13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyigi Masa Depan Petani Jagung di Tuban, Jawa Timur

Jaswanto by Jaswanto
January 27, 2025
in Khas
Menyigi Masa Depan Petani Jagung di Tuban, Jawa Timur

Kebun Jagung di Desa Gaji, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur | Foto: tatkala.co/Jaswanto

BINATANG itu menggeliat sesaat setelah dicongkel dari dalam tanah. Besarnya hanya sekelingking orang dewasa, beberapa ada yang sejempol. Tak panjang, memang, hanya 3-5 cm, tapi gemuk, mirip ulat sagu. Berwarna putih kehitaman, berbintik-bergaris, dan memiliki pupa berwarna coklat. Ialah ulat tanah (Agrotis ipsilon) atau bengkelo sebagaimana petani Jagung di Tuban, Jawa Timur, menyebutnya.

Di Desa Gaji, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban dan sekitarnya, hari-hari ini banyak petani jagung mengeluh karena ulahnya yang menyerang akar dan batang jagung muda. Hama jenis ini menyerang tanaman jagung muda pada malam hari, sedangkan pada siang hari mereka bersembunyi di dalam tanah. Sementara hama lain seperti ulat grayak (Spodoptera frugiperda) bisa menghabiskan daun-daun jagung muda dalam sekejap.

Serangan hama yang hidup di bawah permukaan tanah ini sudah terdeteksi petani jagung sejak empat tahun terakhir. Namun, pada musim tanam kali ini bisa dibilang yang terparah dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Dulu ada, tapi lumrah. Belakangan ini semakin parah,” ujar Tari, petani jagung paruh baya Desa Gaji, sembari berusaha mengeluarkan bengkelo dari sarangnya menggunakan sebatang ranting. “Kadang satu batang tanaman dirubung lebih dari sepuluh bengkelo,” sambungnya.

Kebun jagung di Desa Gaji, Kecamatan, Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Larva ini hidup di dalam tanah dan menyebabkan pangkal batang jagung patah. Hama tersebut menyerang dengan cara memotong batang jagung muda sehingga layu dan akhirnya kering, mati. Ada kemungkinan koloni ulat tanah ini menyerang jagung sebab penggunaan kotoran ayam dan sapi sebagai pupuk. Mengingat, di tinja hewan tersebut ulat yang bagi sebagian orang menggelikan itu berhabitat. Tapi sejauh ini belum ada penelitian pasti mengenai hal tersebut.

Syahdan, ulah ulat tanah yang membabibuta ini tampaknya menyebabkan produksi jagung di Tuban tahun ini hasilnya bakal kurang meyakinkan. Ada ancaman gagal panen. Sebagaimana dikatakan Tari, selain hama lain, ulat tanah menjelma musuh yang nyaris sulit dibasmi. Seolah mati satu lahir seribu. Ini sangat mengkhawatirkan. Mengingat, baru berumur 70 hari, tanaman jagung sudah pada tumbang.

“Musim lalu ulat grayak. Sekarang bengkelo,” Tari menegaskan betapa tidak mujurnya hidup petani jagung akhir-akhir ini.

Berbagai upaya telah dilakukan Tari dan petani jagung lain untuk menanggulangi hama bengkelo, termasuk melakukan penyemprotan dengan pestisida pengendali hama, akan tetapi hal ini tak cukup memuaskan. Maka dari itu, untuk sekadar meminimalisir kerusakan dan kerugian serangan ulat tanah, banyak petani jagung terpaksa memburu bengkelo secara manual dengan menggali tanah di bawah akar tanaman jagung yang telah layu menggunakan tangan kosong atau sekadar sebatang ranting. “Mungkin dengan diburu begini bisa sedikit mengurangi hama bengkelo dan meminimalisir kerusakan tanaman,” ujar Tari.

Dalam sebuah jurnal ilmiah yang terbit di Stigma, Vol. 06, No.02. 2012:23-26, A. Maghfiroh dan D.K. Binawati mengungkapkan pengujian aktivitas bioinsektisida ekstrak daun kersen (Muntingia calabura) terhadap mortalitas ulat tanah dan ulat grayak. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa penyemprotan ekstrak daun kersen signifikan (P<0,05) dapat membunuh ulat grayak dan ulat tanah. Namun, Tari dan petani jagung lain di Tuban sepertinya tak pernah mencobanya—atau barangkali memang tak tahu mengenai hal tersebut.

Berburu ulat tanah (bengkelo) di kebun jagung | Foto: tatkala. co/Jaswanto

Tetapi, terlepas dari bagaimana cara ampuh membasmi ulat tanah, sebagai petani Tari berharap pemerintah—khususnya yang berkaitan dengan pertanian—segera mencarikan solusi agar serangan hama bengkelo sedikit teratasi. Minimal petani tidak merugi akibat hama tersebut. “Kami sudah susah akibat pupuk yang sulit, ditambah lagi hama bengkelo. Semoga saja hasil panen besok tidak rugi banyak dan harga jagung bisa stabil,” katanya.

