14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dunia Maya atau Dunia Nyata? Tren Media Sosial 2025

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
December 28, 2024
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

PARA pembaca yang budiman, sebentar lagi kita meninggalkan tahun 2024 menuju 2025. Media sosial akan terus menjadi panggung utama bagi dinamika kehidupan kita, masyarakat modern, dengan tren yang mendominasi yaitu konten berbasis FOMO (Fear of Missing Out) dan YOLO (You Only Live Once).

Algoritma platform digital selama ini telah memanjakan audiens dengan suguhan gaya hidup hedonis dan konsumtif. Konten perjalanan dan trip liburan yang mewah, sampai pada tantangan viral yang sering kali tidak masuk di akal. Misalnya, tantangan travel goals di TikTok yang menampilkan video liburan ke destinasi mahal macam Maldives atau Swiss. Sebagai pemanis, dibumbui dengan narasi “hidup hanya sekali.”

Meski menarik perhatian, tren ini justru memunculkan tekanan bagi mereka yang merasa hidupnya kurang “sempurna”, karena selalu dibandingkan dengan apa yang dilihat pada konten. Jadi di balik konten-konten menarik itu, mulai muncul hantu baru modern, yaitu tekanan mental dan budaya konsumsi berlebihan yang menjangkiti masyarakat.

Mengapa tren ini perlu kita cermati dan evaluasi? Karena media sosial bukan hanya cerminan aspirasi manusia, tetapi sekaligus adalah pembentuk pola pikir dan gaya hidup. Ketika seseorang terus menerus disuguhi konten atau dengan sengaja mencari konten seperti unboxing barang-barang mewah atau video day in the life dengan aktivitas yang serba eksklusif, standar kebahagiaannya bias. Misalnya nih, seorang remaja yang belum memiliki penghasilan, mungkin merasa ada tuntutan harus memiliki barang-barang dengan merek tertentu agar bisa”diterima” di lingkungannya.

 Platform media sosial yang mengutamakan interaksi berbasis like dan share, secara halus dan bawah sadar akan mendorong pengguna untuk memposting sesuatu yang dianggap menarik oleh masyarakat luas, meskipun itu bukan representasi kehidupan mereka yang sesungguhnya. Dampaknya tidak hanya berhenti pada soal membuat konten, tetapi juga meluas hingga pada cara kita memandang kebahagiaan, pencapaian, dan relasi sosial.

Kita mulai mengukur kebahagiaan berdasarkan jumlah likes, dan hubungan sosial diwarnai oleh keinginan untuk menunjukkan citra yang sempurna.  Inilah hantu baru kita semua. Oleh karena itu, diperlukan adanya kesadaran kolektif untuk menggunakan media sosial dengan bijak, mengingat dampaknya yang sangat signifikan terhadap kesejahteraan mental dan sosial masyarakat.

Tren Media Sosial 2024 dan Pergeseran di Tahun 2025

FOMO adalah suatu perasaan ketakutan ketinggalan momen, sedangkan YOLO menekankan pada prinsip hidup sekali yang sering kali diterjemahkan sebagai pembenaran suatu keputusan impulsif. Dalam media sosial, keduanya menjelma menjadi fenomena konten yang mendominasi, seperti pamer liburan eksotis, belanja barang bermerek, hingga tantangan viral yang memikat perhatian.

Namun, konsekuensinya jelas, meningkatnya tekanan sosial untuk selalu relevan di media sosial. Pengguna merasa harus mengikuti tren, jika tidak, akan berisiko dianggap ketinggalan zaman. Lonjakan perilaku konsumtif dan instan pun tak terhindarkan. Generasi muda, khususnya, sering terjebak dalam spiral pembandingan sosial yang melelahkan, bahkan mengganggu kesehatan mental mereka.

Media sosial, yang selama ini menjadi pusat interaksi digital, sepertinya kini akan menghadapi momen penting. Tahun 2025 diprediksi menjadi era transformasi besar, di mana kelelahan digital, digital fatigue, akan adanya suatu mendorong perubahan cara kita berinteraksi dengan dunia maya.

Tren-tren baru yang lebih sadar, reflektif, dan harmonis, mulai menarik perhatian msyarakat luas seperti JOMO (Joy of Missing Out), hidup hemat (frugal living), dan hidup lambat (slow living).  Pergeseran ini akan lebih mengarahkan cara pandang tentang siapa kita sebagai manusia di era modern, dan bagaimana kita mencari makna baru dalam kehidupan.

JOMO bisa dianggap sebagai simbol perayaan atas ketidakhadiran. Hal ini menarik, karena di tengah obsesi untuk terus terkoneksi dan mengikuti setiap tren, JOMO justru mengajak kita untuk menemukan kebahagiaan dalam kesendirian dan melakukan detoks digital.

Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Guy Debord. Dalam The Society of the Spectacle, buku lama tahun 1967, Debord telah membahas bagaimana masyarakat modern, relate seperti kita ini, telah beralih dari pengalaman langsung ke pengalaman gambar dan representasi. Media sosial saat ini membuktikan gagasan lama ini, di mana “kehadiran” seseorang sering kali hanya berupa citra yang dipoles, sementara kehidupan yang senyatanya bisa jadi, lebih sunyi atau bahkan penuh dengan ketidakhadiran yang bermakna.

