24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bumerang Disrupsi Teknologi dan Informasi: Habis “FoMO”, Terbitlah “Doom Spending”

Almira Yoshe Alodia by Almira Yoshe Alodia
November 11, 2024
in Esai
Bumerang Disrupsi Teknologi dan Informasi: Habis “FoMO”, Terbitlah “Doom Spending”

Almira Yoshe Alodia

BARU-BARU ini mulai terdengar istilah baru yang kembali dikaitkan dengan gen Z dan millenial, yakni doom spending. Istilah baru ini dimaknai sebagai suatu perilaku ketika seseorang gemar menghabiskan uang untuk berbelanja secara impulsif.

Menurut beberapa studi, pelaku doom spending merupakan 43% generasi millenial, dan 35% adalah gen Z. Tak heran jika saat ini, banyak gen Z dan millennial yang lebih menyukai belanja barang-barang branded atau makan di restoran mewah dengan intensitas hampir setiap hari dibandingkan dengan menabung untuk membeli aset masa depan.

Kondisi doom spending merujuk pada kecenderungan individu untuk melakukan pengeluaran secara berlebihan atau dengan kata lain pembelian tidak terencana yang dilakukan tanpa pertimbangan matang dan disertai konflik emosional yang tinggi (Wood dalam Zhang dan Shi, 2022). Tren ini sering kali dilakukan sebagai bentuk respons emosional terhadap situasi yang menekan atau ketidakpastian, baik dalam kehidupan pribadi, sosial, maupun ekonomi. Jadi, saat ini doom spending seolah-olah dianggap sebagai bentuk coping mechanism-nya anak-anak muda zaman sekarang dalam menghadapi permasalahan.

Sebenarnya sah-sah saja melakukan hal tertentu untuk escape dari berbagai permasalahan yang dihadapi. Masalahnya, dalam doom spending orang-orang tidak menerapkan konsep berbelanja secara mindful seperti pada tren conscious consumerism atau perilaku belanja dengan sadar. Dampaknya tentu akan terlihat di berbagai sektor.

Era disrupsi teknologi dan informasi jadi salah satu faktor yang mendukung fenomena doom spending.  Lalu, apakah terjadinya fenomena doom spending ini kemudian menjadikan tren sadar berbelanja sebagai sekedar cita-cita yang pupus?

Disrupsi Teknologi dan Informasi Sebagai Katalisator Doom Spending

Tak dapat dipungkiri, berkembangnya teknologi yang semakin pesat dan kemunculan platform yang beraneka ragam sangat berpengaruh terhadap perubahan budaya internet dan peredaran informasi. Berkembangnya media sosial memungkinkan kita semua sebagai penggunanya terpapar lebih banyak informasi dalam hitungan detik dan menit.

Jika dilihat dari sisi positifnya, kemajuan teknologi ini tentu membawa banyak keuntungan, misalnya dalam konteks pengetahuan tentang berbagai hal termasuk pola perilaku konsumsi. Kemajuan teknologi ini pada gilirannya dapat meningkatkan kesadaran tentang dampak perilaku konsumsi terhadap berbagai sektor kehidupan yang disebut dengan tren conscious consumerism tadi. Tren ini pada dasarnya merepresentasikan pola konsumsi yang berubah.

Nilai ekonomis suatu produk bukan lagi satu-satunya hal yang dipertimbangkan ketika membeli sesuatu, namun juga nilai lingkungan, sosial, bahkan hingga nilai politis. Kenyataannya, era kemajuan digital justru memicu fenomena doom spending semakin meluas seiring dengan transformasi teknologi yang membawa informasi serta konten konsumerisme secara terus-menerus ke dalam genggaman tangan kita.

Hal ini sesuai dengan pendapat dari Kacen dan Lee (2002), bahwa teknologi seperti kemajuan internet dapat memperluas kesempatan berbelanja implusif dari konsumen, sebab keberadaan internet dapat meningkatkan aksesibilitas terhadap produk dan layanan serta kemudahan melakukan pembelian impulsif.

Variasi media sosial dan platform belanja online yang semakin beragam juga membuat generasi muda, bahkan hingga tua terpapar berbagai informasi terkait produk, seperti iklan yang cenderung menawarkan produk-produk sekunder.  Belum lagi keberadaan influencer di platform seperti Instagram dan TikTok juga berperan besar dalam mendorong doom spending.

Godaan pembelian impulsif dapat semakin meningkat dengan adanya dorongan dari konten yang diiklankan oleh influencer atau figur publik di media sosial. Sering kali, gaya hidup yang ditampilkan melalui konten influencer atau bahkan teman-teman di lingkaran sosial kita seolah menciptakan standar konsumsi yang mepengaruhi keinginan untuk mengikuti tren yang ada. Banyak orang merasa terdorong untuk berbelanja secara impulsif demi “mengikuti zaman,” walaupun mungkin tidak benar-benar membutuhkan produk tersebut.

