5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Menjadi Guru Besar

Mite Setiansah by Mite Setiansah
January 27, 2025
in Esai
Tentang Menjadi Guru Besar

Mite Setiansah

GURU besar atau profesor adalah gelar akademik tertinggi yang dapat diraih oleh seorang akademisi. Tentu untuk mencapai posisi tersebut ada banyak hal yang harus diperjuangkan. Meskipun ada tahapan dan prosedur yang standar, namun kisah di balik setiap perjalanan untuk menjadi guru besar, tentu bisa berbeda pada setiap orang.

Menjadi guru besar muncul dalam pemikiran saya sekitar tahun 2011. Saat itu saya harus menulis deskripsi diri untuk kepentingan sertifikasi profesi dosen. Terdapat satu item pertanyaan yang mengharuskan saya menuliskan visi saya dalam sepuluh tahun ke depan. Dua hal yang saya tulis adalah studi lanjut S3 dan menjadi guru besar sebelum usia 45 tahun.

Saya tidak merasa bahwa target itu terlalu tinggi, karena saya sudah terbiasa meyakini pesan orang tua bahwa selama niat kita baik dan mau berusaha, pasti akan ada jalannya. Dan saya sudah membuktikan hal itu ketika berangkat kuliah S2 dengan hanya berbekal niat. Demikian pula ketika mencapai jabatan fungsional lektor kepala dalam 10 tahun masa kerja.

Rencanakan apa yang mau dikerjakan dan kerjakan apa yang sudah direncanakan. Tahun 2012 saya memutuskan untuk studi lanjut S3 ke UGM Yogyakarta meskipun harus meninggalkan periode jabatan Ketua Jurusan yang baru dijalankan 1 tahun saja.

Satu dua teman mempertanyakan keputusan itu dan memberikan gambaran bahwa kuliah S3 jika tidak disertai dengan finansial yang mapan, maka bukan kesuksesan yang didapat tapi bisa jadi justru keluarga jadi berantakan. Dikatakan bahwa saya ibarat ingin membeli mobil padahal rumah pun saya belum punya. Saya katakan, bahwa itu tergantung perspektif dan niat kita.

Dengan niat kuat sekolah untuk meningkatkan kualitas diri saya, maka saya katakan insya allah, mobil yang saya beli ini akan bisa membuat saya punya rumah dengan kondisi yang lebih baik dari sekarang. Alhamdulillah, kuliah S3 berjalan lancar dan rejeki pun datang dari berbagai pintu yang tidak terduga.

Janji kedua yang saya tulis adalah saya harus menjadi guru besar sebelum usia 45. Saat janji itu ditulis, sudah bertahun-tahun lamanya tidak ada guru besar baru di kampus FISIP tercinta. Tetapi saya sepakat dengan sebuah pernyataan bahwa hal yang berbahaya bukanlah cita-cita yang terlalu tinggi, melainkan cita-cita yang terlalu sederhana.

Cita-cita yang tinggi akan mendorong kita berusaha maksimal, sementara cita-cita sederhana hanya membuat kita menjalani semuanya secukupnya saja. Maka saya berprinsip, gantunglah cita-cita setinggi bintang, seandainya meleset pun setidaknya kamu akan mendapatkan bulan.

Maka ketika usia 45 sudah terlewati dan cita-cita saya belum tercapai, yang saya lakukan adalah mengevaluasi cara saya menjalani hari sejak selesai S3 hingga usia 45. Ternyata selama itu, saya tidak melakukan apapun untuk mencapai cita-cita itu.

Padahal seringkali di hadapan peserta berbagai pelatihan motivasi yang saya berdiri sebagai narasumber, saya selalu katakan bahwa, perbedaan orang sukses dan orang gagal hanyalah satu. Orang gagal akan berkata, aku ingin sukses bahkan ribuan kali tetapi tidak melakukan apapun untuk meraih kesuksesannya, sementara orang sukses akan berkata aku ingin sukses dan segera mengambil langkah untuk meraihnya.

