2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fenomena Pelari “Kalcer” : FOMO atau Kebutuhan?

Resya Nur Intan Putri by Resya Nur Intan Putri
January 15, 2025
in Esai
Fenomena Pelari “Kalcer” : FOMO atau Kebutuhan?

Resya Nur Intan Putri

MENJADI sebuah olahraga yang sedang hype akhir-akhir ini, membuat aktivitas berlari semakin banyak dilakukan oleh masyarakat. Banyak yang mengatakan lari adalah olahraga yang paling mudah dilakukan, karena cukup dengan menggunakan pakaian olahraga dan sepatu, kemudian ayunkan tubuh selama minimal 30 menit saja sudah mampu membakar ratusan kalori.

Perasaan bahagia dan satisfying yang ditimbulkan dari adanya aktivitas fisik ini juga merupakan sebuah reaksi dari tubuh kita yang berhasil memproduksi hormon endorfin. Hormon endorfin merupakan sebuahhormon yang diproduksi oleh tubuh untuk mengurangi stress, meredakan nyeri, dan meningkatkan perasaan bahagia. Selain mudah, lari juga dikatakan sebagai olahraga yang dikatakan murah karena tidak memerlukan tambahan alat lagi untuk melakukannya. Namun, benarkah lari adalah olahraga murah?

Secara teknis, lari memang tidak memerlukan tambahan alat dalam aktivitasnya. Hanya memerlukan pakaian olahraga dan sepatu yang tentunya tergolong sebagai perlengkapan “basic” dalam olahraga. Namun ternyata, terdapat sebuah istilah dalam dunia lari yang cukup familiar yaitu “kalcer”. Kalcer merujuk pada istilah “culture” yang artinya adalah budaya. Sehingga kalcer di sini dapat diartikan sebagai budaya atau kebiasaan tertentu yang terbentuk di sebuah kalangan untuk menampilkan dirinya dalam versi terbaik.

Sehingga, pelari kalcer dapat diartikan sebagai orang-orang yang berlari dengan penuh semangat dan antusias didukung dengan penggunaan perlengkapan dan aksesoris lari terbaru dan modis yang berasal dari brand-brand ternama. Bahkan, para pelari “kalcer” ini memang selalu membawa dirinya untuk  tampil stylish sembari mengutamakan fungsi dan kenyamanan saat berlari. Perlengkapan yang digunakan pun biasanya memiliki harga yang tidak main-main, karena biasanya berasal dari brand internasional terkemuka.

Lifestyle Pelari Kalcer

Para pelari kalcer ini biasanya rela merogoh kocek 3 juta – 5 juta rupiah untuk mengakomodir kebutuhan sepatu plat carbon, sebuah sepatu dengan teknologi karbon yang ditanam pada midsole untuk menghasilkan energy return yang lebih baik, sehingga mampu menciptakan efisiensi dalam aktivitas berlari. Belum lagi untuk smart watch yang digunakan rata-rata berkisar antara 3.5 juta – 19 juta, menyusul aksesoris lain, seperti jersey, topi, celana, legging, kacamata yang berkisar pada harga 200.000 – 2 juta, hingga headphone dengan teknologi bone conduction yang berkisar pada harga 500.000 – 3 juta.

Jika diakumulasi outfit from head to toe seorang pelari kalcer ini mampu bernilai belasan hingga puluhan juta rupiah. Maka dari itu, tidak heran seringkali muncul di sosial media tentang tren “Spill outfit lari kamu dong?” sehingga makin kalcer penampilan seorang pelari, makin banyak brand ternama yang melekat pada tubuhnya. Selain itu, pelari kalcer biasanya sangatlah aktif di sosial media yang kerap membagikan aktivitas berlarinya dengan beragam foto estetik dan pada akhirnya banyak dari mereka yang akhirnya menjadi selebrun-influencer lari.

Mereka juga kerap mengikuti beragam event-event lari dengan skala nasional tiap tahunnya, bahkan tak jarang ada juga yang mengikuti World Marathon Major-sebuah event lari akbar yang digelar di negara-negara tertentu yang sudah diakui kualitas dan kredibilitasnya. Untuk mengikuti event lari bergengsi seperti ini tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, namun tak dapat dipungkiri adanya kebutuhan akan eksistensi mengikuti acara semacam itu dapat menjadi motivasi terbaik bagi sebagian individu dalam menjalani hidupnya.

Peran Media Sosial

Media sosial memang berperan besar dalam membentuk pola perilaku pelari kalcer. Platform seperti Instagram dan Strava menjadi media utama untuk membagikan pencapaian jarak lari, waktu tempuh, hingga foto-foto estetik di lokasi populer.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Aryanto Nur dkk, bahwa aplikasi Strava terbukti sebagai platform yang mampu mendorong perilaku positif bagi penggunanya, baik dalam hal kebugaran fisik maupun gaya hidup sehat secara keseluruhan. Dengan kombinasi teknologi pelacakan canggih, dukungan komunitas yang kuat, dan fitur sosial yang mendorong keterlibatan, Strava menjadi media yang sangat baik untuk membantu pengguna mencapai dan mempertahankan tujuan mereka.

Sayangnya, bagi sebagian pelari yang sudah terlanjur terjun ke dalam lingkungan kalcer, tekanan untuk selalu tampil di acara-acara lari besar dan kewajiban untuk selalu posting aktivitas atau kegiatan yang mereka ikuti dapat menimbulkan dampak negatif, seperti rasa cemas berlebihan saat gagal mengikuti tren atau tidak mampu mencapai target lari tertentu. Hal ini tentunya dapat berujung pada perasaan negatif dan justru menghilangkan tujuan berolahraga yang sebenarnya.

