3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bumerang Disrupsi Teknologi dan Informasi: Habis “FoMO”, Terbitlah “Doom Spending”

Almira Yoshe Alodia by Almira Yoshe Alodia
November 11, 2024
in Esai
Bumerang Disrupsi Teknologi dan Informasi: Habis “FoMO”, Terbitlah “Doom Spending”

Almira Yoshe Alodia

BARU-BARU ini mulai terdengar istilah baru yang kembali dikaitkan dengan gen Z dan millenial, yakni doom spending. Istilah baru ini dimaknai sebagai suatu perilaku ketika seseorang gemar menghabiskan uang untuk berbelanja secara impulsif.

Menurut beberapa studi, pelaku doom spending merupakan 43% generasi millenial, dan 35% adalah gen Z. Tak heran jika saat ini, banyak gen Z dan millennial yang lebih menyukai belanja barang-barang branded atau makan di restoran mewah dengan intensitas hampir setiap hari dibandingkan dengan menabung untuk membeli aset masa depan.

Kondisi doom spending merujuk pada kecenderungan individu untuk melakukan pengeluaran secara berlebihan atau dengan kata lain pembelian tidak terencana yang dilakukan tanpa pertimbangan matang dan disertai konflik emosional yang tinggi (Wood dalam Zhang dan Shi, 2022). Tren ini sering kali dilakukan sebagai bentuk respons emosional terhadap situasi yang menekan atau ketidakpastian, baik dalam kehidupan pribadi, sosial, maupun ekonomi. Jadi, saat ini doom spending seolah-olah dianggap sebagai bentuk coping mechanism-nya anak-anak muda zaman sekarang dalam menghadapi permasalahan.

Sebenarnya sah-sah saja melakukan hal tertentu untuk escape dari berbagai permasalahan yang dihadapi. Masalahnya, dalam doom spending orang-orang tidak menerapkan konsep berbelanja secara mindful seperti pada tren conscious consumerism atau perilaku belanja dengan sadar. Dampaknya tentu akan terlihat di berbagai sektor.

Era disrupsi teknologi dan informasi jadi salah satu faktor yang mendukung fenomena doom spending.  Lalu, apakah terjadinya fenomena doom spending ini kemudian menjadikan tren sadar berbelanja sebagai sekedar cita-cita yang pupus?

Disrupsi Teknologi dan Informasi Sebagai Katalisator Doom Spending

Tak dapat dipungkiri, berkembangnya teknologi yang semakin pesat dan kemunculan platform yang beraneka ragam sangat berpengaruh terhadap perubahan budaya internet dan peredaran informasi. Berkembangnya media sosial memungkinkan kita semua sebagai penggunanya terpapar lebih banyak informasi dalam hitungan detik dan menit.

Jika dilihat dari sisi positifnya, kemajuan teknologi ini tentu membawa banyak keuntungan, misalnya dalam konteks pengetahuan tentang berbagai hal termasuk pola perilaku konsumsi. Kemajuan teknologi ini pada gilirannya dapat meningkatkan kesadaran tentang dampak perilaku konsumsi terhadap berbagai sektor kehidupan yang disebut dengan tren conscious consumerism tadi. Tren ini pada dasarnya merepresentasikan pola konsumsi yang berubah.

Nilai ekonomis suatu produk bukan lagi satu-satunya hal yang dipertimbangkan ketika membeli sesuatu, namun juga nilai lingkungan, sosial, bahkan hingga nilai politis. Kenyataannya, era kemajuan digital justru memicu fenomena doom spending semakin meluas seiring dengan transformasi teknologi yang membawa informasi serta konten konsumerisme secara terus-menerus ke dalam genggaman tangan kita.

Hal ini sesuai dengan pendapat dari Kacen dan Lee (2002), bahwa teknologi seperti kemajuan internet dapat memperluas kesempatan berbelanja implusif dari konsumen, sebab keberadaan internet dapat meningkatkan aksesibilitas terhadap produk dan layanan serta kemudahan melakukan pembelian impulsif.

Variasi media sosial dan platform belanja online yang semakin beragam juga membuat generasi muda, bahkan hingga tua terpapar berbagai informasi terkait produk, seperti iklan yang cenderung menawarkan produk-produk sekunder.  Belum lagi keberadaan influencer di platform seperti Instagram dan TikTok juga berperan besar dalam mendorong doom spending.

Godaan pembelian impulsif dapat semakin meningkat dengan adanya dorongan dari konten yang diiklankan oleh influencer atau figur publik di media sosial. Sering kali, gaya hidup yang ditampilkan melalui konten influencer atau bahkan teman-teman di lingkaran sosial kita seolah menciptakan standar konsumsi yang mepengaruhi keinginan untuk mengikuti tren yang ada. Banyak orang merasa terdorong untuk berbelanja secara impulsif demi “mengikuti zaman,” walaupun mungkin tidak benar-benar membutuhkan produk tersebut.

