2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seni Memahat Diri | Catatan Workshop Gerak “Tubuh Setengah Jadi”

Arif Wibowo by Arif Wibowo
April 12, 2023
in Esai
Seni Memahat Diri | Catatan Workshop Gerak “Tubuh Setengah Jadi”

Workshop Gerak Mulawali Institute | Foto: Amrita Dharma Darsanam

Jumat, 7 April 2023, Mulalawali Institute dengan programnya Studi Klub Pragina, mengadakan workshop gerak bertajuk “Tubuh Setengah Jadi”,diadakan di sanggar seni Penggak Men Mersi, Kota Denpasar. Ini menjadi pengalaman saya pertama kali mengikuti workshop gerak tubuh yang bersinggungan dengan dunia seni tari dan pertunjukan. Karena selama ini saya hanya menjadi penikmat, walupun kadang juga sedikit menjadi pengamat amatir dengan secuil pengetahuan.

Workshop ini dimentori oleh Razan Wirosandjoyo, seorang seniman tari dan filmmaker berbasis di Solo. Razan sapaan akrabnya, berlatar belakang sarjana seni tari dari ISI Surakarta dan sudah menjalankan praktik keseniannya sejak 2010. Disamping itu, ia juga mengembara untuk nyantrik dari berbagai seniman lintas disiplin. Melalui pengalaman dari proses dirinya menjadi seorang koreagrafer, ia mencoba berbagi melalui workshop ini untuk belajar bersama proses kreatif penciptaan tari dan pertujukan melalui laku pemahatan diri bagi seorang koreografer maupun pragina (performer atau seniman panggung).

Saya tiba di workshop ini sedikit terlambat bahkan hampir pesimis tidak bisa menghadirinya karena ada daedline pekerjaan. Untungnya kendala itu masih bisa diatasi. Memasuki kori sanggar, saya melihat peserta duduk melingkar dengan perhatian peserta yang fokus pada sang mentor. Panitiapun menyambut dan mengarahkan saya untuk langsung bergabung dalam lingkaran peserta. Seperti biasanya, forum ini diawali dengan perkenalan dan pengantar dari Razan dan juga panitia tentunya. Peserta banyak diikuti oleh anak-anak muda yang terlihat sangat antusias.

Olah Tubuh : dari mencari titik pusat hingga menapak bumi

Babak mula workshop diawali dengan olah tubuh dasar. Peserta diajak untuk duduk sambil menyelonjorkan kaki. Sebagai tumpuan, kaki memiliki peran penting menjaga keseimbangan tubuh terlebih dalam proses gerak dan olah tubuh seorang pragina. Olah tubuh dasar ini berlanjut pada titik-titik penting tubuh lain seperti pinggul, perut dan bagian tulang belakang.

Gerakan ini merupakan bentuk pencarian titik pusat tubuh yang diikuti pola nafas teratur sebagai upaya menciptakan fokus dan kesadaran dalam memahami ketubuhan masing-masing individu. Razan menggunakan metafor benang yang tersambung diatas ubun-ubun kepala yang menarik ke atas untuk mengarahkan posisi titik tubuh dan fokus dalam satu garis imajiner. Begitu juga fokus pada bagian tubuh yang lain, ia selalu menggunakan metafor-metafor tertentu untuk memudahkan peserta memvisualkan proses pengenalan tubuh. Proses ini  mengingatkan saya pada aktivitas yoga dan pelatihan kesadaran yang jamak dilakukan untuk kesehatan mental.

Workshop Gerak Mulawali Institute | Foto: Amrita Dharma Darsanam

Setelah memahami dan mengenali bagian tubuh masing-masing individu dengan penuh kesadaran, Razan mengajak peserta untuk membangun relasi tubuh dengan bumi. Gerakan ini diawali dengan merebahkan tubuh di lantai dengan posisi terlentang. Kemudian ia mengibaratkan sebuah benda yang jatuh menimpa perut masing-masing dan membuat tubuh spontan terbangun. Kemudian menjatuhkan tubuh kembali ke lantai. Proses jatuhnya tubuh ke lantai dilakukan secara pasrah namun tetap dengan kesadaran penuh. Memasrahkan tubuh jatuh ke lantai sebagai bentuk laku untuk memberi kepercayaan tubuh ini kepada bumi. Dengan kata lain, melatih sensori tubuh untuk peka terhadap bumi sebagai pusat gravitasi dan juga sumber kehidupan pada makna yang lebih luas.

Membangun kesadaran tubuh dengan bumi juga menumbuhkan memori kita akan menyatunya kembali tubuh pada bumi pada masa yang akan tiba. Pada konteks tari dan pertunjukan, proses membangun relasi dengan bumi melalui gerakan sensorik ini juga melatih kesadaran spasial tubuh dalam memahami lingkungan sekitar melalui panca indra.

Memahat Tubuh

Bagaimana menjadi seorang koreografer sekaligus pragina? Pada sesi ini peserta dibebaskan mencari teman secara berpasangan. Masing-masing pasangan ada yang berperan sebagai pematung, sedangkan lawannya menjadi objek yang dipatung. Pematung bebas membentuk dan memahat tubuh pasangan sesuai dengan imajinasinya. Sesi ini diibaratkan sebagai proses seorang koreografer menuangkan gagasan kreatifnya melalui tubuh seorang pragina. Ide dan gagasan koreografer menciptakan olah tubuh hingga tercipta gerakan koreografi harus bisa ditangkap oleh sang pragina. Interaksi dan komunikasi yang intensif sangat diperlukan dalam proses transfer gagasan melalui olah dan gerak tubuh diantara keduanya.

