3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Truni Itu Truna

Komang Berata by Komang Berata
February 26, 2025
in Bahasa
Truni Itu Truna

Ilustrasi tatkala.co

SENJA lebih dari dua puluh tahun yang lalu, saya berkunjung ke rumah Ida I Dewa Gde Catra. Sekadar berkunjung saja. Tidak selalu saya berkunjung hanya agar dapat saya berbincang dengan Ida I Dewa Gde Catra. Meski tidak rutin berkunjung, biasa saya berlama-lama di sana. Entah berbincang dengan anak-anak Beliau. Entah saya berbincang dengan adik-adik Beliau. Entah saya berbincang dengan menantu-menantu Beliau. Entah juga saya berbincang dengan cucu-cucu Beliau. Betah saya berlama-lama di sana.

Senja itu saya dan cucu-cucu Beliau sedang berada di depan pintu masuk rumah Beliau. Seorang lelaki sebaya kakek saya berjalan perlahan hendak parek (menghadap) Ida I Dewa Gde Catra. Lelaki itu madaduwun (menyapa lebih dahulu) cucu Ida I Dewa Gde Catra. Terjadilah basa-basi di antara mereka. Meski tidak lengkap saya ingat kalimat lelaki itu, sangat ingat saya dengan kata truni dan yang dituju dengan kata truni yang diucapkan lelaki itu, “Sampun kantos truni Cokorda, wau tityang polih parek.” Cokorda sudah besar, baru saya sempat datang.

Benar-benar saya terperangah oleh kata truni yang diucapkan lelaki itu. Cucu Ida I Dewa Gde Catra itu laki-laki. Saya meyakini truni itu peruntukan perempuan remaja, sebagaimana halnya dewi yang khusus untuk sosok perempuan di kahyangan. Saya yakin penglihatan lelaki itu masih awas. Saya yakin juga lelaki itu tidak salah pilihan kata, truni disebutkan untuk cucu laki-laki Ida I Dewa Gde Catra.

Terperangah saya mengingatkan saya ke kurun waktu 1980 – 1990 ketika di Karangasem sedang semaraknya warga banjar dan dusun membentuk wadah kreativitas untuk pemuda dan pemudinya. Mereka membentuk sekeha truna-truni (bukan sekaa truna-truni sebagaimana penulisan yang saya kenal kemudian). Pada kurun waktu itu sangat terasa geliat kelompok pemuda-pemudi di banjar-banjar. Kerap berlangsung pertandingan bola volly antar-banjar, pesertanya khusus pemuda-pemudi. Perayaan hari ulang tahun kelompok itu pun penuh dengan kreativitas anggotanya.

Perkataan lelaki itu mematahkan keyakinan saya bahwa truna itu laki-laki dan truni itu perempuan. Lelaki itu meyakinkan saya bahwa truna itu kosakata bahasa Bali ragam degag dan truni itu kosakata bahasa Bali ragam natya, untuk laki-laki dan perempuan. Jika demikian, semestinya tidak ada ajang Truna-Truni Ajeg Bali atau ajang truna-truni lainnya. Hanya saja ketika tulisan ini sedang saya buat, sekilas saya minta pendapat teman-teman saya, truni itu perempuan.

Khusus untuk kelompok remaja putra dan putri yang dibutuhkan perannya dalam perayaan di pura, seperti ketika odalan, aci, dan ngusaba, warga Desa Adat Basangalas menyebutnya truna krandan. Truna itu remaja putra, krandan itu remaja putri. Belum pernah saya dengar atau saya dapatkan penyebutan truni krandan. Belum pernah juga saya dengar penyebutan truna krandan ketika remaja putra dan remaja putri itu terlibat di luar kegiatan perayaan di pura. Truna krandan hanya untuk aktivitas di pura, sepertinya.