Ancaman Lain

Jagung termasuk bahan makanan penting selain padi. Sebagian besar produksi jagung terkonsentrasi di Tuban, Jawa Timur. Dengan topografi wilayah dan rata-rata curah hujan yang tak terlalu tinggi dalam setahun, usaha pertanian jagung sangat mendukung di sini.

Tak ayal, di musim seperti sekarang, saat Anda memasuki daerah Mandang di Kecamatan Merakurak sampai hampir di seluruh kawasan Kecamatan Kerek, Tuban, Jawa Timur, sejauh mata mengedar, hanya terlihat tumbuhan jagung yang baru berbunga di ladang-ladang luas di pinggir jalan raya hingga di lereng-lereng bukit kapur di utara dan selatan pedalaman. Jagung merupakan salah satu andalan petani di Tuban, selain padi, singkong, kacang tanah, dan tanaman tani lain yang cocok di dataran rendah.

Ulat tanah (bengkelo), hama jagung | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sejak dulu Tuban memang dikenal sebagai kabupaten penghasil jagung di Jawa Timur, bahkan Indonesia. Sebagaimana Tabanan dianggap sebagai “lumbung padi” Bali, Tuban merupakan wilayah penting di Jawa Timur dengan produktivitas jagung dalam skala besar. Untuk itulah, pada awal 2024, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Suwandi mengatakan bahwa Kabupaten Tuban, Jawa Timur, bisa menjadi sentra jagung nasional.

Apa yang dikatakan Suwandi bisa jadi kenyataan asal pemerintah dan swasta sama-sama berkomitmen membangun pertanian jagung di Tuban dari hulu hingga hilir—komitmen yang membantu meringankan beban petani jagung. Namun, kenyataannya di lapangan petani jagung di Tuban sedang mengalami persoalan yang kompleks. Bukan saja soal menurunnya jumlah petani dan lahan produktif, pula modal, persediaan pupuk, persoalan harga jagung pasca panen, hama, ketidakpastian musim, harga bibit, pestisida, dan seambrek masalah lainnya.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa beberapa persen sawah dan ladang pertanian di Tuban beralihfungsi menjadi tambang bahan baku pabrik semen dan minyak Pertamina. Industri ini merupakan ancaman nyata terhadap keberlangsungan petani jagung. Penelitian Harizatuz Zikayah (2023) dari ilmu lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan bahwa terjadi perubahan komponen lingkungan akibat kegiatan produksi semen PT. Semen Indonesia Persero (Tbk) berupa penggunaan lahan, tutupan vegetasi, konflik sosial, persepsi masyarakat terhadap pabrik, getaran, dan kebisingan.

Kegiatan operasional pabrik semen pada wilayah tambangnya masuk dalam kategori merusak lingkungan secara berat. Bukan saja soal pabrik semen, pun penggunaan pestisida yang tidak terkontrol jelas bentuk ancaman yang lain.

Lanskap persawahan yang akan ditambang pabrik semen di Desa Gaji, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sekira sepuluh tahun terakhir, petani jagung di Tuban diserbu dengan berbagai produk kimia untuk membasmi bermacam-macam mahkluk hidup atau apa pun yang dianggap “pengganggu” tanaman. Dari mulai gulma, rumput, serangga, larva, atau apa pun dilibas dengan semprotan pestisida berbagai jenis tanpa pengetahuan akan keberlangsungan ekosistem biodiversitas.

“Banyak sekali obat-obatan yang kami pakai. Kami terpaksa memakainya, sebab lingkungan di sini sudah rusak,” ujar Tari. Untuk memperjelas, yang dimaksud Tari dengan “lingkungan sudah rusak” adalah kenyataan bahwa di beberapa daerah di Tuban, termasuk Desa Gaji, ekosistem alamnya sudah rumpang. Sebut saja beberapa burung pemakan ulat, misalnya, yang sudah nyaris lenyap. Padahal, alam telah mengajarkan, untuk mengendalikan hama, cukup dekatkan saja dengan predator alaminya.

Burung cendet (Lanius ludovicianus) yang notabene pengendali alami koloni ulat—termasuk ulat grayak hama jagung—habis ditangkap dan diperdagangkan. Akibatnya, populasi ulat menjadi tidak terkendali.

Ini adalah lingkaran setan. Karena peningkatan penggunaan pestisida pula, hama predator dan mangsa tidak seimbang, dan karenanya ada kelebihan populasi satu jenis hama yang akan menyerang tanaman tertentu, jagung misalnya. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan dalam produksi tanaman pangan tersebut. Oleh karena itu, tanaman jagung memerlukan pestisida yang lebih kuat atau pestisida jenis baru untuk mengatasi hama yang menyerang tanaman pangan tersebut. Hal ini juga menyebabkan terganggunya rantai makanan.

Berburu ulat tanah (bengkelo) di kebun jagang | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Selain itu, penggunaan pestisida pun pupuk kimia yang berlebihan juga dapat merusak pH tanah. Ini yang pernah disinggung Jonathan Foley dalam majalah National Gographic edisi Mei 2014, saat membicarakan ancaman lingkungan, kita membayangkan mobil dan cerobong asap. Sebenarnya, problem pangan adalah salah satu bahaya terbesar di bumi.

