3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dunia Maya atau Dunia Nyata? Tren Media Sosial 2025

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
December 28, 2024
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

PARA pembaca yang budiman, sebentar lagi kita meninggalkan tahun 2024 menuju 2025. Media sosial akan terus menjadi panggung utama bagi dinamika kehidupan kita, masyarakat modern, dengan tren yang mendominasi yaitu konten berbasis FOMO (Fear of Missing Out) dan YOLO (You Only Live Once).

Algoritma platform digital selama ini telah memanjakan audiens dengan suguhan gaya hidup hedonis dan konsumtif. Konten perjalanan dan trip liburan yang mewah, sampai pada tantangan viral yang sering kali tidak masuk di akal. Misalnya, tantangan travel goals di TikTok yang menampilkan video liburan ke destinasi mahal macam Maldives atau Swiss. Sebagai pemanis, dibumbui dengan narasi “hidup hanya sekali.”

Meski menarik perhatian, tren ini justru memunculkan tekanan bagi mereka yang merasa hidupnya kurang “sempurna”, karena selalu dibandingkan dengan apa yang dilihat pada konten. Jadi di balik konten-konten menarik itu, mulai muncul hantu baru modern, yaitu tekanan mental dan budaya konsumsi berlebihan yang menjangkiti masyarakat.

Mengapa tren ini perlu kita cermati dan evaluasi? Karena media sosial bukan hanya cerminan aspirasi manusia, tetapi sekaligus adalah pembentuk pola pikir dan gaya hidup. Ketika seseorang terus menerus disuguhi konten atau dengan sengaja mencari konten seperti unboxing barang-barang mewah atau video day in the life dengan aktivitas yang serba eksklusif, standar kebahagiaannya bias. Misalnya nih, seorang remaja yang belum memiliki penghasilan, mungkin merasa ada tuntutan harus memiliki barang-barang dengan merek tertentu agar bisa”diterima” di lingkungannya.

 Platform media sosial yang mengutamakan interaksi berbasis like dan share, secara halus dan bawah sadar akan mendorong pengguna untuk memposting sesuatu yang dianggap menarik oleh masyarakat luas, meskipun itu bukan representasi kehidupan mereka yang sesungguhnya. Dampaknya tidak hanya berhenti pada soal membuat konten, tetapi juga meluas hingga pada cara kita memandang kebahagiaan, pencapaian, dan relasi sosial.

Kita mulai mengukur kebahagiaan berdasarkan jumlah likes, dan hubungan sosial diwarnai oleh keinginan untuk menunjukkan citra yang sempurna.  Inilah hantu baru kita semua. Oleh karena itu, diperlukan adanya kesadaran kolektif untuk menggunakan media sosial dengan bijak, mengingat dampaknya yang sangat signifikan terhadap kesejahteraan mental dan sosial masyarakat.

Tren Media Sosial 2024 dan Pergeseran di Tahun 2025

FOMO adalah suatu perasaan ketakutan ketinggalan momen, sedangkan YOLO menekankan pada prinsip hidup sekali yang sering kali diterjemahkan sebagai pembenaran suatu keputusan impulsif. Dalam media sosial, keduanya menjelma menjadi fenomena konten yang mendominasi, seperti pamer liburan eksotis, belanja barang bermerek, hingga tantangan viral yang memikat perhatian.

Namun, konsekuensinya jelas, meningkatnya tekanan sosial untuk selalu relevan di media sosial. Pengguna merasa harus mengikuti tren, jika tidak, akan berisiko dianggap ketinggalan zaman. Lonjakan perilaku konsumtif dan instan pun tak terhindarkan. Generasi muda, khususnya, sering terjebak dalam spiral pembandingan sosial yang melelahkan, bahkan mengganggu kesehatan mental mereka.

Media sosial, yang selama ini menjadi pusat interaksi digital, sepertinya kini akan menghadapi momen penting. Tahun 2025 diprediksi menjadi era transformasi besar, di mana kelelahan digital, digital fatigue, akan adanya suatu mendorong perubahan cara kita berinteraksi dengan dunia maya.

Tren-tren baru yang lebih sadar, reflektif, dan harmonis, mulai menarik perhatian msyarakat luas seperti JOMO (Joy of Missing Out), hidup hemat (frugal living), dan hidup lambat (slow living).  Pergeseran ini akan lebih mengarahkan cara pandang tentang siapa kita sebagai manusia di era modern, dan bagaimana kita mencari makna baru dalam kehidupan.

JOMO bisa dianggap sebagai simbol perayaan atas ketidakhadiran. Hal ini menarik, karena di tengah obsesi untuk terus terkoneksi dan mengikuti setiap tren, JOMO justru mengajak kita untuk menemukan kebahagiaan dalam kesendirian dan melakukan detoks digital.

Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Guy Debord. Dalam The Society of the Spectacle, buku lama tahun 1967, Debord telah membahas bagaimana masyarakat modern, relate seperti kita ini, telah beralih dari pengalaman langsung ke pengalaman gambar dan representasi. Media sosial saat ini membuktikan gagasan lama ini, di mana “kehadiran” seseorang sering kali hanya berupa citra yang dipoles, sementara kehidupan yang senyatanya bisa jadi, lebih sunyi atau bahkan penuh dengan ketidakhadiran yang bermakna.

