1 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Serangga dan Kenangan Hidup Tak Biasa

I Wayan Artika by I Wayan Artika
January 29, 2025
in Esai
Serangga dan Kenangan Hidup Tak Biasa

Ilustrasi tatkala.co

KAUM modern, urban yang tidak memiliki relasi dengan kearifan pertanian kuno, menganggap serangga hanya hama. Karena itu, harus dimusnahkan. Tapi kearifan masa lalu sebelum manusia mengenal racun pertanian, serangga adalah teman. Manusia wajar berbagi kepadanya. Serangga sama sekali tidak dibunuh dalam pengertian dimusnahkan dengan obat-obatan kimia. Serangga dikendalikan secara alamiah dan biologis.

Pengalaman-pengalaman manusia di masa lalu di ladang-ladang pertanian, kebun, tegalan, subak, huma, sampai kepada penemuan-penemuan racun alamiah dari daun; untuk membunuh serangga atau mengendalikan populasinya.

Ada pula strategi jitu nan arif para petani untuk hidup di ladang-ladang pertanian bersama serangga yaitu dengan cara mengatur jadwal tanam. Para petani yang arif itu akhirnya menemukan kalender kertamasa (neng, memendo, ngemasa, gegadon). Kapan menanam apa (padi atau palawija). Jadwal tanam sebisanya bersamaan dalam satu kawasan persawahan (subak) atau perladangan atau perhumaan.

Dan, pelajaran penting dari kehidupan hubungan petani dan serangga baik di pertanian padi maupun di perkebunan kopi atau di tegalan adalah mendata serangga-serangga mana yang lezat disantap. Mungkin para petani di masa lalu belajar dari para predator serangga yaitu kadal atau reptil dan tentu saja burung pemakan serangga seperti king fisher. Akhirnya ditemukan sejumlah daftar serangga yang bisa dimakan. Tidak hanya aman dimakan, tentu saja lezat.

Namun demikian, serangga tidak bisa didapat sepanjang tahun. Kehadiran serangga di subak misalnya sangat bergantung pada musim atau siklus tanaman. Karena itu, menu makan serangga adalah menu makan musiman. Serangga-serangga muncul di ladang-ladang pertanian, persawahan, perkebunan kopi pada musim-musim tertentu. Ini sudah dipahami oleh para petani. Mereka tidak hanya mengenal kalender bercocok tanam, kalender musim, dan juga mengenal kalender serangga.

Kemudian muncul sejumlah serangga yang telah didaftar untuk bisa dimakan. Namun tidak semua kelompok masyarakat, suku memiliki daftar serangga yang sama dengan kelompok lainnya. Di suatu tempat (Papua) laba-laba besar dimakan tetapi di bagian masyarakat lain tidak demikian halnya. Sambal balang sangit hanya dikenal di Praya (lombok).

Serangga memang menjadi musuh menurut pandangan pertanian modern. Betapa kanibalnya pandangan ini. Betapa egoisnya pandangan ini. Padahal kalau belajar teori evolusi, serangga muncul jauh sebelum manusia hadir di dunia. Jumlah spesiesnya berlipat-lipat kali daripada spesies homo sapien.

Di desa-desa pertanian Bali, seperti di Kecamatan Pupuan, di mana daerah ini memiliki dua jenis pertanian, yaitu subak dan perkebunan kopi; serangga pun dikenal untuk menu makan yang lezat. Kehadiran serangga sama sekali tidak menjadi persoalan. Bahkan, serangga dianggap memiliki berkah bagi petani karena akan menambah menu makan (protein hewani). Pandangan ini melahirkan tradisi menyantap serangga.

Di samping dipicu juga oleh kondisi atau letak geografis Kecamatan Pupuan yang ada di ketinggian 1000 MDPL. Jarak dari laut baik di utara, di selatan, maupun di barat sangat jauh. Tidak mudah untuk mendapatkan ikan segar di sini. Karena itu pasar Pupuan menjadi tempat untuk mendapatkan protein hewani dari laut tetapi sudah dikeringkan yang semuanya berjenis ikan asin (sudang, berbagai jenis pindang, berjenis-jenis gerang, dan grago).

Makan daging di masa lalu adalah perilaku hidup sehat karena daging hanya disantap 6 bulan sekali bertepatan dengan hari raya galungan atau secara insidental. Masyarakat di sini menyantap daging babi, ayam, atau sapi ketika ada tetangga yang memiliki hajatan atau gae adat.

Ada sejumlah serangga yang bisa dimakan di daerah Pupuan, seperti misalnya di Desa Batungsel. Serangga-serangga tersebut tentu saja yang berasal dari sawah maupun yang berasal dari perkebunan kopi. Sawah dan perkebunan kopi adalah habitat serangga. Di sini serangga menjalani metamorfosis dan tempat melewati daur hidup.  Di perkebunan kopi maupun di lahan subak serangga-serangga juga bertarung untuk mempertahankan kehidupan dari predator. Di kedua habitat inilah tempat mereka kawin, bertelur, dan tumbuh dewasa, sampai pada akhirnya mati.

