14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fenomena Pelari “Kalcer” : FOMO atau Kebutuhan?

Resya Nur Intan Putri by Resya Nur Intan Putri
January 15, 2025
in Esai
Fenomena Pelari “Kalcer” : FOMO atau Kebutuhan?

Resya Nur Intan Putri

MENJADI sebuah olahraga yang sedang hype akhir-akhir ini, membuat aktivitas berlari semakin banyak dilakukan oleh masyarakat. Banyak yang mengatakan lari adalah olahraga yang paling mudah dilakukan, karena cukup dengan menggunakan pakaian olahraga dan sepatu, kemudian ayunkan tubuh selama minimal 30 menit saja sudah mampu membakar ratusan kalori.

Perasaan bahagia dan satisfying yang ditimbulkan dari adanya aktivitas fisik ini juga merupakan sebuah reaksi dari tubuh kita yang berhasil memproduksi hormon endorfin. Hormon endorfin merupakan sebuahhormon yang diproduksi oleh tubuh untuk mengurangi stress, meredakan nyeri, dan meningkatkan perasaan bahagia. Selain mudah, lari juga dikatakan sebagai olahraga yang dikatakan murah karena tidak memerlukan tambahan alat lagi untuk melakukannya. Namun, benarkah lari adalah olahraga murah?

Secara teknis, lari memang tidak memerlukan tambahan alat dalam aktivitasnya. Hanya memerlukan pakaian olahraga dan sepatu yang tentunya tergolong sebagai perlengkapan “basic” dalam olahraga. Namun ternyata, terdapat sebuah istilah dalam dunia lari yang cukup familiar yaitu “kalcer”. Kalcer merujuk pada istilah “culture” yang artinya adalah budaya. Sehingga kalcer di sini dapat diartikan sebagai budaya atau kebiasaan tertentu yang terbentuk di sebuah kalangan untuk menampilkan dirinya dalam versi terbaik.

Sehingga, pelari kalcer dapat diartikan sebagai orang-orang yang berlari dengan penuh semangat dan antusias didukung dengan penggunaan perlengkapan dan aksesoris lari terbaru dan modis yang berasal dari brand-brand ternama. Bahkan, para pelari “kalcer” ini memang selalu membawa dirinya untuk  tampil stylish sembari mengutamakan fungsi dan kenyamanan saat berlari. Perlengkapan yang digunakan pun biasanya memiliki harga yang tidak main-main, karena biasanya berasal dari brand internasional terkemuka.

Lifestyle Pelari Kalcer

Para pelari kalcer ini biasanya rela merogoh kocek 3 juta – 5 juta rupiah untuk mengakomodir kebutuhan sepatu plat carbon, sebuah sepatu dengan teknologi karbon yang ditanam pada midsole untuk menghasilkan energy return yang lebih baik, sehingga mampu menciptakan efisiensi dalam aktivitas berlari. Belum lagi untuk smart watch yang digunakan rata-rata berkisar antara 3.5 juta – 19 juta, menyusul aksesoris lain, seperti jersey, topi, celana, legging, kacamata yang berkisar pada harga 200.000 – 2 juta, hingga headphone dengan teknologi bone conduction yang berkisar pada harga 500.000 – 3 juta.

Jika diakumulasi outfit from head to toe seorang pelari kalcer ini mampu bernilai belasan hingga puluhan juta rupiah. Maka dari itu, tidak heran seringkali muncul di sosial media tentang tren “Spill outfit lari kamu dong?” sehingga makin kalcer penampilan seorang pelari, makin banyak brand ternama yang melekat pada tubuhnya. Selain itu, pelari kalcer biasanya sangatlah aktif di sosial media yang kerap membagikan aktivitas berlarinya dengan beragam foto estetik dan pada akhirnya banyak dari mereka yang akhirnya menjadi selebrun-influencer lari.

Mereka juga kerap mengikuti beragam event-event lari dengan skala nasional tiap tahunnya, bahkan tak jarang ada juga yang mengikuti World Marathon Major-sebuah event lari akbar yang digelar di negara-negara tertentu yang sudah diakui kualitas dan kredibilitasnya. Untuk mengikuti event lari bergengsi seperti ini tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, namun tak dapat dipungkiri adanya kebutuhan akan eksistensi mengikuti acara semacam itu dapat menjadi motivasi terbaik bagi sebagian individu dalam menjalani hidupnya.

Peran Media Sosial

Media sosial memang berperan besar dalam membentuk pola perilaku pelari kalcer. Platform seperti Instagram dan Strava menjadi media utama untuk membagikan pencapaian jarak lari, waktu tempuh, hingga foto-foto estetik di lokasi populer.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Aryanto Nur dkk, bahwa aplikasi Strava terbukti sebagai platform yang mampu mendorong perilaku positif bagi penggunanya, baik dalam hal kebugaran fisik maupun gaya hidup sehat secara keseluruhan. Dengan kombinasi teknologi pelacakan canggih, dukungan komunitas yang kuat, dan fitur sosial yang mendorong keterlibatan, Strava menjadi media yang sangat baik untuk membantu pengguna mencapai dan mempertahankan tujuan mereka.

Sayangnya, bagi sebagian pelari yang sudah terlanjur terjun ke dalam lingkungan kalcer, tekanan untuk selalu tampil di acara-acara lari besar dan kewajiban untuk selalu posting aktivitas atau kegiatan yang mereka ikuti dapat menimbulkan dampak negatif, seperti rasa cemas berlebihan saat gagal mengikuti tren atau tidak mampu mencapai target lari tertentu. Hal ini tentunya dapat berujung pada perasaan negatif dan justru menghilangkan tujuan berolahraga yang sebenarnya.

