlu dilihat kembali secara bijak.

Proses “Menjadi” : Melepas ke-akuan sembari menjadi diri sendiri

Ketika menjadi seniman panggung, seorang pragina dituntut untuk mendalami dan menjadi karakter di luar dirinya. Untuk mendalami kemampuan ini tentu tak mudah dilakukan oleh semua orang dan memerlukan proses berlatih yang begitu panjang. Bisa dibayangkan seorang yang kesehariannya berkarakter introvert tiba-tiba diberi mandat memerankan karakter ekstrovert. Di sesi workshop yang ketiga ini, Razan mengarahkan setiap peserta untuk memerankan masing-masing shio-nya. Kemudian secara bersamaan seluruh peserta diberi kesempatan memerankan karakter binatang shio-nya itu dengan berjalan dari ujung ke ujung ruang. Peserta diberi kebebasan mengekspresikan karakter binatang baik secara fisik maupun non-fisik.

Proses berlatih memerankan karakter binatang ini kemudian diulang dengan eksperimen mencampuradukan karakter binatang dengan karakter material bersifat keras dan lunak secara bergantian. Pada sesi selanjutnya seluruh karakter binatang yang sudah dipadupadankan dengan karakter lain itu dieksperimen lagi dengan karakter shio pasangan yang dipilih pada sesi sebelumnya. Bisa dibayangkan betapa serunya proses berlatih memerankan karakter yang jauh dengan keseharian, bahkan pengalaman tubuh yang dimiliki oleh masing-masing peserta.

Latihan ini memberikan pengalaman dan pemikiran tentang perlunya kita sebagai manusia pada konteks “aktifitas seniman panggung” untuk melepas sifat dan karakter kedirian yang melekat. Kemudian “berproses menjadi” yang lain di luar diri kita. “Proses menjadi” inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian peserta, karena untuk bertransisi menjadi karakter di luar dirinya tak semudah yang dibayangkan.

Beberapa diskusi yang terlontar, peserta berbagi pengalamannya tentang proses transisi ketika memasukkan karakter binatang ke dalam diri dan sebaliknya. Proses eksperimen menubuhnya dua karakter yang berbeda ini membutuhkan keliatan imanjinasi. Setiap individu memiliki interpretasi yang beragam ketika memvisualisasikan keragaman karakter itu. Kemudian diitranformasikan kedalam karakter dirinya.

Keragaman interpretasi ini kadang menimbukan pertanyaan validasi “sudah tepatkah saya menjalankan karakter ini?”. Pertanyaan ini cukup memancing rasa penasaran apalagi bagi individu yang tidak pernah mengalami aktivitas panggung sebelumnya. Namun, kebebasan interpretasi dalam menerjamahkan karakter itulah yang akan menciptakan karakter spesifik setiap individu. Sehingga, kita bisa menarik benang merah pada workshop sesi ini bahwa untuk menjadi pragina (seniman panggung) harus memiliki kemampuan untuk bisa melepaskan ke-akuan dan kedirian sembari tetap menjadi diri sendiri.

Studi Klub Pragina melalui workshop ini memberikan pengalaman yang menarik bagi peminat seni tari dan pertunjukan. Transfer pengetahuan dengan latar belakang yang beragam baik dari mentor maupun peserta memberikan perspektif yang cukup beragam dalam melihat kerja-kerja seni tari dan pertunjukan. Sehingga, mendorong ruang wacana dan praktik yang lebih kaya pada dunia seniman panggung ini. [T]

Workshop Gerak Mulawali Institute: Mencari Pusat Diri Dalam Tubuh Setengah Jadi
“Ruwatan Samudera”, Procession Visualization in a Dance Fragments
Dunia Tak Selalu Hitam-Putih, Bisa Juga Hijau-Pink | Ulasan Pertunjukan Maas Theater en Dans di Indonesia
Tags: Mulawali Instituteseni pertunjukanteater tubuhTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Ngangkid: Upacara Penyucian Roh di Pedawa

Next Post

Media Pers Harus Lebih Sensitif Menyangkut Persoalan Anak dan Perempuan

Arif Wibowo

Arif Wibowo

Lulusan Sarjana Arsitektur yang tertarik dengan isu-isu ketimpangan sosial dan lingkungan perkotaan sehingga lebih memilih untuk terlibat pada praktik arsitektur lansekap yang berfokus pada perancangan ruang publik dengan harapan semakin banyak ruang hijau di kawasan kota. Selain itu ia juga gemar menikmati seni tari, pertunjukan dan musik tradisi khususnya di Jawa dan Bali.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Media Pers Harus Lebih Sensitif Menyangkut Persoalan Anak dan Perempuan

Media Pers Harus Lebih Sensitif Menyangkut Persoalan Anak dan Perempuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co