 Coba para pembaca yang budiman bayangkan, betapa damainya menikmati pagi dengan secangkir kopi tanpa distraksi notifikasi atau hiruk-pikuk media sosial.  Kita terkoneksi dengan diri, lingkungan dan waktu yang dialami.  Pesan dari JOMO sangat sederhana, kebahagiaan bukan tentang menjadi bagian dari segalanya, tetapi tentang menemukan momen-momen kecil yang berarti, yang jauh dari hiruk-pikuk dunia maya.

Hidup hemat kini juga bukan sekadar strategi bertahan di tengah krisis ekonomi global. Lebih jauh lagi, merupakan suatu bentuk pemberontakan terhadap gaya hidup konsumtif yang selama ini dipromosikan media sosial. Frugal living mengajarkan bahwa kesederhanaan dan efisiensi adalah sumber kebahagiaan yang autentik.

Dalam tren ini, orang merayakan kreativitas melalui DIY, Do It Yourself, seperti mengubah pakaian lama menjadi sesuatu yang baru atau menciptakan dekorasi rumah dari bahan daur ulang. Tidak hanya sekadar mengurangi beban finansial biar irit, hidup hemat juga menyuarakan pentingnya keberlanjutan lingkungan. Dengan langkah-langkah kecil itu, kita bisa merasakn hidup yang lebih bermakna, sekaligus menjaga bumi.

Hidup lambat adalah ajakan untuk melambat, kembali menghargai waktu dan menikmatinya. Filosofi ini menawarkan cara pandang baru tentang bagaimana menikmati hidup tanpa terburu-buru. Di era yang serba cepat, slow living adalah undangan untuk menjalani rutinitas sederhana seperti membaca buku, berkebun, atau menikmati alam tanpa gangguan teknologi. Ini adalah tentang kembali pada kesadaran penuh akan momen, menghargai proses, dan melepaskan tekanan untuk selalu bergerak maju.

Slow living mengingatkan kita bahwa hidup bukanlah perlombaan, melainkan perjalanan yang layak dinikmati. Søren Kierkegaard seorang filsuf Denmark, menilik hal ini dengan jitu.Kierkegaard menekankan pentingnya keheningan dan introspeksi sebagai cara untuk memahami diri sendiri. Dalam konteks modern, ketidakhadiran di media sosial dapat dilihat sebagai ruang untuk merenung dan menghindari tekanan sosial yang sering kali dangkal. Suatu tantangan sebenarnya jika kita melihat tren masyarakat selama beberapa tahun belakangan ini.

Transformasi ini tidak datang begitu saja tanpa alasan. Kelelahan digital telah membuat banyak orang mulai merasa jenuh dan membutuhkan jeda dari layar. Di sisi lain, kesadaran akan krisis ekonomi global yang mengancam dan pentingnya keberlanjutan lingkungan juga memainkan peran penting.

 Lebih dari itu, akan ada perubahan mendasar dalam cara kita memandang kebahagiaan. Orang mulai menyadari bahwa keseimbangan emosional dan mental jauh lebih berarti dibandingkan pencapaian material atau sekadar hal sepele seperti jumlah “like” di media sosial.

Resolusi Tahun Depan

Tren-tren ini adalah cerminan dari kebutuhan kita untuk kembali ke hal-hal yang esensial dalam hidup ini. Tahun 2025 bisa jadi menjadi awal dari perjalanan kita menuju kehidupan yang lebih autentik dan seimbang.  

Transformasi tren dari FOMO dan YOLO ke JOMO, frugal living, dan slow living bukan sekadar perubahan gaya hidup, tetapi cerminan evolusi kebutuhan emosional dan sosial masyarakat. Ke depan, diperlukan kolaborasi antara platform media sosial dan penggunanya untuk menciptakan ekosistem konten yang lebih sehat, berkelanjutan, dan bermakna.

 Media sosial harus ditempatkan sebagai sarana memperkuat kesejahteraan kolektif, bukan sekadar arena untuk mengejar pengakuan semu. Musti muncul adanya kesadaran bahwa teknologi hanyalah alat, dan kita adalah pengemudi dari perjalanan fana ini. Tahun baru adalah undangan untuk kembali ke inti dari siapa kita sebenarnya, yaitu manusia yang berdaya upaya untuk menciptakan suatu kehidupan yang bermakna.

Mencoba untuk tidak selalu hadir di media sosial, bisa menjadi cara untuk merebut kembali kontrol atas hidup dan lebih memprioritaskan pengalaman nyata.  Pilihan akan selalu ada di tangan Anda. Selamat tinggal tahun 2024,  selamat menyongsong tahun baru 2025. [T]

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Renungan Natal: Membunuh Tuhan dengan Algoritma
Dunia Tanpa Ampun: Ketika Jejak Digital Menghakimi Anda
TikTok, Generasi Muda, dan Identitas Digital yang Terkonstruksi
Memaknai Foto sebagai Narasi Identitas, Sosial, dan Budaya
ASMR: Hiburan, Manipulasi, dan Refleksi atas Kehidupan Modern
Merandai Cakrawala Sinema: Membangun Karakter Generasi Milenial hingga Alpha
Tags: Dunia Mayamedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aktivisme Mahasiswa dan Judi Online

Next Post

I Made Putra Wijaya, Seniman Tari dari Desa Peliatan: Antara Pengabdian dan Penghargaan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
I Made Putra Wijaya, Seniman Tari dari Desa Peliatan: Antara Pengabdian dan Penghargaan

I Made Putra Wijaya, Seniman Tari dari Desa Peliatan: Antara Pengabdian dan Penghargaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co