Terpatahkan juga keyakinan saya oleh baris pertama bait kedua Gaguritan Durma. Mani cahi disubane menek daha. Selama ini saya meyakini daha (baca: dêhê) itu perempuan remaja, dara, atau gadis. Dalam keyakinan saya, Wayan Durma itu anak laki-laki, tidak seharusnya Wayan Durma menek daha, akan tetapi menek truna. Terpatahkannya keyakinan saya tidak menyebabkan dalam keseharian saya menyebutkan menek daha untuk anak laki-laki yang sudah menginjak usia remaja, tetap menek truna. Tetap saya berkata, “Cai suba truna.” Tidak saya berkata, “Cai suba daha.”

Sebagaimana daha, kerabat saya juga meyakini yang bajang itu perempuan, tidak laki-laki, maka yang menek bajang itu berjenis kelamin perempuan. Berada di antara mereka, saya harus mendapatkan jeda yang cukup sebelum saya memilih menyampaikan kata truna atau bajang. Kerabat saya tidak mau terima jika anak laki-lakinya disebutkan sudah menek bajang ketika sudah menginjak masa remaja. Harus disebut menek truna, meski bait 22 Gaguritan Jayaprana – Layonsari menyebutkan:

wwang apa anake busan
tarunane bajang cerik
I Ketut sumaur alon
makrempiang munyine alus
tan wenten titiang manawang
rupa becik
baguse ngenyudang manah

Jika belum diterima oleh penutur bahasa Bali, bisa jadi kosakata daha dan bajang itu lisensi puitika penggubah Gaguritan Durma dan Gaguritan Jayaprana – Layonsari. Memang belum diterima dituturkan, akan tetapi tidak mengurangi kepuasan mereka yang senang mapaposan dalam menikmati Gaguritan Durma. Semasa hidupnya, kerap saya dengar ayah saya menembangkan bait satu dan bait dua pupuh durma itu.

Yang ini tidak berkaitan dengan lisensi puitika. Awal tahun 1990, berbincang dalam bahasa Bali ragam degag, kawan-kawan perempuan saya menolak saya sebut nyai. Menurut mereka, nyai itu perempuan yang bersentuhan dengan banyak laki-laki. Tidak nyaman mereka disebut nyai. Kawan-kawan perempuan saya lebih menikmati disebut cai meski mereka sudah tahu cai itu peruntukan laki-laki. Mereka mau cai itu untuk laki-laki dan perempuan. Dan, mereka merasa lebih nyaman jika disebut kamu yang dipungut dari bahasa Indonesia. [T]

Penulis: Komang Berata
Editor: Adnyana Ole

“Ketika Memberi”, Bagaimana Memadankannya ke Bahasa Bali?
Pinih Sira Ragane?
Transfer Lisan Bahasa Tutur
Tags: Bahasa Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pemuda dan Pemerintah Kini Bisa Berinteraksi di Ruang RIPTA BASAbali Wiki

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [9]: Mahasiswi yang Duduk di Pojok Kantin

Komang Berata

Komang Berata

Pemerhati Bahasa Bali, tinggal di Karangasem

Related Posts

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

by I Made Sudiana
September 4, 2026
0
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

Read moreDetails

Gol versus Gul

by I Made Sudiana
September 3, 2026
0
Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

Read moreDetails

Perkara Anarkis dan Anarkistis

by I Made Sudiana
August 30, 2026
0
Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

Read moreDetails

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

by I Made Sudiana
August 18, 2026
0
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

Read moreDetails

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

by I Made Sudiana
August 15, 2026
0
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

Read moreDetails

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

by I Made Sudiana
August 13, 2026
0
Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

Read moreDetails

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

by I Made Sudiana
August 11, 2026
0
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

Read moreDetails

Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

by I Made Sudiana
August 9, 2026
0
Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

PERNAHKAH Anda membaca berita lingkungan dan merasa bingung dengan dua istilah yang mirip: timbulan sampah dan timbunan sampah? Sekilas keduanya tampak sama, tetapi...

Read moreDetails

Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

by I Made Sudiana
June 29, 2026
0
Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali...

Read moreDetails

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

by I Made Sudiana
June 25, 2026
0
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [9]: Mahasiswi yang Duduk di Pojok Kantin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co