22 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [5]: Tangisan dari Gudang Tua

Chusmeru by Chusmeru
January 30, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

BANYAK pertimbangan mahasiswa mengambil satu mata kuliah. Ada yang tertarik oleh materi atau pokok bahasan dalam mata kuliah itu. Ada pula yang terpikat oleh dosen yang mengajar. Biasanya, dosen yang mengajar dengan santai, humoris, dan tidak pelit pada nilai akan banyak disukai mahasiswa.

Humas Pemerintahan termasuk mata kuliah yang banyak diminati mahasiswa. Meskipun materinya tidak semenarik Praktikum Media Sosial, namun hampir semua mahasiswa selalu fokus saat berada di dalam ruang kuliah.

Daya tarik mata kuliah Humas Pemerintahan adalah pada dosennya, Dewi Pangesti. Meski sudah termasuk dosen senior, namun Dewi Pangesti masih terlihat cantik. Sisa-sisa kecantikan di masa muda Dewi Pangesti terlihat dari penampilannya yang selalu keren di mata mahasiswa. Bahkan banyak mahasiswa maupun dosen lain yang menganggapnya mirip dengan artis Meriam Bellina.

Dewi Pangesti dikenal sebagai dosen yang ramah, murah senyum, dan sangat sabar. Dia nyaris tidak pernah marah kepada mahasiswa. Bahkan mahasiswa yang terlambat masuk kelas saat kuliah pun, dia tetap berikan senyuman. Begitu pula dalam hal bimbingan skripsi. Dewi Pangesti sangat sabar membimbing mahasiswa, mulai dari penyusunan proposal hingga ujian pendadaran.

Pagi ini merupakan pertemuan ketiga mata kuliah Humas Pemerintahan. Dewi Pangesti tampak tampil trendi. Berkerudung ungu berpadu dengan baju warna lavender dan sepatu warna putih, Dewi Pangesti tampak anggun di depan kelas. Cuaca pagi yang sedikit menyengat seolah teduh oleh penampilannya.

Tempat kuliah kali ini di ruang 2A. Di belakang ruang kuliah itu terdapat gudang tua untuk menyimpan barang-barang yang sudah tidak digunakan lagi oleh pihak kampus. Dari bentuk tampilannya, gudang itu cukup menyeramkan. Pintu gudang yang berwarna hitam itu nyaris tak pernah dibuka, sehingga menimbulkan kesan angker.

                                                                        ***

Kuliah Dewi Pangesti baru berjalan 30 menit, ketika tiba-tiba terdengar suara tangisan anak kecil dari belakang ruang kuliah. Semua mengira suara tangisan itu adalah anak kecil yang sering dibawa Mbok Ijah, pedagang jajan yang sering keliling kampus. Namun suara tangisan itu tidak juga kunjung reda.

“Anak siapa itu yang menangis?” tanya Dewi Pangesti sambil menghentikan sejenak perkuliahan. Ia mencoba menengok ke luar kelas. Tak ada siapa pun. Ia pun melanjutkan materi kuliah. Tangisan itu masih terdengar. Kali ini seperti merintih, memelas.

“Dari mana suara tangisan itu?” tanya Dewi Pangesti kepada mahasiswa. Semua tampak hening mencermati arah suara tangisan.

“Dari dalam gudang, di belakang kelas, Bu,” kata Baskoro. Mahasiswa lain pun mengiyakan apa yang dikatakan Baskoro.

“Haah…! Dari gudang..?!” Langsung Dewi Pangesti terkejut.

“Coba dilihat ke gudang, Baskoro,” perintah Dewi Pangesti kepada Baskoro. Tidak segera beranjak, Baskoro justru tampak pucat ketakutan. Dia memandangi teman-temannya, seolah ingin ada yang menemaninya. Baskoro pun menghampiri Dimas Wicaksono untuk bersama-sama melihat gudang tua di belakang ruang kuliah.