Saat itu saya putuskan untuk mengambil langkah menuju cita-cita yang tertunda. Saya tinggalkan bisnis yang telah membuat saya bisa mengunjungi banyak negara dengan bonus mencapai puluhan juta. Hidup ibarat sebuah bola karet, jika di satu sisi ada yang menonjol, maka akan ada sisi lain yang menjorok ke dalam. Bisnis yang saya tekuni telah memberi saya lebih secara ekonomi, namun ada sisi akademis yang kemudian terpinggirkan.

Tidak hanya bisnis yang saya tinggalkan, ajakan untuk menduduki sebuah posisi pimpinan pun sementara saya abaikan. Tawaran itu saya tepis dengan mengatakan bahwa untuk saat ini, saya hanya ingin menulis. Sudah terlalu banyak waktu terlewati.

Sudah banyak kolega yang menyelesaikan studi, meraih jabatan lektor kepala dan kemudian beberapa menjadi guru besar, dan saya masih menjadi pekerja serabutan. Mengerjakan tugas ini dan itu, meninggalkan utang publikasi yang harus segera saya lunasi. Terngiang kembali perkataan seorang guru di Jogja, sosok legendaris di kalangan para jurnalis, sumber inspirasi bagi para akademisi, Ashadi Siregar, “Mit nulis…orang hanya akan tahu siapa kita kalo kita menulis.”

***

Niat kembali ke tujuan yang telah ditetapkan sejak 13 tahun silam seolah menemukan jalannya sendiri. Kampus membuka program percepatan guru besar. Saya melewatkan batch 1, 2 dan 3 karena berbagai alasan. Akhirnya di batch ke-4 saya pun ambil bagian. Karantina dilaksanakan di sebuah hotel di Yogyakarta.

Sungguh semuanya di luar yang saya duga. Memiliki publikasi di jurnal internasional bereputasi yang selama ini membuat saya ciut ternyata hanya perlu dihadapi dengan menulis dan kesabaran saja. Draft yang saya tulis di Jogja langsung disubmit ke salah satu jurnal. Tidak sampai 2 hari, balasan datang.

Tulisan saya ditolak. Segera saya kirim ulang ke jurnal yang lain, 2 hari kemudian notifikasi datang ke email saya, artikel tidak sesuai dengan lingkup jurnal mereka. Sebelum pulang ke Purwokerto kembali saya kirim ulang ke jurnal yang lain. Kali ini, jawaban datang 2 minggu kemudian, saya harus melakukan revisi di beberapa bagian tulisan.

Empat bulan kemudian artikel pertama di jurnal bereputasi Q2 telah terbit, tanpa biaya. Ya Allah, kemana saja saya selama ini? Mana prinsip yang selalu saya pegang, jangan risaukan besok kerjakan saja apa yang bisa dikerjakan hari ini? Kenapa kemarin saya ciut dan menjauh setiap mendengar scopus disebut. Seharusnya kerjakan saja, tulis saja. Nyatanya ketika saya tidak menulis, KUM lebih dari seribu pun tidak ada gunanya.

Utang sudah terbayar lunas. Publikasi sudah saya miliki. Tabungan angka kredit sudah berlebih. Peraturan dan kebijakan baru datang. Terdapat sejumlah perubahan dalam pengajuan kenaikan jabatan. Tapi sudahlah, saya kembali pada prinsip saya selama ini, tidak perlu berpikir besok bagaimana, kerjakan saja yang bisa dikerjakan hari ini yaitu mengajukan usulan.

Beberapa waktu berlalu, hasil penilaian pun keluar. Usulan kenaikan jabatan guru besar saya ditolak. Catatan utama asesor adalah artikel syarat khusus tidak sesuai bidang ilmu dan saya perlu menambah 2-3 artikel lagi di jurnal internasional bereputasi. Waktu revisi 2 minggu yang diberikan jelas tidak signifikan. Maka revisi tidak saya lakukan.

