4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Banalitas Teori : Sebuah Komentar Metodologis Terhadap Pidato Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Drs. I Made Pageh, M.Hum

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
February 10, 2023
in Esai
Banalitas Teori : Sebuah Komentar Metodologis Terhadap Pidato Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Drs. I Made Pageh, M.Hum

Orasi Ilmiah Pak Made di Gedung Auditorium Undiksha | Sumber : Dokumentasi Pribadi, Januari 2023

“Pak Made”, begitulah cara saya menyapa Bapak I Made Pageh. Akan tetapi, mungkin sapaan itu akan segera kehilangan makna, sebab saat tulisan ini dibuat, ia sudah dikukuhkan sebagai guru besar per tanggal 18 Januari 2023 melalui sidang pengukuhan Guru Besar bertempat di Gedung Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha.

Oleh sebab itu, idealnya harus disapa “Prof Made” ; sapaan yang menurut saya wajar disandangnya meski tampak agak berjarak. Namun, saya percaya, ia pribadi adalah orang yang membumi dan tidak begitu silau dengan capaian gelar akademik. Saya merasa lebih nyaman menyapanya “Pak Made” ; lebih hangat, lebih dekat, selayaknya hubungan anak dan ayah.

Bagi saya, Pak Made lebih dari sekedar sosok dosen atau teman sejawat di kampus. Pak Made adalah ayah ideologis yang sangat menginspirasi, baik saat saya menjadi mahasiswa maupun kini ketika sudah menjadi kolegialnya di kampus.

Dialah, bersama almarhum Pak Gusti Made Aryana, sering bercerita tentang ketokohan intelektual Bulak Sumur seperti Pak Sartono dan Pak Kunto ; dua akademisi UGM yang sering dianggap sebagai “Begawan Sejarah” Indonesia. Rasa penasaran dan keinginan untuk bertemu dengan kedua tokoh itu mendorong saya untuk melanjutkan studi master ilmu sejarah di UGM tahun 2012.

Sebelum sampai pada uraian kritik, saya ingin menyampaikan tiga hal.

Pertama, saya telah berdiskusi dengan Pak Made berkaitan dengan kemungkinan memberi komentar metodologis terhadap karyanya di platform ini. Hanya saja, tidak akan panjang lebar.

Kedua,  beberapa bulan sebelum pidato pengukuhan guru besar itu dibuat, saya telah membaca versi asli (utuh) tulisan ini. Tepatnya pada tanggal 23 september 2022, saat saya diminta oleh Pak Made mengerjakan mind mapping sebuah uraian panjang yang belakangan menjadi topik dari pidato pengukuhan guru besarnya. Rencananya, mind mapping itu akan dipresentasikan kepada student exchange dari Jepang dan Filipina di Gedung Rektorat Undiksha Lantai III. 

Ketiga, tulisan ini adalah wujud dari artikulasi percakapan keilmuwan antara saya dengan Pak Made. Dalam hal ini, kami lebih sering berseberangan alih-alih sepaham. Bagi saya, pertengkaran pikiran dan saling mengkomentari keilmuwan masing-masing akan menghindarkan pada keadaan yang saya sebut sebagai “obesitas intelektual”.

Menurut saya, perdebatan kami murni disebabkan keyakinan terhadap disiplin keilmuwan. Saya pribadi masih bersikap idealis terhadap keilmuan sejarah. Di sisi lain, Pak Made, saya pikir telah berubah haluan semenjak didaulat sebagai doktor pada Jurusan Kajian Budaya di Universitas Udayana pada tahun 2016. Perdebatan-perdebatan kecil kami terutama di ruang dosen maupun ruang perkuliahan dipicu oleh sindiran-sindiran saya terhadap sikap mendua tokoh kajian budaya yang teorinya sering menjadi framework artikel Pak Made, termasuk dalam pidato pengukuhan guru besar yang akan saya kritisi berikut ini.

Saya meminjam konsep banalitas dari Hannah Arendt. Ia merupakan salah satu pemikir New School of Social Research, Chicago Amerika dan sekaligus volunter yang mengajukan diri sebagai reporter atas pengadilan terhadap mantan tentara NAZI, Adolf Eichmann yang melarikan diri ke Argentina dan ditemukan oleh intel Israel. 

