1 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [5]: Tangisan dari Gudang Tua

Chusmeru by Chusmeru
January 30, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

BANYAK pertimbangan mahasiswa mengambil satu mata kuliah. Ada yang tertarik oleh materi atau pokok bahasan dalam mata kuliah itu. Ada pula yang terpikat oleh dosen yang mengajar. Biasanya, dosen yang mengajar dengan santai, humoris, dan tidak pelit pada nilai akan banyak disukai mahasiswa.

Humas Pemerintahan termasuk mata kuliah yang banyak diminati mahasiswa. Meskipun materinya tidak semenarik Praktikum Media Sosial, namun hampir semua mahasiswa selalu fokus saat berada di dalam ruang kuliah.

Daya tarik mata kuliah Humas Pemerintahan adalah pada dosennya, Dewi Pangesti. Meski sudah termasuk dosen senior, namun Dewi Pangesti masih terlihat cantik. Sisa-sisa kecantikan di masa muda Dewi Pangesti terlihat dari penampilannya yang selalu keren di mata mahasiswa. Bahkan banyak mahasiswa maupun dosen lain yang menganggapnya mirip dengan artis Meriam Bellina.

Dewi Pangesti dikenal sebagai dosen yang ramah, murah senyum, dan sangat sabar. Dia nyaris tidak pernah marah kepada mahasiswa. Bahkan mahasiswa yang terlambat masuk kelas saat kuliah pun, dia tetap berikan senyuman. Begitu pula dalam hal bimbingan skripsi. Dewi Pangesti sangat sabar membimbing mahasiswa, mulai dari penyusunan proposal hingga ujian pendadaran.

Pagi ini merupakan pertemuan ketiga mata kuliah Humas Pemerintahan. Dewi Pangesti tampak tampil trendi. Berkerudung ungu berpadu dengan baju warna lavender dan sepatu warna putih, Dewi Pangesti tampak anggun di depan kelas. Cuaca pagi yang sedikit menyengat seolah teduh oleh penampilannya.

Tempat kuliah kali ini di ruang 2A. Di belakang ruang kuliah itu terdapat gudang tua untuk menyimpan barang-barang yang sudah tidak digunakan lagi oleh pihak kampus. Dari bentuk tampilannya, gudang itu cukup menyeramkan. Pintu gudang yang berwarna hitam itu nyaris tak pernah dibuka, sehingga menimbulkan kesan angker.

                                                                        ***

Kuliah Dewi Pangesti baru berjalan 30 menit, ketika tiba-tiba terdengar suara tangisan anak kecil dari belakang ruang kuliah. Semua mengira suara tangisan itu adalah anak kecil yang sering dibawa Mbok Ijah, pedagang jajan yang sering keliling kampus. Namun suara tangisan itu tidak juga kunjung reda.

“Anak siapa itu yang menangis?” tanya Dewi Pangesti sambil menghentikan sejenak perkuliahan. Ia mencoba menengok ke luar kelas. Tak ada siapa pun. Ia pun melanjutkan materi kuliah. Tangisan itu masih terdengar. Kali ini seperti merintih, memelas.

“Dari mana suara tangisan itu?” tanya Dewi Pangesti kepada mahasiswa. Semua tampak hening mencermati arah suara tangisan.

“Dari dalam gudang, di belakang kelas, Bu,” kata Baskoro. Mahasiswa lain pun mengiyakan apa yang dikatakan Baskoro.

“Haah…! Dari gudang..?!” Langsung Dewi Pangesti terkejut.

“Coba dilihat ke gudang, Baskoro,” perintah Dewi Pangesti kepada Baskoro. Tidak segera beranjak, Baskoro justru tampak pucat ketakutan. Dia memandangi teman-temannya, seolah ingin ada yang menemaninya. Baskoro pun menghampiri Dimas Wicaksono untuk bersama-sama melihat gudang tua di belakang ruang kuliah.

Mereka berdua menuju gudang tua itu. Baskoro mengintip dari lubang kunci pintu gudang. Tak terlihat apa-apa, karena di dalam gudang gelap. Suara tangisan anak kecil pun sudah berhenti. Dimas berinisiatif mengambil balok kayu untuk menopang kakinya, agar bisa melihat isi dalam gudang lewat rangkaian besi cor di atas pintu gudang yang tampak longgar.

