24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

In Memoriam — I Gusti Made Bunika, Putra Pelukis Maestro yang Setia Kukuhkan Gaya Denpasar

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
August 8, 2024
in Esai
In Memoriam — I Gusti Made Bunika, Putra Pelukis Maestro yang Setia Kukuhkan Gaya Denpasar

I Gusti Made Bunika, Putrinya dan Karya Lukisannya - Arsip Gurat Institute 2020

850 meter dari titik nol Kota Denpasar ke utara menuju persimpangan monumen I Gusti Ngurah Made Agung—tepatnya di Jalan Patimura—terdapat rumah di pojok sisi tenggara dengan gapura berbahan bata merah. Rumah itu adalah sebuah tempat bersejarah.

Alasan pertama, bahwa kawasan itu adalah titik terjadinya perang Puputan Badung 1906, dan sumur di rumah itu berkisah tentang Ni Jero Nuraga, seorang wanita hamil muda, istri dari I Gusti Ngurah Alit Badra, yang disuruh menimba air oleh tentara Belanda sesaat setelah I Gusti Ngurah Made Agung gugur bersama pengikutnya.

Alasan kedua, bahwa rumah itu adalah rumah kelahiran dari pelukis hebat Denpasar, bernama I Gusti Made Deblog.

Alasan ketiga, adalah rumah tersebut menjadi tempat lahirnya gaya lukisan yang memiliki karakteristik kuat dan berpotensi didudukkan sebagai gaya (lukisan) Denpasar.

Meski berjarak kurang dari 1 Km dari pusat pemerintahan Kota Denpasar, atau hanya menempuh waktu 12 menit perjalanan dengan jalan kaki, akan tetapi rumah kelahiran I Gusti Made Deblog dan tempat kelahiran gaya lukisan Denpasar itu cenderung terabaikan.

Yang pertama, terabaikan dari perhatian serius bidang yang mengurus seni di pemerintah kota. Yang kedua, terabaikan dari narasi arus utama pemanfaatan seni sebagai potensi branding kota.

Dan, yang ketiga, terabaikan oleh aktivitas kunjungan studi mahasiswa seni. Padahal pada masa lalu, I Gusti Made Deblog selalu mendapat kunjungan dari para mahasiswa seni, misalkan mahasiswa ISI Yogyakarta, tokoh-tokoh peneliti seni-budaya seperti Adrian Vickers dan Hedi Hinzler. Kunjungan oleh tokoh-tokoh seniman dan kolektor seni, ya jangan dibilang lagi, pada intinya ada banyak.

***

Kita atau masyarakat Kota Denpasar harus berterima kasih, baik kepada I Gusti Made Deblog maupun kepada salah satu putranya, yaitu I Gusti Made Bunika. Pasca berpulangnya I Gusti Made Deblog pada tahun 1986, yang meneruskan keahlian seni lukisnya adalah I Gusti Made Bunika (Gusti Bunika).

Bekas Papan Nama I Gusti Made Deblog and Son’s – Arsip Purwita Sukahet 2024

Untuk diketahui bersama, bahwa gaya lukisan I Gusti Made Deblog yang digadang-gadang sebagai gaya Denpasar di dalam seni lukis memiliki karakteristik naturalistik dengan pendekatan teknik lukis realis. Gaya ini tercipta dari gabungan teknik melukis potret mempergunakan tinta bak (tinta China) dengan dunia naturalistik epos pewayangan Ramayana dan Bharatayudha.

Secara visual, gaya khas ini di dalam lukisan menampilkan kepadatan layer pada latar belakang maupun latar depan, sedangkan figur yang dihadirkan mengadopsi pemikiran modern di dalam perwujudannya. Misalkan saja di dalam mencapai proporsi tubuh manusia, memunculkan rambut-rambut tipis dari tubuh tokoh ksatria kera maupun raksasa, menghadirkan capaian realistik dalam perwujudan objek misalkan saja gapura, kereta kuda, pepohonan, akar-akar gantung, dll dengan menerapkan shadow, tint, tone  Penerapan ini memberi kesan volume dimensional yang kuat di dalam visualnya.

Singkatnya I Gusti Made Deblog menjadi penanda peralihan masa seni lukis tradisi menuju model capaian dan pemikiran baru.

Sebagai pelanjut jejak sang ayah, Gusti Bunika tentu mempunyai keahlian tersebut yang ia latih bertahun-tahun di masa mudanya. Ayahnya sering sekali mengajarkan dan menerapkan aturan ketat di dalam sistem pembelajaran melukis, sebabnya adalah selain berfokus kepada tematik epos ataupun fragmen naratif cerita seniman tidak boleh mengesampingkan aspek kenyataannya secara visual, dengan kata lain, aspek logis tidak boleh diabaikan dan hal itulah yang menjadi nyawa di dalam lukisan gaya Denpasar ini.

