22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gurat Memoar#3 | Buku Deblog dan Kenangan Masa Kecil Bapak yang Terselip Pada Salah Satu Babnya

Made Susanta Dwitanaya by Made Susanta Dwitanaya
May 4, 2021
in Esai
Gurat Memoar#3 | Buku Deblog dan Kenangan Masa Kecil Bapak yang Terselip Pada Salah Satu Babnya

Lukisan ilustrasi oleh Vincent Candra

– Mengkonfirmasi Data Sejarah dari Tuturan Personal Orang Kebanyakan

Sejak saya memutuskan belajar menulis seni rupa dari masa kuliah sampai sekarang, sosok bapak adalah pembaca paling setia dari tulisan-tulisan yang saya kerjakan. Saya adalah anak yang jarang pulang ke rumah, tapi setiap saya pulang ke rumah hal pertama yang selalu beliau tanyakan adalah:

“Dek, ade nulis di pameran? Ken katalogne ? Kal bace sambil ningalin gambarne” (Ada menulis pameran? Mana katalognya? Bapak mau baca sambil lihat karya karya perupanya ).

Mungkin dengan cara itu beliau memberi semangat atas pilihan hidup anak anaknya. Kami juga kebetulan punya minat yang sama yakni seni rupa.

Baiklah, agar tidak ngelantur dan sebelum tulisan ini menjadi terkesan sebagai tulisan yang meromantisir hubungan ayah dan anak, saya cukupkan saja untuk bercerita tentang bagaimana hubungan kami berdua. Karena ada cerita yang lebih menarik menurut saya untuk dibagi dalam tulisan ini kepada pembaca terkait bagaimana sebuah buku ternyata bisa memantik perbincangan  dari pembacanya dan menguatkan data yang tersaji dalam buku tersebut.

Inilah yang terjadi ketika bapak saya membaca buku tentang Gusti Made Deblog yang saya tulis bersama dengan kawan kawan di Gurat Institut.

Kurang lebih dua bulan lalu menjelang Hari Raya Nyepi saya pulang ke rumah di Tampaksiring, Gianyar, membawakan “bekel” Nyepi berupa buku Deblog yang kami kerjakan bersama tim Gurat Institut untuk bapak saya,  sekaligus arsip pribadi di rumah. Beliau memang suka membaca dari dulu, namun kebiasaanya membaca ini semakin intens beliau lakukan sejak dua tahun terakhir sejak kondisi fisiknya mulai menurun karena serangan vertigo yang membuat pendengaranya terganggu dan sulit bekerja secara fisik seperti mengukir tulang seperti dahulu.

Hanya membacalah satu satunya aktivitas yang paling digemarinya kini. Sehingga sebuah buku atau bacaan apa saja adalah teman sepi yang mengisi kesehariannya di masa pensiun. Sampai hari ini beliau masih terlihat sangat asik membaca buku Deblog yang saya bawakan dua bulan lalu itu di meja bale dangin kami.

Suatu malam di hari Umanis Galungan saya mencoba memulai obrolan dengan beliau menanyakan bagaimana pendapatnya tentang buku Deblog yang kami tulis. Beliau menjawab “di bagian tiga, di pembahasan medan seni rupa Denpasar , pak jeg inget ajak pengalamane pak e uling cerik pragat kaline luas medagang ukiran tulang ajak i kaki pidan ke badung” (di bagian ketiga, pada pembahasan tentang medan seni rupa Denpasar bapak menjadi teringat dengan pengalaman masa kecil bapak yang kerap ditinggal kakek pergi berjualan ukiran tulang ke  Denpasar ).

Bapak bercerita lebih jauh bahwa di tahun 1950-an kakek saya I Ketut Kompol bersama dengan beberapa orang dari banjar kami dan banjar tetangga di Tampaksiring kerap datang ke kota Denpasar untuk berjualan ukiran tulang dan batok kelapa yang dikerjakan sendiri di sela aktivitas bertani ke beberapa toko dan tempat di Denpasar terutama di sekitar kawasan Bali Hotel yang cukup ramai pengunjung kala itu.

