22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Es Krim Sore Hari dan Kegembiraan Collective Harmony dalam Jazz Klasik “When the Saints Go Marching In”

Son Lomri by Son Lomri
August 6, 2024
in Ulas Musik
Es Krim Sore Hari dan Kegembiraan Collective Harmony dalam Jazz Klasik “When the Saints Go Marching In”

Penonton berdansa bersama personel Collective Harmony | Foto: tatkala.co/Son

SATU es krim nyaris meleleh, dilumat pelan-pelan bocah 10 tahun. Mencair. Mencair. Mulutnya penuh dengan cream berwarna pink, juga kecoklatan. Senja manis menambahkan sedikit warna jingga di mulutnya. Terlihat ia sangat menikmati. Manis. Manis.

Sedang suara derap langkah kaki terdengar seperti beberapa orang sedang berjalan menuju Gereja atau tempat hiburan diri dengan hari sangat panas di sebuah jalan di Amerika untuk sebuah festival. Sebagai budak dengan sepatu hitam keras, langkah kakinya seperti terburu-buru—menggondol kebebasan, atau ia berkulit hitam?

Itu cerita di dalam nada, dibawa angin dari permainan drum di hari terakhir Ubud Villa Jazz Festival (UVJF) 2024, di STHALA Ubud Porfolio Hotel, Minggu, 3 Agustus.

Penonton berjajar di tebing sekitar Giri Stage menyaksikan penampilan Collective Harmony dalam Ubud Village Jazz Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Son

Di Giri Stage, di areal UVJF, sorot mata bocah yang menggenggam es krim itu lebih lama memandang, sebab es krim di tangannya semakin tipis, meleleh, tak menarik lagi. Namun dijilatinya juga es krim itu hingga cepak. Semakin tidak ada. Ia tak memiliki apapun selain orang-orang di sekitarnya dan suasana yang hangat di atas panggung, juga di bawah.

Sore yang menggemaskan untuk berdansa. Satu persatu orang-orang dewasa di sekitarnya berdiri, Kevin—pianis Collective Harmony meminta seseorang mesti berdansa selain bertepuk—bahkan “banyak orang lebih baik,” kata si penyanyi—hendak merepertoar musik klasik Jazz ala Louis Armstrong itu, When the Saints Go Marching In.

“Mari ke depan. Mari ke depan,” kata salah satu penyanyi di panggung.

Penonton berdansa menyaksikan Collective Harmony | Foto: tatkala.co/Son

Nancy Ponto, Rachman Neider, Phil Antonio, Telly Yoesoef, dan Ras Gito. Lima penyanyi itu membawakan beberapa lagu dengan nuansa Jazz klasik—new orleans style.

Sedang bocah kecil tadi lebih nyata kehilangan es krimnya di tangan. Dan suara langkah kaki oleh seorang drummer—yang tidak kutahu namanya itu benar-benar membelai tangan bocah itu dengan tempo ketukan yang nyaris sama dengan orang-orang berjalan menggunakan sepatu pekerja barangkali.

Lalu bocah itu melumat habis sisa eskrim di mulutnya. Dari kejauhan aku melihat tingkahnya. Dari tangannya pertama, pelan-pelan tubuhnya ikut bergerak terpengaruh musik lintas zaman yang tua dari pinggiran Amerika Serikat itu.

Penampilan Collective Harmony di Ubud Village Jazz Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Ia berjoget di samping ibunya sambil duduk. Senyum keemasan terlihat di bocah itu dibantu waktu, dan suara derap langkah kaki menjadi musik yang ria—mengantarkan orang-orang berdansa. Piano dan contrabass membuat semuanya menjadi gembira bersama-sama.

Barangkali benar apa yang dikatakan oleh pemain bass akustik Jazz, Charlie Haden,

“Bass, tidak peduli jenis musik apa yang Anda mainkan, hanya meningkatkan suara dan membuat segalanya terdengar lebih indah dan utuh. Saat bass berhenti, segalanya jadi serba salah.”

Dari sekian banyak penampil di hari kedua ini di UVJF, Collective Harmony—tampil selain dengan penyanyinya berbanyak, mereka juga secara khusus hanya membawakan lagu-lagu dari Louis Armstrong, dengan membawakan kembali nuansa jazz tua.

