3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bumerang Disrupsi Teknologi dan Informasi: Habis “FoMO”, Terbitlah “Doom Spending”

Almira Yoshe Alodia by Almira Yoshe Alodia
November 11, 2024
in Esai
Bumerang Disrupsi Teknologi dan Informasi: Habis “FoMO”, Terbitlah “Doom Spending”

Almira Yoshe Alodia

BARU-BARU ini mulai terdengar istilah baru yang kembali dikaitkan dengan gen Z dan millenial, yakni doom spending. Istilah baru ini dimaknai sebagai suatu perilaku ketika seseorang gemar menghabiskan uang untuk berbelanja secara impulsif.

Menurut beberapa studi, pelaku doom spending merupakan 43% generasi millenial, dan 35% adalah gen Z. Tak heran jika saat ini, banyak gen Z dan millennial yang lebih menyukai belanja barang-barang branded atau makan di restoran mewah dengan intensitas hampir setiap hari dibandingkan dengan menabung untuk membeli aset masa depan.

Kondisi doom spending merujuk pada kecenderungan individu untuk melakukan pengeluaran secara berlebihan atau dengan kata lain pembelian tidak terencana yang dilakukan tanpa pertimbangan matang dan disertai konflik emosional yang tinggi (Wood dalam Zhang dan Shi, 2022). Tren ini sering kali dilakukan sebagai bentuk respons emosional terhadap situasi yang menekan atau ketidakpastian, baik dalam kehidupan pribadi, sosial, maupun ekonomi. Jadi, saat ini doom spending seolah-olah dianggap sebagai bentuk coping mechanism-nya anak-anak muda zaman sekarang dalam menghadapi permasalahan.

Sebenarnya sah-sah saja melakukan hal tertentu untuk escape dari berbagai permasalahan yang dihadapi. Masalahnya, dalam doom spending orang-orang tidak menerapkan konsep berbelanja secara mindful seperti pada tren conscious consumerism atau perilaku belanja dengan sadar. Dampaknya tentu akan terlihat di berbagai sektor.

Era disrupsi teknologi dan informasi jadi salah satu faktor yang mendukung fenomena doom spending.  Lalu, apakah terjadinya fenomena doom spending ini kemudian menjadikan tren sadar berbelanja sebagai sekedar cita-cita yang pupus?

Disrupsi Teknologi dan Informasi Sebagai Katalisator Doom Spending

Tak dapat dipungkiri, berkembangnya teknologi yang semakin pesat dan kemunculan platform yang beraneka ragam sangat berpengaruh terhadap perubahan budaya internet dan peredaran informasi. Berkembangnya media sosial memungkinkan kita semua sebagai penggunanya terpapar lebih banyak informasi dalam hitungan detik dan menit.

Jika dilihat dari sisi positifnya, kemajuan teknologi ini tentu membawa banyak keuntungan, misalnya dalam konteks pengetahuan tentang berbagai hal termasuk pola perilaku konsumsi. Kemajuan teknologi ini pada gilirannya dapat meningkatkan kesadaran tentang dampak perilaku konsumsi terhadap berbagai sektor kehidupan yang disebut dengan tren conscious consumerism tadi. Tren ini pada dasarnya merepresentasikan pola konsumsi yang berubah.

Nilai ekonomis suatu produk bukan lagi satu-satunya hal yang dipertimbangkan ketika membeli sesuatu, namun juga nilai lingkungan, sosial, bahkan hingga nilai politis. Kenyataannya, era kemajuan digital justru memicu fenomena doom spending semakin meluas seiring dengan transformasi teknologi yang membawa informasi serta konten konsumerisme secara terus-menerus ke dalam genggaman tangan kita.

Hal ini sesuai dengan pendapat dari Kacen dan Lee (2002), bahwa teknologi seperti kemajuan internet dapat memperluas kesempatan berbelanja implusif dari konsumen, sebab keberadaan internet dapat meningkatkan aksesibilitas terhadap produk dan layanan serta kemudahan melakukan pembelian impulsif.

Variasi media sosial dan platform belanja online yang semakin beragam juga membuat generasi muda, bahkan hingga tua terpapar berbagai informasi terkait produk, seperti iklan yang cenderung menawarkan produk-produk sekunder.  Belum lagi keberadaan influencer di platform seperti Instagram dan TikTok juga berperan besar dalam mendorong doom spending.

Godaan pembelian impulsif dapat semakin meningkat dengan adanya dorongan dari konten yang diiklankan oleh influencer atau figur publik di media sosial. Sering kali, gaya hidup yang ditampilkan melalui konten influencer atau bahkan teman-teman di lingkaran sosial kita seolah menciptakan standar konsumsi yang mepengaruhi keinginan untuk mengikuti tren yang ada. Banyak orang merasa terdorong untuk berbelanja secara impulsif demi “mengikuti zaman,” walaupun mungkin tidak benar-benar membutuhkan produk tersebut.

