23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merayakan Jazz, Mencipta Kenangan, dan Mendengar Rasa dalam Bahasa Suara

Jaswanto by Jaswanto
August 4, 2024
in Panggung
Merayakan Jazz, Mencipta Kenangan, dan Mendengar Rasa dalam Bahasa Suara

Panggung Giri UVJF 2024 | Foto: tatkala.co/Son

SEPASANG turis berkulit pucat baru saja duduk di kursi plastik di depan Panggung Giri saat pembawa acara menyapa hadirin dan berbasa-basi dengan bertanya “Apakah Anda sekalian bahagia?” dan “Apakah Anda sekalian siap menyambut para penampil hari ini?”. Yang ditanya, dengan senang hati dan serempak menjawab, “Ya, tentu saja.”

Maka, suasana menjadi gegap-gempita saat Collective Harmony membuka hari kedua Sthala Ubud Village Jazz Festival (selanjutnya ditulis UVJF) 2024 dengan membawakan karya-karya klasik Louis Armstrong (alias Satchmo), penyanyi dan pemain terompet jazz Amerika Serikat yang legendaris, di Panggung Giri, Sabtu (3/8/2024) sore.

Nancy Ponto, Rachman Neider, Phil Antonio, Telly Yoesoef, dan Ras Gito, lima penyanyi yang tergabung dalam Collective Harmony itu, memaksa penonton untuk berdansa, menari, dan bersuka cita, melupakan segala derita dan tenggelam dalam karya-karya Armstrong (The King of Jazz)—penghibur Afrika-Amerika populer pertama yang berhasil menerobos “lintas ras” itu.

Collective Harmony mengajak pengunjung untuk berdansa dan menari di depan Panggung Giri | Foto: tatkala.co/Jaswanto

UVJF 2024 yang digelar di Sthala Hotel, Ubud, Gianyar, telah berakhir dengan meriah dan meninggalkan kesan mendalam bagi para pengunjung. Selama dua hari, UVJF tahun ini berhasil menarik sekira 3000 pengunjung dari berbagai belahan bumi yang menikmati penampilan dari grup musik jazz internasional dan lokal di tiga panggung: Giri, Padi, dan Subak.

Pada hari kedua ini—yang sekaligus hari penutupan festival—ada sembilan grup jazz yang menampilkan repertoarnya. Ialah Collective Harmony (Indonesia), FAWR (Indonesia), Eric Chong Trio With Sinuksma & Kanhaiya (Hong Kong-Indonesia), Simon Praticco Trio (Italia).

Lalu Claude Diallo Trio With Indra Gupta & Gustu Brahmanta (Swiss-Indonesia), New Centropezn Quartet (Rusia), Zagorski-Skowronki Project feat Kajetan Galas (Polandia), Uwe Plath Quartet (Jerman), dan Galaxy Bigband (Indonesia) membuat festival ini menjadi istimewa dan penuh warna—sebagaimana musik jazz itu sendiri.

FAWR tampil di Panggung Padi UVJF 2024 | Foto: tatkala.co/Son

Semakin sore pengunjung tampak semakin ramai. Di Panggung Padi yang terletak di dekat pintu masuk, bersama senja yang mendaulat langit Lodtunduh, para pengunjung duduk dengan nyaman sambil mendengarkan komposisi musik yang dibawakan FAWR—komposisi yang terinspirasi dari berbagai genre, mulai dari R&B hingga jazz dan world music.

Repertoar yang dibawakan Nataniel Isachar Kaleb (gitar), Agil Nur Pambudi (bass), dan Grady Boanerges (drum)—trio FAWR itu, seperti memasukkan unsur improvisasi dan emosi ke dalam musik mereka. Musik-musik FAWR sore itu seolah terhubung dengan penonton secara global dan melampaui batasan budaya.

Marjan dari Belanda, seorang pengunjung setia UVJF, berbagi pengalamannya. “Ini yang kesembilan kalinya saya datang ke festival ini, dan saya sungguh-sungguh menikmatinya. Saya akan terus datang setiap tahun—sebab setiap tahun festival ini menghadirkan pengalaman yang berbeda.”

Musik jazz, dengan kekayaan makna, improviasai, dan interpretasinya, selalu bergantung pada persepsi, intelegensia, dan pengalaman pendengarnya. Jika dilihat dari sejarah kelahirannya, jazz mirip dengan keroncong di Indonesia—yang juga lahir dari jeritan hati rakyat jajahan kolonial Portugis.

