23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fenomena Pelari “Kalcer” : FOMO atau Kebutuhan?

Resya Nur Intan Putri by Resya Nur Intan Putri
January 15, 2025
in Esai
Fenomena Pelari “Kalcer” : FOMO atau Kebutuhan?

Resya Nur Intan Putri

MENJADI sebuah olahraga yang sedang hype akhir-akhir ini, membuat aktivitas berlari semakin banyak dilakukan oleh masyarakat. Banyak yang mengatakan lari adalah olahraga yang paling mudah dilakukan, karena cukup dengan menggunakan pakaian olahraga dan sepatu, kemudian ayunkan tubuh selama minimal 30 menit saja sudah mampu membakar ratusan kalori.

Perasaan bahagia dan satisfying yang ditimbulkan dari adanya aktivitas fisik ini juga merupakan sebuah reaksi dari tubuh kita yang berhasil memproduksi hormon endorfin. Hormon endorfin merupakan sebuahhormon yang diproduksi oleh tubuh untuk mengurangi stress, meredakan nyeri, dan meningkatkan perasaan bahagia. Selain mudah, lari juga dikatakan sebagai olahraga yang dikatakan murah karena tidak memerlukan tambahan alat lagi untuk melakukannya. Namun, benarkah lari adalah olahraga murah?

Secara teknis, lari memang tidak memerlukan tambahan alat dalam aktivitasnya. Hanya memerlukan pakaian olahraga dan sepatu yang tentunya tergolong sebagai perlengkapan “basic” dalam olahraga. Namun ternyata, terdapat sebuah istilah dalam dunia lari yang cukup familiar yaitu “kalcer”. Kalcer merujuk pada istilah “culture” yang artinya adalah budaya. Sehingga kalcer di sini dapat diartikan sebagai budaya atau kebiasaan tertentu yang terbentuk di sebuah kalangan untuk menampilkan dirinya dalam versi terbaik.

Sehingga, pelari kalcer dapat diartikan sebagai orang-orang yang berlari dengan penuh semangat dan antusias didukung dengan penggunaan perlengkapan dan aksesoris lari terbaru dan modis yang berasal dari brand-brand ternama. Bahkan, para pelari “kalcer” ini memang selalu membawa dirinya untuk  tampil stylish sembari mengutamakan fungsi dan kenyamanan saat berlari. Perlengkapan yang digunakan pun biasanya memiliki harga yang tidak main-main, karena biasanya berasal dari brand internasional terkemuka.

Lifestyle Pelari Kalcer

Para pelari kalcer ini biasanya rela merogoh kocek 3 juta – 5 juta rupiah untuk mengakomodir kebutuhan sepatu plat carbon, sebuah sepatu dengan teknologi karbon yang ditanam pada midsole untuk menghasilkan energy return yang lebih baik, sehingga mampu menciptakan efisiensi dalam aktivitas berlari. Belum lagi untuk smart watch yang digunakan rata-rata berkisar antara 3.5 juta – 19 juta, menyusul aksesoris lain, seperti jersey, topi, celana, legging, kacamata yang berkisar pada harga 200.000 – 2 juta, hingga headphone dengan teknologi bone conduction yang berkisar pada harga 500.000 – 3 juta.

Jika diakumulasi outfit from head to toe seorang pelari kalcer ini mampu bernilai belasan hingga puluhan juta rupiah. Maka dari itu, tidak heran seringkali muncul di sosial media tentang tren “Spill outfit lari kamu dong?” sehingga makin kalcer penampilan seorang pelari, makin banyak brand ternama yang melekat pada tubuhnya. Selain itu, pelari kalcer biasanya sangatlah aktif di sosial media yang kerap membagikan aktivitas berlarinya dengan beragam foto estetik dan pada akhirnya banyak dari mereka yang akhirnya menjadi selebrun-influencer lari.

Mereka juga kerap mengikuti beragam event-event lari dengan skala nasional tiap tahunnya, bahkan tak jarang ada juga yang mengikuti World Marathon Major-sebuah event lari akbar yang digelar di negara-negara tertentu yang sudah diakui kualitas dan kredibilitasnya. Untuk mengikuti event lari bergengsi seperti ini tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, namun tak dapat dipungkiri adanya kebutuhan akan eksistensi mengikuti acara semacam itu dapat menjadi motivasi terbaik bagi sebagian individu dalam menjalani hidupnya.

Peran Media Sosial

Media sosial memang berperan besar dalam membentuk pola perilaku pelari kalcer. Platform seperti Instagram dan Strava menjadi media utama untuk membagikan pencapaian jarak lari, waktu tempuh, hingga foto-foto estetik di lokasi populer.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Aryanto Nur dkk, bahwa aplikasi Strava terbukti sebagai platform yang mampu mendorong perilaku positif bagi penggunanya, baik dalam hal kebugaran fisik maupun gaya hidup sehat secara keseluruhan. Dengan kombinasi teknologi pelacakan canggih, dukungan komunitas yang kuat, dan fitur sosial yang mendorong keterlibatan, Strava menjadi media yang sangat baik untuk membantu pengguna mencapai dan mempertahankan tujuan mereka.

Sayangnya, bagi sebagian pelari yang sudah terlanjur terjun ke dalam lingkungan kalcer, tekanan untuk selalu tampil di acara-acara lari besar dan kewajiban untuk selalu posting aktivitas atau kegiatan yang mereka ikuti dapat menimbulkan dampak negatif, seperti rasa cemas berlebihan saat gagal mengikuti tren atau tidak mampu mencapai target lari tertentu. Hal ini tentunya dapat berujung pada perasaan negatif dan justru menghilangkan tujuan berolahraga yang sebenarnya.

