25 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Metamorfosis Moda Transportasi Laut Nusa Penida: Dari Perahu Meolah, Bermesin, hingga Fast Boat

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
June 5, 2020
in Opini
Metamorfosis Moda Transportasi Laut Nusa Penida: Dari Perahu Meolah, Bermesin, hingga Fast Boat

Celebrity, Salah Satu Perahu bermotor (jukung) Khusus Penumpang. Sumber foto: objekwisatanusapenida.blogspot.com

Apa jadinya jika Nusa Penida (NP), Kabupaten Klungkung, Bali, tanpa moda transportasi laut? Wah, bisa jadi masyarakat NP akan statis. Kalau toh berkembang, tentu gerakannya lamban. Sebagai wilayah kepulauan, NP memang sangat tergantung dengan transportasi laut. Lewat moda transportasi inilah, masyarakat NP dapat menjalin kontak (hubungan) dengan dunia luar, menuju masyarakat yang dinamis dan modern. Karena itu, keberadaan moda transportasi laut ini sudah ada sejak dahulu kala dan terus mengalami “metamorfosis”—dari perahu meolah (tanpa mesin), perahu bermotor (mesin tempel) hingga fast boat modern seperti sekarang.

Era moda transportasi laut perahu meolah (didayung) adalah generasi ketika ayah saya masih remaja ke bawah (tahun 1970-an). Ia menuturkan bahwa perahu zaman itu ukurannya lebih kecil. Kapasitas penumpang berkisar 40-50 penumpang. Bahan dasarnya terbuat dari kayu, berisikan 3 awak perahu, 2 tukang dayung (meolah) dan 1 lagi mengendalikan pancer (mengarahkan laju perahu)dan sekaligus tali bidak (layar).Mereka adalah awak yang kuat, perkasa dan ahli atau handal memahami kondisi air laut (istilah di kampung saya “manda yeh pasih”).

Karena itu, tidak setiap hari ada penyeberangan. Aktivitas penyeberangan sangat tergantung dengan kondisi air laut (cuaca). Meskipun demikian, tetap saja zaman meolah riskan dengan musibah “kampih” (terdampar). Pernah suatu hari, ayah saya menyeberang dari Kusamba sekitar pukul 13.00 menuju Nusa Gede. Karena terjadi transisi air laut (dari pasang ke surut), kondisi arus menjadi sangat kuat. Perahu yang ditumpangi oleh ayah saya terdampar ke Nusa Lembongan. Sambil menunggu kondisi air membaik, ia baru menyeberang ke Nusa Gede dan tiba sekitar pukul 01.00 dini hari. Padahal, perjalanan normal (waktu itu) dari NP ke Kusamba kurang lebih 5-6 jam.

Model perahu (jukung) meolah merupakan penyempurnaan dari jukung-jukung sebelumnya. Dalam penelitiannya yang berjudul Penjara di Tengah Samudra, Studi tentang Nusa Penida sebagai Pulau Buangan, Sidemen (1984) pernah menyinggung tentang transportasi laut NP zaman dulu (kerajaan). Ia memaparkan bahwa transportasi untuk menyeberang dari NP ke Kusamba berupa jukung kecil (2-3 awak) dengan “jerupi” (dinding tambahan pada bibir jukung agar terhindar dari semburan air) yang dibuat dari daun kelapa dianyam dengan menggunakan layar dari bahan kaping. Jarak antara NP dengan pelabuhan kerajaan Klungkung (dari bandar Mentigi ke Kusamba), lebih kurang 18 km.

Moda transportasi perahu meolah tentumenyebabkan kontak (perdagangan, budaya, dsb) dengan dunia luar (Bali daratan) menjadi sangat terbatas. Situasi ini menyebabkan dunia transportasi laut NP terus mengevaluasi dan menyempurnakan diri. Di penghujung tahun 1970-an, dunia transportasi laut NP mulai mengenal dan menggunakan mesin tempel pada perahu mereka. Dunia transportasi laut NP mengenal mesin tempel tersebut, setelah ditemukan kurang lebih satu abad (sebelumnya) oleh Sir Dugald Clerk (1881). Mesin 2-Tak ciptaannya ini semula terbatas pada mesin gergaji dan mesin tempel perahu (https://www.motorplus-online.com/). Dibandingkan mesin 4-Tak, mesin 2-Tak punya ciri khas bersuara lebih berisik dan mengeluarkan asap karena pembakaran oli samping.