Aktivitas ini juga bisa dimaknai dengan proses nyantrik yang menciptakan hubungan guru dan murid. Selama perjalanan nyantriknya, Razan menggagas ulang proses hubungan guru-murid ini melalui proses transfer pengetahuan yang konvensional. Ia merasa perlu melihat kembali metode pengajaran olah tubuh yang dilakukan oleh para maestro tari tradisi. Seperti umumnya proses nyantrik, aktifitas belajar memerlukan laku yang begitu ketat. Tak jarang seorang guru perlu “memahat tubuh” sang murid dengan proses yang cukup berat hingga “mengintervensi” tubuh sang penari demi menciptakan pendalaman karakter baik secara ragawi maupun tan-ragawi. Pada konteks tertentu pola transfer pengetahuan konvesional perlu dilihat kembali secara bijak.

Proses “Menjadi” : Melepas ke-akuan sembari menjadi diri sendiri

Ketika menjadi seniman panggung, seorang pragina dituntut untuk mendalami dan menjadi karakter di luar dirinya. Untuk mendalami kemampuan ini tentu tak mudah dilakukan oleh semua orang dan memerlukan proses berlatih yang begitu panjang. Bisa dibayangkan seorang yang kesehariannya berkarakter introvert tiba-tiba diberi mandat memerankan karakter ekstrovert. Di sesi workshop yang ketiga ini, Razan mengarahkan setiap peserta untuk memerankan masing-masing shio-nya. Kemudian secara bersamaan seluruh peserta diberi kesempatan memerankan karakter binatang shio-nya itu dengan berjalan dari ujung ke ujung ruang. Peserta diberi kebebasan mengekspresikan karakter binatang baik secara fisik maupun non-fisik.

Proses berlatih memerankan karakter binatang ini kemudian diulang dengan eksperimen mencampuradukan karakter binatang dengan karakter material bersifat keras dan lunak secara bergantian. Pada sesi selanjutnya seluruh karakter binatang yang sudah dipadupadankan dengan karakter lain itu dieksperimen lagi dengan karakter shio pasangan yang dipilih pada sesi sebelumnya. Bisa dibayangkan betapa serunya proses berlatih memerankan karakter yang jauh dengan keseharian, bahkan pengalaman tubuh yang dimiliki oleh masing-masing peserta.

Latihan ini memberikan pengalaman dan pemikiran tentang perlunya kita sebagai manusia pada konteks “aktifitas seniman panggung” untuk melepas sifat dan karakter kedirian yang melekat. Kemudian “berproses menjadi” yang lain di luar diri kita. “Proses menjadi” inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian peserta, karena untuk bertransisi menjadi karakter di luar dirinya tak semudah yang dibayangkan.

Beberapa diskusi yang terlontar, peserta berbagi pengalamannya tentang proses transisi ketika memasukkan karakter binatang ke dalam diri dan sebaliknya. Proses eksperimen menubuhnya dua karakter yang berbeda ini membutuhkan keliatan imanjinasi. Setiap individu memiliki interpretasi yang beragam ketika memvisualisasikan keragaman karakter itu. Kemudian diitranformasikan kedalam karakter dirinya.

Keragaman interpretasi ini kadang menimbukan pertanyaan validasi “sudah tepatkah saya menjalankan karakter ini?”. Pertanyaan ini cukup memancing rasa penasaran apalagi bagi individu yang tidak pernah mengalami aktivitas panggung sebelumnya. Namun, kebebasan interpretasi dalam menerjamahkan karakter itulah yang akan menciptakan karakter spesifik setiap individu. Sehingga, kita bisa menarik benang merah pada workshop sesi ini bahwa untuk menjadi pragina (seniman panggung) harus memiliki kemampuan untuk bisa melepaskan ke-akuan dan kedirian sembari tetap menjadi diri sendiri.

Studi Klub Pragina melalui workshop ini memberikan pengalaman yang menarik bagi peminat seni tari dan pertunjukan. Transfer pengetahuan dengan latar belakang yang beragam baik dari mentor maupun peserta memberikan perspektif yang cukup beragam dalam melihat kerja-kerja seni tari dan pertunjukan. Sehingga, mendorong ruang wacana dan praktik yang lebih kaya pada dunia seniman panggung ini. [T]

Workshop Gerak Mulawali Institute: Mencari Pusat Diri Dalam Tubuh Setengah Jadi
“Ruwatan Samudera”, Procession Visualization in a Dance Fragments
Dunia Tak Selalu Hitam-Putih, Bisa Juga Hijau-Pink | Ulasan Pertunjukan Maas Theater en Dans di Indonesia
Tags: Mulawali Instituteseni pertunjukanteater tubuhTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Ngangkid: Upacara Penyucian Roh di Pedawa

Next Post

Media Pers Harus Lebih Sensitif Menyangkut Persoalan Anak dan Perempuan

Arif Wibowo

Arif Wibowo

Lulusan Sarjana Arsitektur yang tertarik dengan isu-isu ketimpangan sosial dan lingkungan perkotaan sehingga lebih memilih untuk terlibat pada praktik arsitektur lansekap yang berfokus pada perancangan ruang publik dengan harapan semakin banyak ruang hijau di kawasan kota. Selain itu ia juga gemar menikmati seni tari, pertunjukan dan musik tradisi khususnya di Jawa dan Bali.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Media Pers Harus Lebih Sensitif Menyangkut Persoalan Anak dan Perempuan

Media Pers Harus Lebih Sensitif Menyangkut Persoalan Anak dan Perempuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co