Efek FOMO dalam Olahraga Lari

Fenomena pelari kalcer adalah cerminan kompleksitas kehidupan modern yang dipengaruhi oleh kebutuhan fisiologis dan sosial. Tentunya bukan menjadi sebuah hal yang salah jika seseorang memang mampu merogoh kocek fantastis untuk memenuhi hobi mereka, namun perlu dipertimbangkan kembali sebenarnya apakah esensi dari olahraga lari itu sendiri?

 Pada dasarnya, melakukan sebuah aktivitas olahraga menjadi hal yang sangat positif apabila memberikan dampak baik bagi pelakunya. Dengan adanya keinginan untuk memiliki pola hidup yang sehat dan aktif sangat cukup menjadikan seseorang mampu merubah gaya hidupnya ke arah yang lebih positif.

Maka dari itu, aktivitas berlari sebenarnya sangat mampu memotivasi seseorang untuk menjalani hidupnya dengan lebih baik dengan caratatan jangan sampai munculnya fenomena ini justru menjadikan perilaku individu mengarah ke konsumerisme yang diartikan sebagai sebuah gaya hidup yang ditandai dengan kebiasaan membeli barang dan jasa secara berlebihan untuk mendapatkan kepuasan dan status sosial.

Perspektif Teori Komunikasi

Fenomena ini memiliki ketertakitan erat dengan Teori Spiral Keheningan (Spiral of Silence) yang dikemukakan oleh Elisabeth Noelle-Neumann. Teori ini menjelaskan bagaimana individu cenderung menyesuaikan diri dengan opini mayoritas untuk menghindari isolasi sosial. Dalam teori ini, individu cenderung selalu berinteraksi dengan lingkungan sosial.

 Opini publik dilihat sebagai sebuah interaksi yang terbangun antara opini pribadi dengan opini yang berkembang dalam masyarakat, sehingga individu dilihat selalu menyesuaikan opini pribadinya dengan lingkungan sosial.  Dalam konteks fenomena pelari kalcer, media sosial dan lingkungan sosial menjadi penggerak opini mayoritas yang menciptakan norma bahwa lari adalah bagian dari gaya hidup yang harus diikuti. Sehingga makin banyak individu yang menjadikan aktivitas ini menjadi sebuah kebiasaan baru karena tingginya tingkat popularitas aktivitas tersebut ketika dibicarakan masyarakat.

Selain itu, Teori Konstruksi Realitas Sosial oleh Berger dan Luckmann menekankan bahwa sebuah realitas dibangun melalui interaksi sosial. Bagaimana masyarakat melihat “realitas objektif”, dan bagaimana seorang individu menggunakan “realitas subjektif” sebagai acuan identitasnya di masyarakat. Berdasarkan pernyataan tersebut, maka ketika media dan komunitas lari terus mempromosikan gaya hidup sehat dan menarik melalui olahraga lari, realitas ini dapat menjadi acuan bagi individu untuk menginternalisasi nilai-nilai tersebut. Akibatnya, mereka merasa perlu untuk berpartisipasi jika mereka ingin diterima secara sosial.

Jadi, apakah benar berlari adalah olahraga yang paling murah dan mudah? Semua itu dikembalikan ke pribadi masing-masing dalam mencapai tujuannya. Usahakan tujuan berolahraga itu memang untuk memberikan dampak yang positif pada tubuh terutama dalam meningkatkan kesehatan dan kebugaran, jangan sampai hanya sebatas takut ketinggalan tren atau takut tidak terlibat dalam aktivitas yang sedang populer.

 Yang terpenting adalah bagaimana kita dapat menciptakan keseimbangan dalam menjadikan lari sebagai aktivitas yang bermanfaat bagi tubuh dan pikiran, tanpa terjebak dalam tekanan sosial yang berlebihan

Referensi :

Eriyanto. 2012. Teori Spiral Kesunyian dan Negara Transisi Demokrasi : Sebuah Pengujian di Indonesia. Jurnal Komunikasi Indonesia, Volume 1 Nomor 1.

Karman. 2015. Konstruksi Realitas Sosial Sebagai Gerakan Pemikiran (Sebuah Telaah Teoretis Terhadap Konstruksi Realitas Peter L. Berger). Jurnal Penelitian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Volume 5 No. 3

Kembau, Agung Stefanus. Pelari Kalcer: Konsumerisme Olahraga. Kumparan Media: https://kumparan.com/agung-stefanus-kembau/pelari-kalcer-konsumerisme-olahraga-23KzTF9trvB/full Diakses pada 15 Januari 2024.

Nur, Aryanto dkk. 2024. Analisis Peranan Aplikasi Strava Terhadap Kegiatan Olahraga Lari Pagi. Kohesi : Jurnal Multidisiplin Saintek, Volume 4 No 11 Tahun 2024.

Bumerang Disrupsi Teknologi dan Informasi: Habis “FoMO”, Terbitlah “Doom Spending”
Dunia Maya atau Dunia Nyata? Tren Media Sosial 2025
Candu Media Sosial dan Kesehatan Mental
Tags: FOMOgaya hidupkesehatanmedia sosialolahraga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Melaka, Melihat Bangunan Tua, Laut dan Sungai, Saya Teringat Singaraja dan Pelabuhan Buleleng

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan

Resya Nur Intan Putri

Resya Nur Intan Putri

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co