4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Menapak 2025, Kehilangan TMD, Kehilangan TEMAN

Lanang Taji by Lanang Taji
January 7, 2025
in Esai
Bali Menapak 2025, Kehilangan TMD, Kehilangan TEMAN

Bus TMD yang parkir | Foto: Ika

“Dari bandara kita naik bus ya?” Itu pertanyaan dan saran dari seorang kawan.

Pada waktu itu kami memutuskan terdampar di sebuah pulau, dan hendak balik ke Bali. Ongkos grab dari bandara sampai rumah masin-masing tentu akan membebani kantong tipis kami.

“Bus?” Saya tidak cukup terbaharui perkara informasi terkait trasportasi umum yang ada di Bali. Transportasi terakhir yang pernah saya tumpangi adalah Trans Sarbagita dan itu telah raib begitu saja.

“Iya, ada layanan bus baru untuk keluar bandara. Nanti aku cek deh…,” jawabnya.

“Iya!” Saya menjawab dengan singkat.

Itu sekelumit percakapan di ujung Oktober 2020. Sebelum kami akhirnya benar-benar menggunakan Trans Metro Dewata (TMD). Pada masa itu masih periode promo, pandemic, dan tentu saja menyelamatkan keuangan kami yang tidak seberapa.

Tentu tidak sampai depan rumah ala kendaraan online milik bohir yang kian hari kian menjerat pekerja dan memperkaya pemilik aplikasi. Keberadaan TMD meringankan pengeluaran rupiah dari dompet dan menyelamatkan kami dari  hutang budi akibat merepotkan teman untuk menjemput.

**

Dan kemudian, di antara deburan ombak Pantai Senggigi, sebuah kabar hadir,  Trans Metro Dewata (selanjutnya TMD) berhenti beroperasi akibat pemerintah pusat tidak lagi menganggarkan anggaran untuk biaya operasional.

Sebuah berita duka.

Berita duka, di tengah bobroknya transportasi publik yang ada di Bali. Jika mau jujur, Bali bahkan tidak memiliki transportasi umum.

Statment bobroknya transportasi umum di Bali hadir dengan perbandingan sederhana, 30 tahun yang lalu, seorang kakek di selatan kaki Gunung Agung bisa dengan mudah berangkat menengok cucunya yang ada di Denpasar dengan biaya yang terjangkau. Hari ini seorang kakek untuk menengok cucunya perlu me-rentcar sebuah mobil dengan harga 300-500 ribu (Nanti akan saya lanjutkan pada tulisan lain).

Menjadi berita duka karena, jika sarana transportasi umum di Bali selatan aja bisa bangkrut, maka transportasi ekonomis, mudah, aman dan nyaman tidak akan pernah bisa dinikmati oleh warga Bali bagian lain.

Alasan pemberhentian operasional TMD ternyata akibat Pemerintah Pusat tidak lagi mengalokasikan subsidi untuk operasional TMD.

Dari situasi TMD kemudian saya dan mungkin kita harus belajar, bagaimana pemerintah pusat memandang daerah.

Dengan sederhana kita semua akan paham bahwasanya kebutuhan akan berkembang, dari kebutuhan dasar (makan-minum), lalu kemudian pakaian, terus berkembang fasilitas kesehatan dan hari ini fasilitas transportasi.

Kebutuhan kita semua berkembang, demikian juga penyediaan yang harus disediakan oleh pemerintah sebagai unit yang dipercaya untuk mengelola dan penyelenggara negara.

Dan transportasi umum adalah kebutuhan hari ini.

Pertanyaannya dasarnya kemudian kenapa TMD itu dihadirkan di Bali? Ini menjadi pertanyaan, sama kemudian seperti pertanyaan kenapa TRANS SARBAGITA raib? 

Saya hanya warga yang hendak bertanya, apakah transportasi publik di Bali dibangun atas dasar proyek dan amal?

Maaf, saya merasa ada nuansa itu, bagaimana kehadiran dan hilangnya trans sarbagita, kemudian berlanjut dengan kemunculan Trans Metro Dewata, dan harus hilang karena penganggaran. Dari pemutusan anggaran untuk TMD, membuat saya berasumsi, maaf atas asumsi saya, jika TMD hanya sebuah program uji coba, bukan sebuah bangunan alternatif transportasi umum bagi Bali.

Sebagai yang kebetulan lahir dan bertumbuh di pulau bernama Bali, saya merasa muak dengan bangunan menjadikan Bali sebagai ruang eksperimen.

Kenapa muak?

Sederhana, kami hanya warga pulau kecil dengan kerentanan kepulauan yang harus kami hadapi sebagai warga kepulauan. Kerentanan dan keterbatasan itu tentu tidak akan dirasakan oleh orang-orang yang hidup di pulau besar.

