14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Menjadi Guru Besar

Mite Setiansah by Mite Setiansah
January 27, 2025
in Esai
Tentang Menjadi Guru Besar

Mite Setiansah

GURU besar atau profesor adalah gelar akademik tertinggi yang dapat diraih oleh seorang akademisi. Tentu untuk mencapai posisi tersebut ada banyak hal yang harus diperjuangkan. Meskipun ada tahapan dan prosedur yang standar, namun kisah di balik setiap perjalanan untuk menjadi guru besar, tentu bisa berbeda pada setiap orang.

Menjadi guru besar muncul dalam pemikiran saya sekitar tahun 2011. Saat itu saya harus menulis deskripsi diri untuk kepentingan sertifikasi profesi dosen. Terdapat satu item pertanyaan yang mengharuskan saya menuliskan visi saya dalam sepuluh tahun ke depan. Dua hal yang saya tulis adalah studi lanjut S3 dan menjadi guru besar sebelum usia 45 tahun.

Saya tidak merasa bahwa target itu terlalu tinggi, karena saya sudah terbiasa meyakini pesan orang tua bahwa selama niat kita baik dan mau berusaha, pasti akan ada jalannya. Dan saya sudah membuktikan hal itu ketika berangkat kuliah S2 dengan hanya berbekal niat. Demikian pula ketika mencapai jabatan fungsional lektor kepala dalam 10 tahun masa kerja.

Rencanakan apa yang mau dikerjakan dan kerjakan apa yang sudah direncanakan. Tahun 2012 saya memutuskan untuk studi lanjut S3 ke UGM Yogyakarta meskipun harus meninggalkan periode jabatan Ketua Jurusan yang baru dijalankan 1 tahun saja.

Satu dua teman mempertanyakan keputusan itu dan memberikan gambaran bahwa kuliah S3 jika tidak disertai dengan finansial yang mapan, maka bukan kesuksesan yang didapat tapi bisa jadi justru keluarga jadi berantakan. Dikatakan bahwa saya ibarat ingin membeli mobil padahal rumah pun saya belum punya. Saya katakan, bahwa itu tergantung perspektif dan niat kita.

Dengan niat kuat sekolah untuk meningkatkan kualitas diri saya, maka saya katakan insya allah, mobil yang saya beli ini akan bisa membuat saya punya rumah dengan kondisi yang lebih baik dari sekarang. Alhamdulillah, kuliah S3 berjalan lancar dan rejeki pun datang dari berbagai pintu yang tidak terduga.

Janji kedua yang saya tulis adalah saya harus menjadi guru besar sebelum usia 45. Saat janji itu ditulis, sudah bertahun-tahun lamanya tidak ada guru besar baru di kampus FISIP tercinta. Tetapi saya sepakat dengan sebuah pernyataan bahwa hal yang berbahaya bukanlah cita-cita yang terlalu tinggi, melainkan cita-cita yang terlalu sederhana.

Cita-cita yang tinggi akan mendorong kita berusaha maksimal, sementara cita-cita sederhana hanya membuat kita menjalani semuanya secukupnya saja. Maka saya berprinsip, gantunglah cita-cita setinggi bintang, seandainya meleset pun setidaknya kamu akan mendapatkan bulan.

Maka ketika usia 45 sudah terlewati dan cita-cita saya belum tercapai, yang saya lakukan adalah mengevaluasi cara saya menjalani hari sejak selesai S3 hingga usia 45. Ternyata selama itu, saya tidak melakukan apapun untuk mencapai cita-cita itu.

Padahal seringkali di hadapan peserta berbagai pelatihan motivasi yang saya berdiri sebagai narasumber, saya selalu katakan bahwa, perbedaan orang sukses dan orang gagal hanyalah satu. Orang gagal akan berkata, aku ingin sukses bahkan ribuan kali tetapi tidak melakukan apapun untuk meraih kesuksesannya, sementara orang sukses akan berkata aku ingin sukses dan segera mengambil langkah untuk meraihnya.

