12 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [4]: Mahasiswa Kesurupan di Ruang Kuliah

Chusmeru by Chusmeru
January 23, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

MATA kuliah Komunikasi Tradisional merupakan pilihan di program studi ilmu komunikasi. Karenanya, mata kuliah ini pesertanya tidak begitu banyak. Mahasiswa menganggap mata kuliah ini tidak begitu menarik dan terkesan kuno.

Di era digital ini, mahasiswa lebih banyak yang memilih mata kuliah yang kekinian, seperti Komunikasi Bisnis, Praktikum Media Sosial, dan mata kuliah pilihan lain.

Namun sejak mata kuliah Komunikasi Tradisional diampu oleh dosen baru, Ageng Nugraha atau biasa dipanggil Ageng Semesta, banyak mahasiswa yang mengambilnya.

Pak Ageng mampu menjelaskan pokok-pokok bahasan Komunikasi Tradisional secara menarik. Banyak contoh kasus yang disampaikan Pak Ageng tentang komunikasi dan tradisi yang relevan dengan kondisi saat ini.

Terkadang Pak Ageng bercerita tentang pengalaman pribadinya dalam menjalankan tradisi Jawa yang saat ini banyak ditinggalkan masyarakat. Padahal di dalam tradisi itu banyak terdapat nilai dan pesan moral yang tinggi.

Perkembangan teknologi juga sebagian menggeser peran komunikasi tradisional di masyarakat. Orang lebih asyik mendengarkan musik maupun menonton film lewat ponsel, ketimbang menyaksikan pertunjukan kesenian di lapangan desa.

Meski demikian, Pak Ageng menjelaskan saat ini mulai ada kolaborasi media tradisonal dengan media digital. Banyak konten kreator yang mengunggah kegiatan kesenian daerah di kanal media sosial. Salah satu yang lagi marak adalah tampilnya kesenian tradisional Ebeg atau kuda lumping di kanal YouTube dan Facebook.

Banyak mahasiswa, khususnya yang dari luar Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, belum mengenal kesenian Ebeg. Oleh karena itu Pak Ageng merencanakan mengundang dukun Ebeg untuk hadir di kelas, agar mahasiswa dapat mengetahui seluk beluk kesenian itu.

***

Perkuliahan kali ini, Pak Ageng memasuki ruang kuliah 3 tidak sendirian. Ia ditemani Pak Sariman, seorang dukun atau dalang kesenian Ebeg. Kesenian itu dikenal luas pada masyarakat di Jawa Tengah. Biasanya kesenian itu dipentaskan di lapangan desa.

Pak Ageng memperkenalkan Pak Sariman. Usianya sudah menginjak 70 tahun. Namun tubuhnya masih tampak kekar. Kulitnya gelap. Itu karena ia terlalu sering berada di bawah terik matahari saat mendampingi para pemain ebeg.

Tidak sendirian, Pak Sariman didampingi istrinya, Murniati, yang menjadi sinden atau penyanyi dalam kesenian Ebeg. Murniati berusia 60 tahun, termasuk sinden senior dalam kesenian Ebeg. Suaranya masih tetap merdu dan lantang layaknya sinden muda.

Pak Sariman membawa beberapa perangkat kesenian Ebeg ke ruang kuliah. Salah satu yang dibawa adalah kuda lumping yang terbuat dari anyaman bambu. Selain itu ia juga membawa beberapa contoh sesajen dalam kesenian Ebeg, seperti kemenyan, minyak wangi, dan bunga mawar, cempaka, kenanga, serta daun dadap.

Tentang Ebeg, Pak Sariman menjelaskannya secara gambling kepada mahasiswa. Untuk menjadi pemain Ebeg seseorang harus memiliki indang atau sejenis roh halus yang akan merasuk ke dalam diri pemain Ebeg. Saat indang dipanggil dan merasuk, seorang pemain Ebeg akan kesurupan dan menari dengan menaiki kuda lumping.

Banyak pertanyaan dari mahasiswa tentang kesenian Ebeg, mulai dari cara mendapatkan indang, proses menjadi kesurupan, dan gunanya sesajen. Pak Sariman menjawabnya dengan ekspresi yang semangat. Sesekali ia juga memperagakan cara menaiki kuda lumping. Sementera istrinya melantunkan tembang-tembang Jawa.

Suasana perkuliahan mulai sedikit menegangkan. Gerakan Pak Samiran bermain Ebeg dan lantunan tembang istrinya mengundang suasana magis. Apalagi tempat kuliah ruang 3 sering diceritakan sebagai ruang yang penuh misteri. Banyak kejadian aneh saat dosen dan mahasiswa kuliah di ruang 3.

