23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kendang Sunda dalam Flamenco dan Jazz: Indonesia dan Spanyol dalam Repertoar Adien Fazmail Quinteto di UVJF 2024

Son Lomri by Son Lomri
August 4, 2024
in Ulas Musik
Kendang Sunda dalam Flamenco dan Jazz: Indonesia dan Spanyol dalam Repertoar Adien Fazmail Quinteto di UVJF 2024

Andien Fazmail Quinteto di panggung UVJF 2024 | Foto: tatkala.co/Son

SAYA baru saja meninggalkan Rodrigo Parejo Quarted di Giri Stage setelah mereka selesai tampil. Sambil menenteng bir saya menuju ke Padi Stage menaiki tangga dari tanah. Di sana orang-orang rupanya sudah lebih dulu menunggu penampil terakhir di hari pertama Ubud Village Jazz Festival 2024.

Dengan bir masing-masing, orang-orang duduk dengan santai menantikan Adien Fazmail Quinteto (Indonesian-Spanish). Dan dua lelaki bertubuh gempal berkulit putih, dengan jenggot sedikit tebal tentunya—sedang berdiri di stand Dos Hermanos dengan jarak empat langkah dari panggung—sedang mencoba sebatang cigarette dari perempuan muda putih langsat.

Sambil menunggu perpaduan antara flamenco dan jazz lebih dekat itu, rokok besar berwarna coklat di tangannya seakan kebabasan ria yang mengingatkan sesosok Che Guevera dari Kuba, sebagaimana lagu Algo Contigo akan dimainkan sebentar lagi.

Dan dalam warna bunyi yang memiliki kekhasan, sebelum Rodrigo Parejo Quarted tampil dengan fluit yang ikonik—pula selain piano, Noe Cleric Trio dari Prancis lebih dulu menampilkan dirinya—dengan alat akordeon yang berasal dari Jerman, kalo tidak salah—setelah sore di Subak Stage.

Emon Subandi, pemain kendang Adien Fazmail Quinteto, di panggung UVJF 2024 | Foto: tatkala.co/Son

Dan sekarang, kendang—dari Indonesia berbunyi di panggung meriah—berlatar jazz itu dibawakan oleh Adien Fazmail Quinteto dengan unik, sebagaimana ia berasal dari Indonesia. Ada warna flamenco dari Spanyol, dan jazz dari Amerika. Permainan menjadi sangat menyenangkan. Jazz, sebuah payung besar yang menaungi banyak genre musik sepert R&B, blues, dll—kata Wayan Gde Yudana, seniman musik tradisi dan kontemporer.

Adien Fazmail, gitaris yang mengalirkan gaya flamenco dengan tempo yang cenderung cepat—dan melodinya sedikit terdengar ketimur-timuran, karena barangkali flamenco sedikitnya terpengaruh oleh corak Arab, selain India.

“Tentu ada. Kan dari abad ke-8 sampai ke-15 Spanyol dijajah orang Arab. Jadi, pasti ada unsur-unsur dari musik Arab zaman dulu. Kalau zaman sekarang mungkin lebih kelihatan di vokal sih… resonansinya di hidung, dan ornamentasi melodi itu kaya orang ngaji. Mungkin gaya saya gak terlalu mirip sama itu sih (atau memang karena repertoire kemarin bukan flamenco traditional), tapi ada banyak penyanyi yang mirip. Juga ada pengaruh dalam tangga nada yang digunakan,” ucap Ángela López, vokalis Adien Fazmail Quinteto, Jumat (2/8/2024).

Angelia Lopez Lara, vokalis Adien Fazmail Quinteto, di panggung UVJF 2024 | Foto: tatkala.co/Son

Diiringi gitar dan piano, bass—khas musik jazz, dan kendang menyatukan mereka menjadi harmoni yang utuh. Menariknya, kendang dihadirkan, selain melengkapi ternyata juga memperindah warna bunyi penampilan mereka yang tak terduga. Enjoy.

Ada beberapa lagu yang dibawakan Adien Fazmail—dari Indonesia, dengan istrinya itu, Ángela López-Lara dari Spanyol. The River (Karya Adien), No me lo creo, Todo lo que tú eres (all the things you are, versi Spanish), Siempre se vuelve a Buenos Aires, Algo Contigo, dan Bulerías Traditional.

“Saya kira, dengan membawakan flamenco ke jazz—menjadikan penampilan yang menarik untuk dipertunjukan di festival ini—terutama untuk The River, lagu saya. Dan terus, karena saya suka dengan bunyi kendang, termasuk istri saya juga, kami menambahkan alat kendang untuk menambahkan warna bunyi lain di musik kami,” jelas Adien Fazmail, sang gitaris.

Flamenco adalah salah satu genre musik dari Spanyol. Lebih banyak mempresentasikan kehidupan yang tentang apa saja, salah satunya tentang kehidupan sehari-hari. “Jenis musik ini adalah musik populer di Spanyol. Orang-orang biasa mendengarnya di sana. Flamenco adalah musik rakyat, juga jazz dari Amerika,” tutur Angela Lopez Lara, penyanyi asal Spanyol itu.

