29 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah dari Geladak Perahu Nelayan Pengambengan di Bali Barat

Jaswanto by Jaswanto
August 8, 2024
in Liputan Khusus
Kisah dari Geladak Perahu Nelayan Pengambengan di Bali Barat

Foto=foto tatkala.co | Jaswanto

“BEBERAPA bulan lalu, keponakan saya hilang. Sampai saat ini belum ditemukan,” ujar nelayan paruh baya itu di atas gelagak perahu bersama angin timur yang kencang. Ia mengatakan hal menyedihkan—kalau bukan mengerikan—tersebut di antara nelayan-nelayan lain yang sedang ngayumi jaring.

Ayum-ayum atau ngayumi adalah istilah untuk memperbaiki jaring-jaring yang rusak. Para nelayan biasa melakukannya di sela-sela kesibukan—atau saat sedang libur melaut. Jaring-jaring yang  robek, koyak, berlubang, dan memungkinkan ikan buruan lolos, melepaskan diri, ditambal-sulam, dijahit secara manual dengan jarum dan tali khusus.

Penampakan perahu slerek nelayan Pengambengan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Laut sudah menjadi kuburan bagi kami,” katanya lagi sesaat setelah dia menegaskan kembali bahwa beberapa bulan yang lalu, saat melaut, keponakannya jatuh dari perahu, terseret dan ditelan ombak—dan tak ditemukan, sampai hari ini.

“Dia meninggalkan dua anak. Kelas 4 SD dan umur tiga tahun,” terang Dawi Ariyanto, nelayan paruh baya itu, dengan nada yang sendu.

Saat mengatakan hal tersebut Dawi menarik napas dalam-dalam. Barangkali dadanya tiba-tiba terasa sesak. Ia dan keluarganya masih berharap keponakannya itu bisa ditemukan—tak peduli hidup atau mati. Mereka menunggu keajaiban. Bisa saja keponakannya diselamatkan sekawanan lumba-lumba hidung botol yang cerdas dan ramah, digiring ke tepi laut, di suatu tempat.

Atau barangkali malah diselamatkan ribuan camar laut yang menerbangkan tubuh keponakannya ke pesisir, sebagaimana kisah-kisah nenek moyangnya dulu saat tiba di sebuah pulau. Tapi tak hanya lumba-lumba dan camar yang baik, Samudra Hindia sayangnya juga dihuni hiu-hiu yang ganas.

Tetapi kisah seperti ini tentu saja bukan hal yang mengejutkan bagi para nelayan Pengambengan, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali. Banyak kisah serupa yang terjadi hampir setiap tahun di desa ini.

Nelayan-nelayan sedang ngayumi jaring di geladak Perahu Baru Barokah | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Kecelakaan kerja di perahu nelayan adalah risiko yang tak dapat dihindari—walaupun barangkali bisa diminimalisir—dan tentu juga bisa menimpa siapa pun. Ia dipercaya sebagai takdir atau nasib buruk yang selalu membayangi setiap nelayan yang pergi melaut.

“Dan kami tidak memiliki jaminan kesehatan,” ujar Dawi dengan suara yang parau. Benar. Pemilik perahu memang memberi uang kompensasi jika ada nelayannya yang mengalami kecelakaan bahkan meninggal, tapi bagi Dawi, tak ada benda apa pun yang senilai nyawa manusia.

Fragmen-fragmen mengerikan seperti jatuh dari perahu dan terseret ombak, dan hilang, anggota tubuh yang terpotong mesin perahu, cacat permanen, mesin rusak di tengah laut, perahu bocor, ombak ganas yang mengoyak, angin-badai yang tiba-tiba datang dan tak bersahabat, dan hal-hal menakutkan lainnya adalah monster yang mendekam dan membayang-bayangi pikiran para nelayan; pula menjelma khawatir, was-was, ketakutan, dalam kepala sanak-famili di rumah. Namun, satu hal yang lebih mengerikan daripada itu adalah pulang tanpa membawa hasil buruan.