Arendt meliput sidang Eichmann mulai dari 11 April 1961 sampai 14 Agustus 1961. Wawancara Arendt itu dipublikasi pada 1963 dengan judul Eichmann in Jerusalam, A Report on the Banality of Evil. Hannah mendefinisikan banalitas sebagai yakni suatu situasi, dimana kejahatan tidak lagi dirasa sebagai kejahatan, tetapi sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja, sesuatu yang wajar. Argumen ini didapatkan dari pengamatannya terhadap orang-orang Jerman biasa, yang tidak memiliki pikiran jahat, namun mampu berpartisipasi aktif di dalam suatu tindak kejahatan brutal.

Dengan bermodal gagasan Hannah Arendt, didukung oleh definisi serupa dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, banalitas teori yang saya maksud sebagai otokritik adalah kegagalan metodologis terhadap sense of self (rasa kedirian) teoritik yang dipakai Pak Made dalam menganalisis tulisannya. Kegagalan itu disebabkan oleh ketidakmampuan teori untuk “bersuara”. Akibatnya, teori tidak (belum) menemukan eksistensi (makna)-nya. Selanjutnya, kritik teori ini akan berpusat pada bagian metodologi.

Orasi Ilmiah Pak Made di Gedung Auditorium Undiksha | Sumber : Dokumentasi Pribadi, Januari 2023

Di bagian metodologi penulisan pidato pengukuhan guru besar itu, saya akan menguraikan dua masalah pokok. Pertama, saya tidak menemukan satu upaya sistematik dari penulis dalam memperlakukan teori-teori itu sesuai kapabilitasnya. Pak Made sangat meyakinkan dan percaya diri ketika menyebut tokoh post kolonial seperti Homi Babha, tokoh teori wacana Michel Foucault, sosiolog Prancis Piere Bordieu hingga pengkaji sastra seperti Roland Barthes.

Hanya saja, dia tidak menjelaskan lebih dalam bagaimana teori itu digunakan sebagai matra untuk membedah gejala kebudayaan yang dikaji. Saya menganalogikan teks dalam wujud teori itu sebagaimana yang disampaikan oleh Derrida sebagai “keterpasungan logosentrisme”. Teori-teori yang dicomot itu secara tekstual bersuara tetapi (terdengar) lirih, atau jangan-jangan memang sengaja di(ter)bungkam dalam (kon)teks yang sedang dibicarakan demi kebutuhan legitimasi akademis penulis.

 “Pak Kunto”, begitulah ia disapa, merupakaan dosen Pak Made saat berkuliah di UGM tahun 98; namanya disebut bersama dengan Pak Sartono di bagian ucapan terimakasih. Pak Kunto Almarhum mungkin saja mencak-mencak di alam kubur saat membaca uraian metodologis pengukuhan guru besarnya itu. Saya jadi haqul yakin kalau Pak Kunto akan melabelinya “etalase teori”. Sebab memang terlalu banyak teori, sehingga yang cenderung muncul adalah selebrasi dibanding esensi.

 Sebagai sebuah epistem, kritik “etalase teori” pernah Pak Kunto juga sampaikan ketika berseberangan pemikiran dengan Pak Sartono di tahun 1980-an. Pak Sartono saat itu baru menyelesaikan studi doktoralnya di Leiden. Ia dibimbing oleh salah satu indonesianis terkenal, Pak Werttheim. Magnus opumnya yang terkenal dan segera menjadi bacaan wajib sarjana humaniora Indonesia berjudul “Pemberontakan Petani Banten 1888” yang terbit tahun 1984.

Pak Sartono pribadi adalah pengikut madzab Annales Prancis dengan dua tokohnya yang terkenal March Bloch dan Lucien Febre.  Akan tetapi, di dalam biografinya, Pak Sartono menyebut dirinya sebagai pengikut total history Fernand Braudel.