Mereka berdua menuju gudang tua itu. Baskoro mengintip dari lubang kunci pintu gudang. Tak terlihat apa-apa, karena di dalam gudang gelap. Suara tangisan anak kecil pun sudah berhenti. Dimas berinisiatif mengambil balok kayu untuk menopang kakinya, agar bisa melihat isi dalam gudang lewat rangkaian besi cor di atas pintu gudang yang tampak longgar.

“Nggak ada siapa-siapa,” kata Dimas kepada Baskoro.

Mereka segera memutuskan kembali ke kelas. Dewi Pangesti segera menyambutnya dengan pertanyaan.

“Siapa yang menangis?”

“Tidak ada siapa-siapa, Bu,” jawab Dimas.

“Aneh…, tadi suara tangisannya begitu keras,” kata ibu Dewi Pangesti penasaran.

Kuliah pun dilanjutkan kembali. Mahasiswa masih diselimuti rasa penasaran dan takut atas peristiwa tangisan anak kecil. Apalagi Baskoro dan Dimas yang melihat ke dalam gudang tua, namun tak melihat siapa pun di sana.

Ternyata bukan pada kuliah pertemuan ketiga saja suara tangisan anak kecil itu terdengar di dalam gudang tua kampus. Selalu terdengar tangisan anak kecil dari gudang tua setiap Dewi Pangesti memberikan kuliah. Seolah ada yang ingin disampaikan kepada Dewi Pangesti dari sosok yang ada di dalam gudang. Anehnya, ketika ia tanyakan kepada dosen-dosen lain, tak seorang pun yang mendengar suara tangisan itu saat kuliah di ruang 2A.

Seperti pada pertemuan kuliah ketujuh ini, Dewi Pangesti dan mahasiswa kembali mendengar suara tangisan anak kecil dari arah gudang. Kali ini suaranya semakin nyaring, melengking, dan memelas, seolah menginginkan pertolongan. Bulu kuduk Dewi Pangesti berdiri. Begitu pula raut muka mahasiswa tampak menahan takut.

Tak mau didera rasa takut dan penasaran berkepanjangan, Dewi Pangesti memutuskan untuk melihat sendiri apa yang terjadi di dalam gudang. Ia mengajak beberapa mahasiswa laki-laki untuk menemaninya. Meski pun hari masih pagi, menghampiri gudang tua itu tetap saja terbebani rasa takut.

Saat sudah di depan gudang tua bersama mahasiswa, suara tangisan itu masih terdengar. Kali ini agak pelan, namun seperti merintih dan terisak-isak. Semua merasa tercekam. Bagaimana mungkin gudang yang lama tertutup rapat ada anak yang menangis di dalamnya.

Seorang mahasiswa mengambil balok kayu untuk membantu Dewi Pangesti melihat ke dalam gudang melalui celah-celah di atas pintu. Betapa terkejut dia.

“Boneka anak kecil..!” teriak Dewi Pangesti.

Semua mahasiswa yang mengantarnya ikut terkejut.

“Boneka perempuan yang menangis…,” kata Dewi Pangesti cepat-cepat turun dari balok kayu.

Merinding sekujur tubuh Dewi Pangesti. Mana mungkin boneka bisa menagis, pikirnya. Mereka bergegas kembali ke kelas. Kuliah tidak dilanjutkan lagi. Suasana mencekam meliputi semua mahasiswa. Ternyata suara tangisan anak kecil yang selama ini terdengar dari dalam gudang tua berasal dari boneka anak perempuan.

                                                                 ***

Dewi Pangesti memutuskan untuk melaporkan kejadian di dalam gudang tua kepada Dekan Fakultas. Awalnya Dekan tak mempercayai cerita Dewi Pangesti. Namun saat disampaikan bahwa beberapa mahasiswa juga mendengar dan melihat tangisan dari boneka perempuan di dalam gudang, Dekan pun percaya. Dipanggilnya kepala bagian perlengkapan fakultas, Suwarto. Dekan bertanya kepada Suwarto, mengapa sampai ada boneka anak perempuan di dalam gudang.

