3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dunia Maya atau Dunia Nyata? Tren Media Sosial 2025

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
December 28, 2024
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

PARA pembaca yang budiman, sebentar lagi kita meninggalkan tahun 2024 menuju 2025. Media sosial akan terus menjadi panggung utama bagi dinamika kehidupan kita, masyarakat modern, dengan tren yang mendominasi yaitu konten berbasis FOMO (Fear of Missing Out) dan YOLO (You Only Live Once).

Algoritma platform digital selama ini telah memanjakan audiens dengan suguhan gaya hidup hedonis dan konsumtif. Konten perjalanan dan trip liburan yang mewah, sampai pada tantangan viral yang sering kali tidak masuk di akal. Misalnya, tantangan travel goals di TikTok yang menampilkan video liburan ke destinasi mahal macam Maldives atau Swiss. Sebagai pemanis, dibumbui dengan narasi “hidup hanya sekali.”

Meski menarik perhatian, tren ini justru memunculkan tekanan bagi mereka yang merasa hidupnya kurang “sempurna”, karena selalu dibandingkan dengan apa yang dilihat pada konten. Jadi di balik konten-konten menarik itu, mulai muncul hantu baru modern, yaitu tekanan mental dan budaya konsumsi berlebihan yang menjangkiti masyarakat.

Mengapa tren ini perlu kita cermati dan evaluasi? Karena media sosial bukan hanya cerminan aspirasi manusia, tetapi sekaligus adalah pembentuk pola pikir dan gaya hidup. Ketika seseorang terus menerus disuguhi konten atau dengan sengaja mencari konten seperti unboxing barang-barang mewah atau video day in the life dengan aktivitas yang serba eksklusif, standar kebahagiaannya bias. Misalnya nih, seorang remaja yang belum memiliki penghasilan, mungkin merasa ada tuntutan harus memiliki barang-barang dengan merek tertentu agar bisa”diterima” di lingkungannya.

 Platform media sosial yang mengutamakan interaksi berbasis like dan share, secara halus dan bawah sadar akan mendorong pengguna untuk memposting sesuatu yang dianggap menarik oleh masyarakat luas, meskipun itu bukan representasi kehidupan mereka yang sesungguhnya. Dampaknya tidak hanya berhenti pada soal membuat konten, tetapi juga meluas hingga pada cara kita memandang kebahagiaan, pencapaian, dan relasi sosial.

Kita mulai mengukur kebahagiaan berdasarkan jumlah likes, dan hubungan sosial diwarnai oleh keinginan untuk menunjukkan citra yang sempurna.  Inilah hantu baru kita semua. Oleh karena itu, diperlukan adanya kesadaran kolektif untuk menggunakan media sosial dengan bijak, mengingat dampaknya yang sangat signifikan terhadap kesejahteraan mental dan sosial masyarakat.

Tren Media Sosial 2024 dan Pergeseran di Tahun 2025

FOMO adalah suatu perasaan ketakutan ketinggalan momen, sedangkan YOLO menekankan pada prinsip hidup sekali yang sering kali diterjemahkan sebagai pembenaran suatu keputusan impulsif. Dalam media sosial, keduanya menjelma menjadi fenomena konten yang mendominasi, seperti pamer liburan eksotis, belanja barang bermerek, hingga tantangan viral yang memikat perhatian.

Namun, konsekuensinya jelas, meningkatnya tekanan sosial untuk selalu relevan di media sosial. Pengguna merasa harus mengikuti tren, jika tidak, akan berisiko dianggap ketinggalan zaman. Lonjakan perilaku konsumtif dan instan pun tak terhindarkan. Generasi muda, khususnya, sering terjebak dalam spiral pembandingan sosial yang melelahkan, bahkan mengganggu kesehatan mental mereka.

Media sosial, yang selama ini menjadi pusat interaksi digital, sepertinya kini akan menghadapi momen penting. Tahun 2025 diprediksi menjadi era transformasi besar, di mana kelelahan digital, digital fatigue, akan adanya suatu mendorong perubahan cara kita berinteraksi dengan dunia maya.

Tren-tren baru yang lebih sadar, reflektif, dan harmonis, mulai menarik perhatian msyarakat luas seperti JOMO (Joy of Missing Out), hidup hemat (frugal living), dan hidup lambat (slow living).  Pergeseran ini akan lebih mengarahkan cara pandang tentang siapa kita sebagai manusia di era modern, dan bagaimana kita mencari makna baru dalam kehidupan.

JOMO bisa dianggap sebagai simbol perayaan atas ketidakhadiran. Hal ini menarik, karena di tengah obsesi untuk terus terkoneksi dan mengikuti setiap tren, JOMO justru mengajak kita untuk menemukan kebahagiaan dalam kesendirian dan melakukan detoks digital.

Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Guy Debord. Dalam The Society of the Spectacle, buku lama tahun 1967, Debord telah membahas bagaimana masyarakat modern, relate seperti kita ini, telah beralih dari pengalaman langsung ke pengalaman gambar dan representasi. Media sosial saat ini membuktikan gagasan lama ini, di mana “kehadiran” seseorang sering kali hanya berupa citra yang dipoles, sementara kehidupan yang senyatanya bisa jadi, lebih sunyi atau bahkan penuh dengan ketidakhadiran yang bermakna.