Saya termasuk generasi tahun 1980-an. Generasi dengan moda transportasi perahu (jukung) bermotor. Saya menjejakkan kaki pertama kali di Bali daratan tahun 1994, melalui pelabuhan tradisional di Kusamba. Waktu itu, perahu sudah bermesin dua. Awalnya, perahu bermesin satu (dengan PK yang relatif lebih kecil).

Perahu yang saya kenal tidak lagi seperti murni tubuh jukung, tetapi desainnya mirip sampan. Hanya saja, bodinya tetap menggunakan 4-6 cadik (seperti kaki kepiting) dan 2 kantih (terbuat dari bambu besar, panjang, berfungsi sebagai penyeimbang, penopang bodi perahu). Faktor inilah yang menyebabkan perahu dapat mengangkut muatan hingga mencapai ton-an. Selain itu, daya tempuh menjadi lebih singkat. Dari NP ke Kusamba, dapat ditempuh kurang lebih 50-60 menit. Sedangkan, dari NP ke Sanur menghabiskan waktu kurang lebih 2,5-3 jam.

Era perahu bermotor, trip penyeberangan (hampir semua) hanya sekali dalam sehari. Pagi (sekitar pukul 08.00) berangkat dari NP. Sore harinya (sekitar pukul 14.00-15.00), balik menuju NP. Meskipun tergolong cukup modern (bermesin), layanan era perahu bermotor tetap dirasakan kurang maksimal.

Servis Era Perahu Bermotor

Ada beberapa kekurangan penggunakan jasa perahu (jukung) bermotor. Pertama, segi keamanan dirasakan kurang maksimal. Hal ini paling dirasakan terutama oleh penumpang yang berlabuh di Kusamba (Klungkung)—di Sanur relatif lebih aman. Detik-detik berlabuh dan bongkar muat barang menjadi ancaman. Pasalnya, ombak di sepanjang Pantai Kusamba besar dan ganas. Di tambah lagi, para kru penarik tali jukung (untuk berlabuh) yang agak lambat di Klungkung daratan. Persoalan ini sering dikeluhkan oleh hampir seluruh penumpang asal NP.

Detik-detik turun di pasir Kusamba adalah momen yang cukup mengerikan. Karena itu, dibutuhkan kehatian-hatian dan arahan dari awak perahu. Salah sedikit, maka ombak dapat menggulung tubuh penumpang. Ini pernah dialami oleh teman saya ketika saya SMA di Klungkung daratan. Beruntung, Tuhan masih memanjangkan umurnya. Setelah beberapa detik tenggelam, dia dapat diselamatkan oleh awak perahu.

Naik perahu bermotor paling tidak nyaman ketika musim cuaca kurang baik (misalnya angin kencang, arus kuat, gelombang tinggi). Biasanya bulan Juli-Agustus. Risikonya, penumpang basah kuyup dihantam air laut, hanyut, “ngambang tai” (perahu dipenuhi air laut tapi tidak tenggalam ke dasar laut), bahkan tenggelam.

Saya teringat tahun 1997 (saya kelas 2 SMU di Semarapura), ketika ayah saya harus kembali ke kost sekitar pukul 19.00 (petang). Ia hendak balik ke NP sekitar pukul 14.30, lewat Kusamba. Nasib sial menimpa ayah saya. Ketika perahu siap-siap berangkat, hujan turun dengan lebat. Namun, bendega (awak jukung) tetap nekat menyeberang. Tanpa dilengkapi IT pelayaran, mereka akhirnya terdampar di Pantai Lebih, Gianyar—setelah kurang lebih 3 jam terombang-ambing di laut. Beruntung, bahan bakar masih tersisa. Akhirnya, bendega kembali mengarahkan perahu ke timur, menuju Kusamba, dengan menyisir pinggir pantai. Dan saya kaget ketika ayah saya balik ke kost dalam kondisi basah kuyup.

