25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Truni Itu Truna

Komang Berata by Komang Berata
February 26, 2025
in Bahasa
Truni Itu Truna

Ilustrasi tatkala.co

SENJA lebih dari dua puluh tahun yang lalu, saya berkunjung ke rumah Ida I Dewa Gde Catra. Sekadar berkunjung saja. Tidak selalu saya berkunjung hanya agar dapat saya berbincang dengan Ida I Dewa Gde Catra. Meski tidak rutin berkunjung, biasa saya berlama-lama di sana. Entah berbincang dengan anak-anak Beliau. Entah saya berbincang dengan adik-adik Beliau. Entah saya berbincang dengan menantu-menantu Beliau. Entah juga saya berbincang dengan cucu-cucu Beliau. Betah saya berlama-lama di sana.

Senja itu saya dan cucu-cucu Beliau sedang berada di depan pintu masuk rumah Beliau. Seorang lelaki sebaya kakek saya berjalan perlahan hendak parek (menghadap) Ida I Dewa Gde Catra. Lelaki itu madaduwun (menyapa lebih dahulu) cucu Ida I Dewa Gde Catra. Terjadilah basa-basi di antara mereka. Meski tidak lengkap saya ingat kalimat lelaki itu, sangat ingat saya dengan kata truni dan yang dituju dengan kata truni yang diucapkan lelaki itu, “Sampun kantos truni Cokorda, wau tityang polih parek.” Cokorda sudah besar, baru saya sempat datang.

Benar-benar saya terperangah oleh kata truni yang diucapkan lelaki itu. Cucu Ida I Dewa Gde Catra itu laki-laki. Saya meyakini truni itu peruntukan perempuan remaja, sebagaimana halnya dewi yang khusus untuk sosok perempuan di kahyangan. Saya yakin penglihatan lelaki itu masih awas. Saya yakin juga lelaki itu tidak salah pilihan kata, truni disebutkan untuk cucu laki-laki Ida I Dewa Gde Catra.

Terperangah saya mengingatkan saya ke kurun waktu 1980 – 1990 ketika di Karangasem sedang semaraknya warga banjar dan dusun membentuk wadah kreativitas untuk pemuda dan pemudinya. Mereka membentuk sekeha truna-truni (bukan sekaa truna-truni sebagaimana penulisan yang saya kenal kemudian). Pada kurun waktu itu sangat terasa geliat kelompok pemuda-pemudi di banjar-banjar. Kerap berlangsung pertandingan bola volly antar-banjar, pesertanya khusus pemuda-pemudi. Perayaan hari ulang tahun kelompok itu pun penuh dengan kreativitas anggotanya.

Perkataan lelaki itu mematahkan keyakinan saya bahwa truna itu laki-laki dan truni itu perempuan. Lelaki itu meyakinkan saya bahwa truna itu kosakata bahasa Bali ragam degag dan truni itu kosakata bahasa Bali ragam natya, untuk laki-laki dan perempuan. Jika demikian, semestinya tidak ada ajang Truna-Truni Ajeg Bali atau ajang truna-truni lainnya. Hanya saja ketika tulisan ini sedang saya buat, sekilas saya minta pendapat teman-teman saya, truni itu perempuan.

Khusus untuk kelompok remaja putra dan putri yang dibutuhkan perannya dalam perayaan di pura, seperti ketika odalan, aci, dan ngusaba, warga Desa Adat Basangalas menyebutnya truna krandan. Truna itu remaja putra, krandan itu remaja putri. Belum pernah saya dengar atau saya dapatkan penyebutan truni krandan. Belum pernah juga saya dengar penyebutan truna krandan ketika remaja putra dan remaja putri itu terlibat di luar kegiatan perayaan di pura. Truna krandan hanya untuk aktivitas di pura, sepertinya.

