25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Filosofi Perilaku Konformitas Orang Baduy

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
January 3, 2025
in Esai
Kelecung ”Eco Village” Tabanan: Menjawab Keresahan Gempuran Investor

Ahmad Sihabudin

  • Tulisan ini banyak terinspirasi atau materi lebih banyak diambil dari hasil penelitian saat menyusun disertasi, Kebutuhan Keluarga Baduy, juga  Penelitian Mulyanto dkk Prilaku Konformitas Orang Baduy, yang saya baca.

SEBUTAN “Orang Baduy” atau ”Urang Baduy” yang digunakan untuk kelompok masyarakat ini bukan berasal dari mereka sendiri. Penduduk wilayah Banten Selatan yang sudah beragama Islam, biasa menyebut masyarakat yang suka berpindah-pindah seperti halnya orang Badawi di Arab, dengan sebutan “Baduy”. Orang-orang Belanda seperti Hoevell, Jacobs, Meijer, Penning, Pleyte, Trcht, dan Geise menyebut mereka Badoe’i, Badoej, Badoewi, dan orang Kanekes seperti dikemukakan dalam laporan-laporannya.

Sekitar tahun 1980-an, ketika KTP (Kartu Tanda Penduduk) diberlakukan di sini, hampir tidak ada yang menolak dengan sebutan Orang Baduy. Walaupun, sebutan diri yang biasa mereka gunakan adalah Urang Kanekes, Urang Rawayan, Urang Tangtu (Baduy Dalam) dan Urang Panamping (Baduy Luar). Nama “Baduy” mungkin diambil dari nama sungai Cibaduy dan nama gunung Baduy yang kebetulan berada di wilayah Baduy (Garna, 1993a:120).

Kisah yang hampir sama muncul dalam cerita rakyat di daerah Banten. Kisah tersebut menceritakan bahwa dalam suatu pertempuran, Kerajaan Pajajaran tidak dapat membendung serangan Kerajaan Banten. Pucuk pimpinan Pajajaran saat itu, Prabu Pucuk Umun (keturunan Prabu Siliwangi), beserta punggawa yang setia berhasil lolos meninggalkan kerajaan dan masuk ke dalam hutan belantara. Akhirnya mereka tiba di daerah Baduy sekarang ini dan membuat pemukiman di sana. (Djuwisno, 1987:1-2).

Apabila kita menanyakan mengenai asal usul orang Baduy, jawaban yang akan diperoleh adalah mereka keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya, termasuk warga Baduy mempunyai tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia.

Masyarakat Baduy dikaitkan dengan Kerajaan Sunda atau yang lazim disebut sebagai Kerajaan Pajajaran, pada abad 15 dan 16, atau kurang lebih 600 tahun yang lalu. Wilayah Banten pada waktu itu merupakan bagian penting dari Kerajaan Pajajaran, yang berpusat di Pakuan (wilayah Bogor sekarang). Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup besar. Sungai Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu, dan ramai digunakan untuk pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. Dengan demikian penguasa wilayah tersebut, yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umun menganggap bahwa kelestarian sungai perlu dipertahankan.

Untuk itu diperintahkanlah sepasukan tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi cikal bakal Masyarakat Baduy yang sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu Sungai Ciujung di Gunung Kendeng tersebut (Adimihardja, 2000:47-59).

Perbedaan pendapat tersebut membawa kepada dugaan bahwa pada masa yang lalu, identitas dan kesejarahan mereka sengaja ditutup, yang mungkin adalah untuk melindungi komunitas Baduy sendiri dari serangan musuh-musuh Pajajaran.

Biarkan waktu dan sejarah yang akan menjawab perihal asal-usul mereka, yang pasti mereka hadir sebagai bagian dari masyarakat Banten dan memiliki kekhasan dalam hal perilaku sikap dan sifatnya dalam menjalani kehidupannya. Mereka memiliki strategi dan cara sendiri dalam mempertahan tradisi adatnya.

Perilaku Konformitas

Konformitas dalam bahasa Inggris conformity, yang berarti jenis pengaruh sosial saat individu mengubah sikap dan tingkah lakunya, agar sesuai dengan norma sosial dan nilai masyarakat yang ada. Singkatnya penyesuaian diri. Masyarakat Baduy dapat dikatakan dalam sudut pandang kita memiliki perilaku yang tidak menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman saat ini, atau perilakunya tidak konformitas (nonconformity).

