23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyigi Masa Depan Petani Jagung di Tuban, Jawa Timur

Jaswanto by Jaswanto
January 27, 2025
in Khas
Menyigi Masa Depan Petani Jagung di Tuban, Jawa Timur

Kebun Jagung di Desa Gaji, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur | Foto: tatkala.co/Jaswanto

BINATANG itu menggeliat sesaat setelah dicongkel dari dalam tanah. Besarnya hanya sekelingking orang dewasa, beberapa ada yang sejempol. Tak panjang, memang, hanya 3-5 cm, tapi gemuk, mirip ulat sagu. Berwarna putih kehitaman, berbintik-bergaris, dan memiliki pupa berwarna coklat. Ialah ulat tanah (Agrotis ipsilon) atau bengkelo sebagaimana petani Jagung di Tuban, Jawa Timur, menyebutnya.

Di Desa Gaji, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban dan sekitarnya, hari-hari ini banyak petani jagung mengeluh karena ulahnya yang menyerang akar dan batang jagung muda. Hama jenis ini menyerang tanaman jagung muda pada malam hari, sedangkan pada siang hari mereka bersembunyi di dalam tanah. Sementara hama lain seperti ulat grayak (Spodoptera frugiperda) bisa menghabiskan daun-daun jagung muda dalam sekejap.

Serangan hama yang hidup di bawah permukaan tanah ini sudah terdeteksi petani jagung sejak empat tahun terakhir. Namun, pada musim tanam kali ini bisa dibilang yang terparah dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Dulu ada, tapi lumrah. Belakangan ini semakin parah,” ujar Tari, petani jagung paruh baya Desa Gaji, sembari berusaha mengeluarkan bengkelo dari sarangnya menggunakan sebatang ranting. “Kadang satu batang tanaman dirubung lebih dari sepuluh bengkelo,” sambungnya.

Kebun jagung di Desa Gaji, Kecamatan, Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Larva ini hidup di dalam tanah dan menyebabkan pangkal batang jagung patah. Hama tersebut menyerang dengan cara memotong batang jagung muda sehingga layu dan akhirnya kering, mati. Ada kemungkinan koloni ulat tanah ini menyerang jagung sebab penggunaan kotoran ayam dan sapi sebagai pupuk. Mengingat, di tinja hewan tersebut ulat yang bagi sebagian orang menggelikan itu berhabitat. Tapi sejauh ini belum ada penelitian pasti mengenai hal tersebut.

Syahdan, ulah ulat tanah yang membabibuta ini tampaknya menyebabkan produksi jagung di Tuban tahun ini hasilnya bakal kurang meyakinkan. Ada ancaman gagal panen. Sebagaimana dikatakan Tari, selain hama lain, ulat tanah menjelma musuh yang nyaris sulit dibasmi. Seolah mati satu lahir seribu. Ini sangat mengkhawatirkan. Mengingat, baru berumur 70 hari, tanaman jagung sudah pada tumbang.

“Musim lalu ulat grayak. Sekarang bengkelo,” Tari menegaskan betapa tidak mujurnya hidup petani jagung akhir-akhir ini.

Berbagai upaya telah dilakukan Tari dan petani jagung lain untuk menanggulangi hama bengkelo, termasuk melakukan penyemprotan dengan pestisida pengendali hama, akan tetapi hal ini tak cukup memuaskan. Maka dari itu, untuk sekadar meminimalisir kerusakan dan kerugian serangan ulat tanah, banyak petani jagung terpaksa memburu bengkelo secara manual dengan menggali tanah di bawah akar tanaman jagung yang telah layu menggunakan tangan kosong atau sekadar sebatang ranting. “Mungkin dengan diburu begini bisa sedikit mengurangi hama bengkelo dan meminimalisir kerusakan tanaman,” ujar Tari.

Dalam sebuah jurnal ilmiah yang terbit di Stigma, Vol. 06, No.02. 2012:23-26, A. Maghfiroh dan D.K. Binawati mengungkapkan pengujian aktivitas bioinsektisida ekstrak daun kersen (Muntingia calabura) terhadap mortalitas ulat tanah dan ulat grayak. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa penyemprotan ekstrak daun kersen signifikan (P<0,05) dapat membunuh ulat grayak dan ulat tanah. Namun, Tari dan petani jagung lain di Tuban sepertinya tak pernah mencobanya—atau barangkali memang tak tahu mengenai hal tersebut.

Berburu ulat tanah (bengkelo) di kebun jagung | Foto: tatkala. co/Jaswanto

Tetapi, terlepas dari bagaimana cara ampuh membasmi ulat tanah, sebagai petani Tari berharap pemerintah—khususnya yang berkaitan dengan pertanian—segera mencarikan solusi agar serangan hama bengkelo sedikit teratasi. Minimal petani tidak merugi akibat hama tersebut. “Kami sudah susah akibat pupuk yang sulit, ditambah lagi hama bengkelo. Semoga saja hasil panen besok tidak rugi banyak dan harga jagung bisa stabil,” katanya.