Efek FOMO dalam Olahraga Lari

Fenomena pelari kalcer adalah cerminan kompleksitas kehidupan modern yang dipengaruhi oleh kebutuhan fisiologis dan sosial. Tentunya bukan menjadi sebuah hal yang salah jika seseorang memang mampu merogoh kocek fantastis untuk memenuhi hobi mereka, namun perlu dipertimbangkan kembali sebenarnya apakah esensi dari olahraga lari itu sendiri?

 Pada dasarnya, melakukan sebuah aktivitas olahraga menjadi hal yang sangat positif apabila memberikan dampak baik bagi pelakunya. Dengan adanya keinginan untuk memiliki pola hidup yang sehat dan aktif sangat cukup menjadikan seseorang mampu merubah gaya hidupnya ke arah yang lebih positif.

Maka dari itu, aktivitas berlari sebenarnya sangat mampu memotivasi seseorang untuk menjalani hidupnya dengan lebih baik dengan caratatan jangan sampai munculnya fenomena ini justru menjadikan perilaku individu mengarah ke konsumerisme yang diartikan sebagai sebuah gaya hidup yang ditandai dengan kebiasaan membeli barang dan jasa secara berlebihan untuk mendapatkan kepuasan dan status sosial.

Perspektif Teori Komunikasi

Fenomena ini memiliki ketertakitan erat dengan Teori Spiral Keheningan (Spiral of Silence) yang dikemukakan oleh Elisabeth Noelle-Neumann. Teori ini menjelaskan bagaimana individu cenderung menyesuaikan diri dengan opini mayoritas untuk menghindari isolasi sosial. Dalam teori ini, individu cenderung selalu berinteraksi dengan lingkungan sosial.

 Opini publik dilihat sebagai sebuah interaksi yang terbangun antara opini pribadi dengan opini yang berkembang dalam masyarakat, sehingga individu dilihat selalu menyesuaikan opini pribadinya dengan lingkungan sosial.  Dalam konteks fenomena pelari kalcer, media sosial dan lingkungan sosial menjadi penggerak opini mayoritas yang menciptakan norma bahwa lari adalah bagian dari gaya hidup yang harus diikuti. Sehingga makin banyak individu yang menjadikan aktivitas ini menjadi sebuah kebiasaan baru karena tingginya tingkat popularitas aktivitas tersebut ketika dibicarakan masyarakat.

Selain itu, Teori Konstruksi Realitas Sosial oleh Berger dan Luckmann menekankan bahwa sebuah realitas dibangun melalui interaksi sosial. Bagaimana masyarakat melihat “realitas objektif”, dan bagaimana seorang individu menggunakan “realitas subjektif” sebagai acuan identitasnya di masyarakat. Berdasarkan pernyataan tersebut, maka ketika media dan komunitas lari terus mempromosikan gaya hidup sehat dan menarik melalui olahraga lari, realitas ini dapat menjadi acuan bagi individu untuk menginternalisasi nilai-nilai tersebut. Akibatnya, mereka merasa perlu untuk berpartisipasi jika mereka ingin diterima secara sosial.

Jadi, apakah benar berlari adalah olahraga yang paling murah dan mudah? Semua itu dikembalikan ke pribadi masing-masing dalam mencapai tujuannya. Usahakan tujuan berolahraga itu memang untuk memberikan dampak yang positif pada tubuh terutama dalam meningkatkan kesehatan dan kebugaran, jangan sampai hanya sebatas takut ketinggalan tren atau takut tidak terlibat dalam aktivitas yang sedang populer.

 Yang terpenting adalah bagaimana kita dapat menciptakan keseimbangan dalam menjadikan lari sebagai aktivitas yang bermanfaat bagi tubuh dan pikiran, tanpa terjebak dalam tekanan sosial yang berlebihan

Referensi :

Eriyanto. 2012. Teori Spiral Kesunyian dan Negara Transisi Demokrasi : Sebuah Pengujian di Indonesia. Jurnal Komunikasi Indonesia, Volume 1 Nomor 1.

Karman. 2015. Konstruksi Realitas Sosial Sebagai Gerakan Pemikiran (Sebuah Telaah Teoretis Terhadap Konstruksi Realitas Peter L. Berger). Jurnal Penelitian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Volume 5 No. 3

Kembau, Agung Stefanus. Pelari Kalcer: Konsumerisme Olahraga. Kumparan Media: https://kumparan.com/agung-stefanus-kembau/pelari-kalcer-konsumerisme-olahraga-23KzTF9trvB/full Diakses pada 15 Januari 2024.

Nur, Aryanto dkk. 2024. Analisis Peranan Aplikasi Strava Terhadap Kegiatan Olahraga Lari Pagi. Kohesi : Jurnal Multidisiplin Saintek, Volume 4 No 11 Tahun 2024.

Bumerang Disrupsi Teknologi dan Informasi: Habis “FoMO”, Terbitlah “Doom Spending”
Dunia Maya atau Dunia Nyata? Tren Media Sosial 2025
Candu Media Sosial dan Kesehatan Mental
Tags: FOMOgaya hidupkesehatanmedia sosialolahraga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Melaka, Melihat Bangunan Tua, Laut dan Sungai, Saya Teringat Singaraja dan Pelabuhan Buleleng

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan

Resya Nur Intan Putri

Resya Nur Intan Putri

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co