Saat itu saya putuskan untuk mengambil langkah menuju cita-cita yang tertunda. Saya tinggalkan bisnis yang telah membuat saya bisa mengunjungi banyak negara dengan bonus mencapai puluhan juta. Hidup ibarat sebuah bola karet, jika di satu sisi ada yang menonjol, maka akan ada sisi lain yang menjorok ke dalam. Bisnis yang saya tekuni telah memberi saya lebih secara ekonomi, namun ada sisi akademis yang kemudian terpinggirkan.

Tidak hanya bisnis yang saya tinggalkan, ajakan untuk menduduki sebuah posisi pimpinan pun sementara saya abaikan. Tawaran itu saya tepis dengan mengatakan bahwa untuk saat ini, saya hanya ingin menulis. Sudah terlalu banyak waktu terlewati.

Sudah banyak kolega yang menyelesaikan studi, meraih jabatan lektor kepala dan kemudian beberapa menjadi guru besar, dan saya masih menjadi pekerja serabutan. Mengerjakan tugas ini dan itu, meninggalkan utang publikasi yang harus segera saya lunasi. Terngiang kembali perkataan seorang guru di Jogja, sosok legendaris di kalangan para jurnalis, sumber inspirasi bagi para akademisi, Ashadi Siregar, “Mit nulis…orang hanya akan tahu siapa kita kalo kita menulis.”

***

Niat kembali ke tujuan yang telah ditetapkan sejak 13 tahun silam seolah menemukan jalannya sendiri. Kampus membuka program percepatan guru besar. Saya melewatkan batch 1, 2 dan 3 karena berbagai alasan. Akhirnya di batch ke-4 saya pun ambil bagian. Karantina dilaksanakan di sebuah hotel di Yogyakarta.

Sungguh semuanya di luar yang saya duga. Memiliki publikasi di jurnal internasional bereputasi yang selama ini membuat saya ciut ternyata hanya perlu dihadapi dengan menulis dan kesabaran saja. Draft yang saya tulis di Jogja langsung disubmit ke salah satu jurnal. Tidak sampai 2 hari, balasan datang.

Tulisan saya ditolak. Segera saya kirim ulang ke jurnal yang lain, 2 hari kemudian notifikasi datang ke email saya, artikel tidak sesuai dengan lingkup jurnal mereka. Sebelum pulang ke Purwokerto kembali saya kirim ulang ke jurnal yang lain. Kali ini, jawaban datang 2 minggu kemudian, saya harus melakukan revisi di beberapa bagian tulisan.

Empat bulan kemudian artikel pertama di jurnal bereputasi Q2 telah terbit, tanpa biaya. Ya Allah, kemana saja saya selama ini? Mana prinsip yang selalu saya pegang, jangan risaukan besok kerjakan saja apa yang bisa dikerjakan hari ini? Kenapa kemarin saya ciut dan menjauh setiap mendengar scopus disebut. Seharusnya kerjakan saja, tulis saja. Nyatanya ketika saya tidak menulis, KUM lebih dari seribu pun tidak ada gunanya.

Utang sudah terbayar lunas. Publikasi sudah saya miliki. Tabungan angka kredit sudah berlebih. Peraturan dan kebijakan baru datang. Terdapat sejumlah perubahan dalam pengajuan kenaikan jabatan. Tapi sudahlah, saya kembali pada prinsip saya selama ini, tidak perlu berpikir besok bagaimana, kerjakan saja yang bisa dikerjakan hari ini yaitu mengajukan usulan.

Beberapa waktu berlalu, hasil penilaian pun keluar. Usulan kenaikan jabatan guru besar saya ditolak. Catatan utama asesor adalah artikel syarat khusus tidak sesuai bidang ilmu dan saya perlu menambah 2-3 artikel lagi di jurnal internasional bereputasi. Waktu revisi 2 minggu yang diberikan jelas tidak signifikan. Maka revisi tidak saya lakukan.