Menurut Pak Sartono, teori sosial akan membantu menjelaskan dimensi sinkronik ; meluas dalam ruang. Di sisi lain, teori sosial akan mendongkrak populisme ilmu sejarah di mimbar akademik yang posisinya mulai redup dan goyah seiring dengan semakin majunya metodologi yang berhasil dikembangkan oleh ilmuwan sosial. Gagasan Pak Sartono belakangan disebut dengan “multidimentional aproach”, atau pendekatan multidimensional.

Berbeda dengan Pak Sartono, Pak Kunto menolak diktum teori ke dalam ilmu sejarah. Menurutnya, terlalu bergantung kepada teori justru menyebabkan abrasi terhadap ciri khas sejarah. Di dalam bukunya yang berjudul “Penjelasan Sejarah (historical explanation)” terbit tahun 2008 disebutkan bahwa teori itu bersifat general dan mencari hukum-hukum universial.

Oleh sebab itu, teori sosial khususnya berkarakter nomotetik alih-alih ideografik. Lebih lanjut, Pak Kunto mengutip pemikiran Kant, bahwa einmalig dan verstehen kesejarahan akan mengalami disorientasi. Pak Kunto menyampaikan alternatif pemikiran, yang kemudian disempurnakan oleh muridnya, Pak Bambang Purwanto dalam pidato pengukuhan Guru Besar berjudul “Gagalnya Historiografi Indonesiasentris?”, tahun 2004 bahwa untuk menjelaskan sejarah, tidak perlu bergantung dengan teori, sejarawan bisa menggunakan teknik “the power of chronology” dan eksplanasi atau penjelasan sejarah.

 Kedua, teori post, entahkah post kolonial dan post struktural yang dicantumkan sebagai desain “kritis” di dalam tulisan itu secara tekstual bertugas melakukan proses kritik yang berakhir dengan dekonstruksi. Istilah ini berlawanan dengan konstruksi dan bertujuan untuk melakukan pembongkaran (penelanjangan) terhadap normativitas (kon)tekstual. Jadi, tujuan akhir dari penggunaan teori post adalah kritik terhadap kanonisasi dan logosentrisme.

Oleh sebab itu,  gambaran dekonstruksi yang diidealkan berusaha menghindari penunggalan terhadap kebenaran. Tidak ada kesimpulan, serba arbitrer yang tujuannya memberi ruang bagi pikiran lain untuk memberi tafsir-tafsir baru.

Gagasan apa dari tulisan Pak Made yang perlu dicurigai sebagai kanotik, sehingga yang hadir bukan sebuah ruang yang mendorong lahirnya demokrasi berpikir seperti yang diharapkan tokoh post yang ia comot teorinya, melainkan narasi yang normatif, monolitik dan absolut? Jawabannya adalah “indigenous knowlegde”, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bermakna “pengetahuan yang asli”.

Lalu mengapa indigenous knowlegde merupakan upaya kanotik? Para ilmuwan post mengharamkan usaha menemukan keaslian. Mereka beranggapan tidak ada yang asli. Segala hal adalah hasil dari bentukan atau konstruksi sosial.

Samuel Huntington di dalam kata pengantar bukunya yang berjudul “The Clash of Civilisation” yang diterbitkan pada tahun 1983 menyebut bahwa tidak ada kebudayaan yang berdiri sendiri, semua terhubung ke dalam satu pola yang disebut interaksi global. Inilah alasan mengapa piramid Mesir memiliki kemiripan dengan piramid Sumeria,  piramid Nusantara, serta piramid Aztec dan Maya di Amerika yang jaraknya ribuan mill. Artinya di masa lalu, kemungkinan besar bangsa-bangsa itu telah melakukan interaksi perdagangan global yang kemudian mengarah kepada interaksi intelektual.

 Jika yang “asli” itu tidak ada, hanya utopia yang dikerjakan secara sia-sia, lalu apakah yang dimaksudkan Pak Made dengan indigenous? Saya kira, ada satu pikiran alternatif untuk menjelaskan keaslian yakni “khas”. Istilah ini bisa jadi alternatif untuk mengurai jejalin rumit pengetahuan yang datang dari luar, lalu berkolaborasi dengan pengetahuan lokal dan membentuk apa yang Pak Made sebut dengan “bekisarisasi” ; pelokalan gagasan salah satu tokoh post kolonial, Homi Babha dalam karyanya yang berjudul “The Location of Culture”.

