14 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rason Wardjojo, Gitaris Cilik, dan Bagaimana Ia Mengenal Jazz

Jaswanto by Jaswanto
August 6, 2024
in Persona
Rason Wardjojo, Gitaris Cilik, dan Bagaimana Ia Mengenal Jazz

Rason sedang serius memainkan gitarnya di Panggung Padi UVJF 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

DI salah satu panggung Sthala Ubud Village Jazz Festival (UVJF) 2024, dengan kepercayaan diri seorang bintang, anak kecil itu duduk dengan tenang sambil memangku gitar kesayangannya. Sementara tiga pemuda yang berumur jauh lebih tua darinya, bersiap mengiringi dan melengkapi repertoarnya. Ketiga pemuda yang dimaksud masing-masing bertugas memainkan drum, piano, dan kontrabass.

Melihat gayanya duduk, kilat matanya, dan caranya menyapa pengunjung, meski umurnya masih 12 tahun, tentu dia bukan seorang amatir. Apalagi menyaksikan betapa luwes jari-jari kecilnya saat memetik gitar—memainkan melodi-melodi jazz yang menenangkan, kalau bukan melenakan.

Pada saat senja yang keemasan jatuh tepat di Panggung Padi UVJF 2024, anak kecil yang manis dan berbakat itu sedang memainkan repertoar Nica’s Dream—kalau tidak salah, komposisi ini digarap oleh Horace Silver pada tahun 1954. Tapi yang lebih mengejutkan, setelah memainkan Moanin, di depan puluhan pasang mata, dia membawakan Rain of Love, komposisi yang ia ciptakan sendiri.

Rason di Panggung Padi UVJF 2024 | Foto: tatkala.co/Son

Komposisi Rain of Love mengalun lembut, tenang, dan… barangkali terdengar romantis? Tapi yang jelas, dengan suasana sore yang hangat, repertoar itu cukup menenangkan. Ada semacam perasaan damai saat jari-jari kecil itu memetik senar-senar gitarnya.

Pengunjung bergeming. Menyunggingkan bibir sambil menggerakkan kepala ke kanan-ke kiri dengan lembut. Seorang perempuan berambut pirang bahkan menyandarkan kepalanya ke pundak kekasihnya. Mereka bedua saling pandang.

Sore itu, anak kecil di panggung UVJF itu membawakan tujuh komposisi musik: Nica’s Dream, Moanin, Rain of Love (single), sebagaimana telah disinggung di atas, Blue Monk, Our Spanish Love Songs, Four, dan Solar.    

Benar. Di atas adalah sedikit gambaran penampilan Rason Wardjojo, gitaris cilik yang berbakat, di panggung Sthala Ubud Village Jazz Festival 2024. Pada saat itu ia menjadi pusat perhatian dan decak-kagum—dan dia memang layak mendapatkannya.

Penampilannya yang menawan telah membuat penonton terkesan dan terkesima, sehingga memacak kenangan yang tak terlupakan bagi mereka yang melihat dan mendengarkannya. Sore itu, Rason panen apresiasi. Ia membuat wajah ayah dan ibunya berseri-seri. Pula mereka yang sedang dimabuk asmara.

Rason sedang serius memainkan gitarnya di Panggung Padi UVJF 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Rason masih kecil. Baru duduk di bangku kelas enam Sekolah Dasar. Tapi ia memainkan melodi semudah membentuk plastisin menjadi rupa-rupa. Menurut Rusli Wardjojo, ayah Rason, bak anak ajaib, gitaris cilik kelahiran Jakarta, 29 Maret 2012 ini mulai memainkan gitar sejak umur 3 tahun.

“Saat dikasih ukulele, dia bisa memainkan melodi. Saat itu juga dia mulai menonton YouTube dan belajar melodi lagu anak kecil,” terang Rusli kepada tatkala.co di belakang panggung seusai Rason pentas, Jumat (2/8/2024) sore.

Setelah bisa memainkan melodi lagu anak-anak, karena Rusli senang memutar dan mendengarkan lagu-lagu rock, oldies, blues, dan jazz di rumah, sekali lagi bak anak ajaib, dengan cepat Rason mempelajari melodinya. Sebagai ayah, ia pun tak percaya dengan bakat anaknya sendiri.