Terpatahkan juga keyakinan saya oleh baris pertama bait kedua Gaguritan Durma. Mani cahi disubane menek daha. Selama ini saya meyakini daha (baca: dêhê) itu perempuan remaja, dara, atau gadis. Dalam keyakinan saya, Wayan Durma itu anak laki-laki, tidak seharusnya Wayan Durma menek daha, akan tetapi menek truna. Terpatahkannya keyakinan saya tidak menyebabkan dalam keseharian saya menyebutkan menek daha untuk anak laki-laki yang sudah menginjak usia remaja, tetap menek truna. Tetap saya berkata, “Cai suba truna.” Tidak saya berkata, “Cai suba daha.”

Sebagaimana daha, kerabat saya juga meyakini yang bajang itu perempuan, tidak laki-laki, maka yang menek bajang itu berjenis kelamin perempuan. Berada di antara mereka, saya harus mendapatkan jeda yang cukup sebelum saya memilih menyampaikan kata truna atau bajang. Kerabat saya tidak mau terima jika anak laki-lakinya disebutkan sudah menek bajang ketika sudah menginjak masa remaja. Harus disebut menek truna, meski bait 22 Gaguritan Jayaprana – Layonsari menyebutkan:

wwang apa anake busan
tarunane bajang cerik
I Ketut sumaur alon
makrempiang munyine alus
tan wenten titiang manawang
rupa becik
baguse ngenyudang manah

Jika belum diterima oleh penutur bahasa Bali, bisa jadi kosakata daha dan bajang itu lisensi puitika penggubah Gaguritan Durma dan Gaguritan Jayaprana – Layonsari. Memang belum diterima dituturkan, akan tetapi tidak mengurangi kepuasan mereka yang senang mapaposan dalam menikmati Gaguritan Durma. Semasa hidupnya, kerap saya dengar ayah saya menembangkan bait satu dan bait dua pupuh durma itu.

Yang ini tidak berkaitan dengan lisensi puitika. Awal tahun 1990, berbincang dalam bahasa Bali ragam degag, kawan-kawan perempuan saya menolak saya sebut nyai. Menurut mereka, nyai itu perempuan yang bersentuhan dengan banyak laki-laki. Tidak nyaman mereka disebut nyai. Kawan-kawan perempuan saya lebih menikmati disebut cai meski mereka sudah tahu cai itu peruntukan laki-laki. Mereka mau cai itu untuk laki-laki dan perempuan. Dan, mereka merasa lebih nyaman jika disebut kamu yang dipungut dari bahasa Indonesia. [T]

Penulis: Komang Berata
Editor: Adnyana Ole

“Ketika Memberi”, Bagaimana Memadankannya ke Bahasa Bali?
Pinih Sira Ragane?
Transfer Lisan Bahasa Tutur
Tags: Bahasa Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pemuda dan Pemerintah Kini Bisa Berinteraksi di Ruang RIPTA BASAbali Wiki

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [9]: Mahasiswi yang Duduk di Pojok Kantin

Komang Berata

Komang Berata

Pemerhati Bahasa Bali, tinggal di Karangasem

Related Posts

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

Read moreDetails

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

by I Made Sudiana
October 16, 2026
0
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

Read moreDetails

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

by I Made Sudiana
October 4, 2026
0
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

Read moreDetails

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

by I Made Sudiana
September 4, 2026
0
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

Read moreDetails

Gol versus Gul

by I Made Sudiana
September 3, 2026
0
Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

Read moreDetails

Perkara Anarkis dan Anarkistis

by I Made Sudiana
August 30, 2026
0
Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

Read moreDetails

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

by I Made Sudiana
August 18, 2026
0
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

Read moreDetails

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

by I Made Sudiana
August 15, 2026
0
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

Read moreDetails

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

by I Made Sudiana
August 13, 2026
0
Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

Read moreDetails

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

by I Made Sudiana
August 11, 2026
0
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [9]: Mahasiswi yang Duduk di Pojok Kantin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co