2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dunia Maya atau Dunia Nyata? Tren Media Sosial 2025

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
December 28, 2024
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

PARA pembaca yang budiman, sebentar lagi kita meninggalkan tahun 2024 menuju 2025. Media sosial akan terus menjadi panggung utama bagi dinamika kehidupan kita, masyarakat modern, dengan tren yang mendominasi yaitu konten berbasis FOMO (Fear of Missing Out) dan YOLO (You Only Live Once).

Algoritma platform digital selama ini telah memanjakan audiens dengan suguhan gaya hidup hedonis dan konsumtif. Konten perjalanan dan trip liburan yang mewah, sampai pada tantangan viral yang sering kali tidak masuk di akal. Misalnya, tantangan travel goals di TikTok yang menampilkan video liburan ke destinasi mahal macam Maldives atau Swiss. Sebagai pemanis, dibumbui dengan narasi “hidup hanya sekali.”

Meski menarik perhatian, tren ini justru memunculkan tekanan bagi mereka yang merasa hidupnya kurang “sempurna”, karena selalu dibandingkan dengan apa yang dilihat pada konten. Jadi di balik konten-konten menarik itu, mulai muncul hantu baru modern, yaitu tekanan mental dan budaya konsumsi berlebihan yang menjangkiti masyarakat.

Mengapa tren ini perlu kita cermati dan evaluasi? Karena media sosial bukan hanya cerminan aspirasi manusia, tetapi sekaligus adalah pembentuk pola pikir dan gaya hidup. Ketika seseorang terus menerus disuguhi konten atau dengan sengaja mencari konten seperti unboxing barang-barang mewah atau video day in the life dengan aktivitas yang serba eksklusif, standar kebahagiaannya bias. Misalnya nih, seorang remaja yang belum memiliki penghasilan, mungkin merasa ada tuntutan harus memiliki barang-barang dengan merek tertentu agar bisa”diterima” di lingkungannya.

 Platform media sosial yang mengutamakan interaksi berbasis like dan share, secara halus dan bawah sadar akan mendorong pengguna untuk memposting sesuatu yang dianggap menarik oleh masyarakat luas, meskipun itu bukan representasi kehidupan mereka yang sesungguhnya. Dampaknya tidak hanya berhenti pada soal membuat konten, tetapi juga meluas hingga pada cara kita memandang kebahagiaan, pencapaian, dan relasi sosial.

Kita mulai mengukur kebahagiaan berdasarkan jumlah likes, dan hubungan sosial diwarnai oleh keinginan untuk menunjukkan citra yang sempurna.  Inilah hantu baru kita semua. Oleh karena itu, diperlukan adanya kesadaran kolektif untuk menggunakan media sosial dengan bijak, mengingat dampaknya yang sangat signifikan terhadap kesejahteraan mental dan sosial masyarakat.

Tren Media Sosial 2024 dan Pergeseran di Tahun 2025

FOMO adalah suatu perasaan ketakutan ketinggalan momen, sedangkan YOLO menekankan pada prinsip hidup sekali yang sering kali diterjemahkan sebagai pembenaran suatu keputusan impulsif. Dalam media sosial, keduanya menjelma menjadi fenomena konten yang mendominasi, seperti pamer liburan eksotis, belanja barang bermerek, hingga tantangan viral yang memikat perhatian.

Namun, konsekuensinya jelas, meningkatnya tekanan sosial untuk selalu relevan di media sosial. Pengguna merasa harus mengikuti tren, jika tidak, akan berisiko dianggap ketinggalan zaman. Lonjakan perilaku konsumtif dan instan pun tak terhindarkan. Generasi muda, khususnya, sering terjebak dalam spiral pembandingan sosial yang melelahkan, bahkan mengganggu kesehatan mental mereka.

Media sosial, yang selama ini menjadi pusat interaksi digital, sepertinya kini akan menghadapi momen penting. Tahun 2025 diprediksi menjadi era transformasi besar, di mana kelelahan digital, digital fatigue, akan adanya suatu mendorong perubahan cara kita berinteraksi dengan dunia maya.

Tren-tren baru yang lebih sadar, reflektif, dan harmonis, mulai menarik perhatian msyarakat luas seperti JOMO (Joy of Missing Out), hidup hemat (frugal living), dan hidup lambat (slow living).  Pergeseran ini akan lebih mengarahkan cara pandang tentang siapa kita sebagai manusia di era modern, dan bagaimana kita mencari makna baru dalam kehidupan.

JOMO bisa dianggap sebagai simbol perayaan atas ketidakhadiran. Hal ini menarik, karena di tengah obsesi untuk terus terkoneksi dan mengikuti setiap tren, JOMO justru mengajak kita untuk menemukan kebahagiaan dalam kesendirian dan melakukan detoks digital.

Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Guy Debord. Dalam The Society of the Spectacle, buku lama tahun 1967, Debord telah membahas bagaimana masyarakat modern, relate seperti kita ini, telah beralih dari pengalaman langsung ke pengalaman gambar dan representasi. Media sosial saat ini membuktikan gagasan lama ini, di mana “kehadiran” seseorang sering kali hanya berupa citra yang dipoles, sementara kehidupan yang senyatanya bisa jadi, lebih sunyi atau bahkan penuh dengan ketidakhadiran yang bermakna.

