12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Es Krim Sore Hari dan Kegembiraan Collective Harmony dalam Jazz Klasik “When the Saints Go Marching In”

Son Lomri by Son Lomri
August 6, 2024
in Ulas Musik
Es Krim Sore Hari dan Kegembiraan Collective Harmony dalam Jazz Klasik “When the Saints Go Marching In”

Penonton berdansa bersama personel Collective Harmony | Foto: tatkala.co/Son

SATU es krim nyaris meleleh, dilumat pelan-pelan bocah 10 tahun. Mencair. Mencair. Mulutnya penuh dengan cream berwarna pink, juga kecoklatan. Senja manis menambahkan sedikit warna jingga di mulutnya. Terlihat ia sangat menikmati. Manis. Manis.

Sedang suara derap langkah kaki terdengar seperti beberapa orang sedang berjalan menuju Gereja atau tempat hiburan diri dengan hari sangat panas di sebuah jalan di Amerika untuk sebuah festival. Sebagai budak dengan sepatu hitam keras, langkah kakinya seperti terburu-buru—menggondol kebebasan, atau ia berkulit hitam?

Itu cerita di dalam nada, dibawa angin dari permainan drum di hari terakhir Ubud Villa Jazz Festival (UVJF) 2024, di STHALA Ubud Porfolio Hotel, Minggu, 3 Agustus.

Penonton berjajar di tebing sekitar Giri Stage menyaksikan penampilan Collective Harmony dalam Ubud Village Jazz Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Son

Di Giri Stage, di areal UVJF, sorot mata bocah yang menggenggam es krim itu lebih lama memandang, sebab es krim di tangannya semakin tipis, meleleh, tak menarik lagi. Namun dijilatinya juga es krim itu hingga cepak. Semakin tidak ada. Ia tak memiliki apapun selain orang-orang di sekitarnya dan suasana yang hangat di atas panggung, juga di bawah.

Sore yang menggemaskan untuk berdansa. Satu persatu orang-orang dewasa di sekitarnya berdiri, Kevin—pianis Collective Harmony meminta seseorang mesti berdansa selain bertepuk—bahkan “banyak orang lebih baik,” kata si penyanyi—hendak merepertoar musik klasik Jazz ala Louis Armstrong itu, When the Saints Go Marching In.

“Mari ke depan. Mari ke depan,” kata salah satu penyanyi di panggung.

Penonton berdansa menyaksikan Collective Harmony | Foto: tatkala.co/Son

Nancy Ponto, Rachman Neider, Phil Antonio, Telly Yoesoef, dan Ras Gito. Lima penyanyi itu membawakan beberapa lagu dengan nuansa Jazz klasik—new orleans style.

Sedang bocah kecil tadi lebih nyata kehilangan es krimnya di tangan. Dan suara langkah kaki oleh seorang drummer—yang tidak kutahu namanya itu benar-benar membelai tangan bocah itu dengan tempo ketukan yang nyaris sama dengan orang-orang berjalan menggunakan sepatu pekerja barangkali.

Lalu bocah itu melumat habis sisa eskrim di mulutnya. Dari kejauhan aku melihat tingkahnya. Dari tangannya pertama, pelan-pelan tubuhnya ikut bergerak terpengaruh musik lintas zaman yang tua dari pinggiran Amerika Serikat itu.

Penampilan Collective Harmony di Ubud Village Jazz Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Ia berjoget di samping ibunya sambil duduk. Senyum keemasan terlihat di bocah itu dibantu waktu, dan suara derap langkah kaki menjadi musik yang ria—mengantarkan orang-orang berdansa. Piano dan contrabass membuat semuanya menjadi gembira bersama-sama.

Barangkali benar apa yang dikatakan oleh pemain bass akustik Jazz, Charlie Haden,

“Bass, tidak peduli jenis musik apa yang Anda mainkan, hanya meningkatkan suara dan membuat segalanya terdengar lebih indah dan utuh. Saat bass berhenti, segalanya jadi serba salah.”

Dari sekian banyak penampil di hari kedua ini di UVJF, Collective Harmony—tampil selain dengan penyanyinya berbanyak, mereka juga secara khusus hanya membawakan lagu-lagu dari Louis Armstrong, dengan membawakan kembali nuansa jazz tua.