“Sering tidak dapat. Setiap melaut tak mesti mendapat ikan,” Dawi menegaskan. “Tadi pagi saja kami hanya dapat dua kuintal,” sambungnya.

Tangan seorang nelayan sedang ngayumi jaring di geladak Perahu Baru Barokah | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Bagi nelayan Pengambengan, sekuintal-duakuintal itu belum mendapat apa-apa. Sebab, biasanya, kalau musim sedang bagus, mereka bisa menjaring puluhan ton ikan. Itu angka yang fantastis.

“Kelompok saya pernah membawa pulang tiga puluh ton ikan!” Dawi berkata dengan bangga, seperti sudah lupa dengan tragedi yang menimpa keponakannya.

Dawi merupakan salah satu nelayan senior di Pengambengan. Ia pergi melaut sejak SMP. Dan ia tidak melanjutkan sekolahnya setelah itu. “Saya dipecat [dikeluarkan dari sekolah]. Saya tidak lulus SMP,” ucapnya sembari tertawa.

Nelayan-nelayan yang sedang mengayum jaring sore itu juga tak dapat membendung gelak. Barangkali mereka sedang menertawakan diri sendiri.

Ya, bukan hanya Dawi yang mengalami hal seperti itu, tapi hampir semua nelayan di Pengambengan memiliki nasib yang sama—mengutip kata Dawi, “tak pernah beres dalam urusan bangku sekolah.”

Nenek Moyangku Seorang Pelaut

“Kamu terhubung dengan laut, seperti bayi terhubung dengan rahim ibu.”

Sebagaimana dialog dalam cerpen Pengelana Laut (2020) karya Linda Christanty di atas, dengan bangga Dawi berkata kepada anaknya, Ahmad Zainul Huda, biasa dipanggil Inul, di atas gelagak perahu Baru Barokah—perahu milik salah seorang tajir di Pengambengan—yang dioperasikan kelompok Dawi dan Inul.

“Anak saya ini….” Dia berkata sambil menunjuk sosok pemuda yang duduk di depannya sambil sibuk ngayumi jaring, “Lulus SD sudah menjadi nelayan.”

Mendengar sang bapak berkata demikian Inul terlihat menyunggingkan bibirnya.

“Saya juga dipecat dari sekolah!” Inul menimpali bapaknya. Dan sekali lagi, nelayan lainnya kembali tertawa.

Singgasana Juragan Laut di Perahu Baru Barokah | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Angin sore itu kencang sekali. Terpal yang dipasang sebagai atap saat orang-orang mengayum jaring berkelebat dan menimbulkan suara yang berisik. Perahu-perahu yang tak mangkat, libur melaut, tertambat dan bergoyang-goyang di dekat dermaga.

Dari geladak Perahu Baru Barokah, di dermaga sebelah timur, terlihat sebuah perahu kecil menggasak ombak, membentuk arus seperti sungai besar yang mengalir. Sementara dua remaja sedang melemparkan kail ke perut lautan, seorang ibu muda menegur anaknya yang masih belia untuk jangan terlalu dekat dengan ambalan pelabuhan. Sepertinya itu anak pertamanya. Melihat caranya menegur, jelas ia hanya seorang ibu yang masih amatiran.

Di Pengambengan, sebagaimana seniman di wilayah Gianyar, nelayan adalah profesi turun-temurun. Nenek moyang orang Pegambengan merupakan pelaut ulung di masa lalu. Silsilah keluarga Dawi, misalnya, tak hanya berhenti di kakek, tapi buyut-buyutnya juga seorang nelayan. Dan kini anaknya juga seorang nelayan.

Menurut Dawi, tentu sambil sedikit bercanda, hampir seratus persen lelaki Pengambengan pernah merasakan sebagai nelayan. Tampaknya itu terlalu berlebihan, memang. Tapi laut dan orang Pengambengan memang tak dapat dipisahkan. Mereka mengenal lautan hampir sama baiknya dengan mengenal anggota tubuh sendiri.