Miris setelah mengetahui fakta bahwa mayoritas generasi muda berubah menjadi konsumtif hanya karena mencari validasi dari orang lain, baik dalam dunia nyata maupun di internet. Tentunya kenyataan ini memotret bahwa pengakuan di dunia nyata bisa jadi dirasa tidak cukup bagi generasi-generasi yang begitu bersahabat dengan media sosial dan internet. Jika diurut kembali dari belakang, fenomena doom spending ini bisa dikatakan sebagai ekor dari perasaan Fear of Missing Out (FoMO), istilah yang menggambarkan ketakutan seseorang akan ketertinggalan jika dirinya tidak mengikuti tren tertentu.

Buy Now Pay Later Berujung Pinjol

Kemunculan berbagai platform belanja online (e-commerce) merupakan sebuah kemudahan dalam mengakses produk dan layanan. Bahkan jika bicara tentang kemudahan, pertumbuhan e-commerce juga mengakselerasi perkembangan sistem pembayaran digital, seperti dompet digital, pinjaman bersama, dan sistem Buy Now Pay Later atau biasa kita kenal dengan kredit.

Meski pada dasarnya sistem kredit sudah ada sejak dulu, namun kombinasi kemudahan belanja yang disodorkan e-commerce saat ini semakin mendorong generasi-generasi muda untuk menggunakannya. Konsumen tidak lagi perlu menggunakan banyak energi untuk berbelanja karena apa yang diinginkan bisa berada dalam genggaman hanya dalam satu kali klik.

Sistem buy now pay later juga telah mengeliminasi hambatan finansial yang mungkin dapat membatasi keputusan pembelian konsumen di masa lalu (Juita et al, 2023). Hal inilah yang kemudian mendorong terjadinya fenomena doom spending yang jika tidak segera dihentikan dapat berujung pada perilaku konsumsi yang berlebihan.

Kemudahan yang ditawarkan e-commerce dan sistem pembayaran digitalnya bukan tidak mungkin menjadi petaka. Belakangan banyak sekali gen Z dan millenials yang pada akhirnya terjebak dalam kasus pinjaman online (pinjol) karena utang akibat tagihan yang secara tidak sadar semakin menumpuk seiring bertambahnya belanjaan yang tidak terkontrol. Gen Z dan millenial menganggap bahwa pinjol dapat dijadikan sebagai alternatif pelunasan tagihan. Padahal, gagasan ini justru memperburuk kondisi finansial, bahkan dalam jangka panjang berdampak pada kondisi mental.

Langkah Kecil untuk Berbelanja Lebih Mindful

Meski doom spending seolah telah menggeser kesadaran masyarakat dalam berbelanja secara considerate, namun bukan berarti conscious consumerism pupus dan tidak dapat direalisasikan. Justru konsep ini menjadi solusi paling realistis yang bisa dilakukan. Masalahnya, bagaimana kemudian kita menumbuhkan kesadaran dan kemauan masyarakat untuk menerapkan konsep ini?

Percayalah bahwa langkah kecil akan tetap berarti untuk masa depan. Beberapa hal yang mulai bisa dilakukan untuk mewujudkan konsep conscious consumerism sebagai solusi perilaku doom spending adalah dengan meningkatkan literasi digital. Dengan memiliki literasi digital, maka kita akan tahu cara kerja internet dan media sosial secara menyeluruh, dan dampaknya bagi kehidupan jangka panjang, termasuk pembentukan perilaku konsumsi. Cara ini bisa dimanfaatkan sebagai upaya membuat konsumen menanggapi informasi konsumsi yang bersifat manipulatif di media sosial secara lebih bijaksana.

Selain itu, masyarakat perlu mempraktikkan detoksifikasi digital untuk membatasi waktu dan eksposur terhadap konten-konten komersial. Mengurangi penggunaan aplikasi belanja atau mengatur batasan waktu untuk mengakses media sosial dapat membantu mengurangi keinginan berbelanja impulsif. Keputusan pengguna untuk berlama-lama menyelam di media sosial memang tidak memberikan kepuasan, namun justru sebaliknya.

Savitri (2019) menjelaskan bahwa akses yang berlebihan pada media sosial justru akan menggeser intensi seseorang dalam pemanfaatannya. Misalnya, alih-alih membangun kedekatan, kepercayaan, dan kehangatan hubungan dengan orang lain melalui media sosial, banyak pengguna yang justru salah fokus dengan apa yang terjadi di dalamnya, seperti belanja implusif ini. [T]

Refleksi 2 November: Mencari Makna di Balik Perubahan Teknologi
Transformasi Radio: Menolak Mati dalam Gelombang Digitalisasi
Media Sosial : Arena Perlawanan Rakyat Indonesia
Anak-anak dan Media: Antara Manfaat, Bahaya, dan Pembentukan Identitas
Tags: digitaldoom spendingmedia sosialpinjol
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merasakan Keaslian Bali di Dira Family Guest House, Desa Aan-Klungkung

Next Post

Badan Intelijen Keuangan: Urgensi dan Tantangan Komunikasi

Almira Yoshe Alodia

Almira Yoshe Alodia

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Badan Intelijen Keuangan: Urgensi dan Tantangan Komunikasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co