Komunitas Adat Terpencil (KAT) Baduy sebuah komunitas yang hidup sangat sederhana dengan menggantungkan hidup terutama dari bercocok tanam padi dan tanpa menghiraukan dengan perkembangan zaman.

Menurut Mulyanto et.al (2006), prinsip yang dimiliki dan dijalani oleh masyarakat Baduy antara lain: tidak membangun permukiman dari bebatuan, semen, genting, paku atau produk industri modern lainnya. Berkali-kali tawaran pembangunan dari Pemerintah Propinsi maupun Kabupaten berupa pembangunan jalan, listrik masuk desa, balai pengobatan, sekolah hingga pengadaan alat tenun  ditolak masyarakat Baduy karena dianggap bertentangan dengan ketentuan karuhun dan adat.

Namun beberapa hal masyarakat Baduy juga sudah mulai mau menerima seperti alat tenun mereka sudah mau menerima bantuan dari pihak luar, pengobatan medis, bahkan keluarga berencana mereka sudah mau menerima. Perihal penerimaan KB oleh warga Baduy dapat dilihat dari penenelitian penulis pada Jurnal ISKI https://jurnal-iski.or.id/index.php/jkiski/article/view/704 sudah lebih 1500 akseptor KB, bahkan di Baduy juga sudah ada yang menerima.

Apabila puun (Ketua Adat Tertinggi Baduy Dalam) sudah menimbang dan memutuskan sesuatu, maka keputusan itu pula yang akan dilaksanakan segenap warga Baduy. Akibat penolakan-penolakan terhadap modernisasi di atas, program pemerintah hanya bisa dilakukan sampai perbatasan wilayah luar Baduy, yaitu sampai Desa Ciboleger.

Gambaran di atas menunjukkan, pada saat keluarnya pernyataan sikap lembaga adat, di waktu bersamaan muncul pula konformitas warga Baduy. Keputusan lembaga adat tidak akan memiliki kekuatan apapun tanpa adanya konformitas warga yang mendukungnya. Komunalisme tidak akan terjaga, jika tidak ada konformitas para penganutnya.

Menurut Matsumoto (2004) dalam Mulyanto et.al (2006), konformitas di sini sederhananya diartikan sebagai sikap mengalah seseorang pada tekanan sosial, baik yang nyata maupun yang dibayangkan. 

Pertanyaannya, apakah warga Baduy tidak mengalami “keterpaksaan” dalam melakukan konformitas tersebut? Bentuk-bentuk perilaku konformitas seperti apa yang dilakukan masyarakat Baduy? Apakah semua warga Baduy melakukan konformitas?

Konformitas Dalam Bentuk Perilaku

Manifestasi konformitas dalam bentuk perilaku masyarakat Baduy dapat dilihat dari 1) cara berjalan orang Baduy, 2) aktivitas perladangan, 3) upacara ngawalu, ngalaksa, seba  dan 4) aktivitas daur hidup.

Cara berjalan orang Baduy.

Orang-orang Baduy mengenal istilah Nguruy yang artinya berjalan beruntun satu per satu. Nguruy menjadi kebiasaan berjalan orang Baduy karena kondisi jalan setapak di lereng pegunungan Kendeng tempat mereka hidup yang lebarnya hanya berkisar satu meter. Menariknya, cara berjalan ini tetap dipertahankan meskipun orang-orang Baduy tengah berjalan di jalan besar perkotaan yang bukan lagi jalan setapak.

Tata cara berjalan orang Baduy mensyaratkan orang tua atau orang yang ditokohkan harus berjalan paling depan. Artinya, menghargai para tetua dan melambangkan dalam setiap aktivitas apapun, masyarakat selalu mengikuti aturan adat.

Cara berjalan ini juga memiliki tujuan etis, yaitu untuk mencegah orang membicarakan atau menjelek-jelekkan orang lain yang itu tidak dibolehkan oleh adat, karena berjalan berdampingan akan menstimulus seseorang untuk membicarakan keburukan orang lain (Mulyanto, et.al, 2006). Dengan kata lain masyarakat Baduy cenderung tidak bergosip.

