4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Filosofi Perilaku Konformitas Orang Baduy

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
January 3, 2025
in Esai
Kelecung ”Eco Village” Tabanan: Menjawab Keresahan Gempuran Investor

Ahmad Sihabudin

  • Tulisan ini banyak terinspirasi atau materi lebih banyak diambil dari hasil penelitian saat menyusun disertasi, Kebutuhan Keluarga Baduy, juga  Penelitian Mulyanto dkk Prilaku Konformitas Orang Baduy, yang saya baca.

SEBUTAN “Orang Baduy” atau ”Urang Baduy” yang digunakan untuk kelompok masyarakat ini bukan berasal dari mereka sendiri. Penduduk wilayah Banten Selatan yang sudah beragama Islam, biasa menyebut masyarakat yang suka berpindah-pindah seperti halnya orang Badawi di Arab, dengan sebutan “Baduy”. Orang-orang Belanda seperti Hoevell, Jacobs, Meijer, Penning, Pleyte, Trcht, dan Geise menyebut mereka Badoe’i, Badoej, Badoewi, dan orang Kanekes seperti dikemukakan dalam laporan-laporannya.

Sekitar tahun 1980-an, ketika KTP (Kartu Tanda Penduduk) diberlakukan di sini, hampir tidak ada yang menolak dengan sebutan Orang Baduy. Walaupun, sebutan diri yang biasa mereka gunakan adalah Urang Kanekes, Urang Rawayan, Urang Tangtu (Baduy Dalam) dan Urang Panamping (Baduy Luar). Nama “Baduy” mungkin diambil dari nama sungai Cibaduy dan nama gunung Baduy yang kebetulan berada di wilayah Baduy (Garna, 1993a:120).

Kisah yang hampir sama muncul dalam cerita rakyat di daerah Banten. Kisah tersebut menceritakan bahwa dalam suatu pertempuran, Kerajaan Pajajaran tidak dapat membendung serangan Kerajaan Banten. Pucuk pimpinan Pajajaran saat itu, Prabu Pucuk Umun (keturunan Prabu Siliwangi), beserta punggawa yang setia berhasil lolos meninggalkan kerajaan dan masuk ke dalam hutan belantara. Akhirnya mereka tiba di daerah Baduy sekarang ini dan membuat pemukiman di sana. (Djuwisno, 1987:1-2).

Apabila kita menanyakan mengenai asal usul orang Baduy, jawaban yang akan diperoleh adalah mereka keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya, termasuk warga Baduy mempunyai tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia.

Masyarakat Baduy dikaitkan dengan Kerajaan Sunda atau yang lazim disebut sebagai Kerajaan Pajajaran, pada abad 15 dan 16, atau kurang lebih 600 tahun yang lalu. Wilayah Banten pada waktu itu merupakan bagian penting dari Kerajaan Pajajaran, yang berpusat di Pakuan (wilayah Bogor sekarang). Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup besar. Sungai Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu, dan ramai digunakan untuk pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. Dengan demikian penguasa wilayah tersebut, yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umun menganggap bahwa kelestarian sungai perlu dipertahankan.

Untuk itu diperintahkanlah sepasukan tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi cikal bakal Masyarakat Baduy yang sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu Sungai Ciujung di Gunung Kendeng tersebut (Adimihardja, 2000:47-59).

Perbedaan pendapat tersebut membawa kepada dugaan bahwa pada masa yang lalu, identitas dan kesejarahan mereka sengaja ditutup, yang mungkin adalah untuk melindungi komunitas Baduy sendiri dari serangan musuh-musuh Pajajaran.

Biarkan waktu dan sejarah yang akan menjawab perihal asal-usul mereka, yang pasti mereka hadir sebagai bagian dari masyarakat Banten dan memiliki kekhasan dalam hal perilaku sikap dan sifatnya dalam menjalani kehidupannya. Mereka memiliki strategi dan cara sendiri dalam mempertahan tradisi adatnya.

Perilaku Konformitas

Konformitas dalam bahasa Inggris conformity, yang berarti jenis pengaruh sosial saat individu mengubah sikap dan tingkah lakunya, agar sesuai dengan norma sosial dan nilai masyarakat yang ada. Singkatnya penyesuaian diri. Masyarakat Baduy dapat dikatakan dalam sudut pandang kita memiliki perilaku yang tidak menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman saat ini, atau perilakunya tidak konformitas (nonconformity).