“Bali ini masih menjadi top of mind untuk pariwisata Indonesia. 50% revenue kita dari Bali, dari devisa yang kita dapat sekitar US$ 20 miliar setahun. By the way pariwisata penyumbang devisa terbesar nomor dua setelah migas,” pernyataan yang diungkapkan Sandiaga Uno yang dikutip dari pemberitaan CNBC Indonesia. https://www.cnbcindonesia.com/news/20211222193439-4-301297/sandi-uno-bali-penyumbang-devisa-terbesar-di-pariwisata-ri/amp

Pemberitaan ini pada tahun 2021, masih pada periode pandemik. Sebelum dan pasca pandemik seperti apa sebenarnya kontribusi Bali bagi pendapatan devisa negara?

Hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Sementara yang akan kami tahu hanya bagaimana bertahan melestarikan kebudayaan dan alam demi bisa terus mengumpulkan dolar untuk disetorkan ke pusat.  Dan hanya itu yang berhak dan boleh kami tahu.

Dan awal tahun ini kami harus menelan kenyataan pahit, TMD, Trans Metro Dewata, harus mati karena pemeritah pusat tidak menganggarkan pendanaan dalam APBN 2025.

Sekali lagi pertanyaan muncul, untuk apa sebenarnya TMD dihadirkan? Apakah sebagai rancang bangun trasportasi umum di Bali? Atau sekedar proyek eksperimen, amal?

Sistem transportasi publik seharusnya menjadi tanggung jawab negara, sebagai upaya menghadirkan sarana transportasi inklusif, menghadirkan sarana untuk setiap warga bisa berpindah dari satu titik ke titik yang lain. Hal ini penting karena kebutuhan warga berkembang dan terus berkembang. Bangunan sistem transportasi akan menjadi kebutuhan dalam bangunan kehidupan hari ini.

Transportasi publik, seperti TMD merupakan layanan transportasi yang selayaknya ada di setiap kota dan disediakan serta diselenggarakan oleh pemerintah,  sebagai sebuah layanan publik, untung dan rugi harus dimusnahkan. 

Bali selatan, SARBAGITA (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan) sedang dihadapkan pada persoalan kemacetan. Lompatan kepadatan, dari lengangnya jalanan ketika pandemik, melenting ke berjubelnya kendaraan ketika pandemik dinyatakan telah usai. Dalam situasi seperti ini sebuah sistem layanan transportasi umum menjadi sangat dibutuhkan untuk dibangun. Hal ini dibutuhkan untuk memberikan pilihan bagi warga dalam memilih sarana transportasi dalam beraktifitas. Tanpa layanan transportasi umum, pilihan tranportasi di Bali hanya dua, kendaraan pribadi atau ojek online.

Apakah ini adalah tanggung jawab pemerintah Provinsi Bali?

Jika menelisik bagaimana Bali menyumbang devisa ke negara, seharusnya persoalan kemacetan dan sistem layanan transportasi umum juga menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. Dan sekali lagi, transportasi umum adalah layanan yang wajib disediakan oleh penyelenggara negara, bukan unit bisnis dengan logika untung rugi yang menjadikan warga sebagai objek meraup keuntungan.

Jika karena pemanfaatan TMD tidak seperti yang diharapkan, penggunanya belum banyak,  bukan berarti bisa dimatikan begitu saja. Dimatikan dalam bentuk pemberhentian penganggaran. Jika menggunakan logika yang sama, warga mana yang akan menggunakan ibu kota baru? Lalu kenapa APBN dihabiskan untuk membuat IKN, seharusnya juga dihentikan saja. Seperti memberhentikan keberpihakan anggaran pada TMD.

Alih-alih mengevaluasi bangunan layanan TMD, untuk menacari tahu kenapa pemanfaatan TMD belum optimal. Yang kemudian diikuti dengan meningkatan bangunan layanan dengan mengembangkan sistem pengumpan dengan angkutan-angkutan yang lebih kecil sehingga jangkauan layanan trasportasi bisa lebih luas serta mengembalikan terminal-terminal lama yang selama ini telah beralih fungsi manjadi pasar senggol.

Keberadaan pengumpan yang kian dekat dengan warga tentu bisa merangsang pemanfaatan TMD sebagai bangunan layanan trasportasi utama.

Namun sungguh disayangkan, daripada mengevaluasi diri untuk meningkatkan layanan, Pemerintah Pusat lebih memilih pemberhentian subsidai TMD dari APBN. Situasi ini seharusnya bisa membuat Bali belajar, bahwasanya Bali hanya sebuah butiran debu dan tidak usah terlalu jumawa dan ngoyo mengumpulkan devisa, membayar upeti. Jika pada akhirnya, Bali harus menanggung dan bertahan sendiri ditengah gempuran ekstraksi pariwisata yang salah satu akibatnya adalah kemacetan.

Dan sudah selayaknya Bali mulai mempertanyakan setiap kemurahan hari yang dihadirkan pemerintah pusat atas nama “demi kemajuan Bali”, mempertanyakan dengan pertanyaan apakah proyek ni untuk Bali atau untuk mereka? Apakah untuk warga Bali atau untuk devisa negara?