“Kemampuan musik Rason berkembang dari lagu anak-anak ke genre seperti oldies, blues, rock, dan jazz,” terang Rusli. Namun, perjalanan musik Rason yang lebih serius, katakanlah begitu, baru dimulai pada usia 8 tahun.

Di umurnya saat itu, sebelum Pandemi Covid-19, sebagai orang tua, Rusli merasa memiliki kewajiban untuk mendukung—dalam hal apa pun—bakat yang anaknya miliki. Rusli mulai mengenalkan teori musik kepada Rason.

Sejak saat itu Rason memamah teori-teori musik klasik dan mulai memupuk keberanian pentas di muka umum—walaupun banyak anak seumurannya yang memilih diam di kamarnya yang nyaman dengan akses internet pula gawai yang menyala nyaris sepanjang hari. Rason seperti tak mau menjadi anak kebanyakan.

Keberanian Rason tampil di panggung mendapat banyak apresiasi—pula puja-puji. Di Jakarta, sekali lagi sebelum pandemi, banyak orang dan komunitas yang mengajaknya pentas dan kolaborasi. Tetapi pada saat Covid-19 meluluhlantakkan tatanan, saat segala aktivitas dibatasi dan diawasi, Rason sempat berhenti manggung.

Rason sedang serius memainkan gitarnya di Panggung Padi UVJF 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Setelah pandemi kami lebih banyak main-main ke Bali. Di Bali, ternyata Rason banyak diajak main sana-main sini. Akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke Bali. Di sini dia belajar teori tentang jazz—karena di sini banyak komunitas jazz. Saat ini dia juga lebih banyak mendalami musik jazz,” kata Rusli.

Sejak setahun yang lalu, Rason dan keluarganya pindah dari Jakarta ke Bali. Rusli mengatakan karena di Bali, tidak hanya jazz, tapi juga musik lainnya, lebih mudah diakses daripada di Jakarta. Ekosistem musik, khususnya jazz, sebagaimana pernah dikatakan Yuri Mahatma, Co-founder UVJF dalam sebuah wawancara, jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia, ekosistem di Bali cukup bagus.

Dan jadilah Rason cilik masuk dalam pergaulan jazz. Mungkin ia juga sudah mendapat nama panggilannya sendiri—sebuah panggilan khusus. Ya, bagi para seniman jazz, bukankah diberi nama panggilan pada dasarnya adalah sebuah ritus peralihan?

Louis Armstrong dipanggil “Satchmo”, kependekan dari “Satchelmouth” yang disertai dengan berbagai kisah dan kemungkinan asal usul. Dizzy Gillespie dijuluki demikian karena kejenakaannya yang tidak menentu di atas panggung. Dan Frank Sinatra dipanggil “Ketua Dewan” selama masa jabatannya sebagai Presiden Reprise Records dan memperoleh nama “Ol’ Blue Eyes” karena, yah, matanya yang biru.

Dalam dunia jazz, Rason sangat mengidolakan sosok Pat Metheny, seorang pemain gitar jazz asal Amerika Serikat, peraih 3 album Gold dan 17 Grammy Award. Pantas saja Rason menyukainya. Pat memang musisi yang serba bisa, kemampuannya bermain dalam banyak lintas-genre terlihat dari pengalaman bermainnya dengan berbagai musisi terkenal. Sebuah pencapaian yang sulit ditandingi.

Namun, Rusli tak pernah memaksa Rason—atau melibatkan diri—dalam memilih kecenderungan atau ketertarikan kepada jenis musik tertentu. Dalam hal ini, Rusli mengaku, ia menyerahkan sepenuhnya kepada Rason sendiri. “Itu tidak bisa dipaksakan, si,” dia berkata sambil tertawa. “Dia pengen main apa ya silakan,” lanjutnya sembari memperbaiki letak kacamatanya.