Beberapa tahun kemudian, sekitar tahun 2001 (saya mahasiswa semester 7 di STKIP Singaraja), giliran saya tertimpa musibah. Saya hendak pulang kampung karena momen Galungan, dengan naik perahu di Kusamba. Cuaca hari itu memang kurang bersahabat. Dari naik hingga hendak berangkat, ombak besar di Pantai Kusamba terus menghantam perahu yang saya tumpangi.

Begitu tali manggar dilepas, perahu berjalan hanya beberapa meter. Tiba-tiba kedua mesinnya mati. Awak perahu bekerja keras menghidupkan mesin, namun tak membuahkan hasil. Dalam sekejap, perahu diseret ke pinggir pantai dan berada pada posisi ngandang (moncong perahu tidak menghadap ke laut). Posisi yang sangat berbahaya, karena memudahkan ombak menggulung perahu.

Seluruh penumpang, yang jumlahnya tidak banyak (sekitar 30 orang) menjerit panik. Dalam situasi kalut, saya dan beberapa penumpang langsung melompat ke pasir menunggu momen pecahan ombak bergerak kembali ke laut. Astungkara, kami selamat semua dan tetap nekat menyeberang lagi ketika kami dijemput oleh perahu yang lain.

Kedua, masalah disiplin waktu. Umumnya, waktu pemberangkatan perahu sering molor—meskipun sudah memiliki jadwal pemberangkatan baku. Perahu harus mengangkut penumpang sebanyak-banyaknya. Karena keberadaan jumlah perahu sangat terbatas (minim persaingan). Dalam konteks inilah tidak berlaku prinsip bahwa penumpang adalah raja. Sebaliknya, awak perahu adalah raja.

Ketiga, etika pelayanan masih kurang baik. Tak jarang, penumpang “didamprat” oleh awak perahu ketika berperilaku tidak sesuai keinginan mereka. Keluhan ini paling umum  dialami oleh penumpang tujuan NP ke Sanur. Sekali lagi, mungkin berkaitan dengan awak perahu adalah raja.

Keempat, ongkos naik-turun barang di luar tanggung jawab perusahaan perahu. Naik-turun barang penumpang diangkut oleh tukang suun/ tegen (tukang angkut). Penumpang harus membayar lagi ongkos kepada tukang angkut. Rata-rata Rp 5.000 per sekali angkut. Di Sanur lebih mahal lagi yaitu berkisar Rp 5.000-Rp10.000. Tidak ada standar harga. Intinya, harga diciptakan dan dikendalikan sewaktu-waktu sesuai selera tukang angkut.

Kelima, kurang nyaman dan higienis. Perahu bermotor umumnya bukan transportasi murni untuk penumpang, tetapi sejatinya untuk mengangkut barang. Karena itu, sudah biasa jika penumpang berbaur dan menyatu dengan bahan bangunan, sembako, dan termasuk hewan ternak. Penumpang terbiasa berbaur dengan ayam, bebek, dan lain-lainnya. Sambil menikmati desir angin laut, sesekali menikmati aroma hewan yang tak sedap.

Setidaknya, hingga tahun 2017, moda transportasi perahu bermotor mengalami kedigjayaan. Bahkan, ada perahu bermotor khusus untuk mengangkut penumpang saja, menggunakan mesin lebih dari 3, yang PK per mesinnya mencapai ratusan, sehingga daya tempuh NP-Klungkung hanya berkisar 30 menit. Namun, esensi servisnya tetap dianggap tradisional dan kurang memuaskan.

Memasuki tahun 2018, bisnis perahu bermotor (jukung) runtuh—semenjak menjamurnya moda transportasi fast boat (speed boat). Perahu bermotor (jukung) tak ubahnya seperti barang rongsokan. Sementara, grafik keberadaan fast boat (FB) melonjak tajam. Kasi Perkapalan Bidang Pelayaran Dinas Perhubungan (Dishub) Klungkung, Komang Sudirta, menyebutkan bahwa tahun 2004 jumlah FB (NP-Klungkung) semula hanya 2 unit. Namun, per tahun 2018 jumlah boat penyeberangan Klungkung daratan-NP tercatat sebanyak 10 boat. Sedangkan, penyeberangan Sanur (Denpasar-NP) mencapai 28 boat (www.nusabali.com).

