2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [4]: Mahasiswa Kesurupan di Ruang Kuliah

Chusmeru by Chusmeru
January 23, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

MATA kuliah Komunikasi Tradisional merupakan pilihan di program studi ilmu komunikasi. Karenanya, mata kuliah ini pesertanya tidak begitu banyak. Mahasiswa menganggap mata kuliah ini tidak begitu menarik dan terkesan kuno.

Di era digital ini, mahasiswa lebih banyak yang memilih mata kuliah yang kekinian, seperti Komunikasi Bisnis, Praktikum Media Sosial, dan mata kuliah pilihan lain.

Namun sejak mata kuliah Komunikasi Tradisional diampu oleh dosen baru, Ageng Nugraha atau biasa dipanggil Ageng Semesta, banyak mahasiswa yang mengambilnya.

Pak Ageng mampu menjelaskan pokok-pokok bahasan Komunikasi Tradisional secara menarik. Banyak contoh kasus yang disampaikan Pak Ageng tentang komunikasi dan tradisi yang relevan dengan kondisi saat ini.

Terkadang Pak Ageng bercerita tentang pengalaman pribadinya dalam menjalankan tradisi Jawa yang saat ini banyak ditinggalkan masyarakat. Padahal di dalam tradisi itu banyak terdapat nilai dan pesan moral yang tinggi.

Perkembangan teknologi juga sebagian menggeser peran komunikasi tradisional di masyarakat. Orang lebih asyik mendengarkan musik maupun menonton film lewat ponsel, ketimbang menyaksikan pertunjukan kesenian di lapangan desa.

Meski demikian, Pak Ageng menjelaskan saat ini mulai ada kolaborasi media tradisonal dengan media digital. Banyak konten kreator yang mengunggah kegiatan kesenian daerah di kanal media sosial. Salah satu yang lagi marak adalah tampilnya kesenian tradisional Ebeg atau kuda lumping di kanal YouTube dan Facebook.

Banyak mahasiswa, khususnya yang dari luar Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, belum mengenal kesenian Ebeg. Oleh karena itu Pak Ageng merencanakan mengundang dukun Ebeg untuk hadir di kelas, agar mahasiswa dapat mengetahui seluk beluk kesenian itu.

***

Perkuliahan kali ini, Pak Ageng memasuki ruang kuliah 3 tidak sendirian. Ia ditemani Pak Sariman, seorang dukun atau dalang kesenian Ebeg. Kesenian itu dikenal luas pada masyarakat di Jawa Tengah. Biasanya kesenian itu dipentaskan di lapangan desa.

Pak Ageng memperkenalkan Pak Sariman. Usianya sudah menginjak 70 tahun. Namun tubuhnya masih tampak kekar. Kulitnya gelap. Itu karena ia terlalu sering berada di bawah terik matahari saat mendampingi para pemain ebeg.

Tidak sendirian, Pak Sariman didampingi istrinya, Murniati, yang menjadi sinden atau penyanyi dalam kesenian Ebeg. Murniati berusia 60 tahun, termasuk sinden senior dalam kesenian Ebeg. Suaranya masih tetap merdu dan lantang layaknya sinden muda.

Pak Sariman membawa beberapa perangkat kesenian Ebeg ke ruang kuliah. Salah satu yang dibawa adalah kuda lumping yang terbuat dari anyaman bambu. Selain itu ia juga membawa beberapa contoh sesajen dalam kesenian Ebeg, seperti kemenyan, minyak wangi, dan bunga mawar, cempaka, kenanga, serta daun dadap.

Tentang Ebeg, Pak Sariman menjelaskannya secara gambling kepada mahasiswa. Untuk menjadi pemain Ebeg seseorang harus memiliki indang atau sejenis roh halus yang akan merasuk ke dalam diri pemain Ebeg. Saat indang dipanggil dan merasuk, seorang pemain Ebeg akan kesurupan dan menari dengan menaiki kuda lumping.

