12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [9]: Mahasiswi yang Duduk di Pojok Kantin

Chusmeru by Chusmeru
February 27, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

LINGKARAN pertemanan atau yang kini dikenal dengan circle dianggap penting di kalangan kaum muda. Tak terkecuali di kalangan mahasiswa. Banyak alasan memilih circle pertemanan. Selain faktor kecocokan dan kenyamanan, lingkaran pertemanan kadang terbentuk karena hal-hal yang sepele.

Seperti Gadis 3 D, kelompok pertemanan di kampus yang terbentuk karena kesamaan nama depan mereka, yaitu Dina, Dini, dan Dita. Mereka dikenal di kampus sebagai bestie yang sulit terpisahkan. Ke mana pun Dina pergi, pasti ada Dini dan Dita. Gadis 3 D bahkan sudah menjadi perhatian beberapa dosen.

Setiap perkuliahan mereka bertiga pasti akan masuk kelas bersamaan dan duduk di kursi terdepan dengan bersebelahan. Pernah suatu ketika, Dina sakit flu dan tidak dapat mengikuti kuliah  Aldo Nugroho, dosen Fotografi. Anehnya, Dini dan Dita juga tidak datang ke kampus. Alasan mereka, bersimpati kepada Dina yang sedang sakit.

Mereka sebetulnya berasal dari daerah yang berbeda. Dina mahasiswi perantau dari Bandung. Dini berasal dari Solo. Sedangkan Dita berasal dari Medan. Ketiganya juga kost di tempat yang berbeda, meski masih di seputaran kampus. Latar belakang daerah dan budaya yang berbeda tidak membuat Gadis 3 D itu kesulitan berinteraksi. Justru mereka tampak akrab dan saling menghormati adat dan budaya mereka.

Seperti pagi ini, mereka kompak kuliah dengan baju yang sama-sama biru dengan hijab hitam yang sama pula. Bukan tanpa alasan mereka tampil dengan busana seragam dan rapi. Kuliah Humas Perusahaan dengan dosen Risa Mutiara memang harus rapi. Apalagi Risa Mutiara juga selalu tampil necis dengan busana dan asesorinya.

Selesai kuliah, mereka bertiga bergegas ke kantin. Kebetulan mereka memang belum sempat sarapan pagi. Kantin fakultas tidak terlalu jauh dari ruang kuliah, hanya dalam kisaran 30 meter. Kantin itu pula yang selalu menjadi tempat mereka bergosip tentang apa saja.

***

Kantin belum begitu ramai. Hanya ada beberapa orang mahasiswa yang minum kopi sambil mengobrol. Maklum hari belum berangkat siang, sehingga belum banyak mahasiswa yang makan. Dita memesan nasi pecel. Tak lupa mendoan, yang tidak ada di Medan daerah asalnya. Mendoan adalah tempe khas daerah Banyumas yang digoreng dengan tepung setengah matang. Dina dan Dini sama-sama memesan soto ayam untuk sarapan pagi.

Saat mereka mulai menyantap makanan, tiba-tiba datang  seorang gadis, mahasiswi yang langsung duduk di pojok kantin. Parasnya cantik. Menggunakan baju ungu dengan kerudung putih, mahasiswi itu duduk termenung. Dia tidak memesan makanan apa pun.

Sorot matanya tajam, memandangi Dina, Dini, dan Dita yang sedang menyantap makanan. Dina yang merasa diperhatikan mahasiswi itu merasa tidak nyaman, sekaligus sedikit ngeri melihat wajah gadis yang tampak pucat. Dicoleknya Dini dan Dita.

“Kalian perhatikan cewek itu nggak?” tanya Dina pada sahabatnya.

“Cewek yang mana?” tanya Dini

“Itu…, yang duduk di pojok kantin!” jawab Dina.

Serempak Dini dan Dita melihat ke pojok kantin. Mereka kaget. Gadis itu menatap mereka. Bibirnya putih seperti layu. Sesekali ia memegangi kerudungnya. Gadis 3 D itu menghentikan makan paginya.