“Nggak ada siapa-siapa,” kata Dimas kepada Baskoro.

Mereka segera memutuskan kembali ke kelas. Dewi Pangesti segera menyambutnya dengan pertanyaan.

“Siapa yang menangis?”

“Tidak ada siapa-siapa, Bu,” jawab Dimas.

“Aneh…, tadi suara tangisannya begitu keras,” kata ibu Dewi Pangesti penasaran.

Kuliah pun dilanjutkan kembali. Mahasiswa masih diselimuti rasa penasaran dan takut atas peristiwa tangisan anak kecil. Apalagi Baskoro dan Dimas yang melihat ke dalam gudang tua, namun tak melihat siapa pun di sana.

Ternyata bukan pada kuliah pertemuan ketiga saja suara tangisan anak kecil itu terdengar di dalam gudang tua kampus. Selalu terdengar tangisan anak kecil dari gudang tua setiap Dewi Pangesti memberikan kuliah. Seolah ada yang ingin disampaikan kepada Dewi Pangesti dari sosok yang ada di dalam gudang. Anehnya, ketika ia tanyakan kepada dosen-dosen lain, tak seorang pun yang mendengar suara tangisan itu saat kuliah di ruang 2A.

Seperti pada pertemuan kuliah ketujuh ini, Dewi Pangesti dan mahasiswa kembali mendengar suara tangisan anak kecil dari arah gudang. Kali ini suaranya semakin nyaring, melengking, dan memelas, seolah menginginkan pertolongan. Bulu kuduk Dewi Pangesti berdiri. Begitu pula raut muka mahasiswa tampak menahan takut.

Tak mau didera rasa takut dan penasaran berkepanjangan, Dewi Pangesti memutuskan untuk melihat sendiri apa yang terjadi di dalam gudang. Ia mengajak beberapa mahasiswa laki-laki untuk menemaninya. Meski pun hari masih pagi, menghampiri gudang tua itu tetap saja terbebani rasa takut.

Saat sudah di depan gudang tua bersama mahasiswa, suara tangisan itu masih terdengar. Kali ini agak pelan, namun seperti merintih dan terisak-isak. Semua merasa tercekam. Bagaimana mungkin gudang yang lama tertutup rapat ada anak yang menangis di dalamnya.

Seorang mahasiswa mengambil balok kayu untuk membantu Dewi Pangesti melihat ke dalam gudang melalui celah-celah di atas pintu. Betapa terkejut dia.

“Boneka anak kecil..!” teriak Dewi Pangesti.

Semua mahasiswa yang mengantarnya ikut terkejut.

“Boneka perempuan yang menangis…,” kata Dewi Pangesti cepat-cepat turun dari balok kayu.

Merinding sekujur tubuh Dewi Pangesti. Mana mungkin boneka bisa menagis, pikirnya. Mereka bergegas kembali ke kelas. Kuliah tidak dilanjutkan lagi. Suasana mencekam meliputi semua mahasiswa. Ternyata suara tangisan anak kecil yang selama ini terdengar dari dalam gudang tua berasal dari boneka anak perempuan.

                                                                 ***

Dewi Pangesti memutuskan untuk melaporkan kejadian di dalam gudang tua kepada Dekan Fakultas. Awalnya Dekan tak mempercayai cerita Dewi Pangesti. Namun saat disampaikan bahwa beberapa mahasiswa juga mendengar dan melihat tangisan dari boneka perempuan di dalam gudang, Dekan pun percaya. Dipanggilnya kepala bagian perlengkapan fakultas, Suwarto. Dekan bertanya kepada Suwarto, mengapa sampai ada boneka anak perempuan di dalam gudang.

“Itu boneka milik mahasiswa yang kecelakaan di jalan depan kampus Pak Dekan,” kata Suwarto kepada Dekan.

“Mengapa disimpan di gudang?” tanya Dekan.