Menurut cerita bapak saya, kakek dan beberapa kawannya dari Tampaksiring berangkat pagi-pagi buta sebelum matahari terbit dari Tampaksiring ke Denpasar menumpang bus Wira Karya, satu-satunya bus jurusan Denpasar-Tampaksiring yang beroperasi dari sekitar jam lima hingga sepuluh pagi di tahun 1950-an. Mereka membawa hasil karya ukiran tulang dan batok kelapa hasil karya masing-masing dengan sokasi (sejenis wadah dari anyaman bambu yang biasanya dipakai sebagai bakul nasi) untuk dijual kepada para pengunjung Bali Hotel atau dijual di kios-kios atau artshop yang kala itu banyak terdapat di belakang Bali Hotel.

Jika kemalaman dan tak ada tumpangan pulang maka kakek saya kerap menginap di Balai Masyarakat (Gedung Merdeka sekarang) atau menginap di kios-kios yang banyak tersebar di belakang Bali Hotel. Kebiasaan itu pun terus berlanjut sampai tahun 1960-an ketika bapak saya bersekolah di SGA atau SPG Denpasar (kini SMA N 7 Denpasar). Kakek saya kerap datang ke kosan bapak saya di rumah Pak Ompyag seorang veteran dari Payangan yang menetap di Denpasar, membawakan beras dan lauk pauk untuk bekal bapak saya merantau di Denpasar sambil tetap berjualan ukiran tulang di Bali Hotel. Demikian juga dengan bapak saya sembari ngekos dan bersekolah di SGA beliau juga sambil mengukir tulang dan dititip untuk dijualkan oleh kakek saya untuk biaya sekolah di Denpasar.

Kesaksian bapak tentang aktivitas kakek saya ini juga mempertegas dan menguatkan data-data yang coba kami kumpulkan dan deskripsikan pada bagian-bagian buku ini. Betapa dinamika pertumbuhan infrastruktur awal dalam medan seni rupa Bali yang terjadi di Denpasar dari tahun 1930-an hingga tahun 1960-an itu juga berdampak bagi masyarakat hingga di luar kota Denpasar. Seperti kakek saya dan beberapa warga Tampaksiring yang ikut menjual ukiran tulang ke Denpasar kala itu.

Dan pada akhirnya sebuah buku akan berdampak dan mendapatkan reaksi yang beragam bagi masing-masing pembacanya. Seperti bagi bapak saya, terlepas dari hubungan personal beliau dengan saya selaku salah satu penulis buku ini, ternyata buku Deblog yang kami tulis bersama tim Gurat Institut ini ternyata menjadi media ataupun momentum untuk memulai memantik perbincangan tentang ingatan ingatanya atau bisa jadi adalah ingatan kolektif beberapa warga masyarakat baik yang berhubungan langsung ataupun tidak langsung dengan narasi dalam buku ini.

Tugas kita tentu saja adalah mengumpulkan dan mencatat ingatan-ingatan tersebut sebagai data yang tercecer dari berbagi sumber baik lisan dan tertulis, baik dari lembaga ataupun individu, baik dari para sejarawan maupun orang kebanyakan, seperti bapak saya. Untuk melengkapi dan menguatkan satu rangkaian historiografi yang akan terus bergerak dalam proses menjadi . Bukankah penulisan sejarah termasuk sejarah seni rupa adalah aktivitas yang tak akan kunjung selesai? [T]

___

BACA GURAT MEMOAR LAINNYA

Ida Bagus Sena [lukisan by Vincent Chandra]
Tags: baliGianyarGurat InstituteSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wijaya Pura

Next Post

Model dari “Luh Muani Academy” dalam Rancangan Busana Kain Tradisi

Made Susanta Dwitanaya

Made Susanta Dwitanaya

Penulis dan kurator seni rupa. Lahir dan tinggal di Tampaksiring, Gianyar

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Model dari “Luh Muani Academy” dalam Rancangan Busana Kain Tradisi

Model dari “Luh Muani Academy” dalam Rancangan Busana Kain Tradisi

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co