13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

In Memoriam — I Gusti Made Bunika, Putra Pelukis Maestro yang Setia Kukuhkan Gaya Denpasar

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
August 8, 2024
in Esai
In Memoriam — I Gusti Made Bunika, Putra Pelukis Maestro yang Setia Kukuhkan Gaya Denpasar

I Gusti Made Bunika, Putrinya dan Karya Lukisannya - Arsip Gurat Institute 2020

850 meter dari titik nol Kota Denpasar ke utara menuju persimpangan monumen I Gusti Ngurah Made Agung—tepatnya di Jalan Patimura—terdapat rumah di pojok sisi tenggara dengan gapura berbahan bata merah. Rumah itu adalah sebuah tempat bersejarah.

Alasan pertama, bahwa kawasan itu adalah titik terjadinya perang Puputan Badung 1906, dan sumur di rumah itu berkisah tentang Ni Jero Nuraga, seorang wanita hamil muda, istri dari I Gusti Ngurah Alit Badra, yang disuruh menimba air oleh tentara Belanda sesaat setelah I Gusti Ngurah Made Agung gugur bersama pengikutnya.

Alasan kedua, bahwa rumah itu adalah rumah kelahiran dari pelukis hebat Denpasar, bernama I Gusti Made Deblog.

Alasan ketiga, adalah rumah tersebut menjadi tempat lahirnya gaya lukisan yang memiliki karakteristik kuat dan berpotensi didudukkan sebagai gaya (lukisan) Denpasar.

Meski berjarak kurang dari 1 Km dari pusat pemerintahan Kota Denpasar, atau hanya menempuh waktu 12 menit perjalanan dengan jalan kaki, akan tetapi rumah kelahiran I Gusti Made Deblog dan tempat kelahiran gaya lukisan Denpasar itu cenderung terabaikan.

Yang pertama, terabaikan dari perhatian serius bidang yang mengurus seni di pemerintah kota. Yang kedua, terabaikan dari narasi arus utama pemanfaatan seni sebagai potensi branding kota.

Dan, yang ketiga, terabaikan oleh aktivitas kunjungan studi mahasiswa seni. Padahal pada masa lalu, I Gusti Made Deblog selalu mendapat kunjungan dari para mahasiswa seni, misalkan mahasiswa ISI Yogyakarta, tokoh-tokoh peneliti seni-budaya seperti Adrian Vickers dan Hedi Hinzler. Kunjungan oleh tokoh-tokoh seniman dan kolektor seni, ya jangan dibilang lagi, pada intinya ada banyak.

***

Kita atau masyarakat Kota Denpasar harus berterima kasih, baik kepada I Gusti Made Deblog maupun kepada salah satu putranya, yaitu I Gusti Made Bunika. Pasca berpulangnya I Gusti Made Deblog pada tahun 1986, yang meneruskan keahlian seni lukisnya adalah I Gusti Made Bunika (Gusti Bunika).

Bekas Papan Nama I Gusti Made Deblog and Son’s – Arsip Purwita Sukahet 2024

Untuk diketahui bersama, bahwa gaya lukisan I Gusti Made Deblog yang digadang-gadang sebagai gaya Denpasar di dalam seni lukis memiliki karakteristik naturalistik dengan pendekatan teknik lukis realis. Gaya ini tercipta dari gabungan teknik melukis potret mempergunakan tinta bak (tinta China) dengan dunia naturalistik epos pewayangan Ramayana dan Bharatayudha.

Secara visual, gaya khas ini di dalam lukisan menampilkan kepadatan layer pada latar belakang maupun latar depan, sedangkan figur yang dihadirkan mengadopsi pemikiran modern di dalam perwujudannya. Misalkan saja di dalam mencapai proporsi tubuh manusia, memunculkan rambut-rambut tipis dari tubuh tokoh ksatria kera maupun raksasa, menghadirkan capaian realistik dalam perwujudan objek misalkan saja gapura, kereta kuda, pepohonan, akar-akar gantung, dll dengan menerapkan shadow, tint, tone  Penerapan ini memberi kesan volume dimensional yang kuat di dalam visualnya.

Singkatnya I Gusti Made Deblog menjadi penanda peralihan masa seni lukis tradisi menuju model capaian dan pemikiran baru.

Sebagai pelanjut jejak sang ayah, Gusti Bunika tentu mempunyai keahlian tersebut yang ia latih bertahun-tahun di masa mudanya. Ayahnya sering sekali mengajarkan dan menerapkan aturan ketat di dalam sistem pembelajaran melukis, sebabnya adalah selain berfokus kepada tematik epos ataupun fragmen naratif cerita seniman tidak boleh mengesampingkan aspek kenyataannya secara visual, dengan kata lain, aspek logis tidak boleh diabaikan dan hal itulah yang menjadi nyawa di dalam lukisan gaya Denpasar ini.