“Siapa dia..? Wajahnya serem,” kata Dina.

“Mahasiswi jurusan apa?” tanya Dita.

Mereka tak ada yang mengenali gadis itu. Selama empat semester kuliah di jurusan komunikasi, mereka tidak pernah bertemu dengan mahasiswi itu. Ketika bermain ke jurusan lain, mereka juga tidak pernah melihat gadis itu. Lantas siapakah dia?

Mereka buru-buru membayar makanan ke kasir kantin. Selera makan mereka terasa terganggu dengan sosok gadis yang duduk di pojok kantin. Namun betapa terkejut mereka ketika membalikkan badan dari depan kasir, gadis layu dan misterius itu telah hilang dari pandangan mereka. Tak ada lagi gadis yang duduk di pojok kantin.

Hari berikutnya, kuliah Fotografi. Dita, Dini, dan Dina berangkat lebih pagi. Dosen pengampu kuliah, Aldo Nugroho terkenal sangat disiplin. Jadwal kuliah pukul tujuh, pada pukul tujuh kurang lima menit Aldo sudah masuk kelas.

Mereka bertiga belum sempat sarapan. Hanya minum air putih dan sepotong biskuit di tempat kost masing-masing. Karenanya, mereka sepakat untuk sarapan pagi di kantin saja. Kali ini mereka serempak memesan gado-gado sebagai menu makan pagi.

Kembali mereka dikejutkan oleh sosok gadis misterius selagi menyantap gado-gado. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba di hadapan mereka sudah duduk gadis di pojok kantin. Kali ini dia memakai baju putih dengan hijab berwarna hitam. Duduk terdiam, tak memesan apa pun di kantin.

Mereka saling pandang, ketakutan. Sudah dua kali mereka melihat gadis yang selalu duduk di pojok kantin, terdiam dan tidak memesan makanan. Benarkah gadis itu mahasiswi di kampus ini, atau hantu penunggu kantin?

Di tengah keheranan mereka, gadis itu memandang mereka dengan wajah sendu; memelas. Seolah dia ingin mendapat perhatian Dita, Dini, dan Dina. Mata gadis itu berkaca-kaca. Sejurus kemudian butiran air menetes di sudut kelopak matanya. Wajahnya menunjukkan kesedihan yang mendalam.

“Cewek itu menangis…,” bisik Dini pada kedua temannya.

“Iya…, kenapa ya?” tanya Dita.

“Ayok kita samperin…,” ajak Dina.

“Hii… serem ah…,“ tukas Dita dan Dini berbarengan.

“Gak apa, siapa tahu dia perlu bantuan…,” kata Dina.

Mereka mencoba untuk memberanikan diri mendekati gadis di pojok kantin. Siapa tahu gadis itu sedang dalam kesulitan atau kemalangan. Baru saja mereka berdiri bersama untuk menghampiri, gadis itu sudah menghilang dari pandangan mata mereka. Sudah tentu mereka terkejut.

“Hahh… menghilang…!” ujar Dita.

“Jangan-jangan hantu…,” kata Dini sambil ketakutan memegang lengan kedua temannya. Suasana kantin membuat rasa lapar mereka hilang seketika. Wajah mereka tegang. Cepat-cepat mereka menuju ke kasir untuk meminta penjelasan pemilik kantin tentang gadis yang selalu duduk di pojok.

“Iya.. saya juga pernah lihat dia,” ujar Maryati pemilik kantin.

“Siapa dia, Bu?” tanya mereka berbarengan.

“Kata orang-orang sih mantan mahasiswi di kampus ini. Beberapa bulan yang lalu meninggal karena kasus pembunuhan di daerahnya. Sampai saat ini pembunuhnya belum tertangkap,” cerita  Maryati.

“Jadi dia… hantu…?” tanya Dini yang dari tadi merasa tercengkeram ketakutan.

“Mungkin arwahnya masih belum diterima. Kadangkala dia juga tampak duduk di gazebo belakang kantin ini. Pernah ada penjaga malam yang melihat dia menangis di gazebo. Saat ditanya, gadis itu menghilang,” tambah Maryati.

