20 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [9]: Mahasiswi yang Duduk di Pojok Kantin

Chusmeru by Chusmeru
February 27, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

LINGKARAN pertemanan atau yang kini dikenal dengan circle dianggap penting di kalangan kaum muda. Tak terkecuali di kalangan mahasiswa. Banyak alasan memilih circle pertemanan. Selain faktor kecocokan dan kenyamanan, lingkaran pertemanan kadang terbentuk karena hal-hal yang sepele.

Seperti Gadis 3 D, kelompok pertemanan di kampus yang terbentuk karena kesamaan nama depan mereka, yaitu Dina, Dini, dan Dita. Mereka dikenal di kampus sebagai bestie yang sulit terpisahkan. Ke mana pun Dina pergi, pasti ada Dini dan Dita. Gadis 3 D bahkan sudah menjadi perhatian beberapa dosen.

Setiap perkuliahan mereka bertiga pasti akan masuk kelas bersamaan dan duduk di kursi terdepan dengan bersebelahan. Pernah suatu ketika, Dina sakit flu dan tidak dapat mengikuti kuliah  Aldo Nugroho, dosen Fotografi. Anehnya, Dini dan Dita juga tidak datang ke kampus. Alasan mereka, bersimpati kepada Dina yang sedang sakit.

Mereka sebetulnya berasal dari daerah yang berbeda. Dina mahasiswi perantau dari Bandung. Dini berasal dari Solo. Sedangkan Dita berasal dari Medan. Ketiganya juga kost di tempat yang berbeda, meski masih di seputaran kampus. Latar belakang daerah dan budaya yang berbeda tidak membuat Gadis 3 D itu kesulitan berinteraksi. Justru mereka tampak akrab dan saling menghormati adat dan budaya mereka.

Seperti pagi ini, mereka kompak kuliah dengan baju yang sama-sama biru dengan hijab hitam yang sama pula. Bukan tanpa alasan mereka tampil dengan busana seragam dan rapi. Kuliah Humas Perusahaan dengan dosen Risa Mutiara memang harus rapi. Apalagi Risa Mutiara juga selalu tampil necis dengan busana dan asesorinya.

Selesai kuliah, mereka bertiga bergegas ke kantin. Kebetulan mereka memang belum sempat sarapan pagi. Kantin fakultas tidak terlalu jauh dari ruang kuliah, hanya dalam kisaran 30 meter. Kantin itu pula yang selalu menjadi tempat mereka bergosip tentang apa saja.

***

Kantin belum begitu ramai. Hanya ada beberapa orang mahasiswa yang minum kopi sambil mengobrol. Maklum hari belum berangkat siang, sehingga belum banyak mahasiswa yang makan. Dita memesan nasi pecel. Tak lupa mendoan, yang tidak ada di Medan daerah asalnya. Mendoan adalah tempe khas daerah Banyumas yang digoreng dengan tepung setengah matang. Dina dan Dini sama-sama memesan soto ayam untuk sarapan pagi.

Saat mereka mulai menyantap makanan, tiba-tiba datang  seorang gadis, mahasiswi yang langsung duduk di pojok kantin. Parasnya cantik. Menggunakan baju ungu dengan kerudung putih, mahasiswi itu duduk termenung. Dia tidak memesan makanan apa pun.

Sorot matanya tajam, memandangi Dina, Dini, dan Dita yang sedang menyantap makanan. Dina yang merasa diperhatikan mahasiswi itu merasa tidak nyaman, sekaligus sedikit ngeri melihat wajah gadis yang tampak pucat. Dicoleknya Dini dan Dita.

“Kalian perhatikan cewek itu nggak?” tanya Dina pada sahabatnya.

“Cewek yang mana?” tanya Dini

“Itu…, yang duduk di pojok kantin!” jawab Dina.

Serempak Dini dan Dita melihat ke pojok kantin. Mereka kaget. Gadis itu menatap mereka. Bibirnya putih seperti layu. Sesekali ia memegangi kerudungnya. Gadis 3 D itu menghentikan makan paginya.