Nelayan Pengambengan seperti manusia yang diciptakan khusus oleh Tuhan. Ia tak seperti manusia kebanyakan. Mereka memiliki keberanian, keyaninan, dan ketabahan yang berlebih. Dan itu campur-aduk dengan rasa khawatir, ketakutan, dan perasaan-perasaan yang belum ternamakan sekaligus. Mereka jenis manusia yang gampang menerima nasib.

“Mending saya kerja di pelabuhan,” ujar seorang pemuda dengan tindik-manik di kedua telingannya. Ia duduk di sebuah warung di kawasan los pasar Pelabuhan Pengambengan—yang didesain menyerupai bentuk penyu lengkap dengan kepalanya itu. Ialah Oliv Al Farizi, pemuda 25 tahun yang berprofesi sebagai pengurus salah satu kelompok perahu nelayan.

Para panol sedang memikul keranjang-keranjang berisi ikan di Pelabuhan Pengambengan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Panol yang sedang memikul keranjang berisi ikan di Pelabuhan Pengambengan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Seorang panol berenang sambil membawa keranjang ikan di Laut Pengambengan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Menurut Dawi dan Oliv, dalam bisnis penangkapan ikan di laut Pengambengan, ada semacam sistem kelembagaan yang sifatnya hirarki. Setidaknya ada tujuh posisi istilah profesi—atau kelembagaan tersebut—dalam bisnis penangkapan ikan di kawasan Pelabuhan Pengambengan.

Pertama ada yang namanya juragan darat, sebutan bagi pemilik kapal atau pemilik modal. Lalu juragan laut, ini sebutan lain dari nahkoda kapal yang memiliki kewenangan untuk mengatur kapal dan ABK selama kegiatan penangkapan ikan di laut.

“Tapi dia juga jago memperkirakan di mana ikan-ikan bergerombol,” tambah Dawi.

Juragan laut memiliki singgasana sendiri di perahu-perahu yang mereka pimpin. Mereka duduk di atas semacam menara yang tinggi, seperti menara pengintai di kapal-kapal bajak laut zaman dulu.

Lalu ada ABK, anak buah kapal yang dipilih oleh juragan laut untuk membantunya bekerja di atas kapal. ABK yang terlibat dalam kegiatan penangkapan ikan menggunakan kapal slerek—sebutan untuk perahu-perahu nelayan di Pengambengan—kurang lebih berjumlah 25-40 orang dengan rincian tukang kemudi, tukang mesin, tukang timah, tukang slerek, dan tukang pelak.

Kemudian panol, kelompok pekerja yang bertugas mengangkut hasil tangkapan dari kapal menuju tempat penimbangan ikan atau pengangkutan. Panol tidak ikut melaut, melainkan menunggu di darat. Ada pula penguras yang bertugas untuk mengurus kebersihan kapal setelah beroperasi, merawat, memperbaiki, dan menjaga kapal saat tidak beroperasi.

Panol yang sedang memikul keranjang berisi ikan di Pelabuhan Pengambengan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Panol yang sedang memikul keranjang berisi ikan di Pelabuhan Pengambengan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dan terakhir pengurus, biasanya wakil dari juragan darat yang bertugas untuk mempersiapkan segala kebutuhan keberangkatan kapal, misal pembelian bahan bakar minyak (solar), pembelian es dan lain-lain, dan menghitung perolehan hasil buruan.

Selain itu, pengurus juga bertugas melakukan pencatatan soal-soal administrasi dan negosiasi harga ikan dengan penambak—jika di tempat lain disebut tengkulak atau pengepul—atau perusahaan saat terjadi transaksi jual-beli hasil tangkapan.

Oliv baru sekira setahunan menjadi pengurus di kelompok Perahu Baru Barokah. Ia lulus SMK. Dan atlet sepeda (roadbike) yang berbakat.

Pada 2017, Oliv mempersembahkan medali emas untuk Jembrana di Porprov Bali. Tapi tikungan nasib siapa yang tahu. Pemuda berbadan kecil itu mengubur mimpinya dan sekarang menggantungan hidup kepada bisnis penangkapan ikan—yang tak menentu itu.