Miris setelah mengetahui fakta bahwa mayoritas generasi muda berubah menjadi konsumtif hanya karena mencari validasi dari orang lain, baik dalam dunia nyata maupun di internet. Tentunya kenyataan ini memotret bahwa pengakuan di dunia nyata bisa jadi dirasa tidak cukup bagi generasi-generasi yang begitu bersahabat dengan media sosial dan internet. Jika diurut kembali dari belakang, fenomena doom spending ini bisa dikatakan sebagai ekor dari perasaan Fear of Missing Out (FoMO), istilah yang menggambarkan ketakutan seseorang akan ketertinggalan jika dirinya tidak mengikuti tren tertentu.

Buy Now Pay Later Berujung Pinjol

Kemunculan berbagai platform belanja online (e-commerce) merupakan sebuah kemudahan dalam mengakses produk dan layanan. Bahkan jika bicara tentang kemudahan, pertumbuhan e-commerce juga mengakselerasi perkembangan sistem pembayaran digital, seperti dompet digital, pinjaman bersama, dan sistem Buy Now Pay Later atau biasa kita kenal dengan kredit.

Meski pada dasarnya sistem kredit sudah ada sejak dulu, namun kombinasi kemudahan belanja yang disodorkan e-commerce saat ini semakin mendorong generasi-generasi muda untuk menggunakannya. Konsumen tidak lagi perlu menggunakan banyak energi untuk berbelanja karena apa yang diinginkan bisa berada dalam genggaman hanya dalam satu kali klik.

Sistem buy now pay later juga telah mengeliminasi hambatan finansial yang mungkin dapat membatasi keputusan pembelian konsumen di masa lalu (Juita et al, 2023). Hal inilah yang kemudian mendorong terjadinya fenomena doom spending yang jika tidak segera dihentikan dapat berujung pada perilaku konsumsi yang berlebihan.

Kemudahan yang ditawarkan e-commerce dan sistem pembayaran digitalnya bukan tidak mungkin menjadi petaka. Belakangan banyak sekali gen Z dan millenials yang pada akhirnya terjebak dalam kasus pinjaman online (pinjol) karena utang akibat tagihan yang secara tidak sadar semakin menumpuk seiring bertambahnya belanjaan yang tidak terkontrol. Gen Z dan millenial menganggap bahwa pinjol dapat dijadikan sebagai alternatif pelunasan tagihan. Padahal, gagasan ini justru memperburuk kondisi finansial, bahkan dalam jangka panjang berdampak pada kondisi mental.

Langkah Kecil untuk Berbelanja Lebih Mindful

Meski doom spending seolah telah menggeser kesadaran masyarakat dalam berbelanja secara considerate, namun bukan berarti conscious consumerism pupus dan tidak dapat direalisasikan. Justru konsep ini menjadi solusi paling realistis yang bisa dilakukan. Masalahnya, bagaimana kemudian kita menumbuhkan kesadaran dan kemauan masyarakat untuk menerapkan konsep ini?

Percayalah bahwa langkah kecil akan tetap berarti untuk masa depan. Beberapa hal yang mulai bisa dilakukan untuk mewujudkan konsep conscious consumerism sebagai solusi perilaku doom spending adalah dengan meningkatkan literasi digital. Dengan memiliki literasi digital, maka kita akan tahu cara kerja internet dan media sosial secara menyeluruh, dan dampaknya bagi kehidupan jangka panjang, termasuk pembentukan perilaku konsumsi. Cara ini bisa dimanfaatkan sebagai upaya membuat konsumen menanggapi informasi konsumsi yang bersifat manipulatif di media sosial secara lebih bijaksana.

Selain itu, masyarakat perlu mempraktikkan detoksifikasi digital untuk membatasi waktu dan eksposur terhadap konten-konten komersial. Mengurangi penggunaan aplikasi belanja atau mengatur batasan waktu untuk mengakses media sosial dapat membantu mengurangi keinginan berbelanja impulsif. Keputusan pengguna untuk berlama-lama menyelam di media sosial memang tidak memberikan kepuasan, namun justru sebaliknya.

Savitri (2019) menjelaskan bahwa akses yang berlebihan pada media sosial justru akan menggeser intensi seseorang dalam pemanfaatannya. Misalnya, alih-alih membangun kedekatan, kepercayaan, dan kehangatan hubungan dengan orang lain melalui media sosial, banyak pengguna yang justru salah fokus dengan apa yang terjadi di dalamnya, seperti belanja implusif ini. [T]

Refleksi 2 November: Mencari Makna di Balik Perubahan Teknologi
Transformasi Radio: Menolak Mati dalam Gelombang Digitalisasi
Media Sosial : Arena Perlawanan Rakyat Indonesia
Anak-anak dan Media: Antara Manfaat, Bahaya, dan Pembentukan Identitas
Tags: digitaldoom spendingmedia sosialpinjol
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merasakan Keaslian Bali di Dira Family Guest House, Desa Aan-Klungkung

Next Post

Badan Intelijen Keuangan: Urgensi dan Tantangan Komunikasi

Almira Yoshe Alodia

Almira Yoshe Alodia

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Badan Intelijen Keuangan: Urgensi dan Tantangan Komunikasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co