Ancaman Lain

Jagung termasuk bahan makanan penting selain padi. Sebagian besar produksi jagung terkonsentrasi di Tuban, Jawa Timur. Dengan topografi wilayah dan rata-rata curah hujan yang tak terlalu tinggi dalam setahun, usaha pertanian jagung sangat mendukung di sini.

Tak ayal, di musim seperti sekarang, saat Anda memasuki daerah Mandang di Kecamatan Merakurak sampai hampir di seluruh kawasan Kecamatan Kerek, Tuban, Jawa Timur, sejauh mata mengedar, hanya terlihat tumbuhan jagung yang baru berbunga di ladang-ladang luas di pinggir jalan raya hingga di lereng-lereng bukit kapur di utara dan selatan pedalaman. Jagung merupakan salah satu andalan petani di Tuban, selain padi, singkong, kacang tanah, dan tanaman tani lain yang cocok di dataran rendah.

Ulat tanah (bengkelo), hama jagung | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sejak dulu Tuban memang dikenal sebagai kabupaten penghasil jagung di Jawa Timur, bahkan Indonesia. Sebagaimana Tabanan dianggap sebagai “lumbung padi” Bali, Tuban merupakan wilayah penting di Jawa Timur dengan produktivitas jagung dalam skala besar. Untuk itulah, pada awal 2024, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Suwandi mengatakan bahwa Kabupaten Tuban, Jawa Timur, bisa menjadi sentra jagung nasional.

Apa yang dikatakan Suwandi bisa jadi kenyataan asal pemerintah dan swasta sama-sama berkomitmen membangun pertanian jagung di Tuban dari hulu hingga hilir—komitmen yang membantu meringankan beban petani jagung. Namun, kenyataannya di lapangan petani jagung di Tuban sedang mengalami persoalan yang kompleks. Bukan saja soal menurunnya jumlah petani dan lahan produktif, pula modal, persediaan pupuk, persoalan harga jagung pasca panen, hama, ketidakpastian musim, harga bibit, pestisida, dan seambrek masalah lainnya.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa beberapa persen sawah dan ladang pertanian di Tuban beralihfungsi menjadi tambang bahan baku pabrik semen dan minyak Pertamina. Industri ini merupakan ancaman nyata terhadap keberlangsungan petani jagung. Penelitian Harizatuz Zikayah (2023) dari ilmu lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan bahwa terjadi perubahan komponen lingkungan akibat kegiatan produksi semen PT. Semen Indonesia Persero (Tbk) berupa penggunaan lahan, tutupan vegetasi, konflik sosial, persepsi masyarakat terhadap pabrik, getaran, dan kebisingan.

Kegiatan operasional pabrik semen pada wilayah tambangnya masuk dalam kategori merusak lingkungan secara berat. Bukan saja soal pabrik semen, pun penggunaan pestisida yang tidak terkontrol jelas bentuk ancaman yang lain.

Lanskap persawahan yang akan ditambang pabrik semen di Desa Gaji, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sekira sepuluh tahun terakhir, petani jagung di Tuban diserbu dengan berbagai produk kimia untuk membasmi bermacam-macam mahkluk hidup atau apa pun yang dianggap “pengganggu” tanaman. Dari mulai gulma, rumput, serangga, larva, atau apa pun dilibas dengan semprotan pestisida berbagai jenis tanpa pengetahuan akan keberlangsungan ekosistem biodiversitas.

“Banyak sekali obat-obatan yang kami pakai. Kami terpaksa memakainya, sebab lingkungan di sini sudah rusak,” ujar Tari. Untuk memperjelas, yang dimaksud Tari dengan “lingkungan sudah rusak” adalah kenyataan bahwa di beberapa daerah di Tuban, termasuk Desa Gaji, ekosistem alamnya sudah rumpang. Sebut saja beberapa burung pemakan ulat, misalnya, yang sudah nyaris lenyap. Padahal, alam telah mengajarkan, untuk mengendalikan hama, cukup dekatkan saja dengan predator alaminya.

Burung cendet (Lanius ludovicianus) yang notabene pengendali alami koloni ulat—termasuk ulat grayak hama jagung—habis ditangkap dan diperdagangkan. Akibatnya, populasi ulat menjadi tidak terkendali.

Ini adalah lingkaran setan. Karena peningkatan penggunaan pestisida pula, hama predator dan mangsa tidak seimbang, dan karenanya ada kelebihan populasi satu jenis hama yang akan menyerang tanaman tertentu, jagung misalnya. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan dalam produksi tanaman pangan tersebut. Oleh karena itu, tanaman jagung memerlukan pestisida yang lebih kuat atau pestisida jenis baru untuk mengatasi hama yang menyerang tanaman pangan tersebut. Hal ini juga menyebabkan terganggunya rantai makanan.

Berburu ulat tanah (bengkelo) di kebun jagang | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Selain itu, penggunaan pestisida pun pupuk kimia yang berlebihan juga dapat merusak pH tanah. Ini yang pernah disinggung Jonathan Foley dalam majalah National Gographic edisi Mei 2014, saat membicarakan ancaman lingkungan, kita membayangkan mobil dan cerobong asap. Sebenarnya, problem pangan adalah salah satu bahaya terbesar di bumi.