Saat istri Pak Sariman membawakan lagu Eling-Eling, Galih Sanjaya, mahasiswa di deretan kursi belakang tiba-tiba menjerit. Tangan dan kakinya kaku. Matanya melotot. Galih Sanjaya kesurupan. Teman-temannya kaget. Semua menyingkir ketakutan, berharap Pak Ageng maupun Pak Sariman melakukan sesuatu.

Pak Sariman tampak tenang. Ia meyakinkan mahasiswa, bahwa tidak akan terjadi apa-apa.

“Tenang saja. Nanti saya tanyakan siapa yang merasukinya,” kata Pak Sariman kepada mahasiswa.

Sedangkan Pak Ageng memegang tangan Galih Sanjaya agar tidak banyak bergerak

Pak Sariman membakar kemenyan yang ia bawa di atas pecahan genting sebagai alasnya. Asap dan bau kemenyan menebar ke seluruh ruang kuliah. Sebagian mahasiswa perempuan menutup hidung mencium aroma kemenyan. Namun sebagian besar bersikap biasa saja.

Perlahan Pak Sariman mendekati Galih Sanjaya. Asap kemenyan diusapkan beberapa kali ke wajah Galih, sambil dipegang tangan dan kakinya. Seketika tangan dan kaki Galih melemas, tak lagi kaku. Namun mata Galih tetap saja melotot. Wajahnya tegang seperti orang sedang menahan emosi.

“Sinten ingkang rawuh niki nggih?” tanya Pak Sariman kepada Galih dalam bahasa Jawa halus. Artinya, siapa yang datang merasuki tubuh Galih.

“Dipo Gumbolo…!” jawab Galih dengan nada tinggi. Tentu saja bukan Galih yang menjawab pertanyaan Pak Sariman. Makhluk halus bernama Dipo Gumbolo itu yang menjawabnya.

“Mohon maaf, Mbah Dipo, apa gerangan yang membuat Mbah Dipo datang?” tanya Pak Sariman.

“Aku hanya ingin mengingatkan. Jangan sampai kalian melupakan leluhur. Melupakan adat dan tradisi…!” jawab Dipo Gumbolo melalui raga Galih. Wajah Galih masih tampak tegang. Pak Sariman tetap menanggapinya dengan tenang.

“Inggih, Mbah… Kami semua mohon maaf. Kami akan selalu sowan leluhur dan menjaga tradisi,” ucap Pak Sariman.

Rupanya roh halus yang merasuki tubuh Galih  termasuk sudah tua dan berwibawa, sehingga Pak Sariman harus menunjukkan sikap hormat mengatupkan kedua telapak tangannya.

Suasana perkuliahan menjadi tegang. Semua berharap makhluk halus bernama Dipo Gumbolo yang merasuk ke dalam tubuh Galih bisa segera keluar. Namun ketegangan itu belum berakhir. Kaki Galih menghentak-hentak ke lantai. Pak Sariman segera tanggap.

“Bagaimana, Mbah. Apa ada lagi yang ingin disampaikan?” tanya Pak Sariman.

“Aku mau joget…” jawab Galih. Pak Sariman paham apa yang dimaksud. Ia segera mengambil kuda lumping, kemudian diselipkan di sela-sela kedua kaki Galih.

“Sekar Gadung…” kata Galih kepada istri Pak Sariman.

Rupanya Galih yang kerasukan roh Dipo Gumbolo ingin menari kuda lumping dengan diiringi tembang Sekar Gadung yang dinyanyikan oleh Murniati, istri Pak Sariman.

Murniati segera melantunkan tembang Sekar Gadung dalam logat bahasa Banyumasan. Lagu itu dalam pertunjukan Ebeg termasuk lagu yang dianggap sakral. Konon lagu ini dipercaya dapat memanggil roh leluhur, sehingga sering dinyanyikan dalam kesenian Ebeg.

Suara Murniati sangat merdu, namun bila diresapi dapat membangkitkan bulu kuduk. Galih sangat menikmati lagu itu. Sambil menari di atas kuda lumping, matanya menatap langit-langit ruang kuliah. Tatapannya tajam, tetapi tampak kosong.