Aktivitas perladangan

 Hampir setiap orang Baduy mengatakan bahwa berladang adalah mata pencaharian pokok untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga mereka. Artinya berladang bagi orang Baduy hal yang sangat penting karena berhubungan dengan adat, dan memiliki ritual khusus.

Berladang ibarat ibadah dan sakral bagi komunitas adat Baduy (Sihabudin, 2009). Orang Baduy merupakan peladang murni. Berladang merupakan tumpuan pokok mata pencaharian mereka. Sistem perladangan yang dikenal berupa perladangan berpindah (Iskandar, 1992:29). Aktivitas berladang disebut ngahuma. Bagi warga Baduy yang sudah berkeluarga, wajib memiliki huma sendiri dan mematuhi tata aturan perladangannya.

Aktivitas berladang biasanya dimulai dengan melakukan Narawas, artinya mencari atau memilih lahan untuk dijadikan huma. Nyacar, berarti menebas rumput atau semak belukar. Nukuh, berarti mengeringkan rumput dan hasil tebasan lainnya.Ngaduruk adalahkegiatan membakar sampah yang telah dikumpulkan pada kegiatan nukuh. Ngaseuk, artinya membuat lubang kecil dengan menggunakan aseukan (penugal) untuk mananam benih padi.

Menugal (melobangi tanah) dilakukan oleh pria, sedangkan memasukan benih padi ke dalam lubang tugalan dilakukan oleh perempuan. Ngirab sawan, membersihkan sampah bekas ranting dan daun atau tanaman lain yang mengganggu tanaman padi yang sedang tumbuh. Mipitadalah kegiatan pertama kali memetik atau menuai padi. Tiga bulan saat pemanenan tersebut sering pula dikenal dengan bulan kawalu (Mulyanto,et.al, 2006)

Dibuat, berarti menuai atau memotong padi (panen). Ngunjal,artinya mengangkut hasil panen padi dari huma ke lumbung padi. Nganyaran,upacara makan nasi baru atau nasi pertama kali hasil dibuat di huma serang. Seluruh tata urutan perladangan di ikuti oleh masyarakat Baduy.

Berdasarkan uraian aktivitas perladangan, dapat disimpulkan kegiatan yang berpotensi memunculkan perilaku konformitas masyarakat Baduy yaitu, segala runtutan kegiatan yang berkenaan dengan huma serang, mulai ngaseuk serang sampai ngunjal. Setelah huma serang, kemudian huma puun dan kokolot.Jika warga tidak terlibat, maka sistem kebudayaan Baduy tidak akan berfungsi dengan baik, karena berangkatnya segala upacara adat di Baduy berawal dari hasil perladangan, terutama huma serang.

Upacara Kawalu, Ngalaksa, dan Seba 

Kecintaan dan penghormatan orang Baduy pada alam terlihat dalam berbagai aktivitas kehidupan terutama saat akan melakukan perladangan, berhuma, selalu ada upacara yang tujuannya sebenarnya menghormati alam, karena mereka sangat mejaga keseimbangan alam, seperti, upacara Kawalu, ngalaksa, dan seba. Ada tiga kegiatan upacara terkait dengan kegiatan perladangan yang harus diselenggarakan oleh orang Baduy. Kawalu, adalah upacara dalam rangka “kembalinya” padi dari ladang ke lumbung dilakukan sebanyak tiga kali, masing-masing sekali dalam tiap-tiap bulan kawalu. Kawalu awaldisebut kawalu tembeuy atau kawalu mitembeuy, kemudian kawalu tengah, dan terakhir kawalu tutug (akhir). (Sihabudin, 2009:74)  

Ngalaksa, berarti kegiatan atau upacara membuat laksa, semacam mie tetapi lebih lebar, seperti kuetiaw yang terbuat dari tepung beras. Keterlibatan warga sangat dijunjung tinggi pada saat upacara ngalaksa, karena upacara ini menjadi tempat perhitungan jumlah jiwa penduduk Baduy. Bahkan, bayi yang baru lahir maupun janin yang masih didalam kandungan juga akan masuk hitungan ketika upacara ngalaksa. Oleh karena sifatnya yang sakral, maka upacara ngalaksa dan kawalu tidak boleh disaksikan oleh orang luar, termasuk peneliti.