“Dulu ada mahasiswa perempuan yang kecelakaan sepeda motor di depan kampus. Kabarnya meninggal saat dibawa ke rumah sakit. Boneka yang dibawanya terlempar ke dekat Pos Satpam. Lalu oleh petugas Pos Satpam diserahkan ke pegawai bagian perlengkapan. Entah bagaimana ceritanya, kemudian disimpan di gudang!” Suwarto menjelaskan kronologinya.

“Ada data mahasiswa yang kecelakaan itu tidak?” tanya Dekan.

“Ada, Pak, di bagian kemahasiswaan,” jawab Suwarto.

“Oke, sekarang perintahkan pegawai untuk mengambil boneka itu. Kemudian diserahkan kepada orang tua mahasiswa itu,” perintah Dekan kepada Suwarto.

Suwarto pun memerintahkan anak buahnya di bagian perlengkapan untuk membuka gudang dan mengambil boneka perempuan di dalamnya. Boneka itu tergeletak di sudut gudang. Paras boneka itu cantik, menggemaskan; namun rambutnya tampak acak-acakan.

Selanjutnya Suwarto dan anak buahnya mengantarkan boneka perempuan itu ke rumah orang tua mahasiswa yang meninggal dalam kecelakaan di depan kampus. Rumah orang tua mahasiswa berada di sebuah desa yang tidak terlalu jauh dari kampus. Mereka diterima oleh ayah dan ibu mahasiswa.

Betapa terkejut orang tua mahasiswa mendengar cerita Suwarto, terutama ibunya yang sangat terpukul atas kepergian anaknya. Air matanya kembali berderai setelah sekian lama melupakan kematian anaknya. Boneka itu seolah menghadirkan kembali anak perempuan kesayangan yang kini telah tiada. Dipeluknya boneka itu erat-erat, seperti layaknya ia peluk anak perempuannya.

“Terima kasih, bapak-bapak. Nanti akan saya makamkan boneka ini di pekarangan rumah kami,” kata ibu dari mahasiswa dengan masih meneteskan air mata.

Boneka anak perempuan itu seakan tahu sedang dalam pelukan orang yang dicintainya. Apalagi orang tua mahasiswa itu membelai dan merapikan rambut boneka yang kotor dan acak-acakan selama di dalam gudang. Berkali-kali ibu mahasiswa menciumi boneka perempuan itu.

Boneka anak perempuan sudah menyatu dengan pemiliknya, mahasiswa yang meninggal dalam kecelakaan di depan kampus. Menyatu di dalam tanah. Tak lagi kesepian. Tak lagi kedinginan. Dan tidak lagi ketakutan berada di dalam gudang tua.

Suara tangisan anak kecil dari gudang tua tak lagi terdengar. Dewi Pangesti dan mahasiswa kembali kuliah di dalam kelas dengan tenang. Sejak peristiwa itu, pihak dekanat membersihan barang-barang yang ada di dalam gudang. Rencananya, gudang itu akan dibongkar dan dibangun kembali, agar tidak tampak kotor dan menyeramkan.

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata.

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam
Kampusku Sarang Hantu [2]: Suara Misterius di Ruang Dosen
Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan
Kampusku Sarang Hantu [4]: Mahasiswa Kesurupan di Ruang Kuliah
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita bersambungcerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Serangga dan Kenangan Hidup Tak Biasa

Next Post

Menyatunya Dingin Kintamani, Cipakan Lampu, Kopi dan Jaja Bantal…

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Ajian Jaran Goyang

by Chusmeru
August 20, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

by Chusmeru
August 6, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

Read moreDetails

Malam Keakraban Berbuntut Teror

by Chusmeru
July 23, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI dosen pembimbing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi membuat Asifa Furoda selalu dekat dengan mahasiswa. Bukan hanya ketika berada...

Read moreDetails

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

by Chusmeru
July 2, 2026
0

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails
Next Post
Menyatunya Dingin Kintamani, Cipakan Lampu, Kopi dan Jaja Bantal…

Menyatunya Dingin Kintamani, Cipakan Lampu, Kopi dan Jaja Bantal…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan
Tualang

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu
Esai

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana
Khas

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co