Pertanian termasuk penyumbang terbesar bagi pemanasan global, tulis Foley, menghasilkan gas rumah kaca lebih banyak daripada gabungan mobil, truk, kereta api, dan pesawat terbang. Sebagian besar berasal dari metana yang dilepaskan oleh ternak dan sawah, dinitrogen oksida dari ladang yang dipupuki, dan karbon dioksida dari penebangan hutan hujan untuk bertani atau beternak. Pertanian juga mempercepat hilangnya keanekaragaman hayati kita.

Tantangan lingkungan yang menyertai pertanian sangatlah besar, lanjut Foley, dan akan semakin mendesak saat kita berusaha memenuhi kebutuhan pangan yang kian tinggi di seluruh dunia. Sebelum pertengahan abad ini, jumlah mulut yang perlu diberi makan mungkin akan bertambah dua miliar lagi—seluruhnya sembilan miliar orang lebih.

Namun, pertumbuhan penduduk yang pesat bukan satu-satunya penyebab kita perlu makanan lebih banyak kelak. Penyebarluasan kemakmuran di seluruh dunia, terutama di Tiongkok dan India, mendorong kenaikan permintaan daging, telur, dan produk susu. Hal ini memperbesar tekanan untuk menanam lebih banyak jagung dan kedelai guna memberi makan lebih banyak ternak, babi, dan ayam. Begitu kurang lebih Jonathan Foley menulis.

Menurut Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), sekitar 30 persen lahan di dunia dianggap terdegradasai—terkikis atau kehilangan nutrisinya karena pengelolaan lahan yang buruk dan dengan cepat kehilangan kemampuannya untuk menghasilkan makanan yang cukup.

Sementara itu, perubahan iklim—yang sebagian didorong oleh gas rumah kaca yang dihasilkan oleh pertanian—memperparah kerusakan tanah dan membuat sistem pertanian global semakin rapuh. Faktanya, National Academy of Sciences (NAS) memperkirakan bahwa jika suhu rata-rata global naik hanya 2 derajat Fahrenheit, hasil panen jagung akan turun sebesar 7,4 persen. Secara global, pertanian berada pada jalur yang tidak berkelanjutan dan kini memiliki jejak ekologis yang tinggi.

Kembali pada masalah lain petani jagung di Tuban. Ini soal pupuk bersubsidi. Tahun lalu, dan tahun-tahun sebelumnya, petani jagung di Tuban selalu kesulitan mendapat pupuk bersubsidi. Fenomena pupuk langka memang masalah klasik pertanian di Tuban. Sedangkan para petani sudah kadung kecanduan pupuk kimia.

Pertanian di Tuban selalu terjadi pengulangan siklus tanam untuk meningkatkan produksi tanaman dan mengurangi gagal panen, yang menguras nutrisi tanah. Demikian pula, karena tidak ada pengembalian sisa tanaman dan bahan organik ke tanah, sistem tanam intensif mengakibatkan hilangnya bahan organik tanah. Untuk memenuhi kebutuhan benih jenis baru, petani menggunakan pupuk yang semakin banyak saat kualitas tanah memburuk.

“Sekarang, pupuk bersubdisi didistribusikan pemerintah desa dengan paket pupuk non subsidi. Misal pupuk subsidinya satu, pupuk non subsidinya dua,” terang Tari. Itu soal pupuk, belum lagi masalah alam yang berubah, anjloknya harga jagung saat panen, dan ihwal lain yang cukup mengkhawatirkan dan mengganggu produksi jagung di Tuban.

Jagung, yang nenek moyangnya tumbuh liar di lereng bukit Meksiko, tepatnya di lembah Sungai Balsas di Meksiko Selatan itu, adalah emas dalam bentuk lain bagi masyarakat Tuban, khususnya Desa Gaji, Kecamatan Kerek. Jagung merupakan nadi kehidupan masyarakat. Berkat ia mereka bisa sekolah, membangun, dan bertahan hidup. Namun, jika kondisinya terus demikian, rasanya tak berlebihan untuk mengatakan bahwa nasib petani jagung di Tuban sedang menghadapi ancaman serius. Menurunnya produksi jagung dapat memengaruhi kesetabilan pangan nasional—bahkan dunia.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Jagung Bakar
Olahan Tepung Ikan, Tepung Kedelai atau Jagung, Dedak dan Tepung Tapioca untuk Pakan Lele
Seraya Popcorn, Usaha Kreatif Agus Tripayana Membangkitkan Jagung Desa Seraya

Tags: Jawa TimurKabupaten Tubanpertanianpertanian jagungTuban
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tentang Menjadi Guru Besar

Next Post

Cegah Munculnya Masalah Gizi Sejak Dini

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Cegah Munculnya Masalah Gizi Sejak Dini

Cegah Munculnya Masalah Gizi Sejak Dini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co