Keberadaan FB yang sedemikian banyak itu, membuat bisnis moda transportasi laut menjadi sangat kompetitif. Masing-masing perusahaan FB berlomba-lomba memberikan pelayanan optimal kepada penumpang. Mereka (para pengusaha FB) menyadari bahwa penumpang adalah raja. Untuk menjunjung prinsip ini, para perusahaan FB memberikan servis nyata kepada penumpang.

Pertama, efisiensi waktu. Dengan desain bodi yang modern, bahan fiber, bermesin otomatis minimal 4 (PK per mesin di atas 200) menyebabkan kecepatannya dua kali lipat lebih dibandingkan dengan perahu bermotor (jukung). NP-Kusamba hanya ditempuh dalam waktu 18-20 menit, sedangkan NP-Sanur kurang lebih 40 menit.

Kedua, trip lebih banyak. Rata-rata perusahaan FB menyediakan 3 kali trip dalam sehari sehingga penumpang bisa memilih waktu perjalanan sesuai dengan yang dijadwalkan (bisa pagi, siang, sore). Para penumpang tidak perlu khawatir, karena perusahaan FB konsisten dengan jadwal pemberangkatan. Ada atau tidak penumpang, FB tetap jalan (konsisten) sesuai jadwal.

Ketiga, lebih aman dan nyaman. FB dirancang khusus untuk penumpang. Minim percaloan. Bersih. Staf dan awak FB yang ramah (bahkan ada perusahaan yang memberikan minum gratis kepada calon penumpang). Berisi penumpang maksimal sesuai kapasitas dan jaket pelampung. Selain itu, kapten FB dilengkapi dengan IT pelayaran. Kemudian, berlabuh (nyender) menggunakan fasilitas jembatan ponton (kecuali di Sanur). Pun barang bawaan penumpang semua menjadi tanggung jawab perusahaan FB. Perusahaan FB memiliki tukang angkut tersendiri.

Keempat, pemesanan tiket bisa melalui manual atau online. Calon penumpang bisa memesan tiket langsung di loket tiket. Bisa juga memesan lewat telepon (HP), melalui layanan WA, messenger, dan aplikasi khusus ticketing lainnya—untuk menghindari waktu antrian yang lama.

Dengan beberapa kelebihannya itu, moda FB menjadi tren dan idola di kalangan para penumpang baik penumpang biasa dan termasuk dari kalangan para wisatawan (asing/ domestik). Bahkan, kapal Roro Nusa Jaya Abadi yang beroperasi sejak tahun 2007 kurang diminati oleh masyrakat NP. Di samping lambat, rawan percaloan, juga membosankan ketika berlabuh di Padang Bay.

Bayangkan, kapal yang konon merugi setiap tahun ini bisa menghabiskan waktu hingga berjam-jam hanya untuk bersender, karena status pelabuhan adalah pinjaman. Karena itu, FB menjadi satu-satunya transportasi laut yang diburu oleh masyarakat dewasa ini. Filosofi penumpang sebagai raja, menyebabkan FB mengalami kejayaan. Bahkan, FB termasuk transportasi paket tour half/ one day trip ketika kunjungan membludak ke NP (sebelum pandemi covid-19). Artinya, layanan perusahaan FB dianggap lebih memuaskan dibandingkan dengan moda transportasi sebelumnya, sehingga (sekarang) wajar beberapa titik pelabuhan di NP dikuasai oleh transportasi FB. [T]

_____

BACA: Tulisan lain tentang Nusa Penida dari penulis Ketut Serawan

Tags: jukungNusa Penidatransportasi
Share358TweetSendShareSend
Previous Post

Jangan Menyerah pada Usia, Lakukanlah Segala Hal Semasih Bisa | Kabar dari Jepang

Next Post

Hati-Hati, Jangan “Mati” Karena Ekspektasi

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails
Next Post
Hati-Hati, Jangan “Mati” Karena Ekspektasi

Hati-Hati, Jangan “Mati” Karena Ekspektasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co