“Itu boneka milik mahasiswa yang kecelakaan di jalan depan kampus Pak Dekan,” kata Suwarto kepada Dekan.

“Mengapa disimpan di gudang?” tanya Dekan.

“Dulu ada mahasiswa perempuan yang kecelakaan sepeda motor di depan kampus. Kabarnya meninggal saat dibawa ke rumah sakit. Boneka yang dibawanya terlempar ke dekat Pos Satpam. Lalu oleh petugas Pos Satpam diserahkan ke pegawai bagian perlengkapan. Entah bagaimana ceritanya, kemudian disimpan di gudang!” Suwarto menjelaskan kronologinya.

“Ada data mahasiswa yang kecelakaan itu tidak?” tanya Dekan.

“Ada, Pak, di bagian kemahasiswaan,” jawab Suwarto.

“Oke, sekarang perintahkan pegawai untuk mengambil boneka itu. Kemudian diserahkan kepada orang tua mahasiswa itu,” perintah Dekan kepada Suwarto.

Suwarto pun memerintahkan anak buahnya di bagian perlengkapan untuk membuka gudang dan mengambil boneka perempuan di dalamnya. Boneka itu tergeletak di sudut gudang. Paras boneka itu cantik, menggemaskan; namun rambutnya tampak acak-acakan.

Selanjutnya Suwarto dan anak buahnya mengantarkan boneka perempuan itu ke rumah orang tua mahasiswa yang meninggal dalam kecelakaan di depan kampus. Rumah orang tua mahasiswa berada di sebuah desa yang tidak terlalu jauh dari kampus. Mereka diterima oleh ayah dan ibu mahasiswa.

Betapa terkejut orang tua mahasiswa mendengar cerita Suwarto, terutama ibunya yang sangat terpukul atas kepergian anaknya. Air matanya kembali berderai setelah sekian lama melupakan kematian anaknya. Boneka itu seolah menghadirkan kembali anak perempuan kesayangan yang kini telah tiada. Dipeluknya boneka itu erat-erat, seperti layaknya ia peluk anak perempuannya.

“Terima kasih, bapak-bapak. Nanti akan saya makamkan boneka ini di pekarangan rumah kami,” kata ibu dari mahasiswa dengan masih meneteskan air mata.

Boneka anak perempuan itu seakan tahu sedang dalam pelukan orang yang dicintainya. Apalagi orang tua mahasiswa itu membelai dan merapikan rambut boneka yang kotor dan acak-acakan selama di dalam gudang. Berkali-kali ibu mahasiswa menciumi boneka perempuan itu.

Boneka anak perempuan sudah menyatu dengan pemiliknya, mahasiswa yang meninggal dalam kecelakaan di depan kampus. Menyatu di dalam tanah. Tak lagi kesepian. Tak lagi kedinginan. Dan tidak lagi ketakutan berada di dalam gudang tua.

Suara tangisan anak kecil dari gudang tua tak lagi terdengar. Dewi Pangesti dan mahasiswa kembali kuliah di dalam kelas dengan tenang. Sejak peristiwa itu, pihak dekanat membersihan barang-barang yang ada di dalam gudang. Rencananya, gudang itu akan dibongkar dan dibangun kembali, agar tidak tampak kotor dan menyeramkan.

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata.

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam
Kampusku Sarang Hantu [2]: Suara Misterius di Ruang Dosen
Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan
Kampusku Sarang Hantu [4]: Mahasiswa Kesurupan di Ruang Kuliah
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita bersambungcerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Serangga dan Kenangan Hidup Tak Biasa

Next Post

Menyatunya Dingin Kintamani, Cipakan Lampu, Kopi dan Jaja Bantal…

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails
Next Post
Menyatunya Dingin Kintamani, Cipakan Lampu, Kopi dan Jaja Bantal…

Menyatunya Dingin Kintamani, Cipakan Lampu, Kopi dan Jaja Bantal…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam
Khas

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
Telenovela
Esai

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

by Angga Wijaya
September 21, 2026
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co