“Siapa dia..? Wajahnya serem,” kata Dina.

“Mahasiswi jurusan apa?” tanya Dita.

Mereka tak ada yang mengenali gadis itu. Selama empat semester kuliah di jurusan komunikasi, mereka tidak pernah bertemu dengan mahasiswi itu. Ketika bermain ke jurusan lain, mereka juga tidak pernah melihat gadis itu. Lantas siapakah dia?

Mereka buru-buru membayar makanan ke kasir kantin. Selera makan mereka terasa terganggu dengan sosok gadis yang duduk di pojok kantin. Namun betapa terkejut mereka ketika membalikkan badan dari depan kasir, gadis layu dan misterius itu telah hilang dari pandangan mereka. Tak ada lagi gadis yang duduk di pojok kantin.

Hari berikutnya, kuliah Fotografi. Dita, Dini, dan Dina berangkat lebih pagi. Dosen pengampu kuliah, Aldo Nugroho terkenal sangat disiplin. Jadwal kuliah pukul tujuh, pada pukul tujuh kurang lima menit Aldo sudah masuk kelas.

Mereka bertiga belum sempat sarapan. Hanya minum air putih dan sepotong biskuit di tempat kost masing-masing. Karenanya, mereka sepakat untuk sarapan pagi di kantin saja. Kali ini mereka serempak memesan gado-gado sebagai menu makan pagi.

Kembali mereka dikejutkan oleh sosok gadis misterius selagi menyantap gado-gado. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba di hadapan mereka sudah duduk gadis di pojok kantin. Kali ini dia memakai baju putih dengan hijab berwarna hitam. Duduk terdiam, tak memesan apa pun di kantin.

Mereka saling pandang, ketakutan. Sudah dua kali mereka melihat gadis yang selalu duduk di pojok kantin, terdiam dan tidak memesan makanan. Benarkah gadis itu mahasiswi di kampus ini, atau hantu penunggu kantin?

Di tengah keheranan mereka, gadis itu memandang mereka dengan wajah sendu; memelas. Seolah dia ingin mendapat perhatian Dita, Dini, dan Dina. Mata gadis itu berkaca-kaca. Sejurus kemudian butiran air menetes di sudut kelopak matanya. Wajahnya menunjukkan kesedihan yang mendalam.

“Cewek itu menangis…,” bisik Dini pada kedua temannya.

“Iya…, kenapa ya?” tanya Dita.

“Ayok kita samperin…,” ajak Dina.

“Hii… serem ah…,“ tukas Dita dan Dini berbarengan.

“Gak apa, siapa tahu dia perlu bantuan…,” kata Dina.

Mereka mencoba untuk memberanikan diri mendekati gadis di pojok kantin. Siapa tahu gadis itu sedang dalam kesulitan atau kemalangan. Baru saja mereka berdiri bersama untuk menghampiri, gadis itu sudah menghilang dari pandangan mata mereka. Sudah tentu mereka terkejut.

“Hahh… menghilang…!” ujar Dita.

“Jangan-jangan hantu…,” kata Dini sambil ketakutan memegang lengan kedua temannya. Suasana kantin membuat rasa lapar mereka hilang seketika. Wajah mereka tegang. Cepat-cepat mereka menuju ke kasir untuk meminta penjelasan pemilik kantin tentang gadis yang selalu duduk di pojok.

“Iya.. saya juga pernah lihat dia,” ujar Maryati pemilik kantin.

“Siapa dia, Bu?” tanya mereka berbarengan.

“Kata orang-orang sih mantan mahasiswi di kampus ini. Beberapa bulan yang lalu meninggal karena kasus pembunuhan di daerahnya. Sampai saat ini pembunuhnya belum tertangkap,” cerita  Maryati.

“Jadi dia… hantu…?” tanya Dini yang dari tadi merasa tercengkeram ketakutan.

