5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Menjadi Guru Besar

Mite Setiansah by Mite Setiansah
January 27, 2025
in Esai
Tentang Menjadi Guru Besar

Mite Setiansah

GURU besar atau profesor adalah gelar akademik tertinggi yang dapat diraih oleh seorang akademisi. Tentu untuk mencapai posisi tersebut ada banyak hal yang harus diperjuangkan. Meskipun ada tahapan dan prosedur yang standar, namun kisah di balik setiap perjalanan untuk menjadi guru besar, tentu bisa berbeda pada setiap orang.

Menjadi guru besar muncul dalam pemikiran saya sekitar tahun 2011. Saat itu saya harus menulis deskripsi diri untuk kepentingan sertifikasi profesi dosen. Terdapat satu item pertanyaan yang mengharuskan saya menuliskan visi saya dalam sepuluh tahun ke depan. Dua hal yang saya tulis adalah studi lanjut S3 dan menjadi guru besar sebelum usia 45 tahun.

Saya tidak merasa bahwa target itu terlalu tinggi, karena saya sudah terbiasa meyakini pesan orang tua bahwa selama niat kita baik dan mau berusaha, pasti akan ada jalannya. Dan saya sudah membuktikan hal itu ketika berangkat kuliah S2 dengan hanya berbekal niat. Demikian pula ketika mencapai jabatan fungsional lektor kepala dalam 10 tahun masa kerja.

Rencanakan apa yang mau dikerjakan dan kerjakan apa yang sudah direncanakan. Tahun 2012 saya memutuskan untuk studi lanjut S3 ke UGM Yogyakarta meskipun harus meninggalkan periode jabatan Ketua Jurusan yang baru dijalankan 1 tahun saja.

Satu dua teman mempertanyakan keputusan itu dan memberikan gambaran bahwa kuliah S3 jika tidak disertai dengan finansial yang mapan, maka bukan kesuksesan yang didapat tapi bisa jadi justru keluarga jadi berantakan. Dikatakan bahwa saya ibarat ingin membeli mobil padahal rumah pun saya belum punya. Saya katakan, bahwa itu tergantung perspektif dan niat kita.

Dengan niat kuat sekolah untuk meningkatkan kualitas diri saya, maka saya katakan insya allah, mobil yang saya beli ini akan bisa membuat saya punya rumah dengan kondisi yang lebih baik dari sekarang. Alhamdulillah, kuliah S3 berjalan lancar dan rejeki pun datang dari berbagai pintu yang tidak terduga.

Janji kedua yang saya tulis adalah saya harus menjadi guru besar sebelum usia 45. Saat janji itu ditulis, sudah bertahun-tahun lamanya tidak ada guru besar baru di kampus FISIP tercinta. Tetapi saya sepakat dengan sebuah pernyataan bahwa hal yang berbahaya bukanlah cita-cita yang terlalu tinggi, melainkan cita-cita yang terlalu sederhana.

Cita-cita yang tinggi akan mendorong kita berusaha maksimal, sementara cita-cita sederhana hanya membuat kita menjalani semuanya secukupnya saja. Maka saya berprinsip, gantunglah cita-cita setinggi bintang, seandainya meleset pun setidaknya kamu akan mendapatkan bulan.

Maka ketika usia 45 sudah terlewati dan cita-cita saya belum tercapai, yang saya lakukan adalah mengevaluasi cara saya menjalani hari sejak selesai S3 hingga usia 45. Ternyata selama itu, saya tidak melakukan apapun untuk mencapai cita-cita itu.

Padahal seringkali di hadapan peserta berbagai pelatihan motivasi yang saya berdiri sebagai narasumber, saya selalu katakan bahwa, perbedaan orang sukses dan orang gagal hanyalah satu. Orang gagal akan berkata, aku ingin sukses bahkan ribuan kali tetapi tidak melakukan apapun untuk meraih kesuksesannya, sementara orang sukses akan berkata aku ingin sukses dan segera mengambil langkah untuk meraihnya.