“Saya kurang mendapat dukungan saat menjadi atlet. Jadi saya memutuskan berhenti bersepeda,” katanya.

Kurang mendapat dukungan? Oliv tak menjelaskan secara pasti apa yang ia maksud. Tapi kita sudah dapat menebak ke arah mana ucapannya tersebut. Atlet, di negara ini, masih dinilai hobi, bukan profesi yang menjanjikan.

Tapi Oliv mengaku tak bisa melaut. Barangkali ia salah satu orang Pengambengan yang lahir bukan dari rahim seorang pelaut.

“Belum sampai tengah isi perut saya sudah keluar semua,” tuturnya dengan suara yang keras dan kaku, khas orang-orang pesisir. Barangkali tak semua orang Pengambengan memiliki nenek moyang seorang pelaut.

Kepada Laut Kami Berharap

Pagi-pagi sekali, sebelum saya bertemu Dawi, Inul, dan Oliv, saya menyaksikan orang-orang duduk di ambal-ambal Pelabuhan Pengambengan yang becek dan licin, dengan penuh harap. Tambang-tambang, temali perahu, tertambat dan bergoyang-goyang. Sedangkan perahu-perahu tua yang bersandar timbul-tenggelam oleh ombak Samudra Hindia yang, pagi itu, agak sedikit tenang.

Seorang perempuan tua duduk diam di antara lalu-lalang. Dengan caping kerucutnya ia bersandar di tiang atap penimbangan ikan bersama ember-ember yang kosong. Kerutan di wajahnya, di jemari-tangannya, menjadi saksi betapa keras hidup yang ia jalani. Ia tertegun. Matanya jarang berkedip.

Seorang perempuan tua yang berprofesi sebagai blantik ikan di Pelabuhan Pengambengan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Seorang blantik ikan (pemungut sisa-sisa ikan yang jatuh dari perahu nelayan) sedang berpose | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Orang-orang itu, termasuk perempuan tua tersebut, sedang menunggu perahu-perahu nelayan yang berangkat sore kemarin—sekali lagi, dengan penuh harap—pulang membawa ikan buruan. Itu kantong rezeki mereka. Kepada para nelayan mereka berharap. Kepada Laut Pengambengan mereka menggantungkan hidup.

Jauh dari dermaga, sesaat setelah sinar matahari pertama jatuh di wajah seorang perempuan penjaja kopi, nasi bungkus, dan gorengan, dua buah perahu berjalan beriringan. Bersama angin timur, suara mesinnya lebih dulu sampai daratan.

(Di Pengambengan, para nelayan mengandalkan dua kapal slerek yang beroperasi secara bersama-sama atau berpasangan dan memiliki tugas masing-masing. Satu perahu berfungsi khusus untuk—sebagaimana para nelayan di sana menyebutnya—memburu ikan, membawa jaring dan menebarnya; sedangkan satu lagi digunakan untuk, selain membawa hasil tangkapan, juga menarik jaring yang telah ditebar.)

Dan seakan mendapat alarm, beberapa lelaki bangkit dari duduknya sambil membawa keranjang-keranjang bulat—mereka menyebutnya godhong—dan pikulan dari bambu. Di kaos yang mereka kenakan tertulis: BINTANG SAMUDRA.

“Itu para panol,” ujar Gusti Ayu Permata Sari sambil memarkir sepeda motor yang ia kendarai.

Para nelayan yang baru pulang dari menjaring ikan di Laut Pengambengan menggunakan boat | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Panol, salah satu profesi yang penting dalam bisnis perikanan di Pelabuhan Pengambengan. Mereka bertugas, sebagaimana telah dijelaskan di atas, memindah-angkutkan ikan-ikan hasil tangkapan dari jegong (lambung) perahu ke timbangan sampai ke tangan pembeli atau pemborong.