“Mungkin arwahnya masih belum diterima. Kadangkala dia juga tampak duduk di gazebo belakang kantin ini. Pernah ada penjaga malam yang melihat dia menangis di gazebo. Saat ditanya, gadis itu menghilang,” tambah Maryati.

Cerita Maryati pemilik kantin bukan membuat Dita, Dina, dan Dini lega, namun justru menjadikan mereka ketakutan. Jadi selama ini yang mereka saksikan adalah arwah mantan mahasiswi yang jadi korban pembunuhan.

***

Kembali ke ruang kelas di pagi hari membuat Dita, Dina, dan Dini merasa malas-malasan. Beruntung kuliah Aldo Nugroho selalu diwarnai guyonan yang membuat suasana kelas menjadi geerr.. Apalagi Aldo selalu saja mempunyai cerita menarik yang berbeda-beda setiap perkuliahan.

Tidak terasa, kuliah 3 SKS itu berakhir sudah. Seperti biasa, mereka hendak sarapan pagi di kantin. Namun sepertinya mereka ingin mengurungkan niat. Mereka tak mau lagi lagi melihat sosok gadis yang duduk di pojok kantin.

“Malas ahh… entar ketemu hantu cewek itu lagi…,” ucap Dini.

“Tapi aku lapar nihh…,” pinta Dina merajuk temannya.

Akhirnya mereka sepakat untuk ke kantin. Kali ini mereka tidak memesan makanan berat. Dina hanya memesan kopi susu dan kue basah yang dapat menganjal perut laparnya. Sedangkan Dita dan Dini memesan teh manis dan kue serabi.

Sambil menyeruput minuman dan menyantap kue, mereka berkali-kali memandang ke pojok kantin. Rasa cemas dan takut masih menyelimuti mereka. Terbayang di benak mereka sosok gadis yang lugu, memelas, namun menyeramkan duduk di pojok kantin.

Sudah cukup lama mereka berada di kantin. Tempat duduk di pojok masih tetap kosong. Tidak tampak gadis yang biasanya duduk di sana. Meski sebenarnya mereka juga berharap tidak akan melihatnya, tetapi rasa penasaran mengusik mereka.

“Kok gak muncul cewek itu ya?’ tanya Dita.

“Iya… emang kamu pingin lihat dia?” Dini balik bertanya.

“Hiii… amit-amit.. nggak ahh…,” pungkas Dita.

Hingga mereka selesai makan, mahasiswi yang biasa duduk di pojok kantin itu belum juga muncul. Rasa penasaran itu mereka tanyakan kepada pemilik kantin, Maryati.

“Iya… sudah tidak nongol lagi. Kabarnya, pelaku pembunuhan itu sudah tertangkap. Semoga arwahnya tenang di alam sana,” kata Maryati.

“Aamiin.. syukurlah,” kata mereka hampir berbarengan.

Sejenak mereka menghela nafas lega. Sudah beberapa hari ini mereka diterpa ketakutan ketika berada di kantin. Meski sebenarnya mereka juga merasa prihatin dan memelas atas apa yang terjadi pada mahasiswi itu. Mereka berharap pembunuh mahasiswi itu akan dihukum seberat-beratnya. Dan tentu saja mereka berharap tidak ada lagi kejadian buruk yang menimpa mahasiswa di kampusnya.

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [8]: Mobil Bergoyang Tengah Malam
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam
Kampusku Sarang Hantu [2]: Suara Misterius di Ruang Dosen
Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan
Kampusku Sarang Hantu [4]: Mahasiswa Kesurupan di Ruang Kuliah
Kampusku Sarang Hantu [5]: Tangisan dari Gudang Tua
Kampusku Sarang Hantu [6]: Akik Keramat Dosen
Kampusku Sarang Hantu [7]: Suara Printer dan Keran Air Mengucur
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Truni Itu Truna

Next Post

Cerita Kunjungan Kolaborasi Sekber SPAB Bali ke DIY: Jogja-Bali Sama-Sama Rawan Bencana

