2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mempercakapkan Transportasi Publik di Bali – Sebuah Percakapan yang Agak Sia-sia…

Yoyo Raharyo by Yoyo Raharyo
February 2, 2018
in Esai

Ilustrasi diolah dari google

WAWAN bingung dengan pernyataan Gubernur. Katanya, Trans Sarbagita sepi karena orang Bali gengsi naik angkutan umum, termasuk Trans Sarbagita*. Mereka dinilai lebih suka naik sepeda motor atau mobil pribadi. Akibatnya, Trans Sarbagita yang sudah berjalan enam tahun tetap sepi.

Angkutan umum massal ini diadakan pemerintah provinsi dan empat kabupaten/kota yang saling bertetangga di Bali Selatan: Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan. Tujuannya baik, memecah kemacetan, mengurangi pemakaian bahan bakar, polusi, dan lebih penting: demi keamanan dan kenyamanan 60 persen penduduk pulau.

“Ini pernyataan ngaco. Seperti omongan orang baru bangun tidur yang belum genap kesadarannya,” gerutu Wawan saat duduk-duduk sambil minum kopi dan sarapan pisang goreng di teras rumah. Pagi, sebelum berangkat kerja. Dia menggerutu tak karuan setelah membaca berita utama di koran, pagi itu.

Ratna, sang istri yang duduk di sampingnya, hanya mencoba menengahi. Sang istri enggan memeruncing masalah. “Tapi, memang benar kita lebih enak naik sepeda motor ketimbang naik Trans Sarbagita kan?” kata Ratna kemudian.

“Bukan lebih enak,” sergahnya. “Kita naik sepeda motor karena ini pilihan yang mungkin. Ini yang tersedia. Kalau naik Trans Sarbagita, gak bakal sampai kantor!” sergah Wawan.

Wawan dan Ratna, pasangan suami istri, bekerja di Denpasar, sebuah kota jasa, ibu kota provinsi. Arus modal memang paling banyak di kota itu ketimbang kota-kota lain di provinsi kecil ini yang menjadi tujuan wisata dunia. Maka, tak heran, pekerjaan lebih banyak tersedia di Denpasar, ketimbang kota-kota tetangganya.

Karena itu pula, harga rumah, maupun sewa rumah cukup mahal di Denpasar. Pasangan kelas menengah yang bekerja di usaha jasa kesehatan dan jasa pariwisata itu memilih tinggal di Tabanan, kota di 30 kilometer barat Denpasar, yang wilayahnya masih sebagai daerah pertanian. Harga tanah atau perumahan pun tergolong murah. Bisa setengah harga di Denpasar.

“Kalau kita cukup punya uang…” lanjut Wawan. “Tentu kita lebih memilih untuk beli rumah di Denpasar. Ngapain kita tinggal di Tabanan ini. Sudah jauh, sepi pula. Hiburan jarang ada. Taman kota yang layak pun tak punya. Tak demikian di Denpasar.”

“Untungnya…” sang istri menyahut. “Kita tak banyak pengeluaran untuk hiburan yang macam-macam banyaknya itu. Kita juga tak perlu mengikuti gaya hidup perkotaan. Dengan begitu, kita bisa berhemat.”

Tabanan memang menjadi pilihan bagi kalangan kelas menengah yang tak kuat bertarung untuk berebut tempat tinggal di Denpasar. Banyak kaum pekerja memilih membeli rumah di Tabanan ketimbang terus mengontrak rumah atau indekos di Denpasar. Daripada uang gajian habis, setiap tahun pun selalu bingung mencari uang perpanjangan kontrakan rumah. Tabanan pun menjadi pilihan yang mungkin. Mimpi memiliki rumah sendiri, bagi kelas menengah perkotaan yang baru tumbuh bisa menjadi kenyataan di Tabanan, meski dengan segala keterbatasannya. Termasuk keterbatasan akan angkutan publik.

Sejak sejumlah industri mobil dan sepeda motor memproduksi secara massal dengan ditunjang aliran modal internasional ke sejumlah lembaga pemberi kredit atau leasing, penjualan keduanya kian tak terbendung ke seantero negeri. Tak terkecuali di Provinsi Bali. Berbagai kemudahan kredit kendaraan bermotor, menjadi cara jitu memasarkan produk yang dulu hanyalah sebagai barang mewah.

Perlahan, dalam waktu bersamaan, angkutan umum yang merajai jalanan, baik di perkotaan maupun pedesaan pada era 1990-an ke bawah, ditinggal penumpang yang telah beralih ke kendaraan pribadi, terutama sepeda motor. Mobil pribadi juga, meski tak sebanyak sepeda motor, tentunya.

Setiap tahun, jumlah kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor, bertambah 10 persen. Berkebalikan dengan jumlah angkutan umum yang tak kunjung bertambah, justru cenderung berkurang. Yang bertahan pun sepi penumpang, dengan load factor kurang dari 3 persen. Artinya, dari kemampuan angkot mengangkut 10, jumlah penumpang yang ada kurang dari 3.

“Inilah pelajaran dari kapitalisme!” kata Wawan tiba-tiba.

“Ngapain kapitalisme kau seret-seret juga dalam perkara ini? Jangan mengacau!” Ratna memelototi suaminya.