Miris setelah mengetahui fakta bahwa mayoritas generasi muda berubah menjadi konsumtif hanya karena mencari validasi dari orang lain, baik dalam dunia nyata maupun di internet. Tentunya kenyataan ini memotret bahwa pengakuan di dunia nyata bisa jadi dirasa tidak cukup bagi generasi-generasi yang begitu bersahabat dengan media sosial dan internet. Jika diurut kembali dari belakang, fenomena doom spending ini bisa dikatakan sebagai ekor dari perasaan Fear of Missing Out (FoMO), istilah yang menggambarkan ketakutan seseorang akan ketertinggalan jika dirinya tidak mengikuti tren tertentu.

Buy Now Pay Later Berujung Pinjol

Kemunculan berbagai platform belanja online (e-commerce) merupakan sebuah kemudahan dalam mengakses produk dan layanan. Bahkan jika bicara tentang kemudahan, pertumbuhan e-commerce juga mengakselerasi perkembangan sistem pembayaran digital, seperti dompet digital, pinjaman bersama, dan sistem Buy Now Pay Later atau biasa kita kenal dengan kredit.

Meski pada dasarnya sistem kredit sudah ada sejak dulu, namun kombinasi kemudahan belanja yang disodorkan e-commerce saat ini semakin mendorong generasi-generasi muda untuk menggunakannya. Konsumen tidak lagi perlu menggunakan banyak energi untuk berbelanja karena apa yang diinginkan bisa berada dalam genggaman hanya dalam satu kali klik.

Sistem buy now pay later juga telah mengeliminasi hambatan finansial yang mungkin dapat membatasi keputusan pembelian konsumen di masa lalu (Juita et al, 2023). Hal inilah yang kemudian mendorong terjadinya fenomena doom spending yang jika tidak segera dihentikan dapat berujung pada perilaku konsumsi yang berlebihan.

Kemudahan yang ditawarkan e-commerce dan sistem pembayaran digitalnya bukan tidak mungkin menjadi petaka. Belakangan banyak sekali gen Z dan millenials yang pada akhirnya terjebak dalam kasus pinjaman online (pinjol) karena utang akibat tagihan yang secara tidak sadar semakin menumpuk seiring bertambahnya belanjaan yang tidak terkontrol. Gen Z dan millenial menganggap bahwa pinjol dapat dijadikan sebagai alternatif pelunasan tagihan. Padahal, gagasan ini justru memperburuk kondisi finansial, bahkan dalam jangka panjang berdampak pada kondisi mental.

Langkah Kecil untuk Berbelanja Lebih Mindful

Meski doom spending seolah telah menggeser kesadaran masyarakat dalam berbelanja secara considerate, namun bukan berarti conscious consumerism pupus dan tidak dapat direalisasikan. Justru konsep ini menjadi solusi paling realistis yang bisa dilakukan. Masalahnya, bagaimana kemudian kita menumbuhkan kesadaran dan kemauan masyarakat untuk menerapkan konsep ini?

Percayalah bahwa langkah kecil akan tetap berarti untuk masa depan. Beberapa hal yang mulai bisa dilakukan untuk mewujudkan konsep conscious consumerism sebagai solusi perilaku doom spending adalah dengan meningkatkan literasi digital. Dengan memiliki literasi digital, maka kita akan tahu cara kerja internet dan media sosial secara menyeluruh, dan dampaknya bagi kehidupan jangka panjang, termasuk pembentukan perilaku konsumsi. Cara ini bisa dimanfaatkan sebagai upaya membuat konsumen menanggapi informasi konsumsi yang bersifat manipulatif di media sosial secara lebih bijaksana.

Selain itu, masyarakat perlu mempraktikkan detoksifikasi digital untuk membatasi waktu dan eksposur terhadap konten-konten komersial. Mengurangi penggunaan aplikasi belanja atau mengatur batasan waktu untuk mengakses media sosial dapat membantu mengurangi keinginan berbelanja impulsif. Keputusan pengguna untuk berlama-lama menyelam di media sosial memang tidak memberikan kepuasan, namun justru sebaliknya.

Savitri (2019) menjelaskan bahwa akses yang berlebihan pada media sosial justru akan menggeser intensi seseorang dalam pemanfaatannya. Misalnya, alih-alih membangun kedekatan, kepercayaan, dan kehangatan hubungan dengan orang lain melalui media sosial, banyak pengguna yang justru salah fokus dengan apa yang terjadi di dalamnya, seperti belanja implusif ini. [T]

Refleksi 2 November: Mencari Makna di Balik Perubahan Teknologi
Transformasi Radio: Menolak Mati dalam Gelombang Digitalisasi
Media Sosial : Arena Perlawanan Rakyat Indonesia
Anak-anak dan Media: Antara Manfaat, Bahaya, dan Pembentukan Identitas
Tags: digitaldoom spendingmedia sosialpinjol
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merasakan Keaslian Bali di Dira Family Guest House, Desa Aan-Klungkung

Next Post

Badan Intelijen Keuangan: Urgensi dan Tantangan Komunikasi

Almira Yoshe Alodia

Almira Yoshe Alodia

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Badan Intelijen Keuangan: Urgensi dan Tantangan Komunikasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co