Seba,berasal dari kata nyaba artinya menyapa yang mengandung pengertian datang mempersembahkan laksa disertai hasil bumi lainnya kepada penguasa nasional. Substansi seba adalah silaturrahmi pemerintahan adat kepada pemerintah nasional seperti camat, bupati dan gubernur yang diadakan setahun sekali. (Garna, 1994, Mulyanto et.al, 2006, Permana, 2007, Sihabudin, 2009).

Aktivitas Daur Hidup

Berdasarkan hasil observasi di salah satu perkampungan Baduy, Kampung Marenggo, Balimbing, Kaduketug, umumnya kehidupan sehari-hari orang Baduy berjalan secara rutin, mulai dari bangun tidur, makan, ke huma, sampai tidur lagi.

Hari istirahat atau libur orang Baduy adalah hari Selasa. Berikut aktivitas keseharian orang Baduy: Isuk-isuk (dinihari / waktu subuh), membereskan rumah, persiapan masak, ada yang mulai berangkat ke huma; Rangsang (matahari mulai naik pukul 07-08an waktu Duha), memasak, mencuci, mengasuh anak, ke huma; Tengari (Tengah Hari jam 12-13 waktu Duhur)pulang ke rumah untuk makan, atau makan di huma; Lingsir (menjelang waktu Ashar jam 15-16), akhir kerja di huma, istirahat di huma atau langsung pulang ke rumah; Burit (sore hari jelang matahari tenggelam), pulang ke rumah dari huma, mandi, makan; Sareureuh buda (malam hari sekitar jam 20-21), anak-anak istirahat dan tidur, dewasa masih berbincang-bincang di sosoro (teras depan) rumah; Sareureuh kolot (malam hari jam 21-22) orang tua dan dewasa istirahat, mulai tidur; Tengah peuting orang dewasa tidur, ronda malam bergerak; Janari leutik (Waktu Fajar menjelang jam 04:30), bangun tidur bersiap ke huma. (Sihabudin, 2009: 132).

  • Tulisan ini bersambung ke bagian 2 (habis), Konformitas penampilan, dan pandangan hidup (world view) orang Baduy.

Sumber Bacaan:

Adimihardja, Kusnaka. 2007. Dinamika Budaya Lokal. Bandung. CV. Indra Prahasta dan Pusat Kajian LBPB.

________.2000. Orang Baduy di Banten Selatan: Manusia Air Pemelihara Sungai, Jakarta. Jurnal Antropologi Indonesia, Th. XXIV, No. 61, Januari-April 2000, FISIP Universitas Indonesia.

Djoewisno, MS., 1987. Potret Kehidupan Masyarkat Baduy. Jakarta: Khas Studio.

Garna, Judistira, K. 1993a.  Masyarakat Baduy di Banten., dalam Koentjaraningrat (ed) Masyarakat Terasing di Indonesia. Jakarta: Depsos RI, Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial, dan Gramedia.

Iskandar, Johan. 1992. Ekologi Perladangan di Indonesia. Studi Kasus Dari Daerah Baduy Banten Selatan, Jawa Barat. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Sihabudin, Ahmad. 2009. Persepsi KAT Baduy Luar Terhadap Kebutuhan Keluarga di Kabupaten Lebak Banten. Disertasi. Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor.

  • BACA esai-esai tentang BADUY
  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Kalender Adat dan ”Kolenjer” — [Bagian 1]: Panduan Kehidupan Etnis Baduy
”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 1]: Bentuk dan Struktur
Riwayat “Menak” Banten dan Asal-Usul Banten Versi Orang Baduy

                                                                   

Tags: bantenmasyarakat adatSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Next Post

Made Astika, Tidak Ada Kata Pensiun untuk Mengabdi Pada Dunia Pendidikan

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Made Astika, Tidak Ada Kata Pensiun untuk Mengabdi Pada Dunia Pendidikan

Made Astika, Tidak Ada Kata Pensiun untuk Mengabdi Pada Dunia Pendidikan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co