 Coba para pembaca yang budiman bayangkan, betapa damainya menikmati pagi dengan secangkir kopi tanpa distraksi notifikasi atau hiruk-pikuk media sosial.  Kita terkoneksi dengan diri, lingkungan dan waktu yang dialami.  Pesan dari JOMO sangat sederhana, kebahagiaan bukan tentang menjadi bagian dari segalanya, tetapi tentang menemukan momen-momen kecil yang berarti, yang jauh dari hiruk-pikuk dunia maya.

Hidup hemat kini juga bukan sekadar strategi bertahan di tengah krisis ekonomi global. Lebih jauh lagi, merupakan suatu bentuk pemberontakan terhadap gaya hidup konsumtif yang selama ini dipromosikan media sosial. Frugal living mengajarkan bahwa kesederhanaan dan efisiensi adalah sumber kebahagiaan yang autentik.

Dalam tren ini, orang merayakan kreativitas melalui DIY, Do It Yourself, seperti mengubah pakaian lama menjadi sesuatu yang baru atau menciptakan dekorasi rumah dari bahan daur ulang. Tidak hanya sekadar mengurangi beban finansial biar irit, hidup hemat juga menyuarakan pentingnya keberlanjutan lingkungan. Dengan langkah-langkah kecil itu, kita bisa merasakn hidup yang lebih bermakna, sekaligus menjaga bumi.

Hidup lambat adalah ajakan untuk melambat, kembali menghargai waktu dan menikmatinya. Filosofi ini menawarkan cara pandang baru tentang bagaimana menikmati hidup tanpa terburu-buru. Di era yang serba cepat, slow living adalah undangan untuk menjalani rutinitas sederhana seperti membaca buku, berkebun, atau menikmati alam tanpa gangguan teknologi. Ini adalah tentang kembali pada kesadaran penuh akan momen, menghargai proses, dan melepaskan tekanan untuk selalu bergerak maju.

Slow living mengingatkan kita bahwa hidup bukanlah perlombaan, melainkan perjalanan yang layak dinikmati. Søren Kierkegaard seorang filsuf Denmark, menilik hal ini dengan jitu.Kierkegaard menekankan pentingnya keheningan dan introspeksi sebagai cara untuk memahami diri sendiri. Dalam konteks modern, ketidakhadiran di media sosial dapat dilihat sebagai ruang untuk merenung dan menghindari tekanan sosial yang sering kali dangkal. Suatu tantangan sebenarnya jika kita melihat tren masyarakat selama beberapa tahun belakangan ini.

Transformasi ini tidak datang begitu saja tanpa alasan. Kelelahan digital telah membuat banyak orang mulai merasa jenuh dan membutuhkan jeda dari layar. Di sisi lain, kesadaran akan krisis ekonomi global yang mengancam dan pentingnya keberlanjutan lingkungan juga memainkan peran penting.

 Lebih dari itu, akan ada perubahan mendasar dalam cara kita memandang kebahagiaan. Orang mulai menyadari bahwa keseimbangan emosional dan mental jauh lebih berarti dibandingkan pencapaian material atau sekadar hal sepele seperti jumlah “like” di media sosial.

Resolusi Tahun Depan

Tren-tren ini adalah cerminan dari kebutuhan kita untuk kembali ke hal-hal yang esensial dalam hidup ini. Tahun 2025 bisa jadi menjadi awal dari perjalanan kita menuju kehidupan yang lebih autentik dan seimbang.  

Transformasi tren dari FOMO dan YOLO ke JOMO, frugal living, dan slow living bukan sekadar perubahan gaya hidup, tetapi cerminan evolusi kebutuhan emosional dan sosial masyarakat. Ke depan, diperlukan kolaborasi antara platform media sosial dan penggunanya untuk menciptakan ekosistem konten yang lebih sehat, berkelanjutan, dan bermakna.

 Media sosial harus ditempatkan sebagai sarana memperkuat kesejahteraan kolektif, bukan sekadar arena untuk mengejar pengakuan semu. Musti muncul adanya kesadaran bahwa teknologi hanyalah alat, dan kita adalah pengemudi dari perjalanan fana ini. Tahun baru adalah undangan untuk kembali ke inti dari siapa kita sebenarnya, yaitu manusia yang berdaya upaya untuk menciptakan suatu kehidupan yang bermakna.

Mencoba untuk tidak selalu hadir di media sosial, bisa menjadi cara untuk merebut kembali kontrol atas hidup dan lebih memprioritaskan pengalaman nyata.  Pilihan akan selalu ada di tangan Anda. Selamat tinggal tahun 2024,  selamat menyongsong tahun baru 2025. [T]

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Renungan Natal: Membunuh Tuhan dengan Algoritma
Dunia Tanpa Ampun: Ketika Jejak Digital Menghakimi Anda
TikTok, Generasi Muda, dan Identitas Digital yang Terkonstruksi
Memaknai Foto sebagai Narasi Identitas, Sosial, dan Budaya
ASMR: Hiburan, Manipulasi, dan Refleksi atas Kehidupan Modern
Merandai Cakrawala Sinema: Membangun Karakter Generasi Milenial hingga Alpha
Tags: Dunia Mayamedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aktivisme Mahasiswa dan Judi Online

Next Post

I Made Putra Wijaya, Seniman Tari dari Desa Peliatan: Antara Pengabdian dan Penghargaan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
I Made Putra Wijaya, Seniman Tari dari Desa Peliatan: Antara Pengabdian dan Penghargaan

I Made Putra Wijaya, Seniman Tari dari Desa Peliatan: Antara Pengabdian dan Penghargaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co