Banyak pertanyaan dari mahasiswa tentang kesenian Ebeg, mulai dari cara mendapatkan indang, proses menjadi kesurupan, dan gunanya sesajen. Pak Sariman menjawabnya dengan ekspresi yang semangat. Sesekali ia juga memperagakan cara menaiki kuda lumping. Sementera istrinya melantunkan tembang-tembang Jawa.

Suasana perkuliahan mulai sedikit menegangkan. Gerakan Pak Samiran bermain Ebeg dan lantunan tembang istrinya mengundang suasana magis. Apalagi tempat kuliah ruang 3 sering diceritakan sebagai ruang yang penuh misteri. Banyak kejadian aneh saat dosen dan mahasiswa kuliah di ruang 3.

Saat istri Pak Sariman membawakan lagu Eling-Eling, Galih Sanjaya, mahasiswa di deretan kursi belakang tiba-tiba menjerit. Tangan dan kakinya kaku. Matanya melotot. Galih Sanjaya kesurupan. Teman-temannya kaget. Semua menyingkir ketakutan, berharap Pak Ageng maupun Pak Sariman melakukan sesuatu.

Pak Sariman tampak tenang. Ia meyakinkan mahasiswa, bahwa tidak akan terjadi apa-apa.

“Tenang saja. Nanti saya tanyakan siapa yang merasukinya,” kata Pak Sariman kepada mahasiswa.

Sedangkan Pak Ageng memegang tangan Galih Sanjaya agar tidak banyak bergerak

Pak Sariman membakar kemenyan yang ia bawa di atas pecahan genting sebagai alasnya. Asap dan bau kemenyan menebar ke seluruh ruang kuliah. Sebagian mahasiswa perempuan menutup hidung mencium aroma kemenyan. Namun sebagian besar bersikap biasa saja.

Perlahan Pak Sariman mendekati Galih Sanjaya. Asap kemenyan diusapkan beberapa kali ke wajah Galih, sambil dipegang tangan dan kakinya. Seketika tangan dan kaki Galih melemas, tak lagi kaku. Namun mata Galih tetap saja melotot. Wajahnya tegang seperti orang sedang menahan emosi.

“Sinten ingkang rawuh niki nggih?” tanya Pak Sariman kepada Galih dalam bahasa Jawa halus. Artinya, siapa yang datang merasuki tubuh Galih.

“Dipo Gumbolo…!” jawab Galih dengan nada tinggi. Tentu saja bukan Galih yang menjawab pertanyaan Pak Sariman. Makhluk halus bernama Dipo Gumbolo itu yang menjawabnya.

“Mohon maaf, Mbah Dipo, apa gerangan yang membuat Mbah Dipo datang?” tanya Pak Sariman.

“Aku hanya ingin mengingatkan. Jangan sampai kalian melupakan leluhur. Melupakan adat dan tradisi…!” jawab Dipo Gumbolo melalui raga Galih. Wajah Galih masih tampak tegang. Pak Sariman tetap menanggapinya dengan tenang.

“Inggih, Mbah… Kami semua mohon maaf. Kami akan selalu sowan leluhur dan menjaga tradisi,” ucap Pak Sariman.

Rupanya roh halus yang merasuki tubuh Galih  termasuk sudah tua dan berwibawa, sehingga Pak Sariman harus menunjukkan sikap hormat mengatupkan kedua telapak tangannya.

Suasana perkuliahan menjadi tegang. Semua berharap makhluk halus bernama Dipo Gumbolo yang merasuk ke dalam tubuh Galih bisa segera keluar. Namun ketegangan itu belum berakhir. Kaki Galih menghentak-hentak ke lantai. Pak Sariman segera tanggap.

“Bagaimana, Mbah. Apa ada lagi yang ingin disampaikan?” tanya Pak Sariman.

“Aku mau joget…” jawab Galih. Pak Sariman paham apa yang dimaksud. Ia segera mengambil kuda lumping, kemudian diselipkan di sela-sela kedua kaki Galih.