 Pak Made tidak menyebut Franz Fanon dalam karyanya yang berjudul White Mask and the Black Skin untuk mengurai lebih jauh konsep bekisarisasi.

Menurut saya, Fanon setara dengan Rudolf Mrazek yang menulis  “Engineers of Happy Land”. Fanon adalah penerjemah terbaik dari gagasan Babha yang faktual untuk beberapa kasus negara terjajah di Afrika, sehingga teoritisasi yang dikembangkan Babha nampak hidup. Di sisi lain, karya Mrazek di atas adalah narasi teknis berkaitan dengan telaah mendalam seorang indonesianis sekaligus marxis kanan kawakan, Ben Anderson yang menulis “imagine communities”. Mrazek menjelaskan secara lebih teknis tentang gagasan Ben bahwa nasionalisme Indonesia pertama-tama dibentuk oleh perkembangan kapitalisme cetak.

 Gagasan Mrazek dan Fanon bisa dipakai membedah konsep bekisarisasi yang dipelajari di bangku kuliah sebagai “akulturasi”. Akulturasi mengandaikan dua unsur yang egaliter, kemudian mengadakan pertemuan yang kompromistis. hibridasi menjelaskan satu unsur inferios dan unsur lainnya superior. Agar inferior tidak musnah, inferior melalui strateginya berusaha mengadopsi si superior, meramunya dan menjadikannya “khas”.

Meski nampak ada adopsi, dan kemungkinan si superior menganggap unsur mereka telah diadopsi oleh si inferior, unsur si superior itu tidak benar-benar menubuh/embodied, hanya menempel/embedded, karena sikap mentalnya masih tetap si inferior. Kesimpulannya, si inferior sedang bersembunyi atau menyembunyikan dirinya dalam balutan adopsi unsur superior melalui kecerdasan dan lambang-lambang tertentu.

 Jika hibridasi itu digambarkan dengan contoh di atas, lalu hubungannya dengan asimilasi semu? Asimilasi dalam kontesk kolonialisme Barat berkesuaisan dengan pola unsur di dalam gagasan hibrid. Bedanya, si inferior di dalam fenomena asimilasi melihat si superior sebagai tolok ukur, role model, dan secara sadar dan taqlid menjadikan dirinya identik dengan si superior.

Dalam proses sosial itu, si inferior akan melakukan imitasi dan identifikasi unsur superior sekaligus. Tujuan mereka menjadi identik dengan si superior dipengaruhi oleh hasrat untuk mendapatkan perlakuan (previlege) yang sama dengan si superior. Dengan kata lain, si inferior melakukan copy paste si superior ke dalam dirinya untuk tujuan-tujuan tertentu.

 Saya menduga Pak Pageh sedang memperlihatkan sikap ambivalen, atau mendua. Beliau sebenarnya sadar bahwa konsep “asli” lebih cocok disandingkan dengan normativitas pendidikan. Sebaliknya sangat problematis bila disandingkan dengan teori post. Dalam beberapa diskusi kecil kami tentang “asli”, Pak Made selalu meminjam analisis Jean Baudrillard tentang simulakra. Ia bahkan menggunakan teori itu untuk memperkuat argumentasi disertasinya tentang “Balisering” di mana salah satu kesimpulannya, tidak ada yang asli, termasuk kebudayaan Bali yang digembar gemborkan sebagai “adi luhung” itu. Kebudayaan Bali,sebagaimana Baudrillard adalah hasil dari simulakra, copian dari copian. [T]  

Tags: ilmu pengetahuansejarahUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Intan Satriadiningrat, Putu Artaningsih, dan Ayu Restiti, Juara “Mesatua” Bulan Bahasa Bali di Buleleng

Next Post

Saya Pernah Gagal, dan Itu Berkah

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Saya Pernah Gagal, dan Itu Berkah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co