Rason tertawa pada saat diwawancarai | Foto: tatkala.co/Son

Pada Oktober 2023, Rason merilis single debutnya dengan tajuk “Rain of Love”. Ini menunjukkan pertumbuhan artistiknya yang begitu cepat dan bukti kecintaannya pada musik. “Dadakan aja. Lagi hujan tiba-tiba ketemu melodinya, lalu direkam. Improvisasi,” kata Rason malu-malu.

Di atas panggung UVJF 2024, meski terlihat percaya diri, ternyata Rason tetap memiliki rasa gerogi—walaupun sedikit, katanya. Dan ini membuat orang-orang di sekitarnya tertawa dan tak percaya. Sebab, penampilan anak kecil pecinta musik rock, blues, dan jazz ini, seperti tanpa cacat—kalau bukan sempurna. “Saya mau coba membuat komposisi baru. Tapi belum tahu kapan,” ucap Rason, polos.

Setahun yang lalu, Rason diundang berbincang di kanan YouTube Dewa Budjana—gitaris yang kondang itu. Dengan Budjana ia mengaku, sebelum memainkan gitar elektrik, lebih dulu Rason memetik gitar akustik. Tak hanya berbincang, bersama Dewa Budjana, Rason menunjukkan kepiawaiannya dalam memainkan melodi-melodi blues dan klasik. Dalam blues, nama-nama seperti Gary Moore, Eric Clapton, Jimi Hendrix, adalah idolanya.

“Kalau lagi mood, bisa belajar gitar selama tiga jam,” kata Rason kepada Dewa Budjana. Selain main gitar, Rason juga bisa memainkan bass, piano, dan kontrabas.

Rason termasuk anak yang ceria dalam takaran tertentu. Ia mudah akrab dengan orang baru. Pula selalu menunjukkan rasa ingin tahu yang besar yang terlihat dari sorot matanya. Setelah tampil di hari pertama festival, Rason tak lekas pulang. Ia duduk anteng di antara banyak orang dan menikmati penampilan musisi jazz yang lain.  Itu barangkali beberapa tanda “kebintangannya”.[T]

BACA artikel lain tentang UBUD VILLAGE JAZZ FESTIVAL

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Merayakan Jazz, Mencipta Kenangan, dan Mendengar Rasa dalam Bahasa Suara
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2024, Panggung Kebebasan Itu Telah Dibuka
Kendang Sunda dalam Flamenco dan Jazz: Indonesia dan Spanyol dalam Repertoar Adien Fazmail Quinteto di UVJF 2024
Tags: Sthala UbudUbud Village Jazz FestivalUVJF 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kendang Sunda dalam Flamenco dan Jazz: Indonesia dan Spanyol dalam Repertoar Adien Fazmail Quinteto di UVJF 2024

Next Post

Seni Instalasi Karya Polenk Rediasa Dibuat Dari Tulang Tengkorak “Sapi Duwe” di Desa Tambakan-Buleleng

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails
Next Post
Seni Instalasi Karya Polenk Rediasa Dibuat Dari Tulang Tengkorak “Sapi Duwe” di Desa Tambakan-Buleleng

Seni Instalasi Karya Polenk Rediasa Dibuat Dari Tulang Tengkorak “Sapi Duwe” di Desa Tambakan-Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana
Ulas Rupa

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

by Hartanto
August 13, 2026
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   
Esai

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih
Ulas Musik

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

by Mahesa Putra
August 13, 2026
Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’
Panggung

Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

MALAM di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026, berjalan dalam suasana tenang ketika Dodot Trio mulai memainkan...

by Dede Putra Wiguna
August 13, 2026
Sekali Lagi tentang Dirgahayu
Bahasa

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

by I Made Sudiana
August 13, 2026
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   
Esai

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa...

by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal
Esai

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti...

by Agung Sudarsa
August 12, 2026
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”
Opini

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar
Kesehatan

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar

Saat Pendukung Sebaya Juga Butuh Didukung DI sebuah ruangan sederhana di Kota Denpasar, lima belas orang duduk melingkar. Mereka bukan...

by tatkala
August 12, 2026
Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan
Panggung

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

"Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke...

by AA Ayu Mayun Artati
August 12, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital
Esai

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co