Keranjang dan pikulan itu? Benar. Keranjang-keranjang itu untuk wadah ikan-ikan buruan. Dan lihatlah, mereka memikulnya—keranjang-keranjang yang penuh ikan itu—dari perahu yang parkir di laut yang dalamnya masih sedada orang dewasa sampai ke daratan dengan begitu mudah; tapi tetap terlihat sangat melelahkan.

Perahu Bintang Samudra dan Bintang Barokah telah bersandar. Perahu ini tampaknya cukup banyak mendapat ikan buruan.

Ikan yang paling banyak ditangkap nelayan Pengambengan adalah lemuru (Sardinella lemuru). Di perairan Indonesia ikan ini banyak terdapat di Selat Bali, memang. Di Pengambengan, ikan ini banyak memiliki sebutan berdasarkan ukurannya.

Jika masih kecil disebut semenit atau sempenit; beranjak dewasa dan panjang badannya sekitar 12 cm dijuluki protolan; ketika badannya mencapai 15 cm disebut lemuru; dan lebih besar dari itu dipanggil ikan kucing. Tapi, di Bali banyak orang yang menyebut ikan ini sebagai ikan kucing tanpa memedulikan ukurannya.

“Satu keranjang itu beratnya kurang lebih satu kuintal,” ujar seorang lelaki paruh baya di ambal pelabuhan sambil menyulut rokoknya.

Dilihat dari bungkusnya, sepertinya itu rokok tanpa cukai. Sesaat setelah dia mengatakan hal tersebut, dua orang panol sedang susah payah menaruh pikulan di atas pundak mereka. Satu godhong penuh ikan itu dipikul dua orang.

Wajah Pelabuhan Pengambengan atau Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan hari ini tentu jauh lebih rupawan jika dibandingkan dengan 40 tahun yang lalu, saat masih disebut Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI). Tapi pangkalan kecil pendaratan ikan itu kini menjelma pelabuhan yang ramai dan teratur.

Ikan Lemuru dalam keranjang panol | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Ikan lemuru yang rusak di TPI Pelabuhan Pengambengan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Pada tahun 2000-an pemerintah merombaknya dengan menambah beberapa fasilitas penunjang, termasuk Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan los pasar untuk para pedagang. Di tempat inilah hampir seluruh orang Pengambengan—pula orang-orang dari luar Pengambengan yang datang belakangan—sekali lagi, menggantungkan hidupnya kepada lautan.

PPN Pengambengan didukung oleh industri pengolahan ikan yang ada di komplek maupun di luar komplek pelabuhan. Industri pengalengan ikan dan penepungan ikan kurang lebih berjumlah 12 unit (di luar komplek pelabuhan), dan 1 unit industri di dalam komplek pelabuhan, yakni PT. Cilacap Samudra Fishing Industry yang kegiatannya bergerak di bidang cold storage dan galangan.

Setidaknya terdapat banyak kelompok masyarakat yang menggantungkan hidup kepada Laut Pengambengan. Kelompok tersebut adalah masyarakat nelayan, pemilik kapal-pemodal, pembuat kapal, pengolah ikan, pemasar/bakul, pekerja lain yang berkaitan langsung dengan keberadaan PPN Pengambengan, seperti pedagang di los pasar, blantik, dan lain-lain, serta pengelola PPN Pengambengan.

Tangan seorang pengepul di antara serakan ikan lemuru di TPI Pelabuhan Pengambengan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Secara garis besar, terdapat total 13 sektor perekonomian Indonesia yang berkaitan dengan kelautan dan perikanan. Ketigabelas sektor tersebut meliputi perikanan tangkap, perikanan budidaya, industri pengolahan hasil budidaya, industri bioteknologi kelautan, pertambangan dan energi, pariwisata bahari, transportasi laut, industri dan jasa maritim, pulau-pulau kecil, sumber daya nonkonvensional, bangunan kelautan, benda-benda berharga dan warisan budaya, jasa lingkungan konservasi dan biodiversitas.

Bisa jadi itu karena tiga per empat luas wilayah Indonesia berupa perairan. Selain itu, panjang garis pantai Indonesia mencapai 108 ribu kilometer, terpanjang kedua di dunia. Hal tersebut menunjukkan potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar.