Komunitas Adat Terpencil (KAT) Baduy sebuah komunitas yang hidup sangat sederhana dengan menggantungkan hidup terutama dari bercocok tanam padi dan tanpa menghiraukan dengan perkembangan zaman.

Menurut Mulyanto et.al (2006), prinsip yang dimiliki dan dijalani oleh masyarakat Baduy antara lain: tidak membangun permukiman dari bebatuan, semen, genting, paku atau produk industri modern lainnya. Berkali-kali tawaran pembangunan dari Pemerintah Propinsi maupun Kabupaten berupa pembangunan jalan, listrik masuk desa, balai pengobatan, sekolah hingga pengadaan alat tenun  ditolak masyarakat Baduy karena dianggap bertentangan dengan ketentuan karuhun dan adat.

Namun beberapa hal masyarakat Baduy juga sudah mulai mau menerima seperti alat tenun mereka sudah mau menerima bantuan dari pihak luar, pengobatan medis, bahkan keluarga berencana mereka sudah mau menerima. Perihal penerimaan KB oleh warga Baduy dapat dilihat dari penenelitian penulis pada Jurnal ISKI https://jurnal-iski.or.id/index.php/jkiski/article/view/704 sudah lebih 1500 akseptor KB, bahkan di Baduy juga sudah ada yang menerima.

Apabila puun (Ketua Adat Tertinggi Baduy Dalam) sudah menimbang dan memutuskan sesuatu, maka keputusan itu pula yang akan dilaksanakan segenap warga Baduy. Akibat penolakan-penolakan terhadap modernisasi di atas, program pemerintah hanya bisa dilakukan sampai perbatasan wilayah luar Baduy, yaitu sampai Desa Ciboleger.

Gambaran di atas menunjukkan, pada saat keluarnya pernyataan sikap lembaga adat, di waktu bersamaan muncul pula konformitas warga Baduy. Keputusan lembaga adat tidak akan memiliki kekuatan apapun tanpa adanya konformitas warga yang mendukungnya. Komunalisme tidak akan terjaga, jika tidak ada konformitas para penganutnya.

Menurut Matsumoto (2004) dalam Mulyanto et.al (2006), konformitas di sini sederhananya diartikan sebagai sikap mengalah seseorang pada tekanan sosial, baik yang nyata maupun yang dibayangkan. 

Pertanyaannya, apakah warga Baduy tidak mengalami “keterpaksaan” dalam melakukan konformitas tersebut? Bentuk-bentuk perilaku konformitas seperti apa yang dilakukan masyarakat Baduy? Apakah semua warga Baduy melakukan konformitas?

Konformitas Dalam Bentuk Perilaku

Manifestasi konformitas dalam bentuk perilaku masyarakat Baduy dapat dilihat dari 1) cara berjalan orang Baduy, 2) aktivitas perladangan, 3) upacara ngawalu, ngalaksa, seba  dan 4) aktivitas daur hidup.

Cara berjalan orang Baduy.

Orang-orang Baduy mengenal istilah Nguruy yang artinya berjalan beruntun satu per satu. Nguruy menjadi kebiasaan berjalan orang Baduy karena kondisi jalan setapak di lereng pegunungan Kendeng tempat mereka hidup yang lebarnya hanya berkisar satu meter. Menariknya, cara berjalan ini tetap dipertahankan meskipun orang-orang Baduy tengah berjalan di jalan besar perkotaan yang bukan lagi jalan setapak.

Tata cara berjalan orang Baduy mensyaratkan orang tua atau orang yang ditokohkan harus berjalan paling depan. Artinya, menghargai para tetua dan melambangkan dalam setiap aktivitas apapun, masyarakat selalu mengikuti aturan adat.

Cara berjalan ini juga memiliki tujuan etis, yaitu untuk mencegah orang membicarakan atau menjelek-jelekkan orang lain yang itu tidak dibolehkan oleh adat, karena berjalan berdampingan akan menstimulus seseorang untuk membicarakan keburukan orang lain (Mulyanto, et.al, 2006). Dengan kata lain masyarakat Baduy cenderung tidak bergosip.