Saya kembali menulis luaran beberapa penelitian yang pernah dikerjakan. Kembali mengirimkan tulisan ke beberapa jurnal gratisan. Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk gelap, adalah juga prinsip hidup yang selalu saya pegang. Tidak ada gunanya saya bersumpah serapah ataupun meratapi penolakan yang hanya akan membuatnya terasa lebih menyakitkan. Mengirimkan tulisan yang entah akan terbit kapan, ibarat menyalakan lilin dalam kegelapan.

Periode II pengusulan jabatan kembali dibuka. Artikel-artikel baru yang dikirimkan belum ada yang diterima. Bahkan datang kabar bahwa penelitian yang menjadi syarat tambah rentan ditolak karena SK pendukungnya tidak relevan. Hingga 3 hari menjelang penutupan saya belum punya gambaran. Apakah akan kembali diajukan atau saya biarkan.

Hari ke-2 menjelang penutupan pendaftaran tiba-tiba terbersit sebuah gagasan, saya meminta ketua LPPM untuk membuatkan surat keterangan yang menyatakan bahwa syarat tambah penelitian saya benar-benar penelitian kompetitif nasional. Usulan kenaikan jabatan pun kembali diajukan. Kali ini dengan sedikit mencoba peruntungan, karena saya tidak menambah artikel selain yang sebelumnya pernah diajukan.

Satu persatu pengumuman kenaikan jabatan teman-teman mulai keluar. Hati yang sebelumnya tenang mulai sering berdebar. Hari-hari berjalan terasa sangat lambat, sementara degup jantung terasa semakin cepat. Akhirnya, pada suatu sore, pengumuman yang ditunggu datang. Saya tak kuasa menahan rasa di hadapan para mahasiswa yang kebetulan sedang bimbingan. Kalian menjadi saksi mata, ujar saya ketika di aplikasi sister yang saya buka, terbaca tulisan: “Direkomendasikan sebagai guru besar”. Alhamdulillaah Ya Allah…Meskipun meleset 3 tahun dari target semula, menjadi guru besar sebelum usia 45. Terwujud sebelum usia 48 masih dapat dikatakan sesuai dengan rencana. Mission Accomplished!

Surat keputusan sudah di tangan. Pertanyaan yang kemudian berdatangan adalah, “bagaimana rasanya jadi guru besar?”. Tentu yang pertama lega. Alhamdulillah, satu cita-cita telah tercapai. Namun pertanyaan besar justru datang dari diri sendiri. Apakah saya pantas dengan semua ini? Apakah saya bisa berkontribusi?

Dalam situasi ini, sekali lagi berbagai prinsip hidup yang selama ini saya yakini, kembali menjadi penguat diri. Selama ada niat baik, pasti kita bisa menjalani. Tidak perlu khawatir dengan apa yang akan terjadi esok hari, yang penting kerjakan yang bisa kita kerjakan hari ini dengan sepenuh hati. [T]

Purwokerto, 27 Januari 2025

Penulis: Mite Setiansah
Editor: Adnyana Ole

Mengerti Makna Profesor
Ketika Para Guru Besar Menari di Bulan Menari ISI Denpasar
Banalitas Teori : Sebuah Komentar Metodologis Terhadap Pidato Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Drs. I Made Pageh, M.Hum

Tags: guru besarPendidikanPerguruan TinggiProfesor
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Antisipasi Bencana di Satuan Pendidikan   

Next Post

Menyigi Masa Depan Petani Jagung di Tuban, Jawa Timur

Mite Setiansah

Mite Setiansah

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Menyigi Masa Depan Petani Jagung di Tuban, Jawa Timur

Menyigi Masa Depan Petani Jagung di Tuban, Jawa Timur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co