Galaxy Bigband Jazz Orchestra di Panggung Giri UVJF 2024 | Foto: tatkala.co/Son

Pada awalnya sekira abad 20, musik jazz lahir untuk menyatakan sebuah sikap—untuk tidak mengatakan sebuah pemberontakan—dan dimainkan dengan alat musik apa-adanya. Namun, seiring zaman, jazz kerap kali dianggap musik borjuis dan elit, kendati demikian tetap mampu memperlihatkan kerumitan teknik yang membuatnya terbuka terhadap interpretasi bebas di tengah keteraturannya.

Jazz mencakup berbagai sub-genre, seperti Swing, Bebop, Ragtime, Smooth Jazz, Fusion Jazz, hingga yang paling kompleks, Free Jazz atau Avant-Garde Jazz. Dan UVJF memayungi semua genre tersebut. “Bukan hanya Free Jazz, tapi Just Jazz,” Yuri Mahatma, Co-founder UVJF, menegaskan.

Ubud Village Jazz Festival 2024 ditutup dengan penampilan Galaxy Bigband Jazz Orchestra, sebuah grup musik yang didirikan pada 1992 oleh warga Jepang di Jakarta. Ini grup dengan anggota terbanyak di UVJF tahun ini—dengan anggota sekitar 15 orang.

Malam itu, Galaxy Bigband membawakan repertoar ayunan klasik tradisional yang dipopulerkan oleh band-band ikonik seperti Caunt Basie dan Duke Ellington Orchestra serta melodi gaya Latin yang menawan—dan itu memang ciri khas mereka.

Tetapi, barangkali ini yang mengesankan. Sebelum mengakhiri penampilannya, dengan orkestra yang harmonis, mereka mengajak penonton—lokal dan asing—menari-bergoyang bersama mengikuti lagu “Kopi Dangdut” yang diaransemen dalam bentuk jazz. Selain mengejutkan, hal ini juga menciptakan suasana yang meriah dan penuh kegembiraan.

Dengan segala keindahan dan kelenturannya, sekaligus kerumitan tekniknya, jazz terus menjadi wadah ekspresi yang tak terbatas. Ubud Village Jazz Festival 2024 telah mencipta kenangan manis dan pengalaman berharga, yang barangkali tidak akan pernah dilupakan oleh para musisi jazz—yang berkesempatan tampil—dan pengunjungnya. “Sampai jumpa di Ubud Village Jazz Festival tahun depan,” ujar Yuri Mahatma menutup malam yang mengesankan itu.

Mendengar Rasa dalam Bahasa Suara

Berbicara musik jazz, dalam sebuah roman metropolitan berjudul Jazz, Parfum, dan Insiden (2017) yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma, terdapat sebuah kutipan yang menarik. “Jazz isn’t music. It’s language. Communication.” Kutipan tersebut disampaikan Enos Payne—musisi asal Brooklyn, New York.

Apa yang dikatakan Enos tentu saja bukan sekadar cuap-cuap kosong yang nyaring bunyinya. Coba buka lembaran sejarah musik jazz, maka Anda akan menemukan riwayat kemanusiaan orang Afrika-Amerika yang tertindas. Dan inilah yang membuat penulis F. Scott Fitzgerald menyatakan datangnya Abad Jazz pada tahun ‘20-an menjabarkan suatu sikap. Mengenai hal tersebut, Seno Gumira menulis…tentu Fitzgerald menyatakan pendapatnya dalam konteks pembebasan sebuah sub-kultur dari rasa rendah diri, yakni sub-kultur budak-budak hitam dari Amerika keturunan Afrika.

Jazz, bagi sastrawan penulis Sepotong Senja untuk Pacarku itu, seperti hiburan, tapi hiburan yang pahit, sendu, mengungkit-ungkit rasa duka. “Selalu ada luka dalam jazz, selalu ada keperihan. Seperti selalu lekat rintihan itu—rintihan dari ladang-ladang kapas maupun daerah lampu merah,” tulis Seno dalam Jazz, Parfum, dan Insiden.