Pertanian termasuk penyumbang terbesar bagi pemanasan global, tulis Foley, menghasilkan gas rumah kaca lebih banyak daripada gabungan mobil, truk, kereta api, dan pesawat terbang. Sebagian besar berasal dari metana yang dilepaskan oleh ternak dan sawah, dinitrogen oksida dari ladang yang dipupuki, dan karbon dioksida dari penebangan hutan hujan untuk bertani atau beternak. Pertanian juga mempercepat hilangnya keanekaragaman hayati kita.

Tantangan lingkungan yang menyertai pertanian sangatlah besar, lanjut Foley, dan akan semakin mendesak saat kita berusaha memenuhi kebutuhan pangan yang kian tinggi di seluruh dunia. Sebelum pertengahan abad ini, jumlah mulut yang perlu diberi makan mungkin akan bertambah dua miliar lagi—seluruhnya sembilan miliar orang lebih.

Namun, pertumbuhan penduduk yang pesat bukan satu-satunya penyebab kita perlu makanan lebih banyak kelak. Penyebarluasan kemakmuran di seluruh dunia, terutama di Tiongkok dan India, mendorong kenaikan permintaan daging, telur, dan produk susu. Hal ini memperbesar tekanan untuk menanam lebih banyak jagung dan kedelai guna memberi makan lebih banyak ternak, babi, dan ayam. Begitu kurang lebih Jonathan Foley menulis.

Menurut Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), sekitar 30 persen lahan di dunia dianggap terdegradasai—terkikis atau kehilangan nutrisinya karena pengelolaan lahan yang buruk dan dengan cepat kehilangan kemampuannya untuk menghasilkan makanan yang cukup.

Sementara itu, perubahan iklim—yang sebagian didorong oleh gas rumah kaca yang dihasilkan oleh pertanian—memperparah kerusakan tanah dan membuat sistem pertanian global semakin rapuh. Faktanya, National Academy of Sciences (NAS) memperkirakan bahwa jika suhu rata-rata global naik hanya 2 derajat Fahrenheit, hasil panen jagung akan turun sebesar 7,4 persen. Secara global, pertanian berada pada jalur yang tidak berkelanjutan dan kini memiliki jejak ekologis yang tinggi.

Kembali pada masalah lain petani jagung di Tuban. Ini soal pupuk bersubsidi. Tahun lalu, dan tahun-tahun sebelumnya, petani jagung di Tuban selalu kesulitan mendapat pupuk bersubsidi. Fenomena pupuk langka memang masalah klasik pertanian di Tuban. Sedangkan para petani sudah kadung kecanduan pupuk kimia.

Pertanian di Tuban selalu terjadi pengulangan siklus tanam untuk meningkatkan produksi tanaman dan mengurangi gagal panen, yang menguras nutrisi tanah. Demikian pula, karena tidak ada pengembalian sisa tanaman dan bahan organik ke tanah, sistem tanam intensif mengakibatkan hilangnya bahan organik tanah. Untuk memenuhi kebutuhan benih jenis baru, petani menggunakan pupuk yang semakin banyak saat kualitas tanah memburuk.

“Sekarang, pupuk bersubdisi didistribusikan pemerintah desa dengan paket pupuk non subsidi. Misal pupuk subsidinya satu, pupuk non subsidinya dua,” terang Tari. Itu soal pupuk, belum lagi masalah alam yang berubah, anjloknya harga jagung saat panen, dan ihwal lain yang cukup mengkhawatirkan dan mengganggu produksi jagung di Tuban.

Jagung, yang nenek moyangnya tumbuh liar di lereng bukit Meksiko, tepatnya di lembah Sungai Balsas di Meksiko Selatan itu, adalah emas dalam bentuk lain bagi masyarakat Tuban, khususnya Desa Gaji, Kecamatan Kerek. Jagung merupakan nadi kehidupan masyarakat. Berkat ia mereka bisa sekolah, membangun, dan bertahan hidup. Namun, jika kondisinya terus demikian, rasanya tak berlebihan untuk mengatakan bahwa nasib petani jagung di Tuban sedang menghadapi ancaman serius. Menurunnya produksi jagung dapat memengaruhi kesetabilan pangan nasional—bahkan dunia.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Jagung Bakar
Olahan Tepung Ikan, Tepung Kedelai atau Jagung, Dedak dan Tepung Tapioca untuk Pakan Lele
Seraya Popcorn, Usaha Kreatif Agus Tripayana Membangkitkan Jagung Desa Seraya

Tags: Jawa TimurKabupaten Tubanpertanianpertanian jagungTuban
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tentang Menjadi Guru Besar

Next Post

Cegah Munculnya Masalah Gizi Sejak Dini

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
Cegah Munculnya Masalah Gizi Sejak Dini

Cegah Munculnya Masalah Gizi Sejak Dini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co