“Lho, yang diajarkan kapitalisme itu kan semakin individual, artinya semakin baik. Ketika kebutuhan setiap orang bisa dipenuhi menjadi milik masing-masing individu, itu baik bagi modal. Industri kendaraan bermotor pribadi bisa meraup untung. Ia bisa beranak pinak. Individulisme itu bisa jadi sumber kekayaan.”

“Tapi dengan mudahnya kita memiliki sepeda motor kan memudahkan kita untuk ke mana saja.” tanggap Ratna.

“Ya, semudah itu pula nyawa kita melayang. Di Bali ini, setiap dua hari sekali tiga orang meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas. Dan sebagian besarnya pengendara sepeda motor,” katanya melanjutnya. “Sekarang kita tak punya pilihan. Sepeda motor atau mobil pribadi yang paling mungkin untuk kita berpindah tempat.”

“Kita masih bisa kok pakai angkot atau Trans Sarbagita.”

“Sampai hari ini, itu masih sulit. Contoh saja yang kita rasakan. Dari rumah ke tempat kerja, angkot tidak mesti melintas di jalan raya, 400 meter dari rumah kita. Kalau pun datang, kita nggak tahu berapa menit sekali melintas. Lalu, Trans Sarbagita, masih sering tidak tepat waktu. Dan yang terpenting lagi, Trans Sarbagita tak melewati tempat kita bekerja, juga tak ada jalur angkutan lain untuk sampai di kantor.”

Wawan mengambil sepotong pisang goreng terakhir, lalu menyeruput kopi hitam pahit kesukaannya. Sang istri tak suka kopi. Ratna telah menyeduh teh manis hangat dan menyeruputnya.

“Berarti Trans Sarbagita gagal dong!?” kata Ratna kemudian. “Kalau begitu, lebih baik dibubarkan saja. Apalagi menghabiskan anggaran banyak.”

Sedikit menarik nafas, Wawan membantah. “Bukan itu solusinya. Kewajiban pemerintah harus ditunaikan dulu. Dari 17 jalur utama Trans Sarbagita, sudah enam tahun ini baru tiga yang beroperasi. Mestinya, 17 jalur utama itu dulu yang disediakan.”

“O, begitu.” Ratna menarik napas.

“Tak cukup itu saja,” lanjut Wawan. “Angkutan pengumpan yang melintas di jalur-jalur desa dan perkotaan juga harus disediakan dalam waktu bersamaan. Ini tanggungjawab pemerintah kabupaten dan kota. Agar terhubung antara permukiman, pasar, pusat perbelanjaan, kantor, dan pelayanan publik lainnya. Juga terhubung antar wilayah kabupaten dan kota. Intinya, tidak ada titik pun yang tidak terlintasi angkutan publik ini.”

“Ya kalau begitu bagus. Kita nggak perlu naik sepeda motor lagi untuk berangkat dan pulang kerja.”

“Belum. Harga tiket Trans Sarbagita harus dibuat murah. Bila perlu, dalam beberapa tahun awal digratiskan dulu. Dan jeda antar kendaraan dibuat pendek, agar tak lama menunggu, dan mesti tepat waktu. Semua fasilitas yang terkait juga harus tersedia dengan baik. Salah satunya halte, dan lainnya.”

“Terlalu ideal.” Ratna menopang dagu pura-pura berpikir.

“Ya, wajar dong. Pemerintah juga ingin kita selalu ideal. Membuat peraturan ideal yang bisa memaksa kita tepat waktu bayar pajak. Telat, kita kena denda. Apakah kopi dan gula serta air yang kita minum pagi ini tidak dengan bayar pajak?”

Sinar matahari mulai menyusup di sela-sela pepohonan, mengenai beranda rumah. Wawan dan Ratna pun tersadar, sudah tiba waktu berangkat kerja.

“Di tempat kerja, dan sepulang kerja, kita bicarakan ini lagi dengan kawan-kawan dan tetangga kita. Kita perlu buat surat kepada gubernur dan wakil rakyat kita untuk memenuhi kebutuhan akan transportasi publik. Bila tak terpenuhi, kita bisa berdemonstrasi.”

“Ya, nanti kita bicarakan lagi. Sudah waktunya kita kerja.”

Mengendarai sepeda motor lagi, berboncengan menuju tempat kerja masing-masing. Setiap hari, lalu lintas cukup padat. Dan di Denpasar, macet menjadi hal biasa. Sepanjang perjalanan, hanya kendaraan pribadi yang mendominasi. Seperti biasa, Wawan mengantarkan lebih dulu Ratna ke tempat kerjanya, yang tak jauh dari tempatnya bekerja. (T)

Tabanan, 3 Juli 2017

*) Sarbagita adalah akronim dari Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan. Trans Sarbagita merupakan transportasi publik yang diinisiasi Pemerintah Provinsi Bali dan empat kabupaten di Bali selatan untuk melayani warga di empat wilayah tersebut.

Tags: BadungbalidenpasarGianyartabanantransportasi
Share14TweetSendShareSend
Previous Post

“Dag Dig Dug” Sebelum Main “HP” – Curhat Kecil Aktris Monolog Pemula

Next Post

“Wahai Sekolah, Kini Aku Takut Padamu!”

Yoyo Raharyo

Yoyo Raharyo

Wartawan dan penulis esai yang belakangan berminat nulis fiksi yang diolah dari kisah-kisah nyata. Tinggal di Bali

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post

“Wahai Sekolah, Kini Aku Takut Padamu!”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co