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Bermain dengan Jin Tengah Malam

by Chusmeru
May 7, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MEMILIKI seorang anak yang sehat, cerdas, dan saleh tentu membahagiakan bagi Krisna Malika dan Riana Dewanti. Anak pertama mereka, Arkanda...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

by Kim Young Soo
May 3, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Tanda Merah di Paha

by Chusmeru
April 16, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

TERLAHIR dengan paras yang cantik sangat disyukuri Paramita Laksmi. Tubuhnya yang ramping dengan rambut hitam lebat membuat penampilannya selalu memikat...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Kunjungan Kolaborasi Sekber SPAB Bali ke DIY: Jogja-Bali Sama-Sama Rawan Bencana

Cerita Kunjungan Kolaborasi Sekber SPAB Bali ke DIY: Jogja-Bali Sama-Sama Rawan Bencana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi
Esai

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

by Emi Suy
May 19, 2026
Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik
Bahasa

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Pernahkah Anda mendengar seseorang kecewa dan mengeluh bahwa ia sedang patah hati kepada sebuah negara? Saya sendiri kerap mendengar orang...

by I Made Sudiana
May 19, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

by Early NHS
May 19, 2026
Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya
Panggung

Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

“Ini tarian paling susah yang pernah dipelajari sejauh ini.” Kalimat itu meluncur pelan dari Ni Mas Ayu Rasitha setelah usai...

by Dede Putra Wiguna
May 19, 2026
Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’
Khas

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

DALAM salah satu bukunya, I Gde Aryantha Soethama menulis bahwa orang Bali tidak punya tradisi berwisata ala Barat. Berwisata dalam...

by I Nyoman Tingkat
May 19, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

KESETARAAN gender telah lama dikumandangkan, namun secara pasti entah mulai abad keberapa muncul kesadaran kolektif tentang tuntutan kesetaraan gender oleh...

by Asep Kurnia
May 19, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Artikulasi atau Bisik-Bisik, Penting Mana?

SIDANG pembaca yang budiman, Hari Buruh kemarin, yang hampir kita lupakan, sebenarnya menyimpan satu momen kecil yang lebih menarik daripada...

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 19, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

Kita telah rajin merekam panggung, tetapi belum cukup serius merekam proses penciptaannya. Menjelang Pesta Kesenian Bali 2026, denyut kesenian Bali...

by I Gusti Made Darma Putra
May 19, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Mengapa Agama Kita Mengabarkan Lebih Banyak Berita Buruk?

Sebuah paradoks tentunya. Agama, mestinya membawa hal-hal baik, bahkan meski jika itu sebuah ilusi seperti yang dikatakan oleh Karl Marx....

by Putu Arya Nugraha
May 19, 2026
Patinget Lepas Ida Betara Lingga, Dipuncaki Bedah Buku Karya Ida Pedanda Gede Made Gunung: 508 Pupuh Sampaikan Pesan Menjaga Bali
Budaya

Patinget Lepas Ida Betara Lingga, Dipuncaki Bedah Buku Karya Ida Pedanda Gede Made Gunung: 508 Pupuh Sampaikan Pesan Menjaga Bali

Ketika geguritan Dwijendra Stawa dan Astapaka Stawa ditembangkan, suasana sore itu berubah menjadi hening. Tanpa tersadari, orang-orang yang duduk sejak...

by Nyoman Budarsana
May 19, 2026
Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma Hidup Kembali, Menjadi Duta Kota Denpasar Tampil di PKB 2026
Panggung

Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma Hidup Kembali, Menjadi Duta Kota Denpasar Tampil di PKB 2026

WARGA Banjar Bukit Buwung¸ Desa Kesiman Petilan, Kecamatan Denpasar Timur memiliki semangat untuk membangkitkan kembali kesenian dramatari arja yang sudah...

by Nyoman Budarsana
May 19, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

‘Lock Accounts, Shaken Trust’: Perlunya Transparansi Komunikasi Perbankan

Freeze & Fret! Guys, tiba-tiba rekening kamu ada yang diblokir?? Nah, kebijakan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) terkait...

by Fitria Hani Aprina
May 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co