Dan memang waktu itu, Adien, dia sudah dalam “mode flamenco”—ketika membuat lagi The River, jadi apa yang dia meng-kompose dimulai dari unsur-unsur flamenco (terutama teknik rasgueo).

Astrid Sulaiman, pianis Adien Fazmail Quinteto, di panggung UVJF 2024 | Foto: tatkala.co/Son

Penyanyi kelahiran Spanyol, 23 Februari 1979 itu juga menegaskan, jika tidak masalah antara flamenco ke jazz. Jazz adalah kebebasan, katanya. Unsur musik lain juga bisa saja masuk—bagaimana seseorang bisa memainkannya saja. Unsur bass dan piano, misalnya. Dalam sebuah lagu, gaya jazz bisa saja di konsep—dimainkan dengan ritem yang temponya lebih cenderung slow—atau variatif dalam repertoar musik jazz.

Adien dan Lara adalah pemain flamenco. Di satu sisi, ia lebih banyak membawakan lagu apa saja untuk bersenang-senang dan mengaransemennya ke dalam flamenco. Di Ubud Village Jazz Festival, mereka mengaransemen dari beberapa lagu dari Spanyol, Argentina, dan Kuba—yang berujudul Algo Contigo.

Suasana benar-benar seperti menerbangkan saya ke jalan Spanyol—sembari menghangatkan tubuh di musim dingin dengan wine atau di Argentina. Terlebih, sembari merokok cigarette dan menenggak bir tanpa sloki di Kuba. Che—menemani saya menghabiskan sisa bir tadi malam dalam perjuangan memotret.

Dari Kuba, Algo Contigo, adalah lagu yang membicarakan tentang cinta, seseorang yang sedang jatuh cinta lebih tepatnya. Saya merasa diri sebagai manusia gagal dalam membahasakan sebuah keberanian tentang cinta malam itu.

Adien Fazmail Quinteto di panggung UVJF 2024 | Foto: tatkala.co/Son

Nada jazz malam itu benar-benar bergerak di nadi saya, lebih cepat digambarkan oleh suara gitar Adien—yang sangat cepat. Angin menghunus tajam di bibir saya, membawa ingatan, dan denting piano yang meracau indah—sedang membicarakan nasib paling terburuk dari seorang lelaki. Adien kembali memainkan gitar, pelan, mengalirkan melodi—menenangkan batinku berkecamuk.

***

Perempuan cantik yang baru saya kenal tadi sore, saya sedikit bercerita dulu, ia menggambar digital cukup bagus. Saya memotretnya. Kami berkenalan, kami menonton dan mendengar yang sama musik di malam terakhir. “Kamu mau minum bir?” tanya saya untuk merayakan pertemanan yang baru enam jam itu.

“Sepertinya perutku masih penuh dengan bir malam ini. Hehe..” ucapnya melempar senyum—dengan suara sedikit malu ia tertawa. Sebuah penolakan yang dingin. Cahaya panggung meredup, menutupi wajah saya yang malu-malu. “Lain hari kita bisa minum di tempat lain..” Lalu ia pergi untuk pulang—menggandeng tasnya ke pintu keluar. “See you…”

Adien Fazmail, flamenco guitar, di panggung UVJF 2024 | Foto: tatkala.co/Son

O, malam. O, malam. Dalam kepala saya—sebuah lagu belum selesai, “Hace falta que te diga. Que me muero por tener algo contigo?”—apakah aku perlu memberitahumu, bahwa aku sangat ingin memiliki sesuatu denganmu, bantu Ángela López mengartikan Algo Contigo untuk saya.

Tetapi sebuah lagu yang ditulis Adien di Ubud malam itu, sihir sebuah Sungai Sayan, yang mengalirkan suasana kalem—dan gemericik air mencium batu. Jazz mengalir di sana bersama Flamenco oleh gitarnya.

Apakah alam memberkatinya dalam bermusik? Yang jelas, saya kembali bersetubuh dengan malam—dengan Ubud yang gembira oleh nyanyian Ángela López dan piano Astrid Sulaiman, tentunya juga suara kendang rumah saya—Sunda. Hatur nuhun, Kang Emon—permainan yang bagus untuk kendang. Juga bass oleh Kristian Dharma.[T]

BACA artikel lain tentang UBUD VILLAGE JAZZ FESTIVAL

Reporter: Sonhaji Abdullah
Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto

Merayakan Jazz, Mencipta Kenangan, dan Mendengar Rasa dalam Bahasa Suara
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2024, Panggung Kebebasan Itu Telah Dibuka
Siap-siap, Ubud Village Jazz Festival 2024 Segera Dimulai
Ubud Village Jazz Festival: Seratus Persen Panggung untuk Musik Jazz
Tags: festival musik jazzmusik jazzUbudUbud Village Jazz FestivalUVJF 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merayakan Jazz, Mencipta Kenangan, dan Mendengar Rasa dalam Bahasa Suara

Next Post

Rason Wardjojo, Gitaris Cilik, dan Bagaimana Ia Mengenal Jazz

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
0
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

Read moreDetails

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails
Next Post
Rason Wardjojo, Gitaris Cilik, dan Bagaimana Ia Mengenal Jazz

Rason Wardjojo, Gitaris Cilik, dan Bagaimana Ia Mengenal Jazz

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co