Efek FOMO dalam Olahraga Lari

Fenomena pelari kalcer adalah cerminan kompleksitas kehidupan modern yang dipengaruhi oleh kebutuhan fisiologis dan sosial. Tentunya bukan menjadi sebuah hal yang salah jika seseorang memang mampu merogoh kocek fantastis untuk memenuhi hobi mereka, namun perlu dipertimbangkan kembali sebenarnya apakah esensi dari olahraga lari itu sendiri?

 Pada dasarnya, melakukan sebuah aktivitas olahraga menjadi hal yang sangat positif apabila memberikan dampak baik bagi pelakunya. Dengan adanya keinginan untuk memiliki pola hidup yang sehat dan aktif sangat cukup menjadikan seseorang mampu merubah gaya hidupnya ke arah yang lebih positif.

Maka dari itu, aktivitas berlari sebenarnya sangat mampu memotivasi seseorang untuk menjalani hidupnya dengan lebih baik dengan caratatan jangan sampai munculnya fenomena ini justru menjadikan perilaku individu mengarah ke konsumerisme yang diartikan sebagai sebuah gaya hidup yang ditandai dengan kebiasaan membeli barang dan jasa secara berlebihan untuk mendapatkan kepuasan dan status sosial.

Perspektif Teori Komunikasi

Fenomena ini memiliki ketertakitan erat dengan Teori Spiral Keheningan (Spiral of Silence) yang dikemukakan oleh Elisabeth Noelle-Neumann. Teori ini menjelaskan bagaimana individu cenderung menyesuaikan diri dengan opini mayoritas untuk menghindari isolasi sosial. Dalam teori ini, individu cenderung selalu berinteraksi dengan lingkungan sosial.

 Opini publik dilihat sebagai sebuah interaksi yang terbangun antara opini pribadi dengan opini yang berkembang dalam masyarakat, sehingga individu dilihat selalu menyesuaikan opini pribadinya dengan lingkungan sosial.  Dalam konteks fenomena pelari kalcer, media sosial dan lingkungan sosial menjadi penggerak opini mayoritas yang menciptakan norma bahwa lari adalah bagian dari gaya hidup yang harus diikuti. Sehingga makin banyak individu yang menjadikan aktivitas ini menjadi sebuah kebiasaan baru karena tingginya tingkat popularitas aktivitas tersebut ketika dibicarakan masyarakat.

Selain itu, Teori Konstruksi Realitas Sosial oleh Berger dan Luckmann menekankan bahwa sebuah realitas dibangun melalui interaksi sosial. Bagaimana masyarakat melihat “realitas objektif”, dan bagaimana seorang individu menggunakan “realitas subjektif” sebagai acuan identitasnya di masyarakat. Berdasarkan pernyataan tersebut, maka ketika media dan komunitas lari terus mempromosikan gaya hidup sehat dan menarik melalui olahraga lari, realitas ini dapat menjadi acuan bagi individu untuk menginternalisasi nilai-nilai tersebut. Akibatnya, mereka merasa perlu untuk berpartisipasi jika mereka ingin diterima secara sosial.

Jadi, apakah benar berlari adalah olahraga yang paling murah dan mudah? Semua itu dikembalikan ke pribadi masing-masing dalam mencapai tujuannya. Usahakan tujuan berolahraga itu memang untuk memberikan dampak yang positif pada tubuh terutama dalam meningkatkan kesehatan dan kebugaran, jangan sampai hanya sebatas takut ketinggalan tren atau takut tidak terlibat dalam aktivitas yang sedang populer.

 Yang terpenting adalah bagaimana kita dapat menciptakan keseimbangan dalam menjadikan lari sebagai aktivitas yang bermanfaat bagi tubuh dan pikiran, tanpa terjebak dalam tekanan sosial yang berlebihan

Referensi :

Eriyanto. 2012. Teori Spiral Kesunyian dan Negara Transisi Demokrasi : Sebuah Pengujian di Indonesia. Jurnal Komunikasi Indonesia, Volume 1 Nomor 1.

Karman. 2015. Konstruksi Realitas Sosial Sebagai Gerakan Pemikiran (Sebuah Telaah Teoretis Terhadap Konstruksi Realitas Peter L. Berger). Jurnal Penelitian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Volume 5 No. 3

Kembau, Agung Stefanus. Pelari Kalcer: Konsumerisme Olahraga. Kumparan Media: https://kumparan.com/agung-stefanus-kembau/pelari-kalcer-konsumerisme-olahraga-23KzTF9trvB/full Diakses pada 15 Januari 2024.

Nur, Aryanto dkk. 2024. Analisis Peranan Aplikasi Strava Terhadap Kegiatan Olahraga Lari Pagi. Kohesi : Jurnal Multidisiplin Saintek, Volume 4 No 11 Tahun 2024.

Bumerang Disrupsi Teknologi dan Informasi: Habis “FoMO”, Terbitlah “Doom Spending”
Dunia Maya atau Dunia Nyata? Tren Media Sosial 2025
Candu Media Sosial dan Kesehatan Mental
Tags: FOMOgaya hidupkesehatanmedia sosialolahraga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Melaka, Melihat Bangunan Tua, Laut dan Sungai, Saya Teringat Singaraja dan Pelabuhan Buleleng

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan

Resya Nur Intan Putri

Resya Nur Intan Putri

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co