 Coba para pembaca yang budiman bayangkan, betapa damainya menikmati pagi dengan secangkir kopi tanpa distraksi notifikasi atau hiruk-pikuk media sosial.  Kita terkoneksi dengan diri, lingkungan dan waktu yang dialami.  Pesan dari JOMO sangat sederhana, kebahagiaan bukan tentang menjadi bagian dari segalanya, tetapi tentang menemukan momen-momen kecil yang berarti, yang jauh dari hiruk-pikuk dunia maya.

Hidup hemat kini juga bukan sekadar strategi bertahan di tengah krisis ekonomi global. Lebih jauh lagi, merupakan suatu bentuk pemberontakan terhadap gaya hidup konsumtif yang selama ini dipromosikan media sosial. Frugal living mengajarkan bahwa kesederhanaan dan efisiensi adalah sumber kebahagiaan yang autentik.

Dalam tren ini, orang merayakan kreativitas melalui DIY, Do It Yourself, seperti mengubah pakaian lama menjadi sesuatu yang baru atau menciptakan dekorasi rumah dari bahan daur ulang. Tidak hanya sekadar mengurangi beban finansial biar irit, hidup hemat juga menyuarakan pentingnya keberlanjutan lingkungan. Dengan langkah-langkah kecil itu, kita bisa merasakn hidup yang lebih bermakna, sekaligus menjaga bumi.

Hidup lambat adalah ajakan untuk melambat, kembali menghargai waktu dan menikmatinya. Filosofi ini menawarkan cara pandang baru tentang bagaimana menikmati hidup tanpa terburu-buru. Di era yang serba cepat, slow living adalah undangan untuk menjalani rutinitas sederhana seperti membaca buku, berkebun, atau menikmati alam tanpa gangguan teknologi. Ini adalah tentang kembali pada kesadaran penuh akan momen, menghargai proses, dan melepaskan tekanan untuk selalu bergerak maju.

Slow living mengingatkan kita bahwa hidup bukanlah perlombaan, melainkan perjalanan yang layak dinikmati. Søren Kierkegaard seorang filsuf Denmark, menilik hal ini dengan jitu.Kierkegaard menekankan pentingnya keheningan dan introspeksi sebagai cara untuk memahami diri sendiri. Dalam konteks modern, ketidakhadiran di media sosial dapat dilihat sebagai ruang untuk merenung dan menghindari tekanan sosial yang sering kali dangkal. Suatu tantangan sebenarnya jika kita melihat tren masyarakat selama beberapa tahun belakangan ini.

Transformasi ini tidak datang begitu saja tanpa alasan. Kelelahan digital telah membuat banyak orang mulai merasa jenuh dan membutuhkan jeda dari layar. Di sisi lain, kesadaran akan krisis ekonomi global yang mengancam dan pentingnya keberlanjutan lingkungan juga memainkan peran penting.

 Lebih dari itu, akan ada perubahan mendasar dalam cara kita memandang kebahagiaan. Orang mulai menyadari bahwa keseimbangan emosional dan mental jauh lebih berarti dibandingkan pencapaian material atau sekadar hal sepele seperti jumlah “like” di media sosial.

Resolusi Tahun Depan

Tren-tren ini adalah cerminan dari kebutuhan kita untuk kembali ke hal-hal yang esensial dalam hidup ini. Tahun 2025 bisa jadi menjadi awal dari perjalanan kita menuju kehidupan yang lebih autentik dan seimbang.  

Transformasi tren dari FOMO dan YOLO ke JOMO, frugal living, dan slow living bukan sekadar perubahan gaya hidup, tetapi cerminan evolusi kebutuhan emosional dan sosial masyarakat. Ke depan, diperlukan kolaborasi antara platform media sosial dan penggunanya untuk menciptakan ekosistem konten yang lebih sehat, berkelanjutan, dan bermakna.

 Media sosial harus ditempatkan sebagai sarana memperkuat kesejahteraan kolektif, bukan sekadar arena untuk mengejar pengakuan semu. Musti muncul adanya kesadaran bahwa teknologi hanyalah alat, dan kita adalah pengemudi dari perjalanan fana ini. Tahun baru adalah undangan untuk kembali ke inti dari siapa kita sebenarnya, yaitu manusia yang berdaya upaya untuk menciptakan suatu kehidupan yang bermakna.

Mencoba untuk tidak selalu hadir di media sosial, bisa menjadi cara untuk merebut kembali kontrol atas hidup dan lebih memprioritaskan pengalaman nyata.  Pilihan akan selalu ada di tangan Anda. Selamat tinggal tahun 2024,  selamat menyongsong tahun baru 2025. [T]

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Renungan Natal: Membunuh Tuhan dengan Algoritma
Dunia Tanpa Ampun: Ketika Jejak Digital Menghakimi Anda
TikTok, Generasi Muda, dan Identitas Digital yang Terkonstruksi
Memaknai Foto sebagai Narasi Identitas, Sosial, dan Budaya
ASMR: Hiburan, Manipulasi, dan Refleksi atas Kehidupan Modern
Merandai Cakrawala Sinema: Membangun Karakter Generasi Milenial hingga Alpha
Tags: Dunia Mayamedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aktivisme Mahasiswa dan Judi Online

Next Post

I Made Putra Wijaya, Seniman Tari dari Desa Peliatan: Antara Pengabdian dan Penghargaan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
I Made Putra Wijaya, Seniman Tari dari Desa Peliatan: Antara Pengabdian dan Penghargaan

I Made Putra Wijaya, Seniman Tari dari Desa Peliatan: Antara Pengabdian dan Penghargaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co