Jalan tol Gilimanuk-Mengwi, proyek kereta, bandara baru, pelabuhan dan lain sebagainya, apakah proyek besar itu untuk Bali atau untuk devisa dan Bali hanya ngunuh (mengumpulkan ceceran padi yang tertinggal sisa panen) atau bahkanmengemis remah-remah rengginang.

Jika mengelola bus saja tidak becus, bagaimana dengan kereta, bandara, pelabuhan? Oh iya, mengelola bandara, kereta dan pelabuhan tentu lebih mudah karena itu untuk turis, bukan untuk warga lokal yang ingin berangkat kerja dari Denpasar menuju Jimbaran. Atau berangkat ke rumah sakit untuk berobat dari Tabanan atau Gianyar.

Karena transportasi yang dibangun hendaknya membawa keuntungan dan keuntungan akan didatangkan dari turis, jadi setiap layanan adalah untuk menjamu para tamu. Sementara warga Bali, sudah bisa dan terbiasa melakukan mobilisasi sendiri dan mandiri, jadi tidak butuh layanan trasportasi umum. Lagi pula semakin banyak kendaraan semakin besar pajak yang disetorkan dan bisa dikumpulkan.

Jadi Bali harus sadar diri. Bali hanya sebuah pulau kecil di tengah hempasan ombak pantai selatan dan gempuran pembangunan industri ekstraktif pariwisata.

Sementara elit Bali, yang terpilih dari pesta demokrasi seolah tidak memiliki taring untuk menuntut. Puputan hanya romantisme masa lalu yang dibicarakan dan dirayakan setiap tahun, sementara elit memilih melobi. Melobi pemerintah pusat. Lobi-melobi, dengar kata-kata itu  berasa kembali ke jaman kolonial, ketika elit manjadi kolaborator kompeni untuk menyengsarakan warganya.

Tahun 2025 telah membawa kabar duka, Bali tidak lagi memiliki layanan trasportsi umum, tidak lagi memiliki TEMAN (Transportasi Ekonomis, Mudah, Aman dan Nyaman) Bus. Bali kehilangan TMD.

Sementara itu, pemerintah di tahun 2025 menargetkan 6,6 juta kunjungan wisatawan mancanegara dan 10,8 juta wisatawan domestik. .(https://www.rri.co.id/wisata/1231802/proyeksi-pariwisata-bali-tahun-2025).

Akan ada sekitar 16 juta manusia yang harus dijamu dan dilayani oleh penduduk yang hanya 4 juta. Dan tentu saja akan berdesakan di Bali Selatan (SARBAGITA).

Jadi selamat datang 2025, selamat datang di Bali, selamat berdesakan, pastikan anda bisa mengemudikan kendaraan pribadi atau merogoh kecek untuk aplikasi tranpostasi online milik bohir yang kian kaya. Pemerintah pusat telah memberi pilihan, naik kendaraan pribadi atau ojek online. Itulah pillihan yang ada di Bali, tidak lebih dan tidak kurang. Setidaknya masih ada pilihan, setidaknya mereka masih memberikan pilihan untuk kita secara mandiri mengusahakan mobilisasi kita tanpa bergantung pada pemerintah. Karena bagi mereka, TMD sebagai TEMAN (Transportasi Ekonomis, Mudah, Aman dan Nyaman) tidak menguntungkan dan menghabis-habiskan APBN.

Selamat datang di Bali, dan Bali selamat datang di 2025.

***

Dan jika hari ini kami turun di Bandara Ngurah Rai yang megah, percakapan akan berubah.

“Apakah kamu ada Rp. 200.000?”

“Untuk apa?” kataku.

“Transport dari bandara ke rumah!”

Dan kami akan terdiam, melangkah dengan ransel di punggung. Sambil berkecamuk, 200.000 bisa untuk makan 3 hari. [T]

Mempercakapkan Transportasi Publik di Bali – Sebuah Percakapan yang Agak Sia-sia…
Metamorfosis Moda Transportasi Laut Nusa Penida: Dari Perahu Meolah, Bermesin, hingga Fast Boat
Pariwisata Nusa Penida Menggeliat, Bisnis Jasa Transportasi Fast Boat Kian Kompetitif
Canggu, Masa Depan Bali
Tags: baliTrans Metro Dewatatransportasitransportasi publik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BUMDes Bondalem Kembangkan “Eco Dive”, Biar Turis Bisa Menonton Keindahan Biota Laut di Kedalaman

Next Post

Konformitas Orang Baduy dalam Penampilan

Lanang Taji

Lanang Taji

Part time citizen, full time netizen. tukang tulis di I NI timpalkopi

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Kelecung ”Eco Village” Tabanan: Menjawab Keresahan Gempuran Investor

Konformitas Orang Baduy dalam Penampilan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co