ALUNAN musik jazz sedang dimainkan Benny Irawan Trio di Panggung Subak dalam areal Ubud Village Jazz Festival (UVJF) 2024. Pada ceruk paling rendah, di areal STHALA Ubud Porfolio Hotel yang sejuk itu, sungai mengalir di bawah jembatan cantik, menciptakan sore yang tenang.
Dalam suasana seperti itulah mata dimanjakan oleh lukisan-lukisan digital yang menggantung.pada titik-titik yang asri. Naik sedikit ke atas, Nara Devintha tampak dengan begitu teliti menggores kuas, membubuhkan warna biru ceria pada keliling bidang lampion.
Hari itu, Sabtu, 2 Agustus 2024. Itu hari kedua UVJF yang digelar di areal STHALA Ubud Porfolio Hotel. Musik jazz masih mengalun dari Panggung Subak yang memang dekat dengan tempat Nara Devintha melukis.
Warna biru muda yang terkesan ceria itu yang dipilih Nara memang punya arti tersendiri bagi Nara. Di atas rumput hijau membukit pendek yang tak jauh dari sungai, ada banyak seniman muda lainnya juga sedang melukis.

Kuas Nara Devintha sedang membelai warna biru ceria | Foto: tatkala.co/Son

Live Painting, Nara Devintha sedang melukis Origami burung bangau kepercayaan masyarakat Jepang | Foto: tatkala.co/Jaswanto
Di tengah-tengah seniman yang sudah punya jam terbang lebih tinggi, Nara Devintha tampak sangat terampil menuangkan imajinasinya lewat warna-warna.
Dengan tanpa khawatir akan salah coret, ia menggurat sesuatu pada lampion polos berwarna putih di tangannya itu, tanpa ragu.
Sesi live painting di tengah festival jazz itu bertema “Love is Us”, dan Nara melukis dengan penuh cinta. Ia melukis origami.
“Origami bangau atau angsa, di kepercayaan Jepang itu, kan, kaya dia menggambarkan harapan untuk orang tersebut. Jadi karena ini event solidaritas untuk anak pengidap kanker, jadi di gambar ini aku berharap mereka itu bisa sembuh dari apa yang dihadapi mereka sekarang,” kata Nara yang bernama lengkap Ni Made Nara Devintha Suteja.
Nara, usia 19 tahun memang salah satu volunteer muda di lembaga Iluh Bali Art Group.

Sejumlah orang main arung jeram di sungai di sekitar acara live painting Ubud Village Jazz Festival di STHALA Ubud Porfolio Hotel | Foto: tatkala.co/Jaswanto
Di Jepang, orang-orang memang percaya bahwa burung bangau adalah sebuah simbol tentang harapan yang baik. Untuk kebudayaan ini mereka menyebutnya Senbazuru, dimana masyarakat di negara yang dijuluki “Negeri Matahari Terbit” itu bahkan biasa membuat seribu origami bangau dan menggantungkannya dengan benang di rumah mereka, atau di sekitarnya.
Mereka percaya jika satu persatu pengharapannya akan terwujud, seperti keselamatan, dan salah satunya adalah pengharapan mereka untuk suatu kesembuhan dari penyakit yang sedang diderita.
Nara Devintha, sebagai seniman muda yang tergabung sebagai volunteer Iluh Bali Art Group, sangat yakin jika melukis juga adalah bagian dari doa yang panjang, harapan yang kuat harus dioleskan.
Di tengah kesibukannya melukis, satu kawannya datang membantu ia melukis—membubuhkan warna biru segar di lampion, membantu memperpanjang harapan. Hasil karyanya itu digantung dengan karya seniman lain untuk dijual, dan uang hasil penjualannya akan di persembahkan untuk Yayasan Peduli Kanker Anak Bali (YPKABALI).

Teman Nara sesama relawan melukis di atas lampion | Foto: tatkala.co/Jaswanto
Tak hanya lukisan secara langsung menggunakan kuas, lukisan digital kontemporer juga dihadirkan oleh Iluh Bali di pagelaran UVJF ini. Nadin salah satunya yang menyumbangkan karyanya sebagai volunter dalam kegiatan itu.
Nadin menggambar lukisan digital masih dalam tema yang sama, dengan judul Resonance, yaitu gambar yang menceritakan seorang lelaki sedang menyelamatkan seekor anjing di jalan kota.
Jika manusia, katanya, “Tak hanya berhubungan dengan manusia lain dalam menebar kasih, tetapi juga harus kepada binatang, dan salah satunya anjing!”

Nadin sedaang menunjukan gambar digitalnya yang berjudul “Resonance” | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Lukisan “Resonance” karya Nadin
Dalam lukisan itu, seorang lelaki sedang berlutut di tengah kota yang ramai, di jalan yang macet. Tampak seekor anjing yang tersesat di rimba jalan penuh kendaraan, lelaki itu mengangkat anjing hendak menolong, dan sinar terpancar di dalam dirinya.
Visual cahaya terang yang dimunculkan pada tokoh laki-laki itu dimaksudkan Nadin sebagai pancaran perasaan manusia tentang kebaikan. “Langkah kecil menolong seekor anjing adalah cahaya kasih, adalah cinta,” tegasnya.
Nadin adalah salah satu orang yang penyayang anjing. Ia perhatian, dan bagaimana kesedihan menggurat wajahnya ketika melihat anjing di jalanan terlantar dengan tubuh bentol-bentol, atau seseorang menabraknya tak tanggung jawab. “Saya terinspirasi dari peristiwa itu,” katanya. [T]
BACA artikel lain tentang UBUD VILLAGE JAZZ FESTIVAL
Reporter: Sonhaji Abdullah
Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole





