Aktivitas perladangan

 Hampir setiap orang Baduy mengatakan bahwa berladang adalah mata pencaharian pokok untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga mereka. Artinya berladang bagi orang Baduy hal yang sangat penting karena berhubungan dengan adat, dan memiliki ritual khusus.

Berladang ibarat ibadah dan sakral bagi komunitas adat Baduy (Sihabudin, 2009). Orang Baduy merupakan peladang murni. Berladang merupakan tumpuan pokok mata pencaharian mereka. Sistem perladangan yang dikenal berupa perladangan berpindah (Iskandar, 1992:29). Aktivitas berladang disebut ngahuma. Bagi warga Baduy yang sudah berkeluarga, wajib memiliki huma sendiri dan mematuhi tata aturan perladangannya.

Aktivitas berladang biasanya dimulai dengan melakukan Narawas, artinya mencari atau memilih lahan untuk dijadikan huma. Nyacar, berarti menebas rumput atau semak belukar. Nukuh, berarti mengeringkan rumput dan hasil tebasan lainnya.Ngaduruk adalahkegiatan membakar sampah yang telah dikumpulkan pada kegiatan nukuh. Ngaseuk, artinya membuat lubang kecil dengan menggunakan aseukan (penugal) untuk mananam benih padi.

Menugal (melobangi tanah) dilakukan oleh pria, sedangkan memasukan benih padi ke dalam lubang tugalan dilakukan oleh perempuan. Ngirab sawan, membersihkan sampah bekas ranting dan daun atau tanaman lain yang mengganggu tanaman padi yang sedang tumbuh. Mipitadalah kegiatan pertama kali memetik atau menuai padi. Tiga bulan saat pemanenan tersebut sering pula dikenal dengan bulan kawalu (Mulyanto,et.al, 2006)

Dibuat, berarti menuai atau memotong padi (panen). Ngunjal,artinya mengangkut hasil panen padi dari huma ke lumbung padi. Nganyaran,upacara makan nasi baru atau nasi pertama kali hasil dibuat di huma serang. Seluruh tata urutan perladangan di ikuti oleh masyarakat Baduy.

Berdasarkan uraian aktivitas perladangan, dapat disimpulkan kegiatan yang berpotensi memunculkan perilaku konformitas masyarakat Baduy yaitu, segala runtutan kegiatan yang berkenaan dengan huma serang, mulai ngaseuk serang sampai ngunjal. Setelah huma serang, kemudian huma puun dan kokolot.Jika warga tidak terlibat, maka sistem kebudayaan Baduy tidak akan berfungsi dengan baik, karena berangkatnya segala upacara adat di Baduy berawal dari hasil perladangan, terutama huma serang.

Upacara Kawalu, Ngalaksa, dan Seba 

Kecintaan dan penghormatan orang Baduy pada alam terlihat dalam berbagai aktivitas kehidupan terutama saat akan melakukan perladangan, berhuma, selalu ada upacara yang tujuannya sebenarnya menghormati alam, karena mereka sangat mejaga keseimbangan alam, seperti, upacara Kawalu, ngalaksa, dan seba. Ada tiga kegiatan upacara terkait dengan kegiatan perladangan yang harus diselenggarakan oleh orang Baduy. Kawalu, adalah upacara dalam rangka “kembalinya” padi dari ladang ke lumbung dilakukan sebanyak tiga kali, masing-masing sekali dalam tiap-tiap bulan kawalu. Kawalu awaldisebut kawalu tembeuy atau kawalu mitembeuy, kemudian kawalu tengah, dan terakhir kawalu tutug (akhir). (Sihabudin, 2009:74)  

Ngalaksa, berarti kegiatan atau upacara membuat laksa, semacam mie tetapi lebih lebar, seperti kuetiaw yang terbuat dari tepung beras. Keterlibatan warga sangat dijunjung tinggi pada saat upacara ngalaksa, karena upacara ini menjadi tempat perhitungan jumlah jiwa penduduk Baduy. Bahkan, bayi yang baru lahir maupun janin yang masih didalam kandungan juga akan masuk hitungan ketika upacara ngalaksa. Oleh karena sifatnya yang sakral, maka upacara ngalaksa dan kawalu tidak boleh disaksikan oleh orang luar, termasuk peneliti.