Untuk mematangkan teknik melukis gaya Denpasar, seseorang harus berlatih menggambar proporsi, gerak tubuh, dan ekspresi wajah berkali-kali, sebagaimana yang disampaikan oleh Gusti Bunika bahwa ia kerap kali menemani Gusti Deblog melakukan rangkaian studi bentuk dan anatomi. Misalnya Gusti Deblog ingin menggambar kereta kuda, ayahnya akan bolak-balik dari rumah ke jalan hanya untuk mengamati dokar-dokar yang nangkring di sepanjang Jalan Vetran Denpasar atau di Jalan Patimura.

Selain itu studi-studi anatominya dilakukan dengan menggambar tokoh-tokoh wayang dengan berbagai gerak atau sedang bermain sepak bola. Pengulangan demi pengulangan dilakukan di dalam menggores dan mengarsir, menentukan pencahayaan, membuat lekukan otot, menggambar draperi atau lekukan kain dan mengarsir rambut-rambut di tubuh. Kuncinya adalah ketekunan.

***

Gusti Bunika yang lahir pada tahun 1935 menghembuskan nafas terakhirnya pada bulan Juli 2024 di RSUD Wangaya, di dalam perjalanan barunya menuju Sunyalaya ia membawa serta ilmu pengetahuan melukis yang ia warisi dari ayahnya.

Beberapa tahun sebelumnya ia menjadi salah satu informan penting dari riset Gurat Institute Komunitas Budaya Gurat Indonesia yang mengangkat biografi ayahnya, yaitu I Gusti Made Deblog. Banyak hal yang ia bagikan melalui cerita lisan dan arsip-arsip ayahnya kepada tim Gurat Institute, mulai dari sejarah dan perjalanan hidup ayahnya yang berguru kepada Yap Sin Tin, pertemanan ayahnya dengan Rai Regug dari Peguyangan, Denpasar, hingga teknik-teknik melukis yang detail.

Dewa Siwa – Karya Terakhir I Gusti Made Bunika – Arsip Gurat Institute 2020

Sebagai seorang putra dari maestro seni Kota Denpasar yang terlupakan dalam arus besar narasi seni rupa Bali, ia selalu mengenang cara kerja ayahnya bahwa “kerja keras, yen sing dis ne mengaso sing be baanga”, yang sekiranya bermakna sebagai seorang seniman ya harus bekerja keras, taat, jika belum waktunya istirahat tetaplah bekerja.

Di masa tuanya, Gusti Bunika tetap memiliki keinginan kuat untuk melukis meski kondisi fisik dan kesehatannya tidak memberikan jalan itu. Ia meninggalkan satu karya yang belum tuntas dikerjakan, sebuah karya yang mehadirkan figur bertapa dalam bentangan kanvas dan tone warna hitam putih.

Dari cerita keluarga yaitu anaknya yang bernama I Gusti Agung Dewi Satriyawati, disebutkan Gusti Bunika selalu menyatakan dan menanyakan lukisannya yang belum selesai itu. Gusti Bunika di-palebon di Setra Badung pada tanggal 5 Agustus 2024.

Selamat jalan I Gusti Made Bunika, sampaikan salam kami kepada ayahanda, I Gusti Made Deblog. Duka cita perjalanan akan bertemu kebahagian sempurna sebagaimana lukisan terakhir sang ayah, Sang Bima berdiri di lautan cakrawala menerima hujan bunga oleh Sang Hyang Acintya berkat keberanian dan keteguhannya mempertaruhkan kehidupannya di dalam dunia seni. [T]

Pohmanis, 8 Agustus 2024

Gaya Lukisan I Gusti Made Deblog dan Jalan Panjang Penetapan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda 2023
Duta Kota Denpasar “A Tribute to I Gusti Made Deblog” | Catatan Lomba Seni Lukis Wayang Klasik PKB 2022
Lukisan Kacang Goreng || Mengenang Ida Bagus Tugur melalui I Gusti Made Deblog
Gurat Memoar#3 | Buku Deblog dan Kenangan Masa Kecil Bapak yang Terselip Pada Salah Satu Babnya
Tags: denpasarGusti Made Deblogin memoriamlukisan gaya denpasarSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lampion-lampion Harapan dari Nara Devintha dan Nadin di UVJF 2024

Next Post

Kisah dari Geladak Perahu Nelayan Pengambengan di Bali Barat

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Kisah dari Geladak Perahu Nelayan Pengambengan di Bali Barat

Kisah dari Geladak Perahu Nelayan Pengambengan di Bali Barat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co