“Ciptaannya Louis Armstrong atau yang dibawakannya—yang lalu terkenal. Nah, kita membawakan itu hari ini. Mengaransemennya dengan—nuansa tetap klasik, sebagaimana jazz tua seperti Dixeland, ragtime, kaya gitu—sangat new orleans style kita hari ini. Makanya tadi banyak bunyinya seperti marching seperti ‘dengtcet..dengtcet..dengtcet…’ itu bunyinya seperti langkah kaki seorang budak—berkulit hitam di sekitar tahun 1920-an, yang berjalan di sebuah festival, mereka seperti ber-marching—ketika berjalan beramai,” jelas Kevin, seorang pianis—dari Collectif Harmony, sebuah grup yang baru saja dibentuk tahun ini.

Jazz tidak bisa dilupakan imajinasinya tentang suara langkah kaki, atau jeritan perbudakan di Amerika melalui saxophone. Tentang kulit hitam, tentang ruang dan waktu—rasisme pada kulit hitam di sana secara sosial-kultur yang jahat.

Tentu, tak bisa dibantahkan pula jika musik ini cenderung memiliki akar musik dari Afrika dan Eropa, sebagaimana budak-budak Afrika di Amerika merepertoar batinnya melalui musik ini. Bisa berkembang sampai sekarang—bahkan lebih maju barangkali dengan teknik-teknik bermain teranyar sekarang.

Penampilan Collective Harmony di Ubud Village Jazz Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Tetapi, apakah rasisme pada kulit hitam berhenti walaupun jazz—barangkali lebih cenderung dimainkan akhir-akhir ini oleh orang-orang kulit putih atau elitis? Tetapi yang jelas, jazz adalah kemanusiaan. Kebebasan. Cinta.

“Jika Anda tidak menyukai Louis Armstrong, berarti Anda tidak tahu cara mencintai,” kata Mahalia Jackson, seorang penyanyi gospel Amerika Serikat. 

La Vien Rose, Hello Dolly, Sunshine of love, Jeepers Creepers, I’ll see you in my dreams, What a wonderful world, When the saints go marching in. Lagu-lagu itu menutup senja di tanggal muda oleh Collective Harmony.

Penampilan Collective Harmony di Ubud Village Jazz Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Kembali kepada bocah kecil tadi, kami semua menghasilkan derap langkah yang sama menuju panggung Padi, di areal UVJF—tentu tanpa es krim dan hanya ada bayangan tubuh kami dan pohon-pohon segar oleh cahaya maghrib setelah berdansa.

Di sana, FAWR sudah siap untuk tampil, dan beberapa orang sedang mempersiapkan tempat. Dan di akhir kehidupan Louis Arsmtrong, terompet adalah kehidupannya. Ia sangat berjasa selain menebar cinta kasih atau kesetaraan pada sesama melalui itu. Di musik, ia telah membawa penyederhanaan cukup baik penuh eksperimental bagaimana jazz bisa dinikmati tanpa harus bertanya, mengapa orang-orang kembali menonton!? Apalagi bertanya tentang ras! [T]

BACA artikel lain tentang UBUD VILLAGE JAZZ FESTIVAL

Reporter: Sonhaji Abdullah
Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Rason Wardjojo, Gitaris Cilik, dan Bagaimana Ia Mengenal Jazz
Merayakan Jazz, Mencipta Kenangan, dan Mendengar Rasa dalam Bahasa Suara
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2024, Panggung Kebebasan Itu Telah Dibuka
Kendang Sunda dalam Flamenco dan Jazz: Indonesia dan Spanyol dalam Repertoar Adien Fazmail Quinteto di UVJF 2024
Tags: festival musik jazzjazzmusikUbudUbud Village Jazz Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dhyāna Paramitha: Laku Asih pada Semesta dalam Jinārthi Prakrĕti

Next Post

Iklan Modern: Seni Menjual Mimpi atau Manipulasi Tersembunyi?

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
0
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

Read moreDetails

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails
Next Post
Iklan Modern: Seni Menjual Mimpi atau Manipulasi Tersembunyi?

Iklan Modern: Seni Menjual Mimpi atau Manipulasi Tersembunyi?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co