Seba,berasal dari kata nyaba artinya menyapa yang mengandung pengertian datang mempersembahkan laksa disertai hasil bumi lainnya kepada penguasa nasional. Substansi seba adalah silaturrahmi pemerintahan adat kepada pemerintah nasional seperti camat, bupati dan gubernur yang diadakan setahun sekali. (Garna, 1994, Mulyanto et.al, 2006, Permana, 2007, Sihabudin, 2009).

Aktivitas Daur Hidup

Berdasarkan hasil observasi di salah satu perkampungan Baduy, Kampung Marenggo, Balimbing, Kaduketug, umumnya kehidupan sehari-hari orang Baduy berjalan secara rutin, mulai dari bangun tidur, makan, ke huma, sampai tidur lagi.

Hari istirahat atau libur orang Baduy adalah hari Selasa. Berikut aktivitas keseharian orang Baduy: Isuk-isuk (dinihari / waktu subuh), membereskan rumah, persiapan masak, ada yang mulai berangkat ke huma; Rangsang (matahari mulai naik pukul 07-08an waktu Duha), memasak, mencuci, mengasuh anak, ke huma; Tengari (Tengah Hari jam 12-13 waktu Duhur)pulang ke rumah untuk makan, atau makan di huma; Lingsir (menjelang waktu Ashar jam 15-16), akhir kerja di huma, istirahat di huma atau langsung pulang ke rumah; Burit (sore hari jelang matahari tenggelam), pulang ke rumah dari huma, mandi, makan; Sareureuh buda (malam hari sekitar jam 20-21), anak-anak istirahat dan tidur, dewasa masih berbincang-bincang di sosoro (teras depan) rumah; Sareureuh kolot (malam hari jam 21-22) orang tua dan dewasa istirahat, mulai tidur; Tengah peuting orang dewasa tidur, ronda malam bergerak; Janari leutik (Waktu Fajar menjelang jam 04:30), bangun tidur bersiap ke huma. (Sihabudin, 2009: 132).

  • Tulisan ini bersambung ke bagian 2 (habis), Konformitas penampilan, dan pandangan hidup (world view) orang Baduy.

Sumber Bacaan:

Adimihardja, Kusnaka. 2007. Dinamika Budaya Lokal. Bandung. CV. Indra Prahasta dan Pusat Kajian LBPB.

________.2000. Orang Baduy di Banten Selatan: Manusia Air Pemelihara Sungai, Jakarta. Jurnal Antropologi Indonesia, Th. XXIV, No. 61, Januari-April 2000, FISIP Universitas Indonesia.

Djoewisno, MS., 1987. Potret Kehidupan Masyarkat Baduy. Jakarta: Khas Studio.

Garna, Judistira, K. 1993a.  Masyarakat Baduy di Banten., dalam Koentjaraningrat (ed) Masyarakat Terasing di Indonesia. Jakarta: Depsos RI, Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial, dan Gramedia.

Iskandar, Johan. 1992. Ekologi Perladangan di Indonesia. Studi Kasus Dari Daerah Baduy Banten Selatan, Jawa Barat. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Sihabudin, Ahmad. 2009. Persepsi KAT Baduy Luar Terhadap Kebutuhan Keluarga di Kabupaten Lebak Banten. Disertasi. Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor.

  • BACA esai-esai tentang BADUY
  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Kalender Adat dan ”Kolenjer” — [Bagian 1]: Panduan Kehidupan Etnis Baduy
”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 1]: Bentuk dan Struktur
Riwayat “Menak” Banten dan Asal-Usul Banten Versi Orang Baduy

                                                                   

Tags: bantenmasyarakat adatSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Next Post

Made Astika, Tidak Ada Kata Pensiun untuk Mengabdi Pada Dunia Pendidikan

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Made Astika, Tidak Ada Kata Pensiun untuk Mengabdi Pada Dunia Pendidikan

Made Astika, Tidak Ada Kata Pensiun untuk Mengabdi Pada Dunia Pendidikan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co