Lagu “Berta, Berta” dalam album Branford Marsalis, I Heard You Twice The First Time, tulis Seno lagi, sebuah nyanyian bersama tanpa iringan instrumen, tanpa bermaksud menjadikannya suatu paduan suara yang canggih, diiringi suara rantai terseret.

Eric Chong with Sinuksma & Kanhaiya saat tampil di Panggung Subak UVJF 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Itulah rantai yang mengikat pergelangan tangan dan kaki para budak—rantai perbudakan. Mereka tidak menjadi bebas karena menyanyi, tapi tak ada rantai yang mampu menghalangi mereka menyanyi. Itulah hakikat jazz: pembebasan jiwa,” lanjut Seno.

Tentu saja setiap jenis musik, bahkan setiap jenis kesenian bisa dinyatakan hakikatnya sebagai pembebasan jiwa. Namun, dalam jazz, kata pembebasan itu hadir secara konkret dalam suatu ruang yang bernama improvisasi. Ya, barangkali lebih tepat dikatakan hakikat jazz adalah improvisasi.

Di UVJF 2024 hari pertama, di Panggung Subak, Noé Clerc Trio—grup musik beraliran jazz asal Prancis—membawakan repertoar berjudul “Canson”.

Noé Clerc (akordeon), Clément Daldosso (kontrabas), dan Elie Martin-Charrière yang bertugas menjaga ritme permainan mereka bertiga dengan drum-nya itu, membuat mata pengunjung terpejam merasakan dan mengimajinasikan sesuatu—banyak hal—dalam Canson.

Mendengar Canson, kita dapat membayangkan rintihan para minstrel abad pertengahan di Prancis yang keliling membawakan lagu-lagu bermuatan kisah tempat-tempat yang jauh atau tentang peristiwa sejarah.

Noé Clerc saat membawakan repertoar “Canson” di Panggung Subak YVJF 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Atau justru malah membayangkan sebuah tempat di mana penjajahan dan perbudakan masih berlaku. Atau, oh, cukup mendengarkan saja tanpa berpikir macam-macam seperti kata John Fordham: “Anda tidak usah tahu musiknya untuk memahami rasanya….”

Jika kita perhatikan betul suara instrumen Noé Clerc Trio  itu satu per satu, maka kita akan mendengar betapa akordeon dan harmonika Noé Clerc saling kejar-mengejar dengan double bass (kontrabas) Clément Daldosso dan drum-nya Elie Martin-Charrière.

“Dengarkanlah apa saja dalam jazz maka kita akan mendengarkan instrumen yang berdialog. Itulah beda jazz dengan jenis musik lain. Jazz adalah suatu percakapan akrab yang terjadi dengan seketika, spontan, dan tanpa rencana,” kata Seno.

Noé Clerc Trio seperti tidak ingin memainkan sebuah repertoar, tapi  ingin mengungkapkan kata hatinya. Tapi karena bahasa kata seolah tak pernah cukup mewakili kata hatinya itu, maka dengan terampil mereka menyampaikan kata hati itu lewat suara instrumennya—seperti kata Seno Gumira tentang musisi jazz pada umumnya.

Sampai di sini, karena begitu menyentuh suara-suara dalam Sthala Ubud Village Jazz Festival 2024, mengutip apa yang telah ditulis Seno Gumira, “Kita mendengar rasa, dalam bahasa suara.”[T]]

BACA artikel lain tentang UBUD VILLAGE JAZZ FESTIVAL

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2024, Panggung Kebebasan Itu Telah Dibuka
Siap-siap, Ubud Village Jazz Festival 2024 Segera Dimulai
Ubud Village Jazz Festival: Seratus Persen Panggung untuk Musik Jazz
Tags: festival musik jazzSthala UbudUbud Village Jazz FestivalUVJF 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

NABI MUHAMMAD & MAHARSI DIRGHATAMA

Next Post

Kendang Sunda dalam Flamenco dan Jazz: Indonesia dan Spanyol dalam Repertoar Adien Fazmail Quinteto di UVJF 2024

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails
Next Post
Kendang Sunda dalam Flamenco dan Jazz: Indonesia dan Spanyol dalam Repertoar Adien Fazmail Quinteto di UVJF 2024

Kendang Sunda dalam Flamenco dan Jazz: Indonesia dan Spanyol dalam Repertoar Adien Fazmail Quinteto di UVJF 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co