2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Siksa Kubur Versi Hindu?

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
May 6, 2024
in Esai
Bagaimana Siksa Kubur Versi Hindu?

Gambar sebagai ilustrasi dari penulis

INDONESIA adalah gudangnya film yang bernuansa horor. Bagaimana tidak? Setiap tahun selalu saja muncul berbagai macam jenis film bernuansa mengerikan yang menghiasi layar lebar bumi Nusantara. Salah satu film horor yang mencuri perhatian pemirsa di tahun 2024 adalah karya besutan sutradara kawakan Joko Anwar. Film yang agak dibumbui religi ini, mulai ditayangkan saat perayaan bulan suci dengan tagline “Siksa Kubur”.

Sebagai pecinta horor, diri ini tentu tidak mau kelewatan dalam menikmati nuansa kisah ‘Siksa Kubur’ di hari Jumat awal Mei ini. Tidak tanggung-tanggung, jam tayang terakhir pukul 21.45 di Denpasar Cineplex menjadi pilihan untuk menguji adrenalin agar terlihat lebih mempesona. Walau pada saat itu, diri ini juga cukup beruntung karena diapit 2 orang penonton perempuan yang setia menemani di kursi sebelah kanan dan kiri bioskop.

Meskipun memiliki durasi kurang lebih dua jam, film ini sukses menyita perhatian caksuindriya ini agar tidak berpaling.

Bung Jokan memang cakap membuat film horor yang tidak hanya sekadar berisi jump scare atau hantu yang menyeramkan. Sepanjang film, buddhi ini dipaksa untuk menebak-nebak, bertanya-tanya sampai berteori tentang plot twist di akhir film.

Dari sisi susila, film ini juga cukup apik memberikan pesan moral. Mulai dari betapa esensinya suatu entitas dalam diri yang disebut dengan ‘iman’. Betapa berharganya harta yang kita sebut sebagai ‘hidup’. Sampai seperti apa sesungguhnya hakikat dari ‘Siksa Kubur’ itu. Dari sana, munculah sebuah pertanyaan yang cukup mengguncang sanubari diri ini setelah nama terakhir muncul di layar. Pertanyaan itu adalah:

“Bagaimana Siksa Kubur dalam Versi Agama Hindu?

Sebagai bagian dari eskatologi, Hindu sesungguhnya lumayan banyak menyajikan bagaimana konsep kehidupan setelah meninggal. Dimulai dari cerita Lubdaka yang menceritakan rohnya dijemput oleh para Cikrabala untuk dibawa ke pengadilan Dewa Yama. Perjalanan Sang Dharmawangsa di bagian Swargarohana Parwa yang mengetahui bagaimana keadaan sanak keluarganya di swarga (surga) dan neraka. Sampai Lontar Atma Prasangsa yang menyajikan kisah perjalanan Bhagawan Penyarikansebagai orang suci dan Bima Sena yang diberikan kesempatan untuk melihat keadaan roh setelah meninggalkan badan kasarnya.

Namun setelah lama mengingat dan mengurik kembali, usaha diri ini untuk menemukan Siksa Kubur versi Hindu menemui jalan buntu. Tidak ada cerita yang menyebutkan bagaimana kuburan menjadi sempit, tidak ada cerita yang mengisahkan ular akan masuk ke dalam tubuh orang yang telah dikubur, serta tidak ada juga cerita wajah yang dihantam secara mengerikan seperti yang ada pada film ‘Siksa Kubur’. 

Jadi apakah Hindu memang tidak memiliki versi cerita tentang Siksa Kubur ya?

“Wah bisa juga karena badan kasar orang Hindu setelah meninggal itu di-aben (dibakar) bukan sekedar dikubur,” ujar diri ini dalam hati.

Melalui usaha mengulik-ngulik yang tidak kenal lelah, diri ini akhirnya kembali dibawa untuk menemukan kisah keadaan rohdi Neraka Loka (Alam Neraka) menurut Lontar Atma Prasangsa.

Semua roh disana diperlihatkan tersiksa akibat hasil dari perbuatannya masing-masing semasa hidup. Mulai dari roh seorang yang katanya organisatorisditumbuk karena semasa hidup bermuka dua dalam organisasi. Roh seorang anak yang kepalanya digergaji karena semasa hidup durhaka kepada orang tua. Roh seorang koruptor, penipu, atau tukang fitnah yang ditarik dan dipotong lidahnya secara mengerikan. Sampai roh yang dibakar kelaminnya karena semasa hidup suka berzinah di luar nikah.

Sambil sesekali menutup mata dan membayangkan bagaimana siksa tersebut dalam imajinasi, ada sebuah kalimat yang akhirnya membuat diri ini cukup tertegun. Hal itu adalah sabda yang dikelurakan oleh Bhagawan Penyarikan dalam Lontar Atma Prasangsa ketika melihat para Atma yang menderita di Neraka Loka.

Sabda itu berbunyi: “….Bhagawan Penyarikan bersabda kepada semua atma yang sengsara. Apa kiranya yang menjadi sebab sehingga para Atma amat sangat menderita. Semua hal itu tiada lain adalah bersumber dari dirinya sendiri!”

Setelah lama mengulik dan mencari Siksa Kubur versi Hindu, diri ini akhirnya menemukan konklusi. Dibandingkan menyoroti Siksa Kubur, Hindu ternyata lebih menyoroti bagaimana konsekuensi hadirnya Hukum Karma. Dibandingkan menyoroti keadaan setelah meninggal, ternyata lebih banyak ditemukan kata yang menyoroti keadaan ‘semasa hidup’.

Dibandingkan terlalu menakuti kematian, ternyata di Hindu lebih mengajarkan arti kehidupan. Jadi ya sudahlah, dibandingkan terlalu fokus sama Siksa Kubur, kayaknya lebih elok fokus sama hidup saja yang sudah lebih dulu menyiksa. [T]


BACA artikel lain dari penulis DEWA GEDE DARMA PERMANA

“Melajah Kalah”
Tumpek Krulut Adopsi Hari Valentine?
Rwa Bhineda Pasti Ada
Suka-Duka-Lara-Pati, Mengenal 4 Serangkai Bekal Abadi
Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni
Tags: film hororhindunerakasiksa kubursurga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pandangan Atas Tanah Dulu dan Kini : Catatan Repertoar Tari “Sejak Padi Mengakar”

Next Post

Ayo Daftar Kemah Menulis Haul Buya Ahmad Syafii Maarif di Sunrise Land Lombok

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Ayo Daftar Kemah Menulis Haul Buya Ahmad Syafii Maarif di Sunrise Land Lombok

Ayo Daftar Kemah Menulis Haul Buya Ahmad Syafii Maarif di Sunrise Land Lombok

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co