Di sawah ada sejumlah serangga yang bisa dimakan seperti klipes (ada dua jenis yang memiliki jarum di bawah perutnya adalah kelipes jantan dan ini enak dimakan karena tidak mengeluarkan bau amis sedangkan yang tidak memiliki jarum adalah betina). Di samping klipes ada juga blauk, tahapan ketika capung masih hidup di lumpur sawah.  Setelah blauk menjadi capung tentu saja capung bisa dimakan. Ada berbagai jenis capung yang dikenal di Desa Batungsel, seperti capung godeh, capung ragi, capung gantung, capung kokok, capung memedi, capung gula, caoung ning ning, dan capung sera (terasi), capung kebo.  Yang terbesar adalah capung godogan, paling langka berwarna hijau metalik, keemasan.

Di subak di sawah-sawah di Batungsel juga mudah ditemukan beluang. Ada dua jenis. Yang hidup di darat dan setiap malam berbunyi sangat memakakkan telinga yaitu disebut ngangang (beracun). Beluang yang bisa dimakan adalah beluang yang hidup di sawah. Beluang ini muncul pada saat petani membajak sawah yang sudah 6 bulan kering (neng).  Saat musim tanam tiba sawah ini dikembalikan untuk bisa ditanami padi. Selama pengolahan ini beluang muncul ke permukaan lumpur yang sedang dibajak dan ditangkap oleh petani dan anak-anak mereka dengan sangat riang.

Ada pula jangkrik walaupun jenisnya tidak banyak. Warnanya hitam, jangkrik bawang. Ini juga enak disantap. Di samping jangkrik adalah belalang. Belalang hidup di rumput-rumput di tegalan di tepi sawah dan bisa ditangkap ketika hujan. Air hujan membasahi sayap sehingga mereka tidak mudah terbang atau melompat.

Masyarakat Desa Batungsel mengenal berbagai jenis belalang, seperti balang sujen  (warnanya hijau dan bentuknya tajam seperti sujen), balang ketipat, balang senogol, balang seran, dan balang timah. Belalang ada juga yang terasa pahit tetapi tetap aman dikonsumsi. Sedangkan belalang yang berhabitat di kebun kopi adalah balang kekek (hijau dan cokelat kusam seperti warna kayu kering)

Di habitat perkebunan dan tegalan, masyarakat Batungsel mengenal ores, sungeret (nongcret), ancruk, nyawan, tabuan, dan dedalu (rayap dewasa yang sudah bersayap dan muncul di musim hujan, memburu sinar lampu). Ancruk hidup di bekas batang jaka yang sudah ditebang, dari nutrisi permentasi sagu. Pohon-pohon dapdap berduri yang tinggi menaungi kebun-kebun kopi adalah sarang terbaik bagi uled atau sebatah. Serangga ini juga sangat enak disantap apalagi yang sudah tua dan terutama sumangyang (uled dapdap yang sedang ada dalam metamorfosis: pada fase kepompong).

Ores satu spesies dengan sungeret. Yang lazim dimakan adalah ores (ukuran tubuh setengah lebih besar daripada sungeret, warna hijau tua dan hitam dengan garis putih pudar di bagian perut).  Karena ia hidup di pohon-pohon besar yang tinggi, seperti gumpinis, di samping karena bergantung pada musim; jauh sangat sulit ditangkap. Hanya pohon tertentu, seperti gumpinis saja yang disukai. Tertantang oleh kelezatan ores sehingga masyarakat Batungsel bekerja keras agar bisa menangkap mereka, dengan engket teep.

Pada umumnya serangga dipanen dengan tangan telanjang. Ada pula beberapa serangga yang harus ditangkap dengan alat bantu seperti engket (cara kerjanya seperti lem) (dari pohon nangka atau teep). Menangkap serangga di samping menggunakan alat juga dapat memanfaatkan keadaan lingkungan. Misalnya menangkap capung di sawah tidak perlu menggunakan alat tetapi harus ketika embun masih lebat di sawah. Embun menutupi sayap-sayap capung yang bermalam di rumpun padi. Pagi ketika embun masih melekat tebal di sayap capung-capung yang masih lelap tidur, tidak bisa terbang ketika ditangkap dengan sangat mudah. Menangkap capung dengan bantuan embun pagi di Desa Batungsel dikenal dengan sebutan nyemeng. Pada siang hari ores dan capung ditangkap dengan engket.

Sayap-sayap serangga dihilangkan ketika digoreng, demikian pula duri-duri kaki, atau sungutnya yang tajam; diberi bumbu kesuna cekuh. Ini menjadi suguhan yang sangat nikmat.

Revolusi hijau (dengan racun, pupuk, mengubah struktur tanaman, memperpadat pola tanam, mengganti  bibit) telah menghancurkan habitat serangga. Serangga semakin sedikit ditemukan di ladang-ladang pertanian subak di Desa Batungsel. Daging ayam bisa didapat setiap hari sehingga lambat laun tradisi makan serangga dari generasi ke generasi tidak dikenal lagi. Ini juga menghancurkan permainan petualangan anak-anak,  seperti nyemeng  dan nyapung yaitu menangkap serangga di persawahan atau tegalan dengan engket dan sangat mengasyikkan. Mereka otomatis tidak lagi mengenal menu makan belalang, capung, belawuk, cueng, ancruk, uled, ores, dan  rayap yang sangat langka.