Saat itu saya putuskan untuk mengambil langkah menuju cita-cita yang tertunda. Saya tinggalkan bisnis yang telah membuat saya bisa mengunjungi banyak negara dengan bonus mencapai puluhan juta. Hidup ibarat sebuah bola karet, jika di satu sisi ada yang menonjol, maka akan ada sisi lain yang menjorok ke dalam. Bisnis yang saya tekuni telah memberi saya lebih secara ekonomi, namun ada sisi akademis yang kemudian terpinggirkan.

Tidak hanya bisnis yang saya tinggalkan, ajakan untuk menduduki sebuah posisi pimpinan pun sementara saya abaikan. Tawaran itu saya tepis dengan mengatakan bahwa untuk saat ini, saya hanya ingin menulis. Sudah terlalu banyak waktu terlewati.

Sudah banyak kolega yang menyelesaikan studi, meraih jabatan lektor kepala dan kemudian beberapa menjadi guru besar, dan saya masih menjadi pekerja serabutan. Mengerjakan tugas ini dan itu, meninggalkan utang publikasi yang harus segera saya lunasi. Terngiang kembali perkataan seorang guru di Jogja, sosok legendaris di kalangan para jurnalis, sumber inspirasi bagi para akademisi, Ashadi Siregar, “Mit nulis…orang hanya akan tahu siapa kita kalo kita menulis.”

***

Niat kembali ke tujuan yang telah ditetapkan sejak 13 tahun silam seolah menemukan jalannya sendiri. Kampus membuka program percepatan guru besar. Saya melewatkan batch 1, 2 dan 3 karena berbagai alasan. Akhirnya di batch ke-4 saya pun ambil bagian. Karantina dilaksanakan di sebuah hotel di Yogyakarta.

Sungguh semuanya di luar yang saya duga. Memiliki publikasi di jurnal internasional bereputasi yang selama ini membuat saya ciut ternyata hanya perlu dihadapi dengan menulis dan kesabaran saja. Draft yang saya tulis di Jogja langsung disubmit ke salah satu jurnal. Tidak sampai 2 hari, balasan datang.

Tulisan saya ditolak. Segera saya kirim ulang ke jurnal yang lain, 2 hari kemudian notifikasi datang ke email saya, artikel tidak sesuai dengan lingkup jurnal mereka. Sebelum pulang ke Purwokerto kembali saya kirim ulang ke jurnal yang lain. Kali ini, jawaban datang 2 minggu kemudian, saya harus melakukan revisi di beberapa bagian tulisan.

Empat bulan kemudian artikel pertama di jurnal bereputasi Q2 telah terbit, tanpa biaya. Ya Allah, kemana saja saya selama ini? Mana prinsip yang selalu saya pegang, jangan risaukan besok kerjakan saja apa yang bisa dikerjakan hari ini? Kenapa kemarin saya ciut dan menjauh setiap mendengar scopus disebut. Seharusnya kerjakan saja, tulis saja. Nyatanya ketika saya tidak menulis, KUM lebih dari seribu pun tidak ada gunanya.

Utang sudah terbayar lunas. Publikasi sudah saya miliki. Tabungan angka kredit sudah berlebih. Peraturan dan kebijakan baru datang. Terdapat sejumlah perubahan dalam pengajuan kenaikan jabatan. Tapi sudahlah, saya kembali pada prinsip saya selama ini, tidak perlu berpikir besok bagaimana, kerjakan saja yang bisa dikerjakan hari ini yaitu mengajukan usulan.

Beberapa waktu berlalu, hasil penilaian pun keluar. Usulan kenaikan jabatan guru besar saya ditolak. Catatan utama asesor adalah artikel syarat khusus tidak sesuai bidang ilmu dan saya perlu menambah 2-3 artikel lagi di jurnal internasional bereputasi. Waktu revisi 2 minggu yang diberikan jelas tidak signifikan. Maka revisi tidak saya lakukan.