“Sekar Gadung…” kata Galih kepada istri Pak Sariman.

Rupanya Galih yang kerasukan roh Dipo Gumbolo ingin menari kuda lumping dengan diiringi tembang Sekar Gadung yang dinyanyikan oleh Murniati, istri Pak Sariman.

Murniati segera melantunkan tembang Sekar Gadung dalam logat bahasa Banyumasan. Lagu itu dalam pertunjukan Ebeg termasuk lagu yang dianggap sakral. Konon lagu ini dipercaya dapat memanggil roh leluhur, sehingga sering dinyanyikan dalam kesenian Ebeg.

Suara Murniati sangat merdu, namun bila diresapi dapat membangkitkan bulu kuduk. Galih sangat menikmati lagu itu. Sambil menari di atas kuda lumping, matanya menatap langit-langit ruang kuliah. Tatapannya tajam, tetapi tampak kosong.

Setelah lagu Sekar Gadung selesai dinyanyikan Murniati, gerakan menari Galih pun berhenti. Ia mengelus-elus dan menciumi kepala kuda lumping. Lalu ia mendekati Pak Sariman sambil berbisik:

“Mulih…”

Itu berarti Dipo Gumbolo yang ada di dalam tubuh Galih minta pulang atau keluar dari tubuh Galih. Pak Sariman menyambutnya dengan melepaskan kuda lumping yang ditunggangi Galih. Kemudian ia memegang kening Galih sambil membaca mantra. Sesaat tangan dan kaki Galih meronta. Matanya menatap ke atas. Kemudian lunglai, melemas. Sosok Dipo Gumbolo yang merasuk tubuh Galih telah keluar. Galih tampak seperti orang bingung, tak tahu apa yang baru saja terjadi.

***

Asap kemenyan masih mengepul di ruang kuliah. Aroma bunga juga menebar ke seluruh penjuru ruangan. Mahasiswa masih diselimuti kecemasan dan ketakutan. Semua takut kalau ada makhluk halus lain seperti Dipo Gumbolo merasuk ke tubuh mereka.

Merasa tak ingin mengalami nasib sama seperti Galih, mahasiswa bertanya kepada Pak Sariman.

“Kenapa Galih bisa kesurupan, Pak? Kan dia tidak punya indhang?” tanya Krisnanto.

Pak Sariman tersenyum. Ia memahami ketakutan mahasiswa.

“Memang Mas Galih tidak punya indhang. Mungkin tadi Mas Galih sedang melamun, pikirannya kosong. Roh Dipo Gumbolo yang ada di area kampus ini menghampirinya. Apalagi ruang kuliah ini juga memiliki aura mistis,” jawab pak Sariman sambil melirik kepada Galih.

Merasa apa yang dikatakan Pak Sariman benar, Galih mengangguk dengan masih menyisakan perasaan lemas dan mencekam.

Pak Ageng Nugraha menutup perkuliahan dengan menerangkan kepada mahasiswa akan arti penting fokus pada saat melakukan pekerjaan apa pun. Makhluk gaib selalu ada di sekeliling manusia untuk berkomunikasi. Namun karena dimensi ruang dan waktu yang berbeda, makhluk gaib mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan manusia.

Ketika ada manusia yang lengah, tidak fokus, dan kosong pikirannya, maka makhluk gaib itu akan meminjam raga seseorang sebagai media untuk menyampaikan pesan atau permintaan tertentu.

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam
Kampusku Sarang Hantu [2]: Suara Misterius di Ruang Dosen
Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita bersambungcerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sekilas Informasi Wisata  Saba Budaya  Baduy

Next Post

Kapankah Saya Akan Sembuh?

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
0
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

Read moreDetails

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Kemping yang Mencekam

by Chusmeru
October 15, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails
Next Post
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Kapankah Saya Akan Sembuh?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co