Pelajaran IPA atau ilmu hayat (biologi) di sekolah telah meracuni otak anak-anak dan semakin memperburuk pandangan mereka terhadap serangga. Serangga adalah berbahaya, hama, menjijikkan.

Munculnya polemik tentang menu serangga ketika ada program makan bergizi gratis, karena ketidakarifan dan kebodohan. Jika saja wawasan soal serangga bagus maka tidak muncul pandangan-pandangan yang mencibiri tawaran untuk menyantap serangga. Serangga adalah makanan yang sangat sehat karena bebas dari budidaya dan rekayasa industri, seperti makanan-makanan instan.

Tulisan ini bermaksud untuk menyampaikan pengalaman bahwa saat ini masih generasi yang dulu pernah menyantap serangga (penulis sendiri). Namun, pengalaman ini hanyalah masa lalu karena serangga sudah tidak bisa ditemukan lagi, juga di Kecamatan Pupuan, pun di Desa Batungsel.  Orang-orang Kasepuhan Ciptagelar (di Jawa barat) menganggap serangga adalah kawan berbagi. Serangga tetap dikendalikan. Bukan dimusnahkan dengan racun.

Masyarakat di Kecamatan Pupuan, seperti di Desa Batungsel, sedang mengalami kehilangan sejumlah serangga. Kehilangan ini bukan tanpa alasan.  Adalah ada hubungannya dengan rusaknya habitat di sawah maupun di perkebunan kopi.

Ancruk yang gurih tidak ada lagi karena pohon jaka tidak ada, sudah habis ditebang atau mati karena tua. Sementara itu, mitos larangan atau pantang menanam pohon jaka masih dianut.  Mulai menggunakan pupuk dan menyemprot walaupun dalam jumlah yang terkendali nyatanya telah menghancurkan metamofose blauk, beluang, dan klipes di sawah.  

Revolusi hijau di kebun kopi dengan mengganti pohon-pohon dapdap besar, tinggi, dan berduri; dengan gamal atau kaliandra; sehingga tidak lagi menyediakan tempat bersarang bagi uled (sebatah). Tidak ada lagi serangga jenis ini di habitat perkebunan kopi. Demikian pula halnya dengan habisnya pohon-pohon besar, seperti gumpinis,  adis karena pohon-pohon kopi berebut ruang, maka ores tidak muncul sudah semenjak 35 tahun yang lalu, bermusim-musim. Artinya hilangnya serangga adalah rusaknya ekosistem, rusaknya lingkungan. [T]

Penulis: I Wayan Artika
Editor: Adnyana Ole

  • BACA esai-esai lain dari penulis I WAYAN ARTIKA
Menikmati Sensasi Baru Menu “Uraban Nyawan” atau “Lawar Lebah” di Desa Tambakan-Buleleng
Bubuh Nyawan Dadong Rinten dari Blahkiuh, Bubur Bali dengan Cita Rasa Autentik
Menyigi Masa Depan Petani Jagung di Tuban, Jawa Timur
Tags: Desa BatungselKecamatan Pupuanperkebunanpertanianserangga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking :  Pura Taman Mumbul dan Pura Ratu Ayu Dalem Mumbul

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [5]: Tangisan dari Gudang Tua

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 1, 2026
0
Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali....

Read moreDetails

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

by Iko Amadeus
June 30, 2026
0
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

Read moreDetails

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
0
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

Read moreDetails

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
June 29, 2026
0
Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang...

Read moreDetails

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

by Angga Wijaya
June 29, 2026
0
Teringat Mendiang Bang DS. Putra

PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya...

Read moreDetails

KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

by I Gede Joni Suhartawan
June 29, 2026
0
KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi...

Read moreDetails

KEHANCURAN HINDU NUSANTARA & DUNNING-KRUGER EFFECT

by Sugi Lanus
June 29, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan...

Read moreDetails

Bulan Juni Milik Empat Presiden

by I Nyoman Tingkat
June 28, 2026
0
Bulan Juni Milik Empat Presiden

“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak...

Read moreDetails

Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

by Agung Sudarsa
June 28, 2026
0
Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa...

Read moreDetails

Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan

by T.H. Hari Sucahyo
June 28, 2026
0
Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan

ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [5]: Tangisan dari Gudang Tua

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia
Khas

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna,...

by Angelique Maria Cuaca
July 1, 2026
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta
Ulas Pentas

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat
Politik

Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat

DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu...

by Jaswanto
July 1, 2026
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama
Ulas Buku

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata
Esai

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali....

by Agung Sudarsa
July 1, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi
Ulas Rupa

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

by Mahesa Putra
June 30, 2026
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise
Esai

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

by Iko Amadeus
June 30, 2026
Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan
Khas

Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi...

by Wahyu Mahaputra
June 30, 2026
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja
Ulas Pentas

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan
Esai

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya
Ulas Rupa

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

by Hartanto
June 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co