 Coba para pembaca yang budiman bayangkan, betapa damainya menikmati pagi dengan secangkir kopi tanpa distraksi notifikasi atau hiruk-pikuk media sosial.  Kita terkoneksi dengan diri, lingkungan dan waktu yang dialami.  Pesan dari JOMO sangat sederhana, kebahagiaan bukan tentang menjadi bagian dari segalanya, tetapi tentang menemukan momen-momen kecil yang berarti, yang jauh dari hiruk-pikuk dunia maya.

Hidup hemat kini juga bukan sekadar strategi bertahan di tengah krisis ekonomi global. Lebih jauh lagi, merupakan suatu bentuk pemberontakan terhadap gaya hidup konsumtif yang selama ini dipromosikan media sosial. Frugal living mengajarkan bahwa kesederhanaan dan efisiensi adalah sumber kebahagiaan yang autentik.

Dalam tren ini, orang merayakan kreativitas melalui DIY, Do It Yourself, seperti mengubah pakaian lama menjadi sesuatu yang baru atau menciptakan dekorasi rumah dari bahan daur ulang. Tidak hanya sekadar mengurangi beban finansial biar irit, hidup hemat juga menyuarakan pentingnya keberlanjutan lingkungan. Dengan langkah-langkah kecil itu, kita bisa merasakn hidup yang lebih bermakna, sekaligus menjaga bumi.

Hidup lambat adalah ajakan untuk melambat, kembali menghargai waktu dan menikmatinya. Filosofi ini menawarkan cara pandang baru tentang bagaimana menikmati hidup tanpa terburu-buru. Di era yang serba cepat, slow living adalah undangan untuk menjalani rutinitas sederhana seperti membaca buku, berkebun, atau menikmati alam tanpa gangguan teknologi. Ini adalah tentang kembali pada kesadaran penuh akan momen, menghargai proses, dan melepaskan tekanan untuk selalu bergerak maju.

Slow living mengingatkan kita bahwa hidup bukanlah perlombaan, melainkan perjalanan yang layak dinikmati. Søren Kierkegaard seorang filsuf Denmark, menilik hal ini dengan jitu.Kierkegaard menekankan pentingnya keheningan dan introspeksi sebagai cara untuk memahami diri sendiri. Dalam konteks modern, ketidakhadiran di media sosial dapat dilihat sebagai ruang untuk merenung dan menghindari tekanan sosial yang sering kali dangkal. Suatu tantangan sebenarnya jika kita melihat tren masyarakat selama beberapa tahun belakangan ini.

Transformasi ini tidak datang begitu saja tanpa alasan. Kelelahan digital telah membuat banyak orang mulai merasa jenuh dan membutuhkan jeda dari layar. Di sisi lain, kesadaran akan krisis ekonomi global yang mengancam dan pentingnya keberlanjutan lingkungan juga memainkan peran penting.

 Lebih dari itu, akan ada perubahan mendasar dalam cara kita memandang kebahagiaan. Orang mulai menyadari bahwa keseimbangan emosional dan mental jauh lebih berarti dibandingkan pencapaian material atau sekadar hal sepele seperti jumlah “like” di media sosial.

Resolusi Tahun Depan

Tren-tren ini adalah cerminan dari kebutuhan kita untuk kembali ke hal-hal yang esensial dalam hidup ini. Tahun 2025 bisa jadi menjadi awal dari perjalanan kita menuju kehidupan yang lebih autentik dan seimbang.  

Transformasi tren dari FOMO dan YOLO ke JOMO, frugal living, dan slow living bukan sekadar perubahan gaya hidup, tetapi cerminan evolusi kebutuhan emosional dan sosial masyarakat. Ke depan, diperlukan kolaborasi antara platform media sosial dan penggunanya untuk menciptakan ekosistem konten yang lebih sehat, berkelanjutan, dan bermakna.

 Media sosial harus ditempatkan sebagai sarana memperkuat kesejahteraan kolektif, bukan sekadar arena untuk mengejar pengakuan semu. Musti muncul adanya kesadaran bahwa teknologi hanyalah alat, dan kita adalah pengemudi dari perjalanan fana ini. Tahun baru adalah undangan untuk kembali ke inti dari siapa kita sebenarnya, yaitu manusia yang berdaya upaya untuk menciptakan suatu kehidupan yang bermakna.

Mencoba untuk tidak selalu hadir di media sosial, bisa menjadi cara untuk merebut kembali kontrol atas hidup dan lebih memprioritaskan pengalaman nyata.  Pilihan akan selalu ada di tangan Anda. Selamat tinggal tahun 2024,  selamat menyongsong tahun baru 2025. [T]

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Renungan Natal: Membunuh Tuhan dengan Algoritma
Dunia Tanpa Ampun: Ketika Jejak Digital Menghakimi Anda
TikTok, Generasi Muda, dan Identitas Digital yang Terkonstruksi
Memaknai Foto sebagai Narasi Identitas, Sosial, dan Budaya
ASMR: Hiburan, Manipulasi, dan Refleksi atas Kehidupan Modern
Merandai Cakrawala Sinema: Membangun Karakter Generasi Milenial hingga Alpha
Tags: Dunia Mayamedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aktivisme Mahasiswa dan Judi Online

Next Post

I Made Putra Wijaya, Seniman Tari dari Desa Peliatan: Antara Pengabdian dan Penghargaan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
I Made Putra Wijaya, Seniman Tari dari Desa Peliatan: Antara Pengabdian dan Penghargaan

I Made Putra Wijaya, Seniman Tari dari Desa Peliatan: Antara Pengabdian dan Penghargaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co