Cerita Maryati pemilik kantin bukan membuat Dita, Dina, dan Dini lega, namun justru menjadikan mereka ketakutan. Jadi selama ini yang mereka saksikan adalah arwah mantan mahasiswi yang jadi korban pembunuhan.

***

Kembali ke ruang kelas di pagi hari membuat Dita, Dina, dan Dini merasa malas-malasan. Beruntung kuliah Aldo Nugroho selalu diwarnai guyonan yang membuat suasana kelas menjadi geerr.. Apalagi Aldo selalu saja mempunyai cerita menarik yang berbeda-beda setiap perkuliahan.

Tidak terasa, kuliah 3 SKS itu berakhir sudah. Seperti biasa, mereka hendak sarapan pagi di kantin. Namun sepertinya mereka ingin mengurungkan niat. Mereka tak mau lagi lagi melihat sosok gadis yang duduk di pojok kantin.

“Malas ahh… entar ketemu hantu cewek itu lagi…,” ucap Dini.

“Tapi aku lapar nihh…,” pinta Dina merajuk temannya.

Akhirnya mereka sepakat untuk ke kantin. Kali ini mereka tidak memesan makanan berat. Dina hanya memesan kopi susu dan kue basah yang dapat menganjal perut laparnya. Sedangkan Dita dan Dini memesan teh manis dan kue serabi.

Sambil menyeruput minuman dan menyantap kue, mereka berkali-kali memandang ke pojok kantin. Rasa cemas dan takut masih menyelimuti mereka. Terbayang di benak mereka sosok gadis yang lugu, memelas, namun menyeramkan duduk di pojok kantin.

Sudah cukup lama mereka berada di kantin. Tempat duduk di pojok masih tetap kosong. Tidak tampak gadis yang biasanya duduk di sana. Meski sebenarnya mereka juga berharap tidak akan melihatnya, tetapi rasa penasaran mengusik mereka.

“Kok gak muncul cewek itu ya?’ tanya Dita.

“Iya… emang kamu pingin lihat dia?” Dini balik bertanya.

“Hiii… amit-amit.. nggak ahh…,” pungkas Dita.

Hingga mereka selesai makan, mahasiswi yang biasa duduk di pojok kantin itu belum juga muncul. Rasa penasaran itu mereka tanyakan kepada pemilik kantin, Maryati.

“Iya… sudah tidak nongol lagi. Kabarnya, pelaku pembunuhan itu sudah tertangkap. Semoga arwahnya tenang di alam sana,” kata Maryati.

“Aamiin.. syukurlah,” kata mereka hampir berbarengan.

Sejenak mereka menghela nafas lega. Sudah beberapa hari ini mereka diterpa ketakutan ketika berada di kantin. Meski sebenarnya mereka juga merasa prihatin dan memelas atas apa yang terjadi pada mahasiswi itu. Mereka berharap pembunuh mahasiswi itu akan dihukum seberat-beratnya. Dan tentu saja mereka berharap tidak ada lagi kejadian buruk yang menimpa mahasiswa di kampusnya.

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [8]: Mobil Bergoyang Tengah Malam
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam
Kampusku Sarang Hantu [2]: Suara Misterius di Ruang Dosen
Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan
Kampusku Sarang Hantu [4]: Mahasiswa Kesurupan di Ruang Kuliah
Kampusku Sarang Hantu [5]: Tangisan dari Gudang Tua
Kampusku Sarang Hantu [6]: Akik Keramat Dosen
Kampusku Sarang Hantu [7]: Suara Printer dan Keran Air Mengucur
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Truni Itu Truna

Next Post

Cerita Kunjungan Kolaborasi Sekber SPAB Bali ke DIY: Jogja-Bali Sama-Sama Rawan Bencana

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Kunjungan Kolaborasi Sekber SPAB Bali ke DIY: Jogja-Bali Sama-Sama Rawan Bencana

Cerita Kunjungan Kolaborasi Sekber SPAB Bali ke DIY: Jogja-Bali Sama-Sama Rawan Bencana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co