Setelah lagu Sekar Gadung selesai dinyanyikan Murniati, gerakan menari Galih pun berhenti. Ia mengelus-elus dan menciumi kepala kuda lumping. Lalu ia mendekati Pak Sariman sambil berbisik:

“Mulih…”

Itu berarti Dipo Gumbolo yang ada di dalam tubuh Galih minta pulang atau keluar dari tubuh Galih. Pak Sariman menyambutnya dengan melepaskan kuda lumping yang ditunggangi Galih. Kemudian ia memegang kening Galih sambil membaca mantra. Sesaat tangan dan kaki Galih meronta. Matanya menatap ke atas. Kemudian lunglai, melemas. Sosok Dipo Gumbolo yang merasuk tubuh Galih telah keluar. Galih tampak seperti orang bingung, tak tahu apa yang baru saja terjadi.

***

Asap kemenyan masih mengepul di ruang kuliah. Aroma bunga juga menebar ke seluruh penjuru ruangan. Mahasiswa masih diselimuti kecemasan dan ketakutan. Semua takut kalau ada makhluk halus lain seperti Dipo Gumbolo merasuk ke tubuh mereka.

Merasa tak ingin mengalami nasib sama seperti Galih, mahasiswa bertanya kepada Pak Sariman.

“Kenapa Galih bisa kesurupan, Pak? Kan dia tidak punya indhang?” tanya Krisnanto.

Pak Sariman tersenyum. Ia memahami ketakutan mahasiswa.

“Memang Mas Galih tidak punya indhang. Mungkin tadi Mas Galih sedang melamun, pikirannya kosong. Roh Dipo Gumbolo yang ada di area kampus ini menghampirinya. Apalagi ruang kuliah ini juga memiliki aura mistis,” jawab pak Sariman sambil melirik kepada Galih.

Merasa apa yang dikatakan Pak Sariman benar, Galih mengangguk dengan masih menyisakan perasaan lemas dan mencekam.

Pak Ageng Nugraha menutup perkuliahan dengan menerangkan kepada mahasiswa akan arti penting fokus pada saat melakukan pekerjaan apa pun. Makhluk gaib selalu ada di sekeliling manusia untuk berkomunikasi. Namun karena dimensi ruang dan waktu yang berbeda, makhluk gaib mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan manusia.

Ketika ada manusia yang lengah, tidak fokus, dan kosong pikirannya, maka makhluk gaib itu akan meminjam raga seseorang sebagai media untuk menyampaikan pesan atau permintaan tertentu.

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam
Kampusku Sarang Hantu [2]: Suara Misterius di Ruang Dosen
Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita bersambungcerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sekilas Informasi Wisata  Saba Budaya  Baduy

Next Post

Kapankah Saya Akan Sembuh?

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

by Chusmeru
August 6, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

Read moreDetails

Malam Keakraban Berbuntut Teror

by Chusmeru
July 23, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI dosen pembimbing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi membuat Asifa Furoda selalu dekat dengan mahasiswa. Bukan hanya ketika berada...

Read moreDetails

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

by Chusmeru
July 2, 2026
0

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Kapankah Saya Akan Sembuh?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar
Kesehatan

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar

Saat Pendukung Sebaya Juga Butuh Didukung DI sebuah ruangan sederhana di Kota Denpasar, lima belas orang duduk melingkar. Mereka bukan...

by tatkala
August 12, 2026
Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan
Panggung

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

"Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke...

by AA Ayu Mayun Artati
August 12, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital
Esai

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

SETELAH tiga pekan berkeliling dan tampil di sejumlah panggung jazz di Indonesia, perjalanan Watchdog akhirnya berujung di Ubud. Duo asal...

by Dede Putra Wiguna
August 12, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Generasi 81: Merdeka dari Apa?

TAHUN ini Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Bukan hanya yang lanjut usia, kaum milenial, Gen Z, dan Alpha yang juga...

by Chusmeru
August 12, 2026
Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali
Pariwisata

Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali

EMBUSAN angin menggoyangkan dedaunan. Dari balik pepohonan besar, embun pagi masih menyisakan kesejukan. Suara gemericik sungai terdengar di antara hijaunya...

by Nyoman Budarsana
August 12, 2026
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali
Bahasa

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

by I Made Sudiana
August 11, 2026
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas
Esai

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

DALAM ajaran Hindu, abad ini termasuk zaman Kali Yuga, yakni zaman yang dipenuhi kegelapan, kemerosotan moral, dan konflik. Zaman kegelapan...

by Ni Made Ratminingsih
August 11, 2026
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta
Ulas Rupa

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

by Hartanto
August 11, 2026
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu
Ulas Rupa

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ALIRAN Sungai Wos turut mengiringi LaDju ketika memainkan musiknya di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF), Jumat, 7...

by Dede Putra Wiguna
August 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co