“Ciptaannya Louis Armstrong atau yang dibawakannya—yang lalu terkenal. Nah, kita membawakan itu hari ini. Mengaransemennya dengan—nuansa tetap klasik, sebagaimana jazz tua seperti Dixeland, ragtime, kaya gitu—sangat new orleans style kita hari ini. Makanya tadi banyak bunyinya seperti marching seperti ‘dengtcet..dengtcet..dengtcet…’ itu bunyinya seperti langkah kaki seorang budak—berkulit hitam di sekitar tahun 1920-an, yang berjalan di sebuah festival, mereka seperti ber-marching—ketika berjalan beramai,” jelas Kevin, seorang pianis—dari Collectif Harmony, sebuah grup yang baru saja dibentuk tahun ini.

Jazz tidak bisa dilupakan imajinasinya tentang suara langkah kaki, atau jeritan perbudakan di Amerika melalui saxophone. Tentang kulit hitam, tentang ruang dan waktu—rasisme pada kulit hitam di sana secara sosial-kultur yang jahat.

Tentu, tak bisa dibantahkan pula jika musik ini cenderung memiliki akar musik dari Afrika dan Eropa, sebagaimana budak-budak Afrika di Amerika merepertoar batinnya melalui musik ini. Bisa berkembang sampai sekarang—bahkan lebih maju barangkali dengan teknik-teknik bermain teranyar sekarang.

Penampilan Collective Harmony di Ubud Village Jazz Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Tetapi, apakah rasisme pada kulit hitam berhenti walaupun jazz—barangkali lebih cenderung dimainkan akhir-akhir ini oleh orang-orang kulit putih atau elitis? Tetapi yang jelas, jazz adalah kemanusiaan. Kebebasan. Cinta.

“Jika Anda tidak menyukai Louis Armstrong, berarti Anda tidak tahu cara mencintai,” kata Mahalia Jackson, seorang penyanyi gospel Amerika Serikat. 

La Vien Rose, Hello Dolly, Sunshine of love, Jeepers Creepers, I’ll see you in my dreams, What a wonderful world, When the saints go marching in. Lagu-lagu itu menutup senja di tanggal muda oleh Collective Harmony.

Penampilan Collective Harmony di Ubud Village Jazz Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Kembali kepada bocah kecil tadi, kami semua menghasilkan derap langkah yang sama menuju panggung Padi, di areal UVJF—tentu tanpa es krim dan hanya ada bayangan tubuh kami dan pohon-pohon segar oleh cahaya maghrib setelah berdansa.

Di sana, FAWR sudah siap untuk tampil, dan beberapa orang sedang mempersiapkan tempat. Dan di akhir kehidupan Louis Arsmtrong, terompet adalah kehidupannya. Ia sangat berjasa selain menebar cinta kasih atau kesetaraan pada sesama melalui itu. Di musik, ia telah membawa penyederhanaan cukup baik penuh eksperimental bagaimana jazz bisa dinikmati tanpa harus bertanya, mengapa orang-orang kembali menonton!? Apalagi bertanya tentang ras! [T]

BACA artikel lain tentang UBUD VILLAGE JAZZ FESTIVAL

Reporter: Sonhaji Abdullah
Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Rason Wardjojo, Gitaris Cilik, dan Bagaimana Ia Mengenal Jazz
Merayakan Jazz, Mencipta Kenangan, dan Mendengar Rasa dalam Bahasa Suara
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2024, Panggung Kebebasan Itu Telah Dibuka
Kendang Sunda dalam Flamenco dan Jazz: Indonesia dan Spanyol dalam Repertoar Adien Fazmail Quinteto di UVJF 2024
Tags: festival musik jazzjazzmusikUbudUbud Village Jazz Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dhyāna Paramitha: Laku Asih pada Semesta dalam Jinārthi Prakrĕti

Next Post

Iklan Modern: Seni Menjual Mimpi atau Manipulasi Tersembunyi?

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails
Next Post
Iklan Modern: Seni Menjual Mimpi atau Manipulasi Tersembunyi?

Iklan Modern: Seni Menjual Mimpi atau Manipulasi Tersembunyi?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co