Untuk mematangkan teknik melukis gaya Denpasar, seseorang harus berlatih menggambar proporsi, gerak tubuh, dan ekspresi wajah berkali-kali, sebagaimana yang disampaikan oleh Gusti Bunika bahwa ia kerap kali menemani Gusti Deblog melakukan rangkaian studi bentuk dan anatomi. Misalnya Gusti Deblog ingin menggambar kereta kuda, ayahnya akan bolak-balik dari rumah ke jalan hanya untuk mengamati dokar-dokar yang nangkring di sepanjang Jalan Vetran Denpasar atau di Jalan Patimura.

Selain itu studi-studi anatominya dilakukan dengan menggambar tokoh-tokoh wayang dengan berbagai gerak atau sedang bermain sepak bola. Pengulangan demi pengulangan dilakukan di dalam menggores dan mengarsir, menentukan pencahayaan, membuat lekukan otot, menggambar draperi atau lekukan kain dan mengarsir rambut-rambut di tubuh. Kuncinya adalah ketekunan.

***

Gusti Bunika yang lahir pada tahun 1935 menghembuskan nafas terakhirnya pada bulan Juli 2024 di RSUD Wangaya, di dalam perjalanan barunya menuju Sunyalaya ia membawa serta ilmu pengetahuan melukis yang ia warisi dari ayahnya.

Beberapa tahun sebelumnya ia menjadi salah satu informan penting dari riset Gurat Institute Komunitas Budaya Gurat Indonesia yang mengangkat biografi ayahnya, yaitu I Gusti Made Deblog. Banyak hal yang ia bagikan melalui cerita lisan dan arsip-arsip ayahnya kepada tim Gurat Institute, mulai dari sejarah dan perjalanan hidup ayahnya yang berguru kepada Yap Sin Tin, pertemanan ayahnya dengan Rai Regug dari Peguyangan, Denpasar, hingga teknik-teknik melukis yang detail.

Dewa Siwa – Karya Terakhir I Gusti Made Bunika – Arsip Gurat Institute 2020

Sebagai seorang putra dari maestro seni Kota Denpasar yang terlupakan dalam arus besar narasi seni rupa Bali, ia selalu mengenang cara kerja ayahnya bahwa “kerja keras, yen sing dis ne mengaso sing be baanga”, yang sekiranya bermakna sebagai seorang seniman ya harus bekerja keras, taat, jika belum waktunya istirahat tetaplah bekerja.

Di masa tuanya, Gusti Bunika tetap memiliki keinginan kuat untuk melukis meski kondisi fisik dan kesehatannya tidak memberikan jalan itu. Ia meninggalkan satu karya yang belum tuntas dikerjakan, sebuah karya yang mehadirkan figur bertapa dalam bentangan kanvas dan tone warna hitam putih.

Dari cerita keluarga yaitu anaknya yang bernama I Gusti Agung Dewi Satriyawati, disebutkan Gusti Bunika selalu menyatakan dan menanyakan lukisannya yang belum selesai itu. Gusti Bunika di-palebon di Setra Badung pada tanggal 5 Agustus 2024.

Selamat jalan I Gusti Made Bunika, sampaikan salam kami kepada ayahanda, I Gusti Made Deblog. Duka cita perjalanan akan bertemu kebahagian sempurna sebagaimana lukisan terakhir sang ayah, Sang Bima berdiri di lautan cakrawala menerima hujan bunga oleh Sang Hyang Acintya berkat keberanian dan keteguhannya mempertaruhkan kehidupannya di dalam dunia seni. [T]

Pohmanis, 8 Agustus 2024

Gaya Lukisan I Gusti Made Deblog dan Jalan Panjang Penetapan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda 2023
Duta Kota Denpasar “A Tribute to I Gusti Made Deblog” | Catatan Lomba Seni Lukis Wayang Klasik PKB 2022
Lukisan Kacang Goreng || Mengenang Ida Bagus Tugur melalui I Gusti Made Deblog
Gurat Memoar#3 | Buku Deblog dan Kenangan Masa Kecil Bapak yang Terselip Pada Salah Satu Babnya
Tags: denpasarGusti Made Deblogin memoriamlukisan gaya denpasarSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lampion-lampion Harapan dari Nara Devintha dan Nadin di UVJF 2024

Next Post

Kisah dari Geladak Perahu Nelayan Pengambengan di Bali Barat

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Kisah dari Geladak Perahu Nelayan Pengambengan di Bali Barat

Kisah dari Geladak Perahu Nelayan Pengambengan di Bali Barat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co