Saya kembali menulis luaran beberapa penelitian yang pernah dikerjakan. Kembali mengirimkan tulisan ke beberapa jurnal gratisan. Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk gelap, adalah juga prinsip hidup yang selalu saya pegang. Tidak ada gunanya saya bersumpah serapah ataupun meratapi penolakan yang hanya akan membuatnya terasa lebih menyakitkan. Mengirimkan tulisan yang entah akan terbit kapan, ibarat menyalakan lilin dalam kegelapan.

Periode II pengusulan jabatan kembali dibuka. Artikel-artikel baru yang dikirimkan belum ada yang diterima. Bahkan datang kabar bahwa penelitian yang menjadi syarat tambah rentan ditolak karena SK pendukungnya tidak relevan. Hingga 3 hari menjelang penutupan saya belum punya gambaran. Apakah akan kembali diajukan atau saya biarkan.

Hari ke-2 menjelang penutupan pendaftaran tiba-tiba terbersit sebuah gagasan, saya meminta ketua LPPM untuk membuatkan surat keterangan yang menyatakan bahwa syarat tambah penelitian saya benar-benar penelitian kompetitif nasional. Usulan kenaikan jabatan pun kembali diajukan. Kali ini dengan sedikit mencoba peruntungan, karena saya tidak menambah artikel selain yang sebelumnya pernah diajukan.

Satu persatu pengumuman kenaikan jabatan teman-teman mulai keluar. Hati yang sebelumnya tenang mulai sering berdebar. Hari-hari berjalan terasa sangat lambat, sementara degup jantung terasa semakin cepat. Akhirnya, pada suatu sore, pengumuman yang ditunggu datang. Saya tak kuasa menahan rasa di hadapan para mahasiswa yang kebetulan sedang bimbingan. Kalian menjadi saksi mata, ujar saya ketika di aplikasi sister yang saya buka, terbaca tulisan: “Direkomendasikan sebagai guru besar”. Alhamdulillaah Ya Allah…Meskipun meleset 3 tahun dari target semula, menjadi guru besar sebelum usia 45. Terwujud sebelum usia 48 masih dapat dikatakan sesuai dengan rencana. Mission Accomplished!

Surat keputusan sudah di tangan. Pertanyaan yang kemudian berdatangan adalah, “bagaimana rasanya jadi guru besar?”. Tentu yang pertama lega. Alhamdulillah, satu cita-cita telah tercapai. Namun pertanyaan besar justru datang dari diri sendiri. Apakah saya pantas dengan semua ini? Apakah saya bisa berkontribusi?

Dalam situasi ini, sekali lagi berbagai prinsip hidup yang selama ini saya yakini, kembali menjadi penguat diri. Selama ada niat baik, pasti kita bisa menjalani. Tidak perlu khawatir dengan apa yang akan terjadi esok hari, yang penting kerjakan yang bisa kita kerjakan hari ini dengan sepenuh hati. [T]

Purwokerto, 27 Januari 2025

Penulis: Mite Setiansah
Editor: Adnyana Ole

Mengerti Makna Profesor
Ketika Para Guru Besar Menari di Bulan Menari ISI Denpasar
Banalitas Teori : Sebuah Komentar Metodologis Terhadap Pidato Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Drs. I Made Pageh, M.Hum

Tags: guru besarPendidikanPerguruan TinggiProfesor
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Antisipasi Bencana di Satuan Pendidikan   

Next Post

Menyigi Masa Depan Petani Jagung di Tuban, Jawa Timur

Mite Setiansah

Mite Setiansah

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails
Next Post
Menyigi Masa Depan Petani Jagung di Tuban, Jawa Timur

Menyigi Masa Depan Petani Jagung di Tuban, Jawa Timur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co