Namun, terkait kondisi ekonomi nelayan Indonesia, dan ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan, sebagaimana petani juga demikian, penelitian yang diadakan oleh Prof. Zuzy Anna pada tahun 2020 menunjukkan bahwa 11,34 persen nelayan Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan.

Penelitian ini menggunakan data dari Survei Sosio Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2017. Persentase tersebut lebih tinggi bila dibandingkan dengan beberapa sektor lain, seperti sektor pelayanan restoran (5,56%), konstruksi bangunan (9,86%), dan pengelolaan sampah (9,62%).

Data lain menyebutkan bahwa jumlah nelayan miskin di Indonesia mencakup hingga 25 persen dari total angka kemiskinan nasional. Kesimpulan tersebut didasarkan pada data Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2018.

Kaki pengepul di antara serakan ikan lemuru di TPI Pelabuhan Pengembangan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Ada beberapa persoalan yang membelit kehidupan ekonomi nelayan, antara lain pola kerja homogen (hanya bergantung pada satu sumber penghasilan), kemampuan modal yang lemah untuk mengembangkan usaha, permainan harga jual ikan di mana nelayan lebih tidak berdaya dibanding para tengkulak ikan, serta daya serap industri pengolahan ikan yang tidak optimal.

“Meskipun nyawa menjadi taruhan, tapi laut adalah tempat kami menggantungkan hidup,” ujar Dawi filosofis, sesaat laut mulai surut dan meninggalkan lumpur-lumpur hitam bercampur pasir, sampah, dan segala penghuninya di pinggiran, sore itu.

Di Pengambengan, laut sangat dimuliakan—untuk tidak mengatakan “disembah”. Setiap sekali dalam setahun, tepatnya pada bulan Muharram atau Suro dalam kalendar Jawa, warganya melakukan tradisi Petik Laut.

Ini tradisi yang meriah. Para nelayan membawa sepotong kepala sapi dan beberapa sesaji lalu melarungnya di tengah laut—yang diantar oleh banyak perahu. “Ini bentu syukur kami kepada Tuhan karena telah  melimpahkan rezeki lewat laut,” kata Dawi lagi.

Penampakan Los Pasar Pelabuhan Pengambengan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Kini, manusia modern telah menetapkan laut sebagai sesuatu yang harus dilindungi dan dijaga. Ia dikunjungi, dipuja, dimanfaatkan. Tetapi, dalam sejarah peradaban manusia, tak terhitung jumlah manusia yang juga telah menjadi tumbalnya. Hingga hari ini, laut masih menentukan nasib jutaan umat manusia, termasuk mereka yang hidup di Pengambengan—desa yang terletak di pinggiran Pulau Bali bagian barat itu.[T] 

Baca juga artikel terkait LIPUTAN KHUSUS atau tulisan menarik lainnya JASWANTO

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa Pengambenganjembrananelayannelayan pengambengan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

In Memoriam — I Gusti Made Bunika, Putra Pelukis Maestro yang Setia Kukuhkan Gaya Denpasar

Next Post

Tips Menjaga Daya Tahan Tubuh, Biar Terus Fit!

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

by Jaswanto
April 14, 2026
0
Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

PERAYAAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-422 Kota Singaraja tahun 2026 berlangsung sepanjang Maret dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat luas....

Read moreDetails

Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

by Jaswanto
March 20, 2026
0
Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

“SAYA belum pernah merasakan Nyepi di Bali; tapi sering diberitahu orang-orang kalau Nyepi di Bali itu kebanyakan tidak diisi dengan...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

HINGGA saat ini, di daerah Tejakula, sebut saja seperti Sembiran, Pacung, Julah, dan Bondalem, masih banyak perajin tenun. Tentu saja...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

PADA tulisan sebelumnya, saya telah uraikan bukti-bukti kuat yang menyatakan bahwa Bali Utara—khususnya wilayah Tejakula dan sekitarnya—merupakan jalur dagang pada...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

DALAM sejarah, Singaraja (Buleleng) di Bali Utara tercatat sebagai jalur perdagangan yang semarak dan hidup. Apalagi saat wilayah yang didirikan...