Saya kembali menulis luaran beberapa penelitian yang pernah dikerjakan. Kembali mengirimkan tulisan ke beberapa jurnal gratisan. Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk gelap, adalah juga prinsip hidup yang selalu saya pegang. Tidak ada gunanya saya bersumpah serapah ataupun meratapi penolakan yang hanya akan membuatnya terasa lebih menyakitkan. Mengirimkan tulisan yang entah akan terbit kapan, ibarat menyalakan lilin dalam kegelapan.

Periode II pengusulan jabatan kembali dibuka. Artikel-artikel baru yang dikirimkan belum ada yang diterima. Bahkan datang kabar bahwa penelitian yang menjadi syarat tambah rentan ditolak karena SK pendukungnya tidak relevan. Hingga 3 hari menjelang penutupan saya belum punya gambaran. Apakah akan kembali diajukan atau saya biarkan.

Hari ke-2 menjelang penutupan pendaftaran tiba-tiba terbersit sebuah gagasan, saya meminta ketua LPPM untuk membuatkan surat keterangan yang menyatakan bahwa syarat tambah penelitian saya benar-benar penelitian kompetitif nasional. Usulan kenaikan jabatan pun kembali diajukan. Kali ini dengan sedikit mencoba peruntungan, karena saya tidak menambah artikel selain yang sebelumnya pernah diajukan.

Satu persatu pengumuman kenaikan jabatan teman-teman mulai keluar. Hati yang sebelumnya tenang mulai sering berdebar. Hari-hari berjalan terasa sangat lambat, sementara degup jantung terasa semakin cepat. Akhirnya, pada suatu sore, pengumuman yang ditunggu datang. Saya tak kuasa menahan rasa di hadapan para mahasiswa yang kebetulan sedang bimbingan. Kalian menjadi saksi mata, ujar saya ketika di aplikasi sister yang saya buka, terbaca tulisan: “Direkomendasikan sebagai guru besar”. Alhamdulillaah Ya Allah…Meskipun meleset 3 tahun dari target semula, menjadi guru besar sebelum usia 45. Terwujud sebelum usia 48 masih dapat dikatakan sesuai dengan rencana. Mission Accomplished!

Surat keputusan sudah di tangan. Pertanyaan yang kemudian berdatangan adalah, “bagaimana rasanya jadi guru besar?”. Tentu yang pertama lega. Alhamdulillah, satu cita-cita telah tercapai. Namun pertanyaan besar justru datang dari diri sendiri. Apakah saya pantas dengan semua ini? Apakah saya bisa berkontribusi?

Dalam situasi ini, sekali lagi berbagai prinsip hidup yang selama ini saya yakini, kembali menjadi penguat diri. Selama ada niat baik, pasti kita bisa menjalani. Tidak perlu khawatir dengan apa yang akan terjadi esok hari, yang penting kerjakan yang bisa kita kerjakan hari ini dengan sepenuh hati. [T]

Purwokerto, 27 Januari 2025

Penulis: Mite Setiansah
Editor: Adnyana Ole

Mengerti Makna Profesor
Ketika Para Guru Besar Menari di Bulan Menari ISI Denpasar
Banalitas Teori : Sebuah Komentar Metodologis Terhadap Pidato Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Drs. I Made Pageh, M.Hum

Tags: guru besarPendidikanPerguruan TinggiProfesor
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Antisipasi Bencana di Satuan Pendidikan   

Next Post

Menyigi Masa Depan Petani Jagung di Tuban, Jawa Timur

Mite Setiansah

Mite Setiansah

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Menyigi Masa Depan Petani Jagung di Tuban, Jawa Timur

Menyigi Masa Depan Petani Jagung di Tuban, Jawa Timur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co