Read moreDetails

Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

by Agus Wiratama
January 9, 2026
0
Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

BERJUMPA dengan pelaku Gambuh Batuan, membuat saya bertanya: “Tubuh yang membentuk tari, atau tari yang membentuk tubuh? Karya yang membentuk...

Read moreDetails

Kontak Sosial Singaraja-Lombok: Dari Perdagangan, Perkawinan hingga Pendidikan

by Jaswanto
February 28, 2025
0
Kontak Sosial Singaraja-Lombok: Dari Perdagangan, Perkawinan hingga Pendidikan

SEBAGAIMANA Banyuwangi di Pulau Jawa, secara geografis, letak Pulau Lombok juga cukup dekat dengan Pulau Bali, sehingga memungkinkan penduduk kedua...

Read moreDetails

Kisah Pilu Sekaa Gong Wanita Baturiti-Kerambitan:  Jawara Tabanan Tapi Jatah PKB Digugurkan

by Made Adnyana Ole
February 13, 2025
0
Kisah Pilu Sekaa Gong Wanita Baturiti-Kerambitan:  Jawara Tabanan Tapi Jatah PKB Digugurkan

SUNGGUH kasihan. Sekelompok remaja putri dari Desa Baturiti, Kecamatan Kerambitan, Tabanan—yang tergabung dalam  Sekaa Gong Kebyar Wanita Tri Yowana Sandhi—harus...

Read moreDetails

Relasi Buleleng-Banyuwangi: Tak Putus-putus, Dulu, Kini, dan Nanti

by Jaswanto
February 10, 2025
0
Relasi Buleleng-Banyuwangi: Tak Putus-putus, Dulu, Kini, dan Nanti

BULELENG-BANYUWANGI, sebagaimana umum diketahui, memiliki hubungan yang dekat-erat meski sepertinya lebih banyak terjadi secara alami, begitu saja, dinamis, tak tertulis,...

Read moreDetails

Kekerasan Seksual Terhadap Anak dan Kasus Pencabulan pada Taraf Gawat: Di Buleleng Tertinggi | Podcast Lolohin Malu – tatkala dotco

by Jaswanto
February 3, 2025
0
Kekerasan Seksual Terhadap Anak dan Kasus Pencabulan pada Taraf Gawat: Di Buleleng Tertinggi  |  Podcast Lolohin Malu – tatkala dotco

ADA kisah pilu pada pertengahan Oktober 2023 lalu. Gadis (23) penyandang disabilitas rungu wicara diperkosa oleh kerabatnya sendiri yang berumur...

Read moreDetails
Next Post
Tips Menjaga Daya Tahan Tubuh, Biar Terus Fit!

Tips Menjaga Daya Tahan Tubuh, Biar Terus Fit!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia
Bahasa

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

by I Made Sudiana
April 29, 2026
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025
Budaya

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles
Esai

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak
Pop

“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak

PADA banyak lagu tentang perselingkuhan, yang kita dengar biasanya hanya dua suara, mereka yang terlibat, mereka yang saling menyakiti. Jarang...

by Angga Wijaya
April 29, 2026
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro
Panggung

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026
Khas

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan
Esai

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Dari Dapur Menuju Kesadaran Ungkapan Annam Brahman dari Taittiriya Upanishad sering terdengar sederhana, bahkan terasa “terlalu duniawi” untuk ukuran nilai-nilai...

by Agung Sudarsa
April 28, 2026
Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi
Esai

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

BUKU terus lahir, hampir setiap waktu. Dari penulis lama, penulis baru; dari yang sudah punya nama, sampai yang masih mencari...

by Angga Wijaya
April 28, 2026
Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya
Esai

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari...

by Asep Kurnia
April 27, 2026
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali
Persona

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi
Panggung

Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

LOMBA Tari Bali yang digelar pada 25–26 April 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